Stockholm, 19 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

ACEH BUKAN BAGIAN NKRI, ACEH YANG BERDIRI SENDIRI DITELAN RIS-NKRI-SOEKARNO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ACEH BUKAN BAGIAN NKRI, NEGERI ACEH YANG BERDIRI SENDIRI DITELAH RIS YANG MELEBUR JADI NKRI DIBAWAH PIMPINAN SOEKARNO

"Saudara Dirman, seiring perjuangan dan kegigihan Saudara untuk berkampanye memisahkan Aceh dari NKRI, maka dalam kerangka dan frame mana Saudara akan mendudukkan Aceh dengan Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah? kalau Saudara Dirman menulis tentang Khilafah Islam, maka akan diletakkan dalam kerangka mana kalau Aceh itu dipisahkan dari NKRI?"
(Mudatsir , rofiq@kmlseafood.com , Thu, 19 Feb 2004 15:21:08 +0700)

"Saya turut menyesal membaca harin Serambi Indonesia kemarin yang memberitakan mengenai penyelidikan kasus Tgk. Hasan di Tiro oleh kejaksaan Sweden. Saya menjadi prihatin dengan kebijakan yang tidak menghargai kemanusiaan ini. Di satu sisi, saat bangsa Acheh sedang menghadapi serangan militer datri GoI dan di sisi lain Sweden mengorbankan warganya demi kepentingan diplomatiknya, ini sungguh suatu hal yang sangat tidak terpuji yang dilakukan oleh Sweden. Pada pendapat saya, Sweden seharusnya kembali menekan GoI supaya menegakkan HAM di Acheh, baru kemudian dapat diselidiki masalah apa yang dituduhkan kepada Wali. Hal yang terlihat pada saya adalah GoI hampir berhasil mengelabui dunia International dengan mengatakan bahwa Sweden melindungi terrorist padahal mereka sendiri melakukan hal yang sangat biadab "pembantaian rakyat tak berdosa"."
(Ubai Dullah , maklaha@yahoo.com , Thu, 19 Feb 2004 01:41:49 -0800 (PST))

"Kalau ngga siap dikritisi orang ngga usah ngritisi oranglah. Sampean itu kalau memang mau bela rakyat Aceh..Datang aja ke Aceh, jangan hanya bersembunyi di negeri orang, apa artinya ada berjuang kalau hanya pandai berteriak doang. Aceh dlm bingakai NKRI itu udah final ngga ada caplok mencaplok klu anda tidak puas dgn Jakarta itu wajar dan manusiawi..Dimana-mana ngga ada yang sempurna. Ngga perlu sampai "membutakan orang" dan memaksakan satu hukum yang anda anggap benar."
(Shogun Mayeda , shogunmayeda@yahoo.com , 19 februari 2004 07:28:14 )

"Bung A.sudirman kagak merasa bahwa selama ini opininya, walau di plintir-plintir, di bulet-bulet, di jungkir balik, toh pada intinya juga dari itu ke itu juga kan? Cuma aku orang tidak suka mbulet kayak benang ruwet seperti bung A.sudirman. weleh weleeh.. jadi selama ini bung A.sudirman tidak merasa? kalau opininya hanya berputar-putar sekitar caplok-caplokan, telan-telanan, duduk-dukukan dan jajah-jajahan. Udah telanjur rewet kali bung, sampai-sampai tak terasa."
(Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , Thu, 19 Feb 2004 00:38:32 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Mudatsir di ITB, Bandung, Indonesia, saudara Ubai Dullah di Moscow, Rusia, saudara Shogun Mayeda di Jakarta, dan saudara wartawan Jawa Pos di Surabaya, Indonesia.

Baiklah.
Pertama saya jumpai saudara Mudatsir di ITB, Bandung, Indonesia.

