Stockholm, 28 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

HUKUM, FAKTA, SEJARAH ALAT AMPUH BUKA KEDOK KEPALSUAN SEJARAH BUATAN SOEKARNO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DENGAN MENGGUNAKAN DASAR HUKUM, FAKTA, SEJARAH ALAT AMPUH MEMBUKA KEDOK KEPALSUAN SEJARAH TENTANG ACEH BUATAN SOEKARNO

"Saudara Ahmad Sudirman menguraikan secara panjang lebar dan lengkap tentang Aceh disertai dengan literaturnya sekaligus. Namun kita dalam menguraikan suatu persoalan, termasuk masalah sejarah yang menjadi milik banyak orang, tidak boleh secara parsial atau terpenggal-penggal/terpotong-potong. Apalagi kita melakukan pengkotak-kotakan peran seseorang atau kelompok yang bidang tugas dan tanggung jawabnya berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama. Seperti misalnya pesan politikus Indonesia (diplomasi) dengan angkatan perangnya (bertempur) pada masa melawan penjajahan kembali Belanda. Keharmonisan perjuangan para founding fathers bangsa Indonesia janganlah dikotak-kotak, apalagi dipertentangkan karena akan membuahkan fitnah, yang jelas fitnah diharamkan oleh agama Islam, dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Ini kalau memang anda adalah seorang Muslim, bukan hanya Islam KTP atau pasport yang anda miliki. Dalam mencari kebenaran sejarah kita tidak dapat hanya berpedoman pada satu sumber atau satu buku literatur saja. Apalagi kita seakan-akan dipaksa untuk melihat atau belajar tentang Aceh hanya dari web site saudara Ahmad Sudirman. Iya kalau betul apa yang saudara ditulis. Kalau salah? Tentunya menjadi tanggung jawab saudara Ahmad Sudirman untuk menanggung akibatnya dikemudian hari karena melakukan kebohongan yang berlarut-larut apabila tulisan saudara dipakai oleh seseorang turun temurun. Kalau kita menulis suatu peristiwa sejarah, alangkah baiknya bila kita memakai berbagai macam sumber tulisan atau literatur agar tulisan kita menjadi lebih representatif, integral, dan (mendekati) obyektif Disamping itu, sudah menjadi kesalahan yang umum, sebagai sejarawan atau yang mengaku sejarawan seperti saudara, kita tidak berhak untuk melakukan justifikasi atau penilaian apalagi penghakiman tentang suatu tulisan, karena hal itu merupakan hak pembaca.....Sebagai gambaran saja, "sejarah" sangat ampuh untuk dipakai sarana membangkitkan emosional pembaca maupun orang-orang yang memerima informasi tersebut. Lebih jauh dapat menimbulkan tindakan kontraproduktif dan destruktif massa. Untuk itulah kita harus arif dan bijaksana dalam menulis suatu peristiwa bersejarah.

Kita ingat bagaimana Adolf Hitler menggunakan isu sejarah bangsa Aria untuk mendongkrak "reputasinya" sebagai pemimpin ras Aria. Padahal, konon, Hitler bukanlah termasuk ras Aria Murni, karena hasil campuran Jerman dan Polandia. Masih banyak lagi contohcontoh lainnya. Dan Apakah saudara Ahmad Sudirman yang budiman mau seperti Hitler?
Naudzubilahmindhalik."
(Gajah Iskandar, pdmdnad@telkom.net , Sat, 26 Jul 2003 23:35:30 +0700).

Baiklah, saudara Gajah Iskandar yang ditugaskan ke Aceh oleh Presiden Megawati melalui Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs dan Panglima TNI Jenderal Endriartono untuk melaksanakan dan menjalankan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003

Sebenarnya, sebagian jawaban saya terhadap tanggapan saudara Gajah Iskandar ini telah saya tulis dalam tulisan "[030727] Pemalsuan sejarah yang dipaksakan untuk mengklaim Aceh masuk wilayah RI-Jawa-Yogya " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030727.htm )

Dalam tulisan sekarang ini saya tambahkan beberapa masalah yang belum sempat saya jawab.

