Stockholm, 7 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

AGENDA UTAMA REFERENDUM DI ACEH BUKAN PEMILU DI NKRI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS PEMILU DI NKRI HANYA MENERUSKAN PENDUDUKAN DI NEGERI ACEH MEGAWATI AMIN RAIS DAN AKBAR TANDJUNG TERUS MAU DUDUKI NEGERI ACEH

"Pak Dirman, saya usul nih Pak. Kalo bapak mau nyap-nyap di sini. Materinya ganti dong Pak , misalnya kampanye: jika Negara Aceh terbentuk, kami akan mengusahakan membebaskan biaya rumah sakit, pendidikan, bebas pajak, gak ada pengangguran, pergi haji gratis. Sandera dibebaskan. Itu pasti lebih efektif. Jangan mimpi2 aja masa lalu. Nanti kalo diungkit2, bisa2 sampai masa Samudra Pasai. Wah gimana itu, pelajaran sejarah dong. Bapak kan di Swedia, ngapain juga ngurus Aceh. Dah lah bapak tenang2 aje di sana. Ngarang buku sejarah Aceh. Rakyat Aceh di sini ada yg ngurus kok Pak. Bapak kan cuma omdo, ngomong doang. Orang di sini perlu bukti nyata, orang yang normal perlu makan, kita gak makan omongan pak, itu gak mengenyangkan, bayi juga tau. Akhirnya, 224 hari pak, sandera Ferry Santoro, apa mau dibebaskan tunggu FS sampai depresi? Kejam nian dikau pak! Rasanya bapak sudirman yang jadi hitler. Lebih malah, hitler langsung nangkap trus bunuh, nah ini di-gantung2 terus."
(L.Meilany , wpamungk@centrin.net.id , Sat, 7 Feb 2004 05:11:32 +0700)

Baiklah saudari Meilany di Tanggerang, Banten, Indonesia.

Itu soal kampanye pembangunan Negeri Aceh setelah bebas dari pengaruh Kekuasaan NKRI akan dibahas dan dijalankan apabila seluruh rakyat Aceh telah melaksanakan penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI.

Jadi, agenda utama sekarang adalah memberikan kepada seluruh rakyat Aceh kesempatan untuk mengungkapkan keinginan, cita-cita, yang telah dipendam lama sejak lebih dari 53 tahun yang lalu untuk mendapatkan kembali Negeri Aceh yang telah diambil dan diduduki oleh Soekarno satu hari sebelum NKRI dibentuk oleh Soekarno diatas reruntuhan bekas Negara/Daerah bagian Republik Indonesia Serikat.

Kalau pihak Presiden Megawati, Ketua Umum Amien Rais, dan Ketua Umum DPR Akbar Tandjung masih juga ngotot untuk memejamkan mata, menyumbat telinga dan menutup hati dari apa yang dituntut oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI, maka sebenarnya itu menunjukkan niat, sikap dan kebijaksanaan politik, keamanan dan pertahanannya di Negeri Aceh adalah tetap mengarah kepada pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh sebagaimana yang telah dilakukan dan dijalankan oleh Soekarno sejak tanggal 14 Agustus 1950 ketika Negeri Aceh diambil dan dimasukkan kedalam tubuh Propinsi Sumetara Utara.

Disamping itu kalau pihak Presiden Megawati, Akbar Tandjung dan Amien Rais masih tetap juga bungkam mengenai keinginan rakyat Aceh yang menuntut kembali Negerinya yang telah dirampas secara sepihak oleh Soekarno, maka itu menandakan Presiden Megawati, Akbar Tandjung dan Amien Rais tetap terus menjalankan kebijaksanaan pendudukan Negeri Aceh.

Nah sekarang, kalau dilihat dan dipelajari serta didalami sedikit lebih dalam maka sebenarnya tidak ada lagi alasan lain yang bisa dipertahankan oleh pihak Presiden Megawati, Amien Rais dan Akbar Tandjung untuk sembunyi dan mengelak dari keinginan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI.

Karena memang secara fakta yang ditunjang oleh bukti yang jelas dan benar dengan dasar hukum yang kuat dan jelas disertai dengan jalannya sejarah yang terang dan jelas dimana Negeri Aceh itu secara sepihak dan tanpa mendapatkan persetujuan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh telah diambil dengan cara licik dan penuh penipuan oleh pihak Soekarno.

Rakyat Aceh sekarang telah mengetahui secara jelas dan gamblang bahwa negerinya memang telah diduduki dan dijajah oleh pihak NKRI melalui kebijaksanaan politik agresi Soekarno.

Jadi, apapun alasan dari Presiden Megawati, Ketua Umum DPR Akbar tandjung, dan Ketua Umum MPR Amien Rais untuk mengelak dari usaha penyelesaian Negeri Aceh dengan cara yang jujur, adil dan bijaksana melalui jalan pemberian kekebabasan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan nasib mereka sendiri dari pengaruh kekuasaan NKRI adalah secara langsung merupakan usaha mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh.

Kemudian mengenai masalah Juru Kamera Ferry Santoro itu penghambatnya adalah pihak Presiden Megawati terutama Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang telah menghambat dan memperlambat pembebasan juru kamera Ferry Santoro. Mengapa ?

