Banten, 16 Nopember 2002

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MEGAWATI SELINGKUH DENGAN "KONGLOMERAT HITAM"
Yusuf bin Jussac MR
Banten - INDONESIA

 

SEKALI LAGI MENGGUGAT PERAN PERS INDONESIA VERSUS KASUS MEGA-KKN

Menarik sekali menyimak pernyataan wartawan senior Atmakusumah, ditayangkan METRO TV (berita pagi berbahasa Inggris, kalau tidak salah Kamis pagi, 7/10/02), antara lain (a/l) bahwa sekarang Pers NKRI tidak punya kemampuan melakukan "Investigative Reporting" menyangkut banyak persoalan besar di negeri ini, termasuk keterpurukan wong cilik dan kasus mega-KKN). Sungguh benar beliau, eks penyiar Radio Australia (Australian Broadcasting Corporation) di Melbourne, Australia kawan seperjuangan Jussac MR di sana (tepat hari ini, 9 November, Jussac MR tiga tahun yl. wafat di Yogyakarta).

Saya (mulai kini dipakai "first person style", yaitu "saya" ketimbang "third person style" "penulis") sudah angkat masalah itu (lesu-darahnya Pers termasuk media elektronik TV dan radio serta sebagian media alternative OnLine) di dalam artikel pertama saya NKRI: Negeri Maling & Penyamun, Surat Terbuka Kepada Y.M. Presiden Hj. Megawati S. (Januari 2002) terutama di Bab 2 tulisan panjang itu.

Kemudian, di banyak tulisan lain saya di Internet, di sana sini saya ulang kecenderungan jelek itu di kalangan Pers NKRI, dengan mengambil contoh FAKTA tentang penyakit yang sama di kalangan Pers di Barat. Utamanya PRESS-whores di Amrik, budak "Penguasa Bayangan" yang di tulisan lain (PERPU) saya namakan "MAHA DALANG".

Penyakit itu di NKRI saya tulis, akibat a/l "internal conflict" (abadi) antara jajaran bidang redaksi dan jajaran bidang usaha. Yaitu berkisar pada berebut "space" atau ruang cetak koran/ tabloid/majalah (di media elektronik dalam hal "air time") yaitu untuk iklan dan berita.

Seluruh media itu hidup dari IKLAN. Sedikit sekali yang mengandalkan "cash-flow" nya dari (1) pelanggan tetap; dan (2) hasil jual eceran per-hari. Kategori yang terakhir ini, ber-andalkan eceran atau "daily sales", nampak pada koran seperti Harian RAKYAT MERDEKA didasarkan pada berita berita utama di halaman depan & belakang. Maka jam rampung cetak bagi koran macam ini, sangat amat krusial. Terlambat sejam saja disebar ke seluruh agen (deadline pk. 03.00 WIB), maka berisiko koran TIDAK laku dijual!

Bagi koran raksasa seperti Harian KOMPAS, yang bermodal sangat besar dan telah memiliki teknologi Cetak Jarak Jauh (link-up dengan percetakannya di Bawen, Jawa Tengah dan Indonesia Timur), tiras atau "oplaag" kalau tidak salah antara 500 – 600 ribu eksemplar per-hari; distribusi dan sirkulasi secara nasional bukan masalah lagi. Selain dihidupi oleh pelanggan tetap dari kalangan luas menangah ke atas, yang bukan hanya Katolik melainkan juga Muslim (hebatnya KOMPAS, sering memuat tulisan tulisan bermutu oleh cendikiawan/kolumnis Muslim tentang isu isu krusial Islam), koran milik wartawan gaek Jacob Oetama ini sejak sebelum akhir dekade 1970-an pun sudah "goyang kaki" dihidupi oleh pemasukan rutin dari iklan iklannya.

Pemburu kerja (job-hunters) di NKRI, tidak berlangganan KOMPAS pun, serta merta harus membeli secara eceran koran yang dikelola jajaran jurnalis yunior/senior yang kualitasnya harus diacungi jempol memang di atas rata rata! Pebisnis kelas menengah s/d korporasi besar hanya percaya koran ini untuk meraih (reach-out) pasar potensial mereka. Bagi orang yang haus akan informasi (News, Opini dll) di NKRI, sejauh menyangkut koran HARIAN, harus diakui sampai detik ini KOMPAS merupakan andalan. Maka tidak berlebih-lebihan menyebutnya "indispensable", alias "WAJIB" atau "KUDU" dibaca.

