Stockholm, 24 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SUTARTO GUNAKAN SALAH SATU TAKTIK PUKUL ACEH PAKAI SUNDA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PANGLIMA TNI JENDERAL SUTARTO GUNAKAN SALAH SATU TAKTIK UNTUK PUKUL ACEH PAKAI SUNDA

Memang kelihatan sekali Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dalam menjalankan Operasi Militer di Aceh menggunakan salah satu taktik dari sekian banyak taktik yang dipakai yaitu taktik pukul Aceh dengan Sunda.

Coba perhatikan ketika Presiden Megawati pada tanggal 18 Mei 2003 di Jakarta menetapkan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan, 9 hari sebelumnya, tanggal 9 Mei 2003, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto meneken surat keputusan yang menetapkan Brigjen TNI Endang Suwarya sebagai Panglima Kodam Iskandar Muda yang baru menggantikan Mayjen TNI Djali Yusuf. Dimana menjelang pelantikan Pangdam Iskandar Muda baru, Brigjen Inf Endang Suwarya dilantik kenaikan pangkat menjadi Mayjen. Pada tanggal 13 Mei 2003 KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu memimpin upacara serah terima jabatan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda dari Mayjen M. Djali Yusuf kepada Mayjen Endang Suwarya.

Nah sekarang lihat, memang Mayjen TNI Djali Yusuf akan pensiun bulan September 2003, tetapi, digantikan oleh Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda, kelahiran Bandung, Ibu Kota bekas Negara Pasundan.

Ini memang salah satu taktik yang dipakai oleh Markas Besar TNI dibawah pimpinan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto untuk menjalankan operasi militer dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Aceh adalah dengan menggunakan tangan Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda.

Memang, bisa juga dijadikan salah satu alasan lain bahwa Mayjen TNI Endang Suwarya sebelum dilantik menjadi Pangdam Iskandar Muda baru pernah dari sejak bulan April 2001 menjabat sebagai Komandan Korem 012/Teuku Umar dan merangkap jabatan sebagai Komandan Koordinator Pelaksanaan Operasi (Kolakops) TNI sektor-B di Aceh sampai bulan Maret 2002. Karena dari bulan Maret 2002 sampai bulan Februari 2003 dipanggil lagi ke pusat untuk menjabat sebagai Wakil Asisten Operasi (Waasops) KSAD. Kemudian dari bulan Februari 2003 dikirim lagi ke Aceh menjabat sebagai Kasdam Iskandar Muda dengan pangkat Brigjen. Terakhir dari sejak ditetapkan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada tanggal 9 Mei 2003 dan dilantik pada tanggal 13 Mei 2003 dengan dianaikkan pangkat dari Brigjen menjadi Mayjen, Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda ini siap untuk menjalankan aksi militer di wilayah Aceh dengan ditunjang oleh dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Tetapi, mengapa saya katakan bahwa Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto untuk menjalankan operasi militer dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Aceh adalah dengan menggunakan tangan Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda.

Karena, memang jelas, kalau hanya memakai alasan bahwa Mayjen TNI Endang Suwarya pernah bertugas sebelumnya di Aceh, itu menurut saya belum cukup pengalaman di Aceh. Mayjen TNI Endang Suwarya bertugas di Aceh hanya 14 bulan saja. Mana cukup 14 bulan dijadikan sebagai alasan bahwa Mayjen TNI Endang Suwarya telah bertugas lama di Aceh dan punya pengalaman cukup di Aceh untuk menjalankan tugas yang cukup berbahaya dan penuh tanggung jawab serta akan menelan banyak sekali korban, baik korban jiwa dari rakyat sipil maupun dari pihak GAM dengan TNA-nya.

Nah sekarang, mengapa Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto memilih Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda untuk menjabat sebagai Panglima Kodam Iskandar Muda yang baru menggantikan Mayjen TNI Djali Yusuf asal asli Aceh yang diangkat menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda pada 5 Februari 2002.

Karena, memang Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang didukung oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu asal Palembang Ibu Kota bekas Negara Sumatra Selatan, dalam menjalankan operasi militer dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Aceh tidak ingin dipimpin oleh orang asli Aceh, karena dianggap tidak mungkin seratus persen Mayjen TNI Djali Yusuf asal asli Aceh akan sanggup membunuh ratusan bahkan ribuan korban jiwa baik dari pihak rakyat sipil Aceh ataupun pihak GAM dengan TNA-nya.

Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda memang dianggap oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang didukung oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu sebagai seorang yang cocok dan sesuai, dan tentu saja operasi militer militer dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Aceh diharapkan akan mencapai sasaran 100 persen. Apalagi Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda telah memberikan komentarnya sebelum diangkat menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda yaitu ketika masih menjabat sebagai Kasdam Iskandar Muda: "Nggak ada perubahan sikap GAM. Brengsek!". Begitu juga setelah diangkat menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda menampilkan komentarnya lagi: "Semua yang dikatakan GAM adalah bohong... Penguasa Darurat Militer akan melakukan pembatasan-pembatasan dalam hal peliputan..." ( http://www.tempo.co.id/harian/profil/prof-endangsuwarya.html )

Bukan hanya Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda yang diangkat sebagai menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda saja, melainkan juga pembantu pelaksana lapangan diangkat Brigjen TNI Bambang Darmono asal Jawa sebagai Panglima Komando Operasi.

Nah terlihat sudah, ini bukan suatu provokasi, melainkan suatu kenyataan dan bukti yang jelas dan terang bahwa Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto asal Jawa yang didukung oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu asal Palembang mengangkat Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda sebagai menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda, dan Brigjen TNI Bambang Darmono asal Jawa sebagai Panglima Komando Operasi telah untuk menjalankan operasi militer dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Aceh agar supaya pihak ASNLF/GAM dan rakyat Aceh yang menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan" bisa ditumpas.

Hanya kemudian apa yang terjadi setelah hampir dua bulan lebih dari sejak Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan dijalankan, ternyata hasilnya sudah terlihat oleh Panglima Kodam Iskandar Muda sebagai Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda ini, sehingga keluarlah komentarnya bahwa "Tidak mungkin menghilangkan idiologi GAM dari masyarakat, bila masyarakat masih dalam kondisi miskin dan ketidak pastian. Disuatu sisi operasi pemulihan keamanan harus dituntaskan disisi lain yang mendasar adalah menuntaskan masalah masyarakat miskin. Kalau masyarakat miskin bisa teratasi dengan diberikan penghidupan yang layak, maka pengaruh yang berkaiatan dengan pemberontakkan GAM mudah dituntaskan."
( http://pdmd-nad.info/index.php?fuseaction=news.view&newsID=230720031717127&chanID=4&Lang=ID )

Nah disinilah, saya melihat dan memperhatikan bahwa memang benar Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya asal Sunda ini tidak cukup mempunyai pengalaman dan . pengetahuan tentang rakyat Aceh dan perjuangan ASNLF/GAM. Mengapa ?

Karena, sebenarnya yang dinamakan idiologi GAM oleh Penguasa Daerah Militer Darurat Mayjen TNI Endang Suwarya adalah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu.
"[030717] Teungku Hasan di Tiro tidak bisa dipisahkan dari rakyat dan negeri Aceh " (
http://www.dataphone.se/~ahmad/030717.htm )

Bagi rakyat Aceh dan perjuangan ASNLF/GAM yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah bukan karena masalah kemiskinan atau masalah sosial sebagai sasaran dan arah perjuangan, melainkan menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan"

Dan hal inilah yang tidak dipahami dan tidak dimengerti oleh Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya, karena memang Mayjen TNI Endang Suwarya tidak punya cukup pengalaman dan pengetahuan mengenai rakyat Aceh dan perjuangan ASNLF/GAM dibawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: Endang Suwarya <esuwarya@yahoo.com>
To: PPDI@yahoogroups.com
Delivery to: ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: «PPDi» : Tak Munngkin Hilangkan Idiologi GAM Bila Rakyat Masih Miskin
Date: Wed, 23 Jul 2003 07:21:52 -0700 (PDT)

Rabu, 23/07/2003 17:15:19 WIB
Endang Suwarya: Tak Munngkin Hilangkan Idiologi GAM Bila Rakyat Masih Miskin

Banda Aceh, (lin) - Tidak mungkin menghilangkan idiologi GAM dari masyarakat, bila masyarakat masih dalam kondisi miskin dan ketidak pastian. Disuatu sisi operasi pemulihan keamanan harus dituntaskan disisi lain yang mendasar adalah menuntaskan masalah masyarakat miskin. Kalau masyarakat miskin bisa teratasi dengan diberikan penghidupan yang layak, maka pengaruh yang berkaiatan dengan pemberontakkan GAM mudah dituntaskan. Hal itu disampaikan oleh PDMD Mayjen Endang Suwarya dalam jumpa pers dengan wartawan di gedung Yudha, Kodam Iskandar Muda, Selasa (22/7) petang.

