Stockholm, 6 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KALAU PENGUASA NKRI MENCINTAI KEDAMAIAN SERAHKAN KEPUTUSANNYA KEPADA SELURUH RAKYAT ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KALAU PENGUASA NKRI MENCINTAI KEDAMAIAN SERAHKAN KEPUTUSANNYA KEPADA SELURUH RAKYAT ACEH

"Sebelumnya maaf kalau saya tidak pandai berdiskusi. Saya memang tidak membaca semua tentang tulisan anda karena tulisan anda terlalu banyak yang harus dibaca. Hubunganya dengan sodara, apakah dengan diberikan kebebasan kepada rakyat Aceh, yang notabene telah dirasakan memang "sedarah" dengan orang indonesia seperti saya, tidak akan menimbulkan gejolak dan keprihatinan? Apakah jika dibiarkan adanya GAM dan yang lain, tidak akan menimbulkan kelompok2 lain yang merasa dirinya benar, sehingga nanti timbul seperti partai politik? beda dengan Timor Timur yang wilayah tidak cukup luas dan penduduknya tidak banyak. Sekali lagi ini hanya sekedar uneg2. Buat saya, saya lebih mencintai kedamaian daripada perang. Saya lebih menyukai orang yang memberikan jalan perdamaian dari pada jalan perang (terutama masalah perebutan kekuasaan dan wilayah, yang ujung2nya adalah masalah penguasa dan siapa yang berkuasa lagi, apalagi soal politik).Kecuali untuk masalah aqidah."
(Makatal, makatal@metroindonesia.com , 6 februari 2004 03:46:53)

"Assalamu'alaikum wr.wb. Kenapa milis ini tidak dimanfaatkan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, mengajak orang untuk ISLAH, Kenapa hanya karena tanah atau wilayah yg yg tidak seberapa luas, kita harus saling benci, saling bunuh, saling salahkan. Tanya pada diri sendiri, apakah benar yg kita ucapkan,kita perjuangkan itu untuk ALLAH dan untuk ISLAM? Karena perjuangan kalau bukan untuk ALLAH dan untuk ISLAM, adalah bathil."
(Agus Hermawan, sadanas@equate.com , Fri, 6 Feb 2004 04:35:48 +0300)

Baiklah saudara Makatal di Indonesia dan saudara Agus Hermawan di Kuwait.

Nah, kita akan membicarakan lebih banyak mengarah kepada terlaksananya jajak pendapat atau referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menentukan sikap dan nasib sendiri apakah YA bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI atau TIDAK bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI.

Marilah kita berdiskusi dan membicarakan langkah-langkah yang penting, terutama yang diarahkan kepada pihak Presiden Megawati Cs, TNI/POLRI, Para Anggota DPR dibawah Ketua Akbar Tandjung dan para anggota MPR dibawah ketua Amien Rais, Ketua Mahkamah Agung Jaksa Agung M.A. Rachman agar mereka yang juga para pengelola NKRI dari Lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif agar menyadari bahwa dalam rangka menyelesaikan kemelut di Negeri Aceh yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun dan telah memakan ratusan ribu korban rakyat Aceh ini bisa diselesaikan dengan penuh kedamaian yang kuncinya terletak ditangan seluruh rakyat Aceh yang harus menentukan sikap dan masa depan mereka di tanah Negeri Aceh.

Karena itu, kalau saudara Makatal dari Indonesia yang telah menyampaikan pikirannya kepada saya dimana saudara Makatal menyinggung: "Buat saya, saya lebih mencintai kedamaian daripada perang. Saya lebih menyukai orang yang memberikan jalan perdamaian dari pada jalan perang (terutama masalah perebutan kekuasaan dan wilayah, yang ujung2nya adalah masalah penguasa dan siapa yang berkuasa lagi, apalagi soal politik)."

Nah, memang benar, apa yang dilontarkan oleh saudara Makatal ini, mengapa ?
Karena mencapai usaha damai adalah lebih berharga dan lebih utama daripada menimbulkan dan menciptakan perang.

