Stockholm, 13 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEBANGSAAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEBANGSAAN

"Assalamu'alaikum Wr.Wb. Duduk-menduduki,caplok-mencaplok itu versi Kang Dirman,kalau versi kami tidak demikian lho ! pikiranmu yach pikiranmu,pikiran kami yach pikiran kami! Masa ada pendudukan diberi segalanya oleh pemimpin Aceh, dan rakyat Aceh. Masa ada orang yg bicara khilafah Islamiyah, yg luas wilayahnya itu sampai ke Bosnia, Kosovo, Afrika tapi Kang Dirman malah mau memisahkan Aceh, yg luas wilayah Indonesia itu, tdk sebegitu luas kekhalifahan Islam,eh malah mau dipisah-pisahkan. Masa berbicara Negara Islam terus, tapi Kang Dirman tdk menegur Jama'ahnya, yg propagandanya itu semangat ASSHBIYAH TERUS ( laisa minna man da'a 'ala asshobiyah,laisa minna man kotala 'ala asshobiyah, laisa minna man kotala 'ala asshobiyah,"bukan dari golongan kami, begitu kita kata Nabi, orang yg dakwah, berperang, dan mati karena semangat Asshobiyah itu )."
(Rahmatullah , icmijed@hotmail.com , Fri, 13 Feb 2004 04:57:59 +0300)

"1.Apakah visi yang anda maksudkan hanya dapat terwujud setelah Aceh bebas dari NKRI dan membentuk Negara Aceh? 2.Apakah Islam mengajarkan bahwa untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap Ridha Allah SWT setelah terbentuk sebuah Negara? 3.Apakah Warga Aceh akan beribadah, bertaqwa dan mengharap Ridha Allah SWT setelah lepas dari NKRI? 4.Bukankah Warga Aceh saat sejak dulu sampai dengan detik ini selalu beribadah, bertaqwa dan mengharap Ridha Allah. 5.Apakah sikap Bapak Ahmad Sudirman dengan pemberitaan yang terkesan menghina, mencaci merupakan sikap yang mengharapkan Ridha Allah versi Bapak Ahmad Sudirman? 6.Bukankah Islam mengajarkan, bahwa beribadah, bertaqwa dan mengharapkan ridha Allah, merupakan suatu kewajiban bagi orang Islam dimanapun dia berada tanpa memperhatikan apakah berada di sebuah negara Islam atau bukan. 1.Apakah Negara berdasarkan Ajaran Pancasila, melarang warga Aceh untuk beribadah, Bertaqwa dan mengharap Ridha Allah? 2.Terlepas dari pada kondisi Indonesia yang terkesan tidak adil akibat ulah para pemimpin sehingga menjadi budaya sampai ketingkat yang paling rendah, apakah Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan penjabaran dari mengakui keesaan Allah dan memberikan kebebasan kepada warga untuk memeluk agamanya adalah bertentangan dengan ajaran Islam.? Apakah kemanusiaan yang adil dan beradab yang intinya memansiakan manusia bertentangan dengan ajaran Islam, Apakah keadilan sosial yang intinya mengajak seluruh warga berlaku adil dan berjiwa sosial bertentangan dengan ajaran Islam?"
(Abdul Karim, karim@bukopin.co.id , Fri, 13 Feb 2004 10:23:36 +0700)

Terimakasih saudara Rahmatullah di Jeddah, Saudi Arabia dan saudara Abdul Karim di Jakarta, Indonesia.

Baiklah.

Pertama saya temui saudara Rahmatullah.

Perlu saudara Rahmatullah ketahui bahwa apa yang telah diproklamasikan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan Negara Islam Indonesia di wilayah daerah Negeri Aceh pada tanggal 20 September 1953 adalah tidak ada hubungannya dan tidak ada kaitannya dengan kebangsaan. Melainkan yang dijadikan alasan yang mendasar adalah, karena setelah Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustsu 1950 menetapkan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi yang membagi Negara RI-Jawa-Yogya menjadi 10 daerah propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera - Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan, 8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil yang ditetapkan pada 14 Agustus 1950 oleh Presiden RIS Soekarno. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, apabila RIS telah dilebur menjadi Negara RI-Jawa-Yogya yang akan menjelma menjadi NKRI, tanpa mendapat kerelaan, persetujuan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh.

