Stockholm, 8 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

JANGAN TUTUPI AKAR MASALAH SEBENARNYA SERAHKAN PADA SELURUH RAKYAT ACEH UNTUK REFERENDUM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS JANGAN TUTUPI AKAR MASALAH SEBENARNYA SERAHKAN PADA SELURUH RAKYAT ACEH UNTUK REFERENDUM

"Dan inilah kang Mamad bagian kecil dari ribuan boneka-boneka Hasan Tiro yang dengan keikhlasan hatinya kembali kepangkuan ibu pertiwi. Berarti propaganda end ocehan anda kang Mamad dawala ternyata tidak diperhatikan orang Aceh! Karena niat anda tidak tulus, karena ada keinginan kembali ke kampung halaman nenek moyang numpang angan-angan Hasan Tiro.
13 GAM Menyerahkan Bersama 5 Senjata Lhokseumawe - Sebanyak 13 personil GAM di bawah Pimpinan Panglima Muda M Jamin Peutoe, Kamis (5/2) sekitar pukul 22.00 WIB, menyerahkan diri ke Pos SGI dan Koramil 06/Bireum Bayeun, Aceh Timur. Mereka juga menyerahkan lima pucuk senjata, serta ratusan amunisi."
(Ditya Soedarsono, dityaaceh_2003@yahoo.com , 7 Feb 2004 09:06:52 -0800 (PST))

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono di Negeri Aceh.

Makin jelas saja kelihatan bahwa Kolonel Laut Ditya Soedarsono terus berusaha untuk menutupi akar masalah yang sebenarnya.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, akar masalah yang sebenarnya yang menjadi penyebab timbulnya gejolak dari rakyat Aceh yang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang dibangun diatas bekas reruntuhan Negara/Daerah bagian RIS pada 15 Agustus 1950 adalah karena Soekarno cs telah mengambil dan menduduki Negeri Aceh yang ditelan melalui perut Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950, satu hari sebelum NKRI dibentuk.

Nah, hal ini sekarang telah diketahui oleh rakyat di Negeri Aceh termasuk juga di NKRI. Kemudian sekarang Kolonel Laut Ditya Soedarsono dengan sekuat tenaga berusaha untuk menutupi akar masalah tersebut dengan mengirimkan kepada saya cukilan dari media masa tentang 13 personil GAM kepada pihak Wapang Koops TNI, Brigjen Mar Safzen Noerdin.

Itu cukilan media masa yang diambil oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono tidak akan membelokkan arah dari apa yang telah dituju oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI yang telah menduduki Negeri Aceh sejak lebih dari 53 tahun yang lalu.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, tidak ada guna dan artinya mengirimkan artikel guntingan dari media masa tersebut diatas, karena tidak akan memberikan manfaat apapun apalagi merubah cita-cita dan semangat rakyat Aceh yang sudah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI dibawah pimpinan Megawati.

Nah sekarang, coba saya ingin bertanya kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono yaitu, apakah Kolonel Laut Ditya Soedarsono setuju diadakan referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menentukan sikap dan memberikan suara mereka YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI?

Jelas, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, saya tidak akan memaksa untuk menjawabnya. Mengapa ?
Karena sampai matipun Kolonel Laut Ditya Soedarsono tidak akan setuju diadakan referendum bagi seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh.

Mengapa Kolonel Laut Ditya Soedarsono tidak setuju memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI ?
Karena, pihak Kolonel Laut Ditya Soedarsono akan menutupi pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah dilakukan oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum NKRI dibentuk diatas bekas puing-puing Negara/Daerah bagian RIS pada tanggal 15 Agustus 1950.

Nah itulah, Kolonel Laut Ditya Soedarsono yang disebut akar masalah sebenarnya mengapa timbul gejolak dari rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI.

Bukan seperti yang ditulis oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono yaitu "akar masalah anda adalah hidup dalam kedengkian"

Itu namanya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono bukan akar masalah melainkan karena Kolonel Laut Ditya Soedarsono, Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya ingin terus menduduki dan menjajah Negeri Aceh. Semua mereka itu hanyalah membuat kebohongan dan kedustaan dihadapan seluruh rakyat Aceh dan seluruh rakyat NKRI.

