Stockholm, 1 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BENAR SOEKARNO MENCAPLOK NEGARA-NEGARA DILUAR BEKAS NEGARA BAGIAN RIS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TERBUKTI MEGAWATI PENERUS SOEKARNO TETAP MENJALANKAN PENDUDUKAN NEGARA-NEGARA DILUAR BEKAS NEGARA BAGIAN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT

"Pak Ahmad Yth, Anda banyak tahu mengenai sejarah Indonesia apa yang anda sering sebut RI-Jawa-Yogya. Saya ingin referensi buku-buku apa saja yang anda baca tentang negara Madura, Negara Pasundan dan negara-negara lain di luar RI-Jawa-Yogya. Menurut anda semua negara di luar RI-Jawa-Yogya caplok oleh Presiden pertama Ir. Soekarno dan menjadi satu Nusantara mengikuti kerajaan Majapahit. Yang saya ingin tanyakan adalah istilah "dicaplok" atau apa saja istilah itu, adakah pembuktian tertulis, atau adakah pemberontakan dari negara-negara diluar RI-Jawa-Yogya, atau ada unsur pemaksaan dari RI-Jawa-Yogya untuk mereka bergabung kedalam RI" (Ishak, ishak@sk.co.id , Mon, 30 Jun 2003 11:22:03 +0700)

"Tengku Ahmad yang saya hormati, Saya Ahmady seorang peneliti di USU Medan. Saya ingin sekali mendapat informasi dari Bapak tentang berkembangan politik luar negeri GAM. Di Aceh, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Perkosaan, pembunuhan dan lainnya semakin marak. Yang lucunya, TNI melakukan pembongkaran kuburan massal sebagai siasat untuk menghilangkan jejak. Mungkin Bapak Ahmad sudah membaca berita itu di situas internet. Bagi kami, ulah TNI itu jadi bahan lelucon saja. Wassalam"
(Ahmady, ahmady.ah@lycos.com ,Tue, 01 Jul 2003 02:24:50 -0400)

"Anda katakan ada beberapa faktor yang menyebabkan Aceh bangkit. Itupun tidak jelas bangkit dari mana dan seberapa jauh atas kebangkitan itu? Anda juga mengatakan bahwa Belanda datang ke Nusantara bukan untuk menyatukan atau memecah belah melainkan untuk menjajah. Terus yang bilang Belanda datang untuk menyatukan itu siapa? kan semua orang udah tahu kalau Belanda datang itu untuk menjajah. Karena menyadari akan hal itu maka terbentuklah yang namanya persatuan dan kesatuan untuk mengusir penjajah dari nusantara ini. Masalah Soekarno cs yang menurut anda tak beda dg Gajah Mada yang mencaplok daerah kanan kirinya termasuk Aceh, itu daerah yang mana? seingat saya RI belum pernah intervensi terhadap negara lain. Tapi kalau yang anda maksud itu adalah daerah Aceh, anda sebetulnya sudah tahu, bahwa semenjak RI di proklamasikan dari Sabang sampai Meraoke itu adalah negara kesatuan Republik Indonesia, dan itu semua dunia sudah mengakuai"
(MT-Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Tue, 1 Jul 2003 00:17:24 -0700 (PDT))

"Hei bung Ahmad, lalu anda sendiri gimana? Pertanyaan saya belum anda jawab kenapa anda sendiri bukan membangun Aceh yg kata anda adalah tanah tumpah darah anda. Malah anda lari ke Swedia dan menjadi warga negara sana? Apakah itu bukan berarti anda tidak mencintai tanah tumpah darah anda sendiri (munafik anda). Dan tentang pembangunan, anda ngantuk atau buta, dulu Aceh itu seperti apa, sekarang anda lihat pembangunan disana sini seperti transportasi, telekomunikasi, dll."
(Bhonchos Yanuar, bhonchos@yahoo.com , Mon, 30 Jun 2003 17:51:02 -0700 (PDT))

Alhamdulillah, baiklah pertama saya ucapkan terimakasih kepada saudara AH Ahmady dari Universitas Sumatra Utara Medan. Insya Allah kalau ada informasi-informasi yang menyangkut perkembangan politik luar negeri GAM yang sampai kepada saya akan sampai juga kepada saudara Ahmady di Medan.

