Stockholm, 18 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TEUKU MIRZA, DITYA SOEDARSONO, MATIUS DHARMINTA, TATO SUWARTO SIAP SERAHKAN NEGERI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SEBENTAR LAGI TEUKU MIRZA, DITYA SOEDARSONO, MATIUS DHARMINTA, TATO SUWARTO SIAP SERAHKAN NEGERI ACEH

"Assalamu'alaikum wr wb. Hantam terus pak Ahmad Sudirman, biar mereka kehilangan akal sehatnya, sehingga bicara sudah tidak pakai akal lagi. Itulah tipe-tipe para penegak demokrasi di Indonesia, ujung-ujungnya pakai bedil. Teuku Mirza dan Apha Maop, itu sama orangnya, dia-dia juga! hanya pakai dua alamat email, jadi tak usah dilayani kalau memang sudah tidak pakai otak sehat lagi, sudah maki-maki dan kasar. Ada lagi seseorang yang namanya, Agus Hermanto, itu orang juga tidak sopan, sebab bahasanya kalau ngatain orang sangat kasar dan tak pakai otak, maklum ada beking TNI. Sekarang sudah ganti nama, Tato Suwarto, saya kira dia-dia juga, antara Ditya Soedarsono, yang ngaku juru bicara TNI-NAD. Tapi nampaknya Ditya adalah pura-pura. Wallahu A'lam. Padahal pak Dirman hanya pakai dasar dan bukti dari buku-buku yang mereka/NKRI keluarkan saja, tapi mereka sendiri meragukannya dan mereka sudah kalang kabut, bagaimana ini cara berdebat ala bangsa NKRI? akhirnya juga tidak percaya terhadap hukum yang dikeluarkan oleh mereka sendiri, yang dibuat oleh MPR mereka. Makanya dalam dialog dengan GAM di Tokyo, para wakil RI harus keluar dari sidang dan marah-marah, lalu telpon bossnya di Jakarta, dengan nada menyalahkan GAM, pada hal wakil RI sendiri kalah debat.. ya.. akhirnya pakai senjata! (Muhammad Dahlan , tang_ce@yahoo.com, Wed, 18 Feb 2004 03:55:13 -0800 (PST))

"Anda ngantuk atau tidur atau mimpi. Kenyataannya Aceh masih bagial integran dari RI dan dunia internasional juga mengakui demikian dan sebentar lagi juga Hasan Tiro cs digelandang ke hotel rodeo (mudah-mudahan), kenapa juga saya yang kehilangan akal bicara Anda terbalik-balik. Tuan"
(Teuku Mirza , teuku_mirza2000@yahoo.com , Wed, 18 Feb 2004 02:41:51 -0800 (PST))

"Nyatanya yang anda minta sambil merengek-rengek hanyalah masalah merdeka, referendum, cerai dari NKRI, dan anda akan kawin dengan Jawa Sundanya kang Cepot yang sama sependeritaan. Udalah kang Nor, kalau aku mau cerita buanyak buanget, tapi kerjaan gue, bukan hanya ketik di milis aja, tapi sebagai saudara yang baik nih gue kirimin berita menarik" (Ditya Soedarsono , dityaaceh_2003@yahoo.com , Wed, 18 Feb 2004 03:23:19 -0800 (PST))

"congok: bung A. Sudirman bilang, ikrar Ditya Soedarsono tutupi penjajahan di negeri Aceh oleh Soekarno & Megawati..cangak: tujuan utamanya, bung A.Sudirman untuk menutupi kebohonganya sendiri yang selama ini selalu di kibar-kibarkan tuk meneror rakyat. Lagian penjajahan di Aceh itukan cuma, sekali lagi cuma, versi bung A.Sudirman dan kelompoknya aja..congok: rupanya ikrar Ditya Soedarsono, merupakan sumpah setia pada NKRI yang telah menelan Aceh melalui Sumatra Utara..cangak: ikrar sumpah setia pada negara, itu merupakan kesetiaan/ kecintaan/ kepedulian/ keloyalan seseorang atas bangsa dan negaranya. Tapi soal telan telanan, caplok caplokan, duduk dudukan, RI RIS, RI Jawa-Yogya, itu semua hanya merupakan bahasa hapalan dan hayalan bung A.Sudirman. dan semua itu tentu tidak bermanfaat, kecuali didalam kelompoknya/ gerombolnya. Jadi kagak perlu risau.."(Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com, Tue, 17 Feb 2004 21:37:59 -0800 (PST))

Baiklah saudara Muhammad Dahlan di Australia, Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD Kolonel Laut Ditya Soedarsono di Negeri Aceh, Teuku Mirza di Jakarta, saudara Matius Dharminta di Surabaya, dan saudara Tato Suwarto di Jakarta.