Sekarang, kalau kita ingin kedamaian tercapai di Negeri Aceh yang telah bergolak dari sejak Soekarno membentuk NKRI pada tanggal 14 Agustus 1950 sampai detik sekarang ini dibawah Presiden Megawati sebagai orang nomor satu di NKRI, maka seluruh lapisan dimulai dari lapisan tertinggi dalam rangking NKRI sampai kepada rakyat terbawah, harus secara sepakat dan mupakat untuk mencari penyelesaian kemelut dan tragedi Aceh yang telah memakan ratusan ribu rakyat jiwa rakyat Aceh di negeri Aceh yang mengarah kepada pemberian kebebasan bagi seluruh rakyat Aceh untuk menentukan sikap dan nasib mereka sendiri di masa depan di negeri Aceh, yaitu melalui jajak pendapat atau referendum.

Nah sekarang, tentu saja, jajak pendapat atau referendum bagi seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh ini harus juga ditimbulkan dari dalam Lembaga Eksekutif yang dipimpin oleh Presiden Megawati Cs, juga dari pihak para anggota dan pimpinan DPR yang diketuai oleh Akbar Tandjung, serta dari pihak para anggota dan pimpinan MPR yang diketua oleh Amien rais.

Karena, kalau memang para pimpinan Eksekutif dibawah Presiden Megawati dan para anggota dan pimpinan DPR/MPR dibawah Akbar Tandjung dan Amien rais ingin mencapai kedamaian yang adil, jujur dan bijaksana di Negeri Aceh dan bagi rakyat Aceh khususnya dan bagi rakyat NKRI umumnya, maka jalan penyelesaiannya yang paling utama dan paling adil adalah menyerahkan kepada seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh untuk menentukan sikap dan keputusannya akan nasib dan masa depan mereka di Negeri Aceh.

Kemudian, menyinggung seperti yang ditulis saudara Makatal: "Hubunganya dengan sodara, apakah dengan diberikan kebebasan kepada rakyat Aceh, yang notabene telah dirasakan memang "sedarah" dengan orang indonesia seperti saya, tidak akan menimbulkan gejolak dan keprihatinan? Apakah jika dibiarkan adanya GAM dan yang lain, tidak akan menimbulkan kelompok2 lain yang merasa dirinya benar, sehingga nanti timbul seperti partai politik?"

Justru, dengan dikekangnya dan dikurungnya rakyat Aceh dalam NKRI dari sejak Soekarno sampai sekarang inilah yang menimbulkan gejolak dan keprihatinan.

Sebenarnya, dengan diberikannya kebebasan bagi seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh menentukan sikap dan nasib mereka dimasa depan melalui cara jajak pendapat atau referendum ini adalah dalam rangka menghilangkan gejolak dan kerpihatinan yang telah melanda di negeri Aceh sejak 50 tahun yang lalu.

Kemudian, soal ASNLF atau GAM, jelas kalau seluruh rakyat Aceh telah menentukan sikap dan keputusannya bagi masa depan mereka di Negeri Aceh, yang mengarah kepada penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI, maka ASNLF atau GAM adalah merupakan bagian dari kehidupan rakyat Aceh yang telah menentukan sikap dan nasib sendiri itu.

Selanjutnya sekarang, saya jumpai saudara Agus Hermawan di Kuwait.

Saudara Agus, saudara bertanya: "Kenapa milis ini tidak dimanfaatkan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, mengajak orang untuk ISLAH, Kenapa hanya karena tanah atau wilayah yg yg tidak seberapa luas, kita harus saling benci, saling bunuh, saling salahkan. Tanya pada diri sendiri, apakah benar yg kita ucapkan,kita perjuangkan itu untuk ALLAH dan untuk ISLAM?"

