Stockholm, 31 Desember 2003

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

WARTAWAN ERSA SIREGAR TEWAS TANGGUNG JAWAB PENUH MEGAWATI DAN ENDANG SUWARYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DASAR HUKUM KEPPRES RI N0.28 TAHUN 2003 DAN KEPPRES RI NO.43 TAHUN 2003 SUMBER LEGALISASI PEMBUNUHAN DAN PENEMBAKAN DI NEGERI ACEH

Jelas Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati dan pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya yang didukung penuh oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang bertanggung jawab penuh dengan tewasnya wartawan RCTI Ersa Siregar karena terkena peluru yang ditembakkan dari arah anggota TNI dari Batalion VI Marinir pimpinan Lettu Marinir Samson Sitohang yang berhadapan dengan pasukan Tentara Negara Aceh di Kuala Malihan, Simpang Ulim, Peureulak pukul 12.30, Senin 29 Desember 2003.

Bagi pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati dan pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya tertembaknya wartawan Ersa Siregar merupakan bagian dari pelaksanaan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Dua dasar hukum itulah yang dijadikan landasan hukum untuk menjalankan pemusnahan dan penghancuran pihak rakyat Aceh yang sedang menuntut dikembalikan Negeri Aceh yang telah dicaplok dan diduduki oleh pihak Soekarno Cs dan dipertahankan sampai detik ini oleh pihak Presiden Megawati Cs.

Jadi, bagi pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati dan pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya dengan tewasnya wartawan RCTI Ersa Siregar adalah merupakan salah satu dari propaganda operasi terpadu yang merupakan alat kamuflase dari Keppres RI No.28 Tahun 2003.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

THE STATE OF ACHEH
THE MINISTER OF FOREIGN AFFAIRS
c/o: ASNLF - P.O. BOX 130, S-145 01 NORSBORG, SWEDEN
TEL: +46 8 531 83833
FAX: +46 8 531 91275
 

PRESS RELEASE
30 DECEMBER 2003
 

The Government of the State of Acheh expresses great sadness over the death of journalist Ersa Siregar.

According to reports we have just received from the field, on 29 December at about noon, the TNA unit consisting of 12 soldiers, with whom the RCTI TV journalist Ersa Siregar and cameraman Ferry Santoro have been moving around for the last few months, had just set up a resting base at Kuala Malihan, Simpang Ulim, Peureulak preparing to have lunch. The two journalists were resting about 20 meters away from the main group, accompanied by two unarmed TNA soldiers. Suddenly they were attacked by hundreds of Indonesian troops from all around them. The men from the main unit immediately ran away; one of the two soldiers with the journalists was hit and died on the spot. Mr. Siregar got up and put his hands up to surrender, shouting his name and telling the attackers to stop shooting. But the Indonesian soldiers continued to shoot. He took out his badge to show them and that's when he was hit, first on his left chest and then on his neck. As he fell , Ferry and the other TNA soldier got up and ran away.

We are still waiting for more detailed reports on this tragic incident as communications with our field commanders are still disturbed due to the thousand of enemy troops still in the area, who are very determined to capture the cameraman, the only independent eye witness left who could tell the world how his colleague was killed. He is now safe under the protection of our troops. We are continuing the efforts to find a safe way to release him to an independent humanitarian agency.
----------