Memang, dalam penulisan fakta, sejarah dan hukum yang mendasari ketika berlangsungnya sejarah tentang Aceh ini saya berpedoman bukan hanya kepada hanya satu sumber saja, melainkan dari berbagai macam sumber. Perhatikan saja, berapa banyak sumber yang saya pakai, dari mulai Undang-Undang, Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, buku-buku literatur, sumber-sumber lainnya baik yang ada dalam internet, mapun yang saya kumpulkan secara pribadi hasil kumpulan dari berbagai perpustakaan.

Tentu saja, generasi rakyat RI-Jawa-Yogya dan negeri Aceh sekarang dan mendatang yang akan membuktikan apakah hasil kumpulan, pikiran, pandangan, analisa saya tentang Aceh ini benar, atau hanyalah suatu kebohongan tanpa ditunjang oleh fakta, sejarah dan hukum yang mendasari ketika berlangsungnya sejarah tentang Aceh ini.

Yang jelas, saat sekarang saya berusaha seobjektif mungkin untuk menampilkan semua fakta, sejarah dan hukum yang mendasari ketika berlangsungnya sejarah tentang Aceh ini kepada seluruh rakyat di Nusantara pada umumnya dan seluruh rakyat Aceh pada khususnya. Aapakah mereka akan membenarkan atau menyalahkan, itu semua adalah tergantung kepada masing-masing rakyat.

Tentu saja, saya tidak bermaksud dan bertujuan dengan menampilkan semua fakta, sejarah dan hukum yang mendasari ketika berlangsungnya sejarah tentang Aceh ini kepada seluruh rakyat di Nusantara pada umumnya dan seluruh rakyat Aceh pada khususnya adalah untuk "membangkitkan emosional pembaca maupun orang-orang yang memerima informasi tersebut, sehingga dapat menimbulkan tindakan kontraproduktif dan destruktif massa" seperti yang ditulis oleh saudara Gajah Iskandar.

Melainkan, maksud dan tujuan penampilan semua fakta, sejarah dan hukum yang mendasari ketika berlangsungnya sejarah tentang Aceh ini kepada seluruh rakyat di Nusantara pada umumnya dan seluruh rakyat Aceh pada khususnya adalah agar masalah kemelut negeri Aceh ini bisa diselesaikan berdasarkan kepada akar masalah yang menimbulkan kemelut Aceh ini.

Nah, dengan mengetahui secara jelas, benar dan pasti akar masalah kemelut Aceh inilah, Insya Allah akan bisa diselesaikan dengan sebijaksana mungkin yang memuaskan kedua belah pihak.

Hanya tentu saja, yang menjadi suatu penghalang dan rintangan adalah, apabila seseorang telah mengetahui secara jelas, benar dan pasti akar masalah kemelut Aceh ini, tetapi ia masih tetap saja menututp mata, menyumbat telinga, mengunci hati, maka jelas, sampai kapanpun masalah kemelut Aceh ini tidak akan selesai.

Adapun kalau saudara Gajah Iskandar membangkitkan isu "Adolf Hitler menggunakan isu sejarah bangsa Aria untuk mendongkrak "reputasinya" sebagai pemimpin ras Aria" dan dihubungkan dengan saya yang berusaha untuk menampilkan semua fakta, sejarah dan hukum yang mendasari ketika berlangsungnya sejarah tentang Aceh yang diduduki dan dicaplok Soekarno ini agar seluruh rakyat di Nusantara pada umumnya dan seluruh rakyat di negeri Aceh terbuka pikiran, mata dan hatinya bahwa apa yang telah dijalankan oleh Soekarno dengan kebijaksanaan politik dan keamanannya mengenai Aceh adalah tidak dibenarkan oleh pembukaan UUD 1945, tidak ditunjang oleh fakta, sejarah dan hukum, jelas, itu suatu perbandingan yang sangat jauh.

