Stockholm, 20 Agustus 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

NII DAUD BEUREUEH DAN NII KARTOSOEWIRJO DILUAR KERANGKA RI-JAWA-YOGYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS NII PIMPINAN TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH DAN NII PIMPINAN S.M. KARTOSOEWIRJO WALAUPUN PAKAI NAMA INDONESIA TETAPI DILUAR KERANGKA NEGARA RI-JAWA-YOGYA

"Kalau Bung Karno membohongi Dawud Berureuh yes that Rigth, absolutly very very correct. Kalau seandainya Bung Karno memenuh janjinya tentunya Dawud Beureuh (Allah Yarham wa Magfiratuhu) tdk akan mengadakan kontak senjata, melawannya apalagi ingin memesahkan diri dari kerangka NKRI itu Untuk jelasnya saya kutipkan dari buku yg sama sbb " 21 September 1953 adalah suatu tarikh yg menggemparkan seluruh Nusantara. Teungku Muhammad Dawud Beureuh melancarakan satu revolusi Islam dan memproklamirkan berdirinya Negara Islam Atjeh - Negara Islam Indonesia, wilayah Atjeh di bawah pimpinan beliau (Dawud Beureueh) memisahkan diri dari neo Majapahit-RI yang berpusat di Jakarta dan bergabung dgn Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo sebagai Imam/Panglima Tertinggi yg berbasis di Jawa Barat, Proklamasi berdirinya 7 Agustus 1949 (di buku yg sama hal.73). Jadi jelaslah sudah walaupun berontak, walaupun revolusi Islam itu tetap dalam kerangka Indonesia, bukan misah dari Indonesia. Kang Dirman. Kalau Anda dkk menyatakan seperti yg sering anda sebut penerus perjuangan Dawud Beureuh maka andapun harus memproklamirkan negara Islam Atjeh-Negara Islam Indonesia, dan Anda dkk tdk jelas juntrung-nya kalau Atjeh itu lepas mau jadi Negara apa ?? Sosialis-kah, Kapitalis-kah itu ??? Dan perjuangan Anda itu lebih sempit dari Perjuangan Dawud Beureuh, Anda dkk hanya menuntut lepas dari NKRI tdk memperjuangan Negara Islam secara keseluruhan."
( Rahmatullah, icmijed@hotmail.com , Rahmatahyani@yahoo.com , Tue, 19 Aug 2003 16:56:39 +0300)

Terimakasih saudara Rahmatullah di Jeddah, Saudi Arabia atas tanggapannya terhadap tulisan saya.
Baiklah, sebenarnya nama "Indonesia" dalam nama Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan oleh pimpinan Imam S.M. Kartosoewirjo pada tanggal 7 agustus 1949 di daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat, diambil dari nama Ummat Islam Indonesia. Sebagaimana yang tertulis dalam Muqaddimah Kanun Azasy, Negara Islam Indonesia, yaitu:

"Hampir djuga kaki Ummat Islam selesai melalui djembatan emas jang terachir ini, maka badai baru mendampar bahtera Umat Islam hingga keluar dari daerah Republik, terlepas dari tanggung djawab Pemerintah Republik Indonesia. Alhamdulillah, pasang dan surutnja air digelombang samudera tidak sedikitpun mempengaruhi niat sutji jang terkandung dalam kalbu Muslimin jang sedjati. Didalam keadaan jang demikian itu, Ummat Islam bangkit dan bergerak mengangkat sendjata, melandjutkan Revolusi Indonesia, menghadapi musuh, jang senantiasa hanja ingin mendjadjah belaka. Dalam masa revolusi jang kedua ini, jang karena sifat dan tjoraknja merupakan revolusi Islam, keluar dan kedalam, maka Ummat Islam tidak lupa pula kepada wadjibnja membangun dan menggalang suatu Negara Islam jang Merdeka, suatu Keradjaan Allah jang dilahirkannja diatas dunia, ialah sjarat dan tempat untuk mentjapai keselamatan tiap2 manusia dan seluruh Ummat Islam, dilahir maupun bathin, di dunia hingga di acherat kelak. Mudah-mudahan Allah S.W.T melimpahkan taufik dan hidajatNja serta tolong dan KurniaNja atas seluruh Negara dan Ummat Islam Indonesia, sehingga terdjaminlah keselamatan Ummat dan Negara daripada tiap2 bentjana jang manapun djuga. Amin. (Kanun Azasy, Negara Islam Indonesia, Muqaddimah.)

