Stockholm, 14 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DITYA SOEDARSONO SUDAH HAMPIR KEHABISAN ALASAN UNTUK PERTAHANKAN NEGERI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KOLONEL LAUT DITYA SOEDARSONO SUDAH HAMPIR KEHABISAN ALASAN UNTUK PERTAHANKAN NEGERI ACEH

"Untuk mengingatkan bagaimana kesetiaan para indatu kepada Republik simak cerita yang ditulis oleh bangsa Aceh ini, saya hanya mengutip saja. Buku "Perekat Hati yang Tercabik" Karangan M Djali Yusub."
(Ditya Soedarsono, dityaaceh_2003@yahoo.com , Sat, 14 Feb 2004 03:12:03 -0800 (PST))

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono

Kelihatan sekali Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono ini mau menutupi terus perilaku Soekarno cs yang secara terang-terangan mencaplok Negeri Aceh dimasukkan kemulut Sumatera Utara untuk menjadi bagian dalam perut Negara RI-Jawa-Yogya yang merupakan jelmaan dari Negara RI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno.

Coba lihat, Kolonel Laut Ditya Soedarsono telah mengirimkan kutipan dari buku yang dikarang oleh M Djali Yusub dengan judul "Perekat Hati yang Tercabik" dengan maksud dan tujuan untuk berusaha sekuat tenaga menutupi pencaplokan Negeri Aceh oleh Soekarno pada tangal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum NKRI dibentuk diatas puing-puing RIS.

Nah kita perhatikan kutipan Kolonel Laut Ditya Soedarsono,

"Dalam sebuah rapat akbar di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, tanggal 17 Juni 1948, Soekarno menyatakan hal itu. "Kedatangan saya ke Aceh ini spesial untuk bertemu dengan rakyat Aceh, dan saya mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat Aceh untuk menyelamatkan Republik Indonesia ini," begitu katanya memohon kesediaan rakyat Aceh untuk terus membantu Indonesia. Di Blang Padang ini pula ia kemudian berujar tentang kontribusi Aceh sebagai daerah modal terhadap tegak-berdirinya Indonesia. "Daerah Aceh adalah menjadi Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat Aceh seluruh wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali," ungkap Soekarno jujur." (kutipan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dari buku Perekat Hati yang Tercabik)

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, pada tanggal 17 Juni 1948, itu Negara RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 sebenarnya hanya mempunyai daerah kekuasaan secara de-facto di Yogyakarta dan sekitarnya. Berdasarkan hasil Perjanjian Renville pada tangal 17 Januari 1948 yang ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim, Dr.Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo pada tanggal 17 Januari 1948. Dimana sebagian isi perjanjian tersebut menyangkut gencatan senjata disepanjang garis Van Mook dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. Sehingga terlihat secara de-jure dan de-facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.155,163).

Nah, karena Negara Soekarno cs ini hanya mempunyai wilayah di sekitar Yogyakarta saja, maka ia berusaha untuk mendapat sokongan dan bantuan penuh dari rakyat dan pimpinan rakyat Aceh agar mau ikut membangun Negara RI 17 Agustus 1945 yang telah menjadi Negara RI-Jawa-Yogya berdasarkan hasil-hasil dalam perjanjian Renville 17 Januari 1948 itu.

Nah kemudian, mengapa itu Soekarno menurut kutipan diatas mengatakan bahwa "dan melalui perjuangan rakyat Aceh seluruh wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali"? Karena memang Negeri Aceh dibawah pimpinan Teungku Muhammad Daud Beureueh secara de-facto dan de-jure berdiri sendiri bebas dari penjajahan Belanda dan tidak termasuk kedalam wilayah Negara RI-Jawa-Yogya atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno. Jadi, itulah perkataan Soekarno yang pada hakekatnya sebenarnya adalah untuk menipu rakyat dan pimpinan rakyat Aceh.