Karena, pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak mau memberikan perlindungan keamanan bagi Ferry Santoro ketika waktu dibebaskan.

Dimana agar Ferry Santoro dengan cara yang baik dan penuh hormat dilepaskan kepada pihak Palang Merah Internasional disatu tempat tertentu yang sudah disepakati bersama tidak mendapat serangan dan berondongan peluru oleh para Raider made in KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, maka jelas perlu adanya gencatan senjata yang terbatas waktunya.

Jadi, karena pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak mau dan tidak bersedia mengadakan perjanjian tidak saling tembak menembak dengan jangka waktu yang terbatas, maka itu terlambatnya pembebasan Ferry Santoro bukan berada ditangan TNA melainkan berada ditangan TNI khususnya ditangan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Karena itu coba saudari Meilany tanyakan kepada pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu apakah mereka bersedia mengadakan perjanjian tidak saling tembak menembak dalam jangka waktu terbatas ketika pelepasan wartawan Ferry Santoro kepada pihak Palang Merah Internasional?.

Tentang siapa yang sebenarnya meniru Hitler ?.

Jelas, terlihat dengan mata kepala sendiri, itu kan para jenderal dari TNI seperti Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dengan Raider-nya.

Coba saja pikirkan dengan hati yang terbuka dan jujur, apakah dibenarkan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menggunakan TNI dengan kekerasan senjata terhadap rakyat Aceh yang menuntut negerinya yang telah diambil dan diduduki oleh Soekarno 53 tahun yang lalu ?

Orang yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar saja sudah bisa menjawabnya. Mana boleh seorang pencuri dengan seenaknya mengaku barang curiannya punya hak miliknya. Kemudian ketika ditanya oleh si yang punya barang, langsung si pencuri mengangkat senjata sambil berteriak barang itu milik dirinya karena sudah digabungkan dengan barang-barang lainnya yang ia peroleh dari mencuri juga.

Nah, itulah gambaran Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacu yang mempertahankan Negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "L.Meilany" <wpamungk@centrin.net.id>
To: "teuku mirza" <teuku_mirza2000@yahoo.com>,"Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
Subject: Re: PENERUS SOEKARNO MENJALANKAN TAKTIK HITLER UNTUK TERUS DUDUKI ACEH
Date: Sat, 7 Feb 2004 05:11:32 +0700

Wah, tenang2 pak Mirza...kliatannya Pak Mirza jadi ikut2-an esmosi seperti Pak Sudirman......;-)

1. Beberapa hari ini saya baca postingan Pak Sudirman, hebat juga ya Pak. Begitu produktif. Dari namanya bapak bukan orang Aceh, orang pulau jawa. Atau bapak menyamar? Atau bapak pegawai, dibayar sama grombolan Aceh di swedia? Pak Sudirman begitu hebohnya,... itu lagi itu yg ditulis...hapalan ya pak? Mending bapak pernah ngomong langsung sama orang2/pejabat jaman sekarang. Itu kan cuma khayalan bapak aja.....

2. Pak Dirman, bagi saya kehidupan itu yang sekarang. Bapak gak usah deh berkhayal, mimpi2 .... mengenang masa lalu, segala macam perjanjian tahun kuda gigit besi di bawa2. Bapak kayak ngomong sendiri aja......Yg bapak ajak ngomong aja bingung kayaknya pak. Apalagi saya, tahun 49, 50, renville lah, linggarjati lah......Wah belum lahir saya pak. Orang tua saya aja belum pacaran......;-)

3. Tapi kalo mau mengenang masa sekolah dulu, waktu pelajaran geografi. Peta Indonesia yg saya liat, yang berwarna lain [artinya kan gak masuk Indonesia], cuma peta bagian timor leste, kalimantan separo, irian separo, ACEH di P. Sumatera sama dengan yang lain..........

4. Jadi Pak Dirman, saya usul nih Pak. Kalo bapak mau nyap-nyap di sini. Materinya ganti dong Pak , misalnya kampanye : jika Negara Aceh terbentuk, kami akan mengusahakan membebaskan biaya rs, pendidikan, bebas pajak, gak ada pengangguran, pergi haji gratis........Sandera dibebaskan......Itu pasti lebih efektif. Jangan mimpi2 aja masa lalu. Nanti kalo diungkit2, bisa2 sampai masa samudra pasai.......wah gimana itu.....pelajaran sejarah dong

5. Bapak kan di swedia......ngapain juga ngurus Aceh. Dah lah bapak tenang2 aje di sana. Ngarang buku sejarah Aceh. Rakyat Aceh di sini ada yg ngurus kok Pak. Bapak kan cuma omdo, ngomong doang. Orang di sini perlu bukti nyata, orang yang normal perlu makan, kita gak makan omongan pak, itu gak mengenyangkan....bayi juga tau.

6. Akhirnya, 224 hari pak, sandera Ferry Santoro.....apa mau dibebaskan tunggu FS sampai depresi.....? Kejam nian dikau pak! Rasanya bapak sudirman yang jadi hitler. Lebih malah, hitler langsung nangkap trus bunuh, nah ini di-gantung2 terus.

L.Meilany

wpamungk@centrin.net.id
Tangerang, Banten, Indonesia
----------