Stockholm, 17 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SOEKARNO ROBAH NKRI DENGAN DEKRIT PRESIDEN 5 JULI 1959 MENJADI NEGARA RI-JAWA-YOGYA LAGI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SOEKARNO ROBAH NKRI DENGAN DEKRIT PRESIDEN 5 JULI 1959 MENJADI NEGARA RI-JAWA-YOGYA LAGI

"Sebenarnya itu Om Puteh maunya, kalau kita menjadi murid dari Suhu Ahmad S. Supaya kita bisa mempelajari ajaran sejarah sesatnya."
(Apha MAOP, awakaway@telkom.net , Sun, 15 Feb 2004 09:31:33 +0700 )

Baiklah saudara Apha Maop di Indonesia.
Begini saudara Apha Maop.

Kalau saudara Apha mengatakan: " Sebenarnya itu Om Puteh maunya, kalau kita menjadi murid dari Suhu Ahmad S. Supaya kita bisa mempelajari ajaran sejarah sesatnya".

Saudara Apha Maop, kalau saudara Apha mengatakan apa yang telah diterangkan dan dijelaskan kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh tentang fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah pendudukan Negeri Aceh oleh Soekarno melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan sebutan: "ajaran sejarah sesat", justru pihak para penerus Soekarno yang sebenarnya berusaha untuk menutupi fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang benar mengenai pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI sebagai suatu usaha penyesatan kepada rakyat NKRI dan rakyat di negeri Aceh.

Saudara Apha Maop, sekarang seluruh rakyat di NKRI dan rakyat di Negeri Aceh telah terbuka mata dan hatinya bahwa apa yang telah dijalankan Soekaro untuk menghancurkan semua Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang telah dibangun bersama dalam satu bentuk Negara Federasi yang disebut dengan Republik Indonesia RIS, sebagai suatu penjelmaan dari keinginan setiap suku atau bangsa untuk tetap memelihara indentitet masing-masing, suku atau bangsa dengan berbagai macam budaya adat istiadat, norma, agama, bahasa, dimana duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Strategi Soekarno untuk menghancurkan semua yang ada dan telah tertanam kedalam setiap suku atau bangsa yang ada di masing-masing Daerah dan Negara agar tetap terpelihara dan tetap saling dihormati, tetapi ternyata dengan kebijaksanaan politik, keamanan, pertahanan dan ambisi agresi Soekarno semuanya itu telah hancur yang tinggal hanyalah tali pengikat yang rapuh yang dinamakan dengan pancasila.

Soekarno dengan tali pancasila berusaha untuk menyatukan berbagai suku atau bangsa dengan berbagai adat istiadat dan berbagai bahasa dalam satu ikatan yang semu yang tidak banyak memberikan kepuasa bagi setiap suku atau bangsa.

Dan justru disinilah akibat apa yang telah dijalankan oleh Soekarno terhadap Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang telah lahir dan berdiri di Nusantara diluar daerah kekuasaan wilayah Negara RI yang diproklamasikan Soekarno.

Soekarno bukan hanya berambisi menguasai Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang telah bergabung dalam satu ikatan Negara Federasi Republik Indonesia Serikat, melainkan juga telah menduduki, menguasasi, dan menjajah Negeri-Negeri yang berada diluar daerah wilayah kekuasaan Negara-Negara dan Daerah-Daerah bagian Negara Federasi Republik Indonesia Serikat, seperti Negeri Aceh.

Ternyata akibat dari strategi politik, keamanan, pertahanan, dan agresi Soekarno di Nusantara melalui Negara RI 17 Agustus 1945 terhadap Negara-Negara, Daerah-Daerah, dan Negeri-Negeri lain yang ada di Nusantara inilah yang melahirkan pergolakan rakyat, seperti pergolakan rakyat Aceh yang ingin menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Nah sekarang kita kupas mengenai bagaimana Soekarno merobah kembali NKRI menjadi Negara RI-Jawa-Yogya lagi yang berwajah baru.

