Stockholm, 30 Januari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PROPAGANDA MEGAWATI, YUDHOYONO, SUTARTO, RYACUDU, ENDANG SUWARYA YANG MENGATAKAN GEROMBOLAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ITU PROPAGANDA MEGAWATI, YUDHOYONO, SUTARTO, RYACUDU, ENDANG SUWARYA YANG MENGATAKAN GEROMBOLAN KEPADA PARA PEJUANG RAKYAT ACEH YANG INGIN MENENTUKAN NASIB SENDIRI KARENA ACEH DICAPLOK SOEKARNO

"Heran deh. Pak Ahmad Sudirman ini nyap-nyap terus, dari jauh. Kalo berani datang ke NAD, gabung sama gerombolan GAM di hutan. Jadi sama-sama merasakan penderitaan. Mantan gerombolan GAM itu memang bagusnya dipenjara di Jawa. Supaya nanti kalo di Nusakambangan ( Pak Ahmad tau gak Nusakambangan?) bisa belajar bikin batu cincin. Kalo dipenjara di Pulau Nasi kan cuma makan minum saja, mungkin ngeganja, amit-amit dah. Di penjara di Jawa bisa nambah ilmu, begitu balik ke NAD, bisa bikin usaha, nggak usah jadi pegawai gerombolan GAM yg keahliannya ngerampok, malak, bunuh-bunuh sesama orang NAD seperti selama ini. Atau mungkin gak mau balik lagi dah kerasan di Jawa, lebih baik gitu. Di Jawa bisa belajar lebih sopan, lebih beradab, ikutan milis padhang mbulan. Pak Sudirman tau gak sih yg bapak bilang 'pejuang' itu adalah justru perampok. Mereka direkrut gerombolan GAM untuk narik paksa pajak untuk kegiatan mereka. kalo gak mau rakyat NAD itu langsung di dor. Gerombolan GAM itu menanam ganja. Naudzubillah!"
(L.Meilany, wpamungk@centrin.net.id , 30 januari 2004 03:55:39)

Terimakasih saudari L.Meilany di Jakarta, Indonesia.

Baiklah saudari Meilany.

Nah, apakah saudari Meilany tahu alasan dan dasarnya mengapa saudari mengatakan kepada para pejuang rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang dibangun Soekarno pada 15 Agustus 1950 dengan sebutan gerombolan?

Tentu saja, jawabannya, saudara Meilany mengetahuinya. Coba darimana saudari Meilany mendapat jawaban tersebut?

Ya, tentu saja itu, dari hasil propaganda Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati yang dibantu Badan Pelaksana Harian Penguasa Darurat Militer Pusat yang terdiri dari seluruh anggota Kabinet termasuk didalamnya Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim dan sokong penuh oleh Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono yang mempergunakan dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menjadi Undang-Undang yang disahkan di Jakarta pada tanggal 4 April 2003 oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 4 April 2003 oleh Sekretaris Negara RI Bambang Kesowo dan KUHPidana pasal 55, 65, 106, 108 yang menyangkut pemberontakan, melawan Pemerintah NKRI.

Nah sekarang, mengapa itu Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong , Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono memakai dasar hukum UURI No.15 Tahun 2003, dan KUHPidana pasal 55, 65, 106, 108 ?

Karena Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong , Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono meneruskan jejak Soekarno yang telah mencaplok Negeri Aceh kedalam mulut Propinsi Sumatera Utara pada 14 Agustus 1950 dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi oleh Presiden RIS Soekarno yang membagi Negara RI-Jawa-Yogya menjadi 10 daerah propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera - Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan, 8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil apabila RIS telah dilebur menjadi Negara RI-Jawa-Yogya, tanpa meminta kerelaan kepada seluruh rakyat Aceh dan para pimpinan rakyat Aceh.

Jadi, kalau sekarang saudari Meilany melihat itu para pejuang rakyat Aceh yang pada tanggal 22 Januari 2004 sebanyak 54 orang dipindahkan ke dekat jantung Negara RI-Jawa-Yogya, Semarang, untuk dimasukkan kedalam kamp konsentrasi Ambarawa sebanyak 10 orang, kamp konsentrasi Pekalongan 23 orang, dan kamp konsentrasi Magelang 21 orang. Dan yang pada tanggal 25 Januari 2004 sebanyak 89 orang dipindahkan langsung ke jantung Negara RI-Jawa-Yogya, Yogyakarta, untuk disekap dalam kamp konsentrasi Kedungpane, Semarang 10 orang, kamp konsentrasi Batu 27 orang, kamp konsentrasi Kembangkuning 20 orang, dan kamp konsentrasi Permisan 32 orang dengan tangan dan kakinya diborgol pakai rantai, itu menunjukkan bahwa memang benar Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI dan DPR/MPR ingin terus menduduki Negeri Aceh secara ilegal, sepihak dan secara kekerasan senjata.