Saya ingat, menjelang rampung S1 pada April 1981 (terlambat setahun, akibat saya harus di Jepun hampir dua bulan mengikuti program beasiswa Japan Airline Award 1977 di universitas Katolik terkenal di Tokyo), ada survey yang menyebut bahwa di awal dekade 1980-an 60 persen perolehan kocek KOMPAS dari iklan. Kini, boleh jadi angka itu meningkat menjadi 80 persen. Bekerja di grup GRAMEDIA itu jaminan pensiun hidup enak; apalagi jajaran marketing dan sales termasuk para "A.E." pemburu pemasang iklan. Tidak ada, di media cetak/elektronik manapun di NKRI, AE yang tergolong "proletar" – mobil mereka (utamanya GM dan Manajer Senior bidang usaha) rata rata keluaran tahun terakhir!

Sebelum koran (juga majalah mingguan/bulanan) naik cetak, ada proses rutin disebut "Proyeksi Berita" dan "News-budgeting" setiap hari bagi koran harian (08.00 WIB & 16.00 WIB) plus paling akhir pk. 21.00 WIB. Ini yang disebut proses "Pra-Cetak". Sejauh menyangkut Harian MEDIA INDONESIA (MI), paling tidak s/d April 1998, deadline naik cetak pk. 00.10 WIB. Proses sama di majalah mingguan/bulanan disebut "rubrikasi".

Pada proses di atas, dirembug bersama berita bertopik mana harus dimuat di halaman berapa. Bidang artistik (pra-cetak) sudah menyiapkan yang disebut "dummy"-nya. Jelas, di dalam dummy sudah dialokasikan "space" untuk iklan; ruang yang tidak boleh lagi diganggu-gugat untuk berita apapun. Sebab tanpa ada cash-flow regular dari pemasang iklan, jajaran redaksi bakal kocar kacir di-PHK! Seperti Harian RAKYAT MERDEKA, halaman 1 dan terakhir bagi (lagi sejauh menyangkut) MI merupakan wilayah kekuasaan jajaran redaksi untuk menampilkan "the hottest news of the day".

Diakui bahkan oleh orang orang top di media besar di Amrik, TIDAK ada yang disebut kebebasan Pers di Barat! Silahkan simak lagi artikel saya NEGERI MALING, yang di Bab 2 saya kutip verbatim pernyataan wartawan gaek The New York Times. Dia bahkan berani menyebut orang orang Pers adalah PELACUR! Maka pembangkang Shernam Skolnick (klik SKOLNICK’S REPORT) di Chicago, menamakan sebagian besar elit Pers di Amrik sebagai PRESS-Whores!

Simak pula ini, pendapat wartawan gaek Inggris, John Pilger, yang sudah 20 tahun bekerja di koran terkenal di Inggris The DAILY MIRROR (tiras 2 juta) tentang Pers Barat utamanya di Amrik yang cuma bisa membebek pemerintah yang korup dan pendusta, sbb:

Q: What's wrong with journalism today?

Pilger: Many journalists now are no more than channelers and echoers of what Orwell called the official truth. They simply cipher and transmit lies. It really grieves me that so many of my fellow journalists can be so manipulated that they become really what the French describe as functionaires, functionaries, not journalists.

Many journalists become very defensive when you suggest to them that they are anything but impartial and objective. The problem with those words "impartiality" and "objectivity" is that they have lost their dictionary meaning. They've been taken over. "Impartiality" and "objectivity" now mean the establishment point of view. Whenever a journalist says to me, "Oh, you don't understand, I'm impartial, I'm objective," I know what he's saying. I can decode it immediately. It means he channels the official truth. Almost always. That protestation means he speaks for a consensual view of the establishment. This is internalized.

Journalists don't sit down and think, "I'm now going to speak for the establishment." Of course not. But they internalize a whole set of assumptions, and one of the most potent assumptions is that the world should be seen in terms of its usefulness to the West, not humanity.

This leads journalists to make a distinction between people who matter and people who don't matter. The people who died in the Twin Towers in that terrible crime mattered. The people who were bombed to death in dusty villages in Afghanistan didn't matter, even though it now seems that their numbers were greater. The people who will die in Iraq don't matter. Iraq has been successfully demonized as if everybody who lives there is Saddam Hussein. In the build-up to this attack on Iraq, journalists have almost universally excluded the prospect of civilian deaths, the numbers of people who would die, because those people don't matter.

It's only when journalists understand the role they play in this propaganda, it's only when they realize they can't be both independent, honest journalists and agents of power, that things will begin to change.

Itulah BUKTI kebohongan dan DUSTA mayoritas PERS (media cetak/elektronik) di Barat terutama di A.S. Toh begitu, media besar di NKRI tetap DUNGU mengacu banyak berita luar negerinya dari kantor kantor berita di Barat! Media sirkus NKRI pathetic!