Nah karena rakyat Negara Islam yang diproklamirkan oleh Imam S.M. Kartosoewirjo adalah Ummat Islam Indonesia, maka Negara Islam yang baru diproklamirkan itu dinamakan Negara Islam Indonesia atau disebut dengan Negara Kurnia Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada
bangsa Indonesia. (UUD NII, Bab I Negara, Hukum dan Kekuasaan, Pasal 1)

Begitu juga dengan Proklamasi Negara Islam Indonesia di Aceh yang diproklamirkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 yang tertulis: "Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam."

Disinipun kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnya telah dilenyapkan, digantikan oleh pemerintah Negara Islam.

Nah disini disebutkan pemerintah Negara Islam, tetapi karena menyangkut seluruh Ummat Islam Indonesia, maka dinamakan dengan Negara Islam Indonesia. Sebagaimana Negara Islam yang diproklamirkan oleh Imam S.M. Kartosoewirjo di daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat.

Jadi nama "Indonesia" yang ditambahkan dibelakang nama Negara Islam itu hanya sebagai pengganti nama Ummat Islam Indonesia.

Karena itu berdirinya NII Imam S.M. Kartosouwirjo dan NII Teungku Muhammad Daud Beureueh berada diluar kerangka Indonesia yang berbentuk Negara RI-Jawa-Yogya.

Tentang Proklamasi Negara Islam Indonesia oleh Imam S-M- Kartosoewirjo ini 5 tahun yang lalu saya telah menulis tentang Negara Islam Indonesia pimpinan Imam S.M. Kartosoewirjo yang berjudul "[980629] Negara Islam Indonesia telah diproklamirkan empat puluh sembilan tahun yang lalu " ( http://www.dataphone.se/~ahmad/980629.htm )

Nah dari tulisan tersebut NII tidak dibangun dalam kerangka Negara RI-Jawa-Yogya. Disini saya kutifkan kembali sebagian tulisan tersebut:

"Sebenarnya Negara Islam Indonesia telah diproklamirkan empat puluh sembilan tahun yang lalu, tepatnya tanggal 7 agustus 1949 di daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat oleh Imam Negara Islam Indonesia Almarhum Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.Dimana bunyi proklamasi Negara Islam Indonesia adalah sebagai berikut :

"Bismillahirrahmanirrahim. Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadarrasulullah. Kami Ummat Islam Bangsa Indonesia menyatakan BERDIRINYA NEGARA ISLAM INDONESIA. Maka Hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu, ialah HUKUM ISLAM. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia. IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA. ttd. (S.M. KARTOSOEWIRJO). Madinah Indonesia, 12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949.

Tanggal 7 agustus 1949 adalah bertepatan dengan Bung Hatta pergi ke Belanda untuk mengadakan perundingan Meja Bundar, yang berakhir dengan kekecewaan. Dimana hasil perundingan tersebut adalah Irian Barat tidak dimasukkan kedalam penyerahan kedaulatan Indonesia, lapangan ekonomi masih dipegang oleh kapitalis barat.

Negara Islam Indonesia diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Jogya. Sebab daerah de-facto R.I. pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 Kabupaten saja ( menurut fakta-fakta perundingan/kompromis dengan Kerajaan Belanda; perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya de-facto R.I. tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, de-facto R.I. adalah hanya terdiri dari Yogyakarta).

Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan didalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda.