Selanjutnya Kolonel Laut Ditya Soedarsono mengutip "

"Berikut petikan pernyataan yang disampaikan Daud Beureueh kala itu:"Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada. Sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk Aceh Raya dan lain-lain karena kita disini adalah bersemangat republiken. Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dari karena itulah tidak kita balas. Kesetiaan rakyat Aceh terhadap pemerintah RI bukan dibuat-buat serta diada-adakan. Tetapi, kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpish-pisah negara per-negara tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan abadi." (kutipan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dari buku Perekat Hati yang Tercabik)

Nah kita perhatikan, Teungku Muhammad Daud Beureueh mengatakan yang seperti itu karena Soekarno pernah berjanji kepada Teungku Muhammad Daud Beureueh dimana ceritanya yaitu:
"Lebih setahun sesudah proklamasi kemerdekaan, pada waktu tentara Belanda dan Sekutu sedang melancarkan serangan secara besar-besaran, dimana para pemuda kita sudah ribuan bergelimpangan gugur di medan perang, datanglah Sukarno ke Aceh...Dia datang menjumpai saya menerangkan peristiwa-peristiwa dan perkembangan revolusi. Dalam pertemuan itu saya tanya Sukarno: "Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". Saya ulangi lagi, "betulkah ini ?". Pada waktu inilah Sukarno berikrar: "Kakak! Saya adalah seorang Islam. Sekarang kebetulan ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamasikan. Sebagai seorang Islam, saya berjanji dan berikrar bahwa saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana. Saya mohon kepada kakak, demi untuk Islam, demi untuk bangsa kita seluruhnya, marilah kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini" (S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 76-77)

Selanjutnya soal "undangan dari Wali Negara Sumatera Timur kepada Teungku Muhammad Daud Beureueh untuk membentuk Aceh Raya" yang ditolak oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Itu disebabkan karena memang strategi Teungku Daud Beureueh dimasa depan mengenai Pemerintahan Islam yang akan dituju.

Sedangkan Teungku Mansyur sebagai Wali Negara Sumatera Timur di Medan ingin membentuk Negara Federasi bersama Negara-negara lainnya yang tergabung dalam Badan Permusyawaratan Federal atau Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) yang dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Kalimantan Barat. Dimana Badan Permusyawaratan Federal atau Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) nantinya menjadi The Republik Indonesia Serikat (Republic of the United States of Indonesia) atau Republik Indonesia Serikat yang salah satu anggota Negara bagian RIS ini adalah Negara RI pimpinan Soekarno yang memiliki wilayah kekuasaan di Yogyakarta dan sekitarnya berdasarkan hasil perundingan Renville 17 Januari 1848.

Tentu saja, memang apa yang tergambar dalam strategi Teungku Muhammad Daud Beureueh mengenai masa depan di Indonesia, terbukti bahwa Negara Sumatera Timur dibawah Wali Negara Teungku Mansyur telah kena taktik pencaplokan Soekarno untuk memperbesar dan memperluas wilayah kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno.

Kemudian mengenai Teungku Muhammad Daud Beureueh karena mengetahui bahwa Soekarno telah menipu dengan janji-janji muluk pemerintahan Islam dan pencaplokan Negeri Aceh melalui mulut Sumatera Utara, akhirnya Teungku Muhammad Daud Beureueh memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953 dan berada dibawah Negara Islam Indonesia pimpinan Imam SM Kartosuwirjo serta bebas dari pengaruh Kekuasaan Negara Pantja Sila atau NKRI yang dibentuk diatas puing-puing Negara/Daerah bagian RIS pada tanggal 15 Agustus 1950.

Jadi sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, dengan alasan apalagi untuk bisa meloloskan bahwa Negeri Aceh itu secara fakta dengan bukti yang kuat dan benar ditunjang dengan dasar hukum yang jelas dan berdasarkan pada keberan jalan sejarahnya adalah termasuk Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya atau Negara RI Soekarno atau Negara RI atau NKRI ?.

Walaupun mengutip sana-mengutip sini dari beberapa pengarang buku tentang Negeri Aceh, tetapi tetap saja, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, itu yang namanya Negeri Aceh telah dicaplok dan diduduki oleh Soekarno.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, ternyata makin terbukti, bahwa Kolonel laut sudah hamoir kehabisan alasan untuk mempertahankan Negeri Aceh tetap dalam pendudukan NKRUI. Dan tentu saja tidak akan melunturkan semangat dan kesadaran rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib mereka sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang dibentuk diatas puing-puing Negara/Daerah bagian RIS oleh Soekarno cs pada tanggal 15 Agustus 1950.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 14 Feb 2004 03:12:03 -0800 (PST)
From: Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>
Subject: TNI MEMANG TAK BERAGAMA TAPI PRAJURIT TNI HARUS BERAGAMA....!!!!!
To: rimueng_acheh@yahoo.com
Cc: tang_ce@yahoo.com, asammameh@hotmail.com, om_puteh@hotmail.com, ahmad@dataphone.se

Simak cerita yang ditulis oleh bangsa Aceh ini......saya hanya mengutip saja.