Begitu juga dengan proklamasi yang dilakukan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro, tidak ada hubungannya dengan kebangsaan, melainkan karena keinginan oenentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah mengambil, menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Nah itulah, saudara Rahmatullah di Jeddah bahwa rakyat Aceh dan pimpinannya Teungku Muhammad Daud Beureueh memproklamasikan NII dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro di Aceh karena memang didasarkan secara fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang benar dan jelas, Soekarno secara terang-terangan tetapi sepihak tanpa mendapat restu, persetujuan, dan kerelaan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh memasukkan Negeri Aceh kedalam wilayah kekuasaan NKRI melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950.

Jadi, rakyat Aceh yang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI tidak ada sangkut pautnya, tidak ada hungannya, dan tidak ada kaitannya dengan kebangsaan.

Selanjutnya saya akan jumpai saudara Abdul Karim di Jakarta, Indonesia.

Jelas saudara Abdul Karim, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI mereka telah mengetahui bahwa adanya persatuan itu harus berlandaskan kepada adanya keadilan, amanah dan perdamaian. Disini rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri telah mengetahui dengan jelas bahwa karena tindakan Soekarno yang telah menelan, mengambil, dan menduduki Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950 yang dimasukkan secara ilegal kedalam tubuh NKRI itulah yang justru menjatuhkan, meruntuhkan dan memporak-porandakan dasar persatuan yang dikumandangkan oleh Soekarno.

Mengapa ? Karena ternyata Soekarno telah melanggar dasar persatuan yang utama yaitu keadilan, amanah yang diembankan kepadanya, dan penciptaan perdamaian telah dilanggarnya dengan cara menetapkan dasar hukum sepihak tanpa adanya persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh dengan menelan, mengambil, memasukkan, menduduki, dan menjajah Negeri Aceh.

Jadi, dengan visi itulah rakyat Aceh mengenal dan memahami serta mengetahui dengan jelas dan benar bahwa apa yang telah digembar-gemborkan dan didengungkan oleh Soekarno dan para penerusnya dengan semboyan persatuan seperti yang tertuang dalam salah satu sila dasar negara pancasila, ternyata dalam kenyataannya merupakan suatu alat penipuan bagi rakyat dan pemimpin rakyat Aceh.

Nah, jadi visi tersebut telah lama melekat pada diri dan pribadi rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI.

Jelas saudara Abdul Karim, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri telah menyadari bahwa niat, tindakan, perbuatan, perilaku, semuanya itu harus berdasarkan kepada ketaqwaan dengan mengharapkan Ridha Allah SWT. Tidak ada sangkut paut, tidak ada hubungannya, dan tidak tergantung dari apakah Negeri Aceh telah bebas atau belum bebas dari NKRI.

Nah, karena rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri telah menyadari dengan sepenuh hati, beribadah, bertaqwa dengan mengharapkan Ridha Allah itulah yang menjadi tujuan rakyat Aceh untuk hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena dari sejak Soekarno menelan, menduduki Negeri Aceh dengan memasukkan kedalam wilayah NKRI melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 rakyat Aceh bangkit bersama-sama untuk berusaha membebaskan masyarakat dan Negerinya dari pendudukan kekuasaan NKRI yang dipimpin dari sejak masa Soekanro sampai detik sekarang ini dibawah pimpinan Presiden Megawati.

Adapun apa yang telah saya kemukakan, jelaskan, terangkan, beberkan, dan tuliskan kehadapan seluruh rakyat di NKRI dan rakyat di Negeri Aceh, semuanya itu merupakan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang jelas dan terang mengenai penelanan Negeri Aceh oleh pihak Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950.