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa strategi Soekarno setelah pada tanggal 15 Agustus 1950 melebur RIS dan membentuk NKRI dari puing-puing bekas Negara-Negara dan Daerah-Daerah bagian RIS, ternyata sembilan tahun kemudian, Soekarno melakukan kembali operasi besar-besaran untuk membelah dan melebur NKRI menjadi Negara RI-Jawa-Yogya lagi yang berwajah baru.

Taktik dan strategi Soekarno yang dijalankan untuk membentuk kembali Negara RI-Jawa-Yogya yang berwajah baru dari tubuh NKRI adalah dengan menempuh jalur proses "Konsepsi Soekarno" atau "Konsepsi Presiden Soekarno"

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Soekarno setelah menelan 15 Negara/Daerah Bagian Republik Indonesia Serikat dengan mulut Negara RI-Jawa-Yogya, dan setelah selesai menelan semua Negara dan Daerah Bagian RIS lalu menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950.

Kemudian dalam pertumbuhan dan perkembangan NKRI selanjutnya ketika Kabinet Burhanuddin Harahap yang dilantik pada tanggal 12 Agustus 1955 yang menggantikan Kabinet Ali-Wongso, dimana dalam program Kabinet Burhanuddin ini dicantumkan salah satu Program Kabinetnya adalah akan melaksanakan program pelaksanaan PemilihanUmum.

Seterusnya pada tanggal 29 September 1955 diselenggarakan Pemilihan Umum pertama untuk memilih anggota-anggota DPR dan pada tanggal 15 Desember 1955 untuk pemilihan anggota-anggota Konstituante atau Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar. Dimana anggota-anggota DPR yang akan dipilih sebanyak 272 anggota. Sedangkan untuk anggota-anggota Konstituante berjumlah 542 anggota. Dalam pemilihan Umum untuk anggota DPR telah keluar 5 besar partai politik, pertama Fraksi Masyumi menggembol 60 kursi, Fraksi PNI menduduki 58 kursi, Fraksi NU mendapat 47 kursi, Fraksi PKI memborong 32 kursi Fraksi Nasional Progresif memperoleh 11 kursi, sedangkan sisa kursi lainnya diduduki oleh Fraksi-Fraksi DPR lainnya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.88-89)

Pada tanggal 20 Maret 1956 dilantik anggota DPR dan pada tanggal 10 November 1956 dilantik anggota Konstituante oleh Soekarno. Kabinet pertama setelah DPR hasil pemilu pertama dibentuk adalah Kabinet Ali Sastroamidjojo yang dikenal dengan nama Kabinet Ali II. Tetapi usia Kabinet Ali II tidak lebih dari satu tahun. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.97-98)

Ternyata usia Kabinet Ali II ini tidak lebih dari satu tahun, disebabkan oleh Soekarno yang menjalankan Konsepsi Soekarno yang mengarah kepada konsepsi cengkeraman tangan besi.

Dimana pokok-pokok Konsepsi Presiden Soekarno itu berisikan bahwa sistem demokrasi Parlementer secara Barat tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia, karena itu perlu diganti dengan sistem demokrasi Terpimpin. Dimana untuk pelaksanaan demokrasi Terpimpin ini perlu dibentuk suatu kabinet gotong royong yang anggotanya terdiri dari semua partai dan organisasi berdasarkan perimbangan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Dan perlu mengetengahkan kabinet kaki empat yang terdiri dari empat partai besar yaitu Masyumi, PNI, NU dan PKI. Juga perlu dibentuk Dewan Nasional yang terdiri dari golongan-golongan fungsional dalam masyarakat. Dimana tugas utama Dewan Nasional ini adalah memberi nasihat kepada Kabinet baik diminta maupun tidak diminta. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.107)

Nah, akibat Konsepsi Soekarno ini, ternyata tidak lama kemudian Kabinet Ali II dibawah Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengembalikan lagi mandatnya kepada Soekarno pada tanggal 14 Maret 1957.