Memang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sekarang berada dibawah kaki Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang didukung penuh oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu serta diperkuat oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs sambil mereka mengacungkan pedang berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2003 Tentang Pernyataan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ditambah dengan pemasangan jeruji besi Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam akan melakukan tindakan dan operasi militer sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Apakah itu usaha untuk menutupi kebusukan TNI atau hanya sekedar menipu rakyat Aceh, bagi TNI bukan suatu persoalan. Karena bagi TNI yang paling penting adalah menjalankan operasi militer yang didasarkan kepada dasar hukum Keppres No 28 tahun 2003 dan Keppres No 43 tahun 2003.

Hanya tentu saja, cepat atau lambat akibat operasi milter TNI ini akan menghancurkan negara RI-Jawa-Yogya itu sendiri. Karena GAM tidak akan mungkin bisa dihancurkan oleh senjata TNI yang diperkuat oleh dasar hukum Keppres No 28 tahun 2003 dan Keppres No 43 tahun 2003.

Selanjutnya untuk saudara Ishak di Jakarta, buku-buku referensi yang saya pakai dalam penulisan sejarah negara RI-Jawa-Yogya ini saya sambil sebagiannya dari buku-buku 30 tahun Indonesia merdeka 1945-1949, 1950-1964, 1965-1973, 1974-1975, Sekretariat Negara Republik Indonesia, cetakan ketujuh tahun 1986, dan diambil dari beberapa buku sejarah yang ditulis oleh RH Saragih, J Sirait, M Simamora, Sejarah Nasional, 1987, serta tulisan sejarah Teungku Muhammad Daud Beureueh yang ditulis oleh S.S. Djuangga Batubara, juga diambil dari beberapa catatan sejarah yang saya peroleh hasil kumpulan pribadi maupun melalui perpustakaan-perpustakaan yang ada di Eropa, khususnya di Negeri Belanda.

Istilah caplok, mencaplok, dicaplok yang sering saya pakai adalah gambaran dari apa yang telah dilakukan oleh Soekarno dalam menjalankan agresi politik dan militernya.

Misalnya penerapan istilah caplok, mencaplok, dicaplok adalah ketika Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 7 Agustus 1949 di daerah de facto Malangbong, Garut, Jawa Barat oleh Imam Negara Islam Indonesia Almarhum Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo diduduki dan dijajah oleh Soekarno dari Negara RI-Jawa-Yogya. Daerah Malangbong, Garut adalah daerah diluar wilayah kekuasaan Negara RI, menurut perjanjian Renville 17 Januari 1948 yang mengakui secara de facto kekuasaan RI sekitar daerah Yogyakarta saja, dan semua daerah yang diduduki oleh RI sebelum perjanjian Renville ditandatangani harus ditinggalkan dan dikosongkan.

Nah dari sejak tanggal 17 Januari 1948 Negara RI itu wilayah kekuasaannya hanya di Yoyakarta saja, karena itu saya sebut dengan Negara RI-Jawa-Yogya, yaitu Negara RI yang berkuasa di Jawa Tengah sekitar Yogyakarta. Dan Negara Islam Indonesia dari sejak tanggal 7 Agustus 1949 secara de jure dan de facto disebut sebagai suatu negara, seperti juga Negara RI-Jawa-Yogya.

Begitu juga dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang diakui kedaulatannya oleh Ratu Juliana dari Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, maka secara de jure dan de facto wilayah kekuasaan RIS adalah wilayah kekuasaan Negera/Daerah bagian RIS, yang waktu diakui terdiri dari 16 Negara bagian RIS, termasuk RI-Jawa-Yogya yang dipimpin oleh Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI Mr. Asaat.

Nah, dari fakta wilayah kekuasaan RIS secara de jure dan de facto, Negara Islam Indonesia di daerah Malangbong, Garut tidak termasuk wilayah kekuasaan RIS.

