Bumi Allah, 7 Februari 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

HILAL DAN PERMASALAHANNYA
Rahmat Gumilar Nataprawira
NII.

 

Muqaddimah

  1. Seringkali kaum muslimin, termasuk Rakyat Islam berjuang, dibuat bingung, ketika mendapati bahwa penentuan tanggal 1 syawal atau 10 Dzul Hijjah berbeda dengan apa yang ditentukan oleh Kerajaan Saudi Arabia. Dan ini tidak hanya menjadi keprihatinan kita saja, tetapi juga banyak kalangan permerhati hilal di berbagai negeri, seperti yang terungkap di sini: "Sudah beberapa dekade ini kalender hijriah yang ditetapkan Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya di semenanjung Arabia senantiasa lebih dulu sehari atau dua hari dari kalender Islam yang digunakan oleh Muslim di tempat lain. Hal ini amat membingungkan, terutama pada bulan Ramadhan dan bulan haji. Pada saat muslimin di seluruh dunia berusaha untuk menentukan tanggal yang tepat untuk melaksanakan ibadah dalam kurun waktu tersebut (shoum dan sholat ‘Iedul Fithri dan sholat ‘Iedul Adha), (ternyata hasilnya berbeda dengan apa yang diumumkan Saudi Arabia), padahal mereka meyakini bahwa Kerajaan Saudi Arabia mendasarkan penentuan kalendernya dengan merukyat hilal".
  2. Kebanyakan orang mengira bahwa Kerajaan Saudi Arabia menggunakan rukyat (melihat hilal) sebagai dasar penentuan tanggal hijriyah. Tetapi jika memang mereka menjadikan rukyatul hilal (melihat bulan sabit) sebagai dasar ditetapkannya tanggal satu dalam setiap bulan, ternyata melihat apa yang terjadi pada tahun-tahun belakangan ini, baik masyarakat umum maupun ahli astronomi telah mengetahui dengan jelas bahwa kebanyakan dari penentuan awal bulan hijriyah yang ditetapkan saudi Arabia itu "salah".
  3. Di bawah ini adalah daftar penetapan tanggal satu (pertama) setiap bulan Hijriah yang diputuskan oleh pembuat Kalender Ummul Qurra Saudi Arabia, untuk tahun 1420 – 1424 H (1999/2000 – 2003/2004). Seperti yang akan kita lihat, untuk tahun 1423 H ini, hanya ada 4 bulan saja yang sesuai dengan penampakan hilal tanggal 1 hijriah. Sedangkan 7 bulan lainnya ditetapkan sebagai tanggal 1 padahal ijtimak saja belum terwujud (bulan baru belum ‘lahir’) dan ada 1 bulan yang diputuskan sebagai tanggal 1 padahal rukyat tidak bisa dilihat, sekalipun dengan teleskop.
  4. Simbol

    Keterangan

    ƒ ƒ

    Hilal bisa dilihat dengan mata telanjang pada senja pertama

    ƒ

    Hilal bisa dilihat dengan bantuan teleskop pada senja pertama

    S

    Hilal tidak bisa dilihat dengan mata telanjang pada senja pertama

    S S

    Bulan hijriah sudah dimulai padahal ijtimak belum tercapai

     

    Tanggal pertama bulan hijriyah menurut Kalender Ummul Qura

    Kerajaan Saudi Arabia (1420-1424 H)

    Bulan

    1420

    1421

    1422

    1423

    1424

    Muharram

    29 hari

    17 April 1999

    Sabtu

    S S

    29 hari

    6 April 2000

    Kamis

    ƒ ƒ

    30 hari

    26 Maret 2001

    Senin

    S S

    30 hari

    15 Maret 2002

    Jum’at

    S S

    30 hari

    4 Maret

    2003

    Selasa

    S S

    Safar

    30 hari

    16 Mei 1999

    Ahad

    S S

    29 hari

    5 Mei 2000

    Jum’at

    S S

    29 hari

    25 April 2001

    Rabu

    ƒ ƒ

    29 hari

    14 April 2002

    Ahad

    ƒ

    29 hari

    3 April

    2003

    Kamis

    ƒ

    Rabi ul-Awwal

    29 hari

    15 Juni 1999

    Selasa

    ƒ ƒ

    30 hari

    3 Juni 2000

    Sabtu

    S S

    29 hari

    24 Mei 2001

    Kamis

    S S

    30 hari

    13 Mei

    2002

    Senin

    S S

    30 hari

    2 Mei

    2003

    Jum’at

    S S

    Rabi ul-Akhir

    29 hari

    14 Juli 1999

    Rabu

    S S

    29 hari

    3 Juli 2000

    Senin

    ƒ ƒ

    30 hari

    22 Juni 2001

    Jum’at

    S S

    29 hari

    12 Juni 2002

    Rabu

    S S

    30 hari

    1 Juni

    2003

    Ahad

    S S

    Jumadi l-Ula

    30 hari

    12 Agust 1999

    Kamis

    S S

    29 hari

    1 Agust 2000

    Selasa

    S S

    29 hari

    22 Juli 2001

    Ahad

    ƒ ƒ

    29 hari

    11 Juli

    2002

    Kamis

    S S

    29 hari

    1 Juli

    2003

    Selasa

    ƒ ƒ

     

