Stockholm, 11 Agustus 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PDMD ACEH MELANCARKAN PROPAGANDA MURAHAN ASNLF/GAM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KARENA SUDAH KELABAKAN PIHAK PDMD ACEH MENGHADAPI PIHAK ASNLF/GAM MELUNCURLAH PROPAGANDA MURAHAN LEWAT WWW.PDMD-NAD.INFO

"Operasi terpadu pelaksanaan Keppres No.28/2003 merupakan kamuflase seperti yang dikemukakan bung Ahmad, siapapun tidak akan mengelak, dengan kata lain pasti sejalan dengan pemikiran seperti itu. Mengingat kawasan Aceh saat ini memang memerlukan kamuflase/ penutup, sebab kawasan Aceh dalam hal keamanan sedang tidak kondusif, akibat dari gangguan/teror yang tebarkan oleh gerombolan GSA/GAM, maka dengan digelarnya operasi terpadu yang dipayungi Keppres No.28/2003, maka sepak terjang gerombolan GSA/GAM bentukan Tgk di Tiro cs akan terkamuflase/tertutup hingga keamanan di Aceh berangsur normal, pemerintahan berjalan sebagai mana mestinya, dan warga Aceh terlindungi akan hak-hak keamanannya. "Kamuflase" dalam kata lain, penutup / penlindung. Mudah-mudahan pengartian ini sejalan dengan bung Ahmad.
Bukankah begitu bung?"
(MT Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Fri, 8 Aug 2003 20:26:02 -0700 (PDT))

"Mengapa RI Terpuruk? Karena Hasan Tiro menjerumuskan rakyat Aceh?!"
(Gajah Iskandar, pdmdnad@telkom.net , Sat, 09 Aug 2003 23:23:16 +0700).

"Buat sahabatku, Agus Hermawan yang pernah digodok dikawah Kolatarmatim agar saudraku lebih mengenal lagi bagaimana sih kisah Hasan Tiro yang saat ini dijadikan panutan sebagian masyarakat Serambi Mekkah yang tentunya mereka yang masih terselimuti kegelapan!!! semoga setelah saudaraku yang berada di Kuwait juga mau memberikan sumbangsih berupa doa kepada Allah SWT, agar saudara-saudara kita yang saat ini diselimuti kabut kegelapan dapat segera mendapatkan Nur Illahi dan kembali kejalan yang benar, Amin semoga tulisan ini bermanfaat buat saudaraku dan kalau bisa disebarluaskan kepada teman-teman lain." ( Ditya Soedarsono, dityaaceh_2003@yahoo.com , Sat, 9 Aug 2003 00:23:34 -0700 (PDT))

Nah, saudara wartawan Matius Dharminta dari Jawa Pos, Surabaya, bersama-sama dengan Kolonel Laut Gajah Iskandar dari Aceh, dan sekarang ditemani oleh seorang yang mengatasnamakan Ditya Soedarsono, yang kalau saya tidak salah, Ditya Soedarsono adalah seorang Kolonel Angkatan Laut yang menjabat Komandan Satuan Tugas Penerangan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh.

Baiklah saudara wartawan Matius Dharminta. Kalau saudara Matius buka itu Kamus Besar Bahasa Indonesia keluaran Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan tahun 1988, maka didalamnya akan ditemukan istilah kamuflase, yang mempunyai arti perubahan bentuk, rupa, sikap, warna dan sebagainya menjadi lain agar tidak dikenali; penyamaran; pengelabuan.

Nah contohnya seperti yang saya tulis dalam tulisan "[030806] Operasi terpadu pelaksanaan Keppres No.28/2003 merupakan kamuflase " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030806.htm ). Dimana saya menulis "Jadi istilah operasi terpadu yang mencakup operasi pemulihan keamanan, kemanusiaan, pemantapan jalannya pemerintahan, dan penegakan hukum sebagai penerapan dilapangan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah merupakan suatu kamuflase dari tujuan sebenarnya dari dikeluarkannya Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 yaitu sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang-undang Nomor 52 Prp Tahun 1960."

"Jadi sebenarnya, apa yang ditonjolkan dengan sebutan operasi terpadu yang mencakup operasi pemulihan keamanan, kemanusiaan, pemantapan jalannya pemerintahan, dan penegakan hukum sebagai penerapan dilapangan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tidak lain hanyalah sebagai selubung operasi militer besar-besaran terhadap rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro yang menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan". "

Nah, itulah saudara Matius Dharminta, pengertian dari kamuflase yang saya maksudkan dan ditunjang oleh para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia keluaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan cetakan tahun 1988. Dimana arti dan maksud istilah kamuflase jauh berbeda dengan apa yang ditulis saudara Matius Dharminta.

Selanjutnya, sekarang saya melihat, apakah memang ada kesamaan atau memang disengaja, atau hanyalah suatu kebetulan. Dimana Kolonel Gajah Iskandar dan yang menamakan dirinya Ditya Soedarsono sama-sama mengirimkan tulisan yang dimuat di http://www.pdmd-nad.info/index.php?fuseaction=news.view&newsID=090820031356971&chanID=5&Lang=ID ,yaitu Home Page-nya Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh, yang berjudul "Hasan Tiro menjerumuskan rakyat Aceh" yang ditulis oleh saudara yang mengatas-namakan Abu Jihad. Dimana saudara Abu Jihad ini dipropagandakan oleh pihak PDMD Aceh sebagai "salah satu tokoh yang tadinya termasuk simpatisan kelompok pemberontak Gerakan Aceh Merdeka...(tetapi) keluar dari kelompok GAM. Karena nilai perjuangan dan aqidah dari kelompok Hasan Tiro tidak sesuai dengan hati nuraninya, serta sangat jauh dari aqidah Islam".

Apakah Kolonel Laut Gajah Iskandar adalah Kolonel Laut Ditya Soedarsono, disini bukanlah suatu hal yang penting, yang penting disini adalah kedua orang ini, atau memang hanya seorang saja yang memiliki dua nama, telah mengirimkan tulisan saudara Abu Jihad yang berjudul "Hasan Tiro menjerumuskan rakyat Aceh" dan dimuat di http://www.pdmd-nad.info .

Dimana sebenarnya sebagian isi dari tulisan tersebut yang menyangkut "Bab III Kesesatan GAM Hasan Tiro" telah saya jawab dalam tulisan "[030806] Operasi terpadu pelaksanaan Keppres No.28/2003 merupakan kamuflase " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030806.htm ).

Nah sekarang disini saya akan jawab yang menyangkut "Hasan Tiro Menjerumuskan Rakyat Aceh" dan "Bab II Kontroversi GAM Hasan Tiro".

