Stockholm, 30 Mei 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KOFI ANNAN GERAM, WIRAJUDA, YUDHOYONO CS, PIMPINAN DPR, FRAKSI-FRAKSI, KOMISI I & II DPR KENA GETUK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KARENA PALU GODAM BERACUN KEPPRES NO 28 TAHUN 2003 DIPAKAI UNTUK GEBUK RAKYAT ACEH, MAKA SEKJEN PBB KOFI ANNAN JADI GERAM

Inilah akibat kebodohan Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, ketua DPR Akbar Tandjung, Presiden RI Megawati, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan tukang pukul KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang telah mengayunkan palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Povinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berisikan cairan-cairan racun mematikan buatan pensiunan Jenderal Yudhoyono yang didukung penuh oleh kompanyonnya dari Angkatan Darat Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan tukang pukul yang menjabat sebagai KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Presiden RI Megawati, ketua DPR Akbar Tandjung, ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong dan fraksi-fraksi DPR RI, sehingga Sekjen PBB Kofi Annan jadi geram karena getukan palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 itu mengakibatkan bermatiannya rakyat Aceh.

Tentu saja akibat kedangkalan berpikir dan tidak mau belajar dari sejarah tentang Aceh, itu pendukung Keppres no 28 tahun 2003 yang dicantumkan dalam isi lapisan palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 yang terdiri dari Pimpinan DPR RI, Fraksi-fraksi dan Komisi I serta Komisi II DPR RI yang mendeklarkan dalam Rapat Konsultasi antara Presiden dengan seluruh Pimpinan DPR RI, Fraksi-fraksi dan kedua Komisi tersebut pada tanggal 15 Mei 2003 mendukung penuh Keppres no 28 tahun 2003 yang berisikan cairan racun pembunuh rakyat Aceh.

Nah akibat dari pentungan dan gebukan palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 terhadap rakyat Aceh itulah yang mengakibatkan Sekjen PBB Kofi Annan betul-betul geram seperti yang tertulis dalam statement-nya : "New York, 29 May 2003 - Statement attributable to the Spokesman for the Secretary-General on the situation in Aceh, Indonesia The Secretary-General is deeply concerned by the impact of the renewed hostilities on civilian populations in Aceh, Indonesia. In particular, he is disturbed by reports of extra-judicial killings and widespread burning of schools. The Secretary-General urges all parties to the conflict to uphold their obligations to protect civilians in armed conflict. He calls on the Government of Indonesia to ensure the necessary security conditions to allow international aid organizations safe and unhindered access to affected populations. The United Nations reiterates its commitment to a dialogue with the Indonesian authorities on these and other humanitarian issues related to Aceh. ( http://www.un.org/apps/sg/sgstats.asp?nid=368 )

Nah, tentu saja dibawah ini saya lampirkan beberapa hasil pentungan dan gebukan palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 terhadap rakyat Aceh, sehingga menimbulkan korban dan matinya rakyat Aceh, dimulai dari tanggal 18 sampai tanggal 29 Mei 2003.

Inilah sekali lagi kebodohan dari pendukung geng Keppres no 28 tahun 2003 yang dimotori oleh Pimpinan DPR RI, Fraksi-fraksi dan Komisi I serta Komisi II DPR RI.

Mereka itu semua memang tidak mau belajar mengenai Aceh, sehingga akhirnya kena getuk Sekjen PBB kofi Annan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se

----------
Reports Recorded from the Battlefiled Day One
In Batee Iliek

Today, 19 May 2003, in the "Peace Zone" Peusangan, open fighting between TNA (Acheh National Armed Forces) and the troops of TNI (neo-colonialist indonesia) took place for 4 hours. TNA soldiers shot to death 5 TNI platoon commandants in the war. As the result of the deaths of the 5 commandants, TNI soldiers launched rampagn attacks on the villagers and looted and burned their houses, and arrested the people who happened to be at the location. A young girl aged 6 has been raped by the TNI troops. At the same time, five other girls in their teens were taken by the TNI soldiers and raped. Until this report was made, the girls' names have not yet been identified.

Civilians in Peusangan district, were forced by TNI to tell the whereabout of TNA bases, if they rejected they were threatened with mass killing. All people there were ordered to hold red-white flags as a show of their loyalty to the Republic of Indonesia, if they did not obey, they were threatened to be shot to death at the spot. People who feel themselves in danger living in their own houses, were taking safe refuge in places where they feel safe and build IDP camps to stay Meanwhile in Teupen Mane village, TNI soldiers robbed the villagers and took whatever valuable from their houeses. A woman aged 19 years, from the village, was arrested and raped by TNI soldiers, and until now she is still suffering from severe trauma as the result of the infliction on her.