Padahal, kalau saudari Meilany mau saja sedikit membaca, memikirkan, menganalisa, merenungkan, menghayati tentang Negeri Aceh ini dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih, maka sebenarnya akan terbukti bahwa bukan para pejuang rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI yang dibangun Soekarno diatas puing-puing Negara/daerah bagian RIS pada 15 Agustus 1950 yang dinamakan gerombolan, perampok itu, melainkan itu para penerus Soekarno cs termasuk didalamnya sekarang Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong , Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono. Dimana mereka itu semua adalah para pelaku tindak pidana terorisme yang memakai selubung dan berdiri dibalik NKRI.

Jadi sekarang, agar supaya Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, DPR/MPR tetap bisa terus menduduki Negeri Aceh ini, maka mereka menggunakan segala macam cara dan jalan supaya Negeri Aceh yang sudah dicaplok Soekarno dengan mulut Sumatera Utara itu bisa terus berada didalam gua NKRI yang dibangun diatas puing-puing Negara/Daerah bagian RIS pada 15 Agustus 1950.

Nah, salah satu cara dan jalan agar Negeri Aceh tetap berada dalam NKRI yaitu dengan menggunakan propaganda yang menamakan gerombolan kepada rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah mencaplok Negeri Aceh.

Tetapi, tentu saja saudari Meilany, semua penipuan, kebohongan, kelicikan, kekerasan senjata, pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pihak Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, DPR/MPR toh akhirnya terbongkar juga.

Hanya karena memang Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, DPR/MPR itu orang-orangnya kebanyakan telah diracuni oleh Soekarno cs dalam hal Negeri Aceh, maka selama itu racun Soekarno melekat dikepala mereka masing-masing. Dimana yang namanya pendudukan, pencaplokan dan penjajahan Negeri Aceh dianggapnya sebagai usaha dan perjuangan yang benar. Padahal sungguh jelas telah melanggar apa yang tercantum dalam Pembukaan Undang Undang dasar 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

Kemudian kalau saudari Meilany menulis "Di penjara di Jawa bisa nambah ilmu, begitu balik ke NAD, bisa bikin usaha, nggak usah jadi pegawai gerombolan GAM yg keahliannya ngerampok, malak, bunuh2 sesama orang NAD seperti selama ini".

Nah, itu kan menurut pendapat dan jalan pikiran saudari Meilany. Coba sekarang pikirkan, adakah usaha dari pihak Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, DPR/MPR untuk memberikan kesempatan kepada para pejuang rakyat Aceh yang sedang ditahan di kamp konsentrasi itu untuk mempelajari sejarah tentang sumpah pemuda 28 Oktober 1928, RI, RIS, NKRI, tentang Aceh yang benar berdasarkan kepada fakta yang ditunjang dengan bukti yang jelas dan benar serta didasari oleh dasar hukum yang terang, jelas dan benar?

Saya pikir sampai dunia kiamatpun itu Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, DPR/MPR tidak akan mengizinkan untuk mempelajari dan menganalisa serta menyatakannya secara terbuka tentang fakta, hukum dan sejarah pencaplokan Negeri Aceh oleh Soekarno melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI.

Seterusnya, ketika saudari Meilany menulis "Di Jawa bisa belajar lebih sopan, lebih beradab, ikutan milis padhang mbulan. Pak Sudirman tau gak sih yg bapak bilang 'pejuang' itu adalah justru perampok. Mereka direkrut gerombolan GAM untuk narik paksa pajak untuk kegiatan mereka. kalo gak mau rakyat NAD itu langsung di dor. Gerombolan GAM itu menanam ganja. Naudzubillah!"

Jelas, itu kan menurut pendapat saudari Meilany saja. Apakah memang benar "di Jawa bisa belajar lebih sopan, lebih beradab"?

