Stockholm, 8 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BENARKAN AMIEN RAIS CALON PRESIDEN NKRI KE-6 MUNAFIK DALAM PENYELESAIAN ACEH ?
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SATU PERTANYAAN BAGI CALON PRESIDEN NKRI KE-6 AMIEN RAIS YAITU BENARKAN AMIEN RAIS CALON PRESIDEN NKRI KE-6 MUNAFIK DALAM PENYELESAIAN ACEH ?

"Disini saya bukannya menyokong saudara Ahmad Sudirman, namun kalau pemerintah militer Indonesia ini memberi izin kepada sebuah lembaga dunia yang neutral untuk menjejaki dan bertanya langsung tentu hasilnya akan lain . Saya sangat terkesan atas ajuan saudara (Apha Maop) yang mencoba membuat hipotesa diatas tirani anda sendiri. Sejauh ini kita dapat memprediksi argumen anda adalah sangat-sangat benar, bahwa kalau kita bertanya kepada rakyat Aceh satu persatu tanpa gertakan dan hentakan laras sepatu buatan Bandung dan tanpa tonjokan moncong bayonet buatan pindat rakyat Aceh akan menolak referendum atau dengan kata lain rakyat Aceh menolak merdeka. Anda mungkin masih ingat dengan jutaan masyarakat yang tumpah ruah di halaman mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh pada tahun 1999. Adakah itu dorongan dan desakan dari suatu kelompok yang memaksa masyarakat untuk menuntut referedum seperti yang telah dijanjikan oleh GusDur dan Amin Rais sewaktu kedua oppertunis ini belum meduduki dua puncak tertinggi dinegeri korup ini. Kalaupun ada itu mustahil mereka dapat menyediakan dana yang begitu besar untuk transport dan akomudasi, sedangkan kelompok itu tidak memperoleh dana dari manapun jua saat itu. Memang yang menyebabkan Amin Rais tidak menjadi persiden dinegeri antah berantah ini, hanya disebabkan karena ucapannya ingin memperjuangkan referendum di Aceh dan yang menyebabkan tersungkurnya presiden aneh yang sering tidur dalam ruang sidang atau saat pembacaan anggaran belanja negara ini, disebabkan kemunafikannya terhadap rakyat Aceh."
(Bukhari Raden , bukharipasi66@yahoo.no , 8 februari 2004 12:37:36)

Terimakasih kepada saudara Bukhari Raden di Norwegia yang telah menyampaikan ulasan dan tanggapannya mengenai referendum bagi seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh dalam usaha mencari jalan penyelesaian yang paing jujur, adil dan bijaksana tanpa menumpahkan darah yang banyak.

Bukan seperti jalan keluar yang dibuat oleh pihak Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung dan Ketua MPR Amien Rais dengan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang ternyata dalam prakteknya sekarang sudah sedikian banyak darah rakyat Aceh mengalir diatas tanah Negeri Aceh.

Apakah itu jalan penyelesaian mengenai Aceh yang ingin mendapatkan kedamaian yang dijalankan oleh pihak Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung dan Ketua MPR Amien Rais sekarang ini?

Atau memang seperti yang dikatakan oleh saudara Bukhari Raden: "Memang yang menyebabkan Amin Rais tidak menjadi presiden dinegeri antah berantah ini, hanya disebabkan karena ucapannya ingin memperjuangkan referendum di Aceh dan yang menyebabkan tersungkurnya presiden aneh yang sering tidur dalam ruang sidang atau saat pembacaan anggaran belanja negara ini, disebabkan kemunafikannya terhadap rakyat Aceh."

Nah, disini apakah memang benar Ketua MPR Amien Rais adalah seorang munafik dalam hak penyelesaian rakyat dan Negeri Aceh ?

Jelas, memang kelihatannya benar seperti yang ditulis saudara Bukhari Raden tersebut, bahwa Amien Rais adalah munafik dalam hal penyelesaian damai yang jujur, adil serta bijaksana bagi seluruh rakyat Aceh.