Saudara Mudatsir menulis "Saya adalah salah satu orang yang menginginkan kembali tegaknya Daulah Khilafah Islam. Saya menulis hal ini karena Saudara Dirman mengkalim telah menulis tentang Khilafah dan Undang Undang Madinah. Saya berharap sebelum kita diskusi tentang Aceh, Jawa Penjajah, caplok-mencaplok, menelan dan lain sebagainya kita punya pandangan yang dan persepsi yang sama tentang Khilafah Islam. Karena kami berkeyakinan bahwa Aceh adalah bukan milik orang Aceh, jawa bukanlah milik suku bangsa Jawa, Aceh, Jawa, Sumatera, Sulawesi adalah milik kita umat Islam"

Begini saudara Mudatsir. Persoalan Negeri Aceh adalah persoalan yang diciptakan dan dibuat oleh Soekarno. Mengapa ? Karena Negeri Aceh yang telah berdiri sendiri secara de-jure dan de-facto kemudian pada tanggal 14 Agustus 1950 oleh Presiden RIS Soekarno ditelan, dicaplok, melalui mulut Propinsi Sumatera Utara kemudian diduduki, dan dijajah oleh NKRI sampai detik ini.

Nah, sekarang saya menginginkan itu Negeri Aceh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah Soekarno dikembalikan lagi kepada rakyat Aceh melalui cara damai yaitu jajak pendapat atau referendeum.

Nah selanjutnya menyinggung DIR, kalau saudara Mudatsir mau melihat awal tegaknya Daulah Islam Rasulullah, bukan di Mekkah, dan bukan di seluruh Jajirah Arab, melainkan di daerah Yatsrib (sekarang Madinah). Mengapa ?. Karena daerah Yatsrib adalah daerah tempat hijrah Rasulullah saw. DiYatsrib inilah Rasullah saw membuat Undang Undang Madinah. Mengapa Rasulullah tidak membuat UUM di Mekkah, tetapi justru di Yatsrib ?

Karena, jelas setelah kekuatan kaum muslimin di bawah Rasulullah telah matang dan solid, sehingga datanglah perintah hijrah. Dimana hijrah ini merupakan suatu langkah politik untuk menghadapi kekuatan politik kekuasaan Quraisy. Karena tidaklah mungkin kekuatan politik dan kekuasaan Walid bin Mughirah dari Penguasa Quraisy dihancurkan dari dalam melalui perjuangan politik yang melibatkan Rasulullah kedalam kekuatan dan kekuasaan politik Walid bin Mughirah di Kekuasaan Quraisy.

Setelah hijrah inilah Rasulullah membangun Daulah Islam Rasulullah yang merupakan alat dan sarana dalam rangka menerapkan, melaksanakan dan mengawasi hukum-hukum Allah SWT yang telah difirmankan melalui Rasul-Nya Muhammad saw, yang juga sekaligus merupakan suatu alat dan sarana kekuatan politik Islam untuk menghadapi kekuatan politik yang dilancarkan oleh Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy yang anti Tuhan. Adapun tujuan kaum muslimin adalah untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT. Ternyata, memang benar bahwa, perjuangan politk Rasulullah yang konfrontasi melawan pengaruh kekuasaan politik Walid bin Mughirah dari Penguasa Quraisy akhirnya berhasil.

Nah dari penjelasan singkat padat ini saya harap saudara Mudatsir bisa mengambil apa yang terkandung dalam uraian singkat saya tersebut.

Selanjutnya, saya akan jumpai saudara Ubai Dullah di Moscow, Rusia.

Saudara Ubai Dullah menulis: "Saya menjadi prihatin dengan kebijakan yang tidak menghargai kemanusiaan ini. Di satu sisi, saat bangsa Acheh sedang menghadapi serangan militer datri GoI dan di sisi lain Sweden mengorbankan warganya demi kepentingan diplomatiknya, ini sungguh suatu hal yang sangat tidak terpuji yang dilakukan oleh Sweden. Pada pendapat saya, Sweden seharusnya kembali menekan GoI supaya menegakkan HAM di Acheh, baru kemudian dapat diselidiki masalah apa yang dituduhkan kepada Wali."

