Stockholm, 19 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

COBA CABUT KEPPRES NO.28/2003 DAN KEPPRES NO.43/2003 LALU BEBASKAN RAKYAT ACEH BERSUARA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BERANIKAH PRESIDEN MEGAWATI CS MENCABUT KEPPRES NO.28/2003 DAN KEPPRES NO.43/2003 LALU MEMBEBASKAN RAKYAT ACEH BERSUARA

"Bung Ahmad terapkan system "tesmak bathok" najan moto melorok ning ora biso ndelok. (kaca mata tempurung kelapa, biar mata melotot tetap tidak bisa melihat), dan memang tidak mau melihat apa yang sebenarnya terjadi walau didepan hidung sekalipun. Tgk di tiro tidak bisa ditipu oleh Mega cs. Memang Megawati cs tidak ada niatan untuk menipu, namun sebaliknya Tgk di Tiro cslah yang menipu/ ngadalin rakyat Aceh. Dan rakyat Aceh sekarang sudah akan akal bulus yang dilakukan oleh Tgk di Tiro cs, ini terbukti dengan digelarnya apel kesetiaan terhadap NKRI oleh puluhan ribu pemuda Aceh dan kecaman untuk menghancurkan terhadap GSA/GAM. Juga dengan pasukan GSA/GAM yang dipimpin seorang panglima yang bernama Muzakir ...Sebelum diberlakukanya operasi militer sering muncul di tv-tv dengan berbagai atribut, mulai seragam loreng, kabaret, dan lainnya, kelihatan sangat gagah dan berwibawa. Tapi sekarang, semenjak operasi militer di berlakukan di Aceh mereka (GSA/GAM) melepas semua atributnya berpencar dan bergerelya sambil sembunyi di balik keteak warga sipil untuk dijadikan tameng hidup, dan bagi warga sipil yang menentang kehendaknya GAM tidak segan-segan menyeksa dan membunuhnya. Pedulikah Ahmad cs yang ada di Swedia itu? tentu tidak karena mereka Tgk di Tiro cs pakai system "tesmak bathok" (kaca mata tempurung kelapa) hingga tidak bisa melihat atau sengaja tidak mau melitah, dengan kata lain pura-pura tidak tahu."
(MT Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Sat, 19 Jul 2003 04:00:49 -0700 (PDT))

Nah sekarang, begini saja untuk saudara Matius Dharminta di Surabaya, Jawa Tengah, Indonesia. Kalau memang saya memakai "tesmak bathok" atau kacamata tempurung kelapa, maka saya berani Seratus Persen bertanding dengan Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, KASAD Jenderal TNI Ryamizard, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, yaitu cabut itu Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kemudian biarkan seluruh rakyat Aceh yang berjumlah 3,930,905 jiwa ( http://www.bps.go.id/sector/population/table1.shtml ) bersuara sebebas-bebasnya, kemudian dengar berapa juta yang meneriakkan BERGABUNG dengan Negara RI-Jawa-Yogya dan berapa juta yang meneriakkan BEBAS dari Negara RI-Jawa-Yogya.

Nah hadiahnya, apabila saya kalah oleh Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, KASAD Jenderal TNI Ryamizard, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, bahwa mayoritas penduduk Aceh yang berjumlah 3,930,905 jiwa menyuarakan dan memilih bergabung dengan Negara RI-Jawa-Yogya, maka saya berani dipenjarakan seumur hidup.

Tetapi, kalau mayoritas penduduk Aceh yang berjumlah 3,930,905 jiwa menyuarakan bebas dari Negara RI-Jawa-Yogya, maka hadiahnya Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, KASAD Jenderal TNI Ryamizard, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong harus membebaskan Aceh dan dikembalikan lagi kepada yang berhak yaitu seluruh Rakyat Aceh.

Nah inilah tantangan saya kepada Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, KASAD Jenderal TNI Ryamizard, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong.

Jadi kalau mereka yang oleh saudara Matius Dharminta ditulis "apel kesetiaan terhadap NKRI oleh puluhan ribu pemuda Aceh dan kecaman untuk menghancurkan terhadap GSA/GAM" itu disebabkan karena mereka berada dibawah payung Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Dimana para pemuda yang ribuah itu tidak merasa bebas menyuarakan, kecuali bersuara seperti burung kaka tua yang mengikuti perintah Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, KASAD Jenderal TNI Ryamizard, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong.

