Stockholm, 30 Juli 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PERJUANGAN GAM UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI BEBAS DARI PENDUDUKAN RI-JAWA-YOGYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PERJUANGAN GAM MENERUSKAN PERJUANGAN PARA PEJUANG NEGERI ACEH YANG TERDAHULU UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI BEBAS DARI PENDUDUKAN BARU RI-JAWA-YOGYA

"Hampir setiap hari kecuali hari Ahad saya selalu menyempatkan membaca tulisan2 dari Bang Ahmad....terus terang saya kagum dengan referensi yg Bang Ahmad miliki.....oleh karenanya pada saat ini saya mohon kiranya Bang Ahmad meluangkan waktu sedikit untuk menanggapi tulisan (Aceh Terbenam Dalam Kesesatan Sejarah Oleh : Ede Aula). Terima kasih atas kesediaan waktu yg Bang Ahmad berikan. Tabik"
(Teuku Jeumpa , jeumpa@eudoramail.com , Tue, 29 Jul 2003 23:17:47 -1130)

"Kini kebanggaan akan kegemilangan para pejuang rakyat Aceh tersebut seakan akan pudar seiring dengan munculnya pembrontakan GAM, gerakan separatis yang berkeinginan dan bertujuan untuk merdeka serta memisahkan diri dari NKRI. Rakyat Aceh merasa kemunculan pembrontakan GAM telah menyebabkan mereka menderita kepanjangan, karena di samping tidak ada kesesuaian antara perjuangan mereka dengan perjuangan pendahulu mereka, juga karena pembrontakan GAM menjadikan rakyat sebagai umpan dan sekaligus mangsa mereka. Masalahnya, perjuangan Hasan Tiro dan GAM selama ini kalau kita perhatikan tidak ubahnya mirip sepak terjang yang pernah dilakukan oleh para jenderal-jenderal kompeni seperti Kohler, Dem Mein ataupun De Moulin yang pernah ditekuk pahlawan rakyat Aceh seperti Teuku Umar dan Cik Di Tiro pada jaman VOC. Hasan Tiro sendiri adalah tokoh muda GAM yang kemunculannya mendapat pertentangan dan tokoh GAM golongan tua. Pertentangan muncul berkaitan dengan garis perjuangan GAM itu sendiri, golongan tua menghendaki GAM mempertahankan garis perjuangan yang bernafaskan Islam sedangkan Hasan Tiro dari golongan muda menginginkan GAM sebagai organisasi modern yang cenderung sekuler. Hal itu tampak dari perjuangan Hasan Tiro (GAM) yang banyak menyimpang dari Islam, norma serta adat istiadat masyarakat Aceh. Kesadaran akan norma-norma ajaran Agama Islam seharusnya menjadi landasan perjuangan Hasan Tiro, akan tetapi dia memilih lain. Hasan Tiro meninggalkan Islam dalam perjuangannya, karena merasa khawatir akan kesulitan bantuan dan luar negeri/negara-negara barat apabila berkomitmen terhadap Islam. la ketakutan terhadap dunia luar yang menuduhnya sektarian dan fundamentalis apabila menempatkan identitas keislamannya."
(Lettu Sus Ede Aulah, anggota Satgas Sejarah PDMD, Opini Hr.Serambi Indonesia 29 Juli 2003)

Terimakasih Teuku Jeumpa yang telah melampirkan tulisan saudara Lettu Sus Ede Aulah, anggota Satgas Sejarah PDMD, dari Opini Hr.Serambi Indonesia 29 Juli 2003, yang berjudul "Aceh Terbenam Dalam Kesesatan Sejarah"

Setelah saya membaca dan menelaah tulisan saudara Lettu Sus Ede Aulah tersebut, ternyata saudara Lettu Sus Ede Aulah tidak memahami sebenarnya, bagaimana sejarah Soekarno dengan negara RI-Jawa-Yogya dan TNI-nya secara diam-diam telah menelan negeri Aceh dimasukkan kedalam perut Sumatera Utara tanpa mendapat restu, persetujuan, keikhlasan para pemimpin dan seluruh rakyat negeri Aceh.