Saudara Ubai Dullah, saya memahami rasa prihatin saudara Ubai mengenai apa yang diberitakan dalam surat kabar Serambi Indonesia 18 Februari 2004.

Tetapi, saudara Ubai, jangan khawatir. Masalah yang dikemukakan oleh Kepala Kejaksaan Swedia Tomas Lindstrand itu kan hanya sebagai satu jawaban dari pihak Pemerintah Swedia atas apa yang dinamakan bukti-bukti dari pihak Pemerintah NKRI terhadap ASNLF atau GAM yang dituduh terlibat dalam berbagai peledakan bom.

Dimana pada Selasa, 10 Juni 2003 tahun lalu, tim khusus yang dipimpin oleh mantan Menlu Orba Ali Alatas tangan kanan mantan Presiden RI jenderal diktator militer Soeharto dengan rombongannya yang terdiri dari Badan Intelijen Negara (BIN), Deplu, bagian pidana umum Polri dan akhli hukum internasional telah bertemu dengan Menlu Swedia Anna Lindh Cs, Menteri Kehakiman Swedia Thomas Bodstrom, Ketua Komisi Luar Negeri Parlemen Swedia Urban Ahlin dan sekretaris Kabinet Lars Danielsson .

Tim Ali Alatas ini telah menyerahkan bukti-bukti yang dianggap tindak pidana terorisme yang berasal dari kasus peledakan bom di Bursa Efek Jakarta tanggal 13 September 2000, Mall Atrium tanggal 23 September 2001, Bina Graha Cijantung Mall tanggal 1 Juli 2002, Balai Kota Medan tanggal 31 Maret 2003, dan di Jalan Belawan Deli Medan tanggal 1 April 2003 hasil saringan Perpu nomor 1 & 2 tahun 2002 kumpulan Badan Intelijen Negara (BIN) yang mengandung tindak pidana terorisme yang dituduhkan kepada Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan sekaligus dituduh sebagai penanggung jawab tindakan terorisme di wilayah hukum Indonesia

Dimana bukti-bukti yang dianggap tindak pidana terorisme ini disaring dengan Perpu nomor 1 & 2 tahun 2002 kumpulan Badan Intelijen Negara (BIN) yang dikumpulkan kedalam bentuk dokumen yang berisikan bagaikan cerita roman yang tebalnya hampir 1000 halaman itu telah diserahkan kepada Menteri Kehakiman Swedia Thomas Bodstrom, yang selanjutnya kumpulan bagai cerita roman yang berisikan cerita yang dianggap pembawa wabah terorisme itu oleh Thomas Bodstrom diserahkan kepada pihak Kepolisian dan pihak Kejaksaan.

Ada kelemahan dari apa yang dijadikan dasar bukti yang disodorkan pihak Ali Alatas itu yaitu yang lebih menekankan kepada tindakan terorisme. Dimana tentu saja kelemahan dari bukti-bukti yang mengarah kepada tindakan terorisme itu diungkapkan Thomas Bodstrom bahwa apakah isi dokumen itu bisa dijadikan bukti hal itu tergantung kepada pihak Kepolisian dan Kejaksaan.

Karena dalam sistem hukum Swedia yang berlaku, badan Kepolisian dan Kejaksaan adalah berdiri sendiri dan sangat dihormati. Selanjutnya dokumen itu akan diserahkan kepada Jaksa Penuntut. Adapun menyangkut istilah terorisme, memang begitu samar. Uni Eropa telah membuat definisi mengenai terorisme ini, begitu juga di Swedia istilah terorisme telah didefinisikan oleh Parlemen dan telah dibuat undang-undang terorisme yang diundangkan dan diberlakukan 1 Juli 2003 tahun lalu. Kalau isi dokumen itu menyangkut terorisme, tentu saja tidak akan bisa terjerat oleh undang-undang terorisme yang berlaku 1 Juli 2003 itu.