Dimana saudara Abu Jihad menulis: "Sesungguhnya peta konflik yang sedang terjadi sulit dipercaya bahwa GAM Hasan Tiro yang membawa isu perjuangan paham ashobiyah itu akan mendapat dukungan seluruh penduduk Tanah Rencong....Sasaran Hasan Tiro sebetulnya ingin menimbulkan suasana kacau yang menakutkan, sehingga dijadikan mesin kekacauan di Aceh. Karena, sepeninggal Tgk. M. Daud Beureueh, tidak ada tokoh yang dapat dipanuti, maka mau tidak mau para "tentara"GAM dan masyarakat yang ketakutan akan terus menokohkan Hasan Tiro sebagai pemimpin mereka. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi adanya kemungkinan yang lebih besar lagi yang dihadapi rakyat Aceh, dalam upayanya menyelesaikan kasus Aceh, sesunggunya harus ada political will (kekuasaan politik) dari pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan politisnya yang selama ini sangat merugikan rakyat Aceh."

Nah ternyata, disini saudara Abu Jihad itu sendiri tidak memahami dasar sebenarnya dari apa yang diperjuangkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Karena kalau ditelusuri lebih mendalam dari apa yang diperjuangkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Tengku Hasan Muhammad di Tiro itu adalah seperti yang telah berulang kali saya tulis dalam tulisan.-tulisan sebelum ini, yaitu:

"menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan". ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030805.htm )
 

"Kalau mau lebih difokuskan, maka bisa saya katakan sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa (termasuk rakyat Aceh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh) dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan". ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030805.htm )

Atau seperti yang dideklarkan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro:"

"To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self- determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kepada rakyat di seluruh dunia: Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17).

Sekarang coba perhatikan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)". Dimana dalam kalimat tersebut telah mencakup keseluruhan sejarah dasar perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh adalah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568), tetap diperjuangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573), juga masih tetap dipertahakan oleh Sultan Seri Alam (1576), makin gencar diteruskan oleh Sultan Muda (1604-1607), dan dikobarkan oleh Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636) dalam menghadapi agresi Portugis.

Begitu juga Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh yang telah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 mampu menerobos dan menghadapi agresi Belanda dari sejak tanggal 26 Maret 1873 ketika Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dan pecah perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873. Dilanjutkan dengan perang kedua melawan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten yang berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Tentu saja, nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah ditanamkan oleh Sultan Machmud Syah yang wafat 26 Januari 1874 tidak terputus dan tercecer begitu saja, melainkan diteruskan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Dan memang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 tersebut membangkitkan semangat perang gerilya yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur menghadapi serangan dan gempuran Belanda. Walaupun Teuku Umar gugurr pada tahun 1899 ketika menghadapi pasukan Van Der Dussen di Meulaboh, tetapi Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya menghadapi Belanda. Perang gerilya melawan Belanda ini berlangsung sampai tahun 1904.

Nah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro dalam ungkapan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)".
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030719c.htm )

Nah, dari dasar perjuangan rakyat Aceh yang dideklarkan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro sudah jelas dan gamblang bahwa nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030730b.htm )

Jadi bukan seperti yang ditulis saudara Abu Jihad: "Sesungguhnya peta konflik yang sedang terjadi sulit dipercaya bahwa GAM Hasan Tiro yang membawa isu perjuangan paham ashobiyah itu akan mendapat dukungan seluruh penduduk Tanah Rencong"

Karena jelas, perjuangan menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan, adalah bukan perjuangan yang berdasarkan pada isu ashobiyah, seperti yang ditulis oleh saudara Abu Jihad.

Teungku Muhammad Daud Beureueh mengetahui benar bahwa secara de facto dan de jure negeri Aceh tidak pernah masuk dan menggabungkan diri kedalam RI-Jawa-Yogya, maka 3 tahun setelah RIS bubar dan kembali menjadi RI-Jawa-Yogya, dan setelah Soekarno dengan diam-diam menelan negeri Aceh pakai mulut Sumatera Utara, melalui dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara (telah diubah dengan Undang-Undang Darurat No.16 tahun 1955, Lembaran-Negara tahun 1955 No. 52), Teungku Muhammad Daud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953.

Ketika Teungku Muhammad Daud Beureueh memaklumatkan Negara Islam Indonesia, Negara RI-Jawa-Yogya dipegang oleh Kabinet Ali-Wongso dengan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (PNI) dan Wakil Perdana Menteri Wongsonegoro (Partai Indonesia Raya) yang dilantik pada bulan Agustus 1953 menggantikan Kabinet Wilopo dengan Perdana Menteri Wilopo yang dilantik pada tanggal 3 April 1952 dan jatuh pada tanggal 3 Juni 1953 yang menggantikan Kabinet Soekiman.
(30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 65, 73)

Tetapi, karena memang Soekarno itu pandai memanipulasi, memalsukan dan menipu, maka ketika Teungku Muhammad Daud Beureueh memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953, Soekarno membalas dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Aceh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara, yang disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Nopember 1956.
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030805.htm )

Apa yang terjadi, Teungku Muhammad Daud Beureueh tidak mau menerima Undang- Undang Nomor 24 Tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Aceh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara yang disodorkan oleh pihak Soekarno Cs, melainkan tetap dalam posisinya semula dalam garis pertahanan dan pembelaan negeri Aceh yang telah dimaklumatkan menjadi Negara Islam Indonesia. Untuk lebih mendalam bisa dibaca dalam tulisan "[030613] Soekarno memang menipu Teungku Daud Beureueh " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030613.htm )

Di dunia internasional, tanggal 1 September 1954, setahun setelah NII dimaklumatkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, di New York, yang pada waktu itu sebagai mahasiswa fakultas hukum Universitas Columbia dan bekerja sebagai seorang staf perwakilan Indonesia di New York, mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo di Jakarta, yang sebagian isinya menyatakan: "1.Hentikan agresi terhadap rakyat Aceh, rakyat Jawa Barat, Jawa Tengah, rakyat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan rakyat Kalimantan. 2.Lepaskan semua tawanan-tawanan politik dari Aceh, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan rakyat Kalimantan. 3.Berunding dengan Teungku Muhammad Daud Beuereuh, S.M. Kartosoewirdjo, Abdul Kahar Muzakar dan Ibnu Hajar. Jika sampai pada tanggal 20 September 1954, anjuran-anjuran ke arah penghentian pertumpahan darah ini tidak mendapat perhatian Tuan, maka untuk menolong miliunan jiwa rakyat yang tidak berdosa yang akan menjadi korban keganasan kekejaman agresi yang Tuan kobarkan, saya dan putera-puteri Indonesia yang setia, akan mengambil tindakan-tindakan berikut: a.Kami akan membuka dengan resmi perwakilan diplomatik bagi "Republik Islam Indonesia" di seluruh dunia, termasuk di PBB, benua Amerika, Asia dan seluruh negara-negara Islam; b.Kami akan memajukan kepada General Assembly PBB yang akan datang segala kekejaman, pembunuhan, penganiayaan, dan lain-lain pelanggaran terhadap Human Rights yang telah dilakukan oleh regim Komunis-Fasist Tuan terhadap rakyat Aceh. Biarlah forum Internasional mendengarkan perbuatan-perbuatan maha kejam yang pernah dilakukan di dunia sejak zaman Hulagu dan Jenghis Khan. Kami akan meminta PBB mengirimkan Komisi ke Aceh. Biar rakyat Aceh menjadi saksi;...."(Al Chaidar, Sayed Mudhahar Ahmad, Yarmen Dinamika, Aceh Bersimbah darah Mengungkap Penerapan Status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh 1989-1998, Pustaka Al-Kautsar, cetakan ke lima, Maret 1999, hal. 34,35,37)

Memang usaha yang telah dilakukan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro untuk memperjuangkan Negara Islam Indonesia di luar negeri perlu dibanggakan, walaupun tidak mencapai seperti yang diharapkan.

