Stockholm, 16 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

RAKYAT ACEH BERJUANG BUKAN DEMI TEUNGKU HASAN DI TIRO TAPI UNTUK MEMBEBASKAN ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

RAKYAT ACEH BERJUANG BUKAN DEMI TEUNGKU MUHAMMAD HASAN DI TIRO TETAPI BERJUANG UNTUK MEMBEBASKAN ACEH DARI CENGKRAMAN SOEKARNO YANG DITERUSKAN OLEH MEGAWATI

"Saudara Ahmad...sekalian aja kita berdiskusi. Terima kasih atas semua penjelasannya. Masih banyak yg ingin saya tanyakan pada saudara. Saudara menjelaskan bahwa Soekarno menipu Daud Beureueh, sehingga Daud beureueh bersedia bergabung dengan RI, karena dijanjikan boleh menjalankan hukum Islam, begitu, kan menurut anda? Nah sekarang Hasan Tiro berusaha untuk memisahkan Aceh lagi dari RI, karena dulu juga bergabungnya karena ditipu, sehingga sekarang terjadi perang yg berkelanjutan, Apakah ini baik menurut Islam dan menurut anda? ...Kenapa Hasan Tiro malah sebaliknya? Banyak rakyat mati berkorban demi dia?, demi GAM ? padahal para petinggi GAM disana enak makan enak tidur, engga kaya pengikutnya yg mati matian membela dia? Kenapa bukan dia ( Hasan Tiro ) yg berkorban demi rakyat? Pejuang Moro dulu berhenti perang setelah dikasih otonomi daerah, kenapa GAM ngotot aja ingin merdeka? Padahal, kekuatan GAM itu apakah bisa menandingi TNI? Bukan aku nganggap remeh GAM, tapi dalam perang juga, kekuatan musuh mesti diperhitungkan."
( Agus Hermawan , sadanas@shb.equate.com , 16 Jul 2003 18:15:25 +0300)

Baiklah saudara Agus Hermawan, hanya setelah saya memberikan jawaban-jawaban dan penjelasan-penjelasan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, ternyata makin lama apa yang diungkapkan dan dinyatakan serta ditanyakan oleh saudara makin dangkal.

Nah saran saya untuk selanjutnya sebelum saudara mengetikkan ungkapan, tanggapan dan pertanyaan saudara terhadap tulisan-tulisan saya, saya mengharap saudara Agus Hermawan memikirkan, membaca dan mendalami dahulu.

Tetapi, baiklah untuk kali ini, saya akan memberikan penjelasan dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada saya.

Mengenai Negara Islam Indonesia yang dimaklumatkan oleh Teungku Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953, itu bukan karena Teungku Daud Beureueh meminta kepada Soekarno untuk menjalankan hukum Islam di Aceh, melainkan akibat daripada ikrar Soekarno dihadapan Teungku Daud Beureueh dilanggarnya, seperti yang telah saya tulis dalam tulisan sebelumnya, dimana ikrar Soekarno itu "...Pada waktu inilah Sukarno berikrar: "Kakak! Saya adalah seorang Islam. Sekarang kebetulan ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamasikan. Sebagai seorang Islam, saya berjanji dan berikrar bahwa saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana. Saya mohon kepada kakak, demi untuk Islam, demi untuk bangsa kita seluruhnya, marilah kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini" (S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 76-77). ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030713.htm )

Tetapi, apa yang terjadi, Soekarno itu hanya pandai menipu dan ingkar dari ikrarnya itu, sehingga Teungku Muhammad Dawud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953, yang sebagian isinya menyatakan bahwa "Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam." ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030613.htm ).

Jadi Soekarno itu bohong dengan mengatakan bahwa "saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana"

Nah tentang Teungku Muhammad Hasan di Tiro mendeklarkan Kemerdekaan Aceh Sumatra pada tanggal 4 Desember 1976 di wilayah kekuasan Negara Aceh Sumatra adalah setelah Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan Negara Islam Indonesia/Republik Islam Aceh-nya pada bulan Desember tahun 1962 kembali terkena tipu Soekarno melalui pancingan dengan umpan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" yang dikailkan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. Teungku Muhammad Daud Beureueh telah kena jerat dan dianggap menyerah kepada Penguasa Negara Pancasila. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986).

