Stockholm, 8 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

JANGAN PAKAI KACAMATA HITAM RYACUDU, SUTARTO DAN DARMONO, TAPI PAKAI KACAMATA HUKUM, HAM, DAN FORENSIK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

YANG ADIL PAKAI KACAMATA HUKUM, KOMNAS HAM, FORENSIK, BUKAN PAKAI KACAMATA HITAM YANG DIPAKAI SUTARTO, RYACUDU DAN DARMONO

"Lalu jika kata anda korban-korban itu belum jelas, kenapa anda juga menuduh bahwa korban-korban itu hasil ulah TNI? (jika didaerah kekuasaan GAM, korban itu belum jelas ulah GAM berarti bisa diartikan korban yg bukan didaerah kekuasaan GAM juga belum tentu ulah TNI)" (Bhonchos Yanuar, bhonchos@yahoo.com , Mon, 7 Jul 2003 18:47:02 -0700 (PDT))

"Assalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh, Bung Ahmad, sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar dalam pikiran saya...apakah GAM itu benar-benar mewakili perasaan rakyat Atjeh? mohon penjabarannya. JazakaLLAH khair.Wassalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,"
(Ediyus Hz , EDIYUS@ptcpi.com , Tue, 8 Jul 2003 08:24:14 +0700)

Baiklah saudara Bhonchos Yanuar, dalam tulisan saya sebelumnya telah dikatakan bahwa "coba buka mata dan pakai itu kacamata hukum, bukan kacamata yang dipakai oleh Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono".

Mengapa harus pakai kacamata hukum? Karena tidak akan terjadi perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono dengan sesuka hati berbuat apa saja, seperti penggalian kuburan masal di kawasan Jambo Papan yang berjarak sekitar 50 kilomter selatan Kota Tapaktuan atau sekitar 6 kilometer dari Koto Manggamat, ibukota Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan pada tanggal 27 Juni 2003, dan di Pancek, Gunung Segersang, Lawe sawah, Kluet Timur, serta di lokasi Sarah Meulayang, Desa Alur Keujruen, Kluet Tengah, Aceh Selatan, dengan menuduh mayat-mayat dari kuburan masal itu adalah hasil perbuatan ganas GAM pada tanggal 5 Juni 2001 lalu. Kemudian sebelum dibuktikan secara hukum berdasarkan hasil penelitian medis yang dipimpin oleh tim yang independen dan dibuktikan didepan pengadilan tinggi, telah dikeluarkan pernyataan yang berupa tuduhan bahwa GAM yang membunuh secara ganas orang-orang yang telah menjadi mayat yang dikuburkan dalam kuburan masal yang telah digali oleh Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono.

Padahal kalau mau jujur perbuatan yang dilakukan oleh Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono itu adalah kalau mengikuti jalur dan garis hukum tidak dibenarkan, coba buka dan baca lagi apa yang tertuang dalam dasar hukum pentungan berkarat Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan dan jeruji besi berkarat Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Dimana dalam isi kedua dasar hukum Keppres diatas itu, tida ada itu istilah, baik yang tersurat ataupun yang tersirat bahwa pihak Penguasa Darurat Militer Pusat dan Daerah dibenarkan menghilangkan bukti-bukti yang dianggap sebagai bukti kejahatan pidana pembunuhan.

Nah sekarang, jangan sekali-kali memakai kacamata hitam yang dipakai oleh Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, tetapi pakailah kacama yang dipergunakan oleh Komnas HAM dengan dilapisi oleh penguat lapisan kacamata hukum dan forensik.

Jadi nanti hasil penggalian kuburan masal itu akan terbongkar secara jujur dan benar siapa sebenarnya yang menjadi para pelaku pembunuhan rakyat Aceh itu. Biarkan tim sementara Komnas HAM yang dibantu oleh tim hukum dan forensik bekerja dengan bebas, tanpa ditodong dengan senjata, agar supaya hasilnya akan memuaskan semua pihak, baik pihak GAM maupun pihak Presiden Megawati Cs.

Inilah jalan pemecahan yang adil dan benar menurut saya, sehingga tidak ada lagi saling tuduh menuduh tanpa bukti seperti yang dilakukan oleh pihak Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono.

