Stockholm, 14 Juni 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SOEKARNO DENGAN KERETA RODA NEGARA RI-JAWA-YOGYA MENJADI AGRESOR BARU SETELAH VAN MOOK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MAKIN TERBUKTI JIWA AGRESI SOEKARNO DENGAN KERETA RODA NEGARA RI-JAWA-YOGYA-NYA MENJADI AGRESOR BARU MENCAPLOK DAERAH-DAERAH LAIN DILUAR NEGARA/DAERAH BEKAS BAGIAN RIS

Memang Soekarno tidak cukup hanya mencaplok Negara/Daerah bagian RIS saja, yang dimulai dari Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra Selatan, Negara Sumatera Timur, Negara Indonesia Timur, Daerah Jawa Tengah, Daerah Bangka, Daerah Belitung, Daerah Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Daerah Kalimantan Tenggara dan Daerah Kalimantan Timur, tetapi juga meluas kepada Daerah-daerah lain yang sebelumnya tidak masuk kedalam Negara/Daerah bagian RIS karya H.J. van Mook yang dimanfaatkan dan dijadikan taktik oleh Soekarno untuk menjalankan ambisi agresinya di seluruh kepulauan yang ada di Nusantara.

Tetapi yang menjadi suatu kenyataan yang sangat besar dan jelas adalah Negara dan Daerah yang akan dicaplok Soekarno setelah RIS dibubarkan karena taktik dan strategi Soekarno dengan alat pengikat dan penjerat Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS adalah hampir 90 % Negara dan Daerah-daerah yang para pejuangnya bercita-cita menegakkan syariat Islam di muka bumi Nusantara.

Dimulai dengan Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 7 Agustus 1949 di daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat oleh Imam Negara Islam Indonesia Almarhum Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yaitu didaerah yang dikuasi oleh H.J.van Mook menurut perjanjian Renville 17 Januari 1948, yang sebagian isinya mengakui secara de facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja, semua daerah yang diduduki oleh RI sebelum perjanjian Renville ditandatangani harus ditinggalkan dan dikosongkan.

Soekarno dengan jiwa agresinya dan ambisi untuk mencaplok seluruh Negara dan Daerah yang ada di wilayah Nusantara tidak lagi memandang dan melihat bahwa yang akan dicaploknya itu adalah Negara dan Daerah-daerah yang para pejuang dan rakyatnya ingin menegakkan Syariat Islam.

Dengan tanpa pandang bulu semua yang dianggap dan dituduh menentang terhadap ambisi agresi buas Soekarno dengan senjata pancasilanya disapunya dan diangap para gerombolan. Padahal yang sebenarnya adalah Soekarno Cs yang berkedok Negara RI-Jawa-Yogya merupakan perampas dan perampok Negara dan Daerah yang rakyat dan pejuangnya ingin menegakkan Syariat Islam di muka bumi.

Selanjutnya, daerah Kalimantan Selatan dibawah pejuang Islam Ibnu Hajar yang tidak pernah tunduk dan patuh mau menyerahkan daerahnya kedepan Van Mook untuk dimasukkan kedalam RIS. Dimana Ibnu Hajar yang dipanggil Haderi bin Umar dan dipanggil juga Angli pada bulan Oktober 1950 di Kalimantan Selatan membentuk Kesatuan Rakyat Yang Tertindas dan menyatakan gerakannya sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia dan DI/TII SM Kartosoewirjo

Ternyata ambisi Soekarno dengan menunggangi kereta RI-Jawa-Yogya-nya melahap Ibnu Hajar pejuang Islam dari Kalimantan Selatan ini dapat dipuaskan sampai akhir tahun 1959. Dimana Ibnu Hajar mampu bertahan sampai 9 tahun.

Disini yang paling menyedihkan adalah Soekarno memakai tunggangan kereta RI-Jawa-Yoga yang pada waktu itu dipimpin oleh Perdana Menteri M. Natsir dari Masyumi yang dilantik pada tanggal 7 September 1950 sebagai Kabinet pertama setelah RIS dibubarkan oleh Soekarno dan 15 Negara/Daerah bagian RIS digembolnya dimasukkan kedalam gua RI-Jawa-Yogya.

