Stockholm, 15 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BELAJAR REFERENDUM DARI ORANG QUEBEC CANADA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KITA BELAJAR REFERENDUM DARI ORANG QUEBEC DI CANADA

"Terima kasih saya ucapkan atas tanggapan , komentar dan pertanyaan dari anda. Anggaplah opini dari saya ini sebagai "second opinion" tentang apa yang sedang terjadi di Indonesia, negeri leluhur saya dimana saya dilahirkan dan dibesarkan.Jadi ini adalah sebagai peneropongan dilihat dari "kaca mata" seorang warga negara Canada asal Jawa Barat, Indonesia.Kembali pada masalah referendum dan separatisme di Canada dan di Indonesia.Ada perbedaan yang sangat fundamental antara akar dari separatisme di Aceh dan di province of Quebec, jadi cara penyelesaian conflict separatisme juga membutuhkan methode yang berbeda."
(Hidajat Sjarif , siliwangi27@hotmail.com ,Sun, 15 Feb 2004 14:37:10 +0000)

Terimakasih untuk saudara Hidajat Sjarif di Edmonton, Alberta, Canada.

Disini saya pribadi mengucapkan terimakasih atas kesediaan saudara Hidajat Sjarif yang telah mengirimkan tulisannya yang menyangkut masalah referendum di Propinsi Quebec, Canada.

Dimana tulisan ini dilihat dari sudut pandang dan kaca mata seorang warga negara Canada asal Jawa Barat. Jadi tentu saja, bisa berbeda apabila ditinjau dari sudut orang Quebec sendiri, Tetapi, bukanlah suatu persoalan yang besar, dari sudut mana melihat referendum ini. Yang penting bahwa di Propinsi Quebec, Canada ini pernah dilaksanakan referendum.

Hanya disini saya masih memperhatikan saudara Hidajat Sjarif melihat rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI dari sejak Soekarno memasukkan Negeri Aceh kedalam NKRI melalui Propinsi Sumatera Utara secara ilegal tanpa persetujuan seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh pada 14 Agustus 1950 sebagai gerakan "separatisme di Aceh.".

Kalau dilihat dari sejarah pergerakan Aceh ini yang dimulai dari Teungku Muhammad Daud Beureueh yang memproklamasikan NII di Aceh pada tanggal 20 September 1953 dan diteruskan perjuangan untuk menentukan nasib sendiri oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada 4 Desember 1976 dengan memproklamasikan Negara Aceh bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI, maka pergerakan rakyat Aceh bukan suatu pergerakan separatisme melainkan suatu gerakan penuntutan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Jadi, saudara Hidajat Sjarif melihat rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri sejak 20 September 1953 sampai detik ini sebagai suatu gerakan "separatisme di Aceh."

Sebenarnya rakyat Aceh bukan melakukan gerakan separatisme, melainkan menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah mengambil, menelan, menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Tetapi, tentu saja itu hak saudara Hidajat Sjarif yang masih belum mengerti dan memahami rakyat Aceh yang sudah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI dengan sebutan gerakan "separatisme di Aceh".

Dari sudut pandang rakyat Aceh tuntutan untuk menentukan nasib sendiri bukan suatu gerakan separatisme melainkan suatu tuntutan kemerdekaan di Negeri Aceh yang telah ditelan, diduduki dan dijajah NKRI dari sejak Soekarno cs sampai detik ini dibawah Megawati.

Nah sekarang, kita simak saja tulisan tentang referendum di Propinsi Quebec, Canada ini yang ditulis oleh saudara Hidajat Sjarif dari Canada dibawah ini sebagai bahan pelajaran.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se
----------

From: "Hidajat Sjarif" <siliwangi27@hotmail.com>
To: ahmad@dataphone.se
Cc: dityaaceh_2003@yahoo.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, wpamungk@centrin.net.id, karim@bukopin.co.id, sadanas@equate.com,mahnor@hotmail.com
Subject: MASALAH SEPARATIS DI ACEH DAN DI CANADA
Date: Sun, 15 Feb 2004 14:37:10 +0000

Terima kasih saya ucapkan atas tanggapan ,komentar dan pertanyaan dari anda. Anggaplah opini dari saya ini sebagai "second opinion" tentang apa yang sedang terjadi di Indonesia,negeri leluhur saya dimana saya dilahirkan dan dibesarkan.Jadi ini adalah sebagai peneropongan dilihat dari "KACA MATA"seorang warga negara Canada asal Jawa Barat, Indonesia.

Kembali pada masalah referendum dan separatisme di Canada dan di Indonesia. Ada perbedaan yang sangat fundamental antara akar dari separatisme di Aceh dan di province of Quebec, jadi cara penyelesaian conflict separatisme juga membutuhkan methode yang berbeda.

Mari kita sedikit mengulas masalah dan kasus separatisme di Canada untuk bahan perbandingan.

Mayoritas penduduk di province of Quebec adalah turunan Perancis dan berbahasa Perancis, sedang di bagian bagian lain di Canada penduduk yang berbahasa Inggris adalah Mayoritas,jadi
secara keseluruhan penduduk berbahasa Perancis ini adalah "MINORITAS"di Canada ini, mereka
itu mayoritas hanya di propinsi Quebec saja,dan INI LAH YANG MENJADI AKAR MASALAH YANG MENIMBULKAN PERASAAN SENTIMENT DARI MINORITAS TERHADAP MAYORITAS. JADI POKOK DASAR PERMASALAHAN ADALAH MASALAH"BAHASA DAN KEBUDAYAAN".