Report from the Battlefield in South Acheh
18 May 2003

In the following is a list of names of the people that Kopassus and Brawijaya soldiers burned alive in the house of Kasman alias Kasturi, 44, in Djambo Keupok village, South Acheh:
1. Abdurrahman, 29
2. Walidi, 40
3. Mahmidi, 45
4. Dolah Adam, 46
5. Sili, 45
6. Budiman, 27
7. Tarmizi, 35
8. Tarmin, 36
9. Kasman (Alias Kasturi), 44
10. Amiruddin, 38
11. Abdurrahim, 30
12. Mukhtar, 32
13. Asri, 39
14. Usman, 17
15. Hasanuddin, 31
16. Suwali, 40
17. Nasah (female), 35

Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
----------

Kondisi Aceh Satu Hari Darurat Militer (19 Mei 2003)
Aceh Utara

Pasca gagalnya Tokyo Meeting, 18 Mei 2003, dan secara resmi diumumkannya status Darurat Militer di Aceh oleh Pemerintah Indonesia, Kondisi di Aceh Utara sangat mencekam, dimana kontak senjata GAM dan TNI/Polri terus berlansung. Gelombang pengungsian terus terjadi Politehnik yang biasanya menjadi tempat pengungsi untuk menghindar dari kekerasan masih sepi, tetapi dalam dua hari ini akan kebanjiran pengungsi, sebab beberapa daerah terus terjadi kontak senjata. Hari pertama Masyarakat lebih banyak berdiam diri dirumah dan di kampung-kampung dan berkumpul di keudee-keudee kopi melihat televisi menunggu keputusan pemerintah dalam operasi terpadu atau darurat militer, jika Tokyo Meeting gagal.

Banyaknya pasukan militer (TNI/Polri) yang masuk ke Aceh Utara lewat pelabuhan umum Krueng Geukuh dan dapat diperkirakan hampir setiap hari mobil militer (TNI/Polri) beserta tank-tank melewati jalan besar Terjadi penambahan jumlah militer (TNI/Polri) untuk menjaga perusahaan-perusahaan besar di Aceh Utara dan terjadi kontak senjata di beberapa tempat seperti simpang kramat dan buloh blang ara. Sebagian masyarakat ketakutan dan kawatir akan terjadi perang prontal antara GAM dan Pasukan TNI/Polri. Pada malam hari suasana di jalan raya dan kampung-kampung agar sepi karena militer (TNI/Polri) melakukan patroli atau penyisiran di kampung-kampung di anggap rawan.

Tadi pagi, 19 Mei 03, terjadi kontak senjata di Puenteut dan dalam kontak senjata ini TNI menangkap 5 orang anggota TNA (GAM). Setelah itu TNI/Polri melakukan penyisiran dan pengepungan desa Kandang sampai pukul 11.00 Wib malam tadi. Situasi di daerah Kandang dan Puentuet dan politehnik agak sepi baik kampus maupun jalan raya

Pukul 9.30 Wib, pesawat tempur hercules milik TNI melakukan penerbangan beberapa kali ke bandara malikulsaleh, sehingga suara pesawat hercules tersebut membuat masyarakat ketakutan dan bahkan suasana di kampung-kampung mencekam. Di kota Lhokseumawe baik pasar dan atau jalan raya tidak begitu ramai di padati penduduk karena hampir seluruh pelosok kota Lhokseumawe ada TNI/Polri yang bersenjata lengkap dan siap tembak.

Aceh Jeumpa (Bireun)

Pengungsi, 18 Mei 2003, Warga Desa Cot Batee, Kecamatan Jeumpa, Bireun, melakukan pengungsian ke daerah Jeumpa yang dianggap aman. Warga desa ini mengungsi karna terjadi kontak senjata antara GAM dan TNI/Polri di desa tersebut. 18 Mei 2003, pasca kontak senjata antara TNI/Polri dan GAM di kawasan Cot Unoe, Bireun, tiga warga sipil di tangkap

Sejak RI menerapkan Darurat Militer secara resmi di Aceh, untuk Kabupaten Bireun sangat mencekam dan mengerikan. Serangan yang dilakukan oleh TNI/Polri terhadap GAM, terus terjadi, dan juga Serangam GAM terhadap TNI/Polri. Sehingga untuk hari pertama 19 Mei 2003, terjadi pembakaran terhadap sarana pendidikan, seperti SD, SMP dan SMU.

1.SD Negeri Krueng Baru, Peusangan dan Rumah Dinas Guru yang berada dilingkungan sekolah tersebut.
2.Taman Kanak-Kanak (TK) Krueng Baru, Peusangan.
3.SD Negeri No 7 Geulanggang Teungoh, Jeumpa.
4.SD Negeri No 9 Meunasah Blang, Jeumpa.
5.SD Negeri Krueng Juli, Juli.
6.SMU Negeri 3 Jeumpa.
7.SD Negeri Balee Seutui, Peusangan
8.SD Negeri Pulo Naleung, Peusangan
9.SD Negeri Balee Kiro, Peusangan
10.SD Negeri Pantee Pieu, Peusangan
11.SD Negeri 6 Peusangan, Bireun
12.SLTP Negeri 2 Peusangan, Bireun

19 Mei 2003. Di simpang Mamplam, Samalanga, Aceh Jeumpa, 17 Panser Marinir, melakukan pemaksaan kepada masyarakat untuk menaikkan Bendera Merah Putih, dengan ancaman, sehingga masyarakat mengalami intimidasi dan suasana sangat mencekam. Di sekitar Kota Bireun seluruh lampu padam atau mati total, namun terlihat cahaya api di beberapa api, tidak di ketahui api itu dari mana.

