Stockholm, 10 Agustus 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BOM RAKITAN SAMUDRA CS MENGHADAPI POLITIK TERORISME GEORGE BUSH DI GELANGGANG MEGAWATI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAMUDRA CS DENGAN BOM RAKITAN SIAP HADAPI POLITIK TERORISME GEORGE BUSH DI GELANGGANG KEKUASAAN MEGAWATI

12 September 2001, sehari setelah simbol kapitalisme dunia World Trade Center di New York dan simbol super power Pentagon di Washington terkena pukulan yang telak, ternyata di Amerika semua jari telah menunjuk kearah Osama bin Laden yang dibantu oleh Taliban dan para pendukungnya di Pakistan yang dituduh berada dibalik peristiwa tersebut, yang ternyata oleh pihak Gedung Putih tidak dibantah adanya informasi yang mengarah kepada Osama bin Laden and Taliban di Afghanistan. ( Press Briefing by Ari Fleischer, Office of the Press Secretary, September 12, 2001, http://www.whitehouse.gov/news/releases/2001/09/20010912-8.html )

13 September 2001, dua hari kemudian, Presiden George W Bush menilpun Mayor Giuliani and Gubernur Pataki, "Well, thanks, Rudy and thanks, George... my resolve is steady and strong about winning this war that has been declared on America. It's a new kind of war... And we must be mindful that as we seek to win the war that we treat Arab Americans and Muslims with the respect they deserve. I know that is your attitudes, as well, it's certainly the attitude of this government, that we should not hold one who is a Muslim responsible for an act of terror. We will hold those who are responsible for the terrorist acts accountable, and those who harbor them." ( Remarks by the President In Telephone Conversation with New York Mayor Giuliani and New York Governor Pataki, http://www.whitehouse.gov/news/releases/2001/09/20010913-4.html )

15 September 2001, empat hari kemudian, ternyata memang sudah bukan rahasia lagi bahwa Osama bin Laden telah dituduh oleh pihak Gedung Putih sebagai yang bertanggung jawab terhadap penghancuran World Trade Center di New York dan gedung Pentagon di Washington. ( Press Briefing by Ari Fleischer, Office of the Press Secretary, September 15, 2001, http://www.whitehouse.gov/news/releases/2001/09/20010915-5.html )

Nah ternyata, memang dari sejak awal, Gedung Putih dibawah George Bush menuduh Osama bin Laden yang didukung oleh Taliban yang bertanggung jawab terhadap penghancuran World Trade Center di New York dan gedung Pentagon di Washington.

Hal inilah salah satunya yang telah membangkitkan semangat Abdul Azis alias Imam Samudra, 33 tahun, menghadapi kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanan George Bush yang telah mendeklarkan perang terhadap sebagian kaum muslimin khususnya yang ada di Afghanistan pasca-11 September 2001.

Pengakuan, sikap, tindakan dan tujuan dari Imam Samudra terbukti pada persidangan yang dipimpin Majelis Hakim I Wayan Sugawa di Gedung Wanita Nari Graha, Jalan Cut Nyak Dien, Renon Denpasar, hari Rabu, tanggal 16 Juli 2003. Dimana Imam Samudra mengatakan: "Isi statemen ini saya buat jauh setelah terjadi bom Bali atau sekitar 1 bulan setelah kejadian. Isinya menyatakan bertanggung jawab secara moral. Saya terlibat maka saya bertanggung jawab secara moral dan karena tak ada yang mengklaim maka saya buat tulisan itu. Tujuannya adalah untuk melakukan perang urat saraf dengan kafir dalam hal ini AS dan sekutunya. Karena kita ditindas AS kita balas dengan propaganda itu. Saya pernah jalan-jalan ke Kuta. Saya melihat tulisan Sariclub pada malam hari. Saya lihat banyak orang bule melakukan maksiat, zina dan mabuk-mabukan. Saya jijik melihat itu. Saya memang bilang (ide peledakan bom Bali berasal dari saya) itu (waktu) di penyidik. Tapi itu tidak benar. Saya memang menyiapkan satu buah bom untuk satu gereja (di Batam pada malam Natal 2000). Tapi saya tidak ikut meledakkannya. Saya tak tahu yang meledakkan bom tersebut."