Kemudian, pada bulan Januari 1952 pejuang Islam Abdul Kahar Muzakar dan Kaso A. Ghani mendeklarkan bahwa Daerah Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia dibawah pimpinan SM Kartosuwirjo.

Dimana Daerah Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Abdul Kahar Muzakar dan Kasso Abdul Ghani ini tidak pernah dan tidak berhasil dimasukkan kedalam RIS oleh Van Mook.

Perjuangan Abdul Kahar Muzakar dan Kasso Abdul Ghani ini memakan waktu 14 tahun sampai pada bulan Februari 1965 ketika pejuang Islam Abdul Kahar Muzakar menemui sahidnya di medan pertempuran menghadapi agresor Soekarno dengan serdadu-serdadu Tentara Nasional Indonesia dari divisi Siliwangi Jawa Barat.

Nah, ternyata sekali lagi setelah Kabinet Natsir jatuh, digantikan oleh Kabinet Soekiman Wirjosandjojo yang didalamnya duduk dua partai besar yaitu Masyumi dan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada tanggal 27 April 1951, kembali Soekarno telah menggunakan kereta tunggangan Kabinet Soekiman yang didukung oleh Masyumi dan PNI untuk meringkus Gerakan Ummat Islam di Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Abdul Kahar Muzakar dan Kasso Abdul Ghani yang tidak mau tunduk dan menyerah kepada agresor Soekarno dari Negara RI-Jawa-Yogya.

Ternyata sudah terlihat bahwa Soekarno penipu ulung dan agresor paling besar ditahun 50-an di bumi Nusantara ini yang memimpin Negara RI-Jawa-Yogya telah bertubi-tubi menggebuk kaum muslim yang seagama yang bercita-cita menegakkan Syariat Islam di bumi Nusantara.

Selanjutnya di Jawa Tengah yang masih belum menjadi Daerah bagian RIS Van Mook, diluar daerah Yogyakarta yang merupakan daerah Ibu Kota RI-Jawa-Yogya, telah muncul Batalyon 426 di daerah Kudus dan Magelang pada bulan Desember 1951 menggabungkan diri dengan NII, DI/TII di bawah pimpinan Imam Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo, juga Kya Moh. Mahfudz Abdurachman yang dikenal sebagai "Romo Pusat" dengan Angkatan Umat Islam-nya (AUI) di Daerah Kebumen meggambungkan diri dengan NII, DI/TII di bawah pimpinan Imam Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo.

Tentu saja tidak ketinggalan Amir Fatah yang menjadi Komandan Pertempuran di Jawa Tengah dengan pangkat Jenderal Mayor Tentara Islam Indonesia yang bergerak di Brebes, Tegal, dan Pekalongan bergabung dengan NII, DI/TII di bawah pimpinan Imam Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo.

Pihak Soekarno telah menugaskan Letnan Kolonel Soeharto Komandan Brigade Pragolo dari Divisi Dipenogoro untuk menghadapi Batalyon 426 di daerah Kudus dan Magelang Kya Moh. Mahfudz Abdurachman dengan Angkatan Umat Islam-nya (AUI) di Daerah Kebumen yang telah memaklumkan menjadi Daerah bagian NII SK Kartosuwirjo.

Sedangkan untuk menghadapi Mujahid dan pejuang Islam Amir Fatah yang menjadi Komandan Pertempuran di Jawa Tengah dengan pangkat Jenderal Mayor Tentara Islam Indonesia yang bergerak di Brebes, Tegal, dan Pekalongan, Soekarno menugaskan Kolonel Sarbini, Letnan Kolonel M. Bachrum dan Kolonel Ahmad Yani dengan nama operasi Gerakan Banteng Negara untuk melawan Komandan Pertempuran di Jawa Tengah Amir Fatah.

Ternyata perjuangan mujahid Islam Jawa Tengah ini berlangsung sampai bulan Juni tahun 1954.

Seterusnya, ketika Kabinet Ali-Wongso, yaitu Kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dari PNI dan Wakil PM Wongsonegoro dari Partai Indonesia Raya (PIR) yang duduk dilamnya juga wakil dari NU (Nahdlatul Ulama), sedangkan dari Masyumi tidak ada wakilnya, dilantik pada tanggal 1 Agustus 1953, muncullah pada tanggal 20 September 1953 Maklumat Negara Islam Indonesia dari Teungku Muhammad Daud Beureueh di Aceh yang berada dibawah NII Imam SM Kartosuwirjo.