Aceh Besar

Kontak Senjata, 19 Mei 2003, sekitar pukul 12.00 WIB terjadi baku tembak antara GAM dan TNI/Polri di Indra Puri, Aceh Besar. Sampai saat ini belum di katahui ada korban dipihak mana, tapi yang jelas kondisi setelah baku tembak di Indra Puri tersebut sangat mencekam. Sekitar pukul 11.00 WIB tiga pesawat pengebom milik TNI AU melakukan pengeboman terhadap markas GAM di hutan Cot Keueng, Kabupaten Aceh Besar. Sampai saat ini belum di ketahui ada korban di pihak GAM. Pengeboman itu terjadi selama tiga kali, setelah itu pesawat pengebom itu menerjunkan pasukan terjun payung ke hutan Cot Keueng untuk menyerang markas GAM, yang menurut TNI/Polri ada di hutan tersebut.

Pembakaran Sekolah. Aksi pembakaran sekolah juga mulai marak ketika Darurat Militer baru sehari di berlakukan di Aceh. Di Aceh Besar beberapa sekolah hangus di bakar, adalah;

1.MTsN I Kuta Baro, Aceh Besar.
2.MAN I Kuta Baro, Aceh Besar
3.SDN Keudee Bieng, Lhoknga
4.SDN Lhamlom, Lhoknga
5.SLTP N Lampeuneurut, Aceh Besar
6.SDN Desa Garot, Meuraxa, Aceh Besar
Selain itu juga, turut di bakar kantor PLN
1. Kantor PLN Cabang Keudee Bieng, Lhoknga, Aceh Besar.

Aceh Selatan

Satu hari sebelum DM resmi di berlakukan, kabupaten Aceh Selatan sudah mulai bergolak, dan korban kekerasan terus jatuh. Operasi militer secara besar-besaran untuk menumpas GAM dan pendukung GAM, baik masyarakat sipil dan aktivis kemanusian terus terjadi.

18 Mei, 2003, telah terjadi tindakan biadab yang dilakukan oleh pasukan gabungan Kopassus dari post Keude Bakongan dan satuan TNI Brawijaya dari post Seuleukat telah memerintahkan 15 orang jama'ah Masjid Raya, Djambo Keupok untuk keluar dan ke-15 orang ini digiring memasuki sebuah rumah milik Kasman, penduduk setempat. setelah itu, serdadu TNI gabungan ini mengunci dari luar dan membakar rumah tersebut sampai ke 15 orang warga sipil ini hangus dilalap api.

Kelima belas (15) warga sipil yang tewas di bakar tersebut bernama;

1. Abdurrahman, 29 tahun
2. Walidi, 40 tahun
3. Mahmidi, 45 tahun
4. Dolah Adam, 46 tahun
5. Sili, 45 tahun
6. Budiman, 27 tahun
7. Tarmizi, 35 tahun
8. Tarmin, 36
9. Kasman (Alias Kasturi), 44 tahun
10. Amiruddin, 38
11. Abdurrahim, 30 tahun
12. Mukhtar, 32 tahun
13. Asri, 39 tahun
14. Usman, 17
15. Hasanuddin, 31 tahun
16. Suwali, 40
17. Nasah (female), 35

Pada hari yang sama, militer Indonesia (TNI/Polri) ini menangkap satu keluarga penduduk Djambo Keupok dan membawanya ke rumah Atun. Pasangan suami isteri ini dibunuh secara sadis oleh satuan Kopassus dan satuan Brawijaya. Selain dari itu, Kasmawati, penduduk Kampung Djambo Keupuk, telah diperkosa oleh kedua satuan TNI secara bergiliran dan membunuh dua orang penduduk kampung tersebut di tempat terpisah (nama belum sempat diidentifikasi, sebab serdadu TNI masih berada di lokasi).

Sementara itu di Kecamatan Trumon, Tjut Nilawati, 20 tahun pendudukan Seuneubok Pusaka, telah diperkosa oleh satuan Kopassus dan satuan TNI Brawijaya secara biadab. Setelah diperkosa kedua teteknya dipotong. Sampai sekarang, korban masih bertarung antara hidup dengan mati.

19 Mei 2003, di Kecamatan Samadua, terjadi embakaran terhadap 60 rumah warga sipil ekses dari penembakan seorang anggota Marinir yang bertugas di Samadua, anggota Marinir tersebut tewas di tempat. ( forum_rakyat@yahoo.com )

----------
Laporan Dari Medan Perang,
Wilayah Batee Iliek

Pada 23/05-03 telah terjadi pembantaian yang dilakukan oleh serdadu TNI terhadap sejumlah warga sipil, kampung Teupen Bantaian, Kec. Peusangan. Korban pembunuhan dengan biadab ialah:

1. M.nur umur, kampung Pandrah
2.Abdulmanaf Kaoy, kampung Pandrah
3.Abdurrahman 35 tahun, kampung pandrah
4.Munawar 28 tahun, kampung Alue Leuhob.