    Bulan

    1420

    1421

    1422

    1423

    1424

    Jumadi l-Akhir

    29 hari

    11 Sept 1999

    Sabtu

    ƒ

    29 hari

    30 Agust 2000

    Rabu

    S S

    29 hari

    20 Agust 2001

    Senin

    ƒ

    30 hari

    9 Agust

    2002

    Jum’at

    S

    29 hari

    30 Juli

    2003

    Rabu

    S S

    Rajab

    30 hari

    10 Okt 1999

    Ahad

    S S

    30 hari

    28 Sep 2000

    Kamis

    S

    29 hari

    18 Sep 2001

    Selasa

    S S

    29 hari

    8 Sept

    2002

    Ahad

    ƒ

    30 hari

    28 Agust 2003

    Kamis

    S

    Sya’ban

     

    30 hari

    9 Nov 1999

    Selasa

    S S

    30 hari

    28 Okt 2000

    Sabtu

    S S

    30 hari

    17 Okt 2001

    Rabu

    S

    30 hari

    7 Okt 2002

    Senin

    S S

    29 hari

    27 Sep 2003

    Sabtu

    S S

    Ramadhan

    30 hari

    9 Des 1999

    Kamis

    S

    30 hari

    27 Nov 2000

    Senin

    S S

    30 hari

    16 Nov 2001

    Jum’at

    S S

    29 hari

    6 Nov 2002

    Rabu

    ƒ

    30 hari

    26 Okt 2003

    Ahad

    S S

    Syawwal

    30 hari

    8 Jan 2000

    Sabtu

    ƒ

    30 hari

    27 Des 2000

    Rabu

    ƒ

    30 hari

    16 Des 2001

    Ahad

    ƒ

    30 hari

    5 Des 2002

    Kamis

    S S

    29 hari

    25 Nov 2003

    Selasa

    S S

    Dzu l-Qadah

    29 hari

    7 Feb 2000

    Senin

    ƒ ƒ

    29 hari

    26 Jan 2001

    Jum’at

    ƒ ƒ

    29 hari

    15 Jan 2002

    Selasa

    ƒ ƒ

    29 hari

    4 Jan 2003

    Sabtu

    ƒ

    30 hari

    24 Dec 2003

    Rabu

    S S

    Dzu l-Hijjah

    30 hari

    7 Mar 2000

    Selasa

    S S

    30 hari

    24 Feb 2001

    Sabtu

    S S

    30 hari

    13 Feb 2002

    Rabu

    S S

    30 hari

    2 Feb 2003

    Ahad

    S S

    29 hari

    23 Jan 2004

    Jum’at

    ƒ

  5. Kenyataan di atas semakin rumit, karena pada kenyataannya official calender (kalender resmi) Kerajaan Saudi Arabia pun belum tentu sama dengan Kalender Ummul Qurra (seperti akan terlihat pada penjelasan berikutnya). Kita tidak tahu ada faktor apa, barangkali sama dengan kasus di Republik Indonesia, bahwa tidak selamanya keputusan Majlis Ulama Indonesia (MUI), dijadikan acuan oleh pemerintah RI untuk menetapkan suatu kebijakan.
  6. Kenyataan di atas tentu mengagetkan kita, dan mengingat masih banyak muslimin di dunia yang menyandarkan tanggal pelaksanaan ibadah shiyam dan shalat ‘idain pada Saudi Arabia, akibatnya ‘kesalahan’ ini menyebar ke seluruh dunia. Bahkan ketika tidak disikapi dengan arif, ini bisa menimbulkan fitnah dikalangan muslimin.
  7. Menyadari hal ini, maka diperlukan kesungguhan untuk menelusuri 'ketidak nyamanan' tersebut. Alhamdulillan setelah kami membuat penelusuran bersama ikhwan-ikhwan via internet baik lewat "searching data" maupun komunikasi via e-mail, kami menemukan beberapa informasi. Semoga kiranya paparan ini berguna bagi seluruh rakyat Islam berjuang di Nusantara dan seluruh kaum muslimin pada umumnya, Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.
  8. Pengalaman menyaksikan Hilal di Saudi Arabia

    Timbul pertanyaan, "Mengapa banyak penetapan Kalender Ummul Qura bertentangan dengan penampakan hilal yang sebenarnya? Apakah di Saudi Arabia tidak membentuk team rukyat yang ditugaskan untuk pekerjaan penting ini?"

