Stockholm, 22 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DUKUNGAN SEBAGIAN TOKOH ACEH PADA SOEKARNO TIDAK JADI DASAR HUKUM BERSATUNYA ACEH DENGAN RI-JAWA-YOGYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS DUKUNGAN SEBAGIAN TOKOH ACEH PADA SOEKARNO TIDAK BISA DIJADIKAN DASAR HUKUM BERSATUNYA ACEH DENGAN RI-JAWA-YOGYA

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Saudaraku kelihatannya saudara tidak pernah membaca sejarah Indonesia, bagaimana dulu para Indatu seperti teuku Nyak Arief, Teungku Haji Mohammad Daut Beureueh, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri dll kalau saya sebutkan mungkin bisa dua halaman. Soekarno sudah tidak ada kenapa saudaraku sebut2, berarti saudara hanya mengenal Presiden RI pertama saja hal ini sunggu sangat disayangkan, untuk itu kalau memang saudaraku bangsa Indonesia yang baik silakan datang ke Aceh dan lihat sendiri saat ini Merah putih-lah yang nampak di Bumi Rencong dan seluruh negara Republik Indonesia. Kalau saya bohong lihat siapa nanti yang lidahnya terjulur kedepan karena kehendak Allah SWT, untuk itu janganlah saudaraku menuduh sebelum saudaraku melihat dengan MATA KEPALA SENDIRI. Perlu saudara ketahui bahwa FITNAH itu lebih kejam daripada PEMBUNUHAN!!!!? Akhirnya semoga Allah SWT menuntun anda kejalan yang benar .... Amin, amin ya robbal alamin." (Gajah Iskandar, pdmdnad@telkom.net , Tue, 22 Jul 2003 11:44:13 +0700).

"Bismillaahirrahmaanirrahiim.Assalamu'alaikum wr wbr, Kalau saudara minta Keppres 28 dan 43 dicabut mintalah ke seluruh bangsa Indonesia. Perlu anda ketahui kami disini bukan ingin menyengsarakan rakyat Aceh, tetapi kami disini ingin melindungi rakyat Aceh dari kebiadaban dan kemunafikan Separatis Hasan Tiro dan juga seperti anda yang enak2 di Swedia bermandikan darah MILISI anda di Aceh, COBA renungkan kembali bila anda masih mencintai rakyat Aceh datanglah kemari dan jangan hanya teriak2 dinegeri orang. Kalau melihat nama saudara sepertinya anda bangsa Indonesia Apalagi Sudirman adalah nama pahlawan Indonesia atau juga disebut bapak TNI (Jenderal Sudirman) Tapi ada alasan apa saudara tidak setuju dengan NKRI???? kalau boleh alasan apa sehingga saudara tidak setuju dengan NKRI!!!. Mohon segera di respon Terimakasih
Wassalamu'alaikum Waramahtullahi wabarakatuh.".
(Gajah Iskandar, pdmdnad@telkom.net , Tue, 22 Jul 2003 12:09:00 +0700).

Untuk saudara Gajah Iskandar saya mengucapkan terimakasih atas tanggapan dan ulasan saudara terhadap tulisan-tulisan saya. Saudara Gajah Iskandar yang dari alamat email-nya telkom.net di Jakarta telah mengirimkan dua email yang Isnya Allah akan saya usahakan untuk menjawabnya, walaupun sebenarnya sebagian besar telah saya jawab dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini terhadap para penanya sebelum saudara Gajah Iskandar.

Tentu bagi saya, tidaklah menjadi suatu masalah kalau menjawab dan mengulangnya kembali. Semoga saja, para pembaca tulisan-tulisan saya yang setia diseluruh dunia tidak menjadi bosan atas pengulangan-ulangan jawaban saya ini.

Baiklah saudara Gajah Iskandar.