Silahkan pelajari tulisan "[030728] Soekarno telan Aceh pakai mulut Sumut " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030728.htm ). Dan bagaimana sebenarnya Soekarno dengan TNI-nya telah melancarkan agresi baru terhadap daerah-daerah diluar wilayah kekuasaan bekas Negara/Daerah bagian Republik Indonesia Serikat (RIS). Silahkan baca tulisan "[030713] Benar Soekarno mencaplok Aceh dipertahankan sekarang oleh Megawati " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030713.htm ), juga tulisan "[030720] Tidak benar Aceh bersatu dengan Negara RI-Jawa-Yogya Soekarno" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030720.htm ) dan tulisan "[030722] Dukungan sebagian tokoh Aceh pada Soekarno tidak jadi dasar hukum bersatunya Aceh dengan RI-Jawa-Yogya" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030722b.htm )

Nah, kalau saudara Lettu Sus Ede Aulah memang benar telah mempelajari semua fakta, sejarah dan hukum yang mendasari waktu sejarah itu berlangsung tentang Aceh, maka tidaklah mungkin saudara Lettu Sus Ede Aulah menulis: "perjuangan Hasan Tiro dan GAM selama ini kalau kita perhatikan tidak ubahnya mirip sepak terjang yang pernah dilakukan oleh para jenderal-jenderal kompeni seperti Kohler, Dem Mein ataupun De Moulin yang pernah ditekuk pahlawan rakyat Aceh seperti Teuku Umar dan Cik Di Tiro pada jaman VOC."

Saya melihat dan memperhatikan karena memang ketidak tahuan dan ketidak pahaman tentang sejarah sebenarnya tentang Aceh dan Soekarno inilah yang menyebabkan saudara Lettu Sus Ede Aulah mampu dan berani menuliskan pendapatnya diatas itu.

Jelas, itu tandanya suatu kebodohan dan pemalsuan sejarah perjuangan para pejuang Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh menghadapi Soekarno dengan Negara Pantja Sila-nya atau yang saya namakan Negara RI-Jawa-Yogya. Begitu juga rakyat Aceh dibawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro menghadapi Jenderal TNI Soeharto dengan DOM-nya. Tidak ketinggalan menghadapi BJ Habibie penerus Jenderal Soeharto. Dilanjutkan melawan Abdurrahman Wahid dan sekarang Presiden Megawati. Dimana mereka semuanya itu tetap bertahan melanjutkan kebijaksanaan politik dan pertahanan tentang Aceh dengan cara pendudukan negeri Aceh.

Rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro sampai sekarang sedang menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan".

Itulah yang dituntut oleh rakyat Aceh dibawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro. Suatu tuntutan keadilan dalam rangka menentukan nasib sendiri bagi seluruh rakyat Aceh yang bebas dari pendudukan Negara RI-Jawa-Yogya.

Selanjutnya yang saya perhatikan dari tulisan saudara Lettu Sus Ede Aulah yang tipis pengetahuannya tentang dasar dan perjuangan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah seperti yang ditulisnya: "Pertentangan muncul berkaitan dengan garis perjuangan GAM itu sendiri, golongan tua menghendaki GAM mempertahankan garis perjuangan yang bernafaskan Islam sedangkan Hasan Tiro dari golongan muda menginginkan GAM sebagai organisasi modern yang cenderung sekuler. Hal itu tampak dari perjuangan Hasan Tiro (GAM) yang banyak menyimpang dari Islam, norma serta adat istiadat masyarakat Aceh. Kesadaran akan norma-norma ajaran Agama Islam seharusnya menjadi landasan perjuangan Hasan Tiro, akan tetapi dia memilih lain. Hasan Tiro meninggalkan Islam dalam perjuangannya, karena merasa khawatir akan kesulitan bantuan dan luar negeri/negara-negara barat apabila berkomitmen terhadap Islam. la ketakutan terhadap dunia luar yang menuduhnya sektarian dan fundamentalis apabila menempatkan identitas keislamannya"

Nah sekarang, kalau saudara Lettu Sus Ede Aulah mempelajari dan menghayati apa yang tercantum dalam deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 yang dideklarkan oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro, maka saudara Lettu Sus Ede Aulah tidak akan semudah menuliskan pendapatnya diatas itu.

Dalam tulisan "[030719] Tujuan GAM dan TNA bukan memerangi rakyat Aceh "
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030719c.htm ) telah saya kupas mengenai dasar dan perjuangan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro. Disini saya kutif kembali sebagian isinya:

"Sebenarnya kalau ditelaah dan dipelajari sampai kedalam apa yang dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 itu yang berbunyi :"To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self- determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kepada rakyat di seluruh dunia: Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17).

