Stockholm, 6 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BEBAS ATAU TETAP BERSAMA MEGAWATI DAN TNI/POLRI-NYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

BEBAS ATAU TETAP BERSAMA MEGAWATI DAN TNI/POLRI-NYA ADALAH DUA PILIHAN YANG PALING MUDAH DITENTUKAN OLEH SELURUH RAKYAT ACEH DI NEGERI ACEH

"Saya katakan kepada bangsa Aceh :" kita bersatu atau tidak bersatu dengan NKRI, bangsa Aceh tetap dijajah dan ditipu, walaupun telah menjilat pantat-pantat mereka". Ingat pengalaman yang paling akhir yaitu saudari Djalil Yusuf, yang telah menjilat banyak, tapi akhirnya ditendang juga. demikian juga pengkhianat Amri bin Abdul Wahab, entah bagaimana nasipnya sekarang, mungkin sedang makan taik dalam penjara di pulau Jawa! demikian juga dulu, sdr Hasan Saleh dan Ibrahim Hasan. bagaimana dengan sdr Tgk Husaini, yang ngaku ulama Aceh itu...? dan lain-lain yang berpikiran serupa. Apapun kata mereka, bangsa tidak ada pilihan lain, kecuali pisah dengan NKRI dan merdeka dari penjajahannya. hanya pengecut-pengecut saja-lah yang tidak mau merdeka. hanya penjilat-penjilat sajalah yang tak mau berpisah dengan Indonesia. Saya sependapat dengan akhi Ahmad Sudirman, kita berpisah negara tidak berarti kita putus persaudaraan. Kita tetap bersaudara dalam arti iman dan Isalam, ekonomi dan perdagangan, bilateral dan hubungan-hubungan lainnya. Kita hanya berpisah dalah arti cara-cara pengaturan negara, hukum, pendidikan dan sosial-ekonomi."
(Muhammad Dahlan, tang_ce@yahoo.com , Fri, 6 Feb 2004 04:08:33 -0800 (PST))

"Mengapa kalian menyerah? Betapa menariknya uraian yang beliau berikan, walaupun seperti yang itu diulang-ulang. Yang seperti itu memang musti diulang-ulang dan itu bukan berarti beliau hendak membosankan kalian, tetapi pertanyaan yang datang dari orang yang berbeda dengan pertanyaan yang berbeda pula, namun beliau suka menjawabnya, tetap dengan lapang dada. Jadi Putra-Putra Achh menentang Penjajah Belanda dan kini Penjajah Indonesia Jawa karena pendudukan dan penjajahannya, sebagai penjajah asing, keatas bangsa Achh, yang telah terkorban sejak 1873-2004 mencapai lebih 200.000 ribu jiwa! Dan ini kita dapat buktikan sebaik saja Achh esok merdeka! Silakan anda buka semua buku-buku sejarah Indonesia Jawa. Dan beritahukan kami, kalau tidak seperti kami katakan itu. Dan kami akan buktikan juga seperti saudara Ahmad Sudirman telah lakukan. Saudara-saudara sekalian sepatutnya berterima kasih kepada beliau, karena demikian rajinnya beliau membuka semua lipatan sejarah Republik Indonesia Jawa-Jogya, Republik Indonesia Serikat dan apa itu Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kini telah menjajah negara-negara atau daerah-daerah di luar negara RI-Jawa Jogya. Ini fakta sejarah yang paling authentik yang dikeluarkan sendiri oleh NKRI."
(Omar Puteh, om_puteh@hotmail.com , Fri, 06 Feb 2004 08:07:53 +0000)

"Saya semakin heran dan "kagum" terhadap Tuan Ahmad Sudirman. Anda sanggup berbohong atas nama Tuhan, kemudian anda sangat ngotot agar Aceh lepas dari NKRI. Apa sih untungnya buat anda. Apa anda sudah bosan di Swedia, maka tidur menikmati tunjangan sosial dari Negara. Orang Aceh sudah bosan dengan konflik / anda tak percaya? Barangkali anda buta informasi. Tidakkah anda melihat bagaimana masyarakat Aceh syujud syukur dan menggelar sholat hajat berharap terwujudnya kedamaian di Aceh, harapan itu demikian besarnya ketika pertemuan Tokyo berhasil digelar? Tidakkah itu merupakan bukti yang cukup bagi kalian untuk memahami apa yang dikehendaki masyarakat Aceh? Barangkali mata hati kalian telah buta? Betapa kasihannya anda/kalian. Tidakkah itu buruk dari pada binatang? Itu bukan omongan saya lho. Manusia yang mata hatinya buta lebih buruk dari binatang bukan? Bagaimana Tuan Ahmad Sudirman? Semestinya anda lebih paham akan Al Quran."
(Teuku Mirza, teuku_mirza2000@yahoo.com , Thu, 5 Feb 2004 23:38:06 -0800 (PST))

