Stockholm, 13 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MEGAWATI BODOHI RAKYAT ACEH PAKAI KEADAAN BAHAYA DENGAN TINGKATAN KEADAAN DARURAT MILITER
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PRESIDEN MEGAWATI TERUS MEMBODOHI RAKYAT ACEH PAKAI KEADAAN BAHAYA DENGAN TINGKATAN KEADAAN DARURAT MILITER DI ACEH

"Kalo PDMD mampu membasmi para koruptor dari bumi Aceh setelah keamanan ditegakkan, dipastikan Masyarakat Aceh tidak peduli apakah referendum diadakan atau tidak, sesuatu yang sama sekali tidak relevan Apalagi keadilan dan kesejahreteraan dapat diterapkan, maka orang pun tak peduli apakah negeri ini dalam status darurat militer atau bukan, apabila diperlukan mengapa tidak darurat militer terus menerus sepanjang, Aceh damai, aman, bebas koruptor, bukan yang yang kelas teri tapi juga kelas kakapnya, hukum, kesejahteraan dan kemakmuran Aceh ibarat tanah tak bertuan saat ini, ibarat lampoh soh kata orang Aceh, maka kepemimpinan yang kuat sangat dibutuhkan saat ini demokrasi di Aceh bukan yang utama, tapi keamanan dan kesejahteraan Kalo TNI bisa, maka rakyat Aceh akan mendukung TNI dengan hati bulat, dengan catatan sekali lagi TNI berjalan dalam garis yang lurus sesusuai moral agama dan syariat Saat ini TNI harus diakui cukup berhasil merebut hati masyarakat, berbeda sekali kondisi tahun 1997 s/d 1999 dimasa reputasi TNI hancur total.
(Teuku Mirza , teuku_mirza@hotmail.com , Fri, 13 Feb 2004 16:17:21 +0700)

"Negara Islam Indonesia, artinya Indonesia, Indonesia itu dari Sabang sampai Mereuke, bukan sebagaimana interpretasi Kang Dirman,Indonesia, Jawa-Yogya itu. Kalau semua itu tidak ada hubungannya buat apa kita menanggapi anda lah Wong Anda itu orang SWEDIA kok ! Apakah itu bukan suatu interpensi itu Kang,terhadap kedaulatan negara lainnya."
(Rrahmatullah , icmijed@hotmail.com , 13 februari 2004 13:20:40 )

Baiklah Teuku Mirza di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.

Memang hasil pendidikan di NKRI ini tidak bisa memberikan jaminan bahwa kalau telah berhasil meraih sarjana khususnya dari Universitas Indoneisa akan menjadi manusia yang bisa berpikir kritis, bebas, berdiri sendiri, bisa menganalisa, dan melihat apa yang tersurat dari yang tersirat.

Hal ini bisa dibuktikan oleh Teuku Mirza dalam emailnya yang ditujukan kepada Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono.
yang ditujukan juga ke alamat saya, ternyata setelah saya baca, betapa kwalitas pendidikan tinggi di Universitas Indonesia tempat Teuku Mirza mendapatkan pendidikan dan bekerja sekarang sungguh begitu rendah dalam hal kemampuan menganalisa, kebebasan berpikir, kritis, melihat kedepan, menganalisa yang tersirat dari apa yang tersurat.

Coba perhatikan apa yang ditulis oleh Teuku Mirza itu: "dipastikan Masyarakat Aceh tidak peduli apakah referendum diadakan atau tidak, sesuatu yang sama sekali tidak relevan Apalagi keadilan dan kesejahreteraan dapat diterapkan, maka orang pun tak peduli apakah negeri ini dalam status darurat militer atau bukan, apabila diperlukan mengapa tidak darurat militer terus menerus sepanjang, Aceh damai, aman, bebas koruptor, bukan yang yang kelas teri tapi juga kelas kakapnya, hukum, kesejahteraan dan kemakmuran Aceh ibarat tanah tak bertuan saat ini, ibarat lampoh soh kata orang Aceh, maka kepemimpinan yang kuat sangat dibutuhkan saat ini demokrasi di Aceh bukan yang utama, tapi keamanan dan kesejahteraan"

Setelah saya membaca apa yang ditulis oleh Teuku Mirza, betul-betul saya dibuat geleng-geleng kepala tidak habis pikir, beginikah hasil pendidikan tinggi di Universitas Indonesia di Jakarta, NKRI ini ?. Mengapa ?