Sekarang coba perhatikan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)". Dimana dalam kalimat tersebut telah mencakup keseluruhan sejarah dasar perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh adalah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568), tetap diperjuangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573), juga masih tetap dipertahakan oleh Sultan Seri Alam (1576), makin gencar diteruskan oleh Sultan Muda (1604-1607), dan dikobarkan oleh Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636) dalam menghadapi agresi Portugis.

Begitu juga Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh yang telah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 mampu menerobos dan menghadapi agresi Belanda dari sejak tanggal 26 Maret 1873 ketika Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dan pecah perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873. Dilanjutkan dengan perang kedua melawan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten yang berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Tentu saja, nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah ditanamkan oleh Sultan Machmud Syah yang wafat 26 Januari 1874 tidak terputus dan tercecer begitu saja, melainkan diteruskan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Dan memang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 tersebut membangkitkan semangat perang gerilya yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur menghadapi serangan dan gempuran Belanda. Walaupun Teuku Umar gugurr pada tahun 1899 ketika menghadapi pasukan Van Der Dussen di Meulaboh, tetapi Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya menghadapi Belanda. Perang gerilya melawan Belanda ini berlangsung sampai tahun 1904.

Nah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro dalam ungkapan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)".
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030719c.htm )

Nah, dari dasar perjuangan rakyat Aceh yang dideklarkan oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro sudah jelas dan gamblang bahwa nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro.

Oleh sebab itu apa yang ditulis oleh saudara Lettu Sus Ede Aulah: "Hasan Tiro meninggalkan Islam dalam perjuangannya, karena merasa khawatir akan kesulitan bantuan dan luar negeri/negara-negara barat apabila berkomitmen terhadap Islam. la ketakutan terhadap dunia luar yang menuduhnya sektarian dan fundamentalis apabila menempatkan identitas keislamannya", adalah suatu kebohongan dan pemalsuan dari pihak saudara Lettu Sus Ede Aulah.

Sebagian besar pemimpin-pemimpin negara yang pernah mengetahui tentang ASNLF/GAM ini mereka tidak mengatakan bahwa Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah seorang sekularis yang memperjuangankan negara sekular. Justru para pemimpin dunia mengetahui bahwa Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah seorang muslim yang berasal dari negeri Aceh yang seratus persen rakyatnya muslim.

Jadi, sebenarnya, apa yang ditulis oleh saudara Lettu Sus Ede Aulah itu merupakan suatu penyebaran tulisan yang berisikan kebohongan. Saya hampir lebih dari dua puluh tahun mengenal dan bertemu sebagian besar para tokoh dan anggota GAM, mereka adalah tidak seperti yang dikatakan oleh saudara Lettu Sus Ede Aulah. Apakah saudara Lettu Sus Ede Aulah telah bertemu dengan para tokoh dan anggota GAM, sehingga mampu dan berani mengatakan seperti diatas itu?.

Nah selanjutnya, menyinggung masalah perundingan, dimana pernah saya menulis dalam tulisan "[030528] Wirajuda, Yudhoyono, Sutarto dan Ryacudu batalkan perjanjian penghentian permusuhan " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030528.htm ), yang sebagian isinya saya kutif kembali:

Menko PolkamYudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu melihat memang sebenarnya isi dari perjanjian penghentian permusuhan Geneva 09-12-2002 antara PRI dan GAM tidak bisa dilaksanakan dan djalankan dilapangan sebagaimana yang diharapkan. Mereka berempat mengetahui bahwa bukan GAM yang salah melainkan pihak PRI juga melakukan kesalahan dan pelanggaran. Baru perjanjian berjalan 2 bulan beberapa pelanggaran berat telah dilakukan pihak PRI catatatannya dilampirkan dibawah. Dimana kalau kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama masa berlakunya perjanjian penghentian permusuhan Geneva 09-12-2002 antara PRI dan GAM kalau dibicarakan di meja Pertemuan Dewan Bersama (Joint Council Meeting) yang memiliki fungsi untuk memecahkan segala persoalan atau perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan Perjanjian ini, yang tidak dapat diselesaikan oleh Komisi-Komisi dan Struktur-Struktur lainnya yang dibentuk di bawah Perjanjian ini, maka akan terbongkarlah kesalahan-kesalahan yang telah dibuat dan dilanggar oleh pihak PRI.