Memang benar seperti yang dikatakan saudara Muhammad Dahlan di Australia: "Itulah tipe-tipe para penegak demokrasi di Indonesia, ujung-ujungnya pakai bedil. Padahal pak Dirman hanya pakai dasar dan bukti dari buku-buku yang mereka/NKRI keluarkan saja, tapi mereka sendiri meragukannya dan mereka sudah kalang kabut, bagaimana ini cara berdebat ala bangsa NKRI?".

Dan tentu saja saya mengerti dan paham pemikiran saudara Dahlan ini, coba saja perhatikan, semua tanggapa mereka yang dikirimkan kepada saya, yang saya muatkan diatas itu, mana ada yang bisa digolongkan kepada tanggapan yang benar, jelas, kuat dan ilmiah.

Lihat saja, tanggapan dari Teuku Mirza yang sudah mendapat pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia. Dengan alasan seperti itu kan Negeri Aceh sebentar lagi akan lepas. Tunggu saja Teuku Mirza, jangan khawatir.

Begitu juga perhatikan tanggapan dari saudara Tato Suwarto, yang hanya berkelit disekitar sumpah pemuda 28 Oktober 1928, janji Marsekal Terauchi di Saigon untuk memberikan kemerdekaan kepada Soekarno cs, BPUPKI, PPKI, menggodog Piagam Jakarta, dan terakhir Instruksi No.I/MBKD/1948 serta tidak ketinggalan pengibaran bendera merah putih di Negeri Aceh pada tanggal 15 Oktober 1945.

Coba perhatikan juga itu wartawan Jawa Pos dari Surabaya Matius Dharminta, tanggapannya dari itu ke itu saja. Tidak ada perubahan apapun. Kalau tidak congok ganti cangak.

Tidak sampai disitu saja, perhatikan juga itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono arek Suroboyo yang dapat tugas dari Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya untuk menjabat sebagai Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Prov.NAD dalam tanggapannya kalau tidak menyebut cepot atau dawala, rasanya tidak sah memberikan tanggapannya.

Jadi, setelah beberapa lama dibuka diskusi masalah Negeri Aceh dan referendum bagi seluruh rakyat di Negeri Aceh di mimbar bebas ini, ternyata tidak seorangpun dari pihak Kolonel Laut Ditya Soedarsono Cs, termasuk juga Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong , yang mampu mempertahankan pendudukan, pencaplokan, penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI yang dijalankan oleh Soekarno pada 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebut menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950 dengan melalui dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi oleh Presiden RIS Soekarno yang membagi Negara RI-Jawa-Yogya menjadi 10 daerah propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera - Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan, 8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil apabila RIS telah dilebur menjadi Negara RI-Jawa-Yogya. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera Utara, yang memasukkan wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa kerelaan, persetujuan, dan keikhlasan seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh, dengan argumentasi yang berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah.

Jadi, saudara Muhammad Dahlan, sekarang kita sudah mengetahui sejauh mana kwalitas dan kemampuan mereka dalam memecahkan persoalan yang timbul di NKRI, khususnya di Negeri Aceh ini.

Kalau memperhatikan orang-orang model Kolonel Laut Ditya Soedarsono, Teuku Mirza, saudara Apha Maop, saudara Matius Dharminta, saudara Tato Suwarto, saudara Sagir Alva, termasuk juga Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda selaku Panguasa Darurat Militer Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Mayjen TNI Endang Suwarya, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Jaksa Agung M.A. Rachman, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, dengan kwalitas dan kemampuan mereka dalam memecahkan persoalan yang timbul di NKRI, khususnya di Negeri Aceh ini, jelas makin terpuruk saja NKRI ini. Dan tentu saja Negeri Aceh sebentar lagi akan dapat diperoleh kembali oleh seluruh rakyat Aceh.