  9. Dr. Salman Zafar Shaikh yang pernah mengikuti Komite Hilal Saudi untuk mengamati hilal di sana, menyatakan bahwa komite-komite pengamat hilal baru dibentuk secara resmi pada tahun tahun 1419 H. Setelah pemerintah Saudi Arabia mendapatkan banyaknya protes (keberatan) atas kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam penetapan-penetapan tanggal yang diumumkan pemerintah. Komisi Pengamat Hilal itu terdiri dari:
    1. Seorang Qadhi (Ulama dari Majlis Kehakiman)
    2. Seorang Ahli Falak/Astronom dari KACST (King Abdul Aziz City for Science and Technology)
    3. Seorang dari perwakilan pemerintah/Imarah (ruling council of the city), dan
    4. sukarelawan
  10. Namun sekalipun komite hilal sudah dibentuk secara resmi, persoalan masih tetap muncul, karena sekalipun sudah ada 6 komite-komite pengamat hilal (di enam kota: Riyadh, Qassim, Hail, Tabuk and Asir), namun Majlis Kehakiman Kerajaan Saudi Arabia masih saja menerima persaksian dari perseorangan (muslim), yang bersaksi telah melihat hilal. Akibatnya tetap saja penanggalan baru itu diumumkan walau tidak seorangpun dari ke enam komite itu yang melihat hilal.
  11. Masalah ini pernah dikomentari oleh Baharrudin bin Zainal, di internet dengan tajuk "KAEDAH PENENTUAN HARI RAYA DI ANTARA MALAYSIA DENGAN NEGARA TIMUR TENGAH". Beliau menyatakan : Di Malaysia, malahan di beberapa negara Asia Tenggara merupakan pendekatan yang terbaik dari segi syarak dan astronomi. Walau bagaimanapun, penggunaan asas takwim hijri di beberapa negara Timur Tengah agak meragukan. Sering kali kita menerima laporan kenampakan anak bulan pada hari bulan menurut keadaan fizikalnya tidak akan berada di atas ufuk. Peristiwa yang sama berlaku bagi penentuan Ramadhan tahun ini, di mana anak bulan dilaporkan kelihatan di Yemen. Dipercayai, negara berkenaan menggunakan kaedah rukyah mutlak di mana rakyat biasa akan melakukan rukyah sendiri dan melaporkannya kepada pihak berkuasa. Kaedah ini boleh mencetuskan banyak kekeliruan. Di Malaysia, tugas melihat anak bulan dilakukan oleh petugas rasmi yang dilantik dan mempunyai kemudahan pencerapan yang baik.
  12. Pengalaman ini patut dijadikan renungan : Pada bulan Ramadhan 1420 H Dr. Salman Zafar Shaikh sendiri berangkat dengan Komite Pengamat Hilal untuk melihat hilal di bukit Syamesi di luar kota Makkah pada hari Kamis sore (tanggal 6 Januari 2000). Tidak ada seorang pun dari team ini yang melihat hilal, tetapi ketika team ini pulang ke Al Haram yang mulia, mereka dibuat kaget mendengar pengumuman bahwa Iedul Fithri ditetapkan keesokan harinya (Jum’at, 7 Januari 2000). Padahal (sebagaimana disaksikan oleh team pengamat hilal) bulan terbenam lebih dahulu dari pada matahari (berdasarkan hitungan komputer : 9 menit 4 detik lebih dulu dari matahari terbenam -pen). Jelas sekali bahwa penetapan 1 Syawal oleh pemerintah Saudi Arabia itu ‘salah’.
  13. Belakangan kemudian Syekh Yusuf Al Qardhawi mengeluarkan fatwa bahwa muslim yang merayakan ‘Iedul Fithri 1420 H pada hari Jum’at (7 Januari 2000) mengikuti pengumuman Saudi Arabia, harus mengqadha satu hari shoum yang ditinggalkannya (karena mereka membatalkan satu hari shoum dengan merayakan ‘ied pada hari yang salah).
  14. Kesalahan penetapan ini semakin jelas dengan adanya gerhana pada tanggal 5 Februari 2000, mengingat Syekh Al Utsaimin pernah pada tahun 1412 H, mengeluarkan fatwa sebelumnya bahwa: jika ada gerhana dimanapun di dunia, sedang di kota anda matahari sudah terbenam, maka besok harinya bukanlah tanggal 1 hijriah untuk daerah/kota anda (dokumen fatwa ini dilampirkan dalam keterangan selanjutnya).
  15. Dengan adanya gerhana itu, maka jika penetapan Kerajaan Saudi Arabia tentang 1 Syawal 1420 H itu benar (jatuh tanggal 7 Januari) maka berarti bulan Syawal tersebut berjumlah 31 hari, dan ini tidak mungkin sebab maksimal bulan hijriah adalah 30 hari. Menurut perhitungan moonc calculation 5.2 keadaan bulan pada tanggal 6 Januari 2000 adalah sebagai berikut :


  16. Perhatikan data di atas dan anda akan terheran-heran, bagaimana bisa pemerintah Kerajaan Saudi Arabia mengumumkan besok tanggal 1 Syawal padahal bulan terbenam lebih dahulu dari matahari, bahkan ijtimak pun belum terjadi (bulan baru hanya akan muncul 3 jam 21 menit kemudian!!)
  17. Akhirnya media cetak "Arab News" pada tanggal 11 February 2000 menurunkan tulisan yang sangat baik tentang ketidak akuratan penetapan ‘Iedul Fithri 1420 H (dokumen terlampir). Masalah ini juga diulas dalam Majalah Ad Da’wah, 6 Syawal 1420 H. Sayangnya pihak pemerintah Saudi Arabia sendiri ‘bersikap bungkam’ dengan masalah di atas. Tidak ada satu pernyataan apapun, menanggapi kesalahan penetapan yang mulai diangkat secara terbuka lewat media cetak tadi.
  18. Kasus lain yang menarik untuk dicermati adalah pengakuan Dr. Salman Zafar Shaikh dari Riyadh – Saudi Arabia, mengenai Dzul Hizzah 1420 H: "Kami pergi dengan Komite Pengamat Hilal Riyadh. Komite Riyadh maupun komite lainnya tidak ada yang melihat hilal di waktu petang, baik pada tanggal 5 Maret maupun pada tanggal 6 Maret 2000. Namun demikian atetap saja pemerintah Saudi Arabia mengumumkan bahwa tanggal 1 Dzul hijjah jatuh pada tanggal 7 Maret 2000. Baru pada tanggal 7 Maret petang harinya beberapa ikhwan di Lucent Technology di Riyadh melihat Hilal. Hilal itu sangat tipis. Kami melihatnya selepas sholat maghrib selama 20 menit. dari ketipisannya dan singkatnya waktu, kami yakin bahwa itu adalah hilal, bulan sabit pertama (yang menandai tanggal 1 Dzulhijjah). Diantara yang melihat hilal itu, termasuk saya juga Akh. Ziaur Rahman, Akh. Ali Al Shamrani, Akh. Aamer Sabbah, Akh. Shahin Iqbal, Akh. Budiatmoko Onang, Akh. E. Ashraf Koya dan lainnya. Tentu saja saudara-saudara muslim yang lain pun ada pula yang melihat hilal ini. Kami bertujuh dari Lucent Technology berangkat untuk berusaha menemui Sheikh Saleh Ibn Muhammad Al Haidan, Kepala Majlis Kehakiman Tinggi (Majlis Al Qada Al Aala) Saudi Arabia, namun tidak mudah untuk menyampaikan pesan ini".
  19. Hilal Semakin ke Barat akan Semakin Terlihat

