Stockholm, 19 Januari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

RAKYAT ACEH YANG SADAR BAHWA NEGERINYA TELAH DIDUDUKI PRESIDEN MEGAWATI CS BERSAMA TNI/POLRI-NYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS RAKYAT ACEH YANG SADAR BAHWA NEGERINYA TELAH DIDUDUKI PRESIDEN MEGAWATI CS BERSAMA TNI/POLRI-NYA YANG SIAP MENENTUKAN NASIB SENDIRI UNTUK MENUJU KEMERDEKAAN NEGERI ACEH

"Ass. Wr. Wb. Baiklah Pak Ahmad Sudirman. Sebelumnya anda mengatakan bahwa tidak di perlukannya legitimasi dari rakyat. Tetapi mengapa selalu anda tulis pegerakan Hasan Tiro atas nama rakyat. Dalam tulisan anda sudah saya bold-kan font-nya. Jadi rakyat yang mana yang anda maksudkan, karena setau saya tidak ada rakyat yang memberikan legitimasi kepada Hasan T. Saya jadi makin bingung, sebelumnya tidak perlu legitimasi dari rakyat, sekarang malah bawa2 nama rakyat. Kalau adapun yang mendukung hanya sekelompok kecil. Secara demokrasi, bagaimana bisa kelompok kecil ini memenangkan suara. Kalaupun kami (rakyat Aceh) ingin memisahkan diri dari RI, maka kami akan mencari pimpinan baru. Yang visi dan misi nya jelas. Tidak seperti hasan T, yang tidak jelas luar dalam. Dia sekarang katanya pemimpin (yang tidak butuh legitimasi rakyatnya) rakyat Aceh, tapi sembunyi nya di negeri kafir. Bagaimana kami bisa yakin kalau dia berbuat dan bersikap yang islami selama di negeri kafir. Negara yang mau dibentuknya juga tidak jelas dasarnya."
(Apha MAOP, awakaway@telkom.net , 19 januari 2004 08:10:29)

Baiklah, saudara Apha Maop.

Mengenai rakyat Aceh adalah rakyat yang telah menyadari bahwa pembebasan negeri dari pendudukan negeri lain adalah hak setiap orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan bebas merdeka dari penjajahan negeri asing karena penjajahan suatu negeri adalah satu penghalang yang serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional serta hubungan damai diantara bangsa sebagaimana dijamin oleh dasar hukum internasional yang bersumberkan kepada Resolusi PBB nomor 2621 (XXV) yang diadopsi tanggal 12 oktober 1970 dalam sidang pleno PBB yang ke-1862.

Karena itu kesadaran dari rakyat Aceh yang telah menentukan sikap sikap untuk menentukan nasib sendiri dan bebas merdeka rakyat Aceh dari pendudukan Negara RI-Jawa-Yogya inilah yang menjadi dorongan untuk membangun Negeri Aceh yang bebas berdiri sendiri diatur oleh rakyat Aceh sendiri.

Nah sekarang, kalau memang ada sebagian rakyat Aceh yang masih juga belum sadar mengenai pendudukan Negeri Aceh oleh pihak Soekarno Cs yang diteruskan sekarang oleh pihak Presiden Megawati Cs bersama dengan TNI/POLRI-nya, maka seperti yang telah saya tulis dalam tulisan sebelumnya yaitu marilah kita adakan penentuan suara dari seluruh rakyat Aceh untuk menentukan sikap YA atau TIDAK terhadap pemisahan dari Negara RI-Jawa-Yogya dengan TNI/POLRI-nya.

Karena kalau penentuan sikap dari seluruh rakyat Aceh ini belum dilaksanakan, maka sampai kapanpun masih tetap saja masing-masing pihak merasa paling benar dan paling berhak dengan Negeri Aceh.

Jadi yang paling utama dan paling penting adalah keputusan dari seluruh rakyat Aceh mengenai pemberian suaranya YA atau TIDAK terhadap pemisahan dari Negara RI-Jawa-Yogya dengan TNI/POLRI-nya yang diawasi dan disaksikan oleh badan Internasional atau langsung oleh badan pengawas yang ditunjuk oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Mengenai Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang sekarang sedang memimpin gerakan pembebasan Negeri Aceh dari pendudukan Negara RI-Jawa-Yoga dan sampai detik ini berada di Negara Swedia, sepengetahuan saya bahwa beliau itu tidak melanggar apa yang dilarang oleh Islam juga tidak pernah melanggar hukum yang berlaku di Negara Swedia.

Adapun soal negeri kafir yang disinggung oleh saudara Apha Maop, maka disini boleh saya masukkan bahwa Negara RI-Jawa-Yogya yang dasar negaranya berdasarkan pancasila, dimasukkan kedalam golongan Negara Kafir. Coba saja adakah orang didunia mengatakan dan menganggap bahwa Negara RI-Jawa-Yoga atau yang dikenal dengan nama NKRI atau lebih populer disebut RI adalah Negara Islam ?. Sampai dunia kiamatpun tidak akan ada orang diseluruh dunia yang menganggap dan menyatakan secara fakta, hukum dan sejarah bahwa negara RI adalah Negara Islam, paling juga sampai kepada sebutan Negara Pancasila.