Endang Suwarya saat memberikan keterangan kepada puluhan wartawan itu didampingi Adi Sasono (mantan Menteri PPKM Kabinet Habibie), Wagub Azwar Abubakar dan Kapolri Irjen Bahrumyah Kasman. Lebih jauh ia menyebutkan, tindakan pemisahan batin rakyat dari pengaruh negatif GAM harus dilakukan secara koperhensif. Sebab, disatu sisi rakyat harus dipisahkan dengan GAM, namun disisi lain realita menunjukkan kemiskinan masih ada di daerah NAD.

Panglima Iskandar Muda juga menjelaskan bahwa, tidak semua daerah di NAD hitam. Banyak daerah yang berkategori putih dan masyarakatnya mempunyai jiwa nasionalisme serta wawasan kebangsaan yang baik.

"Daerah NAD ini tidak semuannya hitam, tidak semuannya dalam kondisi konflik, ada beberepa daerah bahkan merupakan daerah penyangga yang benar - benar putih yang nasionalisme dan wawasan kebangsaannya sangat tinggi."katanya.

Bekaitan dengan operasi terpadu yang digelar di tanah rencong ini ia mengatakan, membangun Aceh yang sedang konflik berarti membangun integritas bangsa Indonesia. Sebagai penguasa PDMD Endang Suwarya menyatakan sangat terbuka siapapun komponen bangsa, lapisan masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi untuk mengentaskan kemiskinan dan membangun Aceh.

Investor Untuk Aceh

Sementara itu pada kesempatan yang sama Adi Sasono menjelaskan, ia membawa rombongan dari Jakarta diantaranya adalah dari kalangan swasta, dunia usaha, perbankan, dan lembaga keuangan yang ingin mencari tau secara langsung keadaan Aceh. Pihaknya berkeinginan menyampaikan kesaksian bahwa situasi Aceh itu tidak seperi bayangan orang Jakarta. Ternyata Aceh tidak bisa dipukul rata. "ada derah yang tidak aman ada daerah yang aman, ada hitan ada putih mungkin ada yang abu - abu dan mungkin ada yang kelabu."katanya.

Ia juga memuji pihak PDMD yang menyadari adanya tingkah laku tidak terpuji dari aparat. Ia menyambut baik PDMD melakukan tindakan korektif yang dilakukan secara terbuka. Ia juga berpendapat bahwa kebebasan pers diperlukan, agar tindakan korektif bisa selalu dilakukan. Kebebasan pers bukan musuh dari operasi keamanan. Menurutnya kebebasan pers justru sahabat dari operasi keamanan, agar pihak PDMD dapat input yang berimbang. Kebebasan pers harus dipelihara untuk kita semua."katanya.

Karena keterbatasan dana pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan, maka pihaknya telah bertekad untuk melakukan langkah - langkah perbaikan ekonomi dari kalangan masyarakat sendiri dan dunia usaha. Pihaknya membawa investor nasional guna mendukung pencapaian pemeberdayaan ekonomi masyarakat Aceh serta menggiring tercapainya tingkat keamanan tertentu agar keamanan yang sudah tercipta bisa dipelihara.

"Kita undang investor nasional saja, sebab kalu dari luar akan bermuatan politis" jelasnya. Sedangkan Wagub Azwar menyebutkan, daerah yang sudah aman dimasuki investor adalah Aceh Tamiang, Singkil dan Sinabang. "well come saja pemerintah daerah menyambut baik rencanan ini"kata Wagub. (liputan Posko II/Tri).

Informasi PDMD-NAD

Aceh, Indonesia
http://pdmd-nad.info

http://pdmd-nad.info/index.php?fuseaction=news.view&newsID=230720031717127&chanID=4&Lang=ID
----------