Jadi,Kolonel Laut Ditya Soedarsono janganlah menutupi akar masalah yang sebenarnya dengan sampah-sampah berita yang dikutip dari media masa yang diterbitkan di NKRI, kemudian dikirimkan kepada saya.

Karena itu, rakyat Aceh yang telah sadar bahwa Negerinya telah diduduki dan dijajah oleh pihak Soekarno dan para penerusnya sekarang termasuk Kolonel Laut Ditya Soedarsono, mereka tidak akan dengan mudah dibohongi dan ditipu kembali oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono, Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya.

Jadi sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, mengapa mau terus menerus menutupi kebohongan kepada rakyat Aceh dan rakyat NKRI mengenai pendudukan Negeri Aceh oleh Soekarno dan para penerusnya ini?

Tidak ada guna dan artinya Kolonel Laut Ditya Soedarsono. Toh, akhirnya kebongkar juga.
Jangan dikira para pejuang rakyat Aceh yang telah sadar bahwa Negerinya telah diduduki dan dijajah oleh NKRI yang sekarang sudah dimasukkan ke kamp konsentrasi penguasa NKRI mereka itu akan luntur jiwa perjuangannya?

Jangan harap dengan mudah jiwa perjuangan para pejuang rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI akan luntur karena dimasukkan kedalam kamp konsentrasi dan dijejali dengan berbagai macam cerita yang diambil dari cerita-cerita yang terkandung dalam pancasila.

Jangan mimpi Kolonel Laut Ditya Soedarsono bahwa para pejuang rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh NKRI akan mudah begitu saja menyerahkan jiwa dan semangat perjuangannya kepada pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya.

Mereka para pejuang rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari NKRI akan terus berusaha untuk mendapatkan kembali Negeri Aceh yang telah diambil dan diduduki serta dijajah oleh Soekarno dan para penerusnya.

Sekarang kalau memang Kolonel Laut Ditya Soedarsono ingin menyelesaikan kemelut dan tragedi berdarah yang terus menerus tidak hentinya di negeri Aceh adalah harus kembali melihat kepada akar masalah yang sebenarnya, yaitu masalah pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Soekarno dengan NKRI-nya.

Nah karena itu, marilah kita serahkan seluruhnya kepada pihak rakyat Aceh di negeri Aceh untuk menentukan sikap dan memberikan suaranya apakah YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI bersama TNI/POLRI-nya.

Itulah jalan yang paling adil, jujur dan bijaksana kalau memang Kolonel Laut Ditya Soedarsono ingin menyelesaikan kemelut dan tragedi berdarah yang sekarang sedang melanda di Negeri Aceh dan rakyat Aceh.

Tetapi kalau tidak setuju dengan penentuan pendapat seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh ini, maka artinya pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono ingin terus menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 7 Feb 2004 09:06:52 -0800 (PST)
From: Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>
Subject: AKAR MASALAH ANDA ADALAH HIDUP DALAM KEDENGKIAN
To: ahmad@dataphone.se

DAN INILAH KANG MAMAD BAGIAN KECIL DARI RIBUAN BONEKA-BONEKA HASAN TIRO YANG DENGAN KEIKHLASAN HATINYA KEMBALI KEPANGKUAN IBU PERTIWI.........BERARTI .....PROPAGANDA END OCEHAN ANDA KANG MAMAD DAWALA TERNYATA TIDAK DIPERHATIKAN ORANG ACEH......!!!!!! KARENA NIAT ANDA TIDAK TULUS, KARENA ADA KEINGINNAN KEMBALI KE KAMPUNG HALAMAN NENEK MOYANG NUMPANG ANGAN-ANGAN HASANTIRO.....

13 GAM Menyerahkan Bersama 5 Senjata
LHOKSEUMAWE - Sebanyak 13 personil GAM di bawah Pimpinan Panglima Muda M Jamin Peutoe, Kamis (5/2) sekitar pukul 22.00 WIB, menyerahkan diri ke Pos SGI dan Koramil 06/Bireum Bayeun, Aceh Timur. Mereka juga menyerahkan lima pucuk senjata, serta ratusan amunisi.