Sedangkan apa yang terjadi dalam perubahan sejarah di dalam negeri dari sejak 20 September 1953 sampai bulan Desember 1976 bisa dibaca dalam tulisan "[030805] Benar Megawati penerus Soekarno menduduki negeri Aceh" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030805.htm )

Adapun mengenai apa yang ditulis oleh saudara Abu Jihad: "Namun dalam kenyataannya, ternyata Hasan Tiro gagal memperjuangkan DI/TII di tingkat internasional. Kegagalannya itu mengilhami dirinya untuk kemudian merubah haluan politik perjuangan ke arah sosialis-sekuler. Dan dari semenjak itu dirinya tidak lagi mempercayai gerakan yang didasarkan agama."

Nah disinilah sekali lagi bahwa saudara Abu Jihad tidak memahami apa yang menjadi dasar perjuangan dan tuntutan dari Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan deklarasi Negara Aceh Sumatera-nya. Seperti yang telah saya tuliskan diatas, bahwa perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro bukan berdasarkan "isu perjuangan paham ashobiyah" dan juga bukan perjuangan politik ke arah "sosialis-sekuler".

Mengenai tuduhan saudara Abu Jihad : "Suatu hari di tahun 1959, alih-alih beli senjata untuk perjuangan, ia pun meminta kepada Tgk. M. Daud Beureueh sejumlah uang, maka antar tahun 1959-1961 uang pun mengucur deras kepadanya. Tidak hanya tokoh di Aceh saja yang keluar, bahkan sempat uang Kasso Abdul Gani di Kuala Lumpur, dibawa Hasan Tiro. Padahal tidak ada senjata yang ia kirim, kecuali hanya dua pucuk pistol colt dan satu pucuk doubleleub ketika ia pulang ke Aceh. Inilah bentuk penipuan yang dilakukan Hasan Tiro terhadap perjuangan bangsa Aceh"

Disini saya melihat dan perhatikan bahwa bukti yang ditulis oleh saudara Abu Jihad tersebut tidak bisa diterima secara hukum. Dengan alasan, pertama, tidak disebutkan surat permintaan Teungku Hasan Muhammad di Tiro kepada Teungku Muhammad Daud beureueh untuk pembelian senjata. Kedua, bagaimana pengiriman uang itu dilakukan. Ketiga, berapa besar uang yang telah dikirimkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dari sejak tahun 1959-1961. Keempat, berapa besar dan bagaimana sampai uang "Kasso Abdul Gani di Kuala Lumpur" dibawa oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Seterusnya apa yang ditulis oleh saudara Abu Jihad: "Ketika datang ke Aceh tahun 1976, Hasan Tiro mengubah kiblat dan haluan politik perjuangan bangsa Aceh, serta mengubah nama RIA menjadi Gerakan Aceh Merdeka, yang kemudian ia rubah lagi menjadi Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF). Di mana dalam perjuangannya, Hasan Tiro lebih memunculkan unsur ashobiyah etnisitas keacehan semata. Mereka ingin mengusir orang-orang non-Aceh keluar dari Aceh. Begitu pula orang Aceh yang memiliki faham ke-Indonesia-an, mereka akan diusir atau dibunuh bila perlu, karena sudah menghalangi cita-cita perjuangannya."

Disinipun saudara Abu Jihad sudah salah, karena Teungku Hasan Muhammad di Tiro ketika mendeklarkan negara Aceh Sumatera tanggal 4 Desember 1976, tidak mencantumkan didalamnya perubahan nama dari nama " RIA menjadi Gerakan Aceh Merdeka, yang kemudian ia rubah lagi menjadi Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF)." (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984)

Tentang apa yang ditulis saudara Abu Jihad: "Untuk menggemahkan perjuangan ke tingkat internasional, Hasan Tiro lebih banyak membiarkan rakyat Aceh menjadi korban pembunuhan dalam pertikaian antara GAM dan TNI/Polri. Kenapa demikian? Karena dia lebih mementingkan politik ketimbang terjun langsung ke medan perang. Menurut pandangannya bahwa semakin banyak rakyat Aceh yang dipenjara atau dibunuh semakin dekat akan sebuah kemenangan. Hasan Tiro mengistilahkan perjuangannya hanya tinggal setenggah batang rokok lagi."

Nah, disipun saudara Abu Jihad salah lagi. Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan" di dunia internasional, justru melalui perjuangan membukakan dasar hukum internasional, yang salah satunya pernah saya tulis dalam tulisan "[030731] Perjuangan ASNLF/GAM dibenarkan menurut dasar hukum internasional " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030731.htm ) dan bisa juga dilihat di http://www.asnlf.net

Selanjutnya mengenai apa yang ditulis oleh saudara Abu Jihad:"Selalu mengubah nama dan menambah gelar pada dirinya untuk mengangkat status sosialnya di mata bangsa Aceh".

Nah persoalan gelar yang diperoleh dari hasil pendidikannya yang berlaku sampai detik ini ialah Dr. Teungku Hasan Muhammad di Tiro, seperti yang dipakainya ketika memberikan ceramah di City University of London pada tanggal 20 Agustus 1984.

Sedangkan mengenai yang ditulis saudara Abu Jihad: "Ketika ia masih berada di Amerika, sempat diketahui perpacaran dengan seorang wartawati majalah Time dan berencana mengawininya. Kemudian ternyata ia telah mengawini seorang wanita keturunan Yahudi-Swedia bernama Dora yang kemudian memberikannya seorang putra bernama Karim Hasan. Anaknya ini telah dipersiapkan untuk menggantikan dirinya kelak bila dirinya meninggal sebagai raja Aceh."

