Stockholm, 8 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

RAIDER DIBENTUK UNTUK MELANGGENGKAN PENDUDUKAN NEGERI ACEH DAN MENEKAN RAKYAT ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS RAIDER DIBENTUK UNTUK MELANGGENGKAN PENDUDUKAN NEGERI ACEH DAN MENEKAN RAKYAT ACEH

"Assalamu'alaikum wr wb. Bagaimana pendapat anda saudara Ahmad mengenai tentara pendudukan (TNI/POLRI, Raiders) yang tidak punya adab sopan santun? Pada malam hari raya Idul Adha 1424 H/1 Feb. 2004 M (tepatnya jam 1.30 dini hari waktu Acheh) rumah saya didatangi oleh orang tak dikenal. Mereka masuk ke halaman rumah saya setelah merusak gembok (kunci) pintu pagar. Mereka mengetuk/menggedor pintu rumah saya, sehingga membuat saya tersentak dan terbangun dari tidur (padahal saya lagi mimpi yang indah lho !), terus saya segera membukakan pintu, ternyata diluar banyak sekali tentara pendudukan (pasukan Raiders) yang berjumlah kira-kira 10 - 20 personil. Lalu Raiders membentak saya dengan menodong pakai senjata jenis M-16 yang dilengkapi inframerah : "keluar, keluar, angkat tangan". Terus saya keluar, tapi saya tidak mengangkat tangan. Lalu salah satu dari mereka menanyakan mana KTP ?? segera saya mengambil dan memberikan KTP dimaksud kepada mereka, dan yang lainnya masuk dan menggeledah rumah saya. Setelah mereka selesai menggeledah rumah saya (mereka tidak menemukan apa-apa), mereka langsung keluar, sebelum pergi mereka mengatakan pada saya dengan nada mengancam :"nanti kalau ada orang tak dikenal datang kemari, laporkan ke kami, atau laporkan ke KORAMIL terdekat. Kalau kamu tidak melaporkannya, nanti kamu yang kena".terus saya jawab :"iya pak". tapi dalam hati saya berkata : "dasar tentara kolonialis, tak punya sopan santun, udah datang/masuk ke rumah saya tanpa mengucapkan salam "assalammualaikum", eh malah membentak dan mengancam saya". Untung saya masih punya mental yang kuat, kalau enggak udah jantungan saya Begitulah cerita adanya. Saya heran, kenapa tentara pendudukan (TNI/POLRI, Raiders) tak punya adab sopan santun sedikitpun ?? apakah didalam pancasila tidak diajarkan sopan santun ?? Uppps, mana ada tentara pendudukan diajarkan sopan santun, kalau ada diajarkan pasti mereka tidak akan menjajah negeri Acheh, tidak akan menakuti, membunuh dan membantai rakyat Acheh, dan tidak akan mencuri/merampok kekayaan alam Acheh."
(Shahen Fasya , rimueng_acheh@yahoo.com , Sun, 8 Feb 2004 02:58:34 +0000 (GMT))

Terimakasih saudara Shahen Fasya di Banda Aceh Negeri Aceh.

Baiklah saudara Shahen Fasya.

Itu yang namanya Raider adalah jelmaan dari Infantri merupakan satu produk buatan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang sebagiannya telah beroperasi di Negeri Aceh dengan maksud dan tujuan untuk anti gerilya, menghadapi perang modern, dan menjalankan perang berlarut.

Nah, saudara Shahen Fasya, berdasarkan kepada maksud dan tujuan dikirimkannya Raider made in KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu ke Negeri Aceh itu sudah tergambar dengan jelas bahwa sebenarnya bukan bertujuan tujuan untuk anti gerilya, menghadapi perang modern, dan menjalankan perang berlarut melainkan pada hakekatanya untuk melanggengkan, meneruskan dan mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah diduduki oleh Soekarno sejak satu hari sebelum NKRI dibentuk diatas bekas reruntuhan Negara/Daerah bagian RIS pada tanggal 15 Agustus 1950.

Karena berlandaskan pada itu, maka setelah disumpah berdasarkan Dasar NKRI Pancasila sempurnalah pasukan Raiden ciptaan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menjadi robot yang siap menjalankan dan perintah dan tugas untuk pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh.

Dan sekali lagi perlu saudara Shahen Fasya ketahui bahwa tujuan yang digemborkan dan dipropagandakan oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dengan Raidernya itu adalah untuk anti gerilya, menghadapi perang modern, dan menjalankan perang berlarut di Negeri Aceh semuanya itu hanyalah kedok saja karena yang hakekat sebenarnya adalah untuk meneruskan dan mengukuhkan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah dimulai sejak masa Soekarno lebih dari 53 tahun yang lalu.

Jadi wajar dan masuk diakal, saudara Shahen Fasya, itu yang namanya Raider yang datang ke tempat saudara pada "malam hari raya Idul Adha 1424 H/1 Feb. 2004 M (tepatnya jam 1.30 dini hari waktu Acheh) masuk ke halaman rumah dan merusak gembok (kunci) pintu pagar sambil mengetuk/menggedor pintu rumah, menodong pakai senjata jenis M-16 yang dilengkapi inframerah, dan menggeledah rumah tanpa sopan santun"

Mengapa saudara Shahen Fasya para Raider buatan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu itu tidak punya sopan santun terhadap rakyat Aceh?

Sebabnya, saudara Shahen kalau saudara ingin mengetahuinya, karena para Raider itu semuanya adalah robot-robot yang berbentuk dan berbadan manusia kelahiran NKRI.

Disinilah saudara Shahen, bahwa taktik dan strategi dari pihak Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung dan Ketua MPR Amien Rais yang didukung oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk tetap mengekalkan dan melanggengkan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah diawali oleh Soekarno sejak 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS melebur kedalam Negara RI_Jawa-Yogya dan menjelma NKRI.