  20. Penjelasan lain yang sangat masuk akal adalah; jika memang benar di Saudi Arabia sudah terlihat hilal, maka tentu di kawasan yang lebih ke Barat, hilal itu akan lebih jelas lagi terlihatnya. Sebab ketika matahari terbenam, umur bulan di Amerika mestinya akan jauh lebih tua daripada ketika pertama kali terlihat di Saudi Arabia, sehingga kemungkinan hilal bisa dilihat akan jauh lebih besar. Para ahli falak sering dibuat heran dengan adanya pengakuan individu di kawasan Timur Tengah yang mengklaim melihat hilal lebih dahulu, tapi ternyata tidak bisa dibuktikan adanya hilal itu terlihat di kawasan yang lebih barat lagi ketika matahari terbenam.
  21. Contoh yang paling jelas adalah mengenai pengakuan melihat hilal 1 Syawal 1423 H kemarin di timur tengah, ini sungguh aneh. Sebab ternyata muslimin pengamat hilal di Amerika malah tidak melihatnya. Dan memang pada kenyataanya hilal baru akan tampak di kawasan yang lebih Barat lagi dari benua Amerika:
  22. Pengakuan Pribadi Harus Ditolak Jika yang Lain Tidak Melihat

  23. Pengakuan pribadi yang tidak dikonfirmasi oleh yang lain, itu kalau langsung dipercaya bisa fatal akibatnya.Adanya sosok-sosok pribadi yang mengaku melihat hilal apalagi berani disumpah memang telah melihatnya memang bisa runyam, sebab kalender satu negeri bisa saja menjadi kacau balau hanya karena pengakuan seorang ini.
  24. Karena itu sikap yang bijak hari ini, bukan sekedar harus mengganti dari "Hilaal-Fighting" (bertengkar soal hilal) dengan "Hilaal sighting" (mengamati hilal), tetapi juga mengamatinya jangan sendiri-sendiri tetapi harus dalam satu team yang dibentuk secara resmi dan bertanggung jawab. Kalau hanya menerima pengakuan pribadi bisa gawat akibatnya, sekalipun orang itu kepribadiannya bisa dipercaya, tapi mungkin saja dalam melihat hilal bisa keliru.
  25. Sayidina Umar bin Khothob ra. pernah dibuat bingung oleh pengakuan sayidina Anas bin Malik ra. (yang ketika itu sudah sangat tua) bahwa dirinya telah melihat hilal, padahal yang lain termasuk sayidina Umar bin khothob ra. sendiri yang berada di lokasi yang sama bahkan tidak melihat hilal tersebut. Kemudian sayidina Umar ra berjalan menuju sayidina Anas ra. lantas beliau menyibakkan (menghilangkan) uban dari alis sayidina Anas, setelah itu beliau meminta sayidina Anas ra. untuk melihat kembali. Ternyata sekarang sayidina Anas mengatakan bahwa ia tidak melihat hilal itu. (lihat Aujaz al Masalik juz.5, halaman 21, Tantawi’s Irshad halaman 154, Bain al- Sunnah wal Ijtihad halaman 50). Kesimpulannya, seorang hakim harus menolak pengakuan ‘melihat hilal’ dari orang penting sekalipun, ketika terbukti ternyata yang lainnya tidak melihat.
  26. Reaksi yang Muncul atas Kesalahan Kerajaan Saudi Arabia dalam Penetapan Tangal Satu Hijriah 1420 H

  27. Syeikh Qardawi: Jum’at adalah kesempurnaan dari bulan Ramadhan:
  28. Setelah dikukuhkan oleh perhitungan astronomi (hisab), Syeik Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa Jum’at 7 Januari 2000 adalah hari ke 30 dari bulan suci Ramadhan. Dan muslimin di negeri negeri yang mengumumkan hari Jum’at sebagai hari ‘Iedul Fithri, seperti Saudi Arabia, Palestina, Qatar, Uni Emirat Arab, dan lainnya. Mereka harus merayakan Ied pada hari jum’at tetapi harus mengqadha satu hari shoum sebagai penggantinya. Perhitungan Astronomi dengan jelas tanpa keraguan lagi bahwa melihat hilal pada hari Kamis (6 Januari 2000) adalah tidak mungkin. Konsekwensinya, jika hisab menunjukan bahwa tidak akan ada hilal yang bisa dilihat, maka orang tidak harus berusaha mencari-cari hilal. Dan tidak boleh ada persaksian (pengakuan melihat hilal) yang boleh diterima. Dalam tulisan di atas pun Syekh Yusuf Qardhawi bahwa jika negara mengumumkan suatu hari sebagai tanggal 1 Ramadhan atau tanggal 1 Syawal, maka pemerintah itulah yang bertanggung jawab. Adapun rakyat diharuskan mengikuti keputusan pemerintah tersebut, sebab tidak boleh ada dua perayaan ied (dengan tanggal yang berbeda) di satu negeri, satu kelompok melaksanakan shoum sedangkan kelompok lainnya malah merayakan hari raya. Akhirnya syekh Yusuf Qardhawi menyatakan : "bila untuk seluruh dunia sulit atau tidak mungkin tidak mungkin merayakan hari raya pada hari yang sama, seharusnya untuk satu negara tidak akan menemui kesulitan untuk melakukannya".