Dari bulan Desember 1962 (ketika "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh") sampai tanggal 3 Desember 1976 (satu hari sebelum proklamasi Kemerdekaan Aceh Sumatra pada tanggal 4 Desember 1976), memang Jenderal Soeharto (setelah Soekarno dijatuhkan oleh Jenderal Soeharto pada tanggal tanggal 22 Februari 1967) dengan TNI-nya mencengkeram rakyat Aceh dan negeri Aceh. Walaupun pihak Soekarno dan dilanjutkan oleh pihak Jenderal Soeharto dari sejak tanggal 22 Februari 1967 menganggap bahwa daerah kekuasaan Republik Islam Aceh (RIA) telah dimasukkan kewilayah Negara RI-Jawa-Yogya, tetapi sebenarnya, pihak Negara RI-Jawa-Yogya pada kenyataannya menjajah Aceh, karena memang tidak ada dokumen penyerahan kekuasan dari pihak RIA kepada pihak RI-Jawa-Yogya yang secara resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak.

Pada tahun 1978 dalam usia 82 tahun Teungku Muhammad Daud Beureueh dimasukkan kedalam kamp konsentrasi untuk diamankan di Jakarta oleh Jenderal Soeharto. Dan pada tahun 1984 dalam usia 88 tahun Teungku Muhammad Daud Beureueh dilepaskan dari kamp konsentrasi di Jakarta dikirim ke kampung Beureueh di daerah Pidie, Aceh dalam keadaan mata yang buta dan tubuh badan yang lumpuh. Di tempat tinggalnya sendiri, Teungku Muhammad Daud Beureueh dijaga ketat oleh anggota-anggota Badan Koordinasi Intellijen (Bakin) Jenderal Soeharto, sampai akhir hayatnya dalam usia 92 tahun, tanggal 10 Juni 1987 bertepatan dengan tanggal 13 Syawal 1407 H, hari Rabu selepas solat Magrib. (S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 47-48).

Nah, 2 tahun sebelum Teungku Muhammad Daud Beureueh dimasukkan kedalam kamp konsentrasi untuk diamankan di Jakarta oleh Jenderal Soeharto, muncullah pada tanggal 4 Desember 1976 Teungku Muhammad Hasan di Tiro yang mendeklarasikan kemerdekaan Aceh Sumatra yang berbunyi: "To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self- determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kepada rakyat di seluruh dunia: Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17).

Jadi, secara de jure dan de pacto, Teungku Muhammad Hasan di Tiro mendeklarkan Kemerdekaan Aceh Sumatra pada tanggal 4 Desember 1976 merupakan langkah seterusnya dari mata rantai yang dipasang oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam rangka usaha pembebasan rakyat dan negeri Aceh dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta yang telah mencaplok Aceh lewat Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogya-nya.

Nah sekarang, mengenai perbandingan yang saudara Agus Hermawan ajukan bahwa dinasti Umaiyah (40-132H , 661-750M) yang dikembangkan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan disamakan dengan Jenderal Soeharto dari Negara RI-Jawa-Yogya yang berdasar pancasila, jelas itu perbadingan yang jauh dan tidak nyambung.

Khalifah Ali bin Abi Thalib diangkat dan dipilih menjadi Khalifah menggantikan Khalifah Utsman bin Affan yang dibunuh. Memang Muawiyah bin Abi Sufyan Gubernur Syam (Syria) tidak mau memberikan baiatnya kepada Kahlifah Ali bin Abi Thalib, dengan alasan supaya sebelum pemilihan Khalifah sebagai Kepala Negara, terlebih dahulu haruslah ditangkapi dan dihukum segala orang-orang yang ikut dalam aksi membunuh Khalifah Utsman bin Affan. (Zainal Abidin, Membentuk Negara Islam, 1955, hal.293).