Ketika Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS diundangkan disusul dengan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Parlemen dan Senat RIS disyahkan dan diundangkan pada tanggal 19 Mei 1950, Negara Islam Indonesia di daerah Malangbong, Garut tetap berada diluar wilayah kekuasaan RIS. Sampai pada Presiden RIS Soekarno membacakan piagam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS pada tanggal 15 Agustus 1950, tetap NII masih berdiri sebagai Negara Islam yang merdeka.

Untuk lebih jelasnya bisa dibaca dalam tulisan [030613] Agresi Soekarno dari RI-Jawa-Yogya masih terus menjiwai Mega, Yudhoyono dan Wirajuda untuk rampas Aceh ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030613a.htm )

Nah mulailah periode agresi Soekarno Cs dengan negara RI-Jawa-Yogyanya menduduki Negara-Negara dan Daerah-Daerah lainnya yang berada di luar Negara RI-Jawa-Yogya yang wilayah kekuasaannya secara de facto adalah wilayah kekuasaan bekas negara-negara bagian RIS, yaitu wilayah Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra Selatan, Negara Sumatera Timur, Negara Indonesia Timur, Daerah Jawa Tengah, Daerah Bangka, Daerah Belitung, Daerah Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Daerah Kalimantan Tenggara dan Daerah Kalimantan Timur.

Kemudian kalau kita fakuskan kepada bekas daerah negara Pasundan yang diproklamirkan oleh Soeria Kartalegawa pada tanggal 4 Mei 1947 di Alun-alun Bandung dengan wilayah kekuasaannya sekitar daerah Bandung dan sekitarnya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 140), jelas itu wilayah daerah kekuasaan NII di Malangbong Garut dan sekitarnya tidak termasuk wilayah daerah kekuasaan Negara Pasundan.

Karena itu, secara de jure dan de facto Negara Islam Indonesia tetap masih berdiri diluar wilayah daerah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya.

Sampai ketika Soekarno menyatakan negara dalam keadaan darurat perang berdasarkan dasar hukum Negara RI-Jawa-Yogya Surat Keputusan Presiden tentang keadaan bahaya tingkat keadaan perang diseluruh wilayah RI 17 Desember 1957.

Khusus untuk menduduki wilayah daerah kekuasaan Negara Islam Indonesia, Soekarno memerintahkan kepada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk melancarkan operasi militer yang dinamakan operasi Bratayudha dan yang populer disebut operasi militer pagar betis. Dari sejak tanggal 16 Agustus 1962, secara de facto wilayah daerah kekuasaan Negara Islam Indonesia telah diduduki dan dijajah oleh Soekarno dengan negara RI-Jawa-Yogya-nya sampai detik ini.

Nah sekarang agresi militer yang dilancarkan Soekarno inilah yang saya istilahkan dengan istilah caplok, mencaplok dan dicaplok.

Kemudian Negara-negara dan Daerah-daerah lainnya yang berada diluar wilayah daerah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang dikuasai dan diduduki oleh Soerkarno bisa dibaca secara lebih detail dalam tulisan [030614] Soekarno dengan kereta roda Negara RI-Jawa-Yogya menjadi agresor baru setelah Van Mook ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030614.htm )

Khusus mengenai pendudukan dan penjajahan Aceh oleh Soekarno bisa dibaca dalam tulisan [030618] Megawati tiru Soekarno acungkan pedang berkarat darurat perang untuk gebuk Aceh
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030618a.htm )

Dan juga khusus mengenai Aceh sampai detik ini memang pihak Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, ketua DPR Akbar Tandjung, Presiden RI Megawati, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengetahui benar bahwa Aceh masih dikuasai dan diduduki. Buktinya seperti apa yang telah dinyatakan dalam draft perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003.

3 Having reiterated their commitment to the peace process and desire to strengthen the COHA to that end, the Joint Council has agreed to the following:
a.GAM fully accepts the Special Autonomy status provided by the Nanggroe Aceh Darussalam Law within the framework of the unitary state of the Republic of Indonesia and consequently agrees not to seek the independence of Aceh; In this regard, GAM is committed to dropping the armed struggle; to disband the "Tentra Neugara Aceh", and to participate in the political process as stipulated in the COHA;
(Draft Statement of the Joint Council as proposed by the Indonesian Government)

Nah ternyata dalam draft yang disodorkan oleh pihak Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, ketua DPR Akbar Tandjung, Presiden RI Megawati, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu secara jelas dan gamblang menggambarkan bahwa karena Aceh masih diduduki dan dijajah oleh Negara RI-Jawa-Yogya, maka dalam perundingan ini "GAM fully accepts the Special Autonomy status provided by the Nanggroe Aceh Darussalam Law within the framework of the unitary state of the Republic of Indonesia and consequently agrees not to seek the independence of Aceh...".

