Stockholm, 17 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MAKANAN SARAPAN PAGI KEPALA KEJAKSAAN SWEDIA UNTUK YUDHOYONO DAN WIRAJUDA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ITU MAKANAN SARAPAN PAGI KEPALA KEJAKSAAN SWEDIA UNTUK YUDHOYONO DAN WIRAJUDA

"Pemerintah Swedia, khususnya pihak kejaksaan Swedia menyimpulkan telah cukup bukti alasan mengenai keterlibatan para pemimpin GAM dalam berbagai tindak kriminal di Aceh. Karena itu, Swedia telah memutuskan untuk meningkatkan status penyelidikan kepada para pemimpin GAM tersebut menjadi penyelidikan.Tepat pada hari Senin, 16 Februari 2004 pukul 10.00 waktu Stockholm atau pukul 16.00 WIB Swedia akan akan mengirim polisi dan jaksa penyidik ke Indonesia dalam waktu dekat Peningkatan status itu membuka peluang lebih besar bagi Swedia untuk mengajukan para pemimpin GAM ke pengadilan di Swedia."
(L.Meilany , wpamungk@centrin.net.id , Tue, 17 Feb 2004 17:16:06 +0700)

Baiklah saudari L. Meilany di Tangerang, Banten, Indonesia.

Itu hanya makanan sarapan pagi dari Kepala Kejaksaan Swedia Tomas Lindstrand untuk Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda.

Saudari Meilany, bagaimana bisa jujur, adil dan bijaksana apabila pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, dan Menlu Noer Hassan Wirajuda yang telah menggagalkan Meja Perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003. Seterusnya setelah JCM digagalkan, maka pada tanggal 19 Mei 2003 jam 00:00 Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati pengobarkan perang di Negeri Aceh dengan berlandasakan pada dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Saudari Meilany, yang betul saja, yang bikin ulah Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 sebagai Presiden RIS mencaplok Negeri Aceh melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi, dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera Utara, yang memasukkan wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa kerelaan, persetujuan, dan keikhlasan seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh.

Kemudian rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang semula sejak tanggal 20 September 1953 dipimpin Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan memproklamasikan NII di Aceh yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI. Kemudian disusul pada 4 Desember 1976 Teungku Hasan Muhammad di Tiro memproklamasikan negara Aceh Sumatera dengan misi untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI dituduh oleh pihak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan sekarang Presiden Megawati sebagai gerakan sparatis.

Bagaimana, apakah Presiden Megawati, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda sudah tidak waras, Soekarno yang mencaplok Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dan langsung ditelannya kedalam tubuh NKRI, kemudian yang dituduh menjadi gerakan sparatis adalah Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro?

Bagaimana, betul-betul tidak bisa masuk diakal ? Seorang pencuri menuduh kepada orang yang punya barang yang dicurinya sebagai orang yang ingin merampas barang hasil curiannya ?

Memang para penerus Soekarno di NKRI ini sudah sedemikian rusak mental dan pikirannya akibat pengaruh polusi hasil kerja Soekarno yang banyak menipu, licik dan tidak bisa dipercaya.

Saudari Meilany, itu Kepala Kejaksaan Swedia Tomas Lindstrand mengatakan hal itu karena memang sebagai hidangan untuk sarapan pagi Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda.. Mengapa ?

Jelas, dunia internasional sudah mengetahui bahwa memang benar di Aceh itu telah terjadi pelanggaran Hak Hak Asasi manusia yang paling parah di dunia. Apalagi ditambah dengan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Dunia internasional sudah mengetahui bahwa pada tanggal 19 Mei 2003 jam 00:00 Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, dan Presiden Megawati mengobarkan perang di Negeri Aceh dengan berlandaskan pada dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan mengirimkan lebih dari 50 000 pasukan TNI siap tempur, lewat darat, laut dan udara, hanya untuk sekedar menghadapi pasukan TNA Tentara Negara Aceh dari ASNLF atau GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang bila dibandingkan jumlahnya dengan pasukan yang dikirimkan oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak berarti.

