Stockholm, 12 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PERLU DIKETAHUI MATIUS DHARMINTA YANG NAMANYA NEGERI CACING ITU NKRI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS YANG PERLU DIKETAHUI OLEH WARTAWAN JAWA POS MATIUS DHARMINTA DI SURABAYA INDONESIA YANG NAMANYA NEGERI CACING ITU ADALAH NKRI

"Congok: ada yang tanya referendum di Aceh itu makanan apa? bau-baunya aja belum ada
Cangak: tapi bung Ahmad Sudirman udah mencium semerbak wanginya referendum di negeri...
Congok: yang ia (bung Ahmad Sudirman) maksud negeri cacing kali.
Cangak: bener juga ya"
(Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , Wed, 11 Feb 2004 22:39:19 -0800 (PST))

Baiklah saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia.
Saudara Matius Dharminta memang tidak mengetahui Negeri yang dinamakan Negeri Cacing itu sebenanrnya adalah NKRI yang ternyata ketika mau diadakan Pemilihan Umum tahun ini, bagaikan cacing-cacing yang berkeluaran dari dalam tanah karena tersiram air hujan.

Lihat itu buktinya, 24 Partai Politik, dari mulai Partai Politik yang gemuk karena kekenyangan makan hasil korupsi sampai Partai Politik yang kurus bagai cacing kurus yang belum punya kesempatan untuk korupsi.

Coba perhatikan dari 24 Partai Politik ini dimulai berdasarkan nomor urutan daftar pemilihan partai:

1. PNI Marhaenisme , 2. Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), 3. Partai Bulan Bintang (PBB), 4. Partai Merdeka, 5. Partai Persatuan Pembangunan (PPP), 6. Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), 7. Partai Indonesia Baru (PIB), 8. Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), 9. Partai Demokrat, 10. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), 11. Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), 12. Partai Persatuan Nadhlatul Ummah Indonesia, 13. Partai Amanat Nasional (PAN),14. Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), 15. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),16. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 17. Partai Bintang Reformasi (PBR), 18. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP),19. Partai Damai Sejahtera, 20. Partai Golkar, 21. Partai Patriot Pancasila, 22. Partai Sarikat Indonesia, 23. Partai Persatuan Daerah, 24. Partai Pelopor.

Kemudian perhatikan siapa yang ingin muncul menjadi Kepala Cacing Besar di Negeri Cacing NKRI:

Abdurrahman Wahid dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
Akbar Tandjung dari Partai Golkar,
Amien Rais dari Partai Amanat Nasional (PAN),
Hamzah Haz dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP),
Megawati dari PDI Perjuangan (PDIP),
Susilo Bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat,
Yusril Ihza Mahendra dari Partai Bulan Bintang,
Siti Hardiyanti Rukmana dari Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB),
Rachmawati Soekarnoputri dari Partai Pelopor,
Sukmawati Soekarnoputri dari PNI Marhaenisme,
Zainudin MZ dari Partai Bintang Reformasi,
Nurcholish Madjid tidak punya partai,
Muchtar Pakpahan dari Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD),
Adi Sasono dari Partai Merdeka,
Hidayat NurWahid dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS),
Abdullah Gymnastiar tidak punya partai,
Erros Djarot dari Partai Nasional Benteng Kemerdekaan,
Edi Sudrajad dan Try Sutrisno dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI),
Oesman Sapta Odang dari Partai Persatuan Daerah,
Ruyandi Hutasoit dari Partai Damai Sejahtera (PDS),
Ryaas Rasyid dari Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK),
Sjahrir dari Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB),
Sri Sultan Hamengku Buwono & Surya Paloh & Muhammad Jusuf Kalla & Aburizal Bakrie & Wiranto & Prabowo Subiyanto dari Partai Golkar
Yapto Soerjosoemarno dari Partai Patriot Pancasila.

Nah, dari urutan nama-nama itulah akan muncul salah satu menjadi Kepala Cacing Besar di Negeri Cacing NKRI yang telah menduduki Negeri Aceh sejak 14 Agustus 1950 oleh Soekarno.

Jadi, saudara wartawan Matius Dharminta, dari Jawa Pos di Surabaya, NKRI, janganlah asal tulis dan asal ngetik saja kemudian dikirimkan kepada saya.

Nah lihat, yang dinamakan dengan Negeri Cacing itu sebenarnya adalah NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya atau Negeri RI 17 Agustus 1945 yang telah hidup kembali dari kematiannya setelah Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia Sjafruddin Prawiranegara mengembalikan lagi mandat kepada Mohammad Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 di Jakarta.

Nah terakhir, saran saya sebelum saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta mengetik tanggapan atas tulisan saya, perlu dipikirkan seribu kali, karena kalau tidak, apakah saudara Matius Dharminta akan menduga atau mengira bahwa Negeri Cacing itu NKRI ?

Saya yakin, seribu yakin, saudara Matius Dharminta tidak sedikitpun menduga dan menyangka bahwa yang dinamakan Negeri Cacing itu adalah NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya atau Negara RI 17 Agustus 1945.

Lihat sudah berapa banyak cacing-cacing yang keluar karena telah tersiram air Pemilu tahun 2004 ini untuk bertanding merebut dan menduduki kursi Kepala Cacing di NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 11 Feb 2004 22:39:19 -0800 (PST)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: WANGI REFERENDUM MAKIN SEMERBAK DI NEGERI ACEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: PPDI@yahoogroups.com

Congok: ada yang tanya referendum di Aceh itu makanan apa? bau-baunya aja belum ada..
Cangak: tapi bung Ahmad Sudirman udah mencium semerbak wanginya referendum di negeri.......
Congok: yang ia (bung Ahmad Sudirman) maksud negeri cacing kali...
Cangak: bener juga ya...........

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------