Sitkon sama/serupa juga melibat sementara kalangan pers di NKRI. Dan saya berani menantang salah satu boss koran besar di NKRI, apakah ia berani mengingakrti bahwa ybs pernah melakukan "swa-bredel diri" atas "investigative reporting" skandal besar menyangkut permainan valas oleh petinggi satu bank pemerintah di NKRI menjelang akhir 1997. Saya ulang sedikit di sini (silahkan baca di Bab 1 atau 2 artikel saya NEGERI MALING), berita besar itu bersumber pada informasi "beyond any doubt" dari pejabat senior di BANK INDONESIA.

Bahan otentik itu diperoleh oleh salah satu redaktur senior koran itu. Saat itu harga kertas cetak sedang menggila (dikuasai kartel) akibat Krismon. Nyaris seluruh koran, kecuali Harian KOMPAS dan POS KOTA, terancam kolaps gulung tikar. Maka ditempuh cara klasik dalam upaya "cost cutting", yaitu PHK atas jajaran non-manajer bidang non-redaksi. Dilakukan juga pemotongan 30% atas gaji seluruh personil manajer ke atas.

Mungkin mendapat "bisikan dari langit", mengantisipasi hal hal buruk, redaktur itu berbagi bahan sangat otentik itu (di dunia intelijens dan militer disebut berkualifikasi A-1 tidak diragukan keabsahannya), dengan mitranya juga redaktur senior di majalah mingguan terkenal.

Singkat ceritera, dalam proses di atas (Proyeksi Berita dan News-Budgeting serta rapat akhir pk. 21.00 WIB) disepakati, hasil investigasi tim redaksi atas kasus skandal ratusan milyar rupiah itu akan di-berita-utamakan di halaman 1 alias Headline. Namun, sangat disayangkan, sekitar pk. 23.00 WIB (hanya sejam sebelum naik cetak), jajaran redaktur mendapat telpun dari pemilik koran itu. Perintahnya singkat: BATALKAN Headline!

Hal hal seperti itu, yang lumrah terjadi di kalangan media terkemuka di Amrik dll, pun telah diantisipasi jajaran redaksi; sehingga telah disiapkan pagi harinya (dalam dua rapat rutin redaksi di atas) alternatif Headline. Tetapi sia sia (sejauh menyangkut membutakan publik dari skandal besar itu) Swa-Bredel Diri itu, sebab mitra redaktur dimaksud di satu majalah mingguan terkenal, akhirnya menjadikannya berita utama (Cover Story) beberapa minggu kemudian!

Saat itu menjadi "anyone’s guess", berapa Milyar Rupiah para petinggi berjiwa maling di bank besar itu telah MENYUAP big boss koran itu, sehingga secara "suka rela" melakukan swa-bredel diri! Sebab masih di tengah akutnya Krismon selama periode 1998, koran itu "ujug ujug" mampu merealisasikan rencana meluncurkan tabloid baru (tidak lebih setahun kemudian mati).

Draw your own conclusion, folks. Cuma para tikus (tikus beneran, bukan istilah untuk para maling!) di gudang kertas cetak di percetakan koran itu yang tahu, berapa Milyar rupiah yang telah diterima big boss koran itu! Kalau tidak mendapat "kompensasi", why bredel diri?!

Pereslingkuhan Megawati Dengan "Konglomerat Hitam"

Juga di artikel saya NEGERI MALING {Presiden Megawati selaku presiden sekaligus Ketua Umum PDIP, sudah saya kirim disketnya dan Draft Buku "TEXMACOGATE": DIRTY TRICKS "R" US, (Membongkar Persekongkolan Jahat Tingkat Tinggi), Pelanggaran HAM: Teror dan Intimidasi Terhadap Buruh, Pengurus SPSI, Aktivis "Pembela" Buruh, PERS, dan KKN, SUAP, Penipuan, dll"}, saya sudah menegaskan, berdasarkan Hadith shahih dan ij’tihad para Ulama besar termasuk kalangan SALAFI dihalalkan bagi kita Muslim membuka AIB para pemimpin yang TIDAK amanah. Lebih lebih yang perilaku politiknya zalim terhadap "rakyat" nya. Silahkan baca hal itu di Bab 1 NEGERI MALING.

Hal itu termasuk bahkan terhadap pemimpin yang mengaku Muslim! Hal itu dilakukan dalam rangka menghindarkan, agar generasi penerus tidak melakukan kemunkaran/kezaliman yang sama, terutama SETELAH berulangkali ybs (pemimpin itu, dalam konteks ini dari presiden s/d menteri dan jajaran di parlemen) diingatkan secara santun & beradab (adab dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar, yaitu via mulut berupa nasihat/anjuran/pencegahan) ybs (sang pemimpin) tetap nDABLEG! Yaitu TIDAK MAU mendengarKAN (to HEED dalam bahasa Inggris) nasihat/himbauan sesamanya yang bahkan seiman!