Kemudian soal dasar perjuangan ASNLF atau GAM yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro disini bisa saya jelaskan bahwa,

Sebenarnya kalau ditelaah dan dipelajari sampai kedalam apa yang dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 itu yang berbunyi :"To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self- determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kepada rakyat di seluruh dunia: Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17).

Sekarang coba perhatikan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)". Dimana dalam kalimat tersebut telah mencakup keseluruhan sejarah dasar perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh adalah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568), tetap diperjuangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573), juga masih tetap dipertahakan oleh Sultan Seri Alam (1576), makin gencar diteruskan oleh Sultan Muda (1604-1607), dan dikobarkan oleh Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636) dalam menghadapi agresi Portugis.

Begitu juga Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh yang telah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 mampu menerobos dan menghadapi agresi Belanda dari sejak tanggal 26 Maret 1873 ketika Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dan pecah perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873. Dilanjutkan dengan perang kedua melawan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten yang berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Tentu saja, nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah ditanamkan oleh Sultan Machmud Syah yang wafat 26 Januari 1874 tidak terputus dan tercecer begitu saja, melainkan diteruskan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Dan memang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 tersebut membangkitkan semangat perang gerilya yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur menghadapi serangan dan gempuran Belanda. Walaupun Teuku Umar gugurr pada tahun 1899 ketika menghadapi pasukan Van Der Dussen di Meulaboh, tetapi Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya menghadapi Belanda. Perang gerilya melawan Belanda ini berlangsung sampai tahun 1904.

Nah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam ungkapan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)".

Nah, dari dasar perjuangan rakyat Aceh yang dideklarkan oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro sudah jelas dan gamblang bahwa nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Sebagian besar pemimpin-pemimpin negara yang pernah mengetahui tentang ASNLF atau GAM ini mereka tidak mengatakan bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah seorang sekularis yang memperjuangankan negara sekular. Justru para pemimpin dunia mengetahui bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah seorang muslim yang berasal dari negeri Aceh yang seratus persen rakyatnya muslim.

Jadi, sebenarnya, apa yang ditulis oleh saudara Apha Maop "Bagaimana kami bisa yakin kalau dia berbuat dan bersikap yang islami selama di negeri kafir. Negara yang mau dibentuknya juga tidak jelas dasarnya.", untuk jawabannya telah saya jelaskan diatas.

Dan untuk lebih menguatkan, bahwa saya hampir lebih dari dua puluh tahun mengenal dan bertemu sebagian besar para tokoh dan anggota GAM, mereka adalah tidak seperti yang diduga oleh saudara Apha Maop.

Selanjutnya soal "bagaimana perlakuan GAM terhadap masyarakat? Hukum apa yang mereka terapkan ? Menurut saya sih hukum rimba.Bagaimana GAM, telah mengkerangkeng rakyat desa selama 6 bulan tanpa jelas proses hukum dan kesalahannya" seperti yang ditulis oleh saudara Apha Maop.

Untuk jawabannya ini, saya sudah jelaskan dalam tulisan sebelum ini bahwa kalau memang benar mereka yang ditahan pihak TNA itu berdasarkan hasil pemeriksaan tidak bersalah maka akan segera dibebaskan dengan difasilitasi oleh pihak Palang Merah Internasional dan harus adanya jaminan keamanan dari pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya bahwa para tawanan ketika sedang dibebaskan tidak ditembak atau dibunuh oleh TNI seperti yang dilakukan terhadap wartawan almarhum Ersa Siregar.

Soal keadaan para tawanan dalam tahanan pihak TNA seperti yang ditulis oleh saudara Apha Maop " Ini terjadi di daerah Menggamat Aceh Selatan. Silahkan anda buktikan sendiri dengan berkunjunga ke daerah tersebut. Bukankah ini telah melanggar HAM, seperti perbuatan jahiliyah. Manuasia di kurung seperti anjing. Nah sekarang saya tambah bingung.?! Sekarang siapa yang jahil ? siapa yang kafir ?".

