Stockholm, 17 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TEUNGKU HASAN DI TIRO TIDAK BISA DIPISAHKAN DARI RAKYAT DAN NEGERI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS TEUNGKU MUHAMMAD HASAN DI TIRO TIDAK BISA DIPISAHKAN DARI RAKYAT DAN PERJUANGAN PEMBEBASAN NEGERI ACEH DARI CENGKRAMAN SOEKARNO YANG DITERUSKAN OLEH MEGAWATI

"Assalamualaikum wr wb. Terima kasih atas jawaban saudara yang panjang lebar. Paling tidak saya akan berusaha memahami cara berfikir anda. Tapi maaf, walaupun mungkin cara saya berfikir parsial, hampir semua orang aceh yang saya kenal tidak menginginkan berpisah dari negara kesatuan RI. Tetangga sebelah rumah saya, orang Aceh. Asli Aceh. Dia merantau ke Jawa karena oleh pihak GAM keluarganya dicurigai mendukung RI. Sehingga seluruh hartanya di ambil alih oleh mereka. Alhamdulillah sekarang di sudah bisa survive di Jawa dengan membuka rental game play station, bahkan dia bisa menyelamatkan seluruh keluarganya (yang asli aceh 100%) bapaknya, ibunya, adik-adiknya, dari mereka yang saya dengar hanya sisi negatif GAM. Teman kerja saya, dan cukup karib dengan saya, seorang jurnalis,wartawan, di harian kami bekerja juga asli 100 persen berdarah Aceh. Karena dia seorang sarjana sospol, yang tentu saja melek masalah hukum dan politik, dan tentu saja sangat paham yang terjadi di Aceh, karena dia pindah ke Jawa juga baru-baru ini setelah keterima kerja disini, juga bercerita bahwa: semua itu sebenarnya hanya masalah rebutan tongkat kekuasaan. Orang awam seperti saya tentu maklum, jika seandainya Aceh merdeka (bagi saya itu enggak persoalan) tentu saja orang-orang yang memperjuangkannya (GAM) tentu yang akan pegang tongkat kekuasaan....Maaf saya enggak yakin kalo GAM didukung seluruh rakyat nusantara seperti saya untuk merdeka, nantinya....... sekali lagi nantinya........akan betul-betul memperjuangkan hak rakyat Aceh. Saya lebih ragu lagi, kalo rakyat Aceh mayoritas menginginkan berpisah dari Indonesia."
(Ulil, ulil@solopos.net , Thu, 17 Jul 2003 00:26:30 +0700 (JAVT))

"Rakyat Aceh berjuang bukan demi tgk di Tiro. Itu memang benar, dan sosok seperti tgk di Tiro cs memang tidak pantas untuk di perjuangkan rakyat Aceh yang menderita hanya karena ulah tgk di Tiro dan gerombolanya. Rakyat Aceh berjuang untuk membebaskan Aceh. Itu juga betul, rakyat Aceh berjuang bersama-sama dengan aparat keamanan untuk membebaskan Aceh dari gangguan dan teror yang disebar/dilakukan oleh tgk di Tiro dan gerombolanya. Kalau bung Ahmad terus mengulas sejarah yang menurut versi anda benar dan harus dilaksanakan ya,, saya ucapkan selamat kembali kemasa lalu .."
(MT Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Thu, 17 Jul 2003 00:00:12 -0700 (PDT))

"Pak Ahmad apakah GAM yg dipimpin oleh M.Hasan Tiro itu hendak membebaskan Aceh dgn tujuan sebuah negara berdaulat berdasarkan syari'at Islam atau idak ? atau ada kelompok perjuangan lainnya di Aceh ?"
(Dodi Supriadi, dodi@ratelindo.co.id , Thu, 17 Jul 2003 08:05:24 +0700)

Baiklah saudara Ulil, jurnalis dari Harian Umum Solopos dan salah seorang tim pengajar Pesantren Al Mukmin pimpinan Ustad Abu Bakar Basyir, untuk yang kedua kalinya saudara telah memberikan tanggapan dan pikiran saudara terhadap tulisan-tulisan saya.