Memang ada lagi cerita lain, yaitu ketika Muawiyah akan melantik putranya Yazid jadi Khalifah. Ketika Muawiyah bin abi Sufyan meninggalkan Damaskus Syria menuju ke Madinah untuk menemui Husein bin Ali, Abdullah bin Zubeir, Abdullah bin Umar dan Siti Aisyah agar memberikan baiat kepada Yazid putra Muawiyah bin Abi Sufyan. Muawiyah mengancam dengan pedang Husein bin Ali, Abdullah bin Zubeir, Abdullah bin Umar agar diam ketika diadakan persidangan umum di Madinah ketika seluruh rakyat memberikan baiat kepada Yazid. Ketika seluruh rakyat melihat Husein bin Ali, Abdullah bin Zubeir, Abdullah bin Umar diam, rakyat mengira bahwa mereka bertiga setuju memberikan baiat kepada Yazid, maka seluruh rakyat memberikan baiat kepada Yazid. Ternyata setelah Muawiyah kembali ke Damaskus ada rakyat yang bertanya kepada Husein bin Ali, Abdullah bin Zubeir, Abdullah bin Umar mengapa diam ketika diminta baiat kepada Yazid, kemudian jawaban mereka adalah mereka diam karena ditipu dan diancam akan dibunuh kalau bersuara. (Zainal Abidin, Membentuk Negara Islam, 1955, hal.301-303).

Selanjutnya, tidak ada dinyatakan dalam deklarasi Kemerdekaan Aceh Sumatra yang diproklamirkan oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro tanggal 4 Desember 1976 seperti yang ditulis oleh saudara Agus Hermawan bahwa "rakyat mati berkorban demi dia?, demi GAM ? padahal para petinggi GAM disana enak makan enak tidur, engga kaya pengikutnya yg mati matian membela dia? Kenapa bukan dia ( Hasan Tiro ) yg berkorban demi rakyat? Pejuang Moro dulu berhenti perang setelah dikasih otonomi daerah, kenapa GAM ngotot aja ingin merdeka? Padahal, kekuatan GAM itu apakah bisa menandingi TNI? "

Rakyat Aceh berjuang bukan demi Teungku Muhammad Hasan di Tiro, tetapi rakyat Aceh berjuang untuk membebaskan negeri Aceh dari caplokan Soekarno yang dipertahankan oleh Jenderal Soeharto, Abdurrahman Wahid dan sampai detik sekarang dipertahankan oleh Presiden Megawati.

Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah pemimpin dan proklamator negara Aceh Sumatra pada tanggal 4 Desember 1976 di wilayah kekuasan Negara Aceh Sumatra. Penerus Teungku Muhammad Daud beureueh yang telah dimasukkan kedalam kamp konsentrasi di Jakarta oleh Jenderal Soeharto pada 1978 dalam usia 82 tahun sampai tahun 1984 dalam usia 88 tahun sampai matanya buta dan badannya lumpuh .

Soal sejauh mana kekuatan GAM dalam menghadapi TNI, yang jelas faktanya sampai detik ini, itu TNI belum mampu menghancurkan GAM. Bahkan dari sejak Jenderal Soeharto, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie dan sampai Presiden Megawati sekarang ini. Tetap GAM mampu menghadapi TNI. Dan ini membuktikan bahwa memang GAM dengan kekuatannya yang didukung oleh rakyat Aceh yang sadar dan terbuka dengan sejarah, fakta dan hukum terus makin kuat. Kalau GAM tidak didukung oleh sebagian besar rakyat Aceh, maka dalam waktu singkat GAM telah habis dari negeri Aceh.

Soal perjuangan Moro itu adalah tugas dan usaha bangsa Moro di Pilipina Selatan, tidak ada hubungannya dengan perjuangan rakyat Aceh dalam usaha pembebasan Aceh dari cengkraman Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogyanya.

Nah terakhir, kembalikan semuanya kepada rakyat Aceh, biarkan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro mencapai keinginananya untuk menjadikan Aceh sebagai Negara yang berdaulat kembali sebagaimana sebelum dicaplok oleh Soekarno dengan TNI-nya yang dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden Megawati penerus Soekarno.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Sadan AS (AgusHermawan) KUW" <sadanas@shb.equate.com>
Subject: RE: TIDAK ADA YANG SENANG DAN PUAS TIMBULNYA PERANG ANTARA TNI DENGAN GAM
Date: Wed, 16 Jul 2003 18:15:25 +0300
To: <ahmad_sudirman@hotmail.com>, <padhang-mbulan@egroups.com>, <PPDI@yahoogroups.com>, <oposisi-list@yahoogroups.com>, <mimbarbebas@egroups.com>, <politikmahasiswa@yahoogroups.com>, <kammi-malang@yahoogroups.com>, <fundamentalis@eGroups.com>, <keadilan4all@yahoogroups.com>, <kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com>, <acsa@yahoogroups.com>, <editor@jawapos.co.id>, <habearifin@yahoo.com>, <Lantak@yahoogroups.com>, <mr_dharminta@yahoo.com>

Saudara Ahmad...sekalian aja kita berdiskusi.
Terima kasih atas semua penjelasannya.