Saudari Meilany, di Tangerang, Banten.

Jadi, itulah mengapa Kepala Kejaksaan Swedia sedikit buka mulut dengan maksud agar pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda sedikit senang, sebelum mereka berdua turun dari kursi menterinya setelah Pemilu mendatang ini.

Karena itu, berita yang keluar dari Kepala Kejaksaan Swedia Tomas Lindstrand anggap saja cerita angin lalu penghibur hati pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda yang sudah tidak berkutik menghadap Teungku Hasan Muhamamd di Tiro.

Coba pikirkan saja dengan hati yang jernih pikiran yang tajam, itu kan, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Menlu Noer Hassan Wirajuda secara sombong mengatakan ASNLF atau GAM dan TNA-nya akan bisa disapu bersih dalam jangka kurang dari tiga bulan dari sejak Keppres No. 28 Tahun 2003 dijalankan pada 19 Mei 2003 jam 00:00.

Lihat buktinya, sampai detik ini masih saja itu Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu kalang kabut pusing tujuh keliling.

Nah, disaat Menko Polkam Susilo Bambang, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu kalang kabut pusing tujuh keliling disodorkanlah oleh Kepala Kejaksaan Swedia Tomas Lindstrand sarapan pagi yang berisikan cerita ASNLF atau GAM akan diperiksa.

Orang yang tidak belajar di universitas saja paham maksud pihak Kepala Kejaksaan Swedia Tomas Lindstrand.

Itukan bukan masalah kasus tindak pidana biasa yang bisa jerat dengan undang undang pidana, atau apa namanya, melainkan kasus Negeri Aceh ini adalah kasus Negeri Aceh yang dicaplok, ditelan, diduduki dan dijajah oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara satu hari sebelum RIS dilebur kedalam NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950.

Jadi ini masalah penentuan nasib sendiri rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI yang telah mencaplok, menelan, menduduki dan menjajah Negeri Aceh oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950. Pemerintah Swedia memahaminya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "L.Meilany" <wpamungk@centrin.net.id>
To: <miranda_hnf@yahoo.co.uk>, <tang_ce@yahoo.com>,<ahmad@dataphone.se>
Cc: padhang-mbulan@yahoogroups.com
Subject: Ini berita baru, ini baru berita
Date: Tue, 17 Feb 2004 17:16:06 +0700

Hanya sekedar pemberitahuan.
Maaf jika sudah mengetahui.

KETERLIBATAN GAM DALAM BERBAGAI TINDAK KRIMINAL DI ACEH

Pemerintah Swedia, khususnya pihak kejaksaan Swedia menyimpulkan telah cukup bukti alasan mengenai keterlibatan para pemimpin GAM dalam berbagai tindak kriminal di Aceh. Karena itu, Swedia telah memutuskan untuk meningkatkan status penyelidikan kepada para pemimpin GAM tersebut menjadi penyelidikan.

Tepat pada hari Senin, 16 Februari 2004 pukul 10.00 waktu Stockholm atau pukul 16.00 WIB Swedia akan akan mengirim polisi dan jaksa penyidik ke Indonesia dalam waktu dekat Peningkatan status itu membuka peluang lebih besar bagi Swedia untuk mengajukan para pemimpin GAM ke pengadilan di Swedia.

Dikutip sebagian dari suratkabar....XXXX. Selasa 17 Februari 2004.
[ Sengaja tdk saya cantumkan nama suratkabarnya, takut nanti korannya di teror, wartawannya di culik GAM]..

Makanya buru2 saja Pak Ahmad Sudirman pulang ke indonesia, supaya tidak di tangkap polisi Swedia, supaya bisa kopdar [ketemuan] sama Pak Tato Suwarto.

L.Meilany

wpamungk@centrin.net.id
Tangerang, Banten
Indonesia
----------