Nah inilah sedikit gambaran dari sebagian para peserta diskusi yang telah memberikan tanggapan mereka kepada saya mengenai Negeri Aceh dan referendum di mambar bebas ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 18 Feb 2004 03:55:13 -0800 (PST)
From: muhammad dahlan <tang_ce@yahoo.com>
Subject: Re: TATO SUWARTO & TEUKU MIRZA KEHABISAN ALASAN AKHIRNYA MAJUKAN INSTRUKSI NO.I/MBKD/1948 & PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Assalamu'alaikum wr wb.

Hantam terus pak Ahmad Sudirman, biar mereka kehilangan akal sehatnya, sehingga bicara sudah tidak pakai akal lagi. Itulah tipe-tipe para penegak demokrasi di Indonesia, ujung-ujungnya pakai bedil. Teuku Mirza dan Apha Maop, itu sama orangnya, dia-dia juga! hanya pakai dua alamat email, jadi tak usah dilayani kalau memang sudah tidak pakai otak sehat lagi, sudah maki-maki dan kasar. Ada lagi seseorang yang namanya, Agus Hermanto, itu orang juga tidak sopan, sebab bahasanya kalau ngatain orang sangat kasar dan tak pakai otak, maklum ada beking TNI. Mana ada TNI yang pakai otak dan perasaan, mereka hanya pakai perintah atasan. itulah bedanya TNI dan manusia! Sekarang sudah ganti nama, Tato Suwarto, saya kira dia-dia juga, antara Ditya Soedarsono, yang ngaku juru bicara TNI-NAD. tapi nampaknya Ditya adalah pura-pura. Wallahu A'lam.

Penjajah itu adalah sama dengan penipu, jadi pembantu penjajah juga tidak segan-segan menipu, walaupun membawa dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist Nabi SAW. tapi tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah supaya dpat mengesahkan dan membenarkan tipu-daya dan jajahan mereka.

Pada hal pak Dirman hanya pakai dasar dan bukti dari buku-buku yang mereka/NKRI keluarkan saja, tapi mereka sendiri meragukannya dan mereka sudah kalang kabut, bagaimana ini cara berdebat ala bangsa NKRI? akhirnya juga tidak percaya terhadap hukum yang dikeluarkan oleh mereka sendiri, yang dibuat oleh MPR mereka.

Makanya dalam dialog dengan GAM di Tokyo, para wakil RI harus keluar dari sidang dan marah-marah, lalu telpon bossnya di Jakarta, dengan nada menyalahkan GAM, pada hal wakil RI sendiri kalah debat.. ya.. akhirnya pakai senjata!

Terimakasih,

Muhammad Dahlan

tang_ce@yahoo.com
Australia
--------

Date: Wed, 18 Feb 2004 02:41:51 -0800 (PST)
From: teuku mirza <teuku_mirza2000@yahoo.com>
Subject: Re: TATO SUWARTO & TEUKU MIRZA KEHABISAN ALASAN AKHIRNYA MAJUKAN INSTRUKSI NO.I/MBKD/1948 & PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>,rakyat NKA <rakyat_nka@yahoo.com>,Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>,

Anda ngantuk atau tidur atau mimpi....kenyataannya Aceh masih bagian integral dari RI dan dunia internasional juga mengakui demikian...dan sebentar lagi juga hasan tiro cs digelandang ke hotel rodeo (mudah-mudahan), kenapa juga saya yang kehilangan akal....bicara Anda terbalik-balik...Tuan

Teuku Mirza

teuku_mirza2000@yahoo.com
teuku_mirza@hotmail.com
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Wed, 18 Feb 2004 03:23:19 -0800 (PST)
From: Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>
Subject: Fwd: DITYA , SOEDARSONO LICIK TAPI KURANG CERDIK.
To: imahnor@hotmail.com
Cc: tang_ce@yahoo.com, asammameh@hotmail.com, om_puteh@hotmail.com, melpone2002@yahoo.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, ahmad@dataphone.se,

