Stockholm, 12 Agustus 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SAMUDRA DENGAN AL QURAN DOBRAK UU NO.15/2003 & UU NO.16/2003 SEKULAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
 

SAMUDRA DENGAN AL QURAN DOBRAK UU NO.15/2003 & UU NO.16/2003 SEKULAR PENGARUH POLITIK TERORISME GEORGE BUSH

Memang terlihat jelas, Abdul Azis alias Imam Samudra telah menampilkan suatu ketegasan sikap dan kebulatan tekad dalam bentuk penampilan Al Quran yang dipergunakan untuk mendobrak Undang-Undang sekular yang berupa Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menjadi Undang-Undang, dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali Tanggal 12 Oktober 2002, Menjadi Undang-Undang.

Imam Samudra menampilkan ketegasan sikap dan kebulatan tekad tersebut didalam persidangan yang dipimpin Majelis Hakim I Wayan Sugawa dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Nyoman Dilla yang digelar di Gedung Wanita Nari Graha, Jalan Cut Nyak Dien, Renon Denpasar, hari Senin, tanggal 11 Agustus 2003.

Dimana ketegasan sikap dan kebulatan tekad-nya tersebut ditampilkan dalam pledoi yang sebagian isinya berisikan: "Dengan kematian saya lebih tenteram. Dan dengan kematian saya lebih dekat dengan Allah...JPU dalam tuntutannya menyatakan kasus bom Bali sebagai extraordinary crime (kejahatan luar biasa), tapi memprosesnya dengan ordinary crime (kejahatan biasa). JPU melihat kasus bom Bali hanya dari segi kuantitas korban, bukan dari kualitas kasus. Tetapi dalam persidangan ini ternyata JPU melihat kejahatan luar biasa hanya dari segi kuantitas korban, bukan dari kualitas. Itu artinya JPU menuntut dengan proses ordinary crime, padahal tuntutannya extraordinary crime. Jadi kasus ini tidak bisa digolongkan sebagai tindak kriminal, karena didasarkan atas keyakinan dan mujizat, nah mujizat itu adalah hal yang luar biasa. Yen wenten kewangan tiang nunas ampura, ring masyarakat Bali sane siosan (Kalau ada kesalahan saya minta maaf, kepada masyarakat Bali dan yang lainnya). Jika yang menjadi korban adalah sekutu, saya syukuri. Sedangkan yang tertimpa adalah masyarakat Indonesia atau muslim, itu saya sesali. Mengapa Hernianto, Ali Imron, Muklas, dan Amrozi memberikan keterangan salah, itu karena mereka disiksa. Kata-kata dalam file oleh JPU diubah dari kata sesudah menjadi sebelum. Sehingga ada opini bahwa yang mempunyai pertanggungjawaban itu telah mengetahui rencana bom Bali. Padahal itu saya buat bulan November 2002. ( http://www.detik.com/peristiwa/2003/08/11/20030811-115825.shtml ). Saya hanya sekedar ikut jalan-jalan ke Legian Kuta. Dan kalau sekarang hanya karena itu saja saya dituduh ikut sebagai pelaku bom Bali, saya siap" ( http://www.kompas.com/utama/news/0308/11/154028.htm ).

Sedangkan Qadar Faisal selaku pengacara Imam Samudera yang membacakan pledoinya yang sebagian isinya berisikan: "Andaikata dalam peledakan di Sari Club, Paddy's Pub dan Konsulat AS di Renon, Denpasar, serta peledakan gereja di Batam dianggap ada peranan terdakwa, maka hal ini dilakukan semata-mata karena dorongan keyakinannya atas proses jihad yang terdakwa yakini harus secara demikian melakukannya. Tidak ada keyakinan pada masalah bom, apakah benar bom yang mengandung TNT, RDX dan potassium chlorate menghasilkan ledakan dahsyat tanpa ada muatan lain seperti nuklir. Ali Imron yang menuding Imam sebagai pengatur perencana peledakan tidak terbukti. Karena pada saat itu (peledakan bom di Bali), Imam ada di sebuah warnet" ( http://www.detik.com/peristiwa/2003/08/11/20030811-124746.shtml )

Walaupun Imam Samudra adalah "bukan pencetus ide peledakan bom Bali", seperti yang dikatakannya dalam persidangan yang dipimpin Majelis Hakim I Wayan Sugawa di Gedung Wanita Nari Graha, Jalan Cut Nyak Dien, Renon Denpasar, hari Rabu, tanggal 16 Juli 2003 yang lalu, dan hanya "pernah jalan-jalan ke Kuta", tetapi ia "bertanggung jawab secara moral, karena tak ada yang mengklaim".

Nah disini, Imam Samudra menampilkan sikap dan perlawanan terhadap Presiden George Bush yang telah medeklarkan perang jenis baru pasca-11 September 2001, dengan tujuan seperti yang dikatakan Imam Samudra dalam persidangan hari Rabu, tanggal 16 Juli 2003 yaitu "untuk melakukan perang urat saraf dengan kafir dalam hal ini AS dan sekutunya. Karena ditindas AS, maka harus balas dengan propaganda itu".

Hanya tentu saja, karena di Negara RI-Jawa-Yogya, Al Quran tidak diakui sebagai sumber hukum, maka apapun alasan yang diambil dari Al Quran yang dimajukan oleh Imam Samudra kehadapan Majelis Hakim I Wayan Sugawa dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Nyoman Dilla di Gedung Wanita Nari Graha, Jalan Cut Nyak Dien, Renon, Denpasar itu, maka tetap saja akhirnya, tuntutan Jaksa Penuntut Umum I Nyoman Dilla yang menuntut terdakwa Abdul Aziz alias Imam Samudera dalam 4 perkara yaitu 2 tuntutan primer Pasal 14 Junto Pasal 6 dan Pasal 11 Junto Pasal 6 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dan 2 tuntutan subsider pasal 1 ayat 1 UU Darurat nomor 12 tahun 1951 dan Pasal 187 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang akan muncul kepermukaan Negara RI-Jawa-Yogya.

Walaupun pledoi Imam Samudra yang sebagian besar isinya diambil dari nilai-nilai jihad yang ada dalam Al Quran untuk menghadapi Presiden George Bush yang telah medeklarkan perang jenis baru pasca-11 September 2001 tidak mempan dipakai senjata penangkis serangan UU No.15/2003 & UU No.16/2003 sekular, tetapi semangat jihad Imam Samudra menghadapi kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanan Presiden George W Bush dan sekutunya tentang perang jenis baru pasca-11 September 2001, akan terus bergema dan menjadi sumber inspirasi dimasa depan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se