Karena itulah saudara Shahen Fasya di banda Aceh di Negeri Aceh. Para Raider yang merupakan robot bertubuh dan berwajah manusia binaan dan ciptaan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu adalah tidak memiliki sopan santun dan adab kesusilaan. Karena memang ketika dalam waktu penggodogan dan pembentukan robot Raider ini tidak setetespun disiramkan akar masalah sebenarnya mengapa sampai terjadi gejolak dan tragedi di Negeri Aceh. Akar masalah yang sebenarnya yang berupa pengambilan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh Soekarno tidak dimasukan kedalam propgram pembinaan dan pembuatan robot Raider ini. Mengapa ?

Karena memang apabila taktik dan strategi pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh diketahui oleh seluruh rakyat NKRI dan seluruh rakyat Negeri Aceh, maka berakhirlah usaha dan cita-cita Soekarno untuk menyatukan Negara-Negara dan Daerah-Daerah diluar wilayah kekuasaan Bekas Negara/daerah bagian RIS kedalam wilayah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang menjelma menjadi NKRI.

Oleh sebab itu, apa yang menimpa dan terjadi pada saudara Shahen Fasya pada "malam hari raya Idul Adha 1424 H/1 Feb. 2004 M" dengan datangnya "Raider yang berjumlah kira-kira 10 - 20 personil sambil membentak dan menodong pakai senjata jenis M-16" akibat dari taktik dan strategi Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung dan Ketua MPR Amien Rais yang didukung oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk tetap mengekalkan dan melanggengkan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh.

Dengan sebab itulah saudara Shahen Fasya, saya telah menyatakan berulang kali bahwa kalau memang benar keluar dari hati yang ikhlas, jujur, adil dan bijaksana dalam rangka usaha menyelesaikan kemelut berdarah di Negeri Aceh yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun ini caranya adalah diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh untuk memutuskan dan menetapkan serta menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah NKRI dibawah Presiden megawati bersama TNI/POLRI-nya yaitu melalui jajak pendapat atau referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk memberikan suaranya YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI bersama TNI/POLRI-nya.

Nah itulah, saudara Shahen, jalan pemecahan yang betul-betul jujur, adil dan bijaksana, seandainya pihak Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono ingin menyelesaikan perdamaian yang abadi di Negeri Aceh.

Kalau Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono menolak memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menjalankan jajak pendapat atau referendum itu, maka sampai kapanpun di Negeri Aceh akan terus bergolak, dan kalau memang itu terjadi, maka sesungguhnya itu adalah memang telah dirangcang oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dengan membentuk Raider dengan maksud dan tujuan untuk melanggengkan dan meneruskan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh.

Inilah sedikit penjelasan dari saya untuk saudara Shahen Fasya di Banda Aceh Negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 8 Feb 2004 02:58:34 +0000 (GMT)
From: shahen fasya <rimueng_acheh@yahoo.com>
Subject: tentara pendudukan (TNI/POLRI, Raiders) tak punya adab sopan santun
To: ahmad@dataphone.se

Assalamualaikum wr...wb

To the point,

Pada malam hari raya Idul Adha 1424 H/1 Feb. 2004 M (tepatnya jam 1.30 dini hari waktu Acheh) rumah saya didatangi oleh orang tak dikenal. Mereka masuk ke halaman rumah saya setelah merusak gembok (kunci) pintu pagar. Mereka mengetuk/menggedor pintu rumah saya, sehingga membuat saya tersentak dan terbangun dari tidur (padahal saya lagi mimpi yang indah lho !), terus saya segera membukakan pintu, ternyata diluar banyak sekali tentara pendudukan (pasukan Raiders) yang berjumlah kira-kira 10 - 20 personil. Lalu Raiders membentak saya dengan menodong pakai senjata jenis M-16 yang dilengkapi inframerah : "keluar, keluar, angkat tangan". Terus saya keluar, tapi saya tidak mengangkat tangan. Lalu salah satu dari mereka menanyakan mana KTP ?? segera saya mengambil dan memberikan KTP dimaksud kepada mereka, dan yang lainnya masuk dan menggeledah rumah saya.

Setelah mereka selesai menggeledah rumah saya (mereka tidak menemukan apa-apa), mereka langsung keluar, sebelum pergi mereka mengatakan pada saya dengan nada mengancam :"nanti kalau ada orang tak dikenal datang kemari, laporkan ke kami, atau laporkan ke KORAMIL terdekat. Kalau kamu tidak melaporkannya, nanti kamu yang kena".terus saya jawab :"iya pak". tapi dalam hati saya berkata : "dasar tentara kolonialis, tak punya sopan santun, udah datang/masuk ke rumah saya tanpa mengucapkan salam "assalammualaikum", eh malah membentak dan mengancam saya". Untung saya masih punya mental yang kuat, kalau enggak udah jantungan saya

Begitulah cerita adanya. Saya heran, kenapa tentara pendudukan (TNI/POLRI, Raiders) tak punya adab sopan santun sedikitpun ?? apakah didalam pancasila tidak diajarkan sopan santun ?? Uppps, mana ada tentara pendudukan diajarkan sopan santun, kalau ada diajarkan pasti mereka tidak akan menjajah negeri Acheh, tidak akan menakuti, membunuh dan membantai rakyat Acheh, dan tidak akan mencuri/merampok kekayaan alam Acheh.

So, bagaimana pendapat anda saudara Ahmad mengenai tentara pendudukan (TNI/POLRI, Raiders) yang tidak punya adab sopan santun.

Wassalam,

Shahen Fasya

rimueng_acheh@yahoo.com
Banda Acheh
----------