Stockholm, 9 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TIDAK ADA PERBEDAAN MISI ANTARA TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH DAN TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS TIDAK ADA PERBEDAAN MISI ANTARA TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH DAN TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO YAITU MENENTUKAN NASIB SENDIRI MEMBENTUK NEGARA BEBAS DARI PENGARUH NKRI ATAU NEGARA PANTJA SILA

"Salam Kebebasan Berpikir. Salam sejahtera Pak Ahmad. Melalu e-mail ini saya bermaksud meminta pendapat atas beberapa pertanyaan saya berhubungan dengan masalah Aceh. Pertama: sesungguhnya apa benar telah terjadi penyimpangan (bias) perjuangan, antara Abu Daud dan Hasan Tiro. dari catatan sejarah yang saya baca, bahwa gerakan yang dipimpin Abu Daud membawa misi penegakan Syariat Islam (DI) di Aceh. sedangkan Hasan Tiro dengan misi kemerdekaan--negara--bagi Aceh. apa benar dengan misi yang diusung Hasan Tiro ini Abu Daud sendiri tidak pernah mendukung apalagi melarang (tidak bersikap tegas). kedua: jika memang misi kemerdekaan yang diusung, apakah ini memang kehendak dari rakyat Aceh atau hanya ambisi dari segelintir elit (tokoh) Aceh saja? ketiga: mengapa Swedia dipilih tokoh GAM (Hasan Tiro) sebagai basis perjuangan. Apakah ini meniru halnya ketika Amerika mendepak Spanyol saat menguasai Fhilipina?"
(Fahri Firdusi , fahri_jurnalis@yahoo.com , Mon, 9 Feb 2004 10:09:15 -0800 (PST))

Baiklah saudara Fahri Firdusi di Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Sebenarnya misi dari Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah tidak berbeda, keduanya adalah bertujuan untuk menentukan nasib sendiri guna membentuk Negara yang bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI atau Negara Pantja Sila

Nah, disini bisa dilihat dan dipelajari dari kedua proklamasi NII yang diproklamirkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Proklamasi Negara Aceh Sumatera yang diproklamirkan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Proklamasi Teungku Muhammad Daud Beureueh pada 20 September 1953 yaitu

Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam.

Dari itu dipermaklumkan kepada seluruh Rakjat, bangsa asing, pemeluk bermatjam2 Agama, pegawai negeri, saudagar dan sebagainja.

1. Djangan menghalang2i gerakan Tentara Islam Indonesia, tetapi hendaklah memberi bantuan dan bekerdja sama untuk menegakkan keamanan dan kesedjahteraan Negara.

2. Pegawai2 Negeri hendaklah bekerdja terus seperti biasa, bekerdjalah dengan sungguh2 supaja roda pemerintahan terus berdjalan lantjar.

3. Para saudagar haruslah membuka toko, laksanakanlah pekerdjaan itu seperti biasa, Pemerintah Islam mendjamin keamanan tuan2.

4. Rakjat seluruhnja djangan mengadakan Sabotage, merusakkan harta vitaal, mentjulik, merampok, menjiarkan kabar bohong, inviltratie propakasi dan sebagainja jang dapat mengganggu keselamatan Negara. Siapa sadja jang melakukan kedjahatan2 tsb akan dihukum dengan hukuman Militer.

5. Kepada tuan2 bangsa Asing hendaklah tenang dan tentram, laksanakanlah kewadjiban tuan2 seperti biasa keamanan dan keselamatan tuan2 didjamin.

6. Kepada tuan2 yang beragama selain Islam djangan ragu2 dan sjak wasangka, jakinlah bahwa Pemerintah N.I.I. mendjamin keselamatan tuan2 dan agama jang tuan peluk, karena Islam memerintahkan untuk melindungi tiap2 Umat dan agamanja seperti melindungi Umat dan Islam sendiri. Achirnja kami serukan kepada seluruh lapisan masjarakat agar tenteram dan tenang serta laksanakanlah kewadjiban masing2 seperti biasa.

Negara Islam Indonesia

Gubernur Sipil/Militer Atjeh dan Daerah sekitarnja.

MUHARRAM 1373
Atjeh Darussalam
September 1953

Kemudian Proklamasi Negara Aceh Sumatera yang diproklamasikan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada 4 Desember 1976 yaitu

"We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self-determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,hal : 15, 17, 1984).

Nah ternyata, dari kedua proklamasi diatas dapat diambil satu garis benang lurus yaitu misi yang mengarah pada bebas dan berdiri sendiri dari pengaruh kekuasaan NKRI atau Negara Pantja Sila.

Dimana dalam kedua proklamasi yang diproklamasikan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro mempunyai misi yang sama yaitu untuk membentuk Negara yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara NKRI atau Negara Pantja Sila.

Jadi, kedua pemimpin rakyat Aceh ini mempunyai misi yang sama dan jelas yaitu berdirinya Negara yang bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI atau Negara Pantja Sila, yang kedua pemimpin proklamator itu membawa kehendak rakyat yang ingin bebas dari pengaruh pendudukan dan penjajahan NKRI dan bukan merupakan ambisi pribadi dari kedua tokoh Proklamator Aceh tersebut.

Seterusnya, mengenai mengapa Swedia yang menjadi basis perjuangan untuk Teungku Hasan Muhammad di Tiro ?.

Karena Swedia adalah salah satu Negara-Negara di Eropa yang menjungjung tinggi Hak Hak Asasi Manusia, membantu manusia-manusia yang dilanggar hak-hak asasi-nya sebagai mana yang tercantum dalam Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, dan melindungi secara politis orang-orang yang dilanggar hak-hak penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan asing sebagaimana dijamin oleh hukum Internasional.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 9 Feb 2004 10:09:15 -0800 (PST)
From: FAHRI FIRDUSI <fahri_jurnalis@yahoo.com>
Subject: Salam
To: ahmad@dataphone.se

Salam Kebebasan Berpikir !!

Salam sejahtera Pak Ahmad. Melalu e-mail ini saya bermaksud meminta pendapat atas beberapa pertanyaan saya berhubungan dengan masalah Aceh.

Pertama: sesungguhnya apa benar telah terjadi penyimpangan (bias) perjuangan, antara Abu Daud dan Hasan Tiro. dari catatan sejarah yang saya baca, bahwa gerakan yang dipimpin Abu Daud membawa misi penegakan Syariat Islam (DI) di Aceh. sedangkan Hasan Tiro dengan misi kemerdekaan--negara--bagi Aceh. apa benar dengan misi yang diusung Hasan Tiro ini Abu Daud sendiri tidak pernah mendukung apalagi melarang (tidak bersikap tegas).

kedua: jika memang misi kemerdekaan yang diusung, apakah ini memang kehendak dari rakyat Aceh atau hanya ambisi dari segelintir elit (tokoh) Aceh saja?

ketiga: mengapa Swedia dipilih tokoh GAM (Hasan Tiro) sebagai basis perjuangan. Apakah ini meniru halnya ketika Amerika mendepak Spanyol saat menguasai Fhilipina?

Saya berharap dapat informasi akurat dari bapak atas pertanyaan saya.

Salam

Fahri Firdusi

fahri_jurnalis@yahoo.com
Bandung, Indonesia
----------