Stockholm, 16 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MEGAWATI DAN YUDHOYONO MENGOBARKAN PERANG DI NEGERI ACEH PADA 19 MEI 2003
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS PRESIDEN MEGAWATI DAN MENKO POLKAM SUSILO BAMBANG YUDHOYONO YANG MENGOBARKAN PERANG DI NEGERI ACEH

"Kang Dirman, ada tawaran yg bagus dari saya, tawaran itu adalah Kang Dirman cs pulanglah ke Indonesia, sebagaimana pulang Khomeni dari Paris memimpin revolusi Islam Iran itu, biar kita tahu, macam mana sih Islamnya KangDirman itu ?"
(Rahmatullah , icmijed@hotmail.com , Sun, 15 Feb 2004 11:52:19 +0300)

"congok: ada ikrar sumpah setia bangsa Aceh yang mendukung Hasan di Tiro..
cangak: bangsa aceh yang mana? paling boneknya tiro yang mengaku-aku bangsa Aceh..
congok: begitu jelas yang dipaparkan Ahmad Sudirman soal penjajahan dan pencaplokan di Aceh..
cangak: memang hanya seputar itu bahasa bahasa yang mereka hafal."
(Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , Sat, 14 Feb 2004 23:27:16 -0800 (PST))

"Begini deh Pak Sudirman, Saya mah tdk bisa ngomong berbelit-belit kayak bapak. Cuma heran saja Ferry Santoro itu disandera oleh para gerombolan bukan dalam suasana perang FS bukan tentara Kalo gerombolan itu mau rampok, rampok aja..nggak usah pake menawan segala. Jadi kalo menurut saya, orang yg gak bisa ngomong babaliyut kayak bapak, yg pake dalil2 berlembar-lembar bebaskan Ferry sekarang dengan cara sewaktu dia di tangkap dulu. Lepaskan di lokasi Ferry ditangkap, ngapain juga pake jasa ICRC. Lha wong gerombolan itu waktu nangkap juga sembarangan nangkap dalam suasana damai. Gerombolan bapak itu memang goblog. Siapa saja di tangkap. Anggota PMI, dokter juga ditangkap, untung sdh di bebaskan TNI."
(L.Meilany , wpamungk@centrin.net.id , Sun, 15 Feb 2004 16:32:37 +0700)

Baiklah saudara Rahmatullah di Jeddah, Saudi Arabia, saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia dan saudari L. Meilany di Tangerang, Banten, Indonesia.

Pertama untuk saudara Rahmatullah di Jeddah, Saudi Arabia.

Saudara Rahmatullah saya telah beberapa kali menjawab dan mengatakan bahwa saya akan datang ke NKRI dan ke Negeri Aceh apabila:

Pertama, telah dicabut Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Kedua, telah diberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan dan memberikan suaranya YA atau TIDAK untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas di Negeri Aceh.

Nah, itulah saudara Rahmatullah persyaratan yang saya saya ajukan, kalau kedua persyaratan itu telah dilaksanakan saya akan segera datang ke NKRI dan Negeri Aceh.

Seterusnya saya akan jumpai saudara wartawan Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia.

Seperti yang telah saya kupas sebelum ini bahwa memang saudara Matius Dharminta ini telah dipengaruhi berbagai penipuan licik Soekarno sehingga memang wajar kalau pikirannya itu sudah terkena pengaruh pencemaran hasil tipu-muslihat, kelicikan, dan kejahatan Soekarno terutama mengenai penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh sejak 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950.

Dan tentu saja, pikiran saudara Matius ini telah terkena juga pencemaran tipu muslihat "Konsepsi Soekarno" yang berisikan taktik dan strategi Soekarno untuk memaksakan dengan cara kekerasan dan penekanan yang didukung TNI guna merobah NKRI menjadi Negara RI-Jawa-Yoga kembali yang ber-UUD 1945 dan yang mengandung dasar negara Pancasila dalam Preambulnya melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dimana disini Soekarno lebih sesuai disebut sebagai seorang pemimpin yang penuh dengan semangat untuk mengurung dan mengikat serta memaksakan seluruh Negara-Negara dan Daerah-Daearah bekas Negara bagian RIS dan Negeri-Negeri diluar RIS untuk berada dalam kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang dikontrol oleh orang-orang dari Jawa dan tidak memberikan ruang gerak terhadap keinginan, cita-cita dan nasib setiap suku atau bangsa yang berada dalam naungan dan lindungan NKRI.

Tentu saja fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai taktik dan strategi Soekarno yang dijalankan dalam bentuk kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan dan agresi-nya ini yang telah dicatat dalam kumpulan dokumen yang dibuat oleh Soeharto cs ternyata telah menjadikan pikiran saudara Matius Dharminta buta akan kenyataan yang sebenarnya mengenai apa yang telah dilakukan Soekarno terhadap Negara-Negara dan daerah Daerah anggota Negara dan Daerah Bagian Republik Indonesia Serikat dan terhadap negeri-Negeri diluar daerah wilayah kekuasaan diluar RIS seperti Negeri Aceh berupa tindakan pencaplokan, pendudukan dan penjajahan, tetapi tidak bisa masuk kedalam pikiran dan tidak bisa dimengerti oleh saudara Matius Dharminta ini.

