Stockholm, 31 Januari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SUTARTO, RYACUDU, ENDANG SUWARYA ITULAH GEROMBOLAN YANG MENDUDUKI NEGERI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ITU SUTARTO, RYACUDU, ENDANG SUWARYA ITULAH GEROMBOLAN YANG MENDUDUKI NEGERI ACEH

"Assalamualaikum wr wb. Mulai sekarang saya tidak akan berdebat lagi masalah sejarah dengan Pak Ahmad Sudirman. Selain sejarah versi Ahmad Sudirman membingungkan saya, juga saya bukan ahli sejarah. Saya takut kalau nanti saya jadi gila kalau kebanyakan baca sejarahnya Pak Ahmad. Saya hanya peduli dengan keadaan rakyat Aceh yang sekarang. Marilah kita lihat Aceh dengan mata yang terletak di depan kepala kita, dan menggunakan akal yang dikaruniakan Allah untuk menilai kebenaran yang terjadi di Aceh.Gunakan akal manusia sesuai kodratnya, jangan gunakan akal hewan yang berdasarkan instinc. Kalau anda mengatakan bahwa GAM mengetahui hukum internasional dan menjunjung tinggi Hukum Internasional.Saya akan tanyakan pada anda, Hukum Internasional Planet Apa yang di pakai GAM di Menggamat. Membunuh orang semau Gue, mengkerangkeng orang semau Gue dll."
(Apha Maop, awakaway@telkom.net , Sat, 31 Jan 2004 14:59:13 +0700)

"Namanya juga pertikaian, prokontra sudah pasti. Kalau bung Ahmad mengatakan bahwa semua itu merupakan propaganda, atau bahkan propa berganda-ganda yang dilakukan Sutarto, Ryacudu, itu hak dia (bung Ahmad) boleh-boleh aja.Kalau TNI/POLRI itu dia (bung Ahmad) anggap lebih kejam dan kasar terhadap sipil dan GAM itu juga sah-sah aja. Kalau GAM dia anggap lebih baik dan paham standard hukum itupun juga wajar-wajar aja. Karena posisi dia sebagai gerombolan pemberontak jadi tidak ada lah yang aneh."
(MT Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Fri, 30 Jan 2004 22:41:43 -0800 (PST))

Baiklah.

Saudara Apha Maop yang telah kembali masuk kegelanggang lagi, tetapi menolak untuk membicarakan sejarah terbentuknya NKRI dan Negara RI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 yang telah banyak dimanipulasi oleh Soekarno dan para penerusnya. Sehubungan sekarang sudah mendapat pelurusan dan jalan yang sebenarnya tentang terbentuknya NKRI dan Negara RI yang diproklamirkan 17 Agustus oleh Soekarno, sehingga rakyat Aceh khususnya makin menyadari dan mengerti bahwa Negerinya telah dicaplok Soekarno cs, maka saudara Apha Maop tidak mau lagi mendiskusikan mengenai pelurusan sejarah yang telah dibuat oleh Soekarno dan para penerusnya di NKRI ini.

Begini saudara Apha Maop.

Mengenai "hukum internasional dan menjunjung tinggi Hukum Internasional" yang diketahui ASNLF atau GAM dan TNA yang menyangkut hak asasi manusia adalah Universal Declaration of Human Rights atau Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia. Sedangkan yang menyangkut masalah hukum Internasional adalah hukum-hukum yang berdasarkan kepada Resolusi Resolusi Dewan keamanan PBB dan Resolusi Resolusi PBB.

Nah sekarang, dalam pelaksanaan dan penerapan dilapangan Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia dan hukum-hukum yang berdasarkan kepada Resolusi Resolusi Dewan keamanan PBB dan Resolusi Resolusi PBB oleh pihak ASNLF atau GAM bersama TNA-nya dikarena keadaan dan situasi diwilayah kekuasaan yang dikuasai TNA di Negeri Aceh masih tetap mendapat serangan dari pihak TNI/POLRI dibawah komando Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu atas perintah Presiden Megawati dengan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dalam usaha mereka untuk tetap menduduki Negeri Aceh, maka pihak ASNLF atau GAM bersama TNA-nya dalam usaha menjalankan Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia di Negeri Aceh telah dihambat dan dihalangi oleh pihak TNI/POLRI.