Segelintir oknum oknum militant minoritas di Quebec ini mengobar ngobarkan rasa sentiment dengan membuat dalih dalih yang sama sekali tidak ada dasar fondasinya, mereka menuduh adanya
diskriminasi dan menuntut referendum untuk memisahkan diri dari Canada,mereka membentuk
organisasi separatis dan melakukan kampanye untuk memisahkan diri dari Canada. Pemerintah
Canada "MENGHORMATI" hak fundamental rakyat Quebec untuk meng-expressikan aspirasi politicnya untuk memisahkan diri dari Canada, dan organisasi kaum separatis yang disebut PARTY QUEBECUA melakukan kampanye menuntut referendum untuk memisahkan diri dari Canada
DENGAN CARA DAMAI. TIDAK DENGAN JALAN KEKERASAN DAN PEMBERONTAKAN BERSENJATA.

Jadi memang situasinya lain dan sangat berbeda. Pemerintah Canada meminta idzin dari
seluruh rakyat Canada untuk memberikan "REFERENDUM" melalui pemungutan suara secara
democratis di Quebec, pemerintah Canada mendapatkan idzin dari mayoritas rakyat Canada untuk
memberikan referendum untuk rakyat Quebec untuk menentukan apakah rakyat di propinsiQuebec menginginkan untuk memisahkan diri dari Canada, atau tetap menjadi bagian dari negeri Canada.

Hasil dari referendum yang diakui oleh "DUNIA INTERNATIONAL" dan THE UNITED NATIONS menunjukan bahwa 55% dari rakyat di Quebec TETAP MENGINGINKAN UNTUK TETAP MENJADI BAGIAN DARI CANADA,HANYA 45% YANG MENGINGINKAN UNTUK MEMISAHKAN DIRI DARI CANADA.

Kaum separatis dengan organisasi politicnya Party Quebecua TIDAK MENERIMA HASIL referendum pertama ini,mereka "NGOTOT"menuntut referendum lagi dan untuk kedua kalinya
pemerintah Canada dengan idzin dari mayoritas rakyat Canada memberikan referendum untuk
kedua kalinya hasil referendum yang kedua kalinya menunjukan bahwa 58% pendudukQuebec menghendaki untuk tetap menjadi bagian dari Canada,dan 42% menghendaki untuk berpisah dari Canada.

Kaum separatis TIDAK BISA MEMUNGKIRI DAN MENOLAK hasil dari referendum yang dilaksanakan dua kali in. MEREKA DENGAN SPORTIF, JUJUR DAN KONSEKUEN MENERIMA KEKALAHAN DALAM REFERENDUM INI

Masalah seoparatis di Quebec diselesaikan dengan JALAN DAMAI TANPA PERTUMPAHAN DARAH TANPA KORBAN DAN KEBENCIAN SERTA DENDAM KESUMAT

Kembali pada masalah separatisme di Aceh.

Untuk bisa menyelesaikan masalah conflict ini (peaceful solution) memang haruis ada niat dan tekad serta itikad baik dari kedua belah pihak,harus ada tekad untuk"GIVE AND TAKE". Pertama , pemerintah Indonesia atas nama seluruh rakyat Indonesia harus mau untuk "MEMINTA MAAF" secara TERBUKA DAN JUJUR kepada rakyat Aceh atas segala kesalahan yang dibuat terhadap rakyat Aceh ,hususnya segala kesalahan yang dilakukan oleh rezim bandit militer ORBA dengan DOM nya. Pemerintah Indonesia harus dengan jujur dan terbuka mengakui kesalahan kesalahan ini,dengan ini pemerintah Indonesia menunjukan "GOODWILL" dan itikad baik pada rakyat Aceh. Pemerintah Indonesia harus mau untuk memberikan KOMPENSASI pada keluarga dari rakyat Aceh yang menjadi KORBAN hususnya selama diimplementasikannya DOM. Pemerintah Indonesia harus memberikan AUTONOMI husus untuk seluruh wilayah Aceh, menghormati hak rakyat Aceh untuk mempunyai bentuk pemerintahan yang dikehendaki oleh rakyat Aceh, menghormati hak pemerintah daerah Aceh untuk menghelola dan meng-exploitasi kekauyaan alam Aceh untuk kesejahteraan rakyat Aceh.AND IN RETURN PENDUDUK ACEH HARUS MENGAKUI DAN MENGHORMATI BAHWA ACEH ADALAH BAGIAN YANG INTEGRAL DARI REPUBLIC INDONESIA.

REFERENDUM HANYA BISA DIBERIKAN OLEH PEMERINTAH INDONESIA,
JADI PEMERINTAH INDONESIA HARUS MEMINTA PENDAPAT DAN IDZIN DARI SELURUH RAKYAT INDONESIA UNTUK BISA MEMBERIKAN REFERENDUM UNTUK PENDUDUK ACEH.

Jadi sebaiknya Rakyat Aceh menerima status DAERAH DAN WILAYAH HUSUS DENGAN AUTONOMI HUSUS YANG BERHAK UNTUK MENGELOLA KEKAYAAN ALAM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT ACEH, BERHAK UNTUK MENENTUKAN BENTUK PEMERINTAHAN YANG DIKEHENDAKI OLEH RAKYAT ACEH, DENGAN KETENTUAN BAHWA "PERTAHANAN, KEAMANAN AND FOREIGN AFFAIR" TETAP DENGAN MUTLAK ADA DALAM WEWENANG PEMERINTAH REPUBLIC OF INDONESIA.

Hidajat Sjarif,

siliwangi27@hotmail.com
Edmonton,Alberta,Canada.
-----------