Memang seperti yang saudara Gajah Iskandar tulis bahwa "para Indatu seperti teuku Nyak Arief, Teungku Haji Mohammad Daut Beureueh, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri dll kalau saya sebutkan mungkin bisa dua halaman" telah menyatakan secara bersama bahwa "mempertahankan Republik Indonesia adalah perjuangan suci dan diyakini sebagai Jihad fisabilillah," yang dinyatakan pada awal-awal kemerdekaaan RI, sekitar tangal 15 Oktober 1945 (Informasi PDMD-NAD, http://pdmd-nad.info/index.php?fuseaction=news.view&newsID=180720032240840&chanID=4&Lang=ID
, Jum'at, 18/07/2003 22:35:24 WIB)).

Tetapi, perlu diingat, seperti yang telah saya tulis juga dalam tulisan "[030720] Tidak benar Aceh bersatu dengan Negara RI-Jawa-Yogya Soekarno " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030720.htm ) bahwa, pengakuan para Indatu Aceh tersebut diatas tidak menjadi suatu bukti secara de jure dan de facto bahwa negeri Aceh bersatu dengan Negara RI pada waktu itu (sebelum perundingan Linggajati dan Renville)

Memang dari sejak diproklamasikan RI oleh Soekarno, Soekarno mengklaim bahwa wilayah kekuasaan RI mencakup Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Sehingga diangkatlah 8 orang Gubernur untuk kedelapan propinsi yang diklaim Soekarno itu, salah satu Gubernur yang diangkat Soekarno itu adalah Mr. Teuku Mohammad Hassan untuk propinsi Sumatra. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.30)

Tetapi, apa yang terjadi, setelah dilakukan perundingan Linggajati pada tanggal 25 Maret 1947 yang ditandatangani oleh pihak RI ditandatangani oleh Sutan Sjahrir, Mr.Moh.Roem, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, dan A.K.Gani, sedangkan dari pihak Belanda ditandatangani oleh Prof.Schermerhorn, Dr.van Mook, dan van Poll di Istana Rijswijk, sekarang Istana Merdeka, Jakarta. Dimana dalam isi perjanjian Linggajati itu dinyatakan bahwa, Belanda mengakui secara de pacto RI dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. RI dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.119,138)

Selanjutnya, ketika RI dibawah pimpinana Soekarno Cs dipukul mundur dan makin terdesak serta terkurung oleh pasukan Van Mook, maka diajukanlah perundingan baru di kapal pengangkut pasukan Angkatan Laut Amerika USS Renville yang dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 1948, yang sebagian isinya mengakui secara de facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja. Dimana perjanjian Renville ini ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim, Dr.Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.155,163)

Nah sekarang ternyata, apa yang terjadi dari sejak teuku Nyak Arief, Teungku Haji Mohammad Daut Beureueh, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri dll telah menyatakan secara bersama bahwa "mempertahankan Republik Indonesia adalah perjuangan suci dan diyakini sebagai Jihad fisabilillah," yang dinyatakan pada awal-awal kemerdekaaan RI, sekitar tangal 15 Oktober 1945, sampai tanggal 17 Januari 1948 ketika perjanjian Renville di kapal pengangkut pasukan Angkatan Laut Amerika USS Renville yang ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim, Dr.Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, dimana sebagian isinya mengakui secara de facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja.(30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.155,163), ternyata yang dinamakan RI atau Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno tanggal 17 Agustus 1945 hanyalah mempunyai wilayah kekuasannya di Jawa Tengah di sekitar daerah Yogyakarta.

Nah ternyata, setelah tanggal 17 Januari 1948, yang namanya RI yang saya panggil selanjutnya menjadi RI-Jawa-Yogya, berdasarkan secara de jure dan facto, wilayah kekuasaan RI yang diklaim sejak semula oleh Soekarno sejak dibentuknya Kabinet pertama Oleh Soekarno yaitu Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan, sekarang setelah menandatangani perjanjian Renville, ternyata wilayah kekuasaan RI dibawah Soekarno hanyalah sekitar Yogyakarta saja.