Terakhir saya serahkan kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Gajah Iskandar" <pdmdnad@telkom.net>
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Subject: Re: KALAU ANDA INGIN BERBUAT BAIK DANSELALU DI JALAN ALLAH JANGAN PENGGAL-PENGGAL ALQURAN, SEJARAH MAUPUN FALSAFAH !!!!!
Date: Sat, 26 Jul 2003 23:35:30 +0700

Bismillahhirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warahmtullahi Wabarakaatuh.

KEBENARAN ADALAH DATANGNYA DARI ALLAH SWT BELAJARLAH SEJARAH SECARA BAIK DAN INTEGRAL

Banyak filsuf yang mengatakan arti penting untuk belajar dari sejarah. Dengan banyak belajar dan sekaligus memahaminya akan menjadikan seseorang menjadi lebih arif dan bijaksana. Dapat menjadikan seseorang berbuat yang lebih baik dan bermanfaat pada waktu yang akan datang dan
agar kita tidak terperosok pada lubang atau petaka yang sama.

Sangat menarik dengan apa yang diuraikan oleh saudara Ahmad Sudirman, nama yang menggabungkan dua orang yang sangat-sangat terkenal. Ahmad adalah panggilan Nabi Muhammad Saw yang memiliki arti terpuji. Sedangkan Sudirman adalah nama pejuang bangsa Indonesia yang
memimpin angkatan perang sehingga mendapat sebutan Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Semoga saudara Ahmad Sudirman memiliki jiwa dan tabiat serta tingkah laku yang mulia sebagaimana kedua tokoh tersebut. Amin.

Saudara Ahmad Sudirman menguraikan secara panjang lebar dan lengkap tentang Aceh disertai dengan literaturnya sekaligus. Namun kita dalam menguraikan suatu persoalan, termasuk masalah sejarah yang menjadi milik banyak orang, tidak boleh secara parsial atau terpenggal-penggal/terpotong-potong. Apalagi kita melakukan pengkotak-kotakan peran seseorang atau kelompok yang bidang tugas dan tanggung jawabnya berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama. Seperti misalnya pesan politikus Indonesia (diplomasi) dengan angkatan perangnya (bertempur) pada masa melawan penjajahan kembali Belanda. Kombinasi kedua perjuangan membuahkan hasil yang sangat signifikan karena akhimya kedaulatan secara de jure dapat dicapai.

Alhasil diplomasi memang mengecewakan sebagian pihak karena secara de jure wilayah Indonesia semakin kecil. Perjanjian demi perjanjian digelar yang hasilnya hanya memberikan nafas segar bagi Belanda untuk melakukan konsolidasi kekuatan dan menyusun infrastrutur pemerintahan bonekanya (federal). Secara de yure memang wilayah Indonesia semakin menyempit tetapi secara de facto perjuangan di seluruh pelosok negeri terus berlanjut dan pemerintahan Gubernur Militer sebagai pengganti pemerintahan Indonesia yang colaps. Seperti halnya peran orang tua anda. Apabila bapak anda bekerja tentu ibu yang mendampingi anda tetapi manakala ibu anda pergi belanja atau ada keperluan keluarga atau keperluan lain yang lama tentu bapak yang akan mendampingi anda. Anda tentunya tidak rela apabila antara kedua orang tua anda dipertentangkan atau dikotak-kotakan, kecuali kalau anda memang anak yang tidak tahu balas budi atau memang anak yang tidak tahu asal-usulnya.

Keharmonisan perjuangan para founding fathers bangsa Indonesia janganlah dikotak-kotak, apalagi dipertentangkan karena akan membuahkan fitnah, yang jelas fitnah diharamkan oleh agama Islam, dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Ini kalau memang anda adalah seorang Muslim, bukan hanya Islam KTP atau pasport yang anda miliki.