Kalau memang orang-orang dan para pimpinan asal Jawa ini, betul-betul sopan dan beradab, coba lihat saja itu Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, Sutarto, Wiranto, Yudhoyono, Hendropriyono, itu mereka baru sebagian kecil saja orang yang mendapat oendidikan di Jawa. Apakah mereka itu sopan dan beradab terhadap rakyat dan mau mengakui secara jujur mengenai pendudukan Negeri Aceh yang dilakukan oleh Soekarno ?.

Kemudian itu soal "narik paksa pajak untuk kegiatan mereka. Kalo gak mau rakyat NAD itu langsung di dor. Gerombolan GAM itu menanam ganja" yang ditulis saudari Meilany.

Jelas, bagi rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI beserta TNI/POLRI-nya yang telah menduduki Negeri Aceh sejak 53 tahun lalu, itu perlu untuk saling bantu-membantu, tolong-menolong dengan tenaga, harta, dan jiwa sesuai dengan kesanggupan masing-masing.

Sedangkan pihak Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, DPR/MPR saja perlu dana yang diambil dari pajak rakyat NKRI termasuk rakyat Aceh untuk menduduki Negeri Aceh ini. Coba saja baca itu apa yang terkandung dalam dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003, Pasal 5 yang berbunyi:

"Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Keputusan Presiden ini dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.".

Nah sekarang, kalau saudari Meilany membayar pajak kepada pemerintah NKRI, itu sama saja dengan ikut bersama-sama TNI/POLRI menduduki, menumpas dan membunuh rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari kekuasaan NKRI yang dibangun diatas puing-puing Negara/Daerah bagian RIS.

Seterusnya, soal penanaman ganja. Siapa yang menanam ganja ? Coba tanya itu kepada Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono siapa yang menanam ganja di Negeri Aceh dan berapa lama menanam ganja itu serta siapa yang melindungi para penanaman ganja itu?

Sudah adakah bukti secara hukum bahwa memang benar rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang menanam ganja dan dijual kepada rakyat Aceh lainnya dan rakyat NKRI?.

Tidak mudah hanya sekedar mengatakan itu "gerombolan GAM yang menanam ganja" Apakah sempat rakyat Aceh yang sedang bergerilja, berpindah tempat, dan selalu berjaga-jaga dari serangan TNI/POLRI dan Raider untuk menanam ganja?

Nah, itu semua propaganda pihak Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Selanjutnya, saudari Meilany menulis "Gerombolan GAM itu pengecut. Mereka sandera orang sipil, wartawan yang ggak tau apa-apa. Sandera perempuan bersuami, keguguran pula...yang sekarang suaminya jadi 'curiga' sama istrinya.".

Jelas, para Tentara Negara Aceh itu bukan pengecut, kalau para TNA itu pengecut sudah lama itu Negeri Aceh jatuh ketangan penjajah NKRI. Jadi para TNA itu bukan orang pengecut dan bodoh yang bisa ditipu oleh Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono. Adapun soal TNA menahan sesorang, itu ada dasar dan alasannya. Kalau bersalah menurut aturan yang telah disepakati oleh GAM dan TNA jelas orang tersebut akan dibebaskan. Soal kapan dan bagaimana caranya pembebasan tahanan itu tergantung kepada kebijaksanaan GAM dan TNA.

Sama juga dengan pihak Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono. Mereka bisa menaagkap siapa saja yang dianggap dan dituduh melanggar Keppres No.28 Tahun 2003 dan Keppres No.43 Tahun 2003.

Jadi, intinya sama. Coba siapa yang ditangkapi oleh pihak Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono ?. Itu, mereka yang ditangkapi adalah rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI yang telah mencaplok Negeri Aceh sejak 53 tahun yang lalu.

Selanjutnya soal sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 itu seperti yang telah saya tulis dalam tulisan sebelum ini yaitu bukan dasar hukum yang bisa dijadikan sebagai alat mendirikan NKRI yang dilebur dari RIS. Coba baca lagi tulisan saya itu.

Adapun kapan saya akan datang ke Indonesia ?. Saya akan datang dan masuk wilayah kekuasaan NKRI apabila,

Pertama, apabila Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003 telah dicabut oleh Presiden Megawati Cs.

Kedua, apabila di Negeri Aceh akan dilaksanakan penentuan nasib sendiri bagi seluruh rakyat Aceh melalu referendum yang bebas untuk menentukan dan memberikan suaranya YA atau TIDAK bebas dari NKRI yang disaksikan oleh badan internasional yang ditunjuk oleh Persatuan Bangsa Bangsa (United Nations) yang telah disepakati bersama.