"Ahmad, Setelah saya baca tulisan kamu, ternyata cuma itu-itu saja, seperti kentut Hansip. Kalau kamu memang "pejuang" GAM, pulanglah ke "negeri" Aceh, bantulah teman-teman kamu yang semakin terdesak oleh pasukan Raiders. Atau kalau kamu masih jadi pengecut, pulanglah ke Jakarta untuk jualan mie Aceh supaya bisa jualan ganja di Jakarta untuk mendanai GAM. Saran terakhir saya : Kalau kamu benar-benar seorang muslim yang mengamalkan ajaran Islam, tindakan kamu itu keliru. Maka kembalilah ke jalan Allah yang sesungguhnya. Amin."
(Pulung Bimantoro , pbimantoro@yahoo.com , Fri, 6 Feb 2004 00:45:17 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Muhammad Dahlan di Australia, saudara Omar Puteh di Norwegia, Teuku Mirza di Jakarta, dan saudara Pulung Bimantoro di Jakarta, Indonesia.

Baiklah.

Karena disini dan kedepan saya lebih banyak membicarakan pelaksanaan referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk penentuan nasib dan masa depan rakyat Aceh bebas dari pengaruh nkekuasaan NKRI.

Nah sekarang, kita telah mendengar dari saudara Muhammad Dahlan bahwa " Apapun kata mereka, bangsa tidak ada pilihan lain, kecuali pisah dengan NKRI dan merdeka dari penjajahannya. hanya pengecut-pengecut saja-lah yang tidak mau merdeka. hanya penjilat-penjilat sajalah yang tak mau berpisah dengan Indonesia. Saya sependapat dengan akhi Ahmad Sudirman, kita berpisah negara tidak berarti kita putus persaudaraan. Kita tetap bersaudara dalam arti iman dan Isalam, ekonomi dan perdagangan, bilateral dan hubungan-hubungan lainnya. Kita hanya berpisah dalah arti cara-cara pengaturan negara, hukum, pendidikan dan sosial-ekonomi."

Disini, saya memahami benar apa yang telah diungkapkan oleh saudara Muhammad Dahlan ini. Karena memang rakyat Aceh telah menderita bukan saja dirinya tetapi juga negerinya yang telah dengan sepihak diambil dan dimasukkan kedalam NKRI oleh pihak Soekarno cs.

Jadi, karena saudara Muhammad Dahlan telah menyadari hal tersebut, maka sikapnya hanyalah tertuju kepada "tidak ada pilihan lain, kecuali pisah dengan NKRI dan merdeka dari penjajahannya"

Selanjutnya, saya akan temui saudara Omar Puteh di Norwegia yang telah saya kenal. Dimana saudara Omar Puteh ini justru bergembira dan senang hati ketika saya mengupas sejarah jatuh bangunnya Negara RI sampai terbentuk NKRI. Mengapa ?

Karena dengan mengenal sejarah jatuh bangunnya negara RI, maka kita menyadari apa yang telah terjadi, sehingga rakyat Aceh dan pemimpinnya sampai detik sekarang ini tetap menuntut keadilan, hak miliknya, tanah airnya ?

Bukan kita mengabaikan begitu saja apa yang telah dibangun oleh para pendahulu kita. Karena tidaklah mungkin timbul tuntutan penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara asing atau Negara Pantja Sila atau NKRI seandainya para pendiri NKRI ini berbuat jujur, adil dan bijaksana dalam membangun dari awal Negara ini.

Tetapi, apa yang terjadi, ternyata setelah digali, ditelusuri, didalami dan dipahami , ternyata akhirnya terbongkar bahwa apa yang menjadi akar masalah kemelut yang menimpa rakyat dan Negeri Aceh itu adalah disebabkan karena para pembentuk NKRI telah melakukan satu jalan keliru dengan mengambil negeri Aceh yang mana mengakibatkan kefatalan selama NKRI masih tetap berdiri.

Nah hal inilah yang telah dipahami dan dimengerti oleh saudara Omar Puteh di Norwegia.

Selanjutnya saya akan jumpai Teuku Mirza di Jakarta.

Sebenarnya Teuku Mirza tidak perlu heran.
Bukan saya yang menginginkan Aceh lepas dari NKRI, melainkan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI.

Yang saya lakukan adalah membukakan fakta dengan bukti yang jelas dan benar ditunjang dengan dasar hukum yang jelas dan benar serta didasari oleh jalannya senjarah yang terang dan jelas mengenai Negeri Aceh yang telah diduduki oleh pihak Soekarno cs.

Saya tidak perlu Negeri Aceh. Saya telah mampu berdiri di Negara Kerajaan Swedia tanpa mendapat tunjangan sosial dari Kerajaan Swedia. Bahkan sebaliknya saya adalah salah seorang dari sekian juta rakyat Swedia yang membantu Pemerintah Kerajaan Swedia untuk membangun dan memajukan ekonomi dan teknologi Kerajaan Swedia dengan tenaga, pikiran dan ilmu yang saya miliki.

