Stockholm, 23 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DITYA & ENDANG JANGAN MENGADU DOMBA SUKU SUNDA DAN SUKU ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DITYA SOEDARSONO & ENDANG SUWARYA JANGAN MENGADU DOMBA SUKU SUNDA DAN SUKU ACEH

"Mau ngancam nih Akang! Apa tidak keliru ucapan dan perkataan Akang Mamad siapa sih yang sebenarnya mengadu domba, dorna, dsbnya. Saya kan hanya mengulas pernyataan om Puteh itu lho yang di Norway, ya kalau kang mamad mau menentukan nasibnya sendiri silakan aja ngak perlu anda miliskan disini yang aku perlukan adalah saran, solusi terbaik bagaimana Aceh yang saat ini dilanda konflik internal dengan adanya pemberontak GAM ini bisa segera selesai Aman, damai dan sejahtera sehingga bisa melaksanakan Syari'at Islam dengan sebaik-baiknya. Apa yang selama ini Kang Mamad ungkapkan sangat bertolak belakang dengan kenyataan di Indonesia disini, suku Jawa, Sunda, Aceh, Batak, Ambon, Papua, Sulawesi, Padang, Palembang dll bekerja sama ingin menggapai kejayaan Indonesia eh malahan bangsa Asing Sunda dan Aceh yang ada di Swedia, Norwegia, Stockholm kok membenci orang suku jawa benci Indonesia ada apa gerangan Kang Mamad. Kang Mamad Pulau Sunda itu adanya dimana.? Selanjutnya ada hubungan apa antara kebencian Sunda dengan Jawa dan antara kemesraan Sunda dengan Aceh? Janganlah Kang Mamad membenci satu suku dan cinta pada suku lainnya, apakah demikian ajaran Islam. Coba tunjukkan ayat yang mana didalam Al Qur'an atau pun Hadis apa yang mengatakan demikian?"
(Ditya Soedarsono , dityaaceh_2003@yahoo.com ,Sun, 22 Feb 2004 23:51:40 -0800 (PST))

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh.

Sebelum saya tegur Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, supaya jangan mengadu domba antara Sunda dan Aceh. Itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono senang saja mengatakan, seperti contohnya:

"Jadi betul adinda (Shahen Fasya) orang Islam yang tidak memiliki pendirian, nyatanya tergantung sama orang Jawa juga. Anda bilang kolonialis Jawa, eh, ternyata anda percaya dengan semua omongan orang Jawa yang bernama Ahmad Sudirman itu. Jawaban anda justru merendahkan diri anda sendiri sebagai bangsa yang punya Negeri Aceh anta baranta" (Ditya Soedarsono, Wed, 18 Feb 2004 23:08:12 -0800 (PST))

Nah, itu kan tidak betul Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya. Saya sudah katakan bahwa orang Sunda itu tidak sama dan tidak identik dengan orang Jawa, walaupun sama.sama berada di Pulau Jawa.

Begitu juga Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya mau mempertentangkan antara orang Aceh (Shahen Fasya) dengan orang Sunda (Ahmad Sudirman) mengan mengatakan: "anda percaya dengan semua omongan orang Jawa yang bernama Ahmad Sudirman itu. Jawaban anda justru merendahkan diri anda sendiri sebagai bangsa yang punya Negeri Aceh"

Coba, mengapa Kolonel Laut Ditya Soedarsono berkata begitu ?

Apakah saya salah membukakan kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh semua fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh?.

Dan apakah saudara Shahen Fasya salah kalau ia paham bahwa memang benar Negeri Aceh di telan, dicaplok, diduduki dan dijajah Soekarno dengan RIS dan NKRI-nya pada tanggal 14 Agustus 1950 setelah membaca penjelasan dan keterangan saya tersebut ?

Jadi, saya melihat kelakuan dan tindakan Kolonel Laut Ditya Soedarsono itu merupakan suatu usaha untuk memecah belah dan mengadu domba.
 

Bagaimana saya tidak mengatakan kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono bahwa jangan mengadu domba antara orang Aceh dan orang Sunda dan jangan seperti Dorna ?

Soal saya membukakan, menjelaskan, dan membeberkan semua fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah kepada seluruh rakyat di NKRI dan rakyat di Negeri Aceh tentang pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh adalah bukan dengan maksud dan tujuan untuk mengadu domba dan memecah belah, melainkan agar seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh mengerti dan paham apa yang telah dilakukan oleh Soekarno cs dengan Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Sumber buku yang saya pakai jelas semuanya dibuat oleh Pemerintah NKRI. Bukan yang dikarang-karang atau dibuat-buat oleh saya sendiri. Apakah ada fakta dan bukti yang ada dalam buku-buku tersebut saya robah ? Jelas saya tidak berani merobah satu hurup-pun dan angka-pun.