Coba kita petik lebih singkat lagi dari apa yang ditulis Teuku Mirza ini: "apakah referendum diadakan atau tidak, sesuatu yang sama sekali tidak relevan Apalagi keadilan dan kesejahreteraan dapat diterapkan, maka orang pun tak peduli apakah negeri ini dalam status darurat militer atau bukan"

Kemudian kita peras lagi: "Apalagi keadilan dan kesejahreteraan dapat diterapkan, maka orang pun tak peduli apakah negeri ini dalam status darurat militer atau bukan"

Setelah didekati makin dekat dan diolah makin dalam, kepala saya hampir meledak saking kagetnya.

Coba perhatikan, bisakah keadilan dan kesejahreteraan dapat diterapkan dalam status darurat militer di Negeri Aceh? Sampai dunia kiamatpun tidak akan dapat diterapkan keadilan dan kesejahteraan dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Negeri Aceh, Teuku Mirza, mengapa ?

Karena, itu yang namanya damai dan sejahtera di Negeri Aceh tidak mungkin tercapai dan terlaksana apabila melalui jalan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003.

Dimana dasar hukum yang dipakai sebagai landasan Kepperes No.28 Tahun 2003 itu adalah Undang-undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1908) sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang-undang nomor 52 Prp Tahun 1960 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2113) yang diingatkan oleh Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan pada tanggal 18 Mei 2003.

Nah kalau diteliti lebih dalam mengenai Undang-undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya apabila di Negeri Aceh yang sudah dideklarkan dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer, itu artinya bahwa di Negeri Aceh tidak bisa ditegakkan kedamaian.

Coba Teuku Mirza pelajari apa itu yang terkadung dalam Keppres No.28 Tahun 2003 itu.
Apakah Teuku Mirza tidak tahu apa itu yang terkandung dalam Undang-undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1908) sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang-undang nomor 52 Prp Tahun 1960 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2113).

Saya sendiri merinding membaca isi Undang-Undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya.

Jadi, saya tahu sekarang bahwa sebenarnya Teuku Mirza ini orang asal Aceh yang bisa dijadikan pion untuk menghancurkan Negeri dan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI.

Teuku Mirza, email Teuku itu yang dikirimkan kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono, itu merupakan email yang membawa kegembiraan dan juru selamat bagi Kolonel Laut Ditya Soedarsono dari apa yang sebenanya terjadi dan sedang dijalankan dibalik Kepperes No.28 Tahun 2003 made ini Presiden Megawati Cs, yaitu kehancuran negeri Aceh dan rakyat Aceh kalau Teuku Mirza tidak mengetahui apa yang tersirat dari apa yang tersurat dalam Kepperes No.28 Tahun 2003 made ini Presiden Megawati.

Selanjutnya, saya akan menemui saudara Rahmatullah di Jeddah, Saudi Arabia.

Saudara Rahmatulllah yang menulis: "Negara Islam Indonesia, artinya Indonesia, Indonesia itu dari Sabang sampai Mereuke, bukan sebagaimana interpretasi Kang Dirman, Indonesia, Jawa-Yogya itu. Kalau semua itu tidak ada hubungannya buat apa kita menanggapi anda lah Wong Anda itu orang SWEDIA kok ! Apakah itu bukan suatu interpensi itu Kang, terhadap kedaulatan negara lainnya."