Soal perkawinan itu adalah soal pribadi seseorang. Dalam Islam tidak ada larangan bagi seorang lelaki muslim untuk kawin dengan perempuan Yahudi. Rasulullah SAW telah memberikan contoh ketika Beliau mengawini Barrah binti al -Harris bin Dirar bin Habib bin Aiz bin Malik bin Juzaimah Ibnu al-Mustaliq. Ayahnya, pimpinan tertinggi Kabilah Bani al-Mustaliq, satu kabilah Yahudi. Dimana Barrah binti al -Harris ketika telah menjadi istri Rasulullah diganti namanya oleh Rasulullah SAW menjadi Juwairiyah (r.a.) (Akmal H Mhd.Zain, Mohd. Shafwan Amrullah, Istri-istri Rasulullah, Pustaka Al-Mizan, Kuala Lumpur, cetakan kedua, 1989, hal.103, 108)

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com
Cc: PPDI@yahogroups.com
Subject: Re: OPERASI TERPADU PELAKSANAAN KEPPRES NO.28/2003 MERUPAKAN KAMUFLASE
Date: Fri, 8 Aug 2003 20:26:02 -0700 (PDT)

Operasi terpadu pelaksanaan Keppres No.28/2003 merupakan kamuflase seperti yang dikemukakan bung Ahmad, siapapun tidak akan mengelak, dengan kata lain pasti sejalan dengan pemikiran seperti itu. Mengingat kawasan Aceh saat ini memang memerlukan kamuflase/ penutup, sebab kawasan Aceh dalam hal keamanan sedang tidak kondusif, akibat dari gangguan/teror yang tebarkan oleh gerombolan GSA/GAM, maka dengan digelarnya operasi terpadu yang dipayungi Keppres No.28/2003, maka sepak terjang gerombolan GSA/GAM bentukan Tgk di Tiro cs akan terkamuflase/tertutup hingga keamanan di Aceh berangsur normal, pemerintahan berjalan sebagai mana mestinya, dan warga Aceh terlindungi akan hak-hak keamanannya.

"Kamuflase" dalam kata lain, penutup / penlindung.
Mudah-mudahan pengartian ini sejalan dengan bung Ahmad.
Bukankah begitu bung???

MT Dharminta

Surabaya, Indonesia
mr_dharminta@yahoo.com
----------

From: Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>
To: sadanas@equate.com
Cc: ahmad_sudirman@hotmail.com, padhang-mbulan@egroups.com, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, kammi-malang@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, keadilan4all@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, acsa@yahoogroups.com, editor@jawapos.co.id, habearifin@yahoo.com, Lantak@yahoogroups.com, mr_dharminta@yahoo.com, sadanas@shb.equate.com, pdmdnad@telkom.net
Subject: HASAN TIRO MENJERUMUSKAN RAKYAT ACEH
Date: Sat, 9 Aug 2003 00:23:34 -0700 (PDT)

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Buat sahabatku, Agus Hermawan yang pernah digodok dikawah Kolatarmatim agar saudraku lebih mengenal lagi bagaimana sih kisah Hasan Tiro yang saat ini dijadikan panutan sebagian masyarakat Serambi Mekkah yang tentunya mereka yang masih terselimuti kegelapan!!! semoga setelah saudaraku yang berada di Kuwait juga mau memberikan sumbangsih berupa doa kepada Allah SWT, agar saudara-saudara kita yang saat ini diselimuti kabut kegelapan dapat segera mendapatkan Nur Illahi dan kembali kejalan yang benar, Amin semoga tulisan ini bermanfaat buat saudaraku dan kalau bisa disebarluaskan kepada teman-teman lain.

Ditya Soedarsono

Aceh
dityaaceh_2003@yahoo.com
----------

From: "Gajah Iskandar" <pdmdnad@telkom.net>
To: I H <garotania@yahoo.com>
Cc: PPDI@yahoogroups.com, padhang-mbulan@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, kammi-malang@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, keadilan4all@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, acsa@yahoogroups.com, editor@jawapos.co.id, habearifin@yahoo.com, Lantak@yahoogroups.com, mr_dharminta@yahoo.com, sadanas@shb.equate.com
Subject: [OPOSISI] Re: Mengapa RI Terpuruk??? KARENA HASAN TIRO MENJERUMUSKAN RAKYAT ACEH????!!!!!
Date: Sat, 09 Aug 2003 23:23:16 +0700

Mengapa RI Terpuruk??? KARENA HASAN TIRO MENJERUMUSKAN RAKYAT ACEH????!!!!!

Gajah Iskandar

Aceh
pdmdnad@telkom.net
----------

http://www.pdmd-nad.info/index.php?fuseaction=news.view&newsID=090820031356971&chanID=5&Lang=ID

Sabtu, 09/08/2003 13:54:53 WIB

HASAN TIRO MENJERUMUSKAN RAKYAT ACEH

HASAN TIRO MENJERUMUSKAN RAKYAT ACEH

Sejak tahun 1989, pergolakan di Serambi Mekah senantiasa mengalami grafik naik turun. Kekerasan demikekerasan sudah terjadi di Tanah Rencong. Tindakan kekerasan tersebut telah menimbulkan penderitaan dan rasa dendam dari anak keturunan korban terhadap aparat. Siapapun mereka melihat raut muka korban, masih terbayang betapa mereka bingung dalam mencari dukungan.

Kini timbul pertanyaan, benarkah rakyat Aceh telah bergabung dengan perjuangan Hasan Tiro? Sebagaimana yang dilansir media massa bahwa 57,5% warga Aceh mendukungnya. Seberapa besar niat Hasan Tiro mengubah kondisi Aceh yang banyak hal telah "menjerumuskan" rakyat Aceh kepada sebuah realitas yang entah apa namanya. Karena kondisi Aceh sekarang seperti rumah hantu yang penuh dengan misteri.

Bila melihat realitas sosial sekarang, rakyat Aceh dalam keadaan bingung mencari format pemimpin ideal untuk memimpin rakyat menghalau segala macam ketertindasan dari kezaliman yang terrekayasa dengan sistimatika. Seakan-akan rakyat Aceh sedang kehilangan "Induk Semangnya", tidak ada lagi tempat untuk menumpahkan keluh kesah penderitaan yang selama sepuluh tahun lebih, membuat masyarakat kehilangan disorientasi, disposisi dan dislokasi.

Jika menengok kepada kepemimpinan formal seperti pemerintah sekarang ini, justru rakyat Aceh sudah kabur dari nilai kepercayaan. Kenapa demikian? Hampir setiap adanya kasus gangguan keamanan yang disebabkan "oknum kriminal" justru dijadikan palu godam Aceh.

Belum lama ini, di Aceh telah terjadi aksi mogok massa dua hari yang mengarah pada pembangkangan sipil (civil disob0dience).

Hal ini jelas merupakan symbol kerasnya resistensi masyarakat atas ketidakadilan yang dilakukan negara dan tindakan kekerasan yang dilakukan militer terhadap rakyat Aceh.

Dengan demikian, memperlihatkan bahwa pemerintah dan alat-alat kekuasaan citranya sangat rendah di mata rakyat aceh. Terkesan, aparat agak kurang memperhatikan dampak komunikasi yang kurang baik. Sebenarnya wajar saja, jika tembak di tempat dijalankan. Karena tindakan GAM yang membawa senjata perlu dilawan. Namun mengumumkan penambahan personil TNI lebih dari 8.000 orang, tentunya akan menjadi cemoohan. Karena personil GAM yang hanya tinggal berjumlah 500 orang akan lebih membanggakan keberhasilannya dan secara tidak langsung dapat menarik masyarakat untuk memihak kepada GAM.