Jelas, apa yang telah saya kemukakan, jelaskan, terangkan, beberkan, dan tuliskan kehadapan seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh bukanlah suatu usaha untuk menghina, melecehkan, merendahkan, melainkan suatu usaha dengan maksud dan tujuan agar seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh mengetahui dan mengerti serta memahami bahwa yang menjadi akar masalah sebenarnya dari kemelut dan konflik Aceh ini adalah karena Negeri Aceh telah ditelan, diambil, diduduki, dan dijajah oleh Soekarno dari sejak tanggal 14 Agustus 1950 yang diterus dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais.

Memang, karena "beribadah, bertaqwa dan mengharapkan ridha Allah, merupakan suatu kewajiban bagi orang Islam dimanapun dia berada tanpa memperhatikan apakah berada di sebuah negara Islam atau bukan" itulah yang telah dijadikan sebagai tujuan bagi rakyat Aceh dalam mengaplikasikan visinya dalam kehidupan masyarakat, pemerintah dan negara.

Sehingga visi yang telah dijalankan oleh rakyat Aceh ini bisa dipahami, dimengerti dan diterima oleh siapapun yang mau mengerti dan memahami bahwa membangun persatuan itu harus berlandaskan kepada keadilan, amanah dan perdamaian.

Selanjutnya, mengenai pancasila yang dijadikan dasar negara NKRI itu diserahkan kepada seluruh rakyat NKRI untuk mengamalkan, menerapkan, menjalankan, menghayati, sedangkan pihak rakyat Aceh tidak akan ikut campur dalam masalah apa yang terkandung dalam pancasila, apakah itu akan diamalkan atau tidak, apakah itu bertentangan dengan ajaran Islam atau tidak, itu semuanya diserahkan kepada seluruh rakyat NKRI.

Kalau memang ada rakyat Aceh yang merasa bahwa pancasila itu yang telah dijadikan dasar negara dan juga merupakan sumber hukum di NKRI telah bertentangan dengan apa diajarkan dalam Islam, yaitu dengan apa yang ada dalam Al Quran dan dalam Sunnah, maka itu keputusannya diserahkan kepada rakyat Aceh sendiri.

Selanjutnya menyangkut sila-sila yang ada dalam pancila, itu terserah penafsirannya kepada masing-masing rakyat NKRI, kalau memang ada rakyat Aceh yang merasa sila-sila yang ada dalam pancasila itu sudah dicakup dengan apa yang dalam Al Quran dan Sunnah, maka itupun diserahkan kepada rakyat Aceh. Apakah rakyat Aceh mau mengambil apa yang ada dalam pancasila atau mengambil apa yang ada dalam Al Quran dan Sunnah. Dalam hal ini tidak ada paksanaan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Abdul Karim" karim@bukopin.co.id
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>,
Subject: Re: VERSI NEGARA MENURUT AJARAN PANCASILA ATAU VERSI NEGARA MENURUT AJARAN ISLAM
Date: Fri, 13 Feb 2004 10:23:36 +0700

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Bismillah

Saya Akan memilih setelah anda menjawab pertanyaanku dengan mengacu pada opsi yang anda tawarkan :

Opsi pertama:
Versi Negara berdasarkan Ajaran Islam:

Bebas dari NKRI dan membentuk Negara Aceh yang memiliki visi untuk membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT.

1.Apakah visi yang anda maksudkan hanya dapat terwujud setelah Aceh bebas dari NKRI dan membentuk Negara Aceh?
2.Apakah Islam mengajarkan bahwa untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap Ridha Allah SWT setelah terbentuk sebuah Negara?
3.Apakah Warga Aceh akan beribadah, bertaqwa dan mengharap Ridha Allah SWT setelah lepas dari NKRI?
4.Bukankah Warga Aceh saat sejak dulu sampai dengan detik ini selalu beribadah, bertaqwa dan mengharap Ridha Allah.
5.Apakah sikap Bapak Ahmad Sudirman dengan pemberitaan yang terkesan menghina, mencaci merupakan sikap yang mengharapkan Ridha Allah versi Bapak Ahmad Sudirman?
6.Bukankah Islam mengajarkan, bahwa beribadah, bertaqwa dan mengharapkan ridha Allah, merupakan suatu kewajiban bagi orang Islam dimanapun dia berada tanpa memperhatikan apakah berada di sebuah negara Islam atau bukan.