Negara Islam Indonesia dengan organisasinya Darul Islam dan tentaranya yang dikenal dengan nama Tentara Islam Indonesia dihantam habis-habisan oleh Regim Soekarno yang didukung oleh partai komunis Indonesia(PKI). Sedangkan Masyumi (Majelis syura muslimin Indonesia) tidak ikut menghantam, hanya tidak mendukung, walaupun organisasi Darul Islam yang pada mulanya bernama Majlis Islam adalah organisasi dibawah Masyumi yang kemudian memisahkan diri.
( http://www.dataphone.se/~ahmad/980629.htm )

Jadi jelaslah sudah, bahwa NII yang diproklamirkan oleh Imam S.M. Kartosoewirjo dan NII yang diproklamirkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh secara de jure dan de facto diluar dari kerangka Indonesia atau Negara Republik Indonesia-Jawa-Yogya

Kemudian, pada tanggal 4 Desember 1976 Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarkan Negara Aceh Sumatera : "To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self- determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kepada rakyat di seluruh dunia: Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17).

Nah, kalau diperhatikan lebih dalam ungkapan dalam deklarasi "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)". Dimana dalam kalimat tersebut telah mencakup keseluruhan sejarah dasar perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh adalah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568), tetap diperjuangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573), juga masih tetap dipertahakan oleh Sultan Seri Alam (1576), makin gencar diteruskan oleh Sultan Muda (1604-1607), dan dikobarkan oleh Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636) dalam menghadapi agresi Portugis.

Begitu juga Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh yang telah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 mampu menerobos dan menghadapi agresi Belanda dari sejak tanggal 26 Maret 1873 ketika Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dan pecah perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873. Dilanjutkan dengan perang kedua melawan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten yang berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Tentu saja, nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah ditanamkan oleh Sultan Machmud Syah yang wafat 26 Januari 1874 tidak terputus dan tercecer begitu saja, melainkan diteruskan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Dan memang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 tersebut membangkitkan semangat perang gerilya yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur menghadapi serangan dan gempuran Belanda. Walaupun Teuku Umar gugur pada tahun 1899 ketika menghadapi pasukan Van Der Dussen di Meulaboh, tetapi Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya menghadapi Belanda. Perang gerilya melawan Belanda ini berlangsung sampai tahun 1904.

Nah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro dalam ungkapan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)".
( http://www.dataphone.se/~ahmad/030719c.htm )

Nah, dari dasar perjuangan rakyat Aceh yang dideklarkan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro sudah jelas dan gamblang bahwa nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030730b.htm )

Selanjutnya, saudara Rahmatullah mengupas Undang Undang Madinah. Sebenarnya masalah Undang Undang Madinah dan Daulah Islam Rasulullah telah banyak saya kupas dalam tulisan-tulisan sebelum ini. Bisa di baca di http://www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm

Sebagiannya misalnya tulisan:

[980904] Undang Undang Madinah yang telah disusun pasal per pasal
( http://www.dataphone.se/~ahmad/uudmadin.htm )
[980904] Undang Undang Madinah adalah konstitusi pertama yang dibuat dan dikemukakan oleh Rasulullah dan menjadi Undang Undang Dasar Negara Islam pertama di dunia
( http://www.dataphone.se/~ahmad/980904.htm )
[990104] Mencontoh negara Islam pertama yang dibangun oleh Rasulullah dengan undang undang Madinah-nya
( http://www.dataphone.se/~ahmad/990104.htm )
[990208] Apakah benar Undang Undang Madinah yang dibuat oleh Rasulullah hanyalah untuk orang orang yang berpikir tidak realistis ?
( http://www.dataphone.se/~ahmad/990208.htm )
[990507] Apakah dalam Undang Undang Madinah Rasulullah menyebutkan secara tegas mengenai pembentukan negara atau hanya contoh peradaban Islam secara luas tanpa terkotak dalam bentuk negara?
( http://www.dataphone.se/~ahmad/990507.htm )

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "rahmatullah" <icmijed@hotmail.com>
To: ahmad@dataphone.se
Subject: Soekarno bohong
Date: Tue, 19 Aug 2003 16:56:39 +0300

Bismillah hirrohman nirrohim.
Assalamu 'alaikum Wr.Wb.

Saya bergembira sekali karena dpt bertukar fikiran kembali dgn Mr.Ahmad Sudirman dkk, dan saya slalu berdo'a semoga teman-teman di Swedia Makmur dan sejahtera dan dalam Lindungan Allah SWT.Amien.