  29. dari Persatuan Arab untuk Astronomi dan ilmu-ilmu keruang angkasaan (Arabic Union foa Astronomy and Space sciences – AUASS), dalam pernyataannya di atas dengan tegas menolak kemungkinan terlihatnya hilal syawal pada hari Kamis, 6 Januari 2000. Hilal hanya mungkin terlihat pada heri Jum’at atas Sabtu tegas AUASS. Pernyataan ini dengan tegas menegaskan bahwa negara-negara yang menetapkan 1 Syawal pada hari Jum’at adalah salah. Bahkan UASS menegaskan bahwa itu bertentangan dengan kenyataan paling sederhana dari fakta ilmiah di alam raya. AUASS juga terkejut dan amat menyesalkan terjadinya hari raya ‘Iedul Fithri yang berbeda-beda di seluruh dunia sampai 4 hari: Negeria telah mengumumkan bawa ‘1 syawal hari Kamis (6 Januari), sedangkan Saudi Arabia dan negara sekitarnya mengumumkan 1 Syawal jatuh pada hari Jum’at (7 Januari), Kebanyakan dari negeri-negeri Islam menetapkan hari Sabtu (8 Januari), sedangkan di negeri lainnya ada yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Minggu (9 Januari 2000).
  30. Berkenaan dengan hilal satu Syawal tambah UASS, ijtimak (wan phase/new moon) pada tanggal 18 : 14 UT (Universat Time, waktu semesta), Ijtimak (konjungsi) adalah ketika ketiga benda langit berada pada posisi satu garis (bumi – bulan – matahari), bulan berada antara bumi dan matahari kita tidak bisa melihat apapun pada saat itu, sebab hanya sisi gelap bulan saja yang menghadap bumi. Hilal baru akan muncul 12 – 20 jam kemudian setelah ijtimak.

    Hilal itu baru akan terlihat, jika bulan lahir 12 – 20 jam sebelum matahari terbenam, perlu juga dijelaskan bahwa pada hari Kamis tanggal 6 Januari 2000, matahari terbenam pada jam 17 : 44 waktu Saudi, padahal bulan baru ‘lahir’ (ijtimak) pada jam 21 : 14 waktu Saudi (UT +3), artinya ijtimak baru muncul setelah matahari terbenam, bukan sebelumnya.

    Ini berarti bahwa melihat hilal tanggal 6 Januari bukan saja tidak bisa tapi bahkan tidak mungkin.

    UASS juga menambahkan bahwa di seluruh negeri-negeri muslim, pada hari Kamis petang itu hilal tidak mungkin bisa dilihat. Bahkan pada hari jum’at pun hilal tidak mudah bisa dilihat di semua negeri-negeri muslim. Berdasarkan hisab, negeri-negeri seperti: Indonesia, Malaysia, India, Afghanistan, Pakistan, Libanon, Turki, Syiria dan sebahagian besar Iran tidak bisa melihat hilal pada heri Jum’at. Hilal baru pertama kali akan bisa dilihat pada tanggal 7 Januari di Irak, Yaman, Yordan, Palestina, Mesir, Tunisia, Libia, Aljazair, dan akan semakin jelas terlihat di negeri negeri sebelah barat selanjutnya seperti Maroko dan Mauritania dan selanjutnya.

    Berdasarkan kenyataan tersebut, maka dinegeri-negeri yang melihat hilal tanggal 7, bisa merayakan ‘Iedul Fithri 1420 H tanggal 8 Januari 2000 M, sedangkan negeri-negeri yang melihat hilal petang hari berikutnya, baru akan melaksanakan ‘Iedul Fithri pada keesokan harinya (9 Januari 2000 M).

    UASS juga menyatakan bahwa, mengumumkan hilal tanpa dasar hisab ilmiah (yang bersesuaian dengan kenyataan astronomis) bisa menyebabkan jutaan muslim di satu negeri tidak shoum pada hari masih diwajibkan shoum atas mereka.

  31. Pada gambar di atas ditunjukkan kalender Islam 3 kawasan, dimana maksimal perbedaan penetapan tanggal 1 Hijriah adalah 24 jam, tidak akan lebih dari itu. Bila terjadi perbedaan di dua tempat lebih dari 24 jam, maka bisa dipastikan salah satunya adalah salah, bertentangan dengan kenyataan astronomis yang sebenarnya terjadi.
  32. Perbedaan 24 jam sebenarnya menurut hitungan hijriah, masih satu hari yang sama; namun karena bumi ini dibelah dengan garis tanggal masehi, sehingga terasa sebagai dua tanggal yang berbeda. Ini merupakan bukti kekalahan budaya, yang harus kita renungkan bersama, sungguh memprihatinkan memang, dimana-mana muslimin lebih akrab dengan penganggalan masehi daripada penanggalan hijriah, kecuali untuk bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul hijjah saja.
  33. Gerhana dan Penanggalan Bulan Hijriah

  34. Pertanyaan kepada yang mulia syeikh Sheikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin, Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh, jika gerhana matahari (baik penuh maupun parsial), terjadi di belahan Barat dari Kerajaan Saudi Arabia, sedangkan pada saat itu di Saudi Arabia matahari telah terbenam. Maka menurut aturan bagaimana status keesokan harinya setelah gerhana matahari itu terjadi? Apakah itu merupakan istikmal (penyempurnaan) hari ketiga puluh dari bulan tersebut? Jika tanggal 1 pada hari itu (katanya) didasarkan pada hisab atau melihat hilal, bagaimanakah ketentuan atas hal ini?
  35. Pertanyaan di atas disampaikan oleh Abdul Aziz Sultan Almar’esh, General Manager yangyang bertanggung jawab untuk melihat hilal, the department of Astronomical research at King Abdul Aziz City for Science & Technology.