Menjadi orang KHIANAT, MUNKAR, BEJAT moral, bukan monopoli orang orang yang oleh Allah di Al-Qur’an dikategorikan sebagai kafirun! Melainkan melanda pula ummat dan para pemimpin yang mendaku diri Muslim! Tidak lain dan tidak bukan, kalangan itu dikelompokkan (sekali lagi, oleh Allah SWT di Al-Qur’an dan Hadith Qudsy) di dalam kelompok munafikin! And, mind you folks, disebut di Qur’an bahwa kaum itu tempatnya di bawah kaum kafir; alias di kerak neraka jahanam! Salah satu tanda orang munafik adalah, perilakunya KHIANAT!

Dalam konteks di ataslah (mengingatkan dan wanti wanti) saya mencoba via surat khusus kepada Megawati selaku presiden dan sekaligus Ketua Umum PDIP. Sebab, CONFIRMED, boss grup Tamil itu MENGAKU kepada saya telah memberikan SUMBANGAN DANA langsung kepada Megawati selaku Ketua Umum PDIP, yakni dalam rangka PEMILU 1999!

Kapan itu diomongkan kepada saya, ditailnya hanya saya yang tahu dan boss (Dirut, Pemimpin Umum, Wakil Pemimpin Umum, PemRed dan Pemimpin Perusahaan) LIMA Harian; Tabloid, Majalah mingguan/bulanan di Jakarta. Isu sangat peka itu, DONASI "Konglomerat Hitam" kepada Ketua Umum PDIP pra-PEMILU 1999, hanya salah satu dari isu isu besar lain menyangkut praktik bisnis sangat kotor di grup bisnis raksasa keropos itu.

Adakah tanggapan dari Megawati? Big ZERO! Adakah respons positif boss kelima media cetak itu? Big Zero juga! Kini seluruh bahan yang saya miliki, termasuk Draft Buku itu, sudah di tangan seorang Lawyer terkemuka di NKRI. Jangan salahkan saya, kalau kelak saya juga harus menyebut kelima boss media cetak itu berkonspirasi melakukan embargo atau MEMBOIKOT upaya SAH saya membongkar perselingkuhan tingkat tinggi itu! The TRUTH shall prevail. Risiko "dilenyapkan"pun – oleh pihak pihak di atas utamanya pelaku mega-KKN itu, akan saya hadapi. Nobody scares me kecuali Allah Ta’ala.

Hal hal buruk itu harus diantisipasi, sebab ada di antara elit grup bisnis besar itu yang saya dapat BUKTIKAN, di Pengadilan atau forum "buka-bukaan" lainnya, telah (1) merestui penggunaan cara cara kotor, yang dapat dikategorikan TEROR pisik dan bentuk intimidasi non-pisik lainnya; dan (2) SANGAT serius merencanakan menerjunkan 20-an anggota B****R Tahan Bacok; versus apa yang mereka sebut sebagai pentolan buruhnya sendiri!

Kini saya tantang elit grup itu, utamanya Direktur HRD, untuk buka-bukaan di forum terbuka (atau kelak di Pengadilan!) tentang: (1) TEROR terhadap seorang Pengurus SPSI di Jawa Barat (rumah ditimpuki batu oleh sekelompok preman Terminal Bis Sadang, Purwakarta); (2) RENCANA SERIUS menggelar 20-an anggota B****R Tahan Bacok itu; dan (3) indikasi SANGAT KUAT teror pisik, yaitu atas dua orang aktivis Orsospol "radikal kiri" pembela 900- an buruh di satu pabrik besar grup itu (yaitu Sdri. D**A S**I dan Bung L***R).

Semua itu, termasuk BANYAK indikasi sangat kuat KKN tingkat tinggi termasuk TRANSFER dana SUAP kepada segelintir elit Parpol besar di DPR, yaitu "Tim Penjinak Laksamana Sukardi" (silahkan merefer artikel saya KASUS SUAP OLEH BPPN: BURUK MUKA CERMIN DIBELAH! (Nasib Para "Vokalis" Alias Whistle Blowers), dimuat di Draft Buku itu.

Lima boss media cetak itu (saya enggan menuliskannya di sini, sudah di tangan Lawyer gaek itu; in case kasus skandal itu terpaksa dibuka tuntas di Pengadilan, saya harus menyebutnya) sudah membaca Draft Buku saya pula. Tetapi seperti saya tulis di atas, elit media cetak itu memilih memboikot masukan penting saya. Saya harus menyebut mereka sebagai apa lagi, selain media PENGECUT dan tidak amanah? Bengak bengok kritik pemerintah, tapi takut Konglomerat Hitam!