Kemudian terakhir saya jumpai saudari L. Meilany di Tangerang, Banten, Indonesia.

Saudari Meilany tahukah kapan perang dideklarkan di Negeri Aceh dan oleh Siapa ?

Nah, perang dideklarkan di Negeri Aceh adalah setelah pihak Pemerintah NKRI menggagalkan Meja Perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003.

Seterusnya setelah JCM digagalkan, maka pada tanggal 19 Mei 2003 jam 00:00 Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati pengobarkan perang di Negeri Aceh dengan berlandasakan pada dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Jadi, ketika Ferry Santoro tertangkap oleh pihak TNA pada 29 Juni 2003 adalah dalam kedaan perang di Negeri Aceh yang dikobarkan oleh pihak Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati.

Nah sekarang, mengenai pembebasan Ferry Santoro, saya telah berulang kali mengatakan bahwa yang menyebabkan terhambatnya pembebasan Ferry Santoro adalah pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu . Mengapa ?

Karena ketiga Jenderal tersebut diatas tidak mau menjamin keselamatan Ferry Santoro waktu saat pembebasan sandera.

Padahal dari pihak TNA menghendaki adanya penghentian tembak menembak atau gencatan senjata yang terbatas waktunya agar supaya waktu pembebasan Ferry Santoro disatu tempat tertentu yang telah disepakati dengan pihak Palang Merah Internasional pihak TNI/Raider tidak melakukan serangan dan pembunuhan terhadap Ferry Santor dan pihak yang sedang melangsungkan jalannya penyerahan Ferry Santoro.

Jadi pihak TNA ingin melepaskan Ferry Santoro dengan cara yang yang baik-baik kepada pihak Palang Merah Internasional agar tidak menimbulkan propaganda murahan yang akan dilakukan oleh pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tentang perlakuan TNA terhadap tahanan Ferry Santoro.

Karena itu kalau Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak mau menjamin keselamatan Ferry Santoro dan pihak yang akan melakukan penyerahan Ferry Santoro, maka kesalahan terlambatnya pembebasan Ferry Santoro bukan terletak pada pihak TNA melainkan terletak pada ketiga Jenderal tersebut.

Jadi saran saya sebaiknya saudari L. Meilany tanyakan kepada Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, apakah para Jenderal itu mau menjamin keselamatan Ferry Santoro waktu pembebasan dengan cara mengadakan penghentian tembak menembak dengan jangka waktu yang terbatas ?

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "rahmatullah" <icmijed@hotmail.com>
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
Subject: Re: MEGAWATI BODOHI RAKYAT ACEH PAKAI KEADAAN BAHAYA DENGAN TINGKATAN KEADAAN DARURAT MILITER
Date: Sun, 15 Feb 2004 11:52:19 +0300

Bismillahhirrohmannirrohim.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Kang Dirman,ada tawaran yg bagus dari saya,tawaran itu adalah :
Kang Dirman cs pulanglah ke Indonesia,sebagaimana pulang Khomeni dari Paris memimpin revolusi Islam Iran itu,biar kita tahu,macam mana sih Islamnya KangDirman itu ?

Alberto Fujimori ( Mantan Presiden,Peru,asal Jepang ),Carlos Mehnem ( Mantan Presiden Argentina,turuan Syria ) Madeline Albrigth ( Menlu AS,imigran Hongaria ),Kami-kan ikut bangga kalau ada turunan Indonesia,Sunda atau Aceh,yg jadi Presiden pertama utk Republik Swedia ( artinya anda rubah tuh Kerajaan Swedia jadi Republik,dan presiden pertama Mr.Ahmad Sudirman )

Atau kalau mau yg Islam-islaman seperti ada ulama dari Indonesia, Sulawesi, namanya kalau tidak salah Syech Muhammad Yusuf,penyebar Islam di Afrika Selatan, makamnya sekarang sering diziarah orang Indonesia yg mampir ke Jonahanesberg.Jadi ada penyebar Islam di Swedia namanya Syech, Al-Ustad Teungku Ahmad Sudirman,penyebar Islam di Swedia,nanti-nantinya anak
cucu kita,baik yg tour atau jadi diplomat dll,menziarahi makan Syech Al-Ustad Teungku Ahmad Sudirman sebagai penyebar Islam di Scandinavia sana.

Jangan melulu teriak-teriak Islam dikonsitusi Indonesia melulu,saya-kan,belum tahu,apakah anda ini sudah terkontaminasi atau belum dgn budaya eropa itu,atau sekalian anda rubah Swedia jadi Republik Islam Swedia ( gantungkan cita-citamu setinggi langit )

Saya ucapkan terima kasih,dan Semoga Allah SWT menyatukan hati-hati kita semua,dan kita diberikan jalan keluar yg terbaik utk Bangsa Indonesia ini ! Amien !