  36. Jawaban: BismillahirRahmaanirRaheem Wa Alaykum AsSalaamu Wa Rahmatullahi WaBarakaatuhu. Jika gerhana (matahari) terjadi setelah matahari terbenam (di kota anda), di belahan manapun gerhana itu terjadi (baik sempurna maupun sebagian), maka tidak mungkin bisa diputuskan bahwa keesokan harinya adalah bulan baru. Ini disebabkan karena kenyataan yang baik para ulama maupun para ahli falak bersepakat bahwa ketika gerhana itu terjadi posisi bulan tepat berada di tengah-tengah antara matahari dan bulan (untuk lebih jelas, lihat gambar –tambahan dari penyusun).
  37. juga merupakan kenyatan umum yang diketahui baik oleh para ulama maupun umum bahwa bahwa bulan baru hijriah tidak akan diawali sebelum melihat hilal, yang bisa dirukyat beberapa saat selepas matahari terbenam.

    Pada kasus seperti ini tidak mungkin bulan baru (ijtimak) terjadi setelah matahari di tempat kita terbenam, sedangkan posisi segaris itu (ijtimak) itu baru terjadi pada siang hari di belahan bumi yang lebih barat dari kita yang masih dalam keadaan siang hari (sedangkan ketika ijtimak ini terjadi, terbukti dengan adanya gerhana matahari, di daerah kita sendiri sudah malam hari). Karena Allah yang Maha Kuasa telah mengatur perputaran itu sedemikian rupa, seperti disebutkan Al Quran: "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Surat Al-An’am : 96). "Dan Matahari berjalan di tempat peredarannya, demikian ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah, (sehingga setelah dia sampai kepada manzilah yang terakhir). kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (tandan kering yang melengkung). Tidak mungkin bagi Matahari mendapatkan Bulan dan malam pun tak akan dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (Surat Yasin 38 – 40). Dan dalam surat Asy Syam (91) ayat 1 dan 2: "Demi Matahari dan cahayanya di pagi hari dan Bulan apabila mengiringinya"

    Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa bulan pada malam hilal, mengikuti matahari. Karena itu karena bulan mengikuti matahari, bulan datang kemudian daripada matahari, sehingga tidak mungkin bagi bulan berada ditengah tengah antara bumi dan matahari di siang hari, kemudian ia meloncat (mundur) terlihat sebagai hilal di kawasan lebih ke Timur yang sudah beranjak malam.

    (………… tidak diterjemahkan ………………)

    Karena itu jika ada orang yang mengatakan bahwa bulan dimulai pada malam yang sama ketika gerhana terjadi selepas matahari terbenam, sama saja dengan mengatakan bahwa bulan pertama terjadi pada saat yang sama dengan ketika bulan itu lahir. Atau seperti orang yang menyatakan bahwa matahari akan terbit sebelum ia terbenam, atau seperti bayi yang akan kelihatan (oleh mata telanjang) sebelum ia dilahirkan dari rahim ibunya. Semua ini adalah tidak mungkin berdasarkan hukum dan ketetapan yang telah digariskan Allah yang Maha Perkasa atas alam raya yang demikian teratur..

    (………… tidak diterjemahkan ………………)

    Tetapi hukum yang Allah tetapkan atas Matahari dan Bulan di dunia ini sudah tetap, dan tidak berubah, kecuali dalam kasus mukjizat terhadap para Nabi atau karomat atas para Wali.

    (Muhammad AsSaleh Al Utsaimin tanggal 30/1/1412H).

    Gambar di atas menunjukkan bahwa hilal senantiasa kelihatan setelah bulan melewati posisi segaris (ijtimak), dan bulan berputar berlawanan dengan arah jarum jam, sehingga jika kita berada di belahan bumi yang sudah mengalami malam, maka tidak mungkin sore tadi ada hilal, padahal di belahan bumi yang masih siang sedang terjadi gerhana matahari. Kita harus menunggu putaran bumi berikutnya untuk menunggu saat kemunculan hilal.

  38. Melihat kejadian di atas, kita akan mengetahui, betapa bahayanya jika muslimin hanya membebek pada keputusan pemerintah Saudi Arabia saja, apalagi pada pengakuan ‘melihat’ dari individu/perseorangan yang tideak didukung oleh kenyataan ilmiah’
  39. Bahkan Syekh Al Utsaimin pernah mengeluarkan fatwa, bahwa penentuan ibadah, termasuk sholat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha, haruslah berdasarkan pengamatan hilal setempat, dan bagi muslimin yang tinggal di wilayah non muslim, hendaknya mengikuti keputusan Amir muslimin setempat:
  40. Bismillahirrahmaanirrahiim, yang mulia Syekh Al Utsaimin, semoga Allah melindungi tuan, As salaamu Alaykum w.r. w.b. kami telah membaca fatwa dari buku yang tuan tulis : "Fatawa Islamiya" berkenaan dengan melihat hilal di satu negeri tidak mengikat negeri negeri yang lain untuk mengikuti penanggalan negeri dimana hilal terlihat itu. Apakah hal ini juga berlaku bagi ‘Iedul Adha (yang dimaksud adaah berkenaan dengan rukyat hilal bulan Dzul hijjah, penetapan tanggal 1nya -pen)?