Nah, memang bisa saja itu dokumen yang katanya berisikan bukti-bukti menurut hasil saringan Perpu nomor 1 & 2 tahun 2002 kumpulan Badan Intelijen Negara (BIN) mengandung tindak pidana terorisme di sampaikan ke pihak Kepolisian Swedia dan pihak Kejaksaan untuk selanjutnya dijadikan bahwa penyelidikan lebih lanjut oleh pihak Kejaksaan dan pihak Kepolisian Swedia terhadap para tokoh GAM di Swedia.

Hanya tentu saja, sejauhmana dokumen itu bisa dijadikan sebagai bukti untuk dijadikan dasar penuntutan terhadap para tokoh GAM di depan pengadilan Swedia. Hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Apalagi kalau dilihat ke sudut yang mengarah pada tindakan terorisme, maka itu sudah bisa dipastikan bahwa undang-undang hukuman tindak pidana terorisme yang telah disyahkan oleh Parlemen Swedia pada tanggal 24 April 2003, tetapi baru diundangkan dan diberlakukan pada tanggal 1 Juli 2003 yang tahun lalu, tidak bisa dipakai untuk dijadikan dasar hukum bukti-bukti tuduhan dari pihak NKRI yang mempergunakan dasar hukum Perpu nomor 1 & 2 tahun 2002 kumpulan Badan Intelijen Negara (BIN), karena bukti-bukti tersebut itu dikumpulkan sebelum undang-undang hukuman tindak pidana terorisme diberlakukan di Swedia tanggal 1 Juli 2003.

Kemudian kalau ada juga bukti-bukti yang dikirimkan kemudian setelah tanggal 1 Juli 2003, itupun masih perlu diselidiki lebih dalam.

Kemudian motif dan tujuan utama dari pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda dan Presiden Megawati mengirimkan bukti-bukti yang menyangkut kasus peledakan bom di Bursa Efek Jakarta tanggal 13 September 2000, Mall Atrium tanggal 23 September 2001, Bina Graha Cijantung Mall tanggal 1 Juli 2002, Balai Kota Medan tanggal 31 Maret 2003, dan di Jalan Belawan Deli Medan tanggal 1 April 2003 hasil penapis serbuk teroris Perpu nomor 1 & 2 tahun 2002 kumpulan Badan Intelijen Negara (BIN) kepada Menlu Swedia Anna Lindh Cs dan Menteri Kehakiman Swedia Thomas Bodstrom pada hari Selasa, 10 Juni 2003 yang lalu adalah untuk memisahkan tokoh-tokoh GAM di Swedia dengan rakyat Aceh.

Karena selama tokoh-tokoh GAM, khususnya yang ada di Swedia masih dianggap mempunyai hubungan langsung dengan rakyat Aceh, maka menurut Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda dan Presiden Megawati persoalan Aceh tidak akan selesai.

Jadi, untuk saudara Ubai Dullah, jangan khawatir, saya sudah bisa menebak, bahwa apa yang diungkapkan oleh pihak Kepala kejaksaan Swedia 16 Februari 2004 itu hanyalah sebagai satu jawaban dari pihak Pemerintah Swedia yang telah menerima bukti-bukti yang dikirimkan oleh tim khusus yang dipimpin oleh mantan Menlu Orba Ali Alatas, 10 Juni 2003, tahun lalu.

Singkatnya, biar itu Kepala Kejaksaan Swedia ada sedikit kerjanya, biar Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Menlu Noer Hassan Wirajuda dan Presiden Megawati sebelum Pemilu hatinya sedikit lega, juga agar ada bahan kampanye bahwa Wali Negara Negara Aceh akan diadili di Swedia. Itukan jadi bahan kampanye mereka, biar dipilih lagi dan berhasil membereskan di Negeri Aceh. Mereka itu memang pandai berbohong dan menipu, mereka itu para penerus Soekarno.

Seterusnya saya jumpai saudara Shogun Mayeda di jakarta, Indonesia.