Setelah diintograsi di Pos Koramil dan SGI Kecamatan Bireum Bayeun, Jumat kemarin, ke 13 personil GAM termasuk Komandan Regu (Danru) Syamsul Bahri (30), dan Jurupenerangan GAM Tgk Syamsuddin (44), diterbangkan dengan heli ke Koops TNI Lhokseumawe. Kedatangan 'tamu' itu disambut sejumlah anggota TNI dengan baik, termasuk Wapang Koops TNI Brigjen Mar Safzen Noerdin, dan sejumlah perwira Koops dan Korem 011/Lilawangsa.

Wapang Koops TNI, Brigjen Mar Safzen Noerdin

(YBS INI JUGA ORANG ACEH ASLI LHO...!!!!! ORANG ACEH SAJA BERBAKTI KEPADA NKRI KOK ANDA YANG ORANG SUNDA JAWA MALAHAN MEMUSUHI NKRI DAN MEMBELA ANGAN-ANGAN SEMU)

dalam pengarahannya kepada 13 anggota GAM yang menyerah itu mengatakan, tindakan GAM itu merupakan pilihan yang tepat. "Pilihan kalian sangat tepat dan saya mengucapkan terima kasih atas kesadaran Anda. Mari kita bersama membangun negara ini dengan smangat kesatuan dan persatuan dalam bingkai NKRI, tulus dan ikhlas," kata Safzen Noerdin.

Selain itu Wapang Koops yang didampingi Dansatgaspennya Letkol Asep Sapari, meminta kepada 13 TNA itu supaya mengaku apa adanya, harus tulus dan ikhlas, dan jangan karena melarat.
Dalam wawancara dengan 13 anggota GAM, mereka mengakui keberadaannya amat meresahkan masyarakat. Mereka juga mengaku sangat merasa bersalah dengan negara, dan berdosa dengan rakyat Aceh.

Dalam keterangan pers kepada sejumlah wartawan di Makoops Lhokseumawe, Danru GAM Wilayah Peutoe Kemuning Hulu Bireum Bayeun, Syamsul Bahri, mengaku telah lama hendak menyerahkan diri kepada aparat. Namun, tak ada peluang akibat giatnya operasi TNI, dan bahkan tak ada celah untuk turun melaporkan diri ke kepala desa Perutoe Keumuning Hulu.
Menurut Syamsul, pihaknya dilantik menjadi Komandan Regu dengan jumlah anak buah 13 orang, dibekali 4 pucuk AK, dan sepucuk GLM. Mereka nekat menyerah karena merasa bersalah pada masyarakat, agama, dan negara.

Selain itu, tambah Syamsul Bahri, selama operasi keamanan dalam status darurat militer, anggotanya kehabisan logistik. Berhari-hari mereka makan mie instan, dan bahkan ada yang tak sempat makan karena gencarnya operasi aparat TNI. Dengan keluarga mereka juga rindu sekali, akibat sangat susah berkomunikasi. "Semua masyarakat sudah tidak lagi memberikan dukungan sebagaimana yang lalu," kata Syamsul Bahri.

Senjata yang mereka miliki hanya lima pucuk dan jumlah pelurunya juga sangat terbatas, sehingga untuk melakukan serangan atau melawan TNI tidak mungkin. "Kami hanya menghemat peluru untuk melarikan diri kalau ada anggota TNI yang menembak. Jelas kami tidak akan melawan karena terbatasnya peluru," kata Syamsul yang mengaku isterinya sedang hamil tua di Desa Kemuning Hulu.

Sementara senjata yang dibawa turun bersama mereka masing-masing empat pucuk AK, sepucuk pelontar GLM, empat magazen AK, 125 amunisi AK, 40 amunisi M-16, 21 amunisi pistol, sebuah topi baret hijau berlogo singa dan rencong, dan sepuluh lembar bendera GAM.
Ke 13 warga Desa Kemuning itu diantar dua orang keuchik (Kepala Desa) masing-masing Kechik Desa Kemuning Hulu, Ramli Beeramat (42), dan Keuchik Desa Peutow Kecamatan Birem Bayeun, M Yusuf Jamil (50).