Jadi, jelas ini adalah merupakan gambaran yang terang dan gamblang bahwa memang benar dan diakui oleh pihak Menlu Noer Hassan Wirajuda, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, ketua DPR Akbar Tandjung, Presiden RI Megawati, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu bahwa Aceh dijajah oleh Negara RI-Jawa-Yogya, dimana pihak GAM harus setuju dengan sepenuh hati untuk tidak menuntut kemerdekaan Aceh.

Sedangkan untuk masalah Irian barat, saya anggap berdasarkan fakta dan sejarah bahwa memang benar Soekarno mencaplok Irian Barat dari Belanda. Padahal Negeri Irian barat adalah hak dan milik rakyat Irian Barat, bukan hak dan milik Soekarno Cs dari Negara RI-Jawa-Yogya.

Mengenai mencaplokan Irian Barat ini bisa dibaca dalam tulisan [030626] Soekarno yang mencaplok, Megawati yang menjerat Irian Barat
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030626.htm )

Seterusnya untuk saudara Matius Dharminta yang masih tetap dalam posisi untuk tidak menerima kebangkitan Aceh dan sejauhmana kebangkitannya itu, walaupun telah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, [030627] Gajah Mada dengan Majapahit-Hindu-Nusantaranya yang ditiru Soekarno sudah dihancurleburkan ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030627.htm )

Untuk lengkapnya baca dalam tulisan [991128] Kesultanan Aceh, RI, NII-Aceh dan NLFAS
( http://www.dataphone.se/~ahmad/991128.htm )

Hanya ringkasnya saja saya tampilkan sedikit dari tulisan diatas yaitu

ACEH LAWAN PORTUGIS

Ketika kerajaan Islam Samudera-Pasai lemah setelah mendapat pukulan Majapahit dibawah Gajah Mada-nya pada tahun 1350, maka Kerajaan Islam Malaka yang muncul dibawah Paramisora (Paramesywara) yang berganti nama setelah masuk Islam dengan panggilan Iskandar Syah. Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat sampai pada tahun 1511 ketika Portugis dibawah pimpinan Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka.

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528). Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Sultan Seri Alam (1576) Sultan Muda (1604-1607). Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636). Semua serangan yang dilancarkan pihak Portugis dapat ditangkisnya oleh Sultan-sultan Aceh ini. Selama periode akhir abad 17 sampai awal abad 19 keadaan Aceh tenang.

SEBAB TIMBUL PERANG ACEH LAWAN BELANDA

Tahun 1873 pecah perang Aceh melawan Belanda. Perang Aceh disebabkan karena,

1. Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari perjanjian Siak 1858. Dimana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda ada dibawah kekuasaan Aceh.

2. Belanda melanggar Siak, maka berakhirlah perjanjian London (1824). Dimana isi perjanjian London adalah Belanda dan Inggris membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Sinagpura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.

3. Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan Aceh. Perbuatan Aceh ini disetujui Inggris, karena memang Belanda bersalah.

4. Di bukanya terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalulintas perdagangan.

5. Dibuatnya Perjanjian Sumatera 1871 antara Inggris dan Belanda, yang isinya, Inggris memberika keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Sumatera. Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat kepada Inggris.

6. Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia, Turki di Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki 1871.

7. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Nieuwenhuyzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tengtang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

PERANG ACEH DARI TAHUN 1873 SAMPAI TAHUN 1904

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler. Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873.
Perang kedua, dibawah Jenderal Van Swieten berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda.
Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904.
Dalam perang gerilya ini Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur. Tetapi pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van Der Dussen di Meulaboh Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya.