Draft buku itu didukung data otentik, narasumber internal maupun eksternal grup bisnis besar di atas; termasuk eks konsultannya; sehingga TIDAK ADA dalih bagi elit media cetak itu meragukan data saya selaku eks "insider". Jadi manakala kasus itu dibawa ke Pengadilan, sebagian boss grup bisnis besar itu MATI KARTU! Sebab mereka tidak hanya melakukan praktik bisnis sangat tidak terpuji, a/l MENYUAP birokrat senior, dan elit parpol gede di DPR/MPR; mereka juga dapat saya BUKTIKAN melakukan pelanggaran berat HAM atas buruhnya sendiri dan pihak lain non-buruh, dll!

Paling tidak dua dari lima media cetak itu pernah mengalami intimidasi pihak grup super kuat itu. Yakni berkaitan dengan berita berita tajam mengenai KKN, dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh orang penting di grup bisnis itu terhadap beberapa buruhnya sendiri. Salah satu dari redaksi senior koran itu bahkan dimaki quote "A****g kau!" end quote, via telpun, oleh direktur di grup itu yang memang terkenal bertemparemen keras (dibesarkan di Medan meskipun bukan orang Batak!), yakni akibat koran itu (September 2000) memnurunkan LAGI berita (bukan Headline) tentang kasus KKN grup itu.

Pada hari itu, akhirnya belasan karyawan grup itu mendatangi redaksi koran itu dan melakukan protes keras. Jadi, nampaknya dua boss redaksi koran itu traumatik dengan insiden itu, sehingga memilih memboikot masukan saya! Yang lain, ternyata, ada yg jadi budak konglomerat!

Seluruh elit penerima surat dan Draft Buku saya juga tergolong orang tidak beradab, sebab bahkan mengatakan (via sms/email) "No, thank you for your letter." pun tidak mereka lakukan. Sama sekali TIDAK punya sopan santun dalam pergaulan antarprofesional. Sungguh arogan!

Maka Insya’Allah tidak ada halangan, Draft itu akan dicetak menjadi buku, buku yang berpotensi dicetak minimum 100 ribu! Belum lagi edisi cetak ulang & versi berbahasa Inggris. NKRI bisa gonjang ganjing. Paling, saya "dilenyapkan". Apabila skenario jahat melenyapkan saya direalisasikan, sungguh akan SIA SIA. Sebab DRAFT Buku dan seluruh bahan otentik dan nama nama narasumber saya di tangan seorang Lawyer

Nasib dilenyapkan seperti itu bukan barang baru, di NKRI maupun lebih lebih di Amerika. Paling tidak di era moderen Amrik (1960-an s/d 1980-an) ada tiga Senator yang dilenyapkan The Maha Dalang, akibat keberanian mereka mengungkapkan konspirasi jahat skala global pemilik (FEDERAL RESERVE, sudah disinggung di artikel PERPU lanjutan Bom Bali yl). Silahkan anda membaca sendiri masalah itu, di Rumormill.com dan di Homepage "MEMORY HOLE".

Saya tidak paranoid bahwa upaya awal teror terhadap saya telah dicoba dilakukan. Entah pihak yang mana yang melakukannya, jelas hanya seminggu setelah surat rahasia saya & Draft Buku itu sampai ke Rumah Dinas Presiden RI, dinihari sekitar 03.15 WIB seorang penyusup mencoba menjebol jendela kamar tamu rumah kami! Ybs JELAS bukan pencuri! Usahanya gagal, karena sudah setahun saya sangat jarang tidur (a/l menulis dan menerjemahkan buku).

Sayang, saat penyusup berniat jahat itu sedang mencongkel jendela (engsel pemegang gembok, dari metal, di sisi dalam jendela jebol saking canggihnya alat yang dipergunakan), saya sedang di lantai atas. Jika saya sedang di lantai dasar, orang itu sangat mungkin sudah "wassalam" saya hajar dengan pentungan besi! Sebab jendelakaca tanpa terali besi. Seorang tetangga, "aparat", berkesimpulan orang berniat jahat itu BUKAN pencuri. Sebab di depan rumah lampu penerangan terang benderang, dan di halaman tentangga depan rumah ada mobil dan tidak diusik penjahat itu.

Seperti yang saya sudah tegaskan di Bab 2 NKRI: NEGERI MALING & PENYAMUN, sungguh SIA SIA kita berharap praktik mega-KKN di NKRI bakal tertuntaskan pengusutannya. Sebab masih ada, justru di kalangan sebagian elit media/Pers besar, yang terjangkiti penyakit jelek tidak amanah terhadap kepentingan lebih besar unsur bangsa ini. Yaitu memboikot upaya SAH mengungkapkan KKN tingkat tinggi antara sebagian elit Orsospol gede dan pejabat tinggi NKRI.