    Beri kami manfaat (dengan memberi penjelasan kepada kami), semoga Allah memberi pahala atas tuan, Jazakum Allahu Khayr AlJaza

    Jawaban :

    Bismillahir Rahmaanir Raheem

    wa ‘alaykum as salaam w.r. w.b.

    Untuk hilal, berkenaan dengan mathali’a (waktu-waktu munculnya, terlihatnya hilal) adalah berbeda dari tempat yang satu dengan tempat yang lain, ini berlaku untuk Ramadhan dan juga bulan-bulan yang lainnya. Walaupun demikian (di negeri-negeri non muslim), saya melihat bahwa orang-orang harus bersepakat dalam satu hal (dengan cara) mengikuti keputusan Amir Jaliyah Islamiyah dalam masyarakat muslimin di negeri non muslim tersebut.

    (Dalam kesempatan ini pun syekh Al Utsaimin menjelaskan pendapat lain di luar pendapatnya di atas) Karena masalah berkenaan dengan ini demikian luas (ada banyak pandangan atasnya) seperti misalnya ada beberapa ulama yang berkata: jika hilal terbukti (bukan pengakuan tanpa dasar –pen) di salah satu negeri atau negara Islam, maka seluruh muslimin di seluruh negara Islam terikat dengan penanggalan itu. (Ditulis oleh Syeikh Al Utsaimin pada tanggal 15 Safar 1421 H)

    Tentunya fatwa tadi jelas buat kita, yang dimaksud tempat pertama itu mengikat sebagai tanggal satu, pada pelaksanaannya bukan berlaku surut ke timur, tapi bergulir ke barat sebagaimana sunatullah di alam semesta berlaku demikian.

  41. Diskusi lain berkenaan dengan penentuan ‘Iedul Adha ini, apakah berdasarkan pelaksanaan ibadah haji (yang mungkin saja ditetapkan secara keliru oleh pemerintah saudi Arabia) atau berdasarkan pengamatan hilal lokal? Hal ini pernah dibahas oleh DR. Omar Afzal sebagai berikut:
  42. ‘Iedul Adha iatu dilaksanakan Nabi Muhammad saw pada tahun 2 Hijriyah, jauh sebelum beliau melaksanakan haji, dan beliau senantiasa menetapkan hari pelaksanaan sholat ‘Iedul Adha itu berdasarkan pengamatan rukyat setempat. Tidak ada berita dimana nabi menyuruh seseorang untuk berusaha mengetahui kapan hari arafah dilaksanakan di makkah, kemudian berdasarkan itu beliau besoknya melaksanakan sholat ‘Iedul Adha.

    Hari raya ‘Iedul Adha adalah hari raya memotong Qurban (kata dhohiya – adha berarti memotong) bukan ‘Iedul Hajj. Memang di dalam ibadah haji pun ada memotong hewan, namun itu adalah binatang hadyu buat yang melaksanakan haji Qiron, atau sebagai dam bagi yang melaksanakan haji tamattu. Bahkan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, walaupun mereka juga memotong hadyu/dam tamattu tetapi mereka tidak melaksanakan sholat ‘Iedul Adha.

    Dalam kitab Subulus salam dijelaskan bahwa ibadah haji baru diwajibkan pada tahun ke 6 hijriah setelah perjanjian Hudaibiyyah

    Serba Sedikit Pengetahuan tentang Hilal

  43. Kenyataan di atas membuat kita tertarik untuk mengetahui, beberapa hal diantaranya:
    1. Bagaimana hilal dalam Quran dan Sunnah
    2. Apakah yang dimaksud dengan kelahiran bulan baru, apa pula hilal itu, dan dariapa penanggalan bulan Islam ditetapkan, bulan baru atau semenjak hilal pertama terlihat?
    3. Bagaimana cara melihat hilal
    4. Bagaimana Saudi Arabia menentukan awal penanggalan Islam.
    5. Apakah ada perbedaan antara hisab dan rukyat.
    6. Bagaimana dengan perbedaan awal ramadhan di belahan bumi
  44. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran : "Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya" juga di tempat lain Allah mengatakan : "Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan". Dan dialah yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesarannya bagi orang-orang yang mengetahui". "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Robbmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk istirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui". "Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung".
  45. Keseluruhan ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa perhitungan tahun dan waktu-waktu ibadah adalah dengan berpegang pada manzilah-manzilah matahari dan bulan. Bukan hanya untuk bulan Ramadhan tapi seluruh bulan Islam (12 bulan) termasuk bulan Dzul Hijjah. Dan penentuan awal bulan itu dengan terlihatnya hilal (sebagaimana pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan yang lainnya). Bukan dengan munculnya bulan baru, sebab bulan baru sama sekali tidak bisa dilihat. Hadits Nabi Muhammad saw:
  46. Sesungguhnya beliau SAW pernah memberitahukan tentang Ramadhan : Jangan memulai shoum hingga kalian melihat hilal, dan jangan iftar (mengakhiri ibadah shiyam) hingga kalian melihat hilal. Dan jika berkabut langit (hingga kalian tidak bisa melihatnya) maka hitunglah." (H.R. Muslim : 2550)