Saya terdorong untuk membantu, mendukung dan menyokong rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri karena setelah saya pelajari, gali, pahami, analisa, renungi, ternyata bahwa Negeri Aceh itu memang secara fakta dengan bukti yang kuat dan ditunjang dengan dasar hukum yang jelas dan terang disertai dengan jalannya sejarah yang benar bahwa Negeri Aceh memang telah diambil dan diduduki oleh pihak Soekarno satu hari, 14 Agustus 1950, sebelum NKRI dibentuk diatas tumpukan Negara/Daerah bagian RIS pada 15 Agustus 1950.

Dan saya menyokong penuh agar seluruh rakyat Aceh menentukan sikap dan menyatakan pendapatnya serta memberikan suaranya apakah YA bebas merdeka dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI melalui cara atau jalan referendum yang sekrang kita sedang diskusikan ini.

Kebahagiaan rakyat Aceh untuk dirasakan oleh rakyat Aceh, bukan untuk diri saya, saya tidak perlu balas jasa dari rakyat Aceh apabila rakyat Aceh berhasil bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI.

Tetapi saya gembira dan bersyukur kehadlirat Allah SWT apabila rakyat Aceh mendapatkan kembali Negerinya yang telah diduduki dan dijajah oleh Soekarno dan diteruskan sampai sekarang oleh Megawati.

Kemudian, yang mengagalkan perundingan di Tokyo bukan pihak ASNLF atau GAM melainkan Pemerintah NKRI. Mengapa ?

Mari kita melangkah kebelakang dan sedikit membongkar apa yang sebenarnya terjadi ketika terjadi proses perundingan di Tokyo Jepang pada 17-18 Mei 2003.

Sebenarnya seluruh rakyat Aceh dan seluruh rakyat NKRI perlu mendapat penjelasan yang terang mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi di meja perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003.

Kelihatannya dari pihak PRI, khususnya dari pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong telah menutupkan tirai hitam pekat diatas meja perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003.

Sehingga seluruh rakyat Aceh dan seluruh rakyat Indonesia terkelabui, dan yang muncul kepermukaan adalah suatu kebohongan dan hasil rekayasa ciptaan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati. Dan tentu saja hampir seluruh rakyat Indonesia menganggap benar apa yang telah dilancarkan oleh pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati dalam bentuk pengobaran perang yang dilandasi oleh sumber hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Padahal sebenarnya kalau kita gali sedikit lebih dalam, ternyata terbukalah bahwa sebenarnya justru dari pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati yang menggagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 itu.

Coba kita perhatikan apa yang telah disodorkan oleh pihak PRI kemudian kita bandingkan dengan apa yang disodorkan oleh pihak GAM dalam Joint Council Meeting (JCM).

Pihak GAM menampilkan draft:

3 Having reiterated their commitment to the peace process and desire to strengthen the COHA to that end, the Joint Council has agreed to the following:

    1. GAM is committed to dropping the armed struggle as stipulated in the relevant clauses of the COHA with all reciprocal measures from the Government of the Republic of Indonesia and to participate in the political process as stipulated in the COHA; and in the context of the COHA will refrain from advocating independence;
    1. GAM commits itself to immediately place its weapons, ammunitions, and ordnance and to complete the process as scheduled in the COHA; and reciprocally, the GOI commits itself to reposition itself to defensive positions as provided by the COHA;
    1. GAM commits itself to cease immediately any efforts to bring in additional weapons, ammunitions, and ordnance in the Acheh, and the GOI commits itself to return immediately its forces in Acheh to pre-December, 2002, levels;

(Draft Statement of the Joint Council accepted by GAM, Proposed by the members of the Tokyo Conference on Peace and Reconstruction in Acheh (Japan, US, EU and World Bank )and the Henry Dunant Centre for Humanitarian Dialogue, Tokyo, Japan. 18 May 2003).

Kemudian pihak PRI menyodorkan draft :

3 Having reiterated their commitment to the peace process and desire to strengthen the COHA to that end, the Joint Council has agreed to the following:

    1. GAM fully accepts the Special Autonomy status provided by the Nanggroe Aceh Darussalam Law within the framework of the unitary state of the Republic of Indonesia and consequently agrees not to seek the independence of Aceh; In this regard, GAM is committed to dropping the armed struggle; to disband the "Tentra Neugara Aceh", and to participate in the political process as stipulated in the COHA;
    2. GAM commits itself to immediately place its weapons, ammunition, and ordnance and to complete the process as scheduled in the COHA; and reciprocally, the GOI commits itself to reposition itself to defensive positions as provided by the COHA. Further, GAM commits itself to cease immediately any efforts to bring additional weapons, ammunition, and ordnance into the Province of Aceh;
    3. Both sides recognize the need to ensure the safety and integrity of all members of the JSC, and reaffirm their role in verifying the implementation of the COHA;
    4. Both sides re-iterate their full commitment to respect the Article 2f and allow civil society to express their respective democratic rights without hindrance, within the framework of the Indonesian Law.