Sikap KHIANAT dan pengecut sebagian elit media cetak terkemuka itu, memaksa saya – akhirnya – membawa kasus mega-KKN itu (dan FITNAH keji terhadap saya, a/l tuduhan bahwa saya "Agen Ganda BPPN") ke Pengadilan. Alternatifnya, saya gelar di dalam buku berdasarkan Draft tersebut. Jika di NKRI tidak ada penerbit yang BERANI mencetaknya, di manca negara tidak sedikit grup LSM dan jurnalis/investigator anti praktik KKN dan pelanggaran HAM; yang bakal berebut menerbitkannya. I am NOT completely alone in this land of velons and despots!

Apakah kelak akan ditempuh "rekonsilisai" atau islah, atau buka-bukaan di Pengadilan plus forum PANSUS (no way, sebab sementara elit Parpol besar dan kecil di DPR sudah DISUAP elit grup bisnis itu. – saya serahkan kepada Lawyer tsb. NKRI negara hukum, meskipun segelintir Penegak Hukum justru terus menerus sampai detik ini menginjak-injak hukum. Yakni terus melakukan aksi pelanggaran HAM atas wartawan, mahasiswa (disiksa agar mau menanda-tangani BAP), dan terhadap segelintir tokoh Muslim yang didakwa sebagai teroris TANPA BUKTI!

Bahwa Megawati selaku presiden maupun Ketua Umum PDIP melakukan perselingkuhan dengan salah satu Konglomerat bermasalah, hal itu diungkapkan dalam headline Harian RAKYAT MERDEKA edisi Sabtu, 9 November 2002. Bahwa konglomerat lain, satu dari tiga yg oleh Kwik Kian Gie disebut"Konglomerat Hitam", lagi lagi hendak berselingkuh (berkaitan dengan dana dari bank bank di NKRI), juga diangkat LAGI oleh koran itu pada hari yg sama. Yaitu pernyataan Menneg BUMN Ir. Laksamana (baca, halaman 13 rubrik Ekonomi) menyangkut boss grup itu.

Yang Terhormat Bung Laks, sayang saya BELUM mengirim anda DRAFT Buku saya itu. Di Draftitu saya juga ungkapkan, konspirasi JAHAT elit grup bisnis itu dalam rangka "Character Assassination" terhadap anda; berkaitan dengan "isu pribadi di Bali". Bernarasumber kader senior PDIP di pemerintahan, saya ketahui BOSS grup bisnis kacau itu TELAH menulis surat kepada Megawati (re: Kabinet Gotong Royong); yang isinya MEMFITNAH anda menyangkut kehidupan pribadi anda! Serendah itu KARAKTER pebisnis yang dibela & dielu-elukan Presiden RI ke-4!

So, tidak mengherankan kalau saya yang cuma bekas diplomat senior, telah DIFITNAH secara beruntun oleh segeintir elit pebisnis kakap itu. Sebab seorang Laksamana Sukardi, tokoh nasional gaek di PDIP pun, sejak jadi menteri di era Abdurrachman Wahib s/d menjelang diangkat menteri di Kabinet Megawati – ia telah DIFITNAH dan dimata-matai oleh elit grup Tamil itu!

Kita mau ngomong apalagi, SUAMI presiden sendiri bahkan sudah "dinetralisir" oleh big boss grup bisnis itu, grup bisnis yang hutangnya Rp. 19 Trilyun tetapi TIDAK PRODUKTIF; akibat produksinya selain TPT (textile product & textile) – yaitu truk dan bis, traktor tangan dan traktor roda empat, mesin tekstil serta "machining tools" tidak laku dijual (at least tidak sepadan dengan investasinya)! Yaitu akibat kualitas Sub-Standard barang barang itu! Mengenai itu pun, saya MAMPU membuktikannya! Sebab ada dokumen 100 persen otentik, PLUS testimoni atau kesaksian beberapa pembeli barang barang itu. Grup itu juga PENIPU sebagian konsumennya!

Jadi sungguh bloody STUPID, elit lima media cetak di atas, telah menafikan Draft Buku dan data data otentik yang saya miliki; plus banyak narasumber internal/eksternal grup kacau itu! Menafikkan, sebab sengaja memboikot masukan saya! Jauh lebih tolol dan tidak bermoral adalah, sementara elit fraksi Parpol gede/kecil di DPR; yang mau dijadikan BUDAK sebagian elit pebisnis jahat itu! KPKPN "diakali" oleh sementara elit Fraksi parpol itu di DPR, sejauh menyangkut daftar isian kekayaan mereka! Salah satunya, FPG, ternyata KOMISARIS di grup kacau balau itu!