Sikap protes rakyat memang semestinya tidak ditanggapi langsung secara militer. Karena rakyat Aceh suasananya dalam keadaan kontemporer, yaitu tidak memiliki ulama yang meminjam suatu jihat melawan kekuatan-kekuatan kafir, juga tanpa Hikayat Perang Sabil yang bisa memberikan kesadaran ketertindasandan semangat bagi terjadinya sebuah revolusi.

Sesunggunya peta konflik yang sedang terjadi sulit dipercaya bahwa GAM Hasan Tiro yang membawa isu perjuangan paham ashobiyah itu akan mendapat dukungan seluruh penduduk Tanah Rencong.

Dilihat dari segi asal etnis dan geografis Aceg Tenggara, Selatan dan Barat yang mempunyai akar budaya terhadap apa yang dipikirkan kabupaten lain. Masyarakat cenderung menilai bahwa adanya aktifitas GAM di daerah ini merupakan ulah provokator dalam usaha memperluas daerah operasi militernya. Untuk mencapai keberhasilan Hasan Tiro dalam menjawab kompleksibilitas persoalan Aceh sangatlah diragukan. Hanya dengan Islamlah mereka sesunggunya dapat dipersatukan.
Sesunggunya Hasan Tiro harus bisa membuktikan kemampuan dalam menyediakan persenjataan. Sehingga banyak tokoh GAM meninggalkan dirinya. Hanya satu yang berhasil dijalankan, yaitu mengirim para pemuda (yang kurang pendidikannya), dilatih militer di Libya. Pengiriman orang itu bisa dipahami, ketika mereka dikirim berdasarkan tingkat pendidikan yang rendah. Sedangkan Libya menyediakan sarana latian bagi para pemberontak untuk mengadakan perlawanan pada pemerintahan yang sah.

Sebanyak kurang lebih 800 orang telah dikirim ke sana. Namun jumlah itu menyusut, dan pemuda itulah yang saat ini melakukan tindakan kekerasan. Kepada mereka, Hasan Tiro memaksakan kehendaknya, di antaranya mengintruksikan untuk menghancurkan sekolah tempat pendidikan. Karena mereka nantinya akan menjadi orang-orang Pancasilais yang berarti, musuh GAM itulah alasannya.

Sasaran Hasan Tiro sebetulnya ingin menimbulkan suasana kacau yang menakutkan, sehingga dijadikan mesin kekacauan di Aceh. Karena, sepeninggal Tgk. M. Daud Beureueh, tidak ada tokoh yang dapat dipanuti, maka mau tidak mau para "tentara"GAM dan masyarakat yang ketakutan akan terus menokohkan Hasan Tiro sebagai pemimpin mereka. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi adanya kemungkinan yang lebih besar lagi yang dihadapi rakyat Aceh, dalam upayanya menyelesaikan kasus Aceh, sesunggunya harus ada political will (kekuasaan politik) dari pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan politisnya yang selama ini sangat merugikan rakyat Aceh.

Yakni mempelajari secara seksama tentang kebijakan embriokan daerah Serambi Mekkah sebagai provinsi yang dapat menjalankan syari'at Islam sesuai janji Presiden Soekarno pada rakyat Aceh yang diwakili oleh Almarhum Tgk. M Daud Beureueh.
 

BAB II
KONTROVERSI GAM HASAN TIRO

Pendiri dan Tokoh Sentral GAM

Hasan Huhammad Di Tiro, pria bertubuh pendek ini----lebih dikenal oleh pengikutnya sekarang dengan sebutan "Wali Negara" ---- adlah putra daerah kelahiran Desa Tanjong Bungong, Kecamatan Kuta Bakti, Kabupaten Pidie pada tahun 1923. Hasan Tiro lahir sebagai anak kedua dari sebuah keluarga petani bernama Leubee Muhammad dan Fatimah binti Mahyidin binti Tgk. Syekh Samalanga. Namun ia sering muncul bahwa dirinya sebagai keturunan ulama Di Tiro. Padahal, menurut catatan sejarah, ahli waris Tgk. Chik Di Tiro (dari keturunan laki-laki) berakhir pada 5 September 1910. Yakni setelah wafatnya Tgk. Chik Mayet Di Tiro yang telah syahid melawan belanda.

Pendidikan dasarnya dimulai dari madrasah Adabiyah Blang Paseh, pimpinan Tgk. M. Daud Beureueh, tahun 1930. Kemudian dilanjudkan ke sekolah Normal School. Bireun, Aceh Utara. Sebuah perguruan yang dipimpin Moehammad Nur El-Ibrahimy. Pada tahun 1946-1947, ketika masa-masa perjuangan Republik Indonesia, ia pernah masuk organisasi kepemudaan Barisan Pemida Indonesia (BPI) sekaligus sebagai ketuanya. Bahkan sebelumnya pun, pada bulan Agustus 1945, atas nama keluarga Tiro ia mengumumkan sebagai pendukung setia Republik Indonesia.

Berkat bantuan Tgk. M. Daud Beureueh, ia berkesempatan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UUI) Yogyakarta. Dan atas rekomendasinya pula Hasan Tiro bisa berkenalan dengan papak Syafruddin Prawiranegara, dan sambil kulia ia bekerja di pemerintahan RI, tahun 1949-1951. Di Yogyakarta ia aktif pula di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).

Karena kebaikan bapak Syafruddin, Hasan Tiro mendapatkan rekomendasi untuk belajar ke luar negeri, ia pun kulia di Universitas Columbia AS. Untuk menambah penghasilan, ia bekerja di kantor Perwakilan Indonesia di PBB, dari tahun 1951-1954.
Pada tahun 1954, ketika mendengar Tgk. M. Daud Beureueh memproklamasihkan DI/TII Aceh --- karena kesamaan ideology --- Hasan Tiro bergabung dengan perjuangan gurunya. Bahkan kemudian ia diangkat oleh Imam DI/TII, Sekarmadji Maridjan Karto soewirjo sebagai wakil DI/TII di luar negeri, tahun 1956-1962. Di saat ini namanya sempat menjadi pembicaraan di perpolitikan nasional, ketika ia menulis surat yang ditujukan kepada PM Indonesia, Ali Sastroamidjojo menghentikan agresi TNI dan kekejaman terhadap rakyat Aceh, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Dan dalam tulisannya ia sempat mengancam bahwa jika agrasi tersebut tidak dihentikan, maka persoalan DI/TII akan dibawa ke forum PBB.

Namun dalam kenyataannya, ternyata Hasan Tiro gagal memperjuangkan DI/TII di tingkat internasional. Kegagalannya itu mengilhami dirinya untuk kemudian merubah haluan politik perjuangan ke arah sosialis-sekuler. Dan dari semenjak itu dirinya tidak lagi mempercayai gerakan yang didasarkan agama.