SIASAT SNOUCK HURGRONYE

Untuk mengalahkan pertahanan dan perlawan Aceh, Belanda memakai tenaga akhli Dr Snouck Hurgronye yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh ( De Acehers).

Dalam buku itu disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh. Dimana isi nasehat Snouck Hurgronye kepada Gubernur Militer Belanda yang bertugas di Aceh adalah, Supaya golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) dengan pengikutnya dikesampingkan. Menyerang terus dan menghantam terus kaum ulama. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.

Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronye diterima oleh Van Heutz yang menjadi Gubernur militer dan sipil di Aceh (1898-1904). Kemudian Dr Snouck Hurgronye diangkat sebagai penasehatnya

TAKTIK PERANG GERILYA ACEH DITIRU VAN HEUTZ

Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan marsuse yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macannya yang telah mampu dan menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan- gerilyawan Aceh.

Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota keluarga Gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van Der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van Der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polem dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polem, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya.

Akibatnya Panglima Polem meletakkan senjata dan menyerah ke Lo' Seumawe (1903). Akibat Panglima Polem menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polem.

Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan dibawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2922 orang dibunuhnya, yang terdiri dari 1773 laki-laki dan 1149 perempuan.

Taktik terakhir menangkap Cut Nya' Dien istri Teuku Umar yang masih melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya' Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur.

SURAT PERJANJIAN PENDEK TANDA MENYERAH CIPTAAN VAN HEUTZ

Van Heutz telah menciptakan surat pendek penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. Dimana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan, Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri. Berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. (RH Saragih, J Sirait, M Simamora, Sejarah Nasional, 1987)

ACEH TIDAK TERMASUK ANGGOTA NEGARA-NEGARA BAGIAN RIS

41 tahun kemudian semenjak selesainya perang Aceh, Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata perjuangan untuk bebas dari cengkraman Belanda belum selesai, sebelum Van Mook menciptakan negara-negara bonekanya yang tergabung dalam RIS (Republik Indonesia Serikat).

Dimana ternyata Aceh tidak termasuk negara bagian dari federal hasil ciptaan Van Mook yang meliputi seluruh Indonesia yaitu yang terdiri dari,

1. Negara RI, yang meliputi daerah status quo berdasarkan perjanjian Renville.
2. Negara Indonesia Timur.
3. Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta
4. Negara Jawa Timur
5. Negara Madura
6. Negara Sumatra Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan Labuhan Batu
7. Negara Sumatra Selatan
8. Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, seperti Jawa Tengah, Bangka-Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.
9. Daerah.daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.

Nah untuk saudara Matius, itulah yang saya gambarkan yang merupakan kebangkitan Negara Aceh dengan para pahlawannya.

Mengenai masih tidak fahamnya saudara Matius mengenai pihak Negara RI-Jawa-Yogya belum pernah intervensi terhadap negara lain, jawabannya telah saya kupas diatas, seperti yang telah saya jelaskan kepada saudara Ishak diatas.

Kemudian, saudara Matius karena melihat pakai kacamata Soekarno, maka terlihat itu Gerakan Pembebasan Negara Aceh yang dipelopori pertama oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan Negara Islam Indonesianya yang lebih dikenal dengan nama Negara Republik Islam Aceh, kemudian dilanjutkan oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro yang telah medeklarkan kemerdekaan Aceh Sumatra yang secara de pacto wilayah daerah kekuasaannya di Aceh, bebas dari penjajah pusat negara RI-Jawa-Yogya pada tanggal 4 Desember 1976 (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17), ditulis dan dinamakan oleh saudara Matius dan para pengikut Soekarno, Soeharto, dan Megawati sebagai gerombolan.

Padahal sebenarnya yang jelas dan nyata kepala gerombolan penjajah adalah Soekarno yang sekarang diteruskan oleh putrinya Megawati.

Nah sekarang dengan penjelasan dari saya, apakah rakyat akan lebih memahami tentang keadaan sebenarnya dilihat dari sudut sejarah perjuangan rakyat Aceh, atau hanya akan mengikut kepada himbauan saudara Matius Dharminta yang hanya membeo kepada Soekarno dan Megawati dengan kelompok militer TNI-nya.