Teungku Muhammad Daud Beureueh memaklumatkan Aceh sebagai Negara Islam Indonesia yang bebas dari kekuasaan negara pancasila dibawah pimpinan agresor Soekarno dari negara RI-Jawa-Yogya yang telah menggembol 15 Negara/Daerah bagian RIS.

Perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan NII-nya telah memakan waktu 9 tahun sampai bulan Desember tahun 1962 ketika Teungku Muhammad Daud Beureueh kembali terkena tipu Soekarno melalui pancingan dengan umpan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" yang dikailkan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. Teungku Muhammad Daud Beureueh telah kena jerat dan dianggap menyerah kepada Penguasa Negara Pancasila. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986).

Tetapi tentu saja, estafet perjuangan rakyat Aceh yang ingin bebas menentukan nasibnya sendiri diteruskan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 yang telah mendeklarasikan kemerdekaan Aceh Sumatra, dan berlaku serta berjalan sampai detik ini.

Setelah itu, ketika Kabinet Djuanda dibentuk dan Perdana Menteri Ir Djuanda disumpah pada tanggal 9 April 1957, ternyata belum sampai setahun, yaitu pada tanggal 15 Februari 1958 Kolonel Achmad Husein, di Padang, Sumatra Barat, daerah Sumatra Barat yang tidak termasuk Negara/Daerah bagian RIS, mendeklarkan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan mengangkat Mr. Sjafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri.

Berdirinya PRRI ini telah disokong penuh oleh Abdul Kahar Muzakar dan Kaso A. Ghani dari Daerah Sulawesi Selatan, juga disokong oleh Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah dibawah pimpinan Letnan Kolonel D.J. Somba yang menyatakan putus hubungan dengan Soekarno Cs dari Negara RI-Jawa-Yoga pada tanggal 17 Februari 1958, dimana gerakan Sulawesi Utara dan Tengah ini dikenal dengan nama Gerakan Piagam Perjuangan Semesta ( Permesta). Piagam Perjuangan Semesta ini diproklamirkan pada tanggal 2 Maret 1957 di Makasar. Dimana sehari sebelumnya, 1 Maret 1957, Kolonel H.N. Ventje Sumual mengadakan pertemuan di Gubernuran Makasar yang dihadiri oleh para tokoh militer dan sipil dan melahirkan Piagam Perjuangan Semesta (Permesta). Dimana derah Sulawesi Utara, Tengah, Selatan dan Tenggara tidak masuk dalam negara bagian RIS.

Proklamasi PRRI tanggal 15 Februari 1958 ini dilancarkan setelah diadakan rapat raksasa di Padang, Sumatra barat pada tanggal 10 Februari 1958, yang dihadiri oleh Letnan Kolonel Achmad Husein, Letnan Kolonel H.N. Ventje Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan Djambek, Kolonel Zulkifli Lubis, M Natsir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap, dan Sjafruddin Prawiranegara. Dimana dari hasil rapat raksasa di Padang, Sumatra Barat ini melahirkan 3 statemen yang menyatakan bahwa dalam waktu 4 x 24 jam Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda. Bahwa Presiden menugaskan Drs. Moh.Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk Zaken Kabinet. Bahwa meminta kepada Presiden supaya kembali kepada kedudukannya sebagai Presiden konstitusional.

Dimana 3 statemen hasil rapat raksasa di Padang Sumatra Barat ini disampaikan kepada pihak Kabinet Djuanda dalam bentuk ultimatum, tetapi pihak Kabinet Djuanda menolak 3 statemen yang diajukan itu. Setelah ultimatum itu ditolak pihak Soekarno Cs, maka lahirlah proklamasi PRRI tanggal 15 Februari 1958 itu.

Kemudian dalam langkah perjuangan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara dan M. Natsir Cs ini meminta kepada Teungku Muhammad Daud Beureueh agar PRRI dan Permesta bergabung dengan Negara Islam Indonesia. Setelah diadakan pertemuan dan perjanjian antara Teungku Muhammad Daud Beureueh dari NII dan M. Natsir dari PRRI dan Permesta diputuskanlah pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang berbentuk federasi pada tanggal 8 Februari 1960. Dimana NII, PRRI dan Permesta menjadi anggota Negara Bagian RPI.