Memang jelas dan bisa dimengerti kalau saudara Ulil hanya bertanya kepada dua orang yang asli Aceh yang sekarang mereka berdomisili di Jawa, diluar Aceh, kemudian keduanya menyatakan kenegatifannya terhadap perjuangan Gerakan Pembebasan rakyat dan negeri Aceh dari pencaplokan Soekarno yang dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden Megawati, lalu saudara Ulil mengambil sikap mengiyakan sikap mereka berdua itu.

Tetapi tentu saja, kalau mau secara jujur dan terbuka, bahwa jumlah penduduk Aceh menurut daftar statistik untuk tahun 2000 mencapai 3,930,905 jiwa ( http://www.bps.go.id/sector/population/table1.shtml ) dimasukkan kedalam perhitungan kemudian diambil kesimpulan dari seluruh sikap yang ditunjukkan oleh 3,930,905 rakyat penduduk Aceh mengenai perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan negeri Aceh dari caplokan Soekarno yang dipertahankan oleh Presiden Megawati sampai detik ini, maka hasil dari pengumpulan sikap dan pendapat dari 3,930,905 rakyat penduduk Aceh bisa dijadikan dasar kuat untuk dipakai sebagai alasan fakta bahwa rakyat Aceh positif atau negatif terhadap perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan negeri Aceh dari caplokan Soekarno yang dipertahankan oleh Presiden Megawati sampai detik ini. Jadi nantinya tidak ada lagi pernyataan seperti yang dilontarkan oleh saudara Ulil yang menyatakan bahwa "Saya lebih ragu lagi, kalo rakyat Aceh mayoritas menginginkan berpisah dari Indonesia.", karena data dan fakta secara pasti menurut hasil pengumpulan sikap dari seluruh rakyat penduduk Aceh yang berjumlah 3,930,905 jiwa untuk tahun 2000 dalam bentuk kumpulan statistik telah menunjukkan ya/positif atau tidak/negatif, jadi bukan lagi suatu hasil sikap yang masih diragukan.

Adapun, mengenai siapa nantinya yang akan berkuasa di Negeri Aceh, apabila memang negeri Aceh kembali lagi kepada seluruh rakyat Aceh seperti sebelum dicaplok oleh Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogyanya, itu semuanya diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh siapa yang pantas dan berkemampuan serta jujur dalam memimpin rakyat dan negeri Aceh yang bebas dari ikatan Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogyanya.

Sekarang memang bisa berspekulasi dan mengira-ngira siapa yang akan menjadi penguasa di Negeri Aceh yang merdeka dan berdaulat, tetapi kenyataannya nanti seluruh rakyat Aceh yang akan menentukan.

Jadi, tidak perlu dari sekarang sudah menduga-duga akan begini dan akan begitu di Aceh bila sudah bebas merdeka dari ikatan tali penjerat Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogyanya yang dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden Megawati.

Nah selanjutnya, sekarang saya akan temui saudara Matius Dharminta yang juga jurnalis dari Jawa Pos Surabaya, Jawa Timur, Indonesia yang memang selalu aktif dan kadang-kadang agresif memberikan tanggapannya terhadap tulisan-tulisan saya.

Tapi, tentu saja, selama saudara Matius Dharminta ini memakai kacamata hitam tiruan yang dipakai Soekarno dari Negara RI-Jawa-Yogya, maka selama itu yang terlihat dan terbayang didepan matanya adalah daerah-daerah Aceh yang indah yang mengandung minyak dan gas alam yang bisa menghidupi seluruh rakyat Negara RI-Jawa-Yogya termasuk keluarga Matius Dharminta tanpa terlihat apa yang tersembunyi dibalik daerah-daerah Aceh yang indah tersebut menjulur tangan raksasa hitam pekat yang mencengkeram hasil ciptaan dan buatan Soekarno dari Negara RI-Jawa-Yogya-nya.

Karena itu tidak heran kalau saudara Matius Dharminta melambungkan pikirannya bahwa "Rakyat Aceh berjuang bukan demi tgk di Tiro. Itu memang benar, dan sosok seperti tgk di Tiro cs memang tidak pantas untuk di perjuangkan rakyat Aceh yang menderita hanya karena ulah tgk di Tiro dan gerombolanya. Rakyat Aceh berjuang untuk membebaskan Aceh. Itu juga betul, rakyat Aceh berjuang bersama-sama dengan aparat keamanan untuk membebaskan Aceh dari gangguan dan teror yang disebar/dilakukan oleh tgk di Tiro dan gerombolanya."