Saudara Shogun Mayeda menulis: "Kalau ngga siap dikritisi orang ngga usah ngritisi oranglah. Sampean itu kalau memang mau bela rakyat Aceh..Datang aja ke Aceh, jangan hanya bersembunyi di negeri orang, apa artinya ada berjuang kalau hanya pandai berteriak doang. Aceh dlm bingakai NKRI itu udah final ngga ada caplok mencaplok klu anda tidak puas dgn Jakarta itu wajar dan manusiawi..Dimana-mana ngga ada yang sempurna. Ngga perlu sampai "membutakan orang" dan memaksakan satu hukum yang anda anggap benar."

Untuk sekedar diketahui oleh saudara Shogun, saya sudah biasa dikritik, dan saya paling tahan bantingan kritik, jadi kalau saya mengatakan buta kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono, itu bukan karena saya tidak siap dikritik.

Coba tanya saja kepala Kolonel Laut Ditya Soedarsono, apakah Ahmad Sudirman tahan bantingan kritik atau tidak Kolonel Laut arek suroboyo yang senangnya panggil cepot atau dawala, dasar arek jowo, maling apu dari Negeri Aceh ?

Soal Negeri Aceh belum final masuk NKRI, saudara Shogun Mayeda. Jangan seenaknya ngaku-ngaku Negeri Aceh milik NKRI.

Saudara Shogun Mayeda tahu, itu Negeri Aceh dicuri dan diduduki kemudian dijajah Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950?. Apakah saudara Shogun Mayeda pada tanggal 14 Agustus 1950 sudah lahir atau belum ? Kalau belum lahir, tanya kepada yang sudah lahir, atau tanya kepada saya .

Lalu, itu nama "sudirman" itu bukan milik orang Jawa. Saudara Shogun tahu nama "sudirman" itu diimport dari India sana. Jadi, bukan merek nama asli Jawa. Itu nama Import dari India.

Kemudian saya tidak sembunyi di Stockholm dan tidak bersembunyi di Negeri orang. Untuk apa sembunyi. Kalau saudara punya uang silahkan datang ke Stockholm jumpa saya.

Seterusnya saya akan datang ke Indonesia:

Pertama, setelah dicabut Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Kedua, setelah diberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan dan memberikan suaranya YA atau TIDAK untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas di Negeri Aceh.

Nah terakhir saya jumpai itu wartawan Jawa Pos saudara Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia.

Apa kerja disudut sana saudara Matius, buat cerpen atau roman ? Coba tulis itu yang telah saya ajarkan daripada nulis cerpen atau roman yang tidak tentu, tentang kronologis dan penjelasan yang menyangkut penguasaan Negara-Negara, Daerah-Daerah, dan Negeri-Negeri diluar wilayah kekuasaan secara de-facto dan de-jure Negara RI-Jawa-Yogya yang dipimpin oleh Presiden Soekarno akhli tipu dan akhli bohong, yang menurun kepada anaknya Presiden Megawati Soekarnoputri.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Sa'dur Rofiq / Mudatsir" <rofiq@kmlseafood.com>
To: <ahmad@dataphone.se>
Cc: <Lantak@yahoogroups.com>, <ahmad_sudirman@hotmail.com>,
"'MUDATSIR'" <mudatsir-kml@plasa.com>
Subject:
Date: Thu, 19 Feb 2004 15:21:08 +0700

Ass. Wr. Wb.

Saudara Dirman (mohon maaf, kalau saya manggil Dirman, karena saya orang Jawa, tapi juga tidak mengapa kalau anda mengatakan saya, jawa, bangsa penjajah). Panggilan Dirman, bagi saya lebih familiar bagi saya lidah orang Jawa. Namun entahlah, ini hanya sekedar prolog intermezzo saja. Kiranya Saudara Dirman berkenan memaafkan saya.