Disini pihak agresor Soekarno Cs dari Negara RI-Jawa-Yogya dalam menghadapi pihak PRRI dan Permesta telah menugaskan Kolonel Achmad Yani untuk menghadapi pasukan PRRI di daerah Sumatra Barat. Sedangkan untuk daerah Sumatra Utara ditugaskan Brigadir Jenderal Djatikusumo. Adapun untuk daerah Sumatra Selatan ditugaskan kepada Letnan Kolonel Ibnu Sutowo. Kemudian untuk daerah Riau ditugaskan kepada Letnan Kolonel Kaharuddin Nasution. Untuk daerah Sulawesi utara bagian tengah dan selatan ditugaskan kepada Letnan Kolonel Soemarsono dan Letnan Kolonel Agus Prasmono. Untuk Bagian utara Manado ditugaskan pada Letnan Kolonel Magenda. Untuk daerah Sulawesi utara ditugaskan kepada Letnan Kolonel Rukmito Hendraningrat. Untuk daerah Jailolo dan daerah sebelah utara Halmahera ditugaskan pada Letnan Kolonel Pieters dan Letnan Kolonel KKO Hunholz.

Hanya ketika pada tanggal 29 Mei 1961 pencetus proklamasi PRRI Kolonel Achmad Husein dengan pasukannya, disusul oleh Kolonel Simbolon dengan pasukannya menyerahkan diri kepada pihak Soekarno Cs dari Negara RI-Jawa-Yogya, ditambah banyak para pimpinan dari Permesta yang kebanyakan dari PSI (Partai Sosialis Indonesia) menyerahkan diri kepada pihak Soekarno Cs, maka kekuatan Negara Republik Persatuan Indonesia mulai berkurang dan melemah.

Seterusnya setelah pihak Republik Persatuan Indonesia dibawah pimpinan Perdana Menteri Mr. Sjafruddin Prawiranegara memutuskan penghentian perlawanan terhadap Soekarno Cs dari Negara RI-Jawa-Yogya pada tanggal 17 Agustus 1961, berakhirlah keberadaan Negara Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang berbentuk federasi ini.

Disamping itu, kelemahan pihak RPI ini disebabkan setahun sebelumnya, 17 Agustus 1960, ketika Soekarno dengan Keputusan Presiden Nomor 200 tahun 1960 dan Nomor 201 tahun 1960 memutuskan membubarkan partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan pertimbangan bahwa organisasi (partai) itu melakukan pemberontakan, karena pemimpin-pemimpinnya turut serta dengan pemberontakan apa yang disebut dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia atau Republik Persatuan Indonesia.

Sebelum Republik Persatuan Indonesia hilang keberadaannya pada tanggal 17 Agustus 1961, Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 15 Agustus 1961 mendeklarkan bahwa NII yang sebelumnya menjadi anggota Federasi Negara Republik Persatuan Indonesia memisahkan diri dan menjadi Republik Islam Aceh yang berdiri sendiri.

Nah sekarang jelas sudah, bahwa Soekarno yang merupakan seorang agresor dari Negara RI-Jawa-Yogya telah melakukan tindakan agresinya dalam bentuk penghancuran dan pendudukan Negara-negara dan Daerah-daerah yang berada diluar Negara/Daerah bagian RIS ciptaan H.J van Mook, yang hampir 90 % merupakan Negara dan Dearah yang para pejuang dan rakyatnya menghendaki tegaknya Syariat Islam di bumi Nusantara.

Dan sampai detik inipun semangat agresi Soekarno ini terus dilaksanakan dan diterapkan oleh para penerusnya dari mulai diktator militer Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati untuk menguasai dan menduduki Negara Islam Indonesia Imam SM Kartosuwirjo, Negara Islam Indonesia di Aceh atau Republik Islam Aceh Teungku Muhammad Daud Buereueh, dan Acheh Sumatra National Liberation Front dibawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro yang diproklamirkan tanggal 4 Desember 1976.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se