Stockholm, 24 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

HIDAJAT, SOLUSI REFERENDUM UNTUK SELURUH RAKYAT ACEH DI ACEH LEBIH ADIL & DAMAI DARIPADA SOLUSI MILITER
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS HIDAJAT SJARIF, SOLUSI REFERENDUM UNTUK SELURUH RAKYAT ACEH DI ACEH LEBIH ADIL & DAMAI DARIPADA SOLUSI MILITER

"Siapa bilang Indon dulu sudah siap untuk merdeka, dan udah ada tim diplomasi yang kuat, padahal dulu Indon semua udah di kuasai oleh Belanda, Indon sudah hilang di bumi Nusantara, tapi hanya Acheh yang masih merdeka yang tak pernah ditaklukan oleh Belanda. Karena Acheh-lah Indon itu bisa merdeka, kalau tidak ada Acheh pasti sampai dengan sekarang Indon itu telah ditelan bumi. "Penjajahan di atas bumi harus dihapuskan".Tapi sekarang Indon sedang melakukan penjajahan atas bangsa Acheh, bangsa Acheh wajib berjuang melawan setiap penjajahan yang dilakukan oleh Indonesia kepada bangsa Acheh" (SIRA Presidium , sira_jaringan2000@yahoo.com ,Mon, 23 Feb 2004 22:14:32 -0800 (PST))

""Sesungguhnya setiap manusia yang diciptakan oleh Allah di dunia ini mempunyai misinya masing-masing, tapi kenapa kamu menentang kehendak Allah dengan membunuhnya, padahal misinya belum selesai". Begitu juga halnya dengan rakyat Acheh, rakyat Acheh mempunyai misinya yaitu misi Referendum untuk merdeka dan bebas dari Kolonialis Indonesia-Jawa-Yogya. tapi kenapa TNI/POLRI menentang kehendak Allah dengan menculik, membunuh dan membantai rakyat Acheh yang menuntut haknya yang telah dicaplok dan dirampas secara ilegal oleh Kolonialis Indonesia-Jawa-Yogya ? kenapa Indonesia-Jawa-Yogya dan TNI/POLRI memaksakan nasionalisme sempit ala pancasila kepada rakyat Acheh ? kenapa TNI/POLRI senang menumpahkan darah rakyat Acheh dengan mengobarkan perang tak bermoral di Acheh ? kenapa demi menyebarkan ideologi sesat pancasila itu TNI/POLRI menghalalkan segala cara ?"
(Shahen Fasya , rimueng_acheh@yahoo.com ,Tue, 24 Feb 2004 05:51:42 +0000 (GMT))

"Yang saya maksud dengan military solution adalah menyangkut kedua belah pihak, GAM dan ABRI.GAM tidak akan mungkin akan bisa mewujudkan impiannya untuk mendirikan negara Aceh merdeka diluar NKRI dengan mengambil jalan kekerasan, terror dan pemberontakan bersenjata. Juga ABRI harus menyadari bahwa penyelesaian masalah Aceh tidak hanya dengan bedil dan Bayonet, tapi dengan pendekatan social dan politik. ABRI berhak untuk menghadapi GAM dengan kekuatan militer selama GAM tetap ngotot untuk mengambil jalan kekerasan dan pemberontakan bersenjata untuk mencapai tujuan politiknya"(Hidajat Sjarif , siliwangi27@hotmail.com ,Tue, 24 Feb 2004 03:34:30 +0000)

"GAM itu kepala batu dan tak sadar diri bahwa, mereka tak punya kekuatan baik dari segi diplomasi maupun militer tapi nafsu gede.Pada saat yang sama menyalahkan Pemerintahkarena pelanggaran HAM...padahal konsekuensi dari suatu konflik adalah pelanggaran HAM dan yang paling dirugikan adalah rakyat banyak, mereka ni bodoh tapi sok pintar" (Teuku Mirza , teuku_mirza2000@yahoo.com ,Mon, 23 Feb 2004 21:13:02 -0800 (PST))