(Draft Statement of the Joint Council as proposed by the Indonesian Government)

Nah dari draft yang diajukan oleh kedua belah pihak ada satu hal yang sangat bertolak belakang dan bertentangan dengan apa yang telah disepakati dan ditandatangani dalam perjanjian Penghentian Permusuhan Rangka Perjanjian Antara Pemerintah Republik Indonesia Dan Gerakan Acheh Merdeka, 9 Desember 2002 di Geneva, yaitu statement yang diajukan oleh pihak PRI yang dicantumkan dalam point nomor 3 bagian a yang berbunyi

"GAM fully accepts the Special Autonomy status provided by the Nanggroe Aceh Darussalam Law within the framework of the unitary state of the Republic of Indonesia and consequently agrees not to seek the independence of Aceh; In this regard, GAM is committed to dropping the armed struggle; to disband the "Tentra Neugara Aceh", and to participate in the political process as stipulated in the COHA;"

Padahal apa yang telah disepakati dan ditandatangani dalam perjanjian Penghentian Permusuhan Rangka Perjanjian Antara Pemerintah Republik Indonesia Dan Gerakan Acheh Merdeka, 9 Desember 2002 di Geneva tercantum dalam mukaddimah dengan jelas bahwa :

"Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dan Gerakan Acheh Merdeka (GAM) telah terlibat dalam suatu proses dialog sejak bulan Januari 2000 dan setuju bahwa yang menjadi prioritas di Acheh adalah keamanan dan kesejahteraan rakyat dan dengan demikian sependapat akan perlunya menemukan segera suatu penyelesaian damai bagi konflik di Acheh. Pada tanggal 10 Mei 2002, PRI dan GAM telah mengeluarkan sebuah Pernyataan Bersama (Joint Statement) seperti dibawah ini:

  1. Berdasarkan penerimaan Undang-Undang NAD sebagai langkah awal (starting point), sebagaimana yang dibicarakan pada tanggal 2-3 Februari 2002, menuju suatu musyawarah yang menyeluruh (all-inclusive dialogue) yang demokratis dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat Acheh yang akan difasilitasikan oleh HDC di Acheh. Proses ini bertujuan untuk menelaah kembali (review) elemen-elemen Undang-Undang NAD melalui ungkapan pendapat rakyat Acheh secara bebas dan. aman. Ini akan menuju kepada suatu pemilihan pemerintahan yang demokratis di Acheh, Indonesia.

(Penghentian Permusuhan Rangka Perjanjian Antara Pemerintah Republik Indonesia Dan Gerakan Acheh Merdeka, 9 Desember 2002 di Geneva).

Nah sekarang ternyata terlihat jelas bahwa sebenarnya masalah penerimaan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah bisa dilaksanakan setelah rakyat Aceh menelaah kembali elemen-elemen Undang-Undang NAD ini melalui ungkapan pendapat rakyat Acheh lewat jalur musyawarah yang menyeluruh dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat Acheh dengan difasilitasikan oleh HDC di Acheh secara bebas dan aman dalam rangka membangun pemerintahan yang yang demokratis di Acheh.

Jadi sekarang sudah jelas bahwa apa yang tercantum dalam point nomor 3 bagian a yang disodorkan oleh Pemerintah RI dalam perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 itu, sudah keluar dari apa yang telah disepakati dan ditandatangai bersama dalam perundingan Penghentian Permusuhan Rangka Perjanjian Antara Pemerintah Republik Indonesia Dan Gerakan Acheh Merdeka, 9 Desember 2002 di Geneva. Padahal dalam perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama itu telah disebutkan ddan dinyatakan bahwa "Having reiterated their commitment to the peace process and desire to strengthen the COHA to that end, the Joint Council".

Karena itu sekarang kita sudah bisa menarik gambaran dan kesimpulan yang jelas bahwa sebenarnya pihak Pemerintah RI dibawah komando Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati yang menggagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 yang bertolak belakang dengan apa yang telah disepakati dalam perjanjian Penghentian Permusuhan Rangka Perjanjian Antara Pemerintah Republik Indonesia Dan Gerakan Acheh Merdeka, 9 Desember 2002 di Geneva.

Dan tentu saja yang bertanggung jawab atas perang dan kehancuran yang terjadi dan menimpa seluruh rakyat Aceh adalah pihak Pemerintah Indonesia bukan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Nah terakhir saya akan bertemu dengan saudara Pulung Bimantoro.