Pada tulisan yg lalu saya slalu mengatakan bahwa keadaan ini terjadi karena kesalahan para pemimpin kita,karena ketidak mampuan menjalankan fungis negara sebagaimana mestinya ( tdk perlu saya ulangi lagi,utk berpanjang lebar mengenai ini ).

Kalau Bung Karno membohongi Dawud Berureuh yes that Rigth, absolutly very very correct. Kalau seandainya Bung Karno memenuh janjinya tentunya Dawud Beureuh (Allah Yarham wa Magfiratuhu) tdk akan mengadakan kontak senjata, melawannya apalagi ingin memesahkan diri dari kerangka NKRI itu Untuk jelasnya saya kutipkan dari buku yg sama sbb " 21 September 1953 adalah suatu tarikh yg menggemparkan seluruh Nusantara. Teungku Muhammad Dawud Beureuh melancarakan satu revolusi Islam dan memproklamirkan BERDIRINYA NEGARA ISLAM ATJEH - NEGARA ISLAM INDONESIA, WILAYAH ATJEH DI BAWAH PIMPINAN BELIAU (DAWUD BEUREUH) MEMISAHKAN DIRI DARI NEO MAJAPAHIT-RI YG BERPUSAT DI JAKARTA DAN BERGABUNG DGN NEGARA ISLAM INDONESIA DI BAWAH PIMPINAN SEKARMAJI MARIJAN KARTOSUWIRYO SEBAGAI IMAM/PANGLIMA TERTINGGI YG BERBASIS DI JAWA BARAT, PROKLAMASI BERDIRINYA 7 AGUSTUS 1949 (DIBUKU YG SAMA HAL.73 )

Jadi jelaslah sudah walaupun berontak, walaupun revolusi Islam itu tetap dalam kerangka Indonesia, bukan misah dari Indonesia. Kang Dirman. Kalau Anda dkk menyatakan seperti yg sering anda sebut penerus perjuangan Dawud Beureuh maka andapun harus memproklamirkan negara Islam Atjeh-Negara Islam Indonesia, dan Anda dkk tdk jelas juntrung-nya kalau Atjeh itu lepas mau jadi Negara apa ?? Sosialis-kah, Kapitalis-kah itu ??? Dan perjuangan Anda itu lebih sempit dari Perjuangan Dawud Beureuh, Anda dkk hanya menuntut lepas dari NKRI tdk memperjuangan Negara Islam secara keseluruhan.

