Stockholm, 26 Oktober 2002

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

YUDHOYONO PAKAI MESIN BIN MEREK PERPU 1&2/2002 UNTUK PRODUKSI TERORIS
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

 

ORANG-ORANG BODOH SAJA YANG BISA DIKELABUI MESIN BIN MEREK PERPU 1&2/2002 BUATAN YUDHOYONO DAN YUSRIL CS

Apa yang ada didalam kepala Menko Polkam Yudhoyono ketika menyusun taktik strategi bisnis teroris yang ditumpahkan kedalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali Tanggal 12 Oktober 2002, ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah diajarkan oleh diktator militer Soeharto terhadap para bawahan militernya, khususnya mereka yang berkecimpung dalam lumpur bidang keamanan dan intelijen.

Jelas, bagi orang-orang yang matanya sudah tertutup oleh debu-debu yang keluar dari gemuruhnya suara-suara yang berteriak teroris-teroris, jelas lobang-lobang penjerat yang dipasang oleh Yudhoyono dalam Perpu 1&2/2002-nya itu tidak akan terlihat dengan jelas.

Tetapi, bagi orang-orang yang bermata jeli, maka itu tali jeratan yang dipasang Yudhoyono dan Yusril dalam Perpu 1&2/2002 itu akan mudah terlihat dengan jelas.

Coba kita buka saja sedikit apa yang terkandung dalam pasal-pasal yang membentuk palu godam hitam pekat Perpu 1&2/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang berisikan mesin BIN (Badan Intelijen Nasional) alat produksi para teroris.

Misalnya agar mesin BIN bisa dipakai untuk menghasilkan para teroris yang bisa dipamerkan keseluruh dunia, khsusnya kepada tuan besar fir'aun modern sekularis Bush dari negara sekular federal Amerika, maka Yudhoyono yang dibecking oleh Yusril menaburkan serbuk-serbuk pasal yang diberi nomor 26 yang berisikan ayat-ayat racun pernyataan:

(1) Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen.
(2) Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh
Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
(3) Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari.
(4) Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya bukti permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan penyidikan.

Nah, akibat dari adanya serbuk-serbuk pasal 26 yang berisikan 4 ayat racun pernyataan diatas itu akan memberikan darah dan tenaga segar bagi kehidupan BIN untuk berlomba-lomba mengejar bayang-bayang orang yang akan dijadikan korban dengan gelar teroris untuk dipamerkan kehadapan dunia, khususnya kehadapan sekularis Bush.

Jelas, usaha ini akan memberikan keuntungan yang besar bagi BIN, khususnya badan intelijen yang ada dalam tubuh TNI, spesial badan intelijen yang ada dalam tubuh AD binaan diktator militer Soeharto.

Jadi, makin giat dan aktif para anggota BIN ini untuk mengutak-atik informasi tentang musuh-musuh TNI, Mega Cs, dan musuh ORBA dan dikumpulkan, bila sudah cukup memenuhi keranjang tempat penampungan informasi bisnis teroris ini, maka sudah bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengadakan penyidikan dan tentu saja penangkapan, misalnya terhadap Abu Bakar Ba'ashir. Itu dasar penangkapan Ba'ashir adalah sebagian besar karena adanya sampah-sampah info yang dikutak-katik dan digali oleh BIN ini.

Jelas, penangkapan Ba'ashir itu disandarkan pada serbuk-serbuk racun yang ada dalam pasal 28 yang menyatakan bahwa, Penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidana terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) untuk paling lama 7 x 24 (tujuh kali dua puluh empat) jam.

Jadi sekarang kesimpulan yang bisa ditarik itu ialah memang benar bahwa Yudhoyono dan Yusril memang dalam pandangan saya, dua orang yang boleh diberi gelar akhli bisnis teroris dengan modal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali Tanggal 12 Oktober 2002.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se