Saya hampir tiap hari membawa ulasan sejarah yang Saudara paparkan, lebih-lebih ketika menanggapi beberapa counter yang disampaikan oleh mereka (yang saya anggap sebagai Saudara saya juga) yang lebih pro NKRI. Saya salut dengan ulasan dan rincian sejarah yang Saudara paparkan, melebihi paparan sejarah yang disampaikan guru saya semasa SD, SMP, dan SMA.

Bukti sejarah mungkin sama, tapi dari paparan saudara Dirman saya menerima pelajaran yang menunjukkan realitas sejarah. SEJARAH ADALAH REALITAS TANGAN KEDUA, SEJARAH ADALAH BENAR SESUAI DENGAN KEBUTUHAN YANG MEMAPARKAN DAN MENULISKANNYA. ARTINYA SEJARAH ADALAH SEBUAH KEBENARAN BAGI PENULISNYA.

Lebih lanjut saya tidak akan menanggapi sejarah versi Saudara Dirman. Saya hanya akan menanggapi kata-kata akhir setiap kali Saudara Dirman menulis di milis ini yakni,

"bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah"

Saudara Dirman, seiring perjuangan dan kegigihan Saudara untuk berkampanye memisahkan Aceh dari NKRI, maka dalam kerangka dan frame mana Saudara akan mendudukkan Aceh dengan Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah?

Saya hanya menyangka bahwa Saudara Dirman adalah orang muslim yang taat, sebagaimana Teuku Daud Beureuh yang seorang alim dan ulama. Pemahaman saya tentang Islam, Khilafah Islam adalah sistem pemerintahan Islam yang telah mengakar sejak wafatnya Rasulullah SAW, kemudian diteruskan oleh Khulafauurasyidin, dan khalifah-khalifah selanjutnya. Dalam frame khilafah Islam juga (melalui kekhalifahan Turki Usmani) dulu rakyat Aceh berjuang mengusir penjajah Belanda. Artinya bahwa Khilafah adalah sebuah negara yang menjadi satu kesatuan, tidak tercerai beraikan (baik oleh budaya, ras, suku, dan bangsa), Khilafah adalah kesatuan oleh agama Islam.

Dalam kerangka Khilafah Islam, Aceh dan Jawa adalah satu kesatuan dalam pengaruh kekhilafahan Islam. Kalau di Aceh ada Samudera Pasai, maka di Jawa ada kesultanan Banten, Demak, dan mataram Islam. Jawa dan Aceh adalah sama-sama wilayah kekuasaan Khilafah Islam dalam kategori tanah Usyriyah (tanah yang masuknya Islam ke tengah masyarakat tidak melalui peperangan, tetapi dengan cara damai). Artinya, kalau kita bicara kerangka Khilafah Islam, ataupun Undang-Undang Madinah, maka Jawa dan Aceh adalah satu kesatuan, tidak ada alasan sedikitpun untuk dipisahkan, Islam telah menyatukan Aceh dan Jawa, dan wilayah lainnya dalam satu kekuasaan Islam.

Pertanyaan saya, lha kalau Saudara Dirman menulis tentang Khilafah Islam, maka akan diletakkan dalam kerangka mana kalau Aceh itu dipisahkan dari NKRI?

Saudara Dirman, kiranya dapatkah Saudara menjelaskan semua ini, karena Saya adalah salah satu orang yang menginginkan kembali tegaknya Daulah Khilafah Islam. Saya menulis hal ini karena Saudara Dirman mengkalim telah menulis tentang Khilafah dan Undang_Undang Madinah. Saya berharap sebelum kita diskusi tentang Aceh, Jawa Penjajah, caplok-mencaplok, menelan dan lain sebagainya kita punya pandangan yang dan persepsi yang sama tentang Khilafah Islam. Karena kami berkeyakinan bahwa Aceh adalah bukan milik orang Aceh, jawa bukanlah milik suku bangsa Jawa, Aceh, Jawa, Sumatera, Sulawesi adalah milik kita umat Islam

Terima kasih,

Assalamualaikum wr. wb.