Saudara Rahmatullah nama Indonesia yang dicantumkan dalam nama NII, yaitu Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 itu bukan menunjukkan Indonesia sebagai bangsa, melainkan hanyalah sebagai penunjuk tempat saja. Karena secara de-facto wilayah kekuasaan NII di wuilayah Aceh, tidak mencakup dari Sabang sampai Merauke.

Jadi tempat itu bukan di tempat lain, melainkan di Indonesia yang mempunyai wilayah kekuasaan secara de-facto di daerah Aceh.

Sama seperti saya menulis Negara RI-Jawa-Yogya, yaitu Negara RI yang ada di Jawa yang memiliki wilayah kekuasaan secara de-facto di Yogyakarta dan sekitarnya.

Jadi, apa yang dapat disimpulkan dari penjelasan saya itu adalah memang Teungku Muhammad Daud Beureueh ketika memproklamasikan NII tidak ada hubungannya dengan bangsa Indonesia, karena nama Indonesia yang dicantumkan dibelakang nama Negara Islam itu adalah hanya menunjukkan tempat saja.

Nah itulah saudara Rahmatullah, lain kali sebelum menjawab harus dipikirkan seratus kali sebelum dikirimkan kepada saya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Teuku Mirza" <teuku_mirza@hotmail.com>
To: dityaaceh_2003@yahoo.com, ahmad@dataphone.se, rimueng_acheh@yahoo.com
Subject: Basmi Koruptor di Aceh
Date: Fri, 13 Feb 2004 16:17:21 +0700

Ass Wr Wb
Pak Ditya,

Kalo PDMD mampu membasmi para koruptor dari bumi Aceh setelah keamanan ditegakkan, dipastikan Masyarakat Aceh tidak peduli apakah referendum diadakan atau tidak, sesuatu yang sama sekali tidak relevan Apalagi keadilan dan kesejahreteraan dapat diterapkan, maka orang pun tak peduli apakah negeri ini dalam status darurat militer atau bukan, apabila diperlukan mengapa tidak darurat militer terus menerus sepanjang, Aceh damai, aman, bebas koruptor, bukan yang yang kelas teri tapi juga kelas kakapnya, hukum, kesejahteraan dan kemakmuran Aceh ibarat tanah tak bertuan saat ini, ibarat lampoh soh kata orang Aceh, maka kepemimpinan yang kuat sangat dibutuhkan saat ini demokrasi di Aceh bukan yang utama, tapi keamanan dan kesejahteraan Kalo TNI bisa, maka rakyat Aceh akan mendukung TNI dengan hati bulat, dengan catatan sekali lagi TNI berjalan dalam garis yang lurus sesusuai moral agama dan syariat Saat ini TNI harus diakui cukup berhasil merebut hati masyarakat, berbeda sekali kondisi tahun 1997 s/d 1999 dimasa reputasi TNI hancur total.

Selamat berjuang kalo Anda berjuang demi rakyat bukan kekuasaan dan korps kami mendukung TNI sepenuh hati.

Wassalam

Teuku Mirza

teuku_mirza@hotmail.com
Universitas indonesia
Jakarta, Indonesia
----------

From:rahmatullah <icmijed@hotmail.com>
Date:13 februari 2004 13:20:40
To:"Ahmad Sudirman" <ahmad_sudirman@hotmail.com>
Subject:Re: PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEBANGSAAN

Bismillahhirrohmannirrohim.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Negara Islam Indonesia,artinya Indonesia,Indonesia itu dari Sabang sampai Mereuke,bukan sebagaimana interpretasi Kang Dirman,Indonesia, Jawa-Yogya itu.Kalau semua itu tidak ada hubungannya buat apa kita menanggapi anda lah Wong Anda itu orang SWEDIA kok ! Apakah itu bukan suatu interpensi itu Kang,terhadap kedaulatan negara lainnya.

Sekian dan terima kasih.
Semoga Allah SWT melindungi bangsa dan negara ini dari hasutan anda !

Wassalam
Jeddah,12/02/2004

Rahmatullah.

icmijed@hotmail.com
Saudi Arabia
----------