Selanjutnya langkah yang ditempuh Soekarno, setengah jam setelah Kabinet Ali II menyerahkan mandat, Soekarno menyatakan negara dalam keadaan darurat perang, dan pada tanggal 17 Desember 1957 Keadaan Darurat Perang ditingkatkan menjadi Keadaan Bahaya Tingkat Keadaan Perang. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.109)

Inilah taktik dan strategi Konsepsi Presiden Soekarno, dimana sebelumnya Soekarno telah mengikat 15 Negara/Daerah Bagian RIS, juga Negeri-Negeri diluar RIS seperti Negeri Aceh, sekarang mulai menamcapkan kuku kekuasaannya keseluruh tubuh NKRI.

Setelah Soekarno menyatakan Keadaan Bahaya Tingkat Keadaan Perang, kemudian menunjuk Soewirjo menjadi formatur. Dua kali Soewirjo berusaha membentuk Kabinet, tetapi kedua-duanya gagal. Akhirnya, Soekarno mengangkat dirinya sebagai formatur. Dimana formatur Soekarno ini membentuk Kabinet darurat Ekstraparlementer dengan Djuanda sebagai Perdana Menteri, yang menyusun program Kabinetnya diantara Program Kabinet-nya itu adalah membentuk Dewan Nasional, dan normalisasi keadaan di NKRI. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.110)

Sidang Konstituante hasil Pemilihan Umum 15 Desember 1955 yang berlangsung dari tanggal 10 November 1956 ternyata masih belum berhasil menggoalkan Undang Undang Dasar.

Sebagian anggota Konstituante menginginkan kembali ke Undang Undang Dasar yang berisikan sila-sila pancasila dalam Pembukaannya, sedangkan sebagian anggota lainnya menginginkan Undang Undang Dasar yang memiliki dasar Islam yang dipelopori oleh M. Natsir seperti yang dinyatakan dalam pidatonya yang disampaikan di Dewan Konstituante yang berjudul "Islam debagai dasar Negara", pada tanggal 12 November 1957. (S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 94)

Ternyata Soekarno membalas pidato M.Natsir, pada tanggal 22 April 1959 Soekarno menyampaikan pidatonya di Dewan Konstituante dengan isi amanatnya menyerukan agar kembali kepada Undang Undang Dasar 1945.

Sekarang, kelihata ada dua kubu, kubu Soekarno yang ingin kembali kepada UUD 1945 yang berisikan pancasila dalam Pembukaan UUD 1945-nya, sedang kubu M.Natsir yang menginginkan UUD yang berdasarkan Islam.

Kemudian pada tanggal 30 Mei 1959 dilangsungkan pemungutan suara, ternyata suara yang ingin kembali ke UUD 1945 sebanyak 269 anggota, sedangkan 199 anggota menghendaki UUD yang berdasarkan Islam.

Menurut pasal 137 UUD 1950 dinyatakan bahwa UUD bisa disyahkan dengan suara mayoritas dua pertiga dari jumlah suara yang masuk.

Karena hasil pemungutan suara pertama tidak mencapai mayoritas dua pertiga jumlah suara, maka pada tanggal 1 Juni 1959, diadakan lagi pemungutan suara kedua, ternyata hasilnya 263 setuju ke UUD 1945, sedangkan 203 menghendaki UUD yang berdasar Islam. Karena dalam pemungutan suara ini juga tidak mencapai jumlah dua pertiga dari jumlah suara yang masuk, maka besoknya, tanggal 2 Juni diadakan lagi pemungutan suara, ternyata 264 menginginkan UUD 1945, dan 204 menghendaki UUD Islam. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.139-141)