Penduduk di beberapa Kampung yang ditembak membabi buta oleh serdadu TNI, membuat banayak banyak terluka dan seorang diantaranya, M.nazar 23 tahun meninggal dunia. Kampung- kampung yang menjadi sasaran keganasan peluruh serdadu TNI adalah:

1. Matang Mamplam
2. Pulo Naleung
3. Cot Pu`uk
4. Cot Rabo Baroh
5. Cot Rabo Tunong

Di bawah ini kami kirimkan juga nama-nama korban yang dianiaya oleh serdadu TNI/Polri di kec, Peusangan:
1.Rahmadi, 18 tahun, Kampung Cot Leubeng
2.Tgk.Mustafa 40 tahun, Kampung Bantangan
3.Maryani Madjid 40 tahun, Kampung Bantangan
4.M. Nasir 35 tahun, Kampung Meunasah Teungoh

Pemilik rumah yang digerebek oleh serdadu TNI:

1. Mahdi 35 tahun, Kampung Kuta Rusep
2. Nurdin 45 tahun, Kampung Kuta Rusep
3. Fadli Ishak 37 tahun, Kampung Kuta Rusep

Laporan Perang Dari
Wilayah Meulaboh

Pada 23/05-03 serdadu TNI yang dikerahkan ke Wilayah Meulaboh, telah melakukan pembakaran rumah2 penduduk di beberapa kampung, Kec, Kaway XVI. Kampung-kampung yang menjadi sasaran keganasan serdadu TNI ialah:
1. Kampung Kuala Manyeu
2. Kampung Antong
3. Kampung Balee Tuha
4. Kampung Meugoe
5. Kampung Ujong Raja
6. Kampung Padang Sikabu

Selain itu, serdadu I juga membakar beberapa Sekolah di kec.Seunagan, Nagan Raya. Sekolah-sekolah yang telah hangus dibakar oleh serdadu TNI ialah:
1. Sekolah Madrasah Aliah dan Madrasah Ibtidaiyah, Keude Simpang
2. Sekolah Dasar Cot Kuta
3. Sekolah Dasar Kuta Padang
4.Sekolah Dasar Alue Ie Mameh

Sementara itu, pada jam 0900 wib tgl 24/05-03, masysrakat Kampung Bantayan telah dianiaya, dipaksa mengungsi ke Masjid Teupin Bantayan oleh serdadu TNI dan untuk menggiring pengungsi, serdadu TNI menembak secara membabi buta, hingga banyak masyarakat yang sampai saat ini masih dalam keadaan trauma.

Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
----------

Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Batee Iliek

Pada malam tgl 24/05-03 jam 08.00 TNI, dari kesatuan kopassus pos Cot Gapue telah membakar habis satu gedung sekolah MIN Cot Bada. Setelah melancarkan perang terhadap kubu pertahanan TNA, masyarakat Cot Bada dipaksa menaikkan bendera Merah Putih dan pada jam 11.30, di seluruh Kec.Peusangan, Kab.Bireuen serdadu TNI memaksa masyarakat dipaksa lagi menaikkan Bendera Merah Putih, jika ada masyarakat yang tidak mematuhi diancam ditembak di tempat. Di kampung Pulo Panjang, 4 masyarakat sipil dianiaya sampai sekarat.

Di kampung Matang Sagoe, serdadu TNI telah menmbak mati seorang tuna rungu ( M.Nadar Sainon) dan pada jam 08.00 pagi (24/05/03 telah terjadi penangkapan terhadap beberapa pemuda kampung Matang Sagoe oleh serdadu TNI, yang sampai saat ini belum diketahui dimana korban berada. Korban penangkapan yaitu:
1. Dahlan Hamid 18 tahun, pelajar
2. Dedi Anwar 17 tahun, pelajar.

Masih terdapat beberapa orang lagi yang belum diketahui identritasnya.
Pada jam 08.00 hari ini, serdadu TNI dari kesatuan Yonif 144 telah melakukan serangan ke kampung Blang Mane, Peusangan. Dalam serangan tersebut serdadu TNI memaksa penduduk kampung untuk menaikan bendera Merah Putih dan juga memaksa warga yang bertani serta pergi kekebun harus membayar upeti Rp.15.000 setiap keluarga. Pada saat yang sama, serdadu TNI telah menembak mobil wartawan Metro TV yang hendak meliputi serangan mereka

Seterusnya, pada jam 13.30, pasukan TNA Batee Iliek yang dipimpin oleh Tgk Darwis Djeunieb, telah menggempur dan meranapkan Post serdadu TNI gabungan di Lestari Djeunieb hingga jam 20.00 malam ini. PAsukan TNA berhasil menguasai post tersebut setelah menembak mati 12 orang serdadu TNI dan diperhitungkan banyak yang luka parah serta keadaannya kritis. Setelah kejadian tersebut, seluruh kabupaten Bireuen mencekam, siapa saja diantara masyarakat yang dianggap tidak setia kepada NKRI akan dibunuh, sehingga banyak masyakarat yang kini terpaksa melarikan diri ke hutan.

Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
----------

lapran Dari Medan Perang
Wilayah Batee Iliek

Dua hari yang lalu, 23/05-03, jam 10.00 pagi, serdadu TNI dari kesatuan Marinir telah menangkap:
1. Miswar 25 tahun
2. M. Nazir 20 tahun
3. Muhksin 30 tahun:

Selanjutnya, ketiganya adalah penduduk Simpang Mamplam Samalanga, dipaksa oleh serdadu TNI untuk memakai baju loreng ala Marinir dan diperintahkan untuk memberitahu markas TNA. Apabila ketiga masyarakat sipil ini menolak arahan serdadu TNI, ketiganya dibunuh

Pada hari ke-enam perang antara TNI-TNA, telah menimbulkan korban dipihak masyarakat sipil. Hari ini, 25/05-03 jam 08.00, serdadu TNI yang dikerahkan di Kec. Peusangan, telah menembak mati tiga masyarakat sipil dengan tidak ada rasa prikemanusiaan di Kampung Kareueng
1. Mulyadi Rusli 32 tahun, Kampung Bada Baroh
2. Yusmadi Gani 26 tahun, Kampung Cot Bada Tunong
3. Bukhari Hasbi 29 tahun, Kampung Cot Kemude.

Ketiga korban setelah ditangkap, diikatkan ke truck reo (kenderaan taktis serdadu TNI yang selalu dipakai dalam perang di Acheh), lalu diseret di jalanan.

Laporan dari Perang
Wilayah Acheh Rajeuk (Banda Acheh)

Dikenal pasti bahwa 14 orang aktivis Mahasiswa yang tinggal di Bema IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, mereka adalah:
1. Reza Fahlevi
2. Muliadi
3. Fuadi
4. Yudi Ferida
5. Syahrul Riza
6.Taurisman
7. Muliadi
8. Harun ( penjaga kantin)
9. Fayasar
10. Jafar
11.Razi
12. Zainal
13. Iskandar dan
14. Adam

telah ditangkap oleh serdadu TNI dari kesatuan Brimob dengan jumlah personil 100 orang, pada jam 23.00 tadi malam. (sumber: Marwan Yatim, laporan yang diterimanaya lewat SMS dari Banda Aceh).

Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
----------

Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Batee Iliek

Senin tgl 26/05-03 jam 11.00 siang, serdadu TNI gabungan yang ber posko di Rumah Sakit "Cot Alue", telah menangkap M.Yusuf Ibrahim 29 tahun, warga kampung Paloh Limeng, Bireuen, sampai saat ini belum diketahui keberadan dan nasibnya. Selain itu, semua penduduk di Kampung Paloh Limeng, dipaksa oleh serdadu TNI untuk membangun posko mereka

Pada jam 11.45 siang, pasukan TNA dari Batalyon Rimueung Bueh yang dipimpin langsung oleh Tgk.Samsul Bahri, telah menyerang konvoi kenderaan serdadu TNI gabungan yang sedang melakukan penyerangan ke kampung Ketapang, Bireuen. Pasukan TNA berhasil menembak mati 6 serdadu TNI dan melukai puluhan lainnya, sehingga mereka terpaksa mundur dari kampung tersebut.

Selanjutnya, jam 17.00, pasukan TNA dengan kekuatan satu Kompi dari pasukan Luek Bangguna yang dipimpin oleh Tgk di Batee, menyerang iring-iringan kenderaan pasukan serdadu Indonesia di jalan raya yang menghubungkan Banda Aceh-Medan, tepatnya di kawasan Simpang Siang Malam Blang Bladeh, 192 km dari arah Banda Aceh. Dipastikan sekitar 6-7 orang yang mati serangan tersebut, terutama pasukan serdadu TNI yang berada dalam mobil Toyota Kijang yang mereka tumpangi remuk.

Suatu realitas yang sedang terjadi di Acheh, dimana media cetak dan elektronek telah dilarang oleh penguasa perang Acheh-Indonesia untuk memberitakan peristiwa yang terjadi di medan perang. Selain untuk menutup-nutupi keadaan sebenarnya kepada dunia internasional, para keluarga korban perang tidak sock di kampung halaman mereka di Jawa.

Hari ini selasa tgl 27/05-03, selain terjadi peperangan di kampung Lawang, Peudada, juga telah meletus peperangan antara TNA melawan TNI yang memasuki kawasan berdaulat TNA di Kampung Meunasah Ara Bungo Peudada, Bireuen. Dalam serarang tersebut, banyak serdadu TN-Indonesia mati. Akibatnya, TNI telah memerintahkan warga sipil berkumpul dan mengkasarinya.

Selain itu, serdadu TNI menghalang pihak pers untuk meliput peperangan serta tidak memberi izin kepada Palang Merah untuk memberikan pertolongan. Ekses dari peperangan tersebut, serdadu TNI telah menembak mati Abdurrahman 40 tahun biadab yang berprofesi sehari-hari sebagai pemanjat kelapa. Serdadu TNI telah menuduh Abdurrahman pasukan elite angkatan udara TNA.

Bersamaan dengan meletusnya perangan antara TNA melawan TNI, serdadu TNI telah membakar rumah, milik:
1. Mustafa Ibrahim 35 tahun.
2. M.Kasem Amin 27 tahun, keduanya warga Kampung Ara Bungo Peudada, Bireuen.
3. Abu Yati 22 tahun. Kampung Meunasah Krueung Peudada, Bireuen.