Hanya masalahnya karena orang-orang seperti Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya yang kaget ketika membaca semua fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang Negeri Aceh yang ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh Soekarno. Mengapa ?
Karena memang sebelumnya belum ada orang NKRI atau asal NKRI yang berani secara terbuka dan terang-terangan membukakan semua fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh.

Dipikirnya menurut Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya tidak akan ada atau tidak mungkin ada orang yang mau membongkar sampai ke-akar-akarnya tentang dasar Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh.

Sekarang, setelah semuanya terbuka, kemudian Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya mengatakan: "ya kalau kang mamad mau menentukan nasibnya sendiri silakan aja ngak perlu anda miliskan disini yang aku perlukan adalah saran, solusi terbaik bagaimana Aceh yang saat ini dilanda konflik internal dengan adanya pemberontak GAM ini bisa segera selesai Aman, damai dan sejahtera sehingga bisa melaksanakan Syari'at Islam dengan sebaik-baiknya"

Ya, apakah Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya tidak mengetahui bahwa saya membuat mimbar bebas disini adalah menyangkut masalah Negeri Aceh, referendum dan penjajahan NKRI terhadap Negeri Aceh.

Jadi, selama materi diskusi atau pembicaraan tidak keluar dari topik Negeri Aceh, referendum dan penjajah NKRI terhadap Negeri Aceh, silahkan berbicara, siapapun dipersilahkan. Tidak akan pernah saya sensor satu katapun. Hanya jelas, kalau sudah terlibat dalam grup diskusi di mimbar bebas ini harus siap bahwa apa yang dituliskannya itu akan dimuat dan dipubliklasikan di media-media internet. Termasuk saya rekord dalam http://www.dataphone.se/~ahmad dan ahmad.swaramuslim.net .

Selanjutnya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya mengatakan: "solusi terbaik bagaimana Aceh yang saat ini dilanda konflik internal dengan adanya pemberontak GAM ini bisa segera selesai Aman, damai dan sejahtera sehingga bisa melaksanakan Syari'at Islam dengan sebaik-baiknya"

Nah, saya dari dulu, sudah mengatakan bahwa solusi atau pemecahan yang jujur, adil, dan bijaksana dalam usaha penyelesaian konflik di Negeri Aceh yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun adalah dengan memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negar Pancasila atau Negara NKRI melalui cara jajak pendapat atau referendum.

Inilah solusi atau jalan keluar yang saya sodorkan kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh.

Nah, kalau ada orang yang mengatakan GAM pemberontak, itu tandanya orang tersebut tidak mengetahui akar masalahnya. Akar masalahnya adalah karena Negeri Aceh ditelan, diambil, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh Soekarno melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh.

Jadi, kalau ada rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI itu bukan berarti bahwa orang tersebut pemberontak.

Coba pikir Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, apakah masuk diakal kalau ada orang yang barangnya dicuri, kemudian ia tahu siapa yang mencuri barangnya itu. Lalu orang yang kecurian barang itu berkata kepada orang yang mencuri: "barang itu kepunyaan saya". Tetapi, apa kata si pencuri barang itu, ia jawab" Eh, kamu pemberontak, ngaku-ngaku punya barang ini, ini kan, barang saya, bukan barang kamu".

Coba Perhatikan, sudahlah ia mencuri barang, menyebut lagi kepada orang yang punya barang, sebagai pemberontak.

Coba pikirkan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya.

Sekarang apakah Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya patut mengatakan kepada rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI, sebagai seorang pemberontak ?

Padahal Soekarno sebagai Presiden RIS telah menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh . Kemudian mulai tanggal 15 Agustus 1950 penjajahan Negeri Aceh ini diteruskan oleh NKRI juga dibawah Presiden NKRI Soekarno. Bahkan tidak sampai disitu, Negeri Aceh terus dijajah oleh Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya yang juga dipimpin oleh Presiden Soekarno setelah NKRI dirubah nama dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Coba pikirkan, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, apakah pantas mengatakan kepada pihak rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh Negara Pancasila atau Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya yang telah menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Aceh sebagai pemberontak ?.