Kemudian kalau saudara Matius Dharminta menyatakan bahwa "Sebelum diberlakukanya operasi militer sering muncul di tv-tv dengan berbagai atribut, mulai seragam loreng, kabaret, dan lainnya, kelihatan sangat gagah dan berwibawa. Tapi sekarang, semenjak operasi militer di berlakukan di Aceh mereka (GSA/GAM) melepas semua atributnya berpencar dan bergerelya sambil sembunyi di balik keteak warga sipil untuk dijadikan tameng hidup"

Memang, karena berdasarkan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, siapa saja yang melakukan pelanggaran menurut kedua dasar hukum tersebut, maka akan ditindak tanpa pandang bulu.

Ya, jelas, karena setelah Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, KASAD Jenderal TNI Ryamizard, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong dipukul oleh pihak GAM pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro dalam meja perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003, maka pada tanggal 19 Mei 2003 langsung menerapkan hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang didalamnya mengandung salat satu cambuk "(1)Penguasa Darurat Militer berhak mengambil kekuasaan-kekuasaan yang mengenai ketertiban dan keamanan umum. (2)Badan-badan Pemerintahan sipil serta pegawai-pegawai dan orang-orang yang diperbantukan kepadanya wajib tunduk kepada perintah-perintah Penguasa Darurat Militer kecuali badan atau pegawai/orang yang diperbantukan yang dibebaskan dari kewajiban itu oleh Presiden." (Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 1959 Tentang Pencabutan Undang-Undang No. 74 Tahun 1957 Dan Penetapan Keadaan Darurat Militer, Bab III Tentang Keadaan Darurat Militer, Pasal 24). Baca tulisan saya tentang "[030715] Megawati harus menegakkan keadilan di Aceh berdasarkan fakta, hukum dan sejarah Aceh " (
http://www.dataphone.se/~ahmad/030715.htm )

Jadi sekarang, mana ada lagi yang berani tampil dengan bebas dalam kawasan daerah Darurat Militer ini, kecuali kalau memang mereka yang berani tampil itu mampu menghadapi tangan-tangan militer dengan pentungan "(1)Penguasa Darurat Militer berhak menangkap orang dan menahannya selama-lamanya dua puluh hari. Tiap-tiap penahanan yang dilakukan oleh Penguasa Darurat Militer Daerah harus dilaporkan kepada Penguasa Darurat Militer Pusat dalam waktu empat belas hari."( Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 1959 Tentang Pencabutan Undang-Undang No. 74 Tahun 1957 Dan Penetapan Keadaan Darurat Militer, Bab III Tentang Keadaan Darurat Militer, Pasal 32).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Cc: PPDI@yahoogroups.com
Subject: Re: TEUNGKU HASAN DI TIRO TIDAK BISA DITIPU OLEH MEGAWATI CS RAKYAT ACEH SADAR DITIPU TIRO CS
Date: Sat, 19 Jul 2003 04:00:49 -0700 (PDT)

Bung Ahmad terapkan system "tesmak bathok" najan moto melorok ning ora biso ndelok. (kaca mata tempurung kelapa, biar mata melotot tetap tidak bisa melihat), dan memang tidak mau melihat apa yang sebenarnya terjadi walau didepan hidung sekalipun. Tgk di tiro tidak bisa ditipu oleh Mega cs. Memang Megawati cs tidak ada niatan untuk menipu, namun sebaliknya Tgk di Tiro cslah yang menipu/ ngadalin rakyat Aceh. Dan rakyat Aceh sekarang sudah akan akal bulus yang dilakukan oleh Tgk di Tiro cs, ini terbukti dengan digelarnya apel kesetiaan terhadap NKRI oleh puluhan ribu pemuda Aceh dan kecaman untuk menghancurkan terhadap GSA/GAM. Juga dengan pasukan GSA/GAM yang dipimpin seorang panglima yang bernama Muzakir ...

Sebelum diberlakukanya operasi militer sering muncul di tv-tv dengan berbagai atribut, mulai seragam loreng, kabaret, dan lainnya, kelihatan sangat gagah dan berwibawa. Tapi sekarang, semenjak operasi militer di berlakukan di Aceh mereka (GSA/GAM) melepas semua atributnya berpencar dan bergerelya sambil sembunyi di balik keteak warga sipil untuk dijadikan tameng hidup, dan bagi warga sipil yang menentang kehendaknya GAM tidak segan-segan menyeksa dan membunuhnya.

Pedulikah Ahmad cs yang ada di Swedia itu? tentu tidak karena mereka Tgk di Tiro cs pakai system "tesmak bathok" (kaca mata tempurung kelapa) hingga tidak bisa melihat atau sengaja tidak mau melitah, dengan kata lain pura-pura tidak tahu.

MT Dharminta

Surabaya, Indonesia
mr_dharminta@yahoo.com
----------