Dikatakan Ramli Beuramat, semua pemberontak GAM yang masih berusia muda, menyerah dengan kesadaran sendiri kepada SGI Langsa, dan dia sebagai keuchik, hanya memfasilitasi saja.
Ke 13 GAM yang menyerah itu bernama Ayup (35), Mahyuddin Thaleb (40), Saiful (30), Abubakar (20), Samsul alias Cek Non (35), M Nasir (18), Abdullah (35), Ismail (20), Zakaria (18), Muslim (20), Indrayani (22) dan Lukman (22).

Syamsul Bahri juga mengatakan, istrinya, Nurlina (18) yang sedang hamil, selalu menangis dan meminta dirinya menyerah saja. "Isteri saya menangis dan minta saya turun. Dia tidak mau punya anak tanpa ayah. Kalau Abang menyerah saya bisa melihat dan membawa anak ke penjara,"

(MUDAH-MUDAHAN BERKAT ISTRI YANG SETIA SAUDARAKU SYAMSUL BAHRI TIDAK DIHUKUM, TETAPI HANYA DIBINA OLEH PEMERINTAH DAERAH DAN DIBEKALI KETERAMPILAN YANG SESUAI DENGAN KEINGINNANNYA)

kata Syamsul meniru kembali ajakan isterinya.

Sementara Jurubicara GAM Mahyuddin Thaleb (40) mengatakan, semua yang menyerah tergabung dalam satu kelompok GAM Jamin Peutow, yang sangat ditakuti masyarakat setempat. Kata Mahyuddin, masih ada dua anggota Jamin Peutow yang belum menyerahkan diri dan diperkirakan masih melakukan aksinya di wilayah Bireum Bayeun.

Ayah lima anak dari hasil perkawinannya dengan isterinya Nuraini (34), kepada Serambi mengaku sangat menyesal menggabungkan diri dengan GAM sejak gerakan referendum.

(MUDAH-MUDAHAN PENYESALANNYA MENDAPAT AMPUNAN DARI ALLAH SWT...AMIEN)

"Saya dijadikan sebagai juru bicara di wilayah Peutoe karena saya memang berjabatan sebagai imam masjid di desa Kemuning Hulu dan sering berpidato," katanya. Pihaknya mengaku tertarik dengan GAM karena waktu itu seperti benar-benar melakukan perjuangan.

Namun, setelah bergabung, baru tahu sikap GAM yang sangat brutal dan meresahkan masyarakat. Oleh sebab itu ia meminta maaf kepada rakyat Aceh yang telah resah akibat perbuatannya yang salah kaprah, kata Mahyuddin Taleb.

Menurut Mahyuddin, pihaknya memang memegang jabatan penting dalam organisasi GAM Wilayah Kemuning Hulu, tapi mereka tidak pernah kenal dengan pimpinan GAM. Hanya nama saja Panglima GAM Aceh Timur Teungku Sanusi, tapi sampai hari ini pihaknya belum pernah kenal sang panglima. Demikian juga dengan Ishak Daud. "Saya kenal Ishak Daud karena saya lihat di TV," kata Mahyuddin. (ib/j)

MILIS INI BUKAN KARANGAN SAYA KANG.......!!!! SILAKAN AKANG BERKOMENTAR......... TERMASUK AKANG JUGA BELUM MENJAWAB PERTANYAAN SAYA......APA SIH PERSAMAAN PERKAWINAN DENGAN WANITA YAHUDI ANTARA NABI MUHAMMAD ROSULULLAH DENGAN HASAN TIRO SILAKAN DIKUPAS KANG MAMAD.....KARENA AKU BARU INGAT ANDA DULU YANG PERNAH MENYAMAKANNYA....?????

DITYA

dityaaceh_2003@yahoo.com
ACEH NADTANAH RENCONG
----------