Dalam mencari kebenaran sejarah kita tidak dapat hanya berpedoman pada satu sumber atau satu buku literatur saja. Apalagi kita seakan-akan dipaksa untuk melihat atau belajar tentang Aceh hanya dari web site saudara Ahmad Sudirman. Iya kalau betul apa yang saudara ditulis. Kalau salah? Tentunya menjadi tanggung jawab saudara Ahmad Sudirman untuk menanggung akibatnya dikemudian hari karena melakukan kebohongan yang berlarut-larut apabila tulisan saudara dipakai oleh seseorang turun temurun. Kalau kita menulis suatu peristiwa sejarah, alangkah baiknya bila
kita memakai berbagai macam sumber tulisan atau literatur agar tulisan kita menjadi lebih representatif, integral, dan (mendekati) obyektif Disamping itu, sudah menjadi kesalahan yang umum, sebagai sejarawan atau yang mengaku sejarawan seperti saudara, kita tidak berhak untuk
melakukan justifikasi atau penilaian apalagi penghakiman tentang suatu tulisan, karena hal itu merupakan hak pembaca. Kita seharusnya berupaya atau berbuat sebagaimana seorang koki masakan menyajikan makanan kepada pemesan atau tuannya sesuai dengan keahlian kita. Masalah rasa tergantung pada pemesan atau tuannya dan kita tidak dapat untuk memaksa mereka untuk mengatakan enak pada masakan kita atau bagus dan paling benar adalah tulisan kita.

Hal ini yang mungkin kita, para sejarawan atau pemerhati sejarah menjadi lupa dan alangkah baiknya kalau kita berupaya untuk memperbaikinya. Apalagi sekarang adalah era reformasi dan demokrasi, namun hendaknya kita tidak larut dalam eforianya, tetap berpegang pada koridor kebenaran atau obyektifitas. Sebagai gambaran saja, "sejarah" sangat ampuh untuk dipakai sarana membangkitkan emosional pembaca maupun orang-orang yang memerima informasi tersebut.

Lebih jauh dapat menimbulkan tindakan kontraproduktif dan destruktif massa. Untuk itulah kita harus arif dan bijaksana dalam menulis suatu peristiwa bersejarah. Kita ingat bagaimana Adolf Hitler menggunakan isu sejarah bangsa Aria untuk mendongkrak "reputasinya" sebagai pemimpin ras Aria. Padahal, konon, Hitler bukanlah termasuk ras Aria Murni, karena hasil campuran Jerman dan Polandia. Masih banyak lagi contohcontoh lainnya. Dan Apakah saudara Ahmad Sudirman yang budiman mau seperti Hitler?
Naudzubilahmindhalik.

SEBAGAI SESAMA MUSLIM HENDAKNYA KITA SALING MENGINGATKAN.

Wassalam
Seseorang yang mencintai Anda

Gajah Iskandar

Aceh
pdmdnad@telkom.net
----------

CATATAN:
1. Untuk mengetahui teori sejarah silahkan baca (minimal):
a. Ankhersmith : Mengerti Sejarah , 1983
b. Felix Gilbelr dan Stephen R. Graubard, Historical Studies Today, 1972 c. Ronald H. Nash, Ideas of History, 1969
2. Untuk mengetahui Sejarah bangsa Indonesia, termasuk Aceh, silakan baca (minimal):
a. Cindy Adam, Revolt in Paradise, 1965
b. Ulf Sundhausssen, PolitikMiliter Indonesia 1945-1967,1986
c. A.J.F Daulton, Fighting Cock Being History of The 23th Indian Division, 1951
d. Jayanto Kumar Ray, Transfer of Power in Indonesia, 1967 e. Seri Penerbitan Museum Negeri
Aceh, Revolusi Kemerdekaan di Aceh (1945 1949), 1982