Tetapi walaupun ASNLF atau GAM bersama TNA-nya terus mendapatkan serangan gencar dari pihak TNI/POLRI bersama para Raider buatan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, usaha untuk menjalankan dan menerapkan Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia di Negeri Aceh yang sudah dikuasai secara de-facto oleh TNA akan terus ditingkatkan dan diperbaiki sesuai dengan apa yang dituntut dan yang telah dinyatakan dalam Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia.

Hanya saja, apa yang sekarang dipropagandakan oleh pihak komando Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang dimajukan oleh saudara Apha Maop mengenai "GAM di Menggamat. Membunuh orang semau Gue, mengkerangkeng orang semau Gue dll."

Jelas istilah membunuh orang semau gue dan mengkerangkeng orang semau Gue adalah istilah yang biasa dipakai oleh pihak Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk memberikan suntikan propagandanya kepada rakyat NKRI dan rakyat Aceh agar usaha Pemerintah NKRI dibawah pimpinan Presiden Megawati dalam penerapan taktik dan strategi pendudukan Negeri Aceh tetap terus berjalan sebagaimana yang telah direncanakan dan dijalankan oleh Soekarno sejak 53 tahun yang lalu ketika NKRI dibangun diatas puing-puing Negara/Daerah bagian RIS yang dilebur pada 15 Agustus 1950.

Nah agar bisa secara fakta dengan bukti yang jelas dan bisa diketahui oleh selurh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh, maka dipersilahkan pihak Palang Merah Internasional dan Pihak Hak Hak Asasi manusia Internasional untuk datang ke daerah Menggamat tempat orang-orang dikerangkeng dan orang dibunuh semau gue seperti yang ditulis oleh saudara Apha Maop yang telah secara sadar menjadi penyambung propaganda Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Jadi, kalau belum bisa dibuktikan secara fakta berdasar bukti yang jelas dan benar oleh lembaga-lembaga non pemerintah atau lembaga-lembaga kemanusiaan Internasional yang telah disepakati bersama, maka apa yang telah dituduhkan oleh saudara Apha Maop adalah merupakan suatu propaganda yang kosong tanpa bukti yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan.

Nah sekarang, saya akan jumpai saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta yang sudah lama menghilang karena tidak punya alasan yang jelas untuk mempertahankan penipuan dan pencaplokan Soekarno terhadap Negeri Aceh.

Tetapi, sekarang saudara Matius Dharminta ini muncul dengan tuduhan "dia (Ahmad Sudirman) sebagai gerombolan pemberontak jadi tidak ada lah yang aneh."

Nah, mari kita perhatikan, istilah "gerombolan pemberontak".

Istilah ini muncul karena apa yang terkandung dalam KUHPidana Pasal 106 "Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian dari wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun." Dan Pasal 108 (1) Barang siapa bersalah karena pemberontakan , diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun:
1.orang yang melawan pemerintah Indonesia dengan senjata.
2.orang yang dengan maksud melawan Pemerintah Indonesia menyerbu bersama-sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan Pemerintah dengan senjata. (2) Para pemimpin dan para pengatur pemberontakan diancam dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Nah sekarang, kita lihat akar masalah sebenarnya siapa sebenarnya yang harus dinamakan gerombolan pemberontak ?

Ketika Negara RI-Jawa-Yogya masih sebagai Negara bagian RIS, itu Negeri Aceh secara de jure dan de facto berdiri sendiri, diluar wilayah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang hanya sekitar Yogyakarta saja menurut perjanjian Renville.

Tetapi, apa yang terjadi satu hari sebelum RIS itu dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950, itu Negeri Aceh dicaplok, diduduki, tanpa mendapat persetujuan dan kerelaan seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh.

