Stockholm, 29 Januari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KALAU BERITA DARI ACEH ITU MAU ADIL COBA CABUT KEPPRES NO.43/2003 DAN KEPPRES NO.28/2003
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SELAMA KEPPRES NO.43/2003 DAN KEPPRES NO.28/2003 BELUM DICABUT DI ACEH SELAMA ITU APAPUN BERITA TENTANG RAKYAT ACEH ADALAH TIDAK ADIL, TIDAK JUJUR DAN TIDAK BIJAKSANA

"Saudara Ahmad serta saudara Kilimanjaro. Bagaimana anda berdua boleh tau kondisi Aceh dari semasa DOM sampai sekarang, jika anda berdua merasakan berita yang anda terima adalah minim.
Sementara kalo dilihat gaya bahasa yang anda berdua gunakan seolah-olah anda mempunyai berita yang cukup banyak tentang kondisi sebenar Aceh. Kalo kebanyakan berita yang anda terima dari berita-berita yang dibuat GAM, tentu berita yang anda terima tidak berimbang. Karena sebagai pihak yang pemberontak, tentu GAM akan membuat berita yang sensasi yang kadang terasa berlebihan. Sementara kalo anda menerima berita dari media yang ada, tentu juga anda merasa berita itu terkesan ditutupi dan disensor habis, sehingga anda merasakan kekurangannya.
Sehingga sangat tidak adillah jika anda berdua mengatakan kondisi Aceh sangat menyedihkan semasa DOM hingga sekarang.Tapi jika anda berdua memang menerima berita yang cukup dan berimbang, dan selanjutnya anda katakan kondisi Aceh sejak DOM hingga sekarang menyedihkan, saya kira itu baru adil dan bijak. Dan karena keterbatasan berita yang anda terima berdua, sehingga wajar anda berdua menyamakan kondisi Aceh semasa DOM dan sesudah DOM."
(Sagir Alva, melpone2002@yahoo.com , Tue, 27 Jan 2004 23:33:12 -0800 (PST))

Baiklah saudara Sagir Alva.

Begini saja, saya banyak menerima berita-berita tentang rakyat Aceh dari dua belah pihak yang saya saring lagi mana berita-berita yang termasuk sampah dan mana-mana berita yang benar dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Tetapi, tentu saja disini, yang dikehendaki dalam usaha menyelesaikan kemelut Aceh adalah harus benar-benar secara jujur, adil dan bijaksana.

Nah, justru yang menjadi hambatan terhadap masalah berita-berita yang jujur, adil dan bijaksana ini adalah karena sejak diberlakukan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003 dan sesudah Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 diterapkan di Negeri Aceh.

Saya ulang sekali lagi, coba cabut kedua Keppres tersebut diatas, baru itu yang namanya berita-berita yang keluar dari Negeri Aceh akan bisa dipertanggung jawabkan. Karena siapapun baik jurnalis nasional atau jurnalis internasional akan memperoleh kesempatan untuk mencari berita dari dua belah pihak dengan bebas dan akan mempublikasikan dengan bebas pula tanpa harus melalui jalur sensor dari Pemerintah daerah Aceh.

Tetapi, kalau masih saja kedua dasar hukum Keppres tersebut diatas berlaku dan diterapkan di Negeri Aceh, jangan harap bahwa itu berita-berita tentang rakyat dan Negeri Aceh yang dipublikasikan di media masa Indonesia bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya.

Nah sekarang, saya disini mempertanyakan kepada seluruh media masa Indonesia apakah itu surat kabar atau tv atau media elektronik, dapatkah para jurnalis nasional yang dikirimkan ke Aceh setelah mendapat izin dari pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya mendapatkan berita-berita dari duabelah pihak dan menerbitkan secara jujur, adil dan bijaksana tanpa mendapat sensor dari pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya?

Kalau pertanyaan ini belum bisa dijawab secara jujur dan tulus hati oleh pihak media masa Indonesia, maka saya masih tidak percaya bahwa berita-berita tentang rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib mereka sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang dimuat oleh media masa Indonesia tersebut bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 27 Jan 2004 23:33:12 -0800 (PST)
From: sagir alva <melpone2002@yahoo.com>
Subject: Kondisi Aceh
To: ahmad@dataphone.se
Cc: melpone2002@yaoo.com

Ass.Wr.Wb.

Selamat petang saudara Ahmad:) Semoga anda senantiasa memdapat perlindungan dan kesehatan dari Allah SWT.

Saudara Ahmad serta saudara Kilimanjaro. Bagaimana anda berdua boleh tau kondisi Aceh dari semasa DOM sampai sekarang, jika anda berdua merasakan berita yang anda terima adalah minim.

Sementara kalo dilihat gaya bahasa yang anda berdua gunakan seolah-olah anda mempunyai berita yang cukup banyak tentang kondisi sebenar Aceh.

Kalo kebanyakan berita yang anda terima dari berita-berita yang dibuat GAM, tentu berita yang anda terima tidak berimbang. Karena sebagai pihak yang pemberontak, tentu GAM akan membuat berita yang sensasi yang kadang terasa berlebihan. Sementara kalo anda menerima berita dari media yang ada, tentu juga anda merasa berita itu terkesan ditutupi dan disensor habis, sehingga anda merasakan kekurangannya.

Sehingga sangat tidak adillah jika anda berdua mengatakan kondisi Aceh sangat menyedihkan semasa DOM hingga sekarang.Tapi jika anda berdua memang menerima berita yang cukup dan berimbang, dan selanjutnya anda katakan kondisi Aceh sejak DOM hingga sekarang menyedihkan, saya kira itu baru adil dan bijak. Dan karena keterbatasan berita yang anda terima berdua, sehingga wajar anda berdua menyamakan kondisi Aceh semasa DOM dan sesudah DOM.

Saya kira itu saja yang saya bisa tanggapi dari tulisan yang anda buat.

Wassalam

Sagir Alva

melpone2002@yahoo.com
Universiti Kebangsaan Malaysia
Selangor, Malaysia
----------