Munculnya Kontroversi

Sejak Kegagalannya mengangkat misi DI/TII, muncul "kontroversi terselubung" yang coba dijalankan Hasan Tiro. Keberadaannya di luar negeri yang tidak diketahui oleh siapapun --- karena memang Hasan Tiro suka kemesteriusan --- dimanfatkan untuk "mengelabui" tokoh-tokoh pejuang Bangsa Aceh, tak terkecuali gurunya sendiri Tgk. M. Daud Beureueh. Dalam setiap informasi yang dikeluarkan, Hasan Tiro selalu memberi angin pada pimpinan DI/TII bahwa dirinya sudah memiliki kontak internasional. Padahal kontak yang ia lakukan bukan untuk kepentingan perjuangan, tapi hanya untuk kepentingan pribadinya semata . Perbuatan itu tidak lain untuk mencari uang.

Di bawah ini merupakan kontroversi Hasan Tiro dan perjuangan GAM-nya:

1. Suatu hari di tahun 1959, alih-alih beli senjata untuk perjuangan, ia pun meminta kepada Tgk. M. Daud Beureueh sejumlah uang, maka antar tahun 1959-1961 uang pun mengucur deras kepadanya. Tidak hanya tokoh di Aceh saja yang keluar, bahkan sempat uang Kasso Abdul Gani di Kuala Lumpur, dibawa Hasan Tiro. Padahal tidak ada senjata yang ia kirim, kecuali hanya dua pucuk pistol colt dan satu pucuk doubleleub ketika ia pulang ke Aceh. Inilah bentuk penipuan yang dilakukan Hasan Tiro terhadap perjuangan bangsa Aceh.

2. Ketika dating ke Aceh tahun 1976, Hasan Tiro mengubah kiblat dan haluan politik perjuangan bangsa Aceh, serta mengubah nama RIA menjadi Gerakan Aceh Merdeka, yang kemudian ia rubah lagi menjadi Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF). Di mana dalam perjuangannya, Hasan Tiro lebih memunculkan unsure ashobiyah etnisitas keacehan semata. Mereka ingin mengusir orang-orang non-Aceh keluar dari Aceh. Begitu pula orang Aceh yang memiliki faham ke-Indonesia-an, mereka akan diusir atau dibunuh bila perlu, karena sudah menghalangi cita-cita perjuangannya.

3. Untuk menggemahkan perjuangan ke tingkat internasional, Hasan Tiro lebih banyak membiarkan rakyat Aceh menjadi korban pembunuhan dalam pertikaian antara GAM dan TNI/Polri. Kenapa demikian? Karena dia lebih mementingkan politik ketimbang terjun langsung ke medan perang. Menurut pandangannya bahwa semakin banyak rakyat Aceh yang dipenjara atau dibunuh semakin dekat akan sebuah kemenangan. Hasan Tiro mengistilahkan perjuangannya hanya tinggal setenggah batang rokok lagi.

4. Selalu mengubah nama dan menambah gelar pada dirinya untuk mengangkat status sosialnya di mata bangsa Aceh Seperti:

a. Hasan Muhammad, nama sejak lahir hingga tahun 1947.
b. Tgk. Hasan Muhammad, ketika berada di Yogyakarta 1947-1949.
c. Tgk Hasan Muhammad Di Tiro, ketika berada di Amerika 1949-1987.
d. Tgk. Shyik Muhammad Hasan Di Tiro, dari mulai tahun 1987-1990.
e. Dr Tgk. Shyik Muhammad Hasan Di Tiro, LLD, PHD, dari mulai tahun 1990-1993.
f. Prof. Dr. Tgk. Shyik Muhammad Hasan Di Tiro, LLD, PHD, dari mulai tahun 1993-1997.
g. Al Mudabbir, Al Maulana, Al Malik, Al Mubin Prof. Dr. Sultan Tgk. Shyik Muhammad Hasan Maat Di Tiro, LLD, PHD, Al Chazibul akbar, dari mulai tahun 1997-hingga sekarang.
h. Ketika ia masih berada di Amerika, sempat diketahui perpacaran dengan seorang wartawati majalah Time dan berencana mengawininya. Kemudian ternyata ia telah mengawini seorang wanita keturunan Yahudi-Swedia bernama Dora yang kemudian memberikannya seorang putra bernama Karim Hasan. Anaknya ini telah dipersiapkan untuk menggantikan dirinya kelak bila dirinya meninggal sebagai raja Aceh.
 

BAB-III
KESESATAN GAM HASAN TIRO

Menurut gejala-gejala dan gerak langkah Hasan Tiro dalam bentuk Gerakan Aceg Merdeka (GAM) telah terjadi berbagai penyimpangan, terutama penyimpangan di bidang aqidah, syari'ah dan mu'amalah.

Pertama Penyimpangan Aqidah :

Dalam penyimpangan Aqidah, Gerakan Aceh Merdeka diarahkan kepada perjuangan yang bersifat sekuler, yaitu memisahkan antara persoalan dunia dengan persoalan agama, di mana dalam faham Hasan Tiro yang sekuler itu bahwa urusan agama tidak usah dicampur tangan dengan persoalan keduniaan (politik).

Jadi, menurut pandangan Hasan Tiro, bahwa urusan masyarakat Aceh bisa terselesaikan jikalau tidak menggantungkan urusan kepada Allah SWT. Hasan Tiro beragumen bahwa kemajuan masyarakat Aceh tergantung bagaimana kreasi masyarakat Aceh dalam membangun peradaban bangsanya. Hasan Tiro memberikan contoh seperti negara Uni Soviet, Amerika Serikat, Jerman dan lain-lain, yang kesemua negara tersebut memisahkan urusan dunia mereka dengan urusan agama, dan ternyata mereka bisa mencapai peradaban yang tinggi.

Begitu pula yang dikehendaki Hasan Tiro terhadap masyarakat Aceh, dibawah ini merupakan rangkaian penyimpangan dalam segi Aqidah antara lain.
a. Ia ingin menyingkirkan keislaman rakyat Aceh dan menggantinya dengan faham sekuler. Karena dengan jalan sepert inilah suatu saat nanti perjuangan masyarakat Aceh mendapat kemenangan. Selain itu, dengan berkiblat kepada faham sekuler memudahkan perjuangan masyarakat Aceh untuk mendapat pengakuan dunia Internasional. Walaupun pada saat ini belum sebuah negarapun yang mengakui perjuangannya, termasuk negara Amerika Serikat yang merupakan kiblat politik Hasan Tiro.

a. Ia ingin mencanangkan faham sekuler ini sebagai bagian terpenting dari penerapan keyakinan masyarakat Aceh, .Agar upaya-upaya memperjuangkan kekuasaan atau kedaulatan masyarakat Aceh dalam wujud Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dengan doktrin sekuler inilah GAM serta perjuangannya sebagai satu-satunya perwujudan konkrit dari bentuk pemahaman serta pelaksanaan yang absah dan benar bagi masyarkat Aceh seluruhnya.

b. Ia ingin memmahamkan tentang sekulerisme sebagai suatu ajaran atau doktrin yang menuntut kesadaran jiwa maupun mental orang-orang Aceh, agar merasa wajib dan bertanggung jawab untuk senantiasa membentuk, menegakkan dan menyelenggarakan kehidupan selaku warga sekuler.

c. Ia ingin memahamkan bahwa dirinya adalah tokoh pembaharu Aceh, yang akan menghantarkan masyrakat Aceh menuju kejayaan gilang-gemilang seperti para endatunya terdahulu. Oleh karenanya, bila melihat selebaran yang telah beredar di Aceh bahwa ia telah mendakwakan dirinya sebagai raja Aceh---atau yang telah diakui menurut ulama mereka sebagai "ulil amri" yang sah. Yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya untuk selalu dita'ati dan dipatuhi segala perintah dan larangannya oleh segenap masyarakat Aceh.