Mudatsir

rofiq@kmlseafood.com
mudatsir-kml@plasa.com
----------

Date: Thu, 19 Feb 2004 01:41:49 -0800 (PST)
From: ubai dullah <maklaha@yahoo.com>
Subject: Kejaksaan Sweden?
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Ass wr.wb,

Saya turut menyesal membaca harin Serambi Indonesia kemarin yang memberitakan mengenai penyelidikan kasus Tgk. Hasan di Tiro oleh kejaksaan Sweden.

Saya menjadi prihatin dengan kebijakan yang tidak menghargai kemanusiaan ini. Di satu sisi, saat bangsa Acheh sedang menghadapi serangan militer datri GoI dan di sisi lain Sweden mengorbankan warganya demi kepentingan diplomatiknya, ini sungguh suatu hal yang sangat tidak terpuji yang dilakukan oleh Sweden. Pada pendapat saya, Sweden seharusnya kembali menekan GoI supaya menegakkan HAM di Acheh, baru kemudian dapat diselidiki masalah apa yang dituduhkan kepada Wali. Hal yang terlihat pada saya adalah GoI hampir berhasil mengelabui dunia International dengan mengatakan bahwa Sweden melindungi terrorist padahal mereka sendiri melakukan hal yang sangat biadab "pembantaian rakyat tak berdosa".

Wassalam,

Ubaidullah
maklaha@yahoo.com
--------

From:shogun mayeda <shogunmayeda@yahoo.com>
Date:19 februari 2004 07:28:14
To: padhang-mbulan@yahoogroups.com
Cc: ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject:Re: [padhang-mbulan] DITYA SOEDARSONO MEMANG BUTA,SOEKARNO ITU MENJALANKAN PENJAJAHAN KOLONIALIS JAWA

buat bung Ahmad Sudirman

Kalau ngga siap dikritisi orang ngga usah ngritisi oranglah. Sampean itu kalau memang mau bela rakyat Aceh..Datang aja ke Aceh, jangan hanya bersembunyi di negeri orang, apa artinya ada berjuang kalau hanya pandai berteriak doang.

Aceh dlm bingakai NKRI itu udah final ngga ada caplok mencaplok klu anda tidak puas dgn Jakarta itu wajar dan manusiawi..Dimana-mana ngga ada yang sempurna. Ngga perlu sampai "membutakan orang" dan memaksakan satu hukum yang anda anggap benar.

Namanya beda prinsip sampai kapanpun tetap tidak akan bisa bersatu selama masih merasa diri sendiri yang paling benar.

Oh iya satu lagi kebencian anda akan bangsa Jawa kok keliatan lucu..Seolah-olah anda itu benar-benar bersih dari pengaruh Jawa klu ngga kenapa suka pakai nama Sudirman oalah mas-mas penginnya jadi serigala tapi lupa masih pake mantel bulu kucing.

Selamat menikmati hari-hari persembunyian di Stockholm

Shogun Mayeda

shogunmayeda@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
--------

Date: Thu, 19 Feb 2004 00:38:32 -0800 (PST)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: TEUKU MIRZA, DITYA SOEDARSONO, MATIUS DHARMINTA, TATO SUWARTO SIAP SERAHKAN NEGERI ACEH
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Cc: PPDI@yahoogroups.com

Matius Dharminta jawabannya dari itu ke itu aja...
he.. he.. he.. he..., bung A.sudirman kagak merasa bahwa selama ini opininya, walau di plintir-plintir, di bulet-bulet, di jungkir balik, toh pada intinya juga dari itu ke itu juga kan?

Cuma aku orang tidak suka mbulet kayak benang ruwet seperti bung A.sudirman.
weleh weleeh.. jadi selama ini bung A.sudirman tidak merasa? kalau opininya hanya berputar-putar sekitar caplok-caplokan, telan-telanan, duduk-dukukan dan jajah-jajahan.

Udah telanjur rewet kali bung, sampai-sampai tak terasa...

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------