Kang Dirman ! Kang Dirman yg mengajak saya utk mengupas Daulah Madinah dgn Piagam Madinah-nya itu, Piagam Madinah itu distiu yg saya katan ada 47 point itu Rasullah tdk melulu bicara Islam, tapi yg ditekan dari ke 47 point itu adalah ikatan persatuan dan kesatuan, bela negara,tolong menolong dan keamanan antar semua golongan yg ada pd Masyarkat Madinah pd saat itu Agama mayoritas di Madinah saat itu Islam (Muhajirin Makkah dgn berbagi sukunya dan Kaum Anshar dgn berbagai sukunya juga ) dan Yahudi, Suku-suku yg ada,adalah :Bani Auf,Al-Harist, Sa'idah, Jusham, Al-Najjar, Al-NabitAl-Tha'labah, Al-Shutaybah, suku-suku yg saya sebutkan ini sebagian besar waktu itu beragama Yahudi dgn segala Adat istiadatnya, mengapa Rasullah SAW masih pakai Piagam Madinah segala tdk langsung Namanya Piagam Islam ????? Kalau saya yg ditanya maka Jawabnya Kalau pakai Piagam Islam orang Yahudi tdk mau mengikatkan diri Pd Daulah Madinah Rasullah itu ( ini terminologi anda yg saya setujui ) atau paling tdk mereka tdk setuju, ini pernah dialaim pd perjanjian Hudaybiyah, ada kata-kata Muhammad Rasullah SAW Musrikin Qurais waktu itu keberatan dan Rasullah SAW setuju mencoret Kata-kata Muhammad Rasullah SAW., dan Piagam Madinah itu tdk menjadi pembatas orang utk beribadah dgn seluas-luasnya, tdk menjadi pembatas utk orang hidup sesuai dgn Adat istiada yg mereka punya, juga tentunya kaum Musliminpun demikian dan ini adalah hanya satu tahafan ,satu tahafan utk tahap berikutnya tahap berikutnya itu Kang Dirman baca sendiri deh dalam kitab-kitab Sirrah Nabawiyyah, kalau di Swedia enggak ada nanti saya kirim deh, ini sungguh, tinggal tulis judulnya nanti saya belikan kalau ada uang atau saya urunan dgn teman-teman saya Ok.sekarang kita kembali ke Konteks kita, (ini sebetulnya saya keberatan Image saya dibangun seperti itu oleh anda, tapi tdk apa-apa deh namanya juga sama Saudara seiman dan seagama). Kalau di BPUPKI itu Piagam Jakarta dapat diimplementasikan di RI, kalau gagasan Negara Islam di Dewan Konsituante itu dapat dimenangkan.tdk perlu ada pancasila dan UUD 1945 itu saya sangat senang, saya sangat gembira, saya sangat Bahagia, tapi kalau pd kenyataannya Umat Islam kalah, yah kita harus bersikap, kalau sikap, saya yach itu yg saya tulis kemarin itu, dan itu secara rasional bisa dipertanggung jawabkan ada contohnya dari Rasullah tadi dan Surat Al-Imron Ayat 64 itu. Saya ulangi lagi Orang Kristen, Batakkah dia, Manadokah dia, Ambonkah dia, orang Hindu Bali, Orang China Konghuchu, Budha, silahkan you punya ajaranan agama kamu Laksanakan dgn seluas-luasnya,You punya adat Istiadat dgnnyalah kamu hidup.Tapi kami Kaum Musliminpun akan menjalani hidup ini dgn Al-Quran dan As-Sunnah.Ini sesuai dgn Surat Al-Kafirun Kang itu Kang ! Saya tegaskan kembali sikap saya, saya tdk Setuju Pancasila & UUD 1945 yg membatasi kebebasan umat beragama utk mengimplemntasikan ajaran agamanya seluas-luasnya, dan sebaliknya.

Ini perjuangan Politik Bung ini-pun hanya suatu tahapan, kalau nanti misalnya dari Sabang sampai Merueke Masyarakat Indonesia tdk perlu dgn Pancasila & UUD 1945 dan perlunya pada ISLAM YG MEMBAWA KEPADA KEADILAN SOSIAL, ISLAM YG MEMBAWA KESEJAHTERAAN, ISLAM YG MEMBAWA PERDAMAIAN DAN KEAMANAN BAGI SELURUH WARGA MASYARAKAT DUNIA,DARI MAROKO SAMPAI MEROUKE,(SAYA SANGAT MENGHARAPKAN INI SEMOGA DATANG DARI SWEDIA), maka saya ucapkan farewell and Goodbye, Wiedersehen, Bon Voyage Pancasila & UUD 1945, dan saya Ucapakan Wellcome, Willkomen.Bienvenu Islam, Ahlan Wa Sahlan Islam..Anda menciptakan Image pd saya tanpa dalil dan dasar yg jelas

Akhirnya saya bertambah yakin bahwa Islam-lah benang yg akan merajut baju kebersamaan kita yg tercabik-cabik,terkoyak oleh sikap penguasa dzalim reinkarnasionya Firaunisme, rezim-rezim despotik otoriter dan totaliter. Akhirnya saya selalu mendoakan Ahmad Sudirman, Teungku Hasan Muhammad Ditiro Dkk yg ada di Swedia yg hati yg tulus ikhlas, dan bersih dari sikap permusuhan semoga anda sekalian diberi kesehatan lahir bathin, diberi kemudahan dalam segala hal dan slalu dalam lindungan Allah SWT amien.

Jeddah,19-08-2003
Ewigkeitbruderschaft mit Islam.

Rahmatullah.

Jeddah, Saudi Arabia
icmijed@hotmail.com
Rahmatahyani@yahoo.com
----------