Nah itulah saudari Meilany di Jakarta, hal-hal yang saudari tulis dan disampaikan kepada saya, yang mana semuanya telah saya jawab dalam tulisan ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: 30 januari 2004 03:55:39
From: L.Meilany <wpamungk@centrin.net.id>
Subject: Re: [padhang-mbulan] CITA-CITA PARA TAHANAN PEJUANG RAKYAT ACEH MAU DIBUNGKAM DI JATENG
To: ahmad_sudirman@hotmail.com , padhang-mbulan@yahoogroups.com, tang_ce@yahoo.com, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, kammi-malang@yahoogroups.com, fundamentalis@egroups.com, Lantak@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com

1. Heran deh...Pak Ahmad Sudirman ini nyap2 terus, dari jauh. Kalo berani datang ke NAD, gabung sama gerombolan GAM di hutan. Jadi sama2....merasakan penderitaan.

2. Mantan gerombolan GAM itu memang bagusnya dipenjara di Jawa. Supaya nanti kalo di Nusakambangan ( Pak Ahmad tau gak Nusakambangan?) bisa belajar bikin batu cincin. Kalo dipenjara di Pulau nasi kan cuma makan minum saja, mungkin ngeganja.....amit2 dah.. Di penjara di Jawa bisa nambah ilmu, begitu balik ke NAD, bisa bikin usaha, nggak usah jadi pegawai gerombolan GAM yg keahliannya ngerampok, malak, bunuh2 sesama orang NAD seperti selama ini. Atau mungkin gak mau balik lagi dah kerasan di jawa.......lebih baik gitu. Di Jawa bisa belajar lebih sopan, lebih beradab, ikutan milis padhang mbulan...;-)

3. Pak Sudirman tau gak sih yg bapak bilang 'pejuang' itu adalah justru perampok. Mereka direkrut gerombolan GAM untuk narik paksa pajak u kegiatan mereka. kalo gak mau rakyat NAD itu lsg di dor..... Gerombolan GAM itu menanam ganja..... Naudzubillah!

4. Gerombolan GAM itu pengecut.....mereka sandera orang sipil, wartawan yg gak tau apa2. Sandera perempuan bersuami, keguguran pula...yg sekarang suaminya jadi 'curiga' sama istrinya. Pak Sudirman tau gak crita Jawa Sinta obong, ttg Rama yg meragukan kesucian Sinta karena jadi tawanan Rahwana. Begitu juga kasus Soraya dan Safrida. Sekarang gimana tuh Ferry Santoro.......?

5. Kalo ngomongin masalah Sumpah Pemuda dll. Itu cuma porsinya Bapak dan orang2/simpatisan yg mau bikin NAD terpisah dari NKRI. Kepentingan pribadi mau berkuasa mau jadi raja kecil, punya negara kecil, negara penghasil ganja terbesar, negara pusat pendidikan para perampok.......
Bapak ke NAD, tanya apa sih yg diinginkan rakyat mayoritas. Mereka cuma mau bisa makan, hidup tenang..... makanya anggota gerombolan GAM yg bodo2 itu mau aja dimanfaatkan oleh Bapak Sudrman cs.....mimpi punya negara sendiri.....padahal cuma angin surga!

6. Akhirnya, daripada Bapak Sudirman nyap2....disana. Stress, bisa jadi gila. Datang ke indonesia, pake nama lain aja supaya nggak ketauan , kalo takut.... Lantas liat di lapangan.....ikut sama gerombolan itu masuk dalam hutan...... Saya sih biar gak suka gerombolan GAM, tapi kasian juga sama yg harus bergerilya di hutan2......Semoga kalau mimpi gerombolan GAM jadi kenyataan, punya negara, gerombolan2 yg berjuang di hutan itulah yang pegang kuasa sebagai pimpinan "Negara Perampok" bukan Pak Sudirman cs....yg enak2 aja, di swedia....Malu kalo saya jadi bapak.....cuma nyap2 doang kerjanya, jauh pula.....

Teman tetangga saya punya armada bus, sekarang bangkrut, gara2 dipalakin sama GAM dan busnya dibakar. Ipar saya orang Aceh, lari juga ke Jkt

Saya

L.Meilany

wpamungk@centrin.net.id
Jakarta, Indonesia
----------