Stockholm, 28 Nopember 2002

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

YUDHOYONO, SUTARTO DAN RYACUDU LEBIH BAIK MUNDUR KALIAN TELAH TERTIPU OLEH TNA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TAKTIK DAN STRATEGI MILITER CIPTAAN YUDHOYONO, SUTARTO DAN RYACUDU UNTUK GEMPUR TEUNTARA NEUGARA ATJ»H DI RAWA CHOT TRIENG GAGAL TOTAL

Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang telah menjalankan taktik dan strategi militer yang ditunjang oleh Menko PolkamYudhoyono dan KASD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk menggebuk dan melumpuhkan Teuntara Neugara Atjeh (TNA) di rawa Chot Trieng yang luasnya tidak lebih dari 16-20 km persegi dengan cara mengisolasi oleh 5 batalion angkatan darat dan laut juga para elit Kopassus melalui penempatan 3-4 serdadu di setiap jarak sepuluh meter dari sejak tanggal 27 Oktober 2002.

Dimana, taktik dan strategi pengepungan TNA di rawa Chot Trieng oleh sekitar 5 batalion angkatan darat dan laut ini telah dijadikan alat propaganda oleh Yuhdoyono, Sutarto dan Ryacudu untuk menarik dukungan dan sekaligus alat penekan kepada pihak Acheh-Sumatra National Liberation Front agar mau menandatangani perdamaian damai ala Yudhoyono dan gengnya di Genewa.

Jelas akibat propaganda Sutarto ini pihak Komisi I DPR yang telah mengadakan rapat kerja dengan

Panglima TNI dan gengnya di DPR, Rabu, 27/11/2002, ternyata telah tertipu dan mendukung langkah TNI untuk menumpas gerakan rakyat Aceh untuk menentukan nasibnya sendiri dibawah komando Acheh-Sumatra National Liberation Front.

Propaganda Panglima TNI dan gengnya ini akhirnya kelak akan makan tuannya sendiri.

Karena, sebenarnya dari malam tanggal 31 Oktober sampai tanggal 2 Nopember 2002 malam, semua rakyat yang tinggal di daerah rawa Chot Trieng telah diungsikan beberapa kilometer jauhnya dari tempat pengepungan melalui jalan rahasia sehingga tidak diketahui oleh para serdadunya Ryacudu dan Sutarto.

Walaupun daerah rawa Chot Trieng yang telah kosong itu tetapi terus saja dihujani oleh peluru serdadu TNI dari pagi sampai petang, tetapi tidak ada artinya, karena memang sasarannya telah tiada ditempat.

Ini jelas menunjukkan bahwa Ryacudu, Sutarto dan Yudhoyono tidak mengenal secara cermat dan teliti daerah yang akan digempurnya.

Dan inilah kegagalan karena kekurangan ilmu dan pengetahuan dari Ryacudu, Sutarto dan Yudhoyono mengenai sasaran daerah lawan.

Nah sekarang, kalau saya melihat bahwa sebenarnya apa yang digertakkan oleh Yudhoyono, Sutarto dan Ryacudu terhadap Teuntara Neugara Atjeh (TNA) di rawa Chot Trieng bahwa akan digempur habis-habisan apabila Acheh-Sumatra National Liberation Front tidak mau menandatangani perjanjian damai buatan Yudhoyono di Genewa adalah gertakan sambal yang kosong isinya. Karena Teuntara Neugara Atjeh (TNA) di rawa Chot Trieng sudah tidak ada lagi ditempat yang dikepung oleh 5 batalion serdadu darat-nya Ryacudu.

Dan inilah yang saya katakan bahwa sebenarnya Yudhoyono adalah akhli strategi militer dan politik gadungan yang ditunjang oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang pandainya hanya menggertak didepan meja saja.

