Stockholm, 17 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

IKRAR DITYA SOEDARSONO TUTUPI PENJAJAHAN DI NEGERI ACEH OLEH SOEKARNO & MEGAWATI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS IKRAR DITYA SOEDARSONO UNTUK MENUTUPI PENJAJAHAN DI NEGERI ACEH OLEH SOEKARNO & MEGAWATI

"Nah kang Mamad, inilah upaya saya / PDMD sebagai referensi untuk dipublikasikan, ini tidak berbicara sekitar RIS dan caplok mencaplok. Tapi inilah salah satu program kemanusiaan nyata yang diberikan kepada saudaraku yang mendapat Rahmat Allah SWT. Silahkan kalau kang Mamad, Om Puteh, adinda Shahen Fasya, dll yang saat ini bisanya hanya menghujat mari kita berloba bagaimana agar Aceh ini segera damai. Tentunya dalam bingkai NKRI, setuju kawan-kawan milis!. Sekali lagi saya katakan kalau memang kecewa, sakit hati, dengki, frustasi, iri, dan dendam, itu lantas bisa membangkitkan dan menghidupkan saudara-saudara kita yang saat ini telah mati, serta rumah dan gedung-gedung sekolah yang hancur bisa terbangun kembali, mari kita lanjutkan terus perdebatan ini dengan segala macam argumentasi yang justru menghancurkan dan menceraiberaikan bangsa Indonesia. Tentunya untuk bangsa asing jangan lagi anda mengobok-obok bangsa Indonesia. Saya mengerti anda kecewa berat, tetapi itu akan lebih baik apabila anda jadikan keikhlasan demi kebahagiaan anda sendiri sebelum hari ajal menemuimu. Saudara sadarlah bahwa semua keadaan ini karena perbuatan diri sendiri yang pada akhirnya Allah jua yang menentukan"(Ditya Soedarsono , dityaaceh_2003@yahoo.com , Mon, 16 Feb 2004 23:04:37 -0800 (PST))

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono di Negeri Aceh.

Begini Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Ikrar yang sebelumnya telah dirancang, dipikirkan, dianalisa, didiskusikan, dituliskan, dan dicetakkan diatas kertas kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI dibawah Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati sebagai dan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, kemudian oleh Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono disebarluaskan dan dipublikasikan serta dikirmkan ke mimbar diskusi bebas mengenai Negeri Aceh dan referendum ini.

Ternyata setelah saya baca Ikrar yang telah disebarluaskan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono rupanya berisikan sumpah setia kepada NKRI yang telah menelan Negeri Aceh melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan mempergunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi oleh Presiden RIS Soekarno yang membagi Negara RI-Jawa-Yogya menjadi 10 daerah propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera - Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan, 8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil apabila RIS telah dilebur menjadi Negara RI-Jawa-Yogya. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera Utara, yang memasukkan wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa kerelaan, persetujuan, dan keikhlasan seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh.

Benar-benar hebat Kolonel Laut Ditya Soedarsono, salah seorang penerus Soekarno yang sekarang ditugaskan oleh Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya untuk membuat isi Ikrar guna dibacakan oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI agar selalu setia kepada NKRI dengan dasar negaranya pancasila beserta Konstitusinya UUD 1945.

Bagaimanan ini bisa terjadi Kolonel Laut Ditya Soedarsono ? Penerus Soekarno yang telah menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh dari rakyat Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950, kemudian sekarang, setelah 53 tahun, menganggap bahwa Negeri Aceh dianggap sebagai tanah milik NKRI. Sungguh suatu tindakan dan kebijaksanaan dari Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati sebagai dan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya yang membuat malu rakyat NKRI didepan dan dihadapan rakyat internasional dan pemerintah-pemerintah dunia lainnya

Apakah Kolonel Laut Ditya Soedarsono masih juga menutup mata, hati, dan telinga dari kebenaran fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang benar mengenai pencaplokan Negeri Aceh melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 ?.