Laporang Dari Meda Perang
Wilayah Meulaboh

Perang telah meletus antara pasukan TNI melawan TNA pada malam tgl 27/05-03, jam 03 30 pagi. Pasukan TNA dari Batalyon Rimueng Nagan, dipimpin langsung Tgk.Geulawa Puntong. Pasukan TNA telah menyerang post serdadu TNI yang bermarkas di Kantor Sekolah Ibtidaiyah ( MIN ) Keude Linteung Kec, Seunagan Timur, Kab.Nagan Raya. Dalam penyerangan tersebut, TNA berhasil menyita satu pucuk senjata merek SS1 buatan pindad dan ribuan butir peluru bermacam kaliber, diantaranya kaliber 5,56 mm; 7,62 mm serta menembak mati. Sedangkan serdadu TNI gabungan yang diperbantukan, akhirnya melarikan diri (meninggalkan markas). Pasukan TNA tidak mengancurkan markas tersebut TNI, karena kantor tersebut adalah asset masyarakat umum.

Ekses dari penyerangan pasukan TNA terhadap markas TNI, maka siang tadi, sekitar jam 11.20, pasukan serdadu TNI melakukan operasi penyisiran di kampung Kabu Tunong, Kec. Nagan Timur Kab.Nagan Raya Aceh Barat. Dalam operasi penyisiran yang menyeramkan itu, semua masyarakat dikumpulkan dan semua rumah digeledah paksa dengan menjarah semua barang berharga seperti: TV ,VIDIO dan Sepeda Motor.

Kemaren, Senin tgl 26/05-03, sekitar jam 10.00 pagi, pasukan TNI bermarkas di Kuala Abee, telah melakukan operasi brutal ke kampung Cot Punti, 35 km dari arah meulaboh. Dalam operasi tersebut banyak masyarakat telah diperlakukan secara tidak manusiawi, serta memaksa warga menaikkan bendera Merah Putih. Setelah itu, serdadu TNI menangkap Abdul Manaf, 28 tahun dan menembaknya di depan khalayak ramai. "Kalian lihat nih, makanya jangan mau jadi GAM. Kalau kalian macam-macam aku buat seperti ini", seraya menunjuk kearah mayat Abdul Manaf ujar lettu Darso, Komandan serdadu TNI itu. Korban dituduh sebagai Panglima Sagoe Cot Punti Woyla.

Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
----------

Date: Tue May 27, 2003 5:58 pm
Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Acheh Tunong (Selatan)

Serdadu TNI yang melakukan penyerangan ke Kp. Sigling, Keude Trumon, Kecamatan Trumon dan serangan ke Kampung Pante Bili dan Silolo, Kecamatan Kutaraja, telah gagal menemukan pasukan TNA yang mereka curigai bersembunyi di sana. Akibatnya, serdadu TNI marah dan memaksa penduduk setempat untuk mengungsi ke kem-kem pengungsi: mereka yang tidak mau mengungsi diancam tembak di tempat oleh serdadu TNI. Akibatnya, seramai 3.500 penduduk setempat terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka masing-masing

Serdadu yang telah menguasai kampung-kampung disebut di atas, telah menjarah (merampok) harta kekayaan penduduk yang ditinggalkan di dalam rumah. Setelah itu rumah-rumah penduduk dibakar secara keji.

Kemaren, Senin 26 Mei 2003, Ibrahim, 55 tahun, seorang warga sipil penduduk Kelut Selatan telah ditembak mati oleh serdadu TNI. Mayat korban baru ditemukan penduduk setempat sehari kemudian. Sementara itu, iringan-iringan 33 truck yang mengangkut bahan logistik serdadu TNI dari arah Medan menuju Ujung Pulo Rajeuk dan Udjung Pulo Tjut, Kecamatan Bakongan, telah berhasil dilumpuhkan oleh pasukan TNA, sehingga kesemua truck ini berpatah balik menuju Medan. Salah seorang pengemudi Truck (serdadu TNI) telah ditembak oleh TNA dan mati di tempat kejadian.

Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Batee Iliek

Hari ini, Selasa 27 Mei 2003, pukul 8 pagi, serdadu TNI telah menyerang benteng pertahanan TNA di Kampung Lawang - Peudada, Batee Iliek. Sayangnya, gerak pasukan serdadu TNI sudah lebih awal dibaca oleh pasukan TNA berdasarkan informasi dari inteligen TNA. Atas laporang intelegen TNA, maka kem TNA di Kp. Lawang ini segera dikosongkan beberapa jam sebelum serangan serdadu TNI, sehingga, sewaktu pasukan TNI menyerbu masuk ke kawasan berdaulat TNA, tidak seorang anggota TNA pun berada dalam kem tersebut. Pasukan TNI akhirnya memberangus kem TNA walaupun targetnya tidak tercapai. Perlengkapan perang yang dimiliki TNA semuanya telah dapat diselamatkan.