Setelah Soekarno melihat dan mengetahui bahwa anggota Konstituante tidak berhasil menghasilkan suara mayoritas kembali ke UUD 1945, kemudian Soekarno dengan Surat Keputusan Presiden Tentang Keadaan Bahaya Tingkat Keadaan Perang 14 Maret 1957 dan bersama Kabinet Darurat Ekstraparlementer yang disetujui oleh TNI dan pembenaran dari Mahkamah Agung, dengan lantangnya di Istana Merdeka pada tanggal 5 Juli 1959 membacakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Menetapkan pembubaran Konstituante. Menetapkan Undang Undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan Dekrit ini dan tidak berlakunya lagi Undang Undang Dasar Sementara. Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri atas Anggota anggota DPR ditambah dengan utusan dari Daerah daerah dan Golongan golongan serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara akan diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat singkatnya. Ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 5 Juli 1959. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.143)

Nah sekarang, jelas sudah, bahwa Soekarno dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah merobah NKRI menjadi Negara RI-Jawa-Yogya lagi.

Ternyata dengan strategi "Konsepsi Presiden Soekarno" menjadilah Soekarno seorang pemimpin yang penuh dengan semangat untuk mengurung dan mengikat serta memaksakan seluruh Negara-Negara dan Daerah-Daearah bekas Negara Bagian RIS dan Negeri-Negeri diluar RIS untuk berada dalam kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang dikontrol oleh orang-orang dari Jawa dan tidak memberikan ruang gerak terhadap keinginan, cita-cita dan nasib setiap suku atau bangsa yang berada dalam naungan dan lindungan NKRI. Dimana Soekarno kelihatan tidak mampu memimpin negara dengan bijaksana penuh dengan musyawarah, Soekarno hanya pandai menipu dan membohongi lawan politiknya, Soekarno hanya pandai menggunakan Angkatan Perang-nya untuk menguasai, menduduki dan menjajah Negara-Negara dan Daerah-Daerah serta Negeri lainnya.

Akibatnya, generasi yang dikemudian hari yang menerima hasil pahit dari segala kebijaksanaan politik, keamanan, pertahanan dan agresi Soekarno yang telah dijalankan dimuka bumi NKRI yang sejak 5 Juli 1959 telah berobah menjadi Negara RI-Jawa-Yogya lagi.

Dan terakhir, inilah alasan yang saya kemukakan berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai tipu daya Soekarno merobah NKRI menjadi Negara RI-Jawa-Yogya lagi dengan mempergunakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 agar seluruh rakyat NKRI menjadi rakyat Negara RI-Jawa-Yogya dengan UUD 1945 dan Pancasila-nya yang dikenal sampai saat sekarang ini.

Sehingga generasi baru sekarang ini, yang tahu hanya Negara RI dengan UUD 1945. Padahal sebenarnya sebelum menjadi Negara RI-Jawa-Yogya sekarang ini, Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 telah tumbuh dan berkembang melalui proses yang bermacam ragam dari mulai hilang lenyap setelah digempur pasukan Beel di Yogyakarta, memberikan mandat kepada Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk PDRI Pengasingan di Sumatera (Aceh), selanjutnya hidup kembali pada tanggal 13 Juli 1949 setelah PDRI mengembalikan mandatnya kepada Mohammad Hatta di Jakarta, disusul masuk menjadi Negara Bagian RIS, menelan Negara-Negara dan Daerah-Daerah anggota Negara Bagian RIS, mencaplok Negeri diluar RIS seperti Negeri Aceh, kemudian melebur menjadi NKRI, dan terakhir ini berobah kembali menjadi Negara RI-Jawa-Yogya melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dengan UUD 1945 dan dasar negara Pancasila-nya yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 15 Feb 2004 09:31:33 +0700
To: teuku mirza <teuku_mirza2000@yahoo.com>
From: Apha MAOP <awakaway@telkom.net>
Subject: Re: JOKYAKARTA JANTUNGNYA RI-JAWA JOKYA!
Cc: omar puteh <om_puteh@hotmail.com>, asnlfnorwegia@yahoo.com, ahmad@dataphone.se

Ass. Wr Wb

Sebenarnya itu Om Puteh maunya, kalau kita menjadi murid dari SUHU Ahmad S. Supaya kita bisa mempelajari ajaran sejarah sesatnya.