Tidak seluruhnya, harus saya tekankan di sini, tetapi ADA segelintir elit Fraksi Parpol gede di DPR yang sangat rentan terhadap praktik SUAP oleh sebagian elit grup itu – yaitu (sekali lagi TIDAK seluruhnya) anggota DPR/MPR beretnis Sumatra Utara! Why? Sebab mayoritas elit boss grup itu dilahirkan dan dibesarkan di Medan dan seputarnya! Jadi, seperti saya tulis di artikel Kasus Suap BPPN, faktor nativisme SANGAT dimanfaatkan oleh TOP elit grup bisnis itu untuk berkelit; menghindar dari jeratan hukum re: skandal mega-KKN yang mereka lakukan. Apa pula agenda suami Mega (ketika Wapres), ke pabrik grup itu di Jateng 12/01/2001?

"Tim Penjinak Laks" pun sebagian besar adalah elit Fraksi Parpol gede di DPR beretnis sama. Saya ulang di sini, seperti telah saya tulis di artikel KASUS SUAP BPPN itu, bahkan ADA seorang JAKSA senior pada Mei 2001 MEMINTA ingin bertemu Big Boss grup Tamil itu! Lalu, tgl. 29 Juni 2001 malam, dilakukan pertemuan RAHASIA di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, antara orang nomor satu (pendiri) grup swasta itu dan seorang VIP di Jakarta.

Jaksa Senior yang meminta bertemu big boss grup bisnis itu berinisial "B". Demikian penting VIP itu, sehingga ia dijemput tim Kantor Pusat grup itu denga mobil mewah BMW, dari satu lokasi ke Kemang pada sekitar pk. 20.00-an. Mengapa malam hari? Menghindari wartawan!

Pertemuan itu diatur oleh "N.K." direktur (at least s/d Okt. 2001 jika Unitnya di Kantor Pusat grup itu tidak dilikwuidasi Jan. 2002) di grup itu, yang ternyata bersuami "J.K." Pejabat Senior BANK INDONESIA! Inilah "angle" penting KKN antara elit BI dan boss grup itu (ingat Pre-Shipment Facility, yg. menjelang akhir 1999 dibongkar Menneg BUMN Laks? Ybs menjadi direktur di grup korup itu sejak 1998). Tidak ada satu pun wartawan di NKRI yang MAMPU mengendus "angle" penting itu, sebagai benang merah KKN antara grup tsb. dan elit BI!

Kesimpulan dari semua itu: NKRI memang NEGERI MALING dan PENYAMUN! Dan sebagian boss media cetak/elektronik terkemuka NKRI bertanggung-jawab mengembang-suburkan praktik permalingan itu! Yaitu dengan sikap PENGECUT mereka memblokir upaya SAH mengungkapkan skandal mega-KKN di atas! Dengan demikian paling tidak LIMA elit media cetak/elektronik itu, secara sadar atau tidak sadar, mereka berperan sebagai AKSESORI praktek mega-KKN di negeri ini. Jurnalis di sarang penyamun, jadi BERJIWA penyamun pula!

Masih ada waktu at least 10 hari dari hari ini, sebelum proses hukum saya tempuh: siapa di antara elit media cetak/elektronik, yang masih punya NYALI & naruni mengungkap TUNTAS kasus skandal mega-KKN itu? Silahkan kirim e-mail kepada saya jika ingin mendapat Draft Buku tersebut dan seluruh bahan pendukungnya, serta nama nama narasumber internal/eksternal yang dapat dikonsfirmasi. Sorry, NOTHING is FREE, sebab Draft Buku itu hasil riset & investigasi.

Otherwise, STOP mendaku sebagai garda demokrasi! Jadilah bagian dari PRESS-Whores di atas, Pers yang MAU diperbudak oleh para pebisnis kakap berjiwa jahat. Sayang, koran Jussac MR Harian (kemudian Koran Minggu) PELOPOR YOGYA sudah dibredel penguasa Orba tahun 1979 (didirikan 1966), akibat sejak dekade 1960-an sering membongkar kasus KKN di kalangan Pemda DIY & Jawa Tengah, serta pelanggaran HAM oleh penguasa di sana.

Segelintir elit GOLKAR di Jawa Tengah dan Pusat telah MENGKHIANATI Jussac MR! Pantas, almarhum pernah wanti wanti, "Anak anakku JANGAN ada yang jadi wartawan!" Rest in Peace, daddy and Mom; semoga Allah Ta’ala mengampunimu dan Ibu. Puteramu, sekarang, meneruskan perjuangan panjangmu memerangi KKN dan kezaliman Penguasa di negeri garong ini! Dad, I am more than just a bloody silly Press-whore! Ora dadi Dubes yo ora pateken!

Kepada pihak terkait manapun, yang berniat LAGI mengirim "profesional" untuk menya-troni rumah kami (seperti insiden Sabtu dini hari 03.15 WIB 31 Agustus 2002), saya PERINGAT-KAN: JANGAN COBA COBA LAGI! Bahan bahan pendukung DRAFT Buku TIDAK ada di rumah, sudah disimpan di tempat aman oleh seorang kawan saya Lawyer. Nekad mereror kami, tidak perduli apakah "Oknum", anggota "Satgas Parpol beri beri " atau "B****R Tahan Bacok" – akan berakibat sangat fatal bagi ybs! Lokasi RW kami rutin dipatroli petugas Polri bersenjata.
 

