Stockholm, 20 Mei 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

GENG MILITER YUDHOYONO CS KALAH DIPLOMASI, MEGA-HAMZAH YANG BODOH DIJADIKAN UJUNG SENJATA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

GENG MILITER SUTARTO, RYACUDU DAN YUDHOYONO MEMANG IDIOT, TIDAK MAMPU BERDIALOG DAN BERDIPLOMASI, AKHIRNYA GUNAKAN MEGA-HAMZAH YANG BODOH UNTUK TANDATANGANI KEPPRES NOMOR 28 TAHUN 2003

Dalang pembuat Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan adalah bukan Megawati, melainkan Yudhoyono yang didukung penuh oleh juru gebuk militer Endriartono Sutarto dan Ryamizard Ryacudu.

Geng militer tiga sekawan itu memang tidak punya kemampuan untuk berdiplomasi dan berdialog. Lihat saja hasil kerja perundingan dan diplomasi yang dimotori oleh Yudhoyono, Sutarto dan Ryacudu dalam menghadapi GAM dan TNA-nya di meja perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, memang betul-betul mereka bertiga itu kena getuk puikulan GAM, paling akhir mereka bertiga digebuk GAM di arena di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003.

Coba saja perhatikan itu yang namanya PRI (Pemerintah Republik Indonesia) bisa menggelupur digebuk GAM dimeja perundingan baik yang dilaksanakan di Geneva ataupun yang dilaksanakan di Tokyo, Jepang.

Geng militer tiga sekawan ini memang sudah kelabakan, diarena diplomasi luar negeri melalui Menteri Luar Negerinya, Noer Hassan Wirajuda juga kalang kabut. Seruduk sana seruduk ini, ancam sana-ancam sini, dengan pakai gertak sambal. Persis seperti perilaku preman-preman tukang pukul distasiun-statsiun bus.

Akhirnya, Geng militer tiga sekawan ini karena sudah kewalahan menghadapi segelintir pemimpin GAM di meja perundingan dan dalam diplomasi internasional, maka santapan empuk yang dijadikan sasaran mereka bertiga adalah Megawati, presiden RI yang bodoh untuk mengeluarkan sekaligus menandatangani Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan dana sepenuhnya yang dirampas dari pada budget Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Aceh.

Inilah kebodohan Geng militer tiga sekawan yang kalah berdiplomasi dan berdialog dengan GAM sehingga boneka Mega-Hamzah jadi santapan empuk mereka bertiga untuk tujuan mempertahankan kelangsungan hidup TNI-nya yang makin keropos karena sudah hampir kehabisan dan keterbatasan dana.

Menggebuk rakyat Aceh dengan GAM-nya adalah salah satu jalan untuk mempertahankan kelangsungan hidup TNI, yang tadinya tidak dianggarkan dalam budget Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Aceh, karena setelah keluar itu Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, maka akan mengucurlah dana tambahan untuk TNI.

Inilah yang saya sebut Geng militer tiga sekawan ini menjadikan perang Aceh lawan GAM sebagai sumber bisnis TNI.

Dan tentu saja, Aceh dengan GAM-nya tidaklah akan hancur, seperti yang diimpikan oleh Yudhoyono, Endriartono Sutarto dan Ryamizard Ryacudu. Justru sebaliknya yang akan hancur adalah ekonomi RI, hutang makin menggunung, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara terus makin defisit, Mega-Hamzah akan jatuh tersungkur, sebagian besar rakyat akan mengutuk tindakan Mega-Hamzah dan Geng militer-nya karena tindakan militerisnya dengan senjata berkarat Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se