Masih banyak yg ingin saya tanyakan pada saudara. Saudara menjelaskan bahwa Soekarno menipu Daud Beureueh, sehingga Daud beureueh bersedia bergabung dengan RI, karena dijanjikan boleh
menjalankan hukum Islam, begitu, kan menurut anda?

Nah sekarang Hasan Tiro berusaha untuk memisahkan Aceh lagi dari RI, karena dulu juga bergabungnya karena ditipu, sehingga sekarang terjadi perang yg berkelanjutan, Apakah ini baik menurut Islam dan menurut anda?

Kalau kita mencontoh apa yg dulu pernah ALI RA lakukan, Hasan Tiro engga usah repot repot bikin GAM. Apalagi sampai mengorbankan rakyat sipil selama ini. Bukankah Ali juga turun sbg Khalifah karena ditipu oleh Amr bin Ash...? Dengan mengatakan kepada utusan dari fihak Ali bahwa lepaskan jabatan Khalifah dan dari fihak Mu'awiyyah akan melepaskan jabatan juga, dan akan dipilih setelah keduanya menanggalkan jabatan Khalifah, tapi utusan dari Mu'awiyyah mengangkat langsung Mu'awiyyah tanpa melalui pemilihan...

Nah ini jelas jelas penipuan, namun Ali dengan lapang dada dia menerima kenyataan, karena dia tak ingin pertumpahan darah sesama muslim terus berlanjut, nah kenapa Hasan Tiro yg datang jauh sesudah Daud Beureueh berusaha membangkitkan kembali pertumpahan darah di ACEH.? Kenapa engga mencotoh ALI ? menerima dengan lapang dada. Tapi maaf, bukan aku maksa Aceh gabung dengan RI.

Dan ada seorang pemimpin yg mesti Hasan Tiro contoh juga....( ini kisahnya ) ...........sudah tahu dia itu kalau ditangkap pasukan pemerintah dia akan dihukum mati, dan pemerintah menggunakan rakyat sipil untuk menangkap dia, dia rela menyerahkan diri karena dia engga sampai hati kalau harus bertempur dengan rakyat yg engga punya dosa, padahal kalau dia mau bertempur, dia pasti akan menang, tapi engga....dia engga mau orang lain mati karena dia, dia berkorban demi orang lain, demi rakyat. Kenapa Hasan Tiro malah sebaliknya? Banyak rakyat mati berkorban demi dia?, demi GAM ? padahal para petinggi GAM disana enak makan enak tidur, engga kaya pengikutnya yg mati matian membela dia? Kenapa bukan dia ( Hasan Tiro ) yg berkorban demi rakyat? Pejuang Moro dulu berhenti perang setelah dikasih otonomi daerah, kenapa GAM ngotot aja ingin merdeka? Padahal, kekuatan GAM itu apakah bisa menandingi TNI? Bukan aku nganggap remeh GAM, tapi dalam perang juga, kekuatan musuh mesti diperhitungkan.

Dan satu lagi pertanyaan saya, dulu waktu Hasan Tiro memproklamirkan kemerdekaan Aceh, dimana tempatnya apakah di ibukota Aceh? Bagaimana reaksi masyarakat saat itu, apakah semua masyarakat Aceh menyambut dengan gembira?

Cobalah anda sadari ya saudara Ahmad....biarlah penderitaan rakyat Aceh cukup sampai disini, biarkan generasi ( anak anak Aceh) nanti yg akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan hidup mereka. Hentikan permusuhan dengan RI, dan semoga generasi Aceh ( Anak cucu kalian) yg akan datang akan lebih merasakan hidup dengan penuh ketenangan.

Tolong jelaskan semua pertanyaan dari saya tadi.

Agus Hermawan

Equate Petrochemical company, Kuwait
sadanas@shb.equate.com
----------