Pernyataan saudara Matius Dharminta itu timbul karena memang tangan raksasa hitam pekat yang mencengkeram hasil ciptaan dan buatan Soekarno dari Negara RI-Jawa-Yogya-nya terhadap rakyat dan negeri Aceh tidak terlihat dan tepandang oleh saudara Matius Dharminta, tersulap oleh kacamata hitam tiruan yang dipakai Soekarno.

Hanya tentu saja, saudara Matius ini sekedar menyampaikan ucapan yang tidak disadari oleh kesadaran dan keikhlasan keluarlah untaian kata-kata "Kalau bung Ahmad terus mengulas sejarah yang menurut versi anda benar dan harus dilaksanakan ya,, saya ucapkan selamat kembali kemasa lalu ..".

Jelas, Insya Allah Aceh akan kembali lagi seperti masa lalu yang gagah berdiri dengan gemilang dibawah para pemimpin Aceh yang gagah berani menghadapi Portugis, Belanda, Inggris, dan tidak ketinggalan TNI yang diperintahkan perang oleh Soekarno dan Jenderal Soeharto termasuk juga didalamnya yang diperintahkan oleh Abdurrahman Wahid dan sekarang oleh Presiden Megawati.

Selanjutnya saya juga akan temui saudara Dodi Supriadi dari Jakarta, Indonesia, yang mempertanyakan "apakah GAM yg dipimpin oleh M.Hasan Tiro itu hendak membebaskan Aceh dgn tujuan sebuah negara berdaulat berdasarkan syari'at Islam atau idak ? atau ada kelompok perjuangan lainnya di Aceh ?"

Memang dasar perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh adalah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568), tetap diperjuangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573), juga masih tetap dipertahakan oleh Sultan Seri Alam (1576), makin gencar diteruskan oleh Sultan Muda (1604-1607), dan dikobarkan oleh Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636) dalam menghadapi agresi Portugis.

Begitu juga Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh yang telah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 mampu menerobos dan menghadapi agresi Belanda dari sejak tanggal 26 Maret 1873 ketika Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dan pecah perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873. Dilanjutkan dengan perang kedua melawan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten yang berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Tentu saja, nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah ditanamkan oleh Sultan Machmud Syah yang wafat 26 Januari 1874 tidak terputus dan tercecer begitu saja, melainkan diteruskan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Dan memang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 tersebut membangkitkan semangat perang gerilya yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur menghadapi serangan dan gempuran Belanda. Walaupun Teuku Umar gugurr pada tahun 1899 ketika menghadapi pasukan Van Der Dussen di Meulaboh, tetapi Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya menghadapi Belanda. Perang gerilya melawan Belanda ini berlangsung sampai tahun 1904.

Nah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu.

Jadi sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi tentang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang dipakai oleh para pejuang pembebasan rakyat dan negeri Aceh, karena memang sudah tertanam dan tertancap dalam kedalam benak-benak rakyat Aceh, jauh sebelum Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogyanya yang berdasar pancasila berdiri dan mencaplok negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: Ulil ulil@solopos.net
To: ahmad@dataphone.se
Subject: untuk ahwan ahmad sudirman
Date: Thu, 17 Jul 2003 00:26:30 +0700 (JAVT)

Assalamualaikum wr wb.

Terima kasih atas jawaban saudara yang panjang lebar. Paling tidak saya akan berusaha memahami cara berfikir anda. Tapi maaf, walaupun mungkin cara saya berfikir parsial, hampir semua orang aceh yang saya kenal tidak menginginkan berpisah dari negara kesatuan RI. Tetangga sebelah rumah saya, orang Aceh. Asli Aceh. Dia merantau ke Jawa karena oleh pihak GAM keluarganya dicurigai mendukung RI. Sehingga seluruh hartanya di ambil alih oleh mereka. Alhamdulillah sekarang di sudah bisa survive di Jawa dengan membuka rental game play station, bahkan dia bisa menyelamatkan seluruh keluarganya (yang asli aceh 100%) bapaknya, ibunya, adik-adiknya, dari mereka yang saya dengar hanya sisi negatif GAM.

