Stockholm, 15 Agustus 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MENDUKUNG PERJUANGAN RAKYAT ACEH BERDASARKAN FAKTA, SEJARAH DAN HUKUM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS MENDUKUNG PERJUANGAN RAKYAT ACEH BERDASARKAN FAKTA, SEJARAH DAN HUKUM YANG MENDASARI KETIKA SEJARAH BERLANGSUNG

"Assalamualaikum!. Dari komentar saudara terhadap tulisan Z.Afif, saya dipahami yang saudara terang-terang memihak kepada GAM dibawah pimpinan Malik Mahmud atas dasar defaktonya - bukan karena dasar2 prisipilnya: Indonesia berunding dengan grup Malik; Indonesia menganggap malik lebih kuat, tanpa memperhatikan faktor dejurenya. Disini jelas saudara membela kekuasaan, saudara membela kezaliman, saudara mempromosikan kediktatoran dan sauadara takut akan kebenaran. Kalau ´"tuduhan2" saya ini tepat, buat apa saudara meninggalkan WNI dengan
memilih WNA yang kriterianya juga sama?"
(Napoleon Bonaparte , geurupoh@hotmail.com , Fri, 15 Aug 2003 13:29:47 +0000)

Terimakasih saudara Napoleon Bonaparte yang telah menyampaikan tanggapannya terhadap tulisan "[030814] Strategi Megawati dan Yudhoyono Cs hadapi kelompok rakyat Aceh yang dianggap kuat " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030814a.htm )

Saudara Napoleon Bonaparte perlu menggali sedikit lebih dalam dari apa yang telah saya ungkapkan dalam tulisan tersebut yang berisikan: " Tulisan Saudara Z.Afif "Catatan dari Stavanger 5 "KEBIJAKAN" MEMPERLUAS MUSUH DAN MENYINGKIRKAN KAUM (1)" dan "Catatan dari Stavanger - 5 "Kebijakan" Memperluas Musuh (2)" yang dikirimkan oleh grup diskusi Lantak kepada saya setelah dibaca ternyata berisikan introspeksi tentang perjuangan pergerakan rakyat Aceh yang tergabung dalam ASNLF/GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro."

Nah, saya menulis "setelah dibaca ternyata berisikan introspeksi tentang perjuangan pergerakan rakyat Aceh yang tergabung dalam ASNLF/GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro."

Dimana inti dari yang saya tulis itu adalah "introspeksi tentang perjuangan pergerakan rakyat Aceh yang tergabung dalam ASNLF/GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro"

Kemudian, setelah saya baca, dalami, pahami dari apa yang ditulis oleh saudara Z. Afif tersebut, maka lahirlah pemikiran saya: "Seandainya ada perbedaan yang dianggap prinsipil diantara para pejuang pergerakan rakyat Aceh, sehingga tidak mungkin bergabung dalam satu kapal induk, tetapi jangan sampai perbedaan ini dijadikan sebagai dasar untuk saling memperlemah jalannya roda perjuangan pergerakan rakyat Aceh yang menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan".

Nah inilah, hasil pemikiran dari apa yang telah saya baca, dalami, pahami dari apa yang ditulis oleh saudara Z. Afif tersebut.

Selanjutnya, kalau saya melihat kepada pihak Presiden Megawati dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, ternyata dari apa yang telah saya baca, dalami dan pahami, maka lahirlah pemikiran saya bahwa "pihak Presiden Megawati dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs mengetahui benar siapa yang berada dan mengontrol dibalik roda perjuangan pergerakan rakyat Aceh yang tergabung dalam ASNLF/GAM, siapa yang maju kedepan dalam setiap perundingan dari pihak ASNLF/GAM, dan mereka yang maju dalam setiap perundingan itulah yang dianggap lawan yang paling kuat oleh pihak Presiden Megawati dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs"

Seterusnya dalam tulisan tersebut saya lahirkan suatu jalan keluar, yaitu "yang terbaik manurut pikiran saya adalah bagaimana agar perjuangan pergerakan rakyat Aceh yang tergabung dalam ASNLF/GAM makin kuat sehingga mampu menghadapi pihak Presiden Megawati dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs yang sedang menduduki negeri Aceh. Setiap pergerakan rakyat Aceh yang tergabung kedalam berbagai pergerakan harus diarahkan kepada arah dan jurusan yang sama yaitu menuntut keadilan melalui tuntutan negeri Aceh yang diduduki Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh, karena tidak sesuai dan melanggar Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan". Siapa yang akan memimpin setiap pergerakan rakyat Aceh itu diserahkan kepada masing-masing anggota pergerakan tersebut."