Saudara Pulung Bimantoro menulis: "Ahmad, Setelah saya baca tulisan kamu, ternyata cuma itu-itu saja, seperti kentut Hansip. Kalau kamu memang "pejuang" GAM, pulanglah ke "negeri" Aceh, bantulah teman-teman kamu yang semakin terdesak oleh pasukan Raiders. Atau kalau kamu masih jadi pengecut, pulanglah ke Jakarta untuk jualan mie Aceh supaya bisa jualan ganja di Jakarta untuk mendanai GAM. Saran terakhir saya : Kalau kamu benar-benar seorang muslim yang mengamalkan ajaran Islam, tindakan kamu itu keliru. Maka kembalilah ke jalan Allah yang sesungguhnya."

Baiklah saudara Pulung Bimantoro. Saya belum pernah melihat dan membaca hasil jalan pikiran saudara Pulung mengenai penyelesaian di Negeri Aceh. Coba kirimkan atau tuliskan dahulu apa yang telah saudara Pulung anggap baik, sesuai, judur, adil dan bijaksana dalam memecahkan kemelut di Negeri Aceh ini.

Nah, kalau saudara Pulung menganggap apa yang saya kemukakan merupakan "cuma itu-itu saja, seperti kentut Hansip", maka sayapun perlu baca dahulu hasil pemikiran saudara Pulung sebelum saya kasih komentar atau jawaban.

Kemudian saya akan datang ke Aceh apabila:

Pertama, Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003 telah di CABUT

Kedua, diberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan dan memberikan suaranya YA atau TIDAK untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas di Negeri Aceh.

Nah itulah sedikit penjelasan untuk saudara Pulung Bimantoro.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "omar puteh" <om_puteh@hotmail.com>
To: sadanas@equate.com, awakaway@telkom.net, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: PERJUANGAN MENENTUKAN NASIB SENDIRI BUKAN PERJUANGAN DEMI AMBISI PRIBADI
Date: Fri, 06 Feb 2004 08:07:53 +0000

Assalamu 'alaikum, Wr Wb,

Saudara Sadan AS (AgusHermawan) KUW,

Mengapa kalian menyerah? Betapa menariknya uraian yang beliau berikan, walaupun seperti yang itu diulang-ulang. Yang itu seperti memang musti diulang-ulang dan itu bukan berarti beliau hendak membosankan kalian, tetapi pertanyaan yang datang dari orang yang berbeda dengan pertanyaan yang berbeda pula, namun beliau suka menjawabnya, tetap dengan lapang dada.

Misalnya datang si Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono alias Kecoa dari Jerman alias Gajah Iskandar alias Laksa Marda alias Teuku Mirza alias Cut Mizarda alias Apha Maop, aneuk Kaph Penjajah Indonesia Jawa alias Sagir Alva alias Rahmatullah alias Sadoso Muka, mereka ini sebagaimana anda coba mengalihkan persoalan pembahasan yang sedang dibentangkan dengan perspektipnya

Nah, seperti anda sekarang coba mengajak orang untuk ISLAH, tetapi mengapa anda tidak mengajak agar ABRI-TNI/POLRI, Tentra Teroris Nasional Indonesia Jawa, agar tidak stop menyembelih tiap hari 20 jiwa bangsa Achh yang muslim, yang Islam, yang sekarang sedang berjuang untuk kemerdekaan tanah airnya yang pernah dipertahankan oleh 100.000 Endatunya, nenek moyangnya yang pernah disembelih juga oleh anak Jawa Madura, si tentara upahan KNIL Belanda?

Jadi jangan anda seenaknya meremehkan perjuangan Endatu bangsa Achh, mempertahankan dan membela hak tanah airnya. Bumi bangsa Achh itu telah disiram basah dengan darah Endatunya, nenek moyangnya.

Kami tanyakan kepada anda adakah bangsa Jawa pernah berperang menentang Penjajah Belanda sejak 1596-1947, (agresi/aksi polisionil I) selama lebih 351 tahun. Jawabnya tidak! Tidak pernah, kecuali melawan tuan tanah, kecuali melawan bangsawan Jawa yang tamak harta rakyat, kecuali merebut tahta seperti Diponegoro anak seorang gundik dengan Raden Mas Menol anaknya si Pak Lurah! Atau seperti Trunodjojo, anak Jawa Majapahit menentang Amangkurat I, anakl Jawa Mataram!

Rakyat yang tertindas menentang tuan tanah dan bangsawan Jawa yang tamak harta rakyat, dengan dibantu tentara Penjajah Belanda. Diponegoro, sianak gundik itu menentang Raden Mas Menol, si anak Pak Lurah yang dibantu tentara Penjajah Belanda. Trunodjojo, si anak Jawa Madura atau Jawa Majapahit menentang Amangkurat I, si anak Jawa Semarang atau Jawa Mataram yang dibantu tentara Penjajah Belanda. Tetapi mereka tidak pernah dari 1596-1947 menentang Tuan-Tuhannya karena sebagai penjajahan asing.