Nah selanjutnya saya akan jumpai saudara Edi Yus dari North Duri Cogen, Sumatra, perusahaan minyak Texaco, mengenai GAM. Sebenarnya seperti yang telah saya tulis dalam tulisan-tulisan yang lalu, bahwa GAM merupakan satu wadah organisasi perjuangan untuk membebaskan rakyat Aceh dari sejak masa Teungku Muhammad Daud Beureueh yaitu dari sejak Aceh dicaplok oleh Soekarno dengan cara kekerasan senjata diteruskan pada masa Soeharto dengan senjata berkarat Daerah Operasi Militernya dan dilajutnya oleh Megawati sampai detik sekarang ini.

Karena itu, hanyalah sedikit rakyat Aceh yang merasa tidak diwakili oleg GAM dibawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro yang sampai detik ini masih terus menjalankan usaha pembebasan rakyat Aceh dari tangan Soekarno yang diteruskan oleh Presiden Megawati dengan Negara RI-Jawa-Yogya-nya hasil bentukan Soekarno ayahnya Megawati.

Hanya tentu saja, yang disebut rakyat Aceh bukan hanya rakyat asli negeri Aceh, melainkan sudah bercampur rakyat asli Aceh dengan rakyat yang datang dari luar Aceh. Jadi tentu saja dengan adanya campuran rakyat asli dan pendatang inilah yang bisa dijadikan alat politik baik oleh pihak Presiden Megawati atau oleh pihak GAM.

Tetapi yang jelas, bahwa perjuangan pembebasan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro tidak mendasarkan kepada adanya campuran rakyat Aceh, melainkan karena adanya pencaplokan Soekarno terhadap negeri Aceh yang sebelumnya masih tetap berdaulat.

Karena itu tidak diragukan lagi bahwa sebagian besar rakyat Aceh menjadikan Teungku Muhammad Hasan di Tiro sebagai penerus perjuangan pembebasan rakyat Aceh.

Tetapi kalau memang pihak Presiden Megawati Cs tidak percaya bahwa rakyat Aceh mendukung gerakan pembebasan Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro, maka tentu saja usul saya hanya satu saja yaitu adakan satu referendum yang isinya satu pertanyaan saja, yaitu, mendukung pembebasan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro dengan GAM-nya dari pihak TNI-RI-Jawa-Yogya, ya atau tidak.

Hanya saya yakin seribu yakin, itu pihak Presiden Megawati Cs tidak akan berani memberikan kesempatan untuk melaksanakan referendum seperti yang saya ajukan ini. Mengapa?

Karena tentu saja pihak Presiden Megawati Cs yang ditunjang oleh TNI dibawah pimpinan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dan juga pihak Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong tidak akan meluluskannya. Dengan alasan kalau referendum yang saya ajukan itu dilaksanakan maka itu Negeri Aceh penghasil minyak dan gas alam sumber penerimaan dana kas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara akan lepas ketangan rakyat Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Ediyus H.Z.- [North Duri Cogen]" EDIYUS@ptcpi.com
To: padhang-mbulan@yahoogroups.com
Cc: ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: Apakah GAM itu representasinya Rakyat Atjeh?
Date: Tue, 8 Jul 2003 08:24:14 +0700

Assalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,
Bung Ahmad,

sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar dalam pikiran saya...
apakah GAM itu benar-benar mewakili perasaan rakyat Atjeh?
mohon penjabarannya.
JazakaLLAH khair.

Wassalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,

Ediyus Hz

North Duri Cogen, Sumatra
EDIYUS@ptcpi.com
----------

Date: Mon, 7 Jul 2003 18:47:02 -0700 (PDT)
From: bhonchos yanuar bhonchos@yahoo.com
Subject: Re: RYACUDU DAN SUTARTO TERUS PERAS ACEH AGAR MINYAK DAN GAS TERUS NGALIR KEDALAM PERUT RI-JAWA-YOGYA
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Lalu jika kata anda korban-korban itu belum jelas, kenapa anda juga menuduh bahwa korban-korban itu hasil ulah TNI? (jika didaerah kekuasaan GAM, korban itu belum jelas ulah GAM berarti bisa diartikan korban yg bukan didaerah kekuasaan GAM juga belum tentu ulah TNI)

Bhonchos Yanuar

Jakarta, Indonesia
bhonchos@yahoo.com
----------