Seterusnya saya akan sedikit memberikan penjelasan kepada saudara Bhonchos Yanuar yang tetap saja tidak bergerak dari posisi pertahanan Soekarno yang diteruskan oleh Megawati dalam hal pencaplokan negara Aceh.

Menyinggung saya yang sekarang telah menjadi warga negara Swedia ini sekilas sejarahnya adalah karena pada bulan Februari 1981 Presiden diktator jenderal TNI Soeharto merasa terpukul oleh tulisan saya yang berjudul "Dibawah Belenggu Rezim Penguasa" yang saya publikasikan secara terbatas di Cairo Republik Arab Mesir.

Sehingga Kepala Sub Bidang Protokol dan Konsuler, Sekretaris Ketiga Noer Hassan Wirajuda dari Kedutaan Besar RI Cairo, dimana Noer Hassan Wirajuda ini sekarang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Kabinet Gotong Royong atau yang oleh Megawati dinamakan Kabinet Keranjang Sampah, mencabut Paspor RI saya pada tanggal 3 April 1981 dan digantikan dengan secarik surat keterangan yang dikeluarkan pada tanggal 6 April 1981. Kemudian pada tanggal 30 April 1981 Duta Besar Ferdy Salim mengeluarkan Surat Keputusan nomor B/480/IV/81/DB yang sebagian isinya menyatakan bahwa "1. Dengan tulisan tersebut Saudara telah melakukan pelanggaran hukum: penghinaan dan fitnah terhadap golongan/unsur dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia maupun terhadap Pemerintah RI, serta bersifat menghasut; 2. Dengan perbuatan/tulisan itu telah membawa akibat negatif bagi masyarakat Indonesia di Mesir, dengan menciptakan keresahan serta mempertajam pertentangan antar golongan dalam masyarakat..." (Kepala Perwakilan RI, Ferdy Salim, Duta Besar)

Nah sekarang, bagaimana saya mau tunduk dan patuh kepada Presiden diktator militer Jenderal TNI Soeharto yang telah menjalankan taktik dan strategi mempertahankan dan tetap menduduki Negara-negara dan Daerah-daerah seperti yang telah saya paparkan diatas.

Jelas, makin Soeharto menekan saya makin saya membuat perlawanan, karena keberhasilan diplomasi saya dengan pihak negara-negara luar, maka akhirnya saya diterima oleh pemerintah Swedia untuk duduk dan tetap menjalankan perjuangan menentang Presiden diktator militer Jenderal TNI Soeharto.

Hanya tentu saja, akibat saya memilih pergi ke Swedia daripada bertekuk lutut dihadapan diktator Jenderal TNI Soeharto, maka pada tanggal 8 September 1981 kewarga-negaraan saya dicabut oleh pihak rezim diktator militer jenderal TNI Soeharto lewat wakilnya Duta Besar Ferdy Salim di Cairo Republik Arab Mesir.

Nah dalam perjuangan saya selanjutnya saya mendukung pergerakan pembebasan Negara Aceh, karena memang saya mempunyai alasan dasar hukum, sejarah dan de facto Aceh yang sampai detik ini belum ada alasan-alasan lain yang bisa merubah alasan saya sekarang, sebagaimana yang selalu saya tampilkan dalam tulisan-tulisan saya.

Nah sekarang, bagaimana mungkin GAM dengan rakyat Aceh yang sadar akan kemerdekaan Aceh dari Negara RI-Jawa-Yogya yang telah mencaploknya bisa berbuat dan membangun negara Aceh seperti yang dikehendaki rakyat Aceh, kalau memang pihak Soekarno, Soeharto, Megawati yang didukung militer dibawah komando Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu terus melakukan operasi militer.

Buktinya apa yang telah dibuat Soekarno dimasa Teungku Muhammad Daud Beureueh. Kemudian pada masa diktator militer Jenderal TNI Soeharto pada masa Teungku Muhammad Hasan di Tiro dengan senjata Daerah Operasi Militer selama hampir sepuluh tahun, dari tahun 1989-1998. Selanjutnya sekarang dibawah Megawati dengan militernya.