Jadi Putra-Putra Achh menentang Penjajah Belanda dan kini Penjajah Indonesia Jawa karena pendudukan dan penjajahannya, sebagai penjajah asing, keatas bangsa Achh, yang telah terkorban sejak 1873-2004 mencapai lebih 200.000 ribu jiwa! Dan ini kita dapat buktikan sebaik saja Achh esok merdeka!

Silakan anda buka semua buku-buku sejarah Indonesia Jawa. Dan beritahukan kami, kalau tidak seperti kami katakan itu. Dan kami akan buktikan juga seperti saudara Ahmad Sudirman telah lakukan.

Saudara-saudara sekalian sepatutnya berterima kasih kepada beliau, karena demikian rajinnya beliau mebuka semua lipatan sejarah Republik Indonesia Jawa-Jogya, Republik Indonesia Serikat dan apa itu Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kini telah menjajah negara-negara atau daerah-daerah di luar negara RI-Jawa Jogya. Ini fakta sejarah yang paling authentik yang dikeluarkan sendiri oleh NKRI.

Dan mengenai bagaimana Achh dicaplok oleh Soekarno dengan Peraturan Pemerintah RIS tanggal 14 Agustus, 1950, telah membuka lagi mata bangsa Achh dan telah mebeliakkan pula mata Sadan AS atau Agus Hermawan KUW, karena kejahatan Penjajah Indonesia itu bukan saja mencaplok Achh tetapi mencaplok semua negara dan daerah diluar wilayah daulat RI-Jawa Jokya.

Sebagai tambahan:

Achh telah mengIslamkan bangsa Jawa dengan batu Nisan, seperti anda jumpai di Demak tahun 1211 Masehi itu, sejak saudagar-saudagar Achh yang tidak tergabung dengan GASIDA, memasuki Pulau Jawa di tahun 1030, atau sejak 262 tahun sebelum Raden Wijaya yang masih bertengakaran dengan Djaja Katwang mendirikan Mojopahit, sebuah nama yang berasal dari Manjak Pat, sebuah pelabuhan terminal di Achh khusus untuk kapal-kapal yang bermuatan batu nisan dengan distinasi Pualu Jawa.

Wassalam,

Omar Puth,

om_puteh@hotmail.com
N o r w a y.
----------

Date: Fri, 6 Feb 2004 04:08:33 -0800 (PST)
From: muhammad dahlan <tang_ce@yahoo.com>
Subject: Re: MAUKAH MEGAWATI, AKBAR TANDJUNG, AMIEN RAIS BERI LAMPU HIJAU UNTUK REFERENDUM DI ACEH ?
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Megawati, Akbar Tanjung, Amien Rais dan apalah nama-nama lain mau disebutkan, yang masih berpiran sempit dan terkungkung oleh cap nkri tidak akan memberikan kebebasan kepada rakyat Aceh. biarlah mulut-mulut mereka berbusa dengan janji-janji, tapi tetap saja akan mereka ingkari. megawati telah berjanji; kalau dia terpilih jadi president ri, tidak setetes darah rakyat Aceh akan mengalir. tapi apa yang terjadi? ketika dia (munafik megawati) jadi president ri, jadilah drakulah peminum darah bangsa Aceh yang sangat dahsyat. inilah janji sebagai yang mewakili bangsa Jawa di Aceh, sama hal halnya dengan mbahnya dulu, Sukarno.

Amin Rais juga berjanji, kalau dia mendapatkan tampuk pimpinan NKRI, akan memberikan referendum kepada rakyat Aceh. tapi apa yang terjadi, Amin justru mendapatkan jabatan yang dengannya bisa menegur dan bahkan memecat President. tapi tidak sepatah katapun terdengar dari Amin yang ngaku ngetop pimpinan Muhammadyah/kelompok Islam, ketika bangsa Aceh digayang oleh bangsanya sendiri, jawa. persaudaraan sesama muslim, atau persaudaraan sesama jowo?

Jadi kesimpulannya, adalah siapapun yang akan menjadi menjadi pimpinan NKRI, kalau dia masih terbelenggu oleh kefanatikannya terhadap pemikiran Sukarno dan Suharto, tidak akan memberikan manfaat apapun kepada bangsa Aceh.

Makanya, saya sarankan kepada bangsa Aceh, apapun yang mereka janjikan, apakah itu datang dari Jakarta/Jawa langsung atau lewat cukong mereka di Aceh, janganlah tergiur lagi, jangan dipercaya lagi, bangsa Aceh akan tetap ditipu dan ditipu terus! ingat ini wahai bangsa Aceh!

Sekarang ada kelompok lain yang mungkin akan menawarkan janji kepada bangsa Aceh, mereka itu adalah yang bergabung dalam partai keadilan (PK), namun bangsa Aceh janganlah lagi tergiur. mereka akan membawa Agama/Islam sebagai dasar untuk menipu, tapi hendakanya bangsa Aceh harus pada prinsip, kita harus pisah dengan NKRI, dengan para penipu negeri itu, dengan menggukan berbagai istilah, seperti negara kesatuan, persaudaraan, sudah diakui international dan sebgainya. tapi bangsa Aceh harus MERDEKA titik.