Jadi, kalau mau ditelusuri lebih mendalam, sebenarnya secara fakta dengan bukti yang jelas dan benar ditunjang dengan dasar hukum yang jelas dan sejarah yang nyata, maka yang disebut gerombolan pemberontak itu adalah Soekarno cs dan para penerusnya sekarang termasuk Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Karena itu, kalau saudara wartawan Matius Dharminta ini berdiri ditengah-tengah, maka jelas akan melihat bahwa bukan saya sebagai gerombolan pemberontak, melainkan itu yang namanya Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 31 Jan 2004 14:59:13 +0700
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
From: Apha MAOP <awakaway@telkom.net>
Subject: Re: PROPAGANDA SUTARTO, RYACUDU, ENDANG SUWARYA DALAM USAHA MENDUDUKI NEGERI ACEH

Ass. Wr.Wb

Mulai sekarang saya tidak akan berdebat lagi masalah sejarah dengan Pak Ahmad Sudirman.
Selain sejarah versi Ahmad Sudirman membingungkan saya, juga saya bukan ahli sejarah.
Saya takut kalau nanti saya jadi gila kalau kebanyakan baca sejarahnya Pak Ahmad.

Saya hanya peduli dengan keadaan rakyat Aceh yang sekarang. Marilah kita lihat Aceh dengan mata yang terletak di depan kepala kita, dan menggunakan akal yang dikaruniakan Allah untuk menilai kebenaran yang terjadi di Aceh.Gunakan akal manusia sesuai kodratnya, jangan gunakan akal hewan yang berdasarkan instinc.

Kalau hanya lihat sejarah versi Pak Ahmad yang menurut saya banyak membingungkan orang khususnya anggota milis ini, persoalan Aceh tidak akan pernah selesai. Karena sejarahnya Pak Ahmad tidak ubahnya Propaganda Hasan Tiro. (Menurut saya lho).

Baiklah Pak Ahmad Sudirman dan Teungku Muhammad Dahlan di Australia.

Kalau anda mengatakan bahwa GAM mengetahui hukum internasional dan menjunjung tinggi Hukum Internasional.Saya akan tanyakan pada anda, Hukum Internasional Planet Apa yang di pakai GAM di Menggamat. Membunuh orang semau Gue, mengkerangkeng orang semau Gue dll.

Karena hukum Internasional yang berlaku di planet Bumi sama sekali tidak di pakai GAM di Menggamat.

Wassalam.

Apha Maop
awakaway@telkom.net
----------

Date: Fri, 30 Jan 2004 22:41:43 -0800 (PST)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: PROPAGANDA SUTARTO, BONEKTIRO SAMA-SAMA MELAKUKAN
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Cc: PPDI@Yahoogroeps.com

Namanya juga pertikaian, prokontra sudah pasti. Kalau bung Ahmad mengatakan bahwa semua itu merupakan propaganda, atau bahkan propa berganda-ganda yang dilakukan Sutarto, Ryacudu, itu hak dia (bung Ahmad) boleh-boleh aja.

Kalau TNI/POLRI itu dia (bung Ahmad) anggap lebih kejam dan kasar terhadap sipil dan GAM itu juga sah-sah aja. Kalau GAM dia anggap lebih baik dan paham standard hukum itupun juga wajar-wajar aja. Karena posisi dia sebagai gerombolan pemberontak jadi tidak ada lah yang aneh.

Dalam interview dengan TV-SBS mereka semua mengaku bahwa TNA/GAM berlaku lebih baik. Lantas yang ia sebut mereka itu siapa? Waktu interview dilakukan dimana dan apakah waktu interview ia (bung Ahmad) mengikutinya hingga tahu persis bahwa waktu interview tidak ada intimidasi hingga mereka mengatakan seakan diperlakukan sengan baik? Ataukah tidak ada kemungkinan bahwa yang memberikan keterangan pada TV itu termasuk orang-orang separatis GAM itu sendiri.

Kalau demikian berarti yang namanya propaganda tidak bisa hanya dituduhkan pada Sutarto, Ryacudu, tapi termasuk boneknya Hasan Tiro juga melakukan hal yang sama bahkan sangat menggelikan.

Sebetulnya pernyataan/propaganda murahan seperti itu sudah tidak menarik lagi, kecuali iseng dari pada kagak ngebaca, ya..termasuk aku ini..

MT Dharminta

Surabaya, Indonesia
mr_dharminta@yahoo.com
----------