KESETIAAN KEPADA REPUBLIK

Pada awal abad ke-20, Zentgraaff berkunjung ke Aceh dan menyusun tulisan mengenai orang Aceh serta tentang heroisme dan kesalehan ulama Tiro---Syeikh Saman Tiro dan anak-anaknya, Teungku Mat Amin, Teungku Di Buket, Teungku Mayet, dan Teungku Lam Bada---dengan nuansa hagiografis. Perihal "yang sebenarnya", begitu konklusi Zentgraaff, "ialah: orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang merupakan kepentingan nasional atau agama mereka." Karena itu, Zentgraaff tidak setuju dengan cap "pengkhianat dan pemberontak" terhadap orang Aceh.1

Aceh. Daerah ini telah menyisakan banyak catatan sejarah masa silam. Bukan saja kisah mengenai kemakmuran dan kejayaan di kurun terdahulu, tetapi juga riwayat kegigihan menentang ketidakadilan, kezaliman, imperialisme dan kolonialisme.

Aceh, dulunya dikenal bukan saja sebagai sebuah kerajaan yang menjadi pusat perdagangan tetapi juga sebagai 'unikum sosial' dan titik penyebaran Islam terkemuka di Asia. Daerah yang setelah bergabung dengan Republik Indonesia mendapat banyak 'gelar kehormatan'; Daerah Modal, Serambi Mekkah, Bumi Iskandar Muda, dan Tanoh Peujuang, ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar seperti Syekh Abdulrauf Singkil yang menerjemahkan AI-Quran secara lengkap ke dalam bahasa Melayu, Syeikh Saman yang mampu menggelorakan dan mengorganisir Perang Sabil, sastrawan-sastrawan ternama sekaliber Hamzah Fansuri serta para pahlawan yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan laksana Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati, Teuku Nyak Arief dan ---tentu--- masih ada sejumlah nama lain.

Dalam konteks perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme, Aceh yang tumbuh dari komunitas yang menjadikan Islam sebagai identitas utamanya juga rnerupakan daerah yang mempunyai semangat heroisme yang sangat berbeda dengan kisah-kisah kepahlawanan rakyat Indonesia didaerah lainnya. Di Acehlah Belanda menemukan batu karang perlawanan rakyat yang tidak mudah dipatahkan. Bahkan sampai detik-detik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Belanda tak pernah benar-benar bisa menaklukkan Aceh. 2

Aceh betul-betul membuat Belanda putus asa. Al Chaidar melukiskan kepiawaian pejuang Aceh ini bagaikan kecerdikan gerilyawan Vietkong ketika berhadapan dengan prajurit Amerika Serikat diakhir decade 1960-an dalam Perang Vietnam.3 Ketangguhan tentara Aceh digambarkan pula setaraf dengan pasuka Napoleon Bonaparte.4

Kegigihan perjuangan orang-orang Aceh yang didasari pada kesadaran kemerdekaan dan kebebasan ini telah membawa Aceh menjadi suatu bangsa besar yang berdaulat pada masa kesultanan Aceh hingga tak dapat ditaklukkan oleh kolonialis manapun. Realitas demikian mendorong banyak kalangan masyarakat sampai kepada satu persepsi kolektif bahwa Aceh tidak pernah dijajah dan tidak pernah menjadi bagian dari Hindia Belanda sekalipun secara formal pernah di bawah administrasi kolonialis ini. Rezim Hindia Belanda memang pernah hadir di Aceh, namun durasinya relatif amat pendek. Dalam sejarah perjalanan bangsa, Aceh menjadi kawasan dalam lingkungan besar nusantara yang mampu memelihara identitas dan kepribadian kolektifnya relatif jauh lebih tinggi, lebih kuat, serta paling sedikit " ter-Belanda-kan " daripada daerah-daerah lain.5