Ketika sebelum terpilih menjadi Ketua MPR dan sebelum Partai Amanat Bangsa-nya bisa masuk ke DPRdan MPR pada Pemilihan Umum tahun 1999 yang lalu, memang Amien Rais ini bersama Abdurrahman Wahid telah mendukung referendum bagi rakyat Aceh tetapi kenyataannya setelah duduk di kursi ketua MPR dan duduk di kursi Presiden secara spontan langsung berbalik kebelakang dan langsung menggebuk rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri dengan dasar hukum Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 tentang Langkah-langkah komprehensif dalam rangka penyelesaian masalah Aceh sampai Abdurrahman Wahid jatuh tersungkur dari kursi Presidennya. Hanya sekarang tinggal Amien Rais yang dari sekarang sudah siap untuk maju menjadi Calon Presiden NKRI tahun 2004.

Nah selanjutnya, kalau memang benar Amien Rais yang memang munafik dalam masalah penyelesaian Aceh ingin maju dan ingin terpilih menjadi Presiden NKRI ke 6, maka melihat dari taktik dan strategi Amien Rais mengenai penyelesaian Negeri Aceh yang sedang dijalankan sekarang, yang mendukung penuh kebijaksanaan militer yang dijalankan oleh Presiden Megawati sekarang dengan Keppres No.28 Tahun 2003 dan Keppres No.43 Tahun 2003, maka sudah bisa dibayangkan dan dipastikan kemelut di Negeri Aceh akan terus berlangsung.

Kecuali, kalau memang Amien Rais menyadari bahwa kebijaksanaan yang telah dijalankan sekarang di negeri Aceh adalah kebijaksanaan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI, dan memilih jalan referendum yang satu-satunya mendekati kepada kejujuran, keadilan dan bijaksana dalam usaha penyelesaian kemelut di negeri Aceh yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun ini.

Seterusnya saya juga setuju dengan yang diungkapkan oleh saudara Bukhari Raden selanjutnya yaitu "Disini nampaklah apa hakikat yang terpendam dalam hati sebuah bangsa yang teraniaya, tak lain hanyalah ingin bebas dari penjajahan Sebab penjajahan didunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan di Indonesia. Sekarang Indonesia boleh bangga dengan pembasmian bangsa Aceh, tetapi akibat pahit itu akan datang juga. Tidak selamanya otoriter itu dapat dipertahankan dengan tangan kotor militernya, ada juga yang akan menghakiminya kelak. Itu yang selalu kita harapkan. Suatu saat cambuk yang mereka gunakan untuk menghantam rakyat Aceh akan kembali memakan tuannya"

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: Bukhari Raden <bukharipasi66@yahoo.no>
Date : 8 februari 2004 12:37:36
To: Bukhari Raden <bukharipasi66@yahoo.no>, Lantak@yahoogroups.com
Cc: ppdi@yahoogroups.com
Subject: "PPDi" Re: [Lantak] Re: APAKAH BENAR TIDAK ADA RAKYAT ACEH YANG MENGINGINKAN REFERENDUM?

Saya sangat terkesan atas ajuan saudara yang mencoba membuat hipotesa diatas tirani anda sendiri. Sejauh ini kita dapat memprediksi argumen anda adalah sangat-sangat benar, bahwa kalau kita bertanya kepada rakyat Aceh satu persatu tanpa gertakan dan hentakan laras sepatu buatan Bandung dan tanpa tonjokan moncong bayonet buatan pindat rakyat Aceh akan menolak referendum atau dengan kata lain rakyat Aceh menolak merdeka.

Anda mungkin masih ingat dengan jutaan masyarakat yang tumpah ruah di halaman mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh pada tahun 1999.

Adakah itu dorongan dan desakan dari suatu kelompok yang memaksa masyarakat untuk menuntut referedum seperti yang telah dijanjikan oleh GusDur dan Amin Rais sewaktu kedua oppertunis ini belum meduduki dua puncak tertinggi dinegeri korup ini. Kalaupun ada itu mustahil mereka dapat menyediakan dana yang begitu besar untuk transport dan akomudasi, sedangkan kelompok itu tidak memperoleh dana dari manapun jua saat itu

Memang yang menyebabkan Amin Rais tidak menjadi persiden dinegeri antah berantah ini, hanya disebabkan karena ucapannya ingin memperjuangkan referendum di Aceh dan yang menyebabkan tersungkurnya presiden aneh yang sering tidur dalam ruang sidang atau saat pembacaan anggaran belanja negara ini, disebabkan kemunafikannya terhadap rakyat Aceh.