Nah soal melanggar HAM atau tidaknya terhadap para tawanan TNA itu jelas disini perlu diizinkan satu badan pemeriksa dan pengawas apakah itu dari pihak Palang Merah Internasional ataupun badan HAM internasional oleh pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah adanya pemeriksaan yang dilakukan oleh badan internasional itu barulah kita mengetahui, apakah memang benar atau tidak benar adanya pelanggaran HAM terhadap para tawanan TNA tersebut.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: 19 januari 2004 08:10:29
To: ahmad_sudirman@hotmail.com
From: Apha MAOP <awakaway@telkom.net>
Subject: Re: SIKAP UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI DORONGAN UTAMA MENUJU KEMERDEKAAN
Cc: editor@jawapos.co.id, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, sadanas@shb.equate.com, zaki@centrin.net.id, nur-abdurrahman@telkom.net, raiyabilly@yahoo.ca, kmjp47@indosat.net.id, a_kjasmine@yahoo.com, quality@posindonesia.co.id, uubyt@yahoo.com, icmijed@hotmail.com, melpone2002@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, lantak@yahoogroups.com, asammameh@hotmail.com, om_puteh@hotmail.com, info@achehtimes.com, achehnews@yahoogroups.com, beuransah@hotmail.com, afdalgama@hotmail.com, agus_smur@yahoo.com, alexandra_raihan@yahoo.com.sg, aneuk_pasee@yahoo.com, balepanyak@yahoo.com.au, fadlontripa@yahoo.com, ilyas.abdullah@wanadoo.nl, empun@lycos.com, info@atjehtimes.com, meurahsilu@hotmail.com, trieng@netzero.net, musrial_m@yahoo.com, nad_njo_2002@hotmail.com, ndin_armadaputra2002@yahoo.com, sarena48@hotmail.com, serambi_indonesia@yahoo.com, sira_jaringan2000@yahoo.com, sirareferendum@hotmail.com, tang_ce@yahoo.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, langsakuta@hotmail.com, universityofwarwick@yahoo.co.uk, unsyiah@lycos.com, unsyiahnet@yahoogroups.com, warzain@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com, acheh@juno.com, aditjond@psychology.newcastle.edu.au, serambi@indomedia.com, unsyiahnet@yahoogroups.com, redaksi@waspada.co.id, redaksi@satunet.com, redaksi@kompas.com , redaksi@detik.com , jktpost2@cbn.net.id , hudoyo@cbn.net.id , editor@pontianak.wasantara.net.id , qclik@my-deja.com , newsletter@waspada.co.id , balipost@indo.net.id , Susilo.Sawaldi@bhpsteel.com , amriw@mweb.co.id , ahmad_jibril1423@yahoo.com , redaksi@acehkita.com , serambi_indonesia@yahoo.com , Abfat.Habibi@bluescopesteel.com , is-lam@isnet.org , siyasah@isnet.org , megawati@gmx.net , hassan.wirajuda@ties.itu.int , pkb.indo@mailcity.com , is-lam@isnet.itb.ac.id , alchaidar@yahoo.com

Ass. Wr. Wb

Baiklah Pak Ahmad Sudirman.
Sebelumnhya anda mengatakan bahwa tidak di perlukannya legitimasi dari rakyat. Tetapi mengapa selalu anda tulis pegerakan Hasan Tiro atas nama rakyat. Dalam tulisan anda sudah saya BOLD kan FONTnya.

Jadi rakyat yang mana yang anda maksudkan, karena setau saya tidak ada rakyat yang memberikan legitimasi kepada Hasan T. Saya jadi makin bingung, sebelumnya tidak perlu legitimasi dari rakyat, sekarang malah bawa2 nama RAKYAT.

Kalau adapun yang mendukung hanya sekelompok kecil. Secara demokrasi, bagaimana bisa kelompok kecil ini memenangkan suara. Kalaupun kami (rakyat Aceh) ingin memisahkan diri dari RI, maka kami akan mencari pimpinan baru. Yang visi dan misi nya jelas. Tidak seperti hasan T, yang tidak jelas luar dalam.

Dia sekarang katanya pemimpin (yang tidak butuh legitimasi rakyatnya) rakyat Aceh, tapi sembunyi nya di negeri kafir. Bagaimana kami bisa yakin kalau dia berbuat dan bersikap yang islami selama di negeri kafir. Negara yang mau dibentuknya juga tidak jelas dasarnya.

Kalau Daud B dengan NII nya sudah jelas dasar negaranya. Tapi ASLNF dasar negaranya apa. Cobalah anda datang ke Aceh, dan anda survei sendiri, bagaimana perlakuan gam terhadap masyarakat???? Hukum apa yang mereka terapkan ????? Menurut saya sih hukum rimba.
Bagaimana GAM, telah mengkerangkeng rakyat desa selama 6 bulan tanpa jelas proses hukum dan kesalahannya.

Ini terjadi di daerah Menggamat Aceh Selatan. Silahkan anda buktikan sendiri dengan berkunjunga ke daerah tersebut.

Bukankah ini telah melanggar HAM, seperti perbuatan jahiliyah. Manuasia di kurung seperti anjing. Nah sekarang saya tambah bingung.?!?!?!?!?! Sekarang siapa yang jahil ??? siapa yang kafir ?????

Kalau anda lihat tulisan OM Puteh yang selalu mengatakan Jawa Kafir, apakah GAM tidak bertingkah kafir. Mohon anda memberikan sedikit pelajaran bagi GAM tentang ilmu agama ISLAM. Mungkin mereka sudah banyak lupa, karena telah lalai dan hidup enak di negeri kafir.
Saya pribadi juga bersedia menjadi murid anda selama ajaran anda tidak sesat dan melenceng.

Mohon penjelasan secara jelas, konkrit dan tidak muter2.

Wassalam

Apha MAOP
awakaway@telkom.net
----------