Selanjutnya, apakah dengan saya mengemukakan, menjelaskan, menerangkan semua fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang Negeri Aceh yang ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh Soekarno dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh merupakan usaha untuk memecah belah ?

Jelas tidak, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya. Mengapa ?
Karena kalau semua rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh telah mengetahui bahwa memang benar Negeri Aceh itu menurut fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah ditelan, diduduki, dijajah oleh mula-mula RIS, kemudian NKRI selanjutnya oleh Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno atau Negara RI-Jawa-Yogya, maka mereka akan mengerti bahwa untuk penyelesaian kemelut dan konflik diu Negeri Aceh ini harus diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh, karena memang Negeri Acweh telah ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh RIS, diteruskan oleh NKRI dan dipertahankan oleh negara RI yang ber-UUD 1945 dan berdasarkan Pancasila.

Seterusnya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, saya tidak membenci suatu Suku, yang saya selalu sebut-sebut namanya sepertii Soekarno adalah karena memang Soekarno inilah yang menjadi akar masalah timbulnya gejolak dan konflik di Negeri Aceh. Kebetulan saja Soekarno itu orang Jawa. Jadi kalau saya mengatakan Soekarno orang Jawa itu tidak berarti semua orang Jawa model Soekarno kelakuannya.

Makanya, saya selalu menekankan kepada namanya, bukan Sukunya. Seperti saya mengatakan itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono arek Suroboyo, orang Jawa. Atau saya mengatakan itu Mayjen TNI Endang Suwarya yang ngaku-ngaku orang Sunda.

Nah, dengan saya mengatakan begitu bukan berarti saya benci dengan Sunda atau Jawa, saya hanya mengkritik orangnya, atau individunya.

Jelas, dalam Al Quran sudah disebutkan : "...Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu ber-bangsa-bangsa dan ber-suku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal..." ( QS Al-Hujurat, 49: 13)

Jadi Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, kalau saya adalah orang Sunda atau suku Sunda jangan dicampur adukkan dengan orang Jawa atau suku Jawa. Jangan nanti mengatakan lagi: "anda percaya dengan semua omongan orang Jawa yang bernama Ahmad Sudirman itu. Jawaban anda justru merendahkan diri anda sendiri sebagai bangsa yang punya Negeri Aceh"

Jadi, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, setelah saya bacakan Al Hujurat ayat 13 diatas itu, maka jangan lagi mengatakan kepada saya dengan panggilan "orang Jawa yang bernama Ahmad Sudirman", mengerti ?.

Ahmad Sudirman bukan orang Jawa, tetapi Ahmad Sudirman adalah orang Sunda, suku Sunda, paham?.

Selanjutnya, saya menjelaskan dan menerangkan secara terbuka kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh tentang semua fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang Negeri Aceh yang ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh Soekarno dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh, adalah biar rakyat di seluruh NKRI dan di Negeri Aceh paham dan mengerti bahwa Negeri Aceh itu telah ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh RIS, diteruskan oleh NKRI dan sekarang oleh RI yang ber-UUD 1945 dan berdasarkan Pancasila.

Jadi, itu Negeri Aceh bukan Negeri "antah Berantah" seperti yang dikatakan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono. Negeri Aceh yang wilayah kekuasaannya adalah seperti yang tertuang dalam dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara.

Nah, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, Negeri Aceh harus dikembalikan oleh MKRI atau Negara RI yang merupakan jelmaan dari NKRI, yang melingkupi daerah-daerah 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja.

Jadi itulah Negeri Aceh yang harus dikembalikan, itu namanya bukan Negeri "antah berantah" seperti yang dikatakan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono, melainkan Negeri Aceh yang wilayah daerahnya adalah 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja.

Nah sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, apakah sudah paham dan mengerti ?

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 22 Feb 2004 23:51:40 -0800 (PST)
From: Ditya Soedarsono dityaaceh_2003@yahoo.com
Subject: Fwd: DITYA SOEDARSONO & ENDANG SUWARYA HAMPIR TIDAK MAMPU LAGI PERTAHANKAN ACEH HASIL CAPLOKAN SOEKARNO
To: ahmad@dataphone.se
Cc: siliwangi27@hotmail.com, unsyiahnet@yahoogroups.com, a_kjasmine@yahoo.com, kmjp47@indosat.net.id, nur-abdurrahman@telkom.net, sadanas@shb.equate.com, nizarwin@yahoo.com, awakaway@telkom.net, melpone2002@yahoo.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, ahmad@dataphone.se, serambi@indomedia.com, aditjond@psychology.newcastle.edu.au, acheh@juno.com, warzain@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com, wpamungk@centrin.net.id, gam_m_z@yahoo.com