Realitas keutuhan dan tak tersentuhnya kedaulatan Aceh oleh penaklukan imperialisme Belanda ini, akhirnya, oleh beberapa pihak diangkat menjadi alasan de facto dan de jure tidak satunya Aceh dengan Indonesia. Artinya, Aceh bukanlah bagian dari NKRI.6 Namun demikian, tidak boleh pula dilupakan bahwa dalam realitas sejarah perjuangan Republik Indonesia berikutnya, eksistensi kedaulatan Aceh merupakan bibit unggul bagi lahirnya republik. Dengan kata lain, bangunan republik ini telah disusun sejak awal oleh Aceh-tentu bersama-sama dengan wilayah lain-guna membentuk sebuah negara yang lebih kuat dan menjanjikan kemakmuran bagi masyarakat yang lebih besar. Ini berarti, sejak awal Aceh merupakan daerah yang memiliki arti sangat penting- teramat signifikan, bahkan-terhadap keberadaan Republik Indonesia.

Aceh adalah jantung dalam anatomi NKRI, dari daerah inilah denyut dukungan kemerdekaan Indonesia pertama kali muncul. Maka, jika demikian halnya, bisakah Aceh lepas dari anatomi NKRI? Jawabnya, hal itu hanya menjadi angan-angan atau-barangkali-sebuah impian kosong saja. Kecuali bila rakyat Aceh sendiri ingin mengingkari sejarah. Toh bagaimanapun, Aceh dan Republik Indonesia tak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan utuh. Aceh adalah jantung Republik ini. Karena itu, sangat mustahil sebuah jantung dilepaskan dari struktur anatomi tubuh, sepanjang tubuh tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan alam nyata.

Dalam perspektif sejarah Republik Indonesia, harus diakui bahwa Aceh telah memberikan kontribusi terbesar bagi perjuangan merebut kemerdekaan serta usaha mempertahankan keutuhan nusantara pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Kisah- kisah heroik pejuang Aceh telah menjadi bagian dari kekayaan wacana nasional tentang perjuangan penuh kepahlawanan di Aceh. Itulah alasannya, barangkali, mengapa Presiden Soekarno berani memohon bantuan dana dari masyarakat Aceh untuk mendirikan Republik serta menyebut daerah ini sebagai "Daerah Modal". Dalam sebuah rapat akbar di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, tanggal 17 Juni 1948, Soekarno menyatakan hal itu. "Kedatangan saya ke Aceh ini spesial untuk bertemu dengan rakyat Aceh, dan saya mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat Aceh untuk menyelamatkan Republik Indonesia ini," begitu katanya memohon kesediaan rakyat Aceh untuk terus membantu Indonesia Di Blang Padang ini pula ia kemudian berujar tentang kontribusi Aceh sebagai daerah modal terhadap tegak-berdirinya Indonesia.

"Daerah Aceh adalah menjadi Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat Aceh seluruh wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali," ungkap Soekarno jujur.
Aceh telah mengorbankan segala-galanya untuk melahirkan Republik Indonesia, bagaikan seorang ibu bertaruh nyawa untuk meyaksikan anaknya terlahir selamat ke dunia. Aceh telah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan Indonesia. Pesawat Seulawah yang dikenal sebagai RI-1 dan RI-2 merupakan bukti nyata dukungan totalitas yang diberikan Aceh dalam proses persalinan republik itu. Seulawah yang menjadi cikal--bakal Garuda Indonesia Airways, merupakan instrumen paling penting dan paling efektif dalam tahap-tahap paling awal perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dengan pesawat yang disumbangkan lewat pengumpulan harta pribadi rakyat Aceh inilah Indonesia berhasil menembus blokade tentara pendudukan kolonial. Seulawah-lah yang membawa tokoh-tokoh bangsa ke dunia internasional untuk membangun dan membina jaringan hubungan internasional yang menghasilkan pengakuan dan dukungan kepada Republik Indonesia dalam perjuangan menghalangi kembalinya kolonialisme di kawasan ini.

Dipastikan, semua orang akan terharu bila mendengar bagaimana pengorbanan, keikhlasan dan kesetiaan rakyat Aceh mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk perjuangan memerdekakan Indonesia dari penjajahan lewat usaha pembelian pesawat Seulawah itu. Betapa tidak, dalam kondisi rakyat Aceh yang masih carut-marut akibat harta kekayaannya terkuras habis oleh penjajahan Belanda dan Jepang, mereka tetap bergeming membantu saudara-saudaranya di wilayah lain untuk melepaskan diri dari cengkeraman imperialisme . Jangankan sekadar uang atau pakaian, emas yang melekat di jari-jemari istri dan anak-anak gadis mereka pun rela diberikan untuk negeri ini. Itulah orang Aceh. Ketika negara membutuhkan sumbangan, dengan rasa penuh tanggung jawab mereka tanggap memberikan bantuan. Dengan inisiatif mayoritas rakyat Aceh dan saudagar Aceh yang tergabung dalam Gasida (Gabungan Saudagar Daerah Aceh) itulah Indonesia mampu membeli pesawat dengan harga per satuannya tak kurang dari US$ 120.000 dengan kurs waktu itu.