Gerak pasukan TNI ini ditertawakan oleh 30 anggota TNA yang sudah mengambil posisi siap tempur untuk menyerang balik serdadu TNI yang berada dalam kem TNA. Diketahui pasti, 7 serdadu TNI telah mati ditempak dalam perang tersebut dan puluhan lainya luka-luka. Tiga buah ambulance telah dikerahkan untuk mengevakuasi mayat serdadu TNI dari lokasi kejadian.

Peperangan yang berlangsung sengit ini berdampak kepada warga masyarakat sipil dan Kawasan Lawang, Peudada keadaannya sangat mencekam, sebab pasukan serdadu TNI terus berjaga-jaga. Pada siang hari, pasukan TNI telah mendapat bantuan pasukan dari Bireuen

Penduduk kampung Lawang, Peudada yang sempat menyaksikan perang dan evakuasi mayat serdadu TNI, telah ditangkap sebanyak 22 orang. Setrerusnya, mereka diseret ke Jembatan Gantung Kreung Peudada: Sampai di Jembatan ini, ke 22 masyarakat sipil tersebut dibariskan dan dieksekusi secara bidadab. Sampai berita ini diturunkan, mayat ke-22 masyarkat sipil [nama-nama korban sedang dalam identifikasi] ini masih hanyut dan mengapung di Kreueng Peudada. Tidak seorangpun yang berani mengevakuasinya, termasuk pegawai Palang Merah dilarang oleh serdadu TNI mendekat ke kawasan tersebut.

Bersamaan dalam peristiwa ini, 3 buah rumah milik anak yatim di Kp. Lawang, Peudada telah dibakar oleh serdadu TNI untuk melampiaskan kemarahannya, karena banyak serdadu TNI yang korban dalam perang tersebut. Peristiwa ini membuktikan bahwa propaganda petinggi serdadu TNI yang mengatakan bahawa perang melawan GAM sangat selektif, tetapi kenyataannya di lapangan terbukti bahwa warga sipil yang mati ditembak serdadu TNI semuanya disebut anggota GAM. Sekian,

Boru Toba ( toba157@hotmail.com ) dari Medan Perang
----------

Laporan Perang
Wilayah Batee Iliek

Pada 27/05-03 jam 17.40 waktu Acheh (WA) petang, pasukan TNI gabungan telah membombardir kawasan pergunungan di wilayah Batee Iliek: Djeunib, Pandrah, Samalanga dan Plimbang Kab Bireuen. Akibat pemboman tersebut seluruh areal perkebunan masyarakat di kawasan ini porak poranda, sehingga masyarakat tidak dapat mengerjakan.kebun mereka. Lebih menyakitkan perasaan masyarakat sipil ialah: serdadu TNI memaksa masyarakt di kawasan pemboman untuk menaikkan bendera Merah Putih dengan ancaman: jika tidak, serdadu TNI mengancam membumi hanguskan kampung mereka.

Disamping mengkasari masyarakat sipil, serdadu TNI, juga memerintahkan penduduk keluar rumah supaya mereka leluasa masuk rumah, merampok semua harta benda masyarakat dan toko-toko di Blang Rangkuluh Peudada milik:
1. Nurhayati Muhammad 35 tahun
2. M.Syafi`i Insya 28 tahun.
3. Syukri Ibrahim 29 tahun
4. Syamsiar 32 tahun.

Seterusnya, Rabu tgl 28/05-03 jam 06.00 pagi, serdadu TNI gabungan telah memuntahkan 70 bom dari udara dan menembak secara serampangan dari tank-tank perang, sehingga memecah ketenagan masyakarat di kampung Plimbang, Samalanga, Pandrah dan Djeunib. Banyak masyarakat terpaksa menyelamatkan diri dan kampung-kampung yang sudah dikuasai serdadu TNI di-isolasi-kan dan dilarang keluar kampung. Masyarakat sipil hanya mendengar satu perintah dari penjajah: "Kibarkan Bendera Merah Puith", jika tidak, kampung mereka diancam dibumi hanguskan

Serdadu TNI yang menyerang kampung Lhok Kulam, Cot Mane dan Samalanga. Sebanyak 17 toko telah dijarah (dirampok) oleh serdadu TNI. Belum dapat dipastikan berapa kerugian dan nama-nama pemilik toko. Muhammad Azis, 40 tahun, warga Cot Mane Samalanga.telah menimpa kerugian besar, sebab serdadu TNI telah merampok 70 ton padi seharga RP. 9 juta

Sekitar jam 11.00 siang, telah peperangan dahsyat, dimana serdadu TNI yang mengerahkan mesin perangnya dengan menjatuhkan bom berkekuatan tinggi dari udara ke titik pertahanan kekuatan TNA di kawasan pegunungan Kp.Guha Rimueng Peudada, Bireuen. TNA telah melayani perang tersebut dengan memukul mundur pasukan darat serdadu TNI. Puluahn serdadu TNI mati di tem?pat kejadian dan ramai yang menderita luka-luka. Identitas serdadu TNI yang mati dibunuh belum diketahui. Akibat daripada peperangan di kawasan ini, harta benda milik penduduk setempat telah dirampok untuk menghidupi mereka sehari-hari dalam medan perang.

Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Meulaboh

Di Wilayah Meulaboh, tgl 27/05-03 sekitar jam 15.40, petang WA, serdadu TNI yang menyerang Kp. Blang Panjang, Blang Teungku, Sawang Mane dan lhok Pange kec, Nagan Timur, Kab Nagan Raya, telah menganiaya masyarakat sipil termasuk perempuan dan anak-anak, sebab mereka dituduh melindungi anggota TNA.

Pada hari yang sama, pasukan TNA berkekuatan 23 orang, telah memukul mundur pasukan serdadu TNI dari Batalyon infanteri 305-Tengkorak yang bermarkas di Rumah Saket Pante Cermin yang sedang operasi di kawasan Kp. Suwak Beukah, Kintjo, Kec.Pante Cermin Kab.Aceh Barat. Dalam pertempuran ini pasukan TNA menembak mati lima serdadu TNI asal kesatuan resimen lll Kelapa Dua, Jakarta. Salah seorang diantaranya bernama Bharatu Ahmad Sapta dan puluhan lainnya dalam keadaan kritis. Ekses dari pertempuran tersebut Kp. Suwak Beukah dan Kintjo telah dibakar habis oleh serdadu TNI.

Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Tapak Tuan

Di Tapak Tuan, pada 27/05-03 jam 13.00 WA, serdadu TNI asal kesatuan Marinir Batalyon lll, Cilandak Jakarta, telah menembak mati:
1. Musriadi (umur tidak diketahi)
2. Dul Samat 45 tahun
3. Sidin 30 tahun
4. Siman Jabut 35 tahun.

Ke-empat korban adalah warga Kp. Seuneulop, Kec. Manggeng. Pada hari yang sama, serdadu TNI dari post Krueng Luas, telah memaksa masyarakat sipil untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan telah menganiaya penduduk Kapa Seusak,Gunong Potong, Ie Yalem, Djambo Dalem Krueng luas, Pinto Rimba Alue Bujok dan Seuneubok Alue, hanya karena tidak mau mengibarkan bendera Indonesia.

Laporan: Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
----------

Thu, 29 May 2003 20:16:59 +0000
Laporan Dari Medan Perang
Wilayah Batee Iliek

Dalam laporan yang kami siarkan kemaren, belum di-identifikasi nama-nama korban yang menderita kerugian material akibat dari perampokan yang dilakukan serdadu TNI di Lhok Kulam Plimbang, Djeunib Kab.Bireuen. Bersama ini dilaporkan nama-nama korban yang tokonya dibakar oleh serdadu TNI gabungan tgl 28/05-03:
1. M.Ali Hasan 47 tahun Rp.20 juta
2. M.Jamil 40 tahun Rp.15 juta
3. Rusli Hasjem 24 Rp.5 juta
4. Bukhari Hasjem 37 tahun Rp.18 juta
5. Zainal Abidin 28 tahun Rp 8 juta
6. Usman 32 tahun rp.9 juta
7. Nur Aini 25 tahun 5 juta
8. Rahman Bidin 42 tahun Rp 30 juta
9. Zulkifli 35 tahun Rp.5 juta
10. M.Salam 40 tahun Rp.8 juta
11. Abkar 32 tahun Rp.6 juta
12. Azis Abdul 41 tahun Rp.25 juta
13. M.Ali 27 th 5 juta
14. Ali Hasan 30 th Rp.3 juta, ini semua warga Dayah Lhok Kulam
15. Nurdin Hasan 40 tahun Rp.1.5 juta warga Samagadeng Plimbang, Djeunib.

Pada, Rabu tgl 29/05-2003 sekitar jam 20.45 WA, serdadu TNI telah membombardir kawasan perkampungan pendudduk di tepi pantai Kuala Raja, Jomblang, Cot Batee kec. Djeumpa Kab.Bireuen. Akibat daripada pemboman tersebut diperkirakan beberapa rumah penduduk hancur musnah dan masyarakat yang berad di kawasan ini, terpaksa lari menyelamatkan diri. Kerugian dan korban jiwa belum dapat di-identifikasi, karena pihak serdadu marinir TNI mlarang mendekati kawasan yang sedang terlibat dalam peperangan, termasuk team bantuan kemanusiaan dan wartawan untuk meliput kejadian.
Boru Toba ( toba157@hotmail.com )

Laporan Dari Perang
Wilayah Meulaboh

Pada tgl 29/05-2003 jam 10.00 WA, pasukan serdadu TNI dari satuan Brawijaya dan Brimob yang di-BKO-kan di Keude Linteueng, telah membakar rumah Zulkifli bin Hasyem 45 tahun, penduduk Kp.Uteuen Pulo Kec.Nagan Timur Kab. Nagan Raya dan menganiaya masyarakat sipil tidak terkecuali: anak.anak dan orang tua. Semua warga di kumpul dan memerintahkan masyarakat untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan dipaksa tabik untuk menghormati bendera penjajah
Laporan: Boru Toba ( toba157@hotmail.com )
Kiriman: "Yusra Habib Abd Gani Yusra Habib" <yusrahabib21@hotmail.com>
----------