Stockholm, 4 Juni 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TOKOH ACEH DITUDUH TERORIS MENANDAKAN PRI, DPR DAN MPR-RI MEMANG BODOH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG BODOH KALAU PRI, DPR DAN MPR-RI MENUDUH TOKOH-TOKOH ACEH SEBAGAI TERORIS

Itu tuduhan teroris pada para tokoh Aceh yang dilontarkan oleh PRI; DPR dan MPR-RI dasarnya diambil dari sumber hukum resolusi DK PBB 1373 (2001) yang diputuskan dan dikeluarkan pada tanggal 28 September 2001 dengan alasan utamanya adalah karena adanya, apa yang disebut serangan teroris, yang terjadi di New York, Washington, D.C. dan Pennsylvania pada tanggal 11 September 2001.

Sedangkan yang menjadi isi sumber hukum resolusi DK PBB 1373 (2001) itu adalah sebenarnya berasal dari hembusan angin racun Gedung Putih yang dikontrol oleh geng cowboy Bush. Dimana sebagian isi racun hukum resolusi DK PBB 1373 (2001) itu adalah "...Reaffirming the inherent right of individual or collective self-defence as recognized by the Charter of the United Nations as reiterated in resolution 1368 (2001). Reaffirming the need to combat by all means, in accordance with the Charter of the United Nations, threats to international peace and security caused by terrorist acts..." (Resolution 1373 (2001) Adopted by the Security Council at its 4385th meeting, on 28 September 2001)

Nah, pernyataan"...individual or collective self-defence...the need to combat by all means..." inilah yang dijadikan dasar yang telah diputar balikkan oleh Bush untuk menggebuk siapa saja yang dianggap dan dituduh teroris.

Nah sekarang, karena Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong memang bodoh, maka ketika pihak PRI kalah di meja Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama menghadapi GAM, 17-18 Mei 2003,di Tokyo, diayunkanlah palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Povinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berisikan cairan-cairan racun mematikan rakyat Aceh.

Dan setelah palu godam besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Povinsi Nanggroe Aceh Darussalam diayunkan dan dipukulkan, pertama kali pada tanggal 19 Mei 2003, kemuka-muka rakyat Aceh yang dianggap bersekutu dengan GAM, ditambah pula dengan racun-racun pelapis isi sumber hukum resolusi DK PBB 1373 (2001) hasil olahan Gedung Putih yang dikontrol oleh geng cowboy Bush, maka keluarlah dari mulut-mulut para pimpinan PRI, DPR, dan MPR tuduhan bahwa tokoh-tokoh Aceh adalah teroris.

Inilah suatu kebodohan dari Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang menjalankan taktik terorisme.

Mengapa bodoh ?

Karena dari sejak tanggal 12 mei 2000, ketika Abdurrahman Wahid masih memegang pucuk pimpinan RI, itu Noer Hassan Wirajuda duduk bersama-sama tokoh GAM disaksikan oleh pihak ketiga dari Henry Dunant Centre for Humanitarian Dialogue di Geneva untuk menandatangani nota kesefahaman (memorandum of understanding) tentang jeda kemanusiaan dengan tujuan untuk menghentikan kekerasan melalui cara pengiriman bantuan kemanusiaan kepada penduduk Aceh yang menjadi korban. Mengadakan jaminan keamanan untuk menunjang pengiriman bantuan kemanusiaan dan mengurangi kekerasan. Dan berusaha memulihkan kepercayaan diri masyarakat guna mencapai penyelesaian damai.

Juga pada tanggal 9 Desember 2002, di Geneva, itu yang namnya Duta Besar S. Wiryono dari pihak Pemerintah Republik Indonesia dan Zaini Abdullah dari pihak Gerakan Acheh Merdeka yang disaksikan oleh Martin Griffiths dari Henry Dunant Centre For Humanitarian Dialogue (HDC) telah menandatangani perjanjian Penghentian Permusuhan.

Dan tentu saja yang paling akhir, ketika itu Duta Besar S. Wiryono dari pihak Pemerintah Republik Indonesia dan Zaini Abdullah dari pihak Gerakan Acheh Merdeka kembali bertemu dalam Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama pada tanggal 17-18 Mei 2003 di Tokyo yang buntu, karena memang sengaja dibuntukan oleh Yudhoyono cs dengan memajukan 3 ultimatum kepada GAM, yaitu tetap dalam NKRI, menerima otonomi dan menyerahkan senjata. Tentu saja, 3 ultimatum yang diluncurkan pihak PRI tidak bisa diterima oleh GAM, karena sebenarnya yang harus dibicarakan dalam Pertemuan Dewan Bersama (Joint Council Meeting) itu adalah memecahkan segala persoalan atau perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan Perjanjian, yang tidak dapat diselesaikan oleh Komisi-Komisi dan Struktur-Struktur lainnya yang dibentuk di bawah Perjanjian penghentian permusuhan Geneva 09-12-2002, bukan meluncurkan ultimatum.

Jadi, sekarang kalau pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menuduh tokoh-tokoh GAM adalah teroris, itu sama saja seperti orang-orang bdoh yang tidak tahu lagi jalan keluar dari problem yang dibuatnya sendiri.

Tokoh-tokoh GAM dari Aceh itu bukan teroris, dan itu diakui oleh Sekjen PBB Kofi Annan begitu juga oleh pemimpin-pemimpin Uni Eropah, termasuk juga itu penghembus racun terorisme Bush tidak menuduh tokoh-tokoh GAM Aceh adalah para teroris.

Tetapi, bodohnya, itu Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu sudah berkoar-koar dengan semburan tuduhan tokoh-tokoh GAM Aceh adalah teroris.

Para pimpinan PRI, DPR dan MPR-RI memang harus banyak belajar. Bila mereka itu semua tidak mau belajar tentang Aceh, maka itu yang namanya kemelut Aceh tidak akan selesai dan akibatnya itu pembangunan Indonesia akan menggelundung kedasar jurang yang dalam.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se