Jelas, saudara Agus Hermawan, apakah saudara tidak membaca, memikirkan, mendalami, menghayati, dan merenungkan bahwa saya telah berulang kali menyerukan kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh, juga kepada pihak Presiden Megawati Cs, DPR/MPR dan TNI/POLRI bahwa untuk mencapai penyelesaian di Negeri Aceh yang telah berlansgung sejak lebih dari 50 tahun yang lalu adalah menyerahkan penyelesaiannya kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan nasib dan masa depan mereka sendiri, apakah ingin bebas dari kungkungan pengaruh kekuasaan NKRI atau masih tetap ingin bersama NKRI.

Apakah, cara penyelesaian yang saya selalu ulang-ulang itu bukan suatu penyelesaian yang mengarah kepada islah?.

Kita tidak perlu menggunakan kekerasan senjata, karena kekerasan senjata telah dipakai dan dijalankan sejak masa Soekarno ketika NKRI ini dibentuk pada 15 Agustus 1950 dari tiang-tiang 16 Negara/Daerah yang sebelum dilebur bergabung dan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dalam naungan Republik Indonesia Serikat, tetapi tidak diinginkan oleh Soekarno cs, karena Soekarno lebih menginginkan kesatuan dibawah panji-panji RI-Jawa-Yogya dengan pancasilanya.

Nah, apakah dengan diadakannya jajak pendapat atau referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh ini memerlukan kekuatan senjata atau TNI/POLRI untuk melaksanakannya ?

Tentu saja tidak, disini yang dipetingkan adalah memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh tanpa ditekan keinginannya untuk menentukan nasib dan masa depan mereka di Negeri Aceh.
Karena seluruh rakyat Aceh itulah yang akan menentukan hitam atau putih, baik atau buruk, maju atau mundur, pandai atau bodoh, dalam kehidupan masyarakat di Negeri Aceh.

Kita serahkan kepada mereka. Tidak perlu kita campuri urusan mereka. Persilahkan seluruh rakyat Aceh menikmati kehidupan yang bebas, menurut cita-cita yang telah ditanamkan sejak lebih dari 50 tahun yang lalu.

Rakyat NKRI lainnya tidak perlu risau. Presiden megawati Cs bisa mengatur wilayah dan daerah kekuasaan NKRI lainnya. Mengapa Pimpinan dan rakyat NKRI harus merasa risau dan khawatir dengan memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan sikap dan nasib dirinya dimasa depan di negeri Aceh ?.

Justru dengan diserahkannya keputusaan kepada seluruh rakyat Aceh inilah kita telah sadar dan mau menyelesaikan kemelut dan tragedi di negeri Aceh yang telah memakan ratusan ribu korban dari sejak masa Soekarno sampai dengan masa Megawati sekarang ini yang berarti kita ingin menyelesaikan dengan jujur, adil dan bijaksana.

Mari kita dukung dan sokong seluruh rakyat Aceh untuk menentukan nasib mereka sendiri di masa depan di negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From:Makatal <makatal@metroindonesia.com>
Date:6 februari 2004 03:46:53
To:"'Ahmad Sudirman'" <ahmad_sudirman@hotmail.com>
Subject:RE: PERJUANGAN MENENTUKAN NASIB SENDIRI BUKAN PERJUANGAN DEMI AMBISI PRIBADI

Sebelumnya maaf kalau saya tidak pandai berdiskusi. Saya memang tidak membaca semua tentang tulisan anda karena tulisan anda terlalu banyak yang harus dibaca.

Semoga anda tidak berjantung lemah hehehehe.Maaf.

Apakah anda sudah melakukan pooling untuk memastikan berapa % yang tetap ingin bergabung dengan RI dan yang memisahkan diri? (maaf kalau sudah pernah dijawab, tapi saya tidak membaca).