Wassalam
Jeddah,20/02/2004

Rahmatullah.

icmijed@hotmail.com
Saudi Arabia
----------

Date: Sat, 14 Feb 2004 23:27:16 -0800 (PST)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: IMAH NOR: DITYA SOEDARSONO MEMUTAR BELIT FAKTA, BUKTI, HUKUM, SEJARAH PENDUDUKAN NKRI DI NEGERI ACHEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: PPDI@yahoogroups.com

congok: katanya, ditya soedarsono mutar belit fakta, bukti, hukum, sejarah Aceh.
cangak: biasa... orang yang menuduh itu memang tidak bisa "noleh jithok'e dewe" (lihat tengkuknya sendiri)
congok: juga disayangkan, Ditya Soedarsono yang masih ada hati untuk kebaikan warga Aceh..
cangak: orang yang menyayangkan memang tidak ada hati /jutuan tuk kebaikan.
congok: ada tuduhan samapai saat ini Soedarsono belum juga berani mengakui kesalahan..
cangak: kuman diseberang lautan bisa melihatnya, gajah dipelupuk mata sendiri tak melihatnya.
congok: juga ada pertanyaan, jika anda ( Soedarsono) sebagai insan yang taat dan setia pada allah swt anda tidak akan..
cangak: soal ketaatan dan kesetiaan insan terhadap Allah SWT, tidak seorang manusiapun bisa menilai taat atau murtad seseorang, karena hanya Allah SWT yang punya hak tuk menilai.
congok: ada arahan dan petunjuk untuk TNI/POLRI di Aceh tuk melakukan pembunuhan, perkosaan, pemerasan dan......
cangak: itulah hasil pemikiran otak ngeres, bayanganya hanya seputar, perkosa, perkosa, dan perkosa.
congok: dalam kontek penghapusan gam dan rakyat sipil di Aceh bertentangan dg ilmu agama..
cangak: tuk penghapusan rakyat di Aceh, dari dulu sampai kapanpun tak akan pernah terjadi, tapi kalau bicara soal GAM, tentu beda, karena gam udah jelas berusaha merong-rong negara, hingga disebut pemberontak, jadi untuk menanganinya yang dipakai bukan ilmu agama lagi, tapi ilmu hukum negara, jelasnya pemberontak bersenjata dinegara manapun pasti akan dibasmi/tumpas itu hukumnya.
congok: ada ikrar sumpah setia bangsa Aceh yang mendukung Hasan di Tiro..
cangak: bangsa aceh yang mana? paling boneknya tiro yang mengaku-aku bangsa Aceh..
congok: begitu jelas yang dipaparkan Ahmad Sudirman soal penjajahan dan pencaplokan di Aceh..
cangak: memang hanya seputar itu bahasa bahasa yang mereka hafal.
congok: jadi semua pernyataan yang mereka lempar itu tak jauh beda dengan kaleng rombeng doongg?

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Jawa Pos
Surabaya, Indonesia
----------

From: "L.Meilany" wpamungk@centrin.net.id
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>,
Subject: Re:230 hari Ferry Santoro KALAU MEGAWATI TIDAK SETUJU REFERENDUM BERARTI SETUJU TERUS DUDUKI NEGERI ACEH
Date: Sun, 15 Feb 2004 16:32:37 +0700

Begini deh Pak Sudirman,

Saya mah tdk bisa ngomong berbelit-belit kayak bapak. Cuma heran saja Ferry Santoro itu disandera oleh para gerombolan bukan dalam suasana perang FS bukan tentara Kalo gerombolan itu mau rampok, rampok aja..nggak usah pake menawan segala.

Jadi kalo menurut saya, orang yg gak bisa ngomong babaliyut kayak bapak, yg pake dalil2 berlembar-lembar BEBASKAN FERRY sekarang dengan cara sewaktu dia di tangkap dulu.
Lepaskan di lokasi Ferry ditangkap, ngapain juga pake jasa ICRC. Lha wong gerombolan itu waktu nangkap juga sembarangan nangkap dalam suasana damai. Gerombolan bapak itu memang goblog. Siapa saja di tangkap. Anggota PMI, dokter juga ditangkap, untung sdh di bebaskan TNI.

Pak Sudirman tahu nggak berita nya : "GAM itu tdk konsisten dan berkali-kali membohongi kami. Kami seperti di pingpong dan ini yang membuat ICRC trauma dan menarik diri untuk sementara. Jika GAM punya niat membebaskan sandera, hari ini juga mereka bebas" , kata ketua Tim Negosiasi Pembebasan Sandera.

Bapak Sudirman ini kasian deh punya gerombolan, punya pasukan kok gobloknya keterlaluan, keporo nyoto Siapa aja disandera. beraninya cuma sama orang sipil. Sandera tuh TNI...!!

L.Meilany

wpamungk@centrin.net.id
Tangerang, Banten, Indonesia
----------