Opsi yang anda tawarkan terkesan tendensius haus kekuasaan dengan berkedok sebuah Negara Islam, sementara Islam tidak mengajarkan untuk beribadah, bertaqwa, mengharap ridha Allah setelah adanya sebuah Negara Islam.

Opsi kedua:

Versi Negara berdasarkan Ajaran Pancasila:

Tetap didalam NKRI yang memiliki visi berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan tetap teguh mempertahankan pendudukan Negeri Aceh

1.Apakah Negara berdasarkan Ajaran Pancasila, melarang warga Aceh untuk beribadah, Bertaqwa dan mengharap Ridha Allah?
2.Terlepas dari pada kondisi Indonesia yang terkesan tidak adil akibat ulah para pemimpin sehingga menjadi budaya sampai ketingkat yang paling rendah, apakah Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan penjabaran dari mengakui keesaan Allah dan memberikan kebebasan kepada warga untuk memeluk agamanya adalah bertentangan dengan ajaran Islam.? Apakah kemanusiaan yang adil dan beradab yang intinya memansiakan manusia bertentangan dengan ajaran Islam, Apakah keadilan sosial yang intinya mengajak seluruh warga berlaku adil dan berjiwa sosial bertentangan dengan ajaran Islam?

Wasssalam

Abdul Karim

karim@bukopin.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

From: "rahmatullah" <icmijed@hotmail.com>
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
Subject: Re: VERSI NEGARA MENURUT AJARAN PANCASILA ATAU VERSI NEGARA MENURUT AJARAN ISLAM
Date: Fri, 13 Feb 2004 04:57:59 +0300

Bismillahhirrohmannirrohim.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Duduk-menduduki,caplok-mencaplok itu versi Kang Dirman,kalau versi kami tidak demikian lho ! pikiranmu yach pikiranmu,pikiran kami yach pikiran kami !

Masa ada pendudukan diberi segalanya oleh pemimpin Aceh, dan rakyat Aceh. Masa ada orang yg bicara khilafah Islamiyah, yg luas wilayahnya itu sampai ke Bosnia, Kosovo, Afrika tapi Kang Dirman malah mau memisahkan Aceh, yg luas wilayah Indonesia itu, tdk sebegitu luas kekhalifahan Islam,eh malah mau dipisah-pisahkan.

Masa berbicara Negara Islam terus, tapi Kang Dirman tdk menegur Jama'ahnya, yg propagandanya itu semangat ASSHBIYAH TERUS ( laisa minna man da'a 'ala asshobiyah,laisa minna man kotala 'ala asshobiyah, laisa minna man kotala 'ala asshobiyah,"bukan dari golongan kami, begitu kita kata Nabi, orang yg dakwah, berperang, dan mati karena semangat Asshobiyah itu ).

Tentunya saya sudah tahu jawabannya utk pertanyaan ini, bahwa Kang Dirman tdk Asshobiyah, bahwa saya bla-bla-bla-bla, yg penting kita misah dari NKRI, walaupun harus dibungkus apa saja, biar laku dagangan kami, itu prinsip Kang Dirman cs ! INGAT KITA SEPAKAT UTK TIDAK SEPAKAT !!

Terima kasih, dan Semoga Allah SWT memberikan jalan yg terbaiknya utk keluar dari kemelut ini ! amin !

Wasslam
Jeddah,11/02/2004.

Rahmatullah.

icmijed@hotmail.com
Saudi Arabia
----------