Nah, daripada kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan PRI selama masa perjanjian penghentian permusuhan dibongkar dimeja Pertemuan Dewan Bersama (Joint Council Meeting), maka pihak PRI menggunakan pisau pemotong perjanjian yang terselubung dalam Pasal 9: Perubahan atau Pemansuhan Perjanjian, yang berisikan butiran bahwa perjanjian ini hanya dapat diubah melalui kesepakatan antara kedua belah pihak dalam Joint Council. Jika salah satu pihak ingin mengakhiri Perjanjian ini secara sepihak, maka mereka diwajibkan untuk membawa persoalan tersebut terlebih dahulu kepada Joint Council dan ikut serta dan mendukung segala upaya yang dilakukan oleh Joint Council untuk menyelesaikan masalah tersebut dalam jangka waktu yang cukup (tidak kurang dari 30 hari). Jika Joint Council tidak sanggup memecahkan persoalan tersebut, maka salah satu pihak berhak untuk menarik diri dari Perjanjian ini.

Yang dijadikan dasar pihak PRI untuk menarik diri dari perjanjian penghentian permusuhan Geneva 09-12-2002 antara PRI dan GAM adalah pertama GAM melakukan taktik penghambatan perjanjian dan yang kedua menuntut "GAM's explicit acceptance of the unitary state of Indonesia, special autonomy as a final solution, and the placement of their weapons".

Jelas, alasan yang dijadikan dasar oleh pihak PRI tidak bisa diterima oleh GAM, karena sebenarnya yang akan dibicarakan dalam Pertemuan Dewan Bersama (Joint Council Meeting) itu adalah memecahkan segala persoalan atau perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan Perjanjian, yang tidak dapat diselesaikan oleh Komisi-Komisi dan Struktur-Struktur lainnya yang dibentuk di bawah Perjanjian penghentian permusuhan Geneva 09-12-2002.

Jadi, jelaslah sudah sebenarnya yang benar-benar ingin menggagalkan perdamaian di Aceh adalah bukan pihak GAM melainkan pihak PRI dengan geng militernya yang disponsori oleh Menko PolkamYudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030528.htm )

Seterusnya dalam tulisan "[030608] Benar Yudhoyono cs, Wirajuda dan Mega gagalkan JCM Tokyo dan kobarkan perang di Aceh" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030608.htm ) saya telah menulis:

"Sehingga seluruh rakyat Aceh dan seluruh rakyat Indonesia terkelabui, dan yang muncul kepermukaan adalah suatu kebohongan dan hasil rekayasa ciptaan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati. Dan tentu saja hampir seluruh rakyat Indonesia menganggap benar apa yang telah dilancarkan oleh pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati dalam bentuk pengobaran perang yang dilandasi oleh sumber hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Padahal sebenarnya kalau kita gali sedikit lebih dalam, ternyata terbukalah bahwa sebenarnya justru dari pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati yang menggagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 itu.
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030608.htm )

Seterusnya saya menyimpulkan dalam tulisan tersebut bahwa "Karena itu sekarang kita sudah bisa menarik gambaran dan kesimpulan yang jelas bahwa sebenarnya pihak Pemerintah RI dibawah komando Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati yang menggagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 yang bertolak belakang dengan apa yang telah disepakati dalam perjanjian Penghentian Permusuhan Rangka Perjanjian Antara Pemerintah Republik Indonesia Dan Gerakan Acheh Merdeka, 9 Desember 2002 di Geneva."

Untuk mengetahui mengapa saya mengambil kesimpulan tersebut, silahkan baca di ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030608.htm ) agar supaya menjadi jelas permasalahannya.

Nah terakhir, bagi saudara Lettu Sus Ede Aulah, sebelum saudara menulis tentang perjuangan rakyat Aceh dibawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan di Tiro, sebaiknya saudara Lettu Sus Ede Aulah mengetahui dahulu semua fakta, sejarah dan hukum yang mendasari waktu berlangsungnya sejarah pendudukan negeri Aceh. Agar supaya saudara Lettu Sus Ede Aulah tidak menulis sejarah palsu tentang Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Teuku Jeumpa" <jeumpa@eudoramail.com>
To: ahmad@dataphone.se
Subject: Mohon tanggapan Bang Ahmad
Date: Tue, 29 Jul 2003 23:17:47 -1130

Assalamu'alaikum kepada Bang Ahmad di Sweden,
Hampir setiap hari kecuali hari Ahad saya selalu menyempatkan membaca tulisan2 dari Bang Ahmad....terus terang saya kagum dengan referensi yg Bang Ahmad miliki.....oleh karenanya pada saat ini saya mohon kiranya Bang Ahmad meluangkan waktu sedikit untuk menanggapi tulisan di bawah ini yang saya reka penulisnya adalah Sdr.Gajah Iskandar juga ( pdmdnad@telkom.net ) atau pun kalau bukan mereka pasti "adik-beradik" kerana sama-sama kaki tangan Indonesia Jawa yg kini berada di Aceh.