Mereka para penipu NKRI itu, hanya memikirkan Aceh untuk kepentingan uang/duit mereka, mereka tak pernah ada rasa sayang kepada bangsa Aceh, bagi mereka membunuh semua bangsa Aceh tidak apa-apa, asal hasil dari Aceh masih tetap mengalir ke dalam kantong-kantong mereka. tidak lain tidak bukan, Aceh hanya sebagai lapak perjudian para cukong-cukong politik dan pimpinan militer dari Jakarta/Jawa.

Saya katakan kepada bangsa Aceh :" kita bersatu atau tidak bersatu dengan NKRI, bangsa Aceh tetap dijajah dan ditipu, walaupun telah menjilat pantat-pantat mereka". ingat pengalaman yang paling akhir yaitu saudari Djalil Yusuf, yang telah menjilat banyak, tapi akhirnya ditendang juga. demikian juga pengkhianat Amri bin Abdul Wahab, entah bagaimana nasipnya sekarang, mungkin sedang makan taik dalam penjara di pulau Jawa! demikian juga dulu, sdr Hasan Saleh dan Ibrahim Hasan. bagaimana dengan sdr Tgk Husaini, yang ngaku ulama Aceh itu...? dan lain-lain yang berpikiran serupa.

Apapun kata mereka, bangsa tidak ada pilihan lain, kecuali pisah dengan NKRI dan merdeka dari penjajahannya. hanya pengecut-pengecut saja-lah yang tidak mau merdeka. hanya penjilat-penjilat sajalah yang tak mau berpisah dengan Indonesia.

Saya sependapat dengan akhi Ahmad Sudirman, kita berpisah negara tidak berarti kita putus persaudaraan. Kita tetap bersaudara dalam arti iman dan Isalam, ekonomi dan perdagangan, bilateral dan hubungan-hubungan lainnya. Kita hanya berpisah dalah arti cara-cara pengaturan negara, hukum, pendidikan dan sosial-ekonomi.

Bukti telah menunjukkan, bahwa selama 58 tahun, Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa bagi bangsa Aceh, kecuali hanya padai mengumpulkan harta-harta untuk keperluan famili mereka di Jakarta/Jawa.

Aceh must be freed from indonesia!

Muhammad Dahlan

tang_ce@yahoo.com
Australia
----------

Date: Thu, 5 Feb 2004 23:38:06 -0800 (PST)
From: teuku mirza <teuku_mirza2000@yahoo.com>
Subject: Re: PENERUS SOEKARNO MENJALANKAN TAKTIK HITLER UNTUK TERUS DUDUKI ACEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

SAYA SEMAKIN HERAN DAN "KAGUM" TERHADAP TUAN AHMAD SUDIRMAN... ANDA SANGGUP BERBOHONG ATAS NAMA TUHAN...KEMUDIAN ANDA SANGAT NGOTOT AGAR ACEH LEPAS DARI NKRI...APA SIH UNTUNGNYA BUAT ANDA....APA ANDA SUDAH BOSAN DI SWEDIA, MAKAN TIDUR MENIKMATI TUNJANGAN SOSIAL DARI NEGARA ?

ORANG ACEH SUDAH BOSAN DENGAN KONFLIK / ANDA TAK PERCAYA ? BARANG KALI ANDA BUTA INFORMASI. TIDAKKAH ANDA MELIHAT BAGAIMANA MASYARAKAT ACEH SYUJUD SYUKUR DAN MENGGELAR SHOLAT HAJAT BERHARAP TERWUJUDNYA KEDAMAIAN DI ACEH, HARAPAN ITU DEMIKIAN BESARNYA KETIKA PERTEMUAN TOKYO BERHASIL DIGELAR ? TIDAKKAH ITU MERUPAKAN BUKTI YANG CUKUP BAGI KALIAN UNTUK MEMAHAMI APA YANG DIKEHENDAKI MASYARAKAT ACEH ? BARANG KALI MATA HATI KALIAN TELAH BUTA...? BETAPA KASIHANNYA ANDA/KALIAN...TIDAKKAH ITU BURUK DARI PADA BINATANG ? ITU BUKAN OMANGAN SAYA LHO...MANUSIA YANG MATA HATINYA TELAH BUTA LEBIH BURUK DARI BINATANG BUKAN ? BAGAIMANA TUAN AHMAD SUDIRMAN ? SEMESTINYA ANDA LEBIH PAHAM AKAN ALQUR'AN...