Karena itu secara hukum dan fakta, pengklaiman negeri Aceh masuk ke wilayah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya (panggilan saya) adalah tidak benar dan penuh kebohongan. Maka dari itu, saya berani mengatakan baik kepada saudara Gajah Iskandar ataupun kepada pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam ataupun kepada pihak Penguasa Darurat Militer Pusat dibawah pimpinan Presiden Megawati Cs adalah suatu kebohongan, kepalsuan dan penipuan kepada seluruh rakyat di Nusantara pada umumnya dan kepada seluruh rakyat Aceh pada khususnya. Maka pemalsuan sejarah inilah yang harus segera dicabut dan dihilangkan dari catatan sejarah Aceh yang sebenarnya.

Nah inilah menurut sejarah negeri Aceh dan Negara RI-Jawa-Yogya, kalau memang saudara Gajah Iskandar masih belum membaca dan mengulangnya secara teliti.

Kita harus berpijak kepada sejarah, fakta dan dasar hukum yang mendasari ketika sejarah tersebut berlangsung.

Karena itu kalau saya katakan bahwa apa yang dimaklumatkan atau dinyatakan atau diucapkan oleh teuku Nyak Arief, Teungku Haji Mohammad Daut Beureueh, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri dll yang ditulis oleh saudara Gajah Iskandar sebelum Soekarno Cs mengadakan perjanjian Renville dan diakui kedaulatan RIS oleh pihak Belanda tanggal 27 Desember 1949, tidak bisa dijadikan sebagai dasar fakta secara de jure dan de facto bahwa negeri Aceh bersatu dengan Negara Ri-Jawa-Yogya.

Apalagi setelah Teungku Muhammad Daud beureueh, salah seorang tokoh ulama besar dan pemimpin umat Islam Aceh yang sebelumnya menyetujui kemerdekaan RI Soekarno, memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953, yang sebagian isinya menyatakan bahwa "Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam." "[030613] Soekarno memang menipu Teungku Daud Beureueh " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030613.htm )

Jadi, jelaslah sudah, bahwa menurut sejarah, fakta dan hukum berdirinya Negara RI-Jawa-Yogya yang sekarang lebih dikenal dengan nama NKRI dan juga mengenai Negeri Aceh, memang benar bahwa negeri Aceh tidak bersatu dengan Negara RI-Jawa-Yogya atau NKRI panggilan sekarang setelah RIS dilebur pada tanggal 15 Agustus 1950.

Nah selanjutnya, sebagaimana yang telah saya tulis dalam tulisan sebelum ini bahwa saya meminta pencabutan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan setelah dicabut, memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh yang berjumlah 3,930,905 jiwa ( http://www.bps.go.id/sector/population/table1.shtml ) untuk memberikan suara dan sikapnya apakah ingin bergabung dengan Negara RI-Jawa-Yogya atau ingin bebas dari Negara RI-Jawa-Yogya.

Mengapa saya tidak meminta kepada seluruh rakyat di Nusantara atau yang dinamakan NKRI, karena secara facta, hukum dan sejarah, negeri Aceh bukan milik seluruh rakyat Indonesia, negeri Aceh dicaplok oleh Soekarno cs dengan Negara RI-Jawa-Yogya-nya, seperti yang telah saya jelaskan diatas. Dan bisa dibaca lagi dalam tulisan "[030713] Benar Soekarno mencaplok Aceh dipertahankan sekarang oleh Megawati " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030713.htm )

Adapun kalau saudara Gajah Iskandar menyinggung nama saya Ahmad Sudirman, kemudian nama Sudirman dihubungkan dengan adalah nama pahlawan Indonesia atau juga disebut bapak TNI (Jenderal Sudirman), sehingga kalau diambil logikanya bahwa Ahmad Sudirman juga harus menyokong penuh Negara RI-Jawa-Yogya sebagaimana Jenderal TNI Sudirman, maka itu tidak benar.