Bagi kami bangsa aceh, sebenarnya semuanya adalah penyakit (baik itu GAM maupun TNI).
Begini saja, kita ibaratkan bahwa GAM itu adalah kanker ganas yang menyerang tubuh Aceh, dan menggerogoti Aceh dari dalam sedikit demi sedikit dengan Pembakaran sekolah, pembunuhan masyarakat (contoh menggamat), pembakaran mobil rakyat sipil, pajak nanggroe, penculikan terhadap rakyat yang tidak sepaham. Semua tadi membuat Aceh betul-betul menjadi kronis karena aksi dari kanker tersebut.

Yang kemudian dokter megawati menuliskan resep untuk penyembuhan penyakit tersebut yaitu darurat militer. Bisa di ibaratkan bahwa DM tersebut adalah kemotherapy untuk penyembuhan kanker. Ini adalah pil pahit yang harus di telan rakyat aceh demi sembuhnya penyakit kanker tersebut. Sialnya kemotheraphy ini juga membawa efek samping yang luar biasa yaitu gugurnya rambut, hangusnya kulit, rusaknya panca indera dan lain-lain.
Efek samping inilah yang tidak di senangi oleh rakyat aceh.

Untuk mempercepat penyembuhan kanker tersebut maka di tambahkan therapy radiasi yang namanya raider, hal ini makin menambah panjang daftar efek samping yang harus di terima masyaralat aceh. Juga di tambah lagi dengan therapy pembedahan untuk mengangkat jaringan kanker tersebut di lakukan oleh dokter-dokter brimob.

Cuma karena dasar dokter-dokter brimob ini memang berpendidikan rendah, maka jaringan yang diangkat tidak hanya yang sakit saja, tapi juga jaringan yang sehat juga ikut jadi korban. (Pembakaran kampung di Bireuen).

Jadi kesimpulannya bagi bangsa aceh bahwa kalian berdua adalah pembawa penyakit bagi kami GAM, memang penyakit yang menggerogoti Aceh, sedangkan TNI dengan maksud mengobati tapi tetap juga menimbulkan rasa sakit bagi kami sebagai akibat efek samping pengobatan.
Nah dengan begitu akan timbul pertanyaan, siapa yang salah, GAM atau TNI, Penyakit atau obatnya ?

Dua-duanya salah, karena keduanya menimbulkan rasa sakit bagi kami. Lantas, bagaimana donk?
Yah, apa boleh buat kami terpaksa harus menelan pil pahit itu untuk bisa segera sembuh. Idealnya bagaimana ?

Yah, sebaiknya GAM tidak usah lagi jadi penyakit di Aceh, mereka segera sadar dan insaf. Karena dengan tidak adalagi penyakit dalam tubuh, maka tidak di perlukan lagi obat.
Kalau penyakitnya ringan, jangan seperti kanker GAM ganas, maka obatnyapun tak perlu yang canggih-canggih seperti Raidersitheraphy, yah cukup di obati oleh Balsem Polsek aja-lah.
Jadi bagaimana dengan penyakit ? apakah kalian siap pensiun dari penyakit, sehingga rakyat aceh bisa hidup nyaman tanpa perlu merasakan pahitnya obat resep si dokter mega dan tak pula merasakan efek sampingnya.

Karena bagaimanapun, penyakit tersebut tetap akan terus di sembuhkan oleh dokter RI (baca presiden) dengan obat-obatnya TNI. Bahkan sampai pasiennya mati sekalipun. Apakah kalian penyakit memang ingin melihat sang pasien mati ? Akibat ulah kalian dan efek samping obat ?

Wassalam

Apha Maop

awakaway@telkom.net
Indonesia
----------