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Saudaraku imah nor, bagaimana anda bisa menerima argumen seseorang........sedangkan diberi salam oleh saudaranya yang beragama islam saja jawaban anda seperti dibawah ini.......
mualaikumusalam.
Semoga Allah SWT selalu mengampuni saudaranya yang hilaf......karena ketidak mengertiannya......
saya bersyukur........kalau anda katakan "LICIK TAPI KURANG CERDIK".........betapa berbahayanya saya kepada.....dunia yang fana ini apabilah saya ini "LICIK TAPI CERDIK"......Bisa-bisa dunia ini.....bangsa ini......rakyat ini........bisa hancur lebur dong....!!!!!!!!
kang nor........seandainya ada anak anda, yang tidak mao menurut aturan babaknya........apakah setelah anda ingatkan......terus anda biarkan begitu saja..........
marilah kita lihat apa yang terjadi.........dengan hijrahnya mereka dari faham separatis kefaham NKRI saja itu adalah karunia dari Allah SWT........ya contohnya anda Imah Nor selama Allah SWT tidak berkenan mengingatkan anda...!!!!! maka salam dari sesama mukmin saja dijawab seperti menjawab salam dari orang non muslim..........padahal kewajiban menjawab salam itu sangat ditekankan:
Apabilaorang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah "Salamamun 'alaikum". Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasannya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS; AL AN'AAM, 54)
Lho apa tidak keliru apabila saudaraku imah nor yang mengajak aku berpikir pada jalan yang benar........padahal dari jawaban salam yang anda tebarkan saja sudah tidak tepat apabilah anda mengatakan ingin menuju kebenaran.......kebenaran seperti apa yang anda maksudkan.....kebenaran untuk kepentingan anda .....dan menurut anda dan kelompok anda.......atau kebenaran untuk orang banyak........demi kepentingan banyak orang........coba apakah anda berpikir.....tentang bagaimana mengurangi pengangguran di Aceh.....kebodohan karena gedung-gedung sekolah anda hancur leburkan.......kemiskinan dimana-mana.........sawah-ladang tidak dikerjakan karena takut pada gerombolan anda ........tambak-tambak ditelantarkan........karena takut toh nantinya bila saatnya panen gerombolan anda langsung mematok pajak Nanggroe.........banyak lagi yang harus kita benahi.........termasuk korupsi........dan segala pemalsuan-pemalsuan ijazah.......para wakil rakyat.......dan banyak lagi.......
Nyatanya........yang anda minta sambil merengek-rengek hanyalah .......masalah MERDEKA........REFERENDUM..........CERAI DARI NKRI.........DAN ANDA AKAN KAWIN DENGAN JAWA SUNDANYA........KANG CEPOT.......YANG SAMA SEPENDERITAAN
Udalah kang Nor,......kalau aku mau cerita buanyak buanget.........tapi kerjaan gue......bukan hanya ketik di milis aja.............tapi sebagai saudara yang baik ......nih gue kirimin berita menarik........
 

DITYA

dityaaceh_2003@yahoo.com
ACEH NAD
TANO RENCONG SARAMBO MAKKO.
--------

Date: Tue, 17 Feb 2004 21:37:59 -0800 (PST)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: IKRAR DITYA SOEDARSONO TUTUPI PENJAJAHAN DI NEGERI ACEH OLEH SOEKARNO & MEGAWATI
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Cc: PPDI@yahoogroups.com

congok: bung A. Sudirman bilang, ikrar Ditya Soedarsono tutupi penjajahan di negeri Aceh oleh Soekarno & Megawati..
cangak: tujuan utamanya, bung A.Sudirman untuk menutupi kebohonganya sendiri yang selama ini selalu di kibar-kibarkan tuk meneror rakyat. Lagian penjajahan di Aceh itukan cuma, sekali lagi cuma, versi bung A.Sudirman dan kelompoknya aja..
congok: rupanya ikrar Ditya Soedarsono, merupakan sumpah setia pada NKRI yang telah menelan Aceh melalui Sumatra Utara..
cangak: ikrar sumpah setia pada negara, itu merupakan kesetiaan/ kecintaan/ kepedulian/ keloyalan seseorang atas bangsa dan negaranya. Tapi soal telan telanan, caplok caplokan, duduk dudukan, RI RIS, RI Jawa-Yogya, itu semua hanya merupakan bahasa hapalan dan hayalan bung A.Sudirman. dan semua itu tentu tidak bermanfaat, kecuali didalam kelompoknya/ gerombolnya. Jadi kagak perlu risau..
congok: ooo..pembohong teriak penipu...

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Jawa Pos
Surabaya, Indonesia
----------