Dalam soal materil, bukan sekali ini saja rakyat Aceh memberi kontribusi. Ketika Yogyakarta dikembalikan kepada pemerintah Indonesia, pemerintah hampir tidak dapat mengongkosi dirinya lagi. Dengan maksud supaya roda pemerintahan dapat berjalan kembali, maka dari rakyat Aceh telah pula mengalir ke Yogyakarta sumbangan-sumbangan berupa uang, alat-alat perkantoran, dan obat-obatan. Banyak orang takjub dan terkesima ketika mengetahui angka-angka sumbangan yang tidak sedikit melalui publikasi dan pemberitaan media ketika itu. Bahkan, untuk pemulihan stamina pemerintah Republik Indonesia, Aceh telah juga menyumbangkan lima kilogram emas batangan untuk membeli obligasi pemerintah8. Di tahun 1948, setelah menyumbangkan dua pesawat terbang, rakyat Aceh memberi uang tunai US$ 500.000 untuk Republik Indonesia. Sebanyak US$ 250.000 di antaranya diberikan untuk membiayai Angkatan Perang RI yang baru lahir dan kelak menjadi cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), US$ 50.000 untuk perkantoran pemerintah RI, US$ 100.000 untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta, dan US$ 100.000 untuk diserahkan kepada pemerintah pusat via A.A. Maramis. Lebih dari itu, secara sukarela rakyat Aceh pun mengumpulkan lagi dana lainnya untuk membiayai perwakilan Indonesia di Singapura dan pendirian Kedutaan Besar di India.9

Aceh telah berjasa besar untuk Indonesia. Radio Rimba Raya merupakan saksi lain dari lintas sejarah integrasi Aceh dengan Indonesia yang menunjukkan ketulusan Aceh secara total berjuang untuk mendukung Republik. Dari Aceh, radio Rimba Raya tak henti-hentinya mengumandangkan pesan eksistensi Indonesia ketika nasib Repubik berada di ujung tanduk (1949), yakni tatkala Bung Kamo telah ditawan oleh Belanda di Pulau Bangka, Bung Hatta di asingkan ke Prapat, Sutan Syahrir di buang ke Pulau Banda dan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara terapung-apung di belantara Sumatera. Rakyat Aceh tetap tegar, setia dan loyal membela negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa ragu-ragu. PDRI semula bermarkas di Bukittinggi, tetapi setelah kota itu mendapat serbuan Belanda, kedudukannya dipindahkan ke Kutaraja atau Banda Aceh sekarang. Bahkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut pun pada saat itu sempat bermarkas di Aceh. Waktu itu, aksi militer Belanda dalam tahun 1947 dan 1948 berhasil menduduki hampir seluruh wilayah Sumatera, kecuali Aceh.

Bersamaan dengan pemberlakuan pemerintahan militer yang dibentuk menyusul aksi militer Belanda tersebut, Aceh beserta sebagian wilayah Sumatera Timur yaitu Langkat dan Tanah Karo menjadi satu daerah pemerintahan militer yang dipimpin seorang Gubernur Militer. Sebagai Gubemur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo waktu itu ditunjuk Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan pangkat Jenderal Mayor.

Sementara bagian Sumatera Timur lainnya digabung bersama Tapanuli dengan Gubemur Militernya Dr. Ferdinand Lumban Tobing. Pada saat itu, karena Aceh merupakan satu-satunya wilayah Republik Indonesia yang tetap bebas dari pendudukan Belanda, hampir seluruh pasukan TNI ataupun laskar rakyat yang ada di daerah ini dikerahkan atau dikirim ke Sumatera Utara untuk membantu membebaskan kota Medan dan sekitarnya yang telah diduduki Belanda. Perjuangan pembebasan kota Medan dari pendudukan Belanda melalui gerakan militer atau laskar rakyat tersebut terkenal dengan istilah Front Medan Area.

