Stockholm, 30 Mei 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KEGAGALAN DIPLOMASI WIRAJUDA, YUDHOYONO DAN KOMISI I DPR DALAM MENYELESAIKAN ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TINDAKAN MILITER MENANDAKAN KEKALAHAN WIRAJUDA, YUDHOYONO DAN KOMISI I DPR DALAM BERDIPLOMASI MENGHADAPI GAM

Nah satu lagi kekalahan Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong dalam berdiploasi untuk penyelesaian damai di Aceh ketika senjata diplomasi tumpul mereka diarahkan kepada pemerintah Swedia untuk melakukan suatu tindakan terhadap Teungku Hasan di Tiro agar bisa dipisahkan dari rakyat Aceh dan diserahkan kepada pemerintah RI.

Alasan yang dijadikan dasar tuntutan terhadap pemerintah Swedia dalam diplomasi tumpul Wirajuda, Yudhoyono dan Ibrahim Ambong itu adalah hasil laporan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Erwin Mappaseng yang dikirimkan ke Deplu dan Interpol 9 Mei 2003 yang menyatakan bahwa kasus peledakan bom di Bursa Efek Jakarta tanggal 13 September 2000, Mall Atrium tanggal 23 September 2001, Bina Graha Cijantung Mall tanggal 1 Juli 2002, Balai Kota Medan tanggal 31 Maret 2003, dan di Jalan Belawan Deli Medan tanggal 1 April 2003 mastermindnya adalah Teungku Hasan di Tiro. Dimana dari kasus-kasus tersebut ada yang sudah diputus, disidangkan, maupoun yang masih disidik.

Walaupun kasus-kasus peledakan bom itu masih belum bisa dijadikan sebagai bukti-bukti yang nyata yang melibatkan Teungku Hasan di Tiro, tetapi pihak Mabes Polri telah menjadikan kasus-kasus itu sebagai dasar red notice yang ditandatangani oleh Sekretaris Nasional Sentral Biro Brigjen Pol Sisno Adi Winoto dan dikirimkan ke 180 negara di dunia.

Nah disinilah, saya melihatnya bahwa memang pihak Wirajuda, Yudhoyono dan Ibrahim Ambong sudah sedemikian kewalahan dalam usaha menyelesaikan kemelut Aceh dengan GAM-nya. Sehingga kasus-kasus peledakan bom tersebut diatas yang masih lemah kaitannya dengan Teungku Hasan di Tiro telah dipolitisir dan dimanipulasi untuk dijadikan senjata pemukul pihak Pemerintah Swedia agar mau menyerahkan Teungku Hasan di Tiro ke pihak PRI.

Justru karena kelemahan, kebodohan dan kurang pengalaman dari pihak Wirajuda, Yudhoyono dan Ibrahim Ambong dalam berdiplomasi dengan pihak Pemerintah Swedia, maka alasan kasus peledakan bom yang dijadikan dasar permintaan dan tuntutan PRI kepada pihak Pemerintah Swedia untuk melakukan tindakan kepada Teungku Hasan di Tiro ternyata tidak mempan dan tidak cocok untuk dijadikan sebagai bukti hukum di Swedia.

Dan ini terbukti dari jawaban yang telah disampaikan oleh pihak Pemerintah Swedia melalui Menlu Swedia Anna Lindh yang menyatakan: " On a number of occasions, the Indonesian government has requested that Sweden should take measures against GAM in Sweden. However, according to current Swedish legislation, Sweden is not able to take action against individuals so long as they have committed no criminal offence. Up to now, there has no been no reason for Swedish judicial authorities to take action. We have made this clear to Indonesia. Naturally, in the event of concrete evidence or substantiated suspicion emerging, the judicial authorities would assess the need for further action. We have explained this to GAM and the Indonesian government." .( http://www.utrikes.regeringen.se/inenglish/frontpage/Aceh.htm )

Jadi, sebenarnya selama Teungku Hasan di Tiro yang berkewarganegaraan Swedia tidak melakukan tindakan kriminil di Swedia, maka selama itu alasan yang dijadikan dasar bukti oleh pihak Pemerintah RI tersebut diatas belum bisa diterima dan dianggap sah sebagai bukti untuk dijadikan dasar hukum pengambilan tindakan hukum oleh Pemerintah Swedia terhadap Teungku Hasan di Tiro.

Sekali lagi, inilah satu bukti dari kekalahan dan kegagalan Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong dalam berdiploasi untuk penyelesaian damai di Aceh menghadapi pihak Pemerintah Swedia.

Saran saya untuk Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong belajarlah lebih banyak bagaimana berdiplomasi tingkat tinggi, bukan hanya sampai ketingkat sekolah dasar saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se