Jadi, bukan karena pihak GAM dan rakyat Aceh yang sadar untuk menentukan nasibnya sendiri yang tidak mau membangun negara Aceh, melainkan karena pihak Negara RI-Jawa-Yoga dibawah pimpinan Megawati yang didukung oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang tetap ingin menduduki dan mencengkeram Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

To: ahmad@dataphone.se
Date: Tue, 01 Jul 2003 02:24:50 -0400
From: "ah ahmady" <ahmady.ah@lycos.com>
Subject: (No Subject)

Tengku Ahmad yang saya hormati,

Saya Ahmady seorang peneliti di USU Medan. Saya ingin sekali mendapat informasi dari Bapak tentang berkembangan politik luar negeri GAM. Di Aceh, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Perkosaan, pembunuhan dan lainnya semakin marak. Yang lucunya, TNI melakukan pembongkaran kuburan massal sebagai siasat untuk menghilangkan jejak. Mungkin Bapak Ahmad sudah membaca berita itu di situas internet. Bagi kami, ulah TNI itu jadi bahan lelucon saja.

Wassalam

Ahmady

Medan, Bandung, Indonesia
ahmady.ah@lycos.com
----------

From: "Ishak" ishak@sk.co.id
To: ahmad@dataphone.se
Subject: Sejarah dan Ahklak
Date: Mon, 30 Jun 2003 11:22:03 +0700

Pak Ahmad Yth,

Anda banyak tahu mengenai sejarah Indonesia apa yang anda sering sebut RI-Jawa-Yogya.
Saya ingin referensi buku-buku apa saja yang anda baca tentang negara Madura, Negara Pasundan dan negara-negara lain di luar RI-Jawa-Yogya.
Menurut anda semua negara di luar RI-Jawa-Yogya caplok oleh Presiden pertama Ir. Soekarno dan menjadi satu Nusantara mengikuti kerajaan Majapahit.

Yang saya ingin tanyakan adalah istilah "dicaplok" atau apa saja istilah itu, adakah pembuktian tertulis, atau adakah pemberontakan dari negara-negara diluar RI-Jawa-Yogya, atau ada unsur pemaksaan dari RI-Jawa-Yogya untuk mereka bergabung kedalam RI. Dengan memaparkan sejarah kedalam artikel pada website anda sangat baik untuk kami yang belum mengetahui tetang Indonesia secara keseluruhan mulai dari Raja-Raja sebelum terjadinya RI atau RI-Jawa-Yogya.

Lalu mengenai Aceh, Saya setuju jika Aceh mempunyai pemerintahan sendiri, karena memang latar belakang Aceh sangat berbeda dengan provinsi lain.
Rakyat aceh sangat dinamis dengan berlandaskan Syariah Islamnya sejak perjuangan melawan Belanda mungkin sampai sekarang.

Mengenai Pemerintahan Indonesia menurut saya sangat lemah saat ini, mulai dari proses Sipadan & Ligitan, Hutang IMF, dan yg lain sebagainya yang berhubungan dengan luar.

Mengenai konflik dalam negeri, serta ikut campurnya negara-negara yang mempunyai kepentingan material terhadap negara Indonesia. Semua masalah itu terbentuk dari satu hal yaitu Ahklak. Sebagian besar pejabat sudah teracuni dengan hidup duniawi yang hanya sementara yang berimbas kepada ekonomi keseluruhan sampai ke kaki lima.

Ishak

Jakarta, Indonesia
ishak@sk.co.id
----------

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: semula seperti ya-yao ternyata...
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: PPDI@yahoogroups.com
Date: Tue, 1 Jul 2003 00:17:24 -0700 (PDT)

Sudah aku katakan, bahwa sejarah itu memang perlu di ketahui, dimengerti, dan dipelajarai. Namun tidak seluruhnya bisa diterapkan pada masa kini yang sudah lebih modern. Semula seperti ya-yao, tapi setelah aku cermati ternyata jauh dari apa yang aku bayangkan, itu terbukti dari uraian-uraian yng anda lontarkan tak bedanya dengan benang ruwet yang tak jelas ujung pangkalnya/bulet.