Lebih lanjut, Aceh bukan saja memberikan semangat heroisme untuk kemerdekaan, tetapi juga sumbangan terbesar bagi perkembangan kebudayaan di Indonesia. Acehlah yang telah menyemaikan bibit-bibit ke-Indonesia-an ke seluruh nusantara. Diantaranya dengan mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan nasional di seluruh Indonesia. Suasana kejiwaan umum dalam konsep ke-Indonesia-an di mulai dari Aceh. Inilah alasannya mengapa seorang cendekiawan sekaliber Nurcholish Madjid dengan gamblang berani mengungkapkan, "Indonesia atau ke-Indonesia-an tidak akan mungkin ada seandainya tidak ada Aceh."10

Bagi masyarakat Aceh sendiri, konsep Indonesia sebenarnya telah tertanam dalam-dalam di dalam struktur kesadaran mereka. Penolakan Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai pemimpin Aceh memenuhi ajakan dan "undangan" Teungku Mansur mendirikan negara bagian tersendiri pada tahun 1949 merupakan refleksi dari konsep ke-Indonesia-an yang hidup dalam jiwa dan raga masyarakat Aceh itu. Begitu juga dengan Teuku Nyak Arief yang bahkan sebelum Merah Putih berkibar di Aceh sudah bersumpah untuk setia kepada Indonesia. Waktu itu dalam sebuah rapat di Kantor Gubernur/ Residen Aceh (Shu Chokan), sekitar pukul 09.00 WIB tanggal 23 Agustus 1945, ketika berita mengenai proklamasi belum Banyak diketahui orang, Teuku Nyak Arief mengambil Al-Qur'an dengan tangannya sendiri dan bersumpah, "Demi Allah, Wallah,Billah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Indonesia sampai titik darah yang terakhir."

Penolakan Teungku Muhammad Daud Beureueh yang sat itu berposisi sebagi pemimpin masyarakat Aceh (Gubernur Militer) terhadap ajakan Wali Negara Sumatera Timur guna mendirikan negara sendiri, merupakan wujud dari tingginya komitmen pemimpin dan rakyat Aceh untuk bersatu dalam kedaulatan Indonesia. Ajakan itu bahkan ditolak mentah -mentah.

Dalam suratkabar Semangat Merdeka yang terbit di Banda Aceh pada tanggal 23Maret 1949-lima hari menjelang berlangsungnya Muktamar Sumatera di Medan yang digagas Teungku mansur guna membicarakan soal "makar" dan mendirikan negara sendiri- Teungku Muhammad Daud Beureueh secara terbuka menyampaikan penolakannya. Konon, penyampaian secara terbuka di surat kabar ini memang sengaja digagas agar publik, seluruh rakyat Aceh, dan semua rakyat Sumatera mengetahui secara jelas apa dan bagaiman sikap para pemimpin Aceh terhadap ajakan memisahkan diri dari Indonesia. Berikut petikan pernyataan yang disampaikan Daud Beureueh kala itu:
"Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada. Sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk Aceh Raya dan lain-lain karena kita disini adalah bersemangat republiken. Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dari karena itulah tidak kita balas. Kesetiaan rakyat Aceh terhadap pemerintah RI bukan dibuat-buat serta diada-adakan. Tetapi, kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpish-pisah negara per-negara tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan abadi."

Disini tergambar dengan sangat jelas bagaimana komitmennya pemimpin dan rakyat Aceh terhadap Indonesia sejak awal, bahkan pada saat-saat kesempatan untuk melepaskan diri itu ada. Saat itu 19 Desember 1948, ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta diduduki Belanda sedangkan Soekarno dan Hatta pun ditawan. Ini merupakan kesetiaan yang tiada banding sehingga menjadi catatan sejarah tentang keteladanan paling penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Memang ada yang ironi dari kisah ini. Sebab, yang terjadi dan berkembang selama ini adalah paradigma nasional yang dipaksakan dalam melihat problem lokal yang melibatkan Teungku Muhammad Daud Beureueh dan masyarakat Aceh. Bagi sejarawan Anhar Gonggong, inilah yang salah dalam memandang Aceh.