SAAT PERTEMUAN TOKYO, SEBENARNYA BOLA UNTUK MEMBUAT ACEH AMAN ADA DI TANGAN KALIAN....SAAT ITU PEMERINTAH RI AKAN MENGABULKAN APAPUN TAWARAN KALIAN KECUALI ACEH ITU MERDEKA....SAY RASA PEMERINTAH RI JUGA TIDAK AKAN MACAM-MACAM KARENA SEMUA MATA DUNIA TERTUJU PADA PERTEMUAN TOKYO TERSEBUT...TAPI SEKARANG NOL BESAR, SEHARUS KALIAN PANTAS MENYESALI TENTUNYA..

TAPI BAGI KALIAN ...PERSETAN DENGAN SEMUA HARAPAN MASAYARAKAT ACEH...BAUT KALIAN APA UNTUNGNYA OTONOMI ? TOH KALIAN TIDAK BISA BERBUAH SEENAK PERUT KALIAN DI ACEH...JELAS DENGAN OTONOMI KALIAN TIDAK BOLEH LAGI MENGGUNAKAN SENJATA, JALAN MENUJU KEKUASAAN JUGA HARUS MENGGUNAKAN CARA-CARA DEMOKRATIS, LEWAT PEMILU DAN SEBAGAINYA, SEMUANYA MASIH DALAM KONTROL...BUKAN ?

BAGAIMANA BILA MASYARAKAT ACEH TERNYATA KEMUDIAN TAK MENGHENDAKI GAM MENJADI PENGUASA DI ACEH ? TENTU KALIAN UNTUK KEDUA KALINYA KALIAN HARUS TERUSIR ? SESUNGGUHNYA ANDA SANGAT BERPRASANGKA BURUK..

JADI KESIMPULANNYA OTONOMI TIDAK MEMBERIKAN CUKUP KEPUASAN BAGI GAM...WALAUPUN ITU ADALAH HAL YANG SANGAT DIHARAPKAN RAKYAT ACEH...PERSYETAN RAKYAT ACEH, BAGI KALIAN KEKUASAAN ADALAH SEGALANYA .....PRINSIP BAGI KALIAN ADALAH " DAPAT ATAU TIDAK SAMA SEKALI...SOAL ACEH HANCUR DAN BERDARAH-DARAH PERSETAN BUAT KALIAN, TOH KALIAN TIDAK MERASAKAN...

SORRY, TULISAN INI MUNGKIN TIDAK MENJAWAB TULISAN aNDA KARENA SAYA TIDAK PERNAH MEMBACA LAGI TULISAN ANDA......TULISAN ANDA GAMPANG DITEBAK DAN SANGAT DANGKAL...SEPUTAR CAPLOK- MENCAPLOK ...

TUAN AHMAD SUDIRMAN... DUNIA INTERNASIONAL TIDAK PERNAH RIBUT SOAL INTEGRASI ACEH DENGAN RI...ITU ADALAH KENYATAAN...SOAL GONGGONGAN ANDA ITU IBARAT GONGGONGAN ANJING DI TENGAH GURUN...TAK ADA MANFAATNYA...

SEHARUSNYA SEBAGAI SEORANG MUSLIM, ANDA CONCERN TERHADAP TRAGEDI DI ACEH, MEREKA BERBUNUHAN SESAMA SAUDARA SEIMAN...ENTAH APA YANG HENDAK DIPERJUANGKAN...KAMI ORANG-ORANG ACEH TAK PERNAH MENGERTI...

TEUKU MIRZA

teuku_mirza2000@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Thu, 5 Feb 2004 23:51:33 -0800 (PST)
From: teuku mirza <teuku_mirza2000@yahoo.com>
Subject: Re: KALAU PENGUASA NKRI MENCINTAI KEDAMAIAN SERAHKAN KEPUTUSANNYA KEPADA SELURUH RAKYAT ACEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

ANDA MEMANG PANTAS DIKASIHANI...ANDA TERLALU NGOTOT, UNTUK SESUATU YANG MANFAATNYA BAGI RAKYAT ACEH ADALAH NOL...ANDA BUANG-BUANG WAKTU PERCUMA..

TEUKU MIRZA

teuku_mirza2000@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Fri, 6 Feb 2004 00:45:17 -0800 (PST)
From: Pulung Bimantoro <pbimantoro@yahoo.com>
Subject: Ahmad kembalilah ke jalan yang benar.
To: ahmad@dataphone.se

Ahmad,

Setelah saya baca tulisan kamu, ternyata cuma itu-itu saja, seperti kentut Hansip. Kalau kamu memang "pejuang" GAM, pulanglah ke "negeri" Aceh, bantulah teman-teman kamu yang semakin terdesak oleh pasukan raiders. Atau kalau kamu masih jadi pengecut, pulanglah ke Jakarta untuk jualan mie Aceh supaya bisa jualan ganja di jakarta untuk mendanai GAM. Saran terakhir saya : Kalau kamu benar-benar seorang muslim yang mengamalkan ajaran Islam, tindakan kamu itu keliru. Maka kembalilah ke jalan Allah yang sesungguhnya. Amin.

Pulung B,

pbimantoro@yahoo.com
Jakarta.
----------