Sebelum terdakwa Imam Samudra mengeluarkan pengakuan, sikap dan tujuan dari sepak terjang perjuangannya tersebut diatas dalam menghadapi kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanan tentang terorisme yang dilontarkan George Bush, tanggal 2 Juni 2003, pada sidang pertama terdakwa Imam Samudra di Gedung Wanita Nari Graha, Jalan Cut Nyak Dien, Renon Denpasar, Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Nyoman Dilla membacakan dakwaan Imam Samudera dengan 4 dakwaan atas perkara bom Bali, bom malam Natal tahun 2000 di Batam dan perampokan di Serang.

Dimana dakwaan terdakwa Imam Samudra yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Nyoman Dilla yang menyangkut bom Bali dengan dakwaan primer didakwa dengan Pasal 14 "Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup." Junto Pasal 6 "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme). Dakwaan ini berdasarkan pada Terdakwa Imam Samudera telah merencanakan peledakan bom sejak bulan Agustus 2002. Imam Samudera bersama Amrozi, Ali Ghufron alias Muklas, Ali Imron, Utomo Pamungkas alias Mubarok, Abdul Goni alias Umar Wayan, Umar Arab alias Umar Patek, Idris alias Jhoni Hendrawan alias Gembrot, Abdul Matin alias Dulmatin (buron), Dr Azahari (warga Malaysia/buron), Zulkarnaen, Arnazan alias Iqbal dan Ferry alias Isa yang mempersiapkan dan melakukan pertemuan, pembelian bahan peledak, pembelian Mitsubushi L 300, merakit bom dan memberikan uang Rp 74.650.000 kepada Abdul Rauf alias Sam yang selanjutnya ditranfer oleh Abdul Rauf via BCA Serang ke rekening Utomo Pamungkas alias Mubarok yang selanjutnya oleh Mubarok diserahkan kepada Amrozi bulan September 2002.

Sedangkan dakwaan subsider, terdakwa Imam Samudera didakwa dengan Pasal 6 "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme)

Adapun dakwaan lebih subsider, terdakwa Imam Samudera didakwa dengan Pasal 9 "Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun." (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme)

Selanjutnya mengenai dakwaan bom malam Natal tanggal 24 Desember tahun 2000 di Batam, terdakwa Imam Samudera didakwa dengan pasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 tahun 1951 atas kepemilikan bahan peledak dan dengan Pasal 187 "Barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir, diancam: 1. dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya umum bagi barang; 2. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya bagi nyawa orang lain; 3. dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya bagi nyawa orang lain dan meng- akibatkan orang mati. (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Dakwaan ini didasarkan pada terdakwa Imam Samudera bersama Basuki, Sarkun, Hasyim bin Abas dan Saad merencanakan peledakan 4 gereja di Batam pada tanggal 24 Desember 2000, yaitu Gereja GKPS Seipana, GPDI Pelita Batam, Gereja Deato Damean dan Gereja Baitani Maimat. Terdakwa Imam Samudera merakit 5 bahan peledak untuk diledakkan di setiap gereja. Dua diledakkan di Gereja GKPS Seipana dan Gereja lainnya mendapat masing-masing 1 bahan peledak. Akibat ledakan di GKPS Seipana, menimbulkan kerusakan dan kerugian materil Rp 15 juta. Sebagian para jemaat yang sedang kebaktian terluka bakar dan luka terkena serpihan bom.

Seterusnya mengenai dakwaan perampokan Toko Emas Elita di Serang, terdakwa Imam Samudra didakwa primer dengan Pasal 11 "Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10." (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme).

Nah selanjutnya, pihak Jaksa Penuntut Umum I Nyoman Dilla dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim I Wayan Sugawa, SH, pada hari Senin, tanggal 28 Juli 2003 menuntut terdakwa Abdul Aziz alias Imam Samudera dalam 4 perkara yaitu 2 tuntutan primer dan 2 tuntutan subsider.