Karena itu kalau Acheh-Sumatra National Liberation Front tidak mau menandatangani perjanjian damai buatan Yudhoyono di Genewa, maka sudah jelas itu Yudhoyono, Sutarto dan Ryacudu akan mati kutu karena malu ditertawai oleh seluruh dunia, bahwa serdadu Ryacudu adalah hanya mengepung nyamuk di daerah rawa Chot Trieng yang luasnya antara 16-20 km persegi itu..

Tetapi kalau memang Acheh-Sumatra National Liberation Front mau ditipu dengan menandatangani perjanjian damai buatan Yudhoyono di Genewa, maka jelas itu muka Yudhoyono, Sutarto dan Ryacudu akan terselamatkan, karena serdadu-serdadunya yang sedang mengepung nyamuk di daerah rawa Chot Trieng akan tertutupi.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se

----------

ACHEH-SUMATRA NATIONAL LIBERATION FRONT
TEUNTARA NEUGARA ATJ»H
PUSAT INFORMASI MILIT»R

PRESS RELEASE
27 November 2002

1. Pengepungan oleh TNI hari ini telah memasuki hari ke-30. Jenderal TNI di Jakarta baru saja menggelar meeting untuk mencari jalan dan alasan mundur dari pengepungan di rawa-rawa Chot Trieng tanpa harus kehilangan muka, karena berkesimpulan tidak akan mampu menembus pertahanan TNA yang hanya dipertahankan oleh beberapa ratus perajurit.

2. Untuk menyelamatkan muka TNI, kami telah menarik/menyusupkan keluar separuh dari kekuatan kami dari rawa-rawa Chot Trieng, jadi tidak ada lagi alasan bagi TNI untuk takut menyerang posisi TNA dalam rawa tersebut. Sekarang kekuatan TNI dan TNA sudah berimbang, yaitu 4000 TNI dan 150 TNA.

3. Semenjak awal pengepungan, pihak intelijen TNA telah memperingatkan petinggi TNI bahwa RI akan menuai malu dan TNI akan harus keluar dengan wajah tertunduk dari Chot Trieng bila terus melakukan pengepungan. Intel kami telah menelpon, atau melalui orang lain memberitahu Brigjen. Bambang Dharmono dan Kolonel Azmyn Nasution mengenai hal tersebut, tetapi mereka tidak merespon dan kelihatannya justru mempersiapkan agendanya sendiri perihal pengepungan tersebut.

4. Intel TNA yang menyusup ke dalam posisi TNI di garis depan dan sempat mewawancarai prajurit TNI memperoleh kesan bahwa prajurit TNI di lapangan berada dalam kondisi moril yang memprihatinkan. Mereka merasa Petinggi-petinggi TNI di Jakarta dan di Aceh sedang "bermain" dengan skenario pengepungan untuk kepentingan pribadi sementara prajurit lapangan dikorbankan. Kami juga memperoleh data bahwa TNI telah mulai menarik pasukannya secara rahasia dari garis depan, namun diberitakan telah diperintahkan maju masuk ke dalam rawa, padahal itu bohong.

5. Sekali lagi, Panglima TNA menyerukan agar TNI segera mundur secara baik-baik, tanpa syarat, dan tanpa terlalu banyak propaganda.Kami paham bahwa TNI sedang serba salah: mundur mendapat malu, maju mendapat bala. Namun mundur sekarang dan patuh pada seruan kami adalah jalan yang terbaik untuk menghindari malu yang lebih besar di masa yang akan datang.

6. Bila TNI memenuhi saran kami untuk mundur, diharap tidak menggunakan issue rencana Dialog Jenewa tanggal 9 Desember sebagai alasan mundur,karena sesungguhnya tidak ada kaitan antara kedua hal tersebut walaupun RI telah dengan ceroboh menggunakan issue itu untuk menekan ASNLF, namun tidak berhasil.

Komando Militer Pusat,
Untuk dan atas nama Panglima TNA

Tgk. Sofyan Dawod
Jurubicara TNA
----------