Kalaulah saya adalah Kolonel Laut Ditya Soedarsono, betapa malu dan sedihnya memiliki seorang Presiden Negara RI, Presiden Negara RI 17 Agustus 1945, Presiden Negara RI-Jawa-Yogya, Presiden RIS, Presiden NKRI Soekarno yang dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945-nya menyatakan: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan", tetapi dalam prakteknya telah melanggar Pembukaan UUD 1945 itu sendiri dengan cara menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh masuk kedalam mulut Propinsi Sumatera Utara dan terus masuk kedalam tubuh NKRI dibawah pimpinan Presiden Soekarno ?.

Jelas Kolonel Laut Ditya Soedarsono, bahwa rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI adalah bukan pemberontak, justru sebaliknya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, yang disebut pemberontak dan gerombolan itu adalah Soekarno dan para penerusnya yang telah menelan Negeri Aceh yang secara de-jura dan de-facto yang dipimpin oleh Teuku Muhammad Daud beureueh pada tanggal 14 Agustus 1950 dimasukkan kedalam Tubuh NKRI yang UUD 1945-nya mengandung butiran-butiran pancasila hasil buah pikiran Soekarno yang dipidatokannya pada tanggal 1 Juni 1945 didepan sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) atau Dokuritzu Zunbi Cosakai yang terdiri dari 62 anggota dengan ketuanya Dr Rajiman Widiodiningrat dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang jenderal Angkatan Darat Jepang. BPUPK yang bersidang dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 juni 1945. Dimana tanggal 1 juni 1945 Soekarno menyampaikan pidatonya yang berisikan konsepsi usul tentang dasar falsafah negara yang diberi nama dengan pancasila yang berisikan 1. Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme, 2. Perikemanusiaan atau Internasionalisme, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang Maha Esa.

Nah Kolonel Laut Ditya Soedarsono, itu Soekarno yang membacakan pidato yang sebagian isinya berisikan sila-sila pancasila, ternyata 5 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1950 yang pada waktu itu sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) telah dengan sadar dan sengaja menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera Utara.

Bagaimana itu bisa terjadi, Kolonel Laut Ditya Soedarsono ?

Kemudian sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, membuat naskah ikrar yang sebagian isinya menyatakan :"akan selalu setia kepada NKRI yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945".

Hebat benar Kolonel Laut Ditya Soedarsono, Soekarno sang penjajah Negeri Aceh, 53 tahun yang lalu, kemudian sekarang hasil kerja pencaplokan Soekarno telah diakui menjadi milik NKRI, bagaimana itu bisa diterima oleh akal yang sehat, Kolonel Laut Ditya Soedarsono ?

Soekarno itu, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, seperti yang telah dijelaskan dan diterangkan sebelumnya, adalah seorang pemimpin yang penuh dengan semangat untuk mengurung dan mengikat serta memaksakan seluruh Negara-Negara dan Daerah-Daearah bekas Negara Bagian RIS dan Negeri-Negeri diluar RIS untuk berada dalam kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang dikontrol oleh orang-orang dari Jawa dan tidak memberikan ruang gerak terhadap keinginan, cita-cita dan nasib setiap suku atau bangsa yang berada dalam naungan dan lindungan NKRI. Dimana Soekarno kelihatan tidak mampu memimpin negara dengan bijaksana penuh dengan musyawarah, Soekarno hanya pandai menipu dan membohongi lawan politiknya, Soekarno hanya pandai menggunakan Angkatan Perang-nya untuk menguasai, menduduki dan menjajah Negara-Negara dan Daerah-Daerah serta Negeri lainnya.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI adalah bukan "pemberontak sparatis" seperti yang dinyatakan dalam ikrar yang dirancang, dianalisa, dipikirakan oleh Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya dan disebarkan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono, melainkan rakyat Aceh yang telah sadar menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI adalah menuntut kembali Tanah tumpah darah Negeri Aceh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dijajah oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan RIS yang satu hari kemudian melebur menjadi NKRI.