  47. Gambar di bawah ini menunjukkan peredaran bulan mengelilingi bumi, dan bersamaan dengan itu bumi pun beredar mengelilingi matahari.Satu kali bulan mengelilingi bumi disebut satu bulan dan satu kali bumi mengelilingi matahari disebut satu tahun. Matahari, bumi dan bulan pun masing-masing beredar pada porosnya, dan peputaran bumi pada porosnya inilah yang menjadikan adanya siang dan malam:
  48. Sebagai sebuah benda langit yang mengorbit bumi, bulan memiliki fase-fase. Ada fase bulan baru j , perempat pertama k , bulan purnama l , perempat kedua m . Selang waktu yang diperlukan dari salah satu fase bulan untuk kembali ke fase yang sama, disebut periode sinodis. Dengan acuan periode sinodis bulan inilah sistem penanggalan Hijriyah, yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam atas prakarsa Khalifah Umar r.a pada tahun 638M, dibangun, dan umur bulan di dalamnya bervariasi, 29 atau 30 hari.
  49. Pada gambar di bawah ini, menunjukkan bahwa, ada saatnya ketika matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis lurus j , dan ini yang disebut dengan ijtimak / konjungsi dan itu disebut sebagai kelahiran bulan baru (new-moon). Dari saat ini sampai seterusnya umur bulan bisa ditentukan (dihitung).
  50. Pada kedudukan Ijtimak bulan berada "tepat segaris" di antara bumi dan matahari. Pada saat ijtimak bulan tidak dapat dilihat oleh penduduk di bumi karena bahagian gelap bulan menghadap bumi. Apabila bulan beredar sedikit dari kedudukan 1 pada kedudukan 1a, maka sebahagian kecil permukaan bulan yang becahaya dapat dilihat, karena sebahagian kecil cahaya yang dipantulkan ke bumi. Bahagian kecil lagi halus cahayanya yang dapat dilihat itu disebut hilal.
  51. Awal bulan dalam kalender Hijriyah ditandai dengan penampakan hilal, yakni bulan sabit pertama setelah konjungsi yang dapat dilihat dengan mata bugil. Dengan demikian, satu bulan dalam penanggalan Hijriyah dimulai dari penampakan hilal sampai penampakan hilal berikutnya. Ini merupakan ketetapan yang tidak bisa diubah lagi, sebagaimana telah digariskan Rosulullah saw dalam al hadits yang telah dijelaskan di muka.


  52. Bentuk hilal seperti sabit melengkung yang halus di ufuk barat. Hilal sebenarnya ialah bahagian siang permukaan bulan yang paling awal yang dapat dilihat setelah berlaku Ijtimak. Hilal hanya dapat kelihatan selepas matahari terbenam ini disebabkan karena dekatnya jarak-sudut bulan-matahari ini, hilal akan terbenam beberapa saat setelah matahari terbenam.
  53. Pantulan cahaya matahari pada permukaan bulal sabit (hilal) sangat redup dibanding dengan cahaya matahari dan dengan tipisnya cahaya sabit hilal itu berarti diperlukan latar yang gelap untuk bisa mengamati penampakan hilal. Biasanya selepas beberapa menit matahari terbenam dan langit menjadi semakin gelap barulah hilal dapat dilihat. Kemudian setelah itu bulan terbenam menyusul matahari.
  54. Cahaya hilal yang demikian lemah tadi teramat sulit untuk untuk diamati ketika umur bulan sangat muda. Semakin muda usia bulan semakin dekat ia dengan matahari; sebaliknya makin tua usianya, bulan makin menjauhi matahari. Pada saat konjungsi, bulan dan matahari berada di bujur ekliptika yang sama. Setelah lewat konjungsi, keduanya pun berangsur-angsur menjauh. Pada hilal yang sangat muda, beda azimut antara bulan dan matahari amat kecil (akibatnya jarak sudut antara keduanya pun kecil) demikian pula dengan luas hilal yang memantulkan sinar matahari.
  55. Jadi mengamati hilal bukanlah pekerjaan yang ringan, sebab meskipun hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam ia belum tentu bisa diamati. Persoalannya adalah makin muda usia hilal makin dekat kedudukannya dengan matahari, sehingga tidak ada cukup waktu untuk menunggu senja meredup agar hilal bisa teramati. Dengan kata lain hilal terburu terbenam saat langit masih cukup terang. Sebenarnya dengan makin meningkatnya usia hilal, kesulitan di atas dengan sendirinya akan teratasi sebab pada saat itu beda azimut bulan-matahari sudah membesar sehingga pengamat punya cukup waktu untuk menyaksikan hilal di atas ufuk setelah matahari terbenam maupun menunggu redupnya senja.
  56. kesulitan itu semakin bertambah dengan adanya debu-debu dan molekul uap air di dekat horison dapat membiaskan cahaya hilal, mengurangi cahaya sampai dengan 40% dari yang seharusnya sampai ke mata pengamat. Pada usia bulan yang amat muda bahkan redupnya cahaya hilal itu bisa habis di tengah jalan sebelum sampai ke mata kita. Karena kenyataan ini jugalah tempat yang lebih tinggi, meskipun mempunyai medan pandang yang lebih luas dan dalam ke horison, kurang menguntungkan sebab makin besar serapan cahaya hilalnya di horison bila dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah. Dengan memperhatikan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, para ahli kemudian membuat kriteria kenampakan (visibilitas) hilal, suatu kriteria yang bisa dihitung (di-hisab), pada titik mana hilal biasanya bisa dilihat.
  57. Antara Rukyat dan Hisab

  58. Sebenarnya antara rukyat dan hisab tidak akan bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan, sebagaimana dalam pelaksanaan sholat, kita tidak lagi merukyat bayang-bayang matahari, tapi cukup dengan melihat jam tangan kita dengan membandingkan pada jadwal waktu sholat yang merupakan hasil hisab. Padahal asalnya waktu sholat itu ditentukan dengan merukyat efek cahaya matahari, baik pada bayang-bayang sebuah benda yang tersinari matahari, maupun pada lembayung di langit, seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi (periksa lampiran)

            Bersambung...