Saudara Napoleon Bonaparte seterusnya menulis: "Komentar saudara terhadap tulisan Z.Afif membuat saya agak curiga tentang motivasi saudara yang sebenarnya dalam membela GAM habis-habisan selama ini. Setahu saya saudara masih berhubungan baik dengan KBRI Swedia, walau tidak dengan dubesnya tapi paling kurang dengan staff2nya; setahu saya saudara masih punya hubungan yang erat dengan Dr Husaini (Ketua MPGAM) yang jelas2 seterunya Malik Mahmud, manakala Z.Afif adalah teman karibnya Dr Husaini. Saya yakin saudara telah banyak membaca tulisan2 Z.Afif yang lalu. Demikian juga dengan tulisan tulisan dan pendirian Dr. Husaini terhadap Malik Mahmud. Kalau memang itu perkaranya, kenapa saudara Sudirman, Z.Afif dan Dr. Husaini tidak duduk di warung kopi saja dan bisa bertukar-tukar pikiran dengan santai, daripada membuat orang lain bingung! Persoalan Aceh hendaknya dilihat dari berbagai perspektif, bukan dari hujung bayonet saja"

Nah sekarang, tentang dukungan saya, sebagaimana yang telah ditulis dalam tulisan "[030703] Rakyat Aceh sadar bahwa Aceh sedang diduduki oleh Megawati dengan TNI-nya" yaitu: "Yang jelas saya mendukung perjuangan rakyat Aceh sesuai dengan kemampuan saya, karena saya mempunyai alasan dasar hukum, sejarah dan de facto Aceh yang sampai detik ini belum ada alasan-alasan lain yang bisa merubah alasan saya sekarang" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030703a.htm ).

Soal hubungan dengan KBRI, jelas, tidak ada hubungan. Dari sejak diumumkan pencabutan kewarganegaraan saya pada tanggal 8 September 1981 berdasarkan Surat Keputusan nomor B/480/IV/81/DB yang dikeluarkan oleh Duta Besar Ferdy Salim di Cairo, Mesir pada tanggal 30 April 1981. Pada tanggal 29 Juli 1981 saya meninggalkan Cairo menuju Stockholm. Dimana 5 tahun kemudian, pada tanggal 11 Juni 1986 saya diterima menjadi warga negara Swedia. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030703a.htm ).

Adapun dengan para tokoh ASNLF/GAM di Swedia, memang saya kenal. Sedangkan soal internal organisasi ASNLF/GAM itu adalah urusan organisasi ASNLF/GAM.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "napoleon bonaparte" <geurupoh@hotmail.com>
To: asca@yahoogroups.com, lantak@yahoogroups.com, PPDI@yahoogroups.com
Subject: «PPDi» keu saudara Sudirman
Date: Fri, 15 Aug 2003 13:29:47 +0000

Assalamualaikum!

Saudara Sudirman,
Urusan intern GAM biarlah GAM sendiri yang menyelesaikannya. Kalau orang Aceh sendiri tindak
sanggup menyelesaikannya, tidak mungkin seorang expatriate Sunda bisa berhasil. Kami sangat bersyukur atas tulisan2 saudara yang selama ini membela perjuangan GAM dan rakyat Aceh. Itu lebih baik daripada bertahun-tahun membuang waktu untuk mendirikan "Negara Islam Medinah" yang entah-berantah itu.

Dari komentar saudara terhadap tulisan Z.Afif, saya dipahami yang saudara terang-terang memihak kepada GAM dibawah pimpinan Malik Mahmud atas dasar defaktonya - bukan karena dasar2 prisipilnya: Indonesia berunding dengan grup Malik; Indonesia menganggap malik lebih
kuat, tanpa memperhatikan faktor dejurenya. Disini jelas saudara membela kekuasaan, saudara membela kezaliman, saudara mempromosikan kediktatoran dan sauadara takut akan kebenaran. Kalau ´"tuduhan2" saya ini tepat, buat apa saudara meninggalkan WNI dengan
memilih WNA yang kriterianya juga sama?

Saudara Sudirman,
Komentar saudara terhadap tulisan Z.Afif membuat saya agak curiga tentang motivasi saudara yang sebenarnya dalam membela GAM habis-habisan selama ini. Setahu saya saudara masih berhubungan baik dengan KBRI Swedia, walau tidak dengan dubesnya tapi paling kurang
dengan staff2nya; setahu saya saudara masih punya hubungan yang erat dengan Dr Husaini (Ketua MPGAM) yang jelas2 seterunya Malik Mahmud, manakala Z.Afif adalah teman karibnya Dr Husaini. Saya yakin saudara telah banyak membaca tulisan2 Z.Afif yang lalu. Demikian juga dengan tulisan tulisan dan pendirian Dr. Husaini terhadap Malik Mahmud. Kalau memang itu
perkaranya, kenapa saudara Sudirman, Z.Afif dan Dr. Husaini tidak duduk di warung kopi saja dan bisa bertukar-tukar pikiran dengan santai, daripada membuat orang lain bingung!
Persoalan Aceh hendaknya dilihat dari berbagai perspektif, bukan dari hujung bayonet saja.

Wallahualam!

NAPOLEON

geurupoh@hotmail.com
----------