Jadi Kolonel Laut Ditya Soedarsono, bagaimana mungkin rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas merdeka dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah menjajah Negeri Aceh sejak 14 Agustus 1950 diasebut dengan "pemberontak sparatis" ?

Apakah Kolonel Laut Ditya Soedarsono tidak malu dan tidak punya pikiran yang waras menyatakan Negeri Aceh adalah milik NKRI padahal 53 tahun yang lalu tepatnya pada 14 Agustus 1950 Soekarno sebagai Presiden RIS telah menelan, mencaplok menggunakan mulut Propinsi Sumatera Utara untuk menelan Negeri Aceh masuk kedalam tubuh RIS dan selanjutnya masuk kedalam NKRI ?.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI bukan "melakukan pemberontakan" sebagai yang dinyatakan dalam ikrar tersebut, tetapi, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari NKRI mempertahankan dari serangan dan pembunuhan yang dilancarkan oleh pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI tidak mudah untuk dibohongi, ditipu, dirayu sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid dan sekarang Presiden Megawati agar "menyerahkan diri kembali kepangkuan NKRI" yang telah menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, sebenarnya, justru yang harus kembali sadar dan memahami apa yang menjadi akar masalah timbulnya gejolak di Negeri Aceh dari sejak teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 memproklamasikan Negara Islam Indonesia bebas dari pengaruh kekuasaan Pantja Sila atau NKRI dan juga apa yang telah diproklamasikan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada 4 Desember 1976 berdirinya Negara Aceh adalah dengan misi untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah menjajah Negeri Aceh dari sejak 14 Agustus 1950.

Jadi terakhir Kolonel Laut Ditya Soedarsono, saya menghimbau kepada Kolonel Laut, dan kepada Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong untuk segera menyadari bahwa apa yang telah dilakukan oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh oleh NKRI adalah suatu tindakan yang tidak beradab dan telah melanggar Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan"

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 16 Feb 2004 23:04:37 -0800 (PST)
From: Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>
Subject: IKRAR SAUDARAKU YANG MENDAPAT RAHMAT ALLAH SWT.
To: ahmad@dataphone.se
Cc: tang_ce@yahoo.com, asammameh@hotmail.com, om_puteh@hotmail.com,
achehnews@yahoogroups.com

BISMILLAHIRAHMANNIRAHIM
ASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH,

I K R A R

KAMI MANTAN PEMBERONTAK GAM DAN SIMPATISANNYA YANG TELAH DIBINA OLEH PENGUASA DARURAT MILITER DAERAH PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM, MANYAMPAIKAN IKRAR SEBAGAI BERIKUT:

1. AKAN SELALU SETIA KEPADA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA YANG BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945.

2. MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SETULUS-TULUSNYA ATAS SEGALA BIMBINGAN, PEMBINAAN, DAN KETERAMPILAN YANG TELAH DIBERIKAN SELAMA INI, DENGAN BERBEKAL MODAL KERJA YANG TELAH DIBERIKAN, KAMI SIAP KEMBALI KE MASYARAKAT UNTUK MENGABDIKAN DIRI DAN BERPARTISIPASI MEMBANGUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM YANG TERCINTA.

3. TIDAK AKAN TERPENGARUH LAGI OLEH BUJUKAN PARA PEMBERONTAK SPARATIS GAM WALAUPUN DIPAKSA DENGAN CARA APAPUN, APABILA DIKEMUDIAN HARI DIANTARA KAMI ADA YANG KEMBALI BERHIANAT KEPADA NEGARA DAN BANGSA INDONESIA, BERSEDIA MENDAPAT LAKNAT ALLAH DAN HUKUMAN YANG PALING BERAT.

4. KAMI KEMBALI MENGHIMBAU DAN MENGAJAK SAUDARA-SAUDARAKU YANG MASIH MELAKUKAN PEMBERONTAKKAN BERSENJATA AGAR MENYERAHKAN DIRI KEMBALI KEPANGKUAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA, KARENA APAPUN YANG DILAKUKAN AKAN MENYENGSARAKAN DIRI PRIBADI, KELUARGA, DAN MASYARAKAT ACEH SENDIRI.