Seharusnya, dipikirkan dulu meletakkan Aceh dalam kerangka bangsa, dalam pengertian konseptual Indonesia. Dalam pandangan Anhar, ada satu peristiwa yang dilupakan orang pada Daud Beureueh. Selama ini, orang cuma mempersepsikan Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai pemberontak yang ingin mendirikan negara Islam di Aceh. Tapi mereka lupa bahwa, ketika Daud Beureueh dikirimi undangan oleh Teungku Mansur untuk mendirikan negara lain, Daud Beureueh mengatakan, "Kami tak akan melakukan itu, karena kami adalah bangsa Indonesia dan bertegak di belakang Republik Indonesia. Jadi, tipikal orang Aceh seperti Teungku Muhammad Daud Beureueh ini sebenamya adalah seorang republiken tulen. Sayangnya, orang melupakan hal itu dan cuma mengingat pemberontakan yang dilakukannya pada tahun 1953. Padahal, negara Islam yang ingin didirikannya pun tetap berada dalam konsep Indonesia. Namanya saja Negara Islam Indonesia.

Kesetiaan dan sikap rakyat Aceh terhadap Indonesia tergambarkan pula pada momen kontemporer. Itu terjadi ketika dalam Konferensi The Future Integration of Indonesia: Focus on Acheh yang dilakukan aliansi lembaga swadaya masyarakat internasional di Washington-AS pada tanggal 3 April 1999, mencuat juga wacana soal pemisahan diri Aceh dari Indonesia. Adalah putra Aceh Prof. T. Ibrahim Alfian secara tegas menolak ide pemisahan Aceh dari NKRI ini.

Konsep kecintaan terhadap Indonesia seperti diilustrasikan di atas tidak terjadi secara serta-merta, tetapi telah tertanam dan menjadi bagian dari kultur pendidikan masyarakat Aceh yang diajarkan secara turun-temurun. Setidaknya, hal demikian ini dapat dilihat dari representasi lagu-lagu yang sering dilantunkan anak-anak Aceh yang sedang menempuh pendidikan di dayah atau pesantren-pesantren. Satu di antara bait lagu-lagu itu (umumnya berbahasa Arab), berbunyi: Yaa abna ana jin sana Indunasia/ Gum min naumigum undhur ila wathnigum.11

Lagu yang diajarkan tetua-tetua di Aceh ini bukan saja memberikan konsep kenegaraan secara global, tetapi juga memperlihatkan semangat ke-Indonesia-an secara jelas di dalamnya. Ini berarti konsep Indonesia yang benar seperti yang kita hayati terutama pasca reformasi, jauh-jauh hari telah tertanam mendalam di dalam struktur kesadaran masyarakat lokal di Aceh. Semangat ke-Indonesia-an juga terlihat pada seruan Jihad yang dilakukan oleh empat ulama besar Aceh --- Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku,Haji Jakfar Siddiq Lamjabat, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri-pada tanggal 15 Oktober 1945 ketika menghadapi agresi Belanda pasca Proklamasi Indonesia. Seruan yang ditujukan kepada rakyat Aceh itu berisi ajakan mempertahankan Indonesia dari imperialisme. Seruan ini memiliki arti signifikan dan dapat mewakili kesadaran kolektif rakyat saat itu karena disampaikan oleh para ulama yang menjadi panutan rakyat. Teungku Haji Hasan Krueng Kalee merupakan ulama konservatif yang terkemuka dan sangat kharismatik, Teungku Haji Jakfar Siddiq Lamjabat ulama dayah tradisional, Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri keduanya menjadi representasi pimpinan para ulama di Aceh (PUSA).

Mboh Ambivalen

Totalitas rakyat Aceh dalam merefleksikan kesetiaan kepada Republik Indonesia merupakan wujud tipikal masyarakat Aceh yang mboh dengan sikap ambivalen (mendua, hipokrit). Masyarakat Aceh bukanlah masyarakat yang suka mendua. Bagi mereka segalanya harus bersifat total dan adalah orang lemah, lembek, atau pecundang saja yang membiarkan dirinya terkungkung oleh sikap ambivalen. Dalam budaya masyarakat Aceh telah tertanam keyakinan "lebih baik rubuh sekalian daripada hanya sekedar miring" dan "lebih baik buta daripada sekedar juling". Prinsip ini dalam bahasa setempat disebutkan dengan kata-kata nibak singet leubeh goet reubah dan nibak juleng leubeh goet buta.

