Stockholm, 3 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

RAKYAT ACEH MAKIN SADAR BAHWA ACEH SEDANG DIDUDUKI OLEH MEGAWATI DENGAN TNI-NYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

RAKYAT ACEH MAKIN SADAR BAHWA SEBENARNYA SECARA FAKTA DAN SEJARAH, ACEH SADANG DIDUDUKI OLEH MEGAWATI YANG DIDUKUNG OLEH TNI-NYA SUTARTO

"Bung Ahmad, pertanyaan-pertanyaan saya tentang diri anda belum anda jawab (tentang guru, Aceh sebagai tumpah darah anda tapi bukannya berjuang malah lari ngemis-ngemis minta suaka politik ke Swedia lalu jadi warga negara sana), apakah anda malu untuk menjawab? karena anda hanyalah seorang yg hanya berani lempar batu sembunyi tangan atau anda takut. Kalau anda memang berjuang untuk Aceh, kenapa anda tidak membantu rekan-rekan anda di Aceh yg sekarang sudah hampir sekarat, tapi anda malah makan enak, tidur nyenyak di Swedia sedangkan rekan-rekan anda harus pontang panting diserang TNI. Anda hanyalah seorang kacang yg lupa pada kulitnya."
(Bhonchos Yanuar, bhonchos@yahoo.com , Thu, 03 Jul 2003 12:25:16 +0700 (JVT))

Saudara Bhonchos Yanuar yang memakai jasa internet rad.net.id , PT Rahajasa Media Internet, Jakarta, Indonesia ini memang sudah kehabisan apa yang akan dipertahankannya, yang tinggal hanya masalah yang sebenarnya sudah saya jawab dalam tulisan saya sebelumnya [030701] Benar Soekarno mencaplok negara-negara diluar bekas negara bagian RIS ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030701a.htm )

Memang jelas semua guru saya yang saya sangat hormati semuanya tinggal di negara RI-Jawa-Yogya, dan memang saya juga lahir di Negara RI-Jawa-Yogya sebagaimana yang telah ditakdirkan Allah SWT, dan mendapat kewarga-negaraan RI-Jawa-Yogya sampai tanggal 8 September 1981 ketika kewarga-negaraan saya dicabut oleh pihak rezim diktator militer jenderal TNI Soeharto lewat wakilnya Duta Besar Ferdy Salim di Cairo Republik Arab Mesir.

Nah tentu saja, selama hampir 5 tahun saya tidak mempunyai kewarga-negaraan. Tetapi pada tanggal 11 Juni 1986 saya diterima menjadi warga negara Swedia.

Jadi, sebenarnya, bukan saya yang membuang kewarga-negaraan Negara RI-Jawa-Yogya, melainkan pihak rezim diktator militer jenderal TNI Soeharto lewat wakilnya Duta Besar Ferdy Salim di Cairo Republik Arab Mesir pada tanggal 8 September 1981.

Kemudian mengenai masalah minta suaka, saya tidak mengemis-ngemis minta suaka. Mengapa ? karena memang ketika di Cairo Mesir, pihak perwakilan Swedia melalui Kedutaan Besarnya di Cairo memang melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa memang saya sedang bergumul dengan Jenderal TNI Soeharto yang mengacungkan senjata pukulan pancasilanya yang memancarkan racun-racun yang berisikan tuduhan bahwa saya telah melakukan pelanggaran hukum: penghinaan dan fitnah terhadap golongan/unsur dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia maupun terhadap Pemerintah RI, serta bersifat menghasut; yang telah membawa akibat negatif bagi masyarakat Indonesia di Mesir, dengan menciptakan keresahan serta mempertajam pertentangan antar golongan dalam masyarakat.

Nah itu kan senjata Jenderal TNI Soeharto yang diacungkan oleh wakilnya Duta Besar Ferdy Salim dengan selubung Surat Keputusan nomor B/480/IV/81/DB yang dikeluarkan pada tanggal 30 April 1981.

Jadi, siapa yang salah, jelas itu Jenderal TNI Soeharto dan wakilnya Duta Besar Ferdy Salim yang dibantu oleh Kepala Sub Bidang Protokol dan Konsuler, Sekretaris Ketiga Noer Hassan Wirajuda dari Kedutaan Besar RI Cairo, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Kabinet Gotong Royong Megawati

Padahal, kalau Jenderal TNI Soeharto itu cerdik dan benar-benar sebagai pemimpin yang bijaksana, maka itu tulisan saya harus dijawabnya dengan jawaban yang bisa diterima oleh saya, bukan dengan hanya mengacungkan senjata berkarat pancasila sambil menyemburkan segala macam tuduhan yang tidak ada gunanya.

Coba, akhirnya kan terbukti, siapa yang benar, ya, jelas apa yang saya tulis bulan Februari 1981. Sekarang itu Jenderal TNI Soeharto sudah mulai hilang ingatan, kemudian itu senjata berkarat pancasilanya kan tidak bisa menolong dia.

Selanjutnya, saya bukan model orang yang "hanya berani lempar batu sembunyi tangan". Tulisan-tulisan saya dari sejak lima tahun yang lalu masih terpampang tanpa ada perubahan setitikpun. Coba lihat saja di http://www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm ,dan apa yang saya tulis dan perjuangkan tidak setapakpun mundur.

Nah, soal bantuan terhadap perjuangan rakyat Aceh, saya tidak perlu mendeklarkan keseluruh dunia. Yang jelas saya mendukung perjuangan rakyat Aceh sesuai dengan kemampuan saya, karena saya mempunyai alasan dasar hukum, sejarah dan de facto Aceh yang sampai detik ini belum ada alasan-alasan lain yang bisa merubah alasan saya sekarang, sebagaimana yang selalu saya tampilkan dalam tulisan-tulisan saya.

Seterusnya yang membuat rakyat Aceh sekarang seperti yang disebutkan oleh saudara Bhonchos Yanuar "...rekan-rekan anda di Aceh yg sekarang sudah hampir sekarat...", itu kan, hasil dari sabetan pedang berkarat Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan dan kurungan jeruji besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Semua itu adalah sebagian besar merupakan hasil kerja yang dipelopori oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Presiden Megawati, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong.

Dan tentu saja, itu Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto adn KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang menjadi motor penggerak TNI yang membabat rakyat dan negeri Aceh agar tetap berada dalam jeratan dan kurungan Negara RI-Jawa-Yogya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: bhonchos yanuar bhonchos@yahoo.com
Subject: Re: RAKYAT NEGARA PASUNDAN TIDAK MAU DIBAWAH NEGARA RI-JAWA-YOGYA SOEKARNO
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Date: Thu, 03 Jul 2003 12:25:16 +0700 (JVT)

Bung Ahmad,

pertanyaan-pertanyaan saya tentang diri anda belum anda jawab (tentang guru, Aceh sebagai tumpah darah anda tapi bukannya berjuang malah lari ngemis-ngemis minta suaka politik ke

Swedia lalu jadi warga negara sana), apakah anda malu untuk menjawab? karena anda hanyalah seorang yg hanya berani lempar batu sembunyi tangan atau anda takut.

Kalau anda memang berjuang untuk Aceh, kenapa anda tidak membantu rekan-rekan anda di Aceh yg sekarang sudah hampir sekarat, tapi anda malah makan enak, tidur nyenyak di Swedia sedangkan rekan-rekan anda harus pontang panting diserang TNI. Anda hanyalah seorang kacang yg lupa pada kulitnya.

Bhonchos Yanuar

Jakarta, Indonesia
bhonchos@yahoo.com
----------