Yang perlu dicatat untuk Hasan Tiro dan komonitasGAM-nya, adalah bahwa Islam----yang menjadi Aqidah dan agama masyarakat Aceh----mempunyai sikap yang jelas dan hukum yang tegas dalam berbagai masalah yang dianggap tulang punggung dunia politik.

Islam , yang merupakan sebuah sistem yang lengkap, bukan merupakan keyakinan para pemimpin agama atau slogan-slogan ibadah semata. Maksudnya, Islam bukan hanya sekedar hubungan manusia dengan Rabb-nya tanpa ada hubungan dengan cara mengatur kehidupan, menuntun masyarakat dan daulah. Tetapi Islam merupakan system kehidupan yang meletakkan prinsip-prinsip ,memancangkan kaidah membuat ketetapan-ketetapan hukum, menjelaskan tuntutan, yang berkaitan dengan kehidupan individu, cara menata rumah tangga, mengatur masyarakat, mendirikan daulah dan menjalin hubungan dengan seluruh dunia.

Pola pemikiran tauhud dalam Islam yang berlaku, bahwa tidak seharusnya orang muslim menjadikan selain Allah sebagai Rabb, mengambil selain Allah sebagai penolong dan tidak mencari hokum dari selain Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur'an.

Kedua Penyimpangan Syari'ah

Di dalam penyimpangan syari'ah, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah melakukan perubahan nekat dan berani yang hanya berdasarkan ra'yu (rasio) mereka sendiri dalam kelompoknya, diantaranya:

a. Menetapkan bahwa hukum shalat tidak wajib. dengan alasan dalam kondisi dan situasi jihad. Iebih jauh Hasan Tiro berpendapat hahwa kewajiban shalat akan membuat masyarakat Aceh semakin malas, yang selalu menggantungkan hidupnya dari do'a ke do'a. Padahal tidak ada sedikitpun nash dalam Al Qur'an yang membenarkan pendapat demikian. begitu pula perbuatan Rasulullah saw. Yang perlu dipahami oleh komunitas GAM adalah bahwa ibadah kepada Allah SWT dan meminta tolong kepada-Nva y:ang tertuang dalam shalat, termasuk berjuang membela negeri merupakan dua aktifitas yang harus senantiasa melekat pada setiap pribadi muslim. Keharusan ini berlaku dimanapun dan kapan pun. Ibadah yang tercermin dari cara berpikir, ,berbicara dan bertindak dalam dataran kenyatan, bagi seorang muslim selalu disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan-Nya. Apa yang harus dilakukan di tengah-tengah masyarakat, harusnya merupakan refleksi dan manifestasi dari shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Shalat khusyu' yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan konsentrasi akan melahirkan kesadaran berbuat yang terbaik untuk rakyat. dan bagi si pelaku shalat sambil terus berusaha menjauhkan diri dari perbuatan yang merusak dan merugikan orang lain, termasuk perbuatan fahsya dan munkar.

b. Menetapkan bahwa berperang melawan tentara RI, berarti sedang berperang atau jihad fi sabilillah. Tanpa melihat lagi tujuan, kondisi ataupun syiar perjuangannya. Sesungguhnya yang membedakan antara muslim dan non muslim dalam berjihad adalah tujuan. Bahwa kaum muslimin itu ber,jihad semata-mata karena Allah SWT, berperang karena Allah SWT ,sedangkan kaum non muslim tidak. Tujuan inilah yang menyebabkan sucinya jihad dan berperang, dan menjadikannya sebagai ibadah serta upaya dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Jadi setiap perang yang terjadi di bawah naungan bendera selain Islam dengan tujuan yang tidak untuk menolong dan membela kehormatan Islam dan umat Islam bukanlah termasuk perang suci (qital fi sabilillah).

c. Melarang melaksanakan haji ke Mekkah dengan alasan bahwa, kewajiban ibadah haji bisa gugur bila dalam pelaksanaannya terdapat suatu halangan syara'. Di antaranva keamanan yang tidak kondusif, terjadinya hal-hal bathil dalam pelaksanaan haji. Seperti, pelaksanaan haji tersebut dikelola oleh orang-orang kafir (dalam konteks ini yang mereka maksudkan adalah rejim penjajah Indonesia -Jawa). dan juga pengribaan uang setoran ONH yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Semua alasan tentang gugurya berhaji menurut faham mereka. sebenarnya tidak ada sama sekali, dalam Al Qur 'an. Yang jelas, sikap mereka tersebut adalah upayanya dalam mempolitisasi agama demi kepentingan komunitas dan pribadi mereka saja.

d. Menghalalkan mencuri, menipu merampok atau merampas harta dan bahkan membunuh warga non-Aceh ataupun warga Aceh sendiri dengan alasan untuk kepentingan perjuangan GAM. Hal ini disandarkan pada filosofi sesat tentang adanya kepemilikan yang absah terhadap seluruh daerah teritorial Aceh. semenjak adanya proklamasi GAM tahun 1976, dan bila dalam kenyataannya kini ternyata masih berada dalam penjajah Indonesia -Jawa beserta rakyatnya, rnaka itu hasil merampas dari kekuasaan yang sah bangsa Aceh. Oleh karenanya adalah wajib hukumnya mengambil harta kekayaan tersebut dengan jalan apapun asalkan demi komunitas dan pribadi mereka. Inilah yang merupakan dasar falsafah adanya prinsip penghalalan segala cara yang dianut oleh komunitas GAM.