Saya juga ingin memberikan uneg2 ke Anda, saya bukan pendukung Suharto/Sukarno ato orang2 politik manapun, Tapi sekedar perbandingan, di Jakarta sekarang, dulu dijaman yang disebut "Orde Lama", memang begitu menakutkan dengan kepenguasaan Militer. Orang begitu takut untuk menonjolkan diri dan berbuat kejahatan, tapi justru menimbulkan perasaan lebih aman.tapi sekarang dengan jaman kebebasan dan yang disebut "Reformasi", kok yah kejahatan smeakin banyak dan semakin berani bahkan terang-terangan seolah-olah tidak ada yang ditakutkan.orang semakin merasa tidak aman, dans emakin ketakutan...korupsi makin gila2an, kejahatan politik makin berani. ini sekedar uneg2 saya, ga tau orang lain.

Hubunganya dengan sodara, apakah dengan diberikan kebebasan kepada rakyat Aceh, yang notabene telah dirasakan memang "sedarah" dengan orang indonesia seperti saya, tidak akan menimbulkan gejolak dan keprihatinan? Apakah jika dibiarkan adanya GAM dan yang lain, tidak akan menimbulkan kelompok2 lain yang merasa dirinya benar, sehingga nanti timbul seperti partai politik? beda dengan Timor Timur yang wilayah tidak cukup luas dan penduduknya tidak banyak.
Sekali lagi ini hanya sekedar uneg2.

Jika kebenaran berada dipihak anda, semoga Allah melindungi dan memberikan kekuatan kepada anda.

Saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah (saya serahkan kepada Allah SWT). Kalau memang anda benar dan bisa memberikan kebaikan seperti Hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah, Insya Allah keselamatan ada pada anda.

Buat saya, saya lebih mencintai kedamaian daripada perang. Saya lebih menyukai orang yang memberikan jalan perdamaian dari pada jalan perang (terutama masalah perebutan kekuasaan dan wilayah, yang ujung2nya adalah masalah penguasa dan siapa yang berkuasa lagi, apalagi soal politik).Kecuali untuk masalah aqidah.

Semoga tulisan saya tidak menyinggung anda.

Salam,

Makatal

makatal@metroindonesia.com
Indonesia
----------

Date: Fri, 6 Feb 2004 04:35:48 +0300
From: "Sadan AS (AgusHermawan) KUW" sadanas@equate.com
To: "Apha MAOP" <awakaway@telkom.net>, "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se
Subject: RE: PERJUANGAN MENENTUKAN NASIB SENDIRI BUKAN PERJUANGAN DEMI AMBISI PRIBADI

Assalamu'alaikum wr.wb.

"Kalau ada orang yg bicaranya mengarah pada perpecahan dan permusuhan,sudah pasti orang itu tidak baik...
Kalau orang sering menghasut untuk menimbulkan pertumpahan darah,sudah pasti orang itu orang tidak baik...
Kalau ada orang yg bicaranya mengandung iri,dengki,hasad dan fitnah,sudah pasti orang itu orang tidak baik...
Kalau ada orang yg memakan atau memakai harta / uang dengan cara haram,maka jangan heran kalau dalam otaknya dan kelakuannya itu pasti cenderung pada kemaksiatan,termasuk menghalalkan darah sesama muslim.

Kenapa milis ini tidak dimanfaatkan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, mengajak orang untuk ISLAH, Kenapa hanya karena tanah atau wilayah yg yg tidak seberapa luas, kita harus saling benci, saling bunuh, saling salahkan...

Tanya pada diri sendiri, apakah benar yg kita ucapkan,kita perjuangkan itu untuk ALLAH dan untuk ISLAM? Karena perjuangan kalau bukan untuk ALLAH dan untuk ISLAM, adalah bathil.

Lupakan kalian bahwa menumpahkan darah sesama muslim itu hukumnya haram,dan termasuk dosa besar? Mengambil harta oarng tanpa rela pemiliknya adalah haram?

Tolong renungkan dan ingat,umur kita sebentar lagi berkahir...!! Bertobatlah sebelum terlambat....

Wassalam.

AgusHermawan

sadanas@equate.com
Kuwait
----------