Mengenai alasan saya tidak setuju dengan NKRI adalah karena Soekarno yang telah melebur 16 Negara bagian RIS masuk kedalam Negara RI-Jawa-Yogya pada tanggal 15 Agustus 1950 ternyata selanjutnya menjalankan agresi militer yang ditunjang oleh TNI terhadap negeri-negeri lainnya yang diklaim sebagai wilayah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya. Silahkan baca tulisan saya "[030614] Soekarno dengan kereta roda Negara RI-Jawa-Yogya menjadi agresor baru setelah Van Mook " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030614.htm )

Nah sekarang, untuk mengembalikan lagi negeri Aceh kepada rakyat Aceh yang telah dimasukkan secara militer oleh Soekarno dengan TNI-nya dan dipertahankan sampai sekarang oleh Presiden Megawati Cs, maka salah satunya saya mengajukan Cabut Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan setelah dicabut, beri kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh yang berjumlah 3,930,905 jiwa ( http://www.bps.go.id/sector/population/table1.shtml ) untuk menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan", guna menyalurkan dan memberikan suara dan sikapnya apakah ingin bergabung dengan Negara RI-Jawa-Yogya atau ingin bebas dari Negara RI-Jawa-Yogya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Gajah Iskandar" <pdmdnad@telkom.net>
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Subject: SUDAHKAH ANDA LIHAT TANAH RENCONG.
Date: Tue, 22 Jul 2003 11:44:13 +0700

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saudaraku kelihatannya saudara tidak pernah membaca sejarah Indonesia, bagaimana dulu para Indatu seperti teuku Nyak Arief, Teungku Haji Mohammad Daut Beureueh, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri dll kalau saya sebutkan mungkin bisa dua halaman. Soekarno sudah tidak ada kenapa saudaraku sebut2, berarti saudara hanya mengenal Presiden RI pertama saja hal ini sunggu sangat disayangkan, untuk itu kalau memang saudaraku bangsa Indonesia yang baik silakan datang ke Aceh dan lihat sendiri saat ini Merah putih-lah yang nampak di Bumi Rencong dan seluruh negara Republik Indonesia. Kalau saya bohong lihat siapa nanti yang lidahnya terjulur kedepan karena kehendak Allah SWT, untuk itu janganlah saudaraku menuduh sebelum saudaraku melihat dengan MATA KEPALA SENDIRI. Perlu saudara ketahui bahwa FITNAH itu lebih kejam daripada PEMBUNUHAN!!!!?

Akhirnya semoga Allah SWT menuntun anda kejalan yang benar .... Amin, amin ya robbal alamin.

Gajah Iskandar

Jakarta, Indonesia
pdmdnad@telkom.net
----------

From: "Gajah Iskandar" <pdmdnad@telkom.net>
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Subject: Re: COBA CABUT KEPPRES NO.28/2003 DAN KEPPRES NO.43/2003 LALU BEBASKAN RAKYAT ACEH BERSUARA
Date: Tue, 22 Jul 2003 12:09:00 +0700

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr,

Kalau saudara minta Keppres 28 dan 43 dicabut mintalah ke seluruh bangsa Indonesia. Perlu anda ketahui kami disini bukan ingin menyengsarakan rakyat Aceh, tetapi kami disini ingin melindungi rakyat Aceh dari kebiadaban dan kemunafikan Separatis Hasan Tiro dan juga seperti anda yang enak2 di Swedia bermandikan darah MILISI anda di Aceh, COBA renungkan kembali bila anda masih mencintai rakyat Aceh datanglah kemari dan jangan hanya teriak2 dinegeri orang. Kalau melihat nama saudara sepertinya anda bangsa Indonesia Apalagi Sudirman adalah nama pahlawan Indonesia atau juga disebut bapak TNI (Jenderal Sudirman) Tapi ada alasan apa saudara tidak setuju dengan NKRI???? kalau boleh alasan apa sehingga saudara tidak setuju dengan NKRI!!!.

Mohon segera di respon Terimakasih
Wassalamu'alaikum Waramahtullahi wabarakatuh.

Gajah Iskandar

Jakarta, Indonesia
pdmdnad@telkom.net
----------