Mengapa saya katakan demikian , tak lain hanyalah karena dia yang mengatakan kepada rakyat Aceh "Mengapa Timor Timur boleh Referendum dan mengapa Aceh tidak" juga dia yang mengkounter miliyaran rupiah bantuan Sultan Brunai Darussalam kedalam kantong pribadinya, apa itu tak aneh. Saya yakin inilah pembalasan atas dausanya.

Disini saya bukannya menyokong saudara Ahmad Sudirman, namun kalau pemerintah militer Indonesia ini memberi izin kepada sebuah lembaga dunia yang neutral untuk menjejaki dan bertanya langsung tentu hasilnya akan lain .

Kita masih ingat dengan tertipunya Indonesia di Timor Timur, tatkala banyaknya demontrasi anti fretelin sewaktu Indonesia masih berkuasa dinegara terebut. Tapi apa akhirnya B.J Habibi yang begitu yakin akan kemenangan Indonesia melalui folling sementara, harus rela melepaskan Timor Timur yang telah disantuninya selama dua puluh lima tahun.

Disini nampaklah apa hakikat yang terpendam dalam hati sebuah bangsa yang teraniaya, tak lain hanyalah ingin bebas dari penjajahan Sebab penjajahan didunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan di Indonesia.

Sekarang Indonesia boleh bangga dengan pembasmian bangsa Aceh, tetapi akibat pahit itu akan datang juga. Tidak selamanya otoriter itu dapat dipertahankan dengan tangan kotor militernya, ada juga yang akan menghakiminya kelak. Itu yang selalu kita harapkan. Suatu saat cambuk yang mereka gunakan untuk menghantam rakyat Aceh akan kembali memakan tuannya

Bukhari Raden

bukharipasi66@yahoo.no
Norwegia
----------

Apha MAOP <awakaway@telkom.net> wrote:
Baiklah bapak Ahmad sudirman

Harus diakui memang, tidak 100 % rakyat aceh yang menolak referendum. Tapi referendum bukanlah kebutuhan dasar (bahasa kerennya AGENDA) yang sangat diperlukan rakyat Aceh sekarang ini. Memang ada segelintir Rakyat Aceh (khususnya rakyat aceh definisi anda) yang menginginkan referendum. Tapi hanya sangat kecil angkanya.

Kalau anda tetap menolak ke Aceh, berarti anda berbicara berdasarkan prediksi-prediksi dan tebak-tebak berhadiah saja.Bukan berdasarkan fakta. Bukan berdasarkan atau kesimpulan atau hipotesa
hasil penelitian ilmiah.

Coba lakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada rakyat Aceh, mereka akan menggungkapkan isi hati nurani mereka yang sebenarnya.

Kalau anda menanyai mereka dengan gaya militer dan bentak-bentak, jelas saja jawaban mereka tidak objektif. Tapi coba anda masuk kedalam kelompok mereka, tapi jangan tunjukkan bahwa
anda sedang menyelediki mereka. Maka anda akan dapatkan jawaban objektif tersebut. Dan hal itu saya lakukan, sedangkan anda ?!?!?!? Hanya menulis berdasarkan sejarah khayalan anda tersebut.

Anda sebagai ilmuwan, seharusnya saya tak perlu lagi mengajari anda cara meneliti sesuatu dengan metode partisipasi aktif. Metode ini kan di gunakan untuk mendapatkan hasil yang paling mendekati obyektif.

Kalau sekarang yang anda pakai kan metode menghayal, jelas saja diskusi kita tidak pernah nyambung.Saya nulis pake data hasil penelitian ilmian dan anda nulis pake data ngayal, dan ngeyel lagi.

Wassalam

Apha Maop

awakaway@telkom.net
Indonesia
----------