Anda katakan ada beberapa faktor yang menyebabkan Aceh bangkit. Itupun tidak jelas bangkit dari mana dan seberapa jauh atas kebangkitan itu? Anda juga mengatakan bahwa Belanda datang ke Nusantara bukan untuk menyatukan atau memecah belah melainkan untuk menjajah. Terus yang bilang Belanda datang untuk menyatukan itu siapa? kan semua orang udah tahu kalau Belanda datang itu untuk menjajah. Karena menyadari akan hal itu maka terbentuklah yang namanya persatuan dan kesatuan untuk mengusir penjajah dari nusantara ini.

Masalah Soekarno cs yang menurut anda tak beda dg Gajah Mada yang mencaplok daerah kanan kirinya termasuk Aceh, itu daerah yang mana? seingat saya RI belum pernah intervensi terhadap negara lain. Tapi kalau yang anda maksud itu adalah daerah Aceh, anda sebetulnya sudah tahu, bahwa semenjak RI di proklamasikan dari Sabang sampai Meraoke itu adalah negara kesatuan Republik Indonesia, dan itu semua dunia sudah mengakuai..

Soal Aceh yang sampai detik ini menurut anda belum ada kesejahteraan, itu tidak seratus persen kesalahan pemerintah, anda tentu sudah tahu bahwa disana (Aceh) banyak hambatan yang dilakukan oleh GSA/GAM termasuk orang-orang simpatisanya seperti anda ini. Anda tentunya tahu juga gimana tingkah laku gerombololan itu, main rusak, main bakar, pada fasilitas-fasilitas umum, dan belakangan walau tidak melihat tentu anda juga mendengar betapa bobroknya moral personil GSA yang anda banggakan itu dengan beringas membakar ratusan bangunan sekolahan, hingga ribuan anak terlantar pendidikannya. pedulikah anda akan hal itu??

Buat sdr-sdr ku di Aceh jangan dengar ocehan orang yang hanya pandai cuap-cuap dari kejauhan yang mengatas namakan warga Aceh, padahal itu semua hanya untuk kepentingan perutnya sendiri...

Salam buat anak negeri

MT Dharminta

Surabaya, Indonesia
mr_dharminta@yahoo.com
----------

Date: Mon, 30 Jun 2003 17:51:02 -0700 (PDT)
From: bhonchos yanuar bhonchos@yahoo.com
Subject: KESALAHAN BESAR MENIRU LANGKAH GAJAH MADA DARI KERAJAAN HINDU-MAJAPAHIT
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Hei bung Ahmad, lalu anda sendiri gimana?

Pertanyaan saya belum anda jawab kenapa anda sendiri bukan membangun Aceh yg kata anda adalah tanah tumpah darah anda. Malah anda lari ke Swedia dan menjadi warga negara sana?

Apakah itu bukan berarti anda tidak mencintai tanah tumpah darah anda sendiri (munafik anda).
Dan tentang pembangunan, anda ngantuk atau buta, dulu Aceh itu seperti apa, sekarang anda lihat
pembangunan disana sini seperti transportasi, telekomunikasi, dll.

Apakah pemberontak GAM bisa membangun? kenyataannya pemberontak GAM hanya bisa merampok, memperkosa, membunuh rakyatnya sendiri yg notabene adalah satu tanah tumpah darah (itu nyata dan sudah dikonfirmasi oleh Komnas HAM). Dan menurut penelitian bahwa Anggota pemberontak GAM sebagian besar hanyalah ikut ikutan untuk mencari keuntungan sendiri seperti anda. Serta tingkat pendidikannya sebagian besar hanyalah tamatan SD dan anda sendiri bung Ahmad, anda menjadi seperti sekarang ini tentu bukan belajar sendiri, tentu belajar dari guru dan guru itu apakah orang GAM? nyatanya bukan. Guru itu dari pemerintah RI, jadi anda betul pendapat rekan-rekan yg lain bahwa anda hanyalah orang keblinger yg mencari untung sendiri yg mata terbuka tapi tidur namun cuap-cuap nggak keruan. Jadi yg tidur adalah anda.

Bhonchos Yanuar

Jakarta, Indonesia
bhonchos@yahoo.com
----------