Bekal kejiwaan yang bersifat tidak setengah-setengah inilah yang untuk waktu lama mampu membuat Aceh tetap berada dalam Republik, bila pengatur Republik tak melakukan lagi "kesalahan-kesalahan" dan "penyimpangan-penyimpangan" kehidupan berbangsa di kemudian hari. Sebab, paling tidak, sampai hari ini meskipun sempat "dipermainkan" pada masa lalu, sikap kesetiaan yang totalitas dan tak ambivalen dari rakyat Aceh ini masih tetap tampak. Bahkan jika kita mau merenungi dengan jujur, dalam keterpurukan mereka sekian lama di masa Orba (termasuk ketika Operasi Jaring Merah diberlakukan), rakyat Aceh masih juga mau membantu Indonesia menghadapi krisis ekonomi di tahun 1998 dengan mengumpulkan uang, emas, serta apa saja guna menolong Indonesia dari kebangkrutan ekonomi. Bagi mereka: sekali Indonesia, seburuk apapun Indonesia itu, maka tetap Indonesia. Nibak singet leubeh goet reubah dan nibak jeleng goet buta. Ini menjadi prespektiv dasar masyarakat Aceh untuk mengorbankan segala-galanya dalam mewujudkan kesetiaannya kepada Republik. Bagi Aceh, ketika telah memutuskan untuk berintegrasi dengan Republik maka akan tetap Republik dan selamanya akan bersama Republik. Kecuali, bila yang menjalankan roda pemerintahan Republik mengkianati untuk yang kesekian kali, dan batas kesabaran masyarakat pun habis!

Sekali lagi, ilustrasi yang disebut terakhir betul-betul fenomenal. Ketika krisis ekonomi menimpa Indonesia akibat krisis moneter yang didukung rezim pemerintahan yang korup, sejarah seputar pembelian pesawat Seulawah di era revolosi fisik bagai berulang. Ramai-ramai orang Aceh ketika itu mengumpulkan uang, perhiasan emas, dan entah apa saja yang mereka punyai untuk menolong kebangkrutan negeri ini. Orang Aceh berpikir: yang salah rezimnya, bukan Indonesianya. Yang patut disingkirkan oknum koruptornya, bukan menghancurkan nusantaranya. Inilah wujud kesetiaan orang-orang diwilayah ini bila tidak diprovokasi. Meski sempat diperlakukan tidak adil, tetapi sebagaimana dikisahkan dalam kisah-kisah nabi, orang Aceh selaku penginkut nabi-nabi tetap mau memberi dan bersikap baik. Ini, pasti sebuah kesantunan yang tidak diragukan sama sekali.

Jadi, sangatlah naif jika ada pihak-pihak tertentu yang memaksakan kehendaknya untuk mengingkari sejarah besar rakyat Aceh dalam melahirkan Republik Indonesia dan dalam memberikan kontribusi selama kemerdekaannya. Sangat sulit diterima logika bahwa ada sekelompok generasi yang ingin memporak-porandakan sejarah, dengan cara "menyapih" Aceh dari Republik Indonesia. Sikap tersebut sama artinya dengan perlakuan menghapus peran generasi pendahulu Aceh yang telah bersusah payah berjuang mengorbankan harta benda, darah, air mata, dan seutas nyawa untuk menjadikan Aceh sebagai pemeran terpenting dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kini, setelah sedemikian setianya Aceh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia seiring dengan perjalanan waktu, masihkah kita rela melihat Aceh hidup dalam genagan air mata? Masihkah kita biarkan Aceh terkubur dalam rimba liar tanpa peradaban? Masihkah kita sampai hati melihat masyarakat di sana tercabik-cabik? Di mana sebenarnya kita letakkan nurani dan kesadaran kemanusiaan kita? Sepatutnya ini menjadi fenomena yang perlu kita campan dan sadari, kita perhatikan, lalu kita dari solusinya supaya kehidupan tenteram dalam bingkai negara kesatuan dapat dinikmati secara bersama. Bukan saja untuk kita yang hidup hari ini, tapi juga bagi mereka----generasi strata cucu kita---- yang bakal dating di kemudian hari.

Wassalam,

DITYA

dityaaceh_2003@yahoo.com
ACEH NAD
TANO RENCONG SARAMBO MAKKOH

Dikutip dari buku "Perekat Hati yang Tercabik"
Karangan M Djali Yusub. ORANG ACEH ASLI LHO...!!!!
Oleh: DityaAcehNAD.
----------