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Kang Mamad jangan marah dong masak orang yang selalu berlindung kepada Allah bisa marah-marah begitu.Saya aja yang orang kafir, penjajah, dorna, ngak pernah marah-marah kok (Ditya Soedarsono)

Jadi, Kolonel Laut Ditya Soedarsono lain kali jangan samakan antara Jawa dengan Sunda, paham ?. (Ahmad Sudirman)
lho tentu saja saya tetap menyamakan karena suku Jawa dan Sunda sama-sama ciptaan Allah lupa barangkali teman-teman (Ditya Soedarsono)

Sunda tidak sama dengan Jawa. Sampai kiamatpun tidak akan sama Jawa dengan Sunda. (Ahmad Sudirman)
Saya paham, tapi jangan marah dong! (Ditya Soedarsono). Tidak sama sih, boleh-boleh saja, tetapi ketidak samaan itu bukan untuk saling membenci, saling menyalahkan tetapi yang paling harus kita ingat bahwa kita semua diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembahNya dan melakukan Amal Ma'ruf nahi Munkar (Ditya Soedarsono)

Karena itu, jangan coba-coba lagi mengacau dan mengadu domba antara Sunda dengan Aceh. Jangan seperti Dorna yang kerjanya mengadu domba, jumpa dengan orang Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasinya sendiri dihembuskan angin pertentangan dan adu domba: (Ahmad Sudirman)
Mau ngancam nih Akang! Apa tidak keliru ucapan dan perkataan Akang Mamad siapa sih yang sebenarnya mengadu domba, dorna, dsbnya. Saya kan hanya mengulas pernyataan om Puteh itu lho yang di Norway, ya kalau kang mamad mau menentukan nasibnya sendiri silakan aja ngak perlu anda miliskan disini yang aku perlukan adalah saran, solusi terbaik bagaimana Aceh yang saat ini dilanda konflik internal dengan adanya pemberontak GAM ini bisa segera selesai Aman, damai dan sejahtera sehingga bisa melaksanakan Syari'at Islam dengan sebaik-baiknya.(Ditya Soedarsono)

"Nah ini satu lagi orang yang mengaku bangsa Aceh entah berantah yang tidak punya pendirian bagaimana mungkin dia akan memperjuangkan bangsa Aceh Ghoif sedangkan dia selalu minta bantuan ama Kang Dirman yang orang Jawa" (Ditya Soedarsono)

Kang Mamad Pulau Sunda itu adanya dimana.? Selanjutnya ada hubungan apa antara kebencian Sunda dengan Jawa dan antara kemesraan Sunda dengan Aceh? Janganlah Kang Mamad membenci satu suku dan cinta pada suku lainnya, apakah demikian ajaran Islam. Coba tunjukkan ayat yang mana didalam Al Qur'an atau pun Hadis apa yang mengatakan demikian?

Saya hanya mengatakan dengan jujur apa sebenarnya saya baca dalam dialog milis-milis anda dan konco-konco anda daripada anda membenci dendam lantas anda menulis khayalan anda tentang negara entah berantah. Kenapa tidak sebaikanya anda berikan sumbangan dengan tulisan-tulisan anda bagaimana kedepan demi kejayaan bangsa Indonesia seperti apa yang dilakukan oleh saudaraku Bapak Hidayat Syarif di Canada walaupun ybs sudah 40 tahun berada dan sekaligus sebagai warga negara Canada tapi dalam milis beliau sangat arif dan bijaksana padahal ybs juga ekspatriat Indonesia Sunda sama dengan Akang Mamad mungkin perbedaannya hanya kemampuan mengendalikan hawa nafsu. (Ditya Soedarsono)

Apa yang selama ini Kang Mamad ungkapkan sangat bertolak belakang dengan kenyataan di Indonesia disini, suku Jawa, Sunda, Aceh, Batak, Ambon, Papua, Sulawesi, Padang, Palembang dll bekerja sama ingin menggapai kejayaan Indonesia eh malahan bangsa Asing Sunda dan Aceh yang ada di Swedia, Norwegia, Stockholm kok membenci orang suku jawa benci Indonesia ada apa gerangan Kang Mamad (Ditya Soedarsono)

WASALAM,

DITYA

dityaaceh_2003@yahoo.com>
ACEH NAD
TANO RENCONG SARAMBO MAKKO.
----------