Wassalam.

Yusuf bin Jussac

mailto:yusbinjussac@lycos.com
Eks Assistant Executive to Chairman TEXMACO


Seluruh penguasa di bumi dipersatukan dalam satu kepentingan yang sama, yaitu TERUS memperkukuh/ memperkuat dan mempertahankan cengkeraman kekuasaan mereka atas warga sipil di luar birokrasi sipil/non-sipil. Yaitu dengan cara cara/modus operandi yang sama memperoleh kekuasaan itu: PASUNG dan BELENGGU warga sipil dengan berbagai peraturan/undang undang FASCIST. Koruptor BEBAS!

LUCUTI mereka dari kepemilikan jenis senjata apapun! Teror Aspal (Pentagon & CIA) digelar untuk menciptakan ketakutan massal, sehingga dikesankan hanya Penguasa yg mampu mengatasi semua kemelut sampingannya! Warga sipil dianggap kumpulan ternak! PERPU 17/10/02 & U.U. Anti Teror merupakan bagian dari harmonisasi U.U. Anti Teror Global, jelmaan PATRIOT ACT rezim George Wicked Bully Bush cs.; termasuk Deputi Menhan A.S. Paul (Ware)Wolfowitz -- seorang Zionist tulen 100 persen!

Itulah tujuan UTAMA Tata Dunia Baru via The United Nations (PBB)! Badan dunia itu didirikan para pentolan Council On Foreign Relations (CFR) utamanya di Eropa/A.S. CFR merupakan "offshoot" (derivasi) Illuminati (ADA! Bukan teori konspirasi!) dan Freemasons. Kaveling PBB di New York, dihibahkan oleh keluarga Rockefeller, bekas "slaughter house" alias pejagalan ternak babi & sapi!

Maka tidak mengherankan, jutaan balita/anak anak Irak DIJAGAL EMBARGO PBB yang dimotori rezim penguasa (IBLIS) Amerika! Menjijikkan sekali, justru beberapa wartawan, LSM, dan profesor Yahudi & Protestan di Barat membela bangsa Irak; di sini ada non-Muslim ANTI Islam yang sok tahu tentang Irak!

Dinasti Rockefeller menguasai mayoritas saham THE FEDERAL RESERVE (Bank Sentral) yang BUKAN badan Federal, melainkan institusi swasta! Via badan itu mereka KUASAI seluruh dunia keuangan dan perbankan global! Dinasti Rockefeller, Ratu Inggris, Ratu Belanda, Dinasti Bush raja diraja BBM global!

Melalui PENYATUAN MONETER, mereka kontrol seluruh negara/warga dunia. Euro sudah terwujud! US dollar pun sudah digantikan mata uang baru! Siap digelar, sudah ada pabrik percetakan uang kertas baru dunia di Maryland, USA! Itu kesaksian eks Pejabat Senior CIA yg membidangi moneter & perbankan!

Sekarang, ia meringkuk di penjara Federal USA sebagai Tahanan Politik!

Jadilah manusia CERDAS. Baca kisahnya di http://www.rumormill.com dann menangislah! Jika TIDAK tahu menahu mengenai sejarah Amerika yang sesungguhnya, jangan asal jeplak & NYINYIR! Cermati penjualan Aset NKRI (BCA, Telkom, INDOSAT, Bank Niaga, dll) kepada pihak asing. Itu semua bagian dari langkah ke arah Global Enslavement oleh geng maha jahat di atas! Cermati pula, broker finance milik etnis mana di NKRI, yang memfasilitasi upaya George Soros (Zionist yang berkomplot dengan NAZI merampok aset Yahudi di Eropa Timur) memborong aset NKRI! Bukan pebisnis Muslim istiqomah!!! Konglomerat jahat & budaknya (juga di Pers) adalah bagian dari wayang JAHAT Mahadalang Global.

C.C.

  1. Y.M. Presiden Megawati sekaligus Ketua Umum PDIP
  2. Yth. Pak Taufik Kimas, Anggota MPR-RI
  3. Yth. Ketua MPR-RI DR. H. Amien Rais, M.A.
  4. Yth. Ketua DPR-RI Ir. H. Akbar Tanjung
  5. Yth. Wk. Ketua DPR, Pakde H. Soetardjo Surjoguritno, B.A.
  6. Yth. Menneg BUMN Ir. Laksamana Sukardi
  7. Anggota KomNas HAM, KH. Ir. Solahuddin Wahid
  8. Seluruh Pem. Umum, dan Pem. Red. media massa NKRI