Teman kerja saya, dan cukup karib dengan saya, seorang jurnalis,wartawan, di harian kami bekerja juga asli 100 persen berdarah Aceh. Karena dia seorang sarjana sospol, yang tentu saja melek masalah hukum dan politik, dan tentu saja sangat paham yang terjadi di Aceh, karena dia pindah ke Jawa juga baru-baru ini setelah keterima kerja disini, juga bercerita bahwa: semua itu sebenarnya hanya masalah rebutan tongkat kekuasaan. Orang awam seperti saya tentu maklum, jika seandainya Aceh merdeka (bagi saya itu enggak persoalan) tentu saja orang-orang yang memperjuangkannya (GAM) tentu yang akan pegang tongkat kekuasaan.

Politik adalah politik. Politik itu kotor. Politik itu tidak ada yang benar dan yang salah. Yang ada hanya perang kepentingan. Dan yang paling benar adalah yang menang. Karena dengan kemenangannya tentu dia akan berkuasa dan bisa membalik fakta. Tapi antara fakta sengaja dibalik, atau memang sebetulnya kondisi dari awal seperti itu, wallahu alam bissowab.

Maaf saya enggak yakin kalo GAM didukung seluruh rakyat nusantara seperti saya untuk merdeka, nantinya....... sekali lagi nantinya........akan betul-betul memperjuangkan hak rakyat Aceh. Saya lebih ragu lagi, kalo rakyat Aceh mayoritas menginginkan berpisah dari Indonesia.

Mengenai saya sendiri, bisa saya sampaikan bahwa di samping kerja sebagai jurnalis di harian umum Solopos, saya juga jadi tenaga edukatif di kuliatul mualimin (pondok pesantren almukmin). Anda tentu maklum bagaimana pemerintah memperlakukan ustad senior kami, yaitu yang terhormat ustad Abu Bakar Ba'asyir. Tapi walau kami sakit hati terhadap pemerintah, saya pribadi masih bisa melihat, mana kebijakan pemerintah yang enggak bagus, dan mana yang harus didukung.
Wassalamualaikum wr wb.

Ulil

Solo, Jawa Tengah, Indonesia
ulil@solopos.net
----------

From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Cc: PPDI@yahoogroups.com
Subject: Re: RAKYAT ACEH BERJUANG BUKAN DEMI TEUNGKU HASAN DI TIRO MEMANG BETUL ADANYA
Date: Thu, 17 Jul 2003 00:00:12 -0700 (PDT)

Rakyat Aceh berjuang bukan demi tgk di Tiro. Itu memang benar, dan sosok seperti tgk di Tiro cs memang tidak pantas untuk di perjuangkan rakyat Aceh yang menderita hanya karena ulah tgk di Tiro dan gerombolanya. Rakyat Aceh berjuang untuk membebaskan Aceh. Itu juga betul, rakyat Aceh berjuang bersama-sama dengan aparat keamanan untuk membebaskan Aceh dari gangguan dan teror yang disebar/dilakukan oleh tgk di Tiro dan gerombolanya.

Kalau bung Ahmad terus mengulas sejarah yang menurut versi anda benar dan harus dilaksanakan ya,, saya ucapkan selamat kembali kemasa lalu ..

Salam semuanya

MT Dharminta

Surabaya, Indonesia
mr_dharminta@yahoo.com
----------

From: Dodi Supriadi <dodi@ratelindo.co.id>
To: 'Ahmad Sudirman' <ahmad@dataphone.se>
Subject: RE: RAKYAT ACEH BERJUANG BUKAN DEMI TEUNGKU HASAN DI TIRO TAPI UNTUK MEMBEBASKAN ACEH
Date: Thu, 17 Jul 2003 08:05:24 +0700

Pak Ahmad apakah GAM yg dipimpin oleh M.Hasan Tiro itu hendak membebaskan Aceh dgn tujuan sebuah negara berdaulat berdasarkan syari'at Islam atau idak ? atau ada kelompok perjuangan lainnya di Aceh ?

Dodi Supriadi

Jakarta, Indonesia
dodi@ratelindo.co.id
----------