Terima kasih atas kesediaan waktu yg Bang Ahmad berikan.
Tabik,

Teuku Jeumpa
----------

Aceh Terbenam Dalam Kesesatan Sejarah
Oleh : Ede Aula

Berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam secara tidak langsung telah membawa dampak budaya (Agama Islam) terhadap alam pendidikan masyarakat Aceh. Fenomenanya tercermin dalam pepatah "adat ngon hukom lagee zat ngon sifeuet -mengandung arti bahwa hubungan adat dengan hukum Islam yang terjadi di masyarakat Aceh adalah seperti zat dengan sifatnya. Menunjukkan bahwa Agama Islam sudah merupakan basis atau dasar alam pemikiran masyarakat Aceh. Karenanya, dalam kehidupan mereka, hal-hal yang ada hubungannya dengan permasalahan agama merupakan sesuatu yang urgen. Sebagai pusat Islam pertama di nusantara, Aceh berusaha menunjukkan jati dirinya dengan keyakinan yang sangat begitu kental terhadap warna Islami serta berusaha juga membuktikan citra bahwa masyarakat Aceh identik dengan ajaran Islam. Oleh karena itu dalam kehidupan mereka, hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan Islam merupakan sesuatu yang harus dihormati dan dijunjung tinggi Budaya tersebut berkembang dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan begitu kuataya pengaruh para tokoh/ulama Islam terhadap tatanan sosial serta adat istiadat masyarakat Aceh. Secara kesejarahan, Aceh sejak dulu tidak tarbatas hanya sebagai identitas wilayah administratif belaka, melainkan juga sebagai suku bangsa atau komunitas masyarakat terbesar yang mendiami daerah paling ujung Sumatera dan di satu sisi merupakan salah satu Kerajaan Islam yang pernah berjaya dan berkuasa di kawasan Asia.

Jauh ke belakang, masyarakat Aceh hendaknya sadar atas sumbangsih para pejuang-pejuang rakyat Aceh dalam Perang Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sejarah mencatat kegemilangan perjuangan serta perlawanan rakyat Aceh sejak perjuangan mereka dalam "Perang Aceh" tahun 1873 sampai Perang Kemerdekaan Indonesia. Sehingga secara tidak langsung turut berperan dalam menentukan alur Sejarah Bangsa Indonesia tahun mulai tahun 1908, 1928 sampai tahun 1945.

Landasan mental yang memperkuat dan mempertebal semangat rakyat Aceh, adalah tekad membela kebenaran, kejujuran dan keadilan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya (Agama Islam). Hal tersebut sejalan dengan hakekat motivasi perjuangannya yaitu Jihad Fi Sabilillah (berjuang di jalan Allah) dan mereka yakin bahwa gugur dalam perjuangan membela kemerdekaan bangsa dan negara adalah Syahid.

Namun seiring dengan perubahan waktu atau perkembangan jaman, telah terjadi ketidaksadaran dan resistensi sejarah dalam kehidupan masyarakat Aceh. "historical anesthesia" (ketidaksadaran historis/sejarah), yakni masyarakat tidak lagi mau tahu dan pasif terhadap perubahan lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut terlihat adanya upaya atau keinginan serta cita-cita
dari segelintir orang (Hasan Tiro) atau kelompok (Gerakan Aceh Merdeka), untuk menciptakan jalan hidup dalam barbangsa dengan semangat menyingkirkan siapa saja yang berusaha menghalangi tujuan serta perjuangan mereka.

Kini kebanggaan akan kegemilangan para pejuang rakyat Aceh tersebut seakan akan pudar seiring dengan munculnya pembrontakan GAM, gerakan separatis yang berkeinginan dan bertujuan untuk merdeka serta memisahkan diri dari NKRI. Rakyat Aceh merasa kemunculan pembrontakan GAM telah menyebabkan mereka menderita kepanjangan, karena di samping tidak ada kesesuaian antara perjuangan mereka dengan perjuangan pendahulu mereka, juga karena pembrontakan GAM menjadikan rakyat sebagai umpan dan sekaligus mangsa mereka.