DEMIKIANLAH IKRAR INI KAMI SAMPAIKAN DENGAN HARAPAN SEMOGA ALLAH SWT MERIDHOI NIAT DAN LANGKAH KAMI, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

KAMI 180 SAUDARAMU YANG TELAH KEMBALI KEPANGKUAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA; MENYUSUL 438 SAUDARAKU YANG TELAH KEMBALI.

Pada hari Saptu, 17 Februari 2004 merupakan hari bahagia 180 saudaraku telah kembali kemasyarakat setelah mendapat pembinaan dari Pemerintah Daerah, mereka terdiri dari: 10 orang dari Kabupaten Aceh Barat, 30 orang dari Kabupaten Nagan Raya, 17 orang dari Kabupaten Aceh Jaya, 88 orang dari Kabupaten Aceh Barat Daya, dan 35 orang dari Kabupaten Aceh Selatan.

Keterampilan yang diberikan dalam pelaksanaan pelatihan adalah:
1. Prosessing produk pertanian 31 orang,
2. Perbengkelan 33 orang,
3. Ketermpilan Las 36 orang,
4. Peternakan 32 orang,
5. dan Pertanian/Perkebunan 48 orang.

NAH.....KANG MAMAD,....!!!!! INILAH UPAYA SAYA/PDMD SEBAGAI REFERENSI UNTUK DIPUBLIKASIKAN,........INI TIDAK BERBICARA SEKITAR RIS DAN CAPLOK MENCAPLOK......!!!!!!! TAPI INILAH SALAH SATU PROGRAM KEMANUSIAAN NYATA YANG DIBERIKAN KEPADA SAUDARAKU YANG MENDAPAT RAHMAT ALLAH SWT.

SILAHKAN......KALAU KANG MAMAD,.....OM PUTEH,......ADINDA SHAHEN FASYA,.....DLL YANG SAAT INI BISANYA HANYA MENGHUJAT MARI KITA BERLOMBA......BAGAIMANA AGAR ACEH INI SEGERA DAMAI.......TENTUNYA DALAM BINGKAI NKRI......!!!!!!!!! SETUJU.......KAWAN-KAWAN MILIS...!!!!!!!

SEKALI LAGI SAYA KATAKAN.....KALAU MEMANG .....KECEWA,........ SAKIT HATI, ........... DENGKI,.........FRUSTASI,............IRI............DAN DENDAM,........ ITU ......LANTAS BISA MEMBANGKITKAN DAN MENGHIDUPKAN SAUDARA-SAUDARA KITA YANG SAAT INI TELAH MATI........SERTA RUMAH DAN GEDUNG-GEDUNG SEKOLAH YANG HANCUR BISA TERBANGUN KEMBALI...........MARI KITA LANJUTKAN TERUS PERDEBATAN INI............DENGAN SEGALA MACAM ARGUMENTASI YANG JUSTRU MENGHANCURKAN DAN MENCERAIBERAIKAN BANGSA INDONESIA.............TENTUNYA UNTUK BANGSA ASING JANGAN LAGI ANDA MENGOBOK-OBOK BANGSA INDONESIA.........SAYA MENGERTI ANDA KECEWA BERAT........TETAPI ITU AKAN LEBIH BAIK APABILA ANDA JADIKAN KEIKHLASAN DEMI KEBAHAGIAAN ANDA SENDIRI SEBELUM HARI AJAL MENEMUI SAUDARA..........SADARLAH BAHWA SEMUA KEADAAN INI KARENA PERBUATAN DIRI SENDIRI YANG PADA AKHIRNYA ALLAH JUA YANG MENENTUKAN.

WASALAM,

DITYA

dityaaceh_2003@yahoo.com
ACEH NAD
TANO RENCONG SARAMBO MAKKO.
----------