Penyimpangan syari'ah ini pada kenyataannya berbuntut lahirnya sikap-sikap ekstrim yang liar. Kenapa muncul sikap demikian? Bisa jadi kemungkinannya karena telah terjadi "kegersangan spiritual" pada sikap dan perbuatan komunitas GAM. Kegersangan yang lahir dari tidak adanya sentuhan keimanan, sehingga komunitas GAM tidak mampu lagi memaknai arti perjuangannya. Kalimat jihad yang selalu disuarakan mereka temyata tak memiliki makna sama sekali. Perlu menjadi pemahaman mereka bahwa walaupun jihad mempunyai pengertian sebagai berjuang, tetapi tidak semua berjuang dapat disebut jihad. Hadirnya jihad adalah perintah Allah. sehingga jihad harus karena Allah, sedang cara atau proses pelaksanaanya juga harus sesuai dengan konsep Allah, begitu pula tujuannya adalah mencari keridhoan Allah semata. Dengan demikian, jihad adalah merupakan salah satu bentuk ibadah. yaitu menegakkan yang haq dan menghancurkan kebathilan. Jadi, apabila satu negeri Ingin merebut kemerdekaan dari penjajah dengan maksud untuk membangun negara yang tidak Islami. atau hanva sekedar untuk mencapai keseiahteraan rakyat tanpa memperhatikan konsep Ilahi, maka tidak layak disebut sebagai jihad.

KETIGA Penyimpangan Akhlak

Di bidang akhlak, komunitas HasanTiro tidak menampakkan sama sekali akhlakul karimah-nya. Konsekuensi dari penyimpangan aqidah mengakibatkan mereka tersesat dan menyukai kesesatan dalam memahami maupun melaksanakan Ibadah, syari'ah dan Ahlaq, penyimpangan akhlaq tersebut antara lain:

a. Menjadi sombong dan arogan serta membanggakan diri terhadap pemahaman kebangsaan (ashobiyah), di mana mereka beranggapan hahwa keberadaan komunitasnya dirasakan memiliki keistimewaan dari bangsa lainnya.

b. Memandang remeh dan rendah terhadap komunitas di luar kelompoknya, terulama penduduk non-Aceh yang berasal dari pulau Jawa yang dianggapnya sebagai penjajah, tanpa melihat lebih jauh persoalan sosial-politik, ekonomi dan keagamaan di luar Aceh. Sudah kita ketahui bersama bahwa penduduk non-Aceh baik yang muslim maupun non muslim mengalami kedzaliman rezim penguasa Republik, pada masa orla dan orba.

c. Menghalalkan berbuat khianat. sewenang-wenang, diskriminatif serta memutuskan tali silaturahmi atau persaudaraan atas dasar demarkasi karena belum menjadi komunitas mereka, atau mengkritik setiap kebijakan yang dikeluarkan.
Dengan akhlak yang menyimpang inilah akhinya membawa mereka kepada sikap mental dan jiwa menjadi sulit untuk menerima petunjuk atau hidayah Allah berupa kebenaran yang berdasarkan Al Qur'an dan Hadits maupun atsar atau sirah (sejarah). Apalagi tausiyah (nasehat) ataupun tadzkirah (peringatan) yang disampaikan oleh pihak-pihak yang dianggap lain oleh kelompok mereka, sekalipun mereka adalah ulama Aceh sendiri. Dengan tulisan ini penulis berharap menjadi pembuka jalan bagi mereka, walaupun mungkin tidak bisa diharapkan hanyak. Karena penulis sadar bahwa hidayah dan kasih sayang Allah itu tercurah atas kehendak-Nya sendiri. Di samping itu, banyak di antara mereka yang hanva memiliki kesadaran dan pemahaman Aqidah, Syari'ah ataupun muamalah yang hanva setengah-setengah. atau pas-pasan akibat minimnya pengetahuan agama.

Karena kekurangtahuan dan ketidakfahaman terhadap masalah-masalah agama, dalam prakteknya mereka lebih takut kepada kekuatan manusia dari pada kekualan Allah. Mereka lebih cinta berkorban hanva untuk 'kesia-siaan' ketimbang berkorban demi mardlatillah.Mereka rela menanggalkan keislamannya demi sebuah perjuangan yang bersifat ashobiyah, ketimbang kejayaan Islam wal muslimin. Mereka membunuh orang yang sebenarnya tidak pantas untuk dibunuh dan selalu tidak berlaku jujur, amanah dan adil. Hati mereka seakan-akan ada dinding pemisah sehingga tidak mampu menilai antara haq dan bathil, mana yang harus dilalkukan dan mana yang ditinggalkan, siapa yang harus dibela dan siapa yang harus di perangi, haruskah kita damai denga manusia-manusia yang biadab??.

Banyak sekali logika perjuangan mereka yang tidak bisa diterima oleh akal sehat sekalipun, apalagi jika di timbang dengan logika agama, semakin tidak menentu kebenarannya, seperti:

a. Membakar sekolah dengan alasan karena orang Aceh yang sudah pernah bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintah Indonesia, otaknya sudah di kotori ideologi Pancasila. Jelasnya, bahwa sekolah umum itu telah membuat orang Aceh tidak berpikiran murni Aceh lagi.

b. Membunuh orang karena alasan orang tersebut menjadi pengajar/guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah milik pemerintah(kasus A Halim, guru SLTP Negeri 5 Lhoksukon).

c. Menipu rakyat agar mengeluarkan uang dengan dalih perjuangan, padahal setelah uangnya diperoleh ternyata masuk kekantong pribadinya.

d. Memeras rakyat agar mau menyetorkan uang kepada penguasa GAM, dimana besar dan kecilnya uang tersebut ditakar sekehendak hati mereka sendiri, bahkan disertai dengan ancaman untuk dibunuh bila tidak mau menyerahkan.
Dan banyak lagi tindakan-tindakan lainnya yang sudah di luar perikemanusiaan. Dimana itu semua atas restu dan izin dari penguasa GAM, Hasan Muhammad Di Tiro. Oleh karena itu di ujung tulisan ini, penulis menghimbau kepada seluruh komponen masyarakat Aceh untuk merenung dan kontemplasi diri terhadap apa yang sedang terjadi di Bumi Aceh ini.

kemudian hasil renungan itu memiliki pertimbangan yang masak untuk selanjutnya bertanya layak dan pantaskah menjadikan GAM Hasan Tiro sebagai sarana perjuangan? Rela dan iklas hatikah menyerahkan harta benda demi perjuangan yang jelas-jelas bukan untuk menegakkan kalimatillah? Penulis yakin bahwa kita semua selalu ingin berada di jalan kebenaran menurut tuntunan Illahi. Sebab, apapun persoalannya bila diri sudah berada dalam kebenaran, mati sekalipun sudah ada garansi yang pasti. Penulis berharap dari pandangan ini memunculkan sikap yang tiada ragu, jujur, tawakal dan istiqamah untuk senantiasa mengatakan dan menjalankan kebenaran tersebut. "Ingat katakanlah yang benar itu memang benar, dan katakanlah yang bhatil itu memang bhatil adanya".

Dan dengan diiringi do'a tentunya kita yakin bahwa Allah selalu menyertai orang-orang yang selalu berjuang di jalan-Nya. Dan Allah pun selalu hadir bersama dengan orang-orang yang benar. Wallahu'alam bisshawab.( Abu Jihad)
----------