Masalahnya, perjuangan Hasan Tiro dan GAM selama ini kalau kita perhatikan tidak ubahnya mirip sepak terjang yang pernah dilakukan oleh para jenderal-jenderal kompeni seperti Kohler, Dem Mein ataupun De Moulin yang pernah ditekuk pahlawan rakyat Aceh seperti Teuku Umar dan Cik Di Tiro pada jaman VOC.

Hasan Tiro sendiri adalah tokoh muda GAM yang kemunculannya mendapat pertentangan dan tokoh GAM golongan tua. Portentangan muncul berkaitan dengan garis perjuangan GAM itu sendiri, golongan tua menghendaki GAM mempertahankan garis perjuangan yang bernafaskan Islam sedangkan Hasan Tiro dari golongan muda menginginkan GAM sebagai organisasi modern yang cenderung sekuler. Hal itu tampak dari perjuangan Hasan Tiro (GAM) yang banyak menyimpang dari Islam, norma serta adat istiadat masyarakat Aceh. Kesadaran akan norma-norma ajaran Agama Islam seharusnya menjadi landasan perjuangan Hasan Tiro, akan tetapi dia memilih lain. Hasan Tiro meninggalkan Islam dalam perjuangannya, karena merasa khawatir akan kesulitan bantuan dan luar negeri/negara-negara barat apabila berkomitmen terhadap Islam. la ketakutan
terhadap dunia luar yang menuduhnya sektarian dan fundamentalis apabila menempatkan identitas
keislamannya. Padahal kenyataan di lapangan, perjuangan yang dijalankan Hasan Tiro dan GAM selama ini jauh menyimpang dari norma-norma Agama Islam. Teror, pembunuhan, perampokan/perampasan dan tekanan-tekanan terhadap rakyat adalah tindakan-tindakan atau perjuangan yang tidak sesuai dengan norma agama Islam.

Upaya pemerintah

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Republik Indonesia dan TNI/PoIri, dalam rangka menanggulangi konflik di Aceh. Dalam menyelesaikan masalah Aceh tersebut Pemerintah Rl senantiasa berusaha mengedepankan pendekatan secara persuasif dengan tetap mengupayakan jalur dialog/diplomasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri dengan melalui mediator (
Joint Understanding on Humanitrion Pause For Aceh sampai kemunculan The Cessation Of Hostilities Agreement-COHA). Namun, pada kenyataannya GAM terus melakukan pelanggaran-pelanggaran yang yang telah disepakai dalam perjanjian antara Pemerintah Rl dengan GAM. Sehingga gerakan GAM tidak lebih dari gerakan bersenjata liar yang tak bertanggung jawab.
Inilah kemudian, jalan akhir yang ditempu pemerintah bagi menyelamatkan rakyat Aceh akibat gelagat GAM tidak bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan konflik Aceh secara damai, yaitu Kepres No. 28/2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkat Keadaan Darurat Militer di ProvinsiNanggroe Aceh Darussalam. Dan dilaksanakannya operasisecara terpadu. Operasi Terpadu merupakan implementasi dan penerapan Darurat Militer di Nanggroe Aceh Darussalam dengan meyeimbangkan antara perlindungan dan peningkatan harkat kemanusiaan, pemberdayaan
aparatur pemerint ah, penegakan hukum serta pendekatan militer. Dan terpenting adalah meningkatkan kesadaran terhadap rakyat Aceh akan bela negara, sebab dengan kesadaran tersebut diahrapkan akan timbul kesadaran serta keberanian rakyat Aceh untuk melawan pemberontakan GAM yang jelas-jelas mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat Aceh sendiri. Persoalan sekarang, tinggal bagaimana masyarakat Aceh mampu memahami kebesaran sejarahnya sehingga tidak gampang terseret dengan kebohongan politik sebagaimana propanda yang dilancarkan kaum sparatis. Agaknya, kesadaran sejarah itu merupakan cita-cita para pejuang Aceh, para ulama yang telah meletakkannya bagi tegaknya persatuan dan kesatuan republik Indonesia ini.

Karena itupula menjadi sangatlah wajar jika pemerintah serta masyarakat Indonesia memeranginya GAM karena ingin menghancurkan bangsa dan memisahkan diri dari bingkai republik Indonesia.

Penulis Lettu Sus Ede Aulah adalah anggota Satgas Sejarah PDMD

Sumber:Opini Hr.Serambi Indonesia 29 Juli 2003
serambi_indonesia@yahoo.com
----------