Dimana tuntutan ke-1, terdakwa Imam Samudra terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme dengan tuntutan Pasal 14 "Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup." Junto Pasal 6 "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme).

Selanjutnya tuntutan ke-2, terdakwa Imam Samudra terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme dengan tuntutan Pasal 11 "Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10." Junto Pasal 6 "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme).

Kemudian tuntutan ke-3, terdakwa Imam Samudra terbukti tanpa hak menguasai atau menyimpan bahan peledak dan menggunakan bahan peledak tersebut, dengan tuntutan pasal 1 ayat 1 UU Darurat nomor 12 tahun 1951.

Lalu tuntutan ke-4, terdakwa Imam Samudra terbukti menimbulkan ledakan yang menimbulkan bahaya umum, dengan tuntutan Pasal 187 "Barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir, diancam: 1. dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya umum bagi barang; 2. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya bagi nyawa orang lain; 3. dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya bagi nyawa orang lain dan meng- akibatkan orang mati. (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Nah ternyata terlihat dari empat tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum I Nyoman Dilla terhadap terdakwa Imam Samudra tersebut , Jaksa Penuntut Umum menuntut pidana mati terhadap terdakwa Imam Samudera.

Kemudian dari pihak Imam Samudra bersama tim penasehat hukumnya, Qadar Faisal, SH, besok, hari Senin Tanggal 11 Agustus 2003 akan mengajukan pledoi secara tertulis.

Disinilah saya melihat bahwa Abdul Azis alias Imam Samudra yang mempunyai tujuan untuk melakukan perang urat saraf dengan kafir dalam hal ini AS dan sekutunya. Karena ditindas AS, maka harus balas dengan propaganda itu.

Nah Abdul Azis alias Imam Samudra dalam menjalankan balasan terhadap pihak Pemerintah George Bush dan sekutunya dengan cara propaganda yang berbentuk gerakan bersenjata bom. Karena memang Presiden George Bush ini telah medeklarkan perang jenis baru pasca-11 September 2001.

Adapun dipilih sasaran peledakan bom di depan Sari Club, Paddy's Pub, Jl Legian, Kuta, dan di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat , Jl Raya Puputan, Renon, Denpasar, karena dianggap oleh Imam Samudra sebagai bagian dalam "melakukan perang urat saraf dengan kafir dalam hal ini AS dan sekutunya, (termasuk)...Sari Club pada malam hari (terlihat) banyak orang bule melakukan maksiat, zina dan mabuk-mabukan."

Nah tentu saja sekarang, karena propaganda kekerasan senjata bom yang dilancarkan oleh Imam Samudra terhadap pihak Pemerintah George Bush berlangsung di wilayah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang telah mensahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menjadi Undang-Undang, dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali Tanggal 12 Oktober 2002, Menjadi Undang-Undang, maka secara jelas dan gamblang pihak Pemerintah George Bush secara langsung berhasil menjerat Imam Samudra melalui Pemerintah Megawati Cs dengan UU No.15 & UU No.16 tahun 2003-nya.

Hanya sampai sekarang pihak Pemerintah George Bush dan pihak Pemerintah Megawati Cs masih belum berhasil membongkar siapa yang menjadi dalang, otak dan perencana sebenarnya dari gerakan senjata Bom anti kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanan George Bush tentang perang melawan sebagian kaum muslimin yang menentang kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanan George Bush.

Karena dari hasil sidang bom Bali, ternyata Imam Samudra telah menyatakan bahwa dirinya "bukan pencetus ide peledakan bom Bali". Begitu juga dari apa yang telah dikatakan oleh Amrozi bin Nur Hasyim dalam sidang ke-10 kasus bom Bali di Gedung Nari Graha, Jl. Cut Nyak Dien, Denpasar, hari Rabu, tanggal 11 Juni 2003, yaitu: "Saya menyangkal sebagai pencetus ide. Saya sekolah tinggi saja nggak pernah lulus".

Akhirnya, pihak Pemerintah George Bush dan pihak Pemerintah Megawati Cs masih tetap kewalahan menghadapi sebagian kaum muslimin dimanapun berada yang menentang kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanan George Bush khususnya pasca-11 September 2001.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se