"Pesen saya buat mas Ahmad udahlah kalau memang cinta Aceh pulang aja ke Indonesia dan jadi warga negara Indonesia.Terus bikin aja partai politik. Cari dukungan rakyat Aceh untuk membangun Aceh bukan buat memerdekakan Aceh. Lha mau memerdekakan gimana dan dari mana wong memang Aceh ngga pernah dijajah kok"
(Dobing , dobing@telkom.net ,Tue, 24 Feb 2004 09:42:37 +0700)

Terimakasih saudara pengurus SIRA Presidium di Selangor, Malaysia, saudara Shahen Fasya di Banda Aceh/Kutaraja di Negeri Aceh, saudara Hidajat Sjarif di Edmonton, Alberta, Canada, Teuku Mirza di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia, dan saudara Dobing di Jakarta, Indonesia.

Sebelum saya mengulas dan menjawab semua pertanyaan dan permasalahan yang menyangkut referendum dan penjajahan NKRI yang telah menjelma menjadi RI-Jawa-Yogya wajah baru sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959 terhadap Negeri Aceh ini, saya mengucapkan selamat datang di mimbar bebas ini kepada saudara pengurus SIRA Presidium yang sekarang berada di Malaysia.

Baiklah kita mulai.

Begini.
Memang seperti yang telah diungkapkan oleh saudara pengurus SIRA Presidium di Selangor, Malaysia ini : "Karena Acheh-lah Indon itu bisa merdeka, kalau tidak ada Acheh pasti sampai dengan sekarang Indon itu telah ditelan bumi. "Penjajahan di atas bumi harus dihapuskan".Tapi sekarang Indon sedang melakukan penjajahan atas bangsa Acheh, bangsa Acheh wajib berjuang melawan setiap penjajahan yang dilakukan oleh Indonesia kepada bangsa Acheh"

Memang saudara Pengurus SIRA Presidium, terlihat dengan jelas dan gamblang, itu Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat telah melakukan pelanggaran hukum yang berat dengan menetapkan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh.

Dan tentu saja setelah RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 yang juga masih dibawah pimpinan Presiden NKRI Soekarno terus melakukan pendudukan, penjajahan bahkan ditambah dengan penekanan dan penghancuran rakyat Aceh yang telah bangkit dan sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI dari sejak tanggal 20 September 1953. Karena itu strategi pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh ini bukan hanya dijalankan oleh pihak NKRI dibawah Soekarno ini saja, melainkan telah diteruskan oleh Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya wajah baru jelmaan NKRI melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang juga masih berada dibawah kekuasaan Presiden Soekarno.

Jadi saudara Pengurus SIRA Presidium, Negeri Aceh ini dari sejak tanggal 14 Agustus 1950 telah ditelan, dicaplok, dicerna oleh Presiden RIS Soekarno melalui mulut Propinsi Sumatera Utara langsung masuk kedalam perut RIS, terus dipindahkan masuk kedalam usus NKRI setelah RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950. Tidak hanya sampai disitu saja, Negeri Aceh yang masih tahan remasan usus NKRI ternyata dipindahkan lagi masuk kedalam perut Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru dan bertubuh gemuk karena daging dan tulangnya merupakan hasil cernaan 15 Negara bagian RIS yang ditelan oleh NKRI sebelum NKRI pada tanggal 5 Juli 1959 oleh Presiden NKRI Soekarno disulap dari NKRI yang ber-Undang Undang Dasar Sementara menjadi Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru yang ber-Undang Undang Dasar 1945 dengan berisikan sila-sila pancasila dalam Pembukaannya.

Sedikit penjelasan disini menyinggung Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini. Dimana Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949. Karena Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini secara de-jure dan de-facto berada dalam tubuh RIS, maka Undang Undang Dasar 1945 dengan Preambule yang berisikan sila-sila pancasila milik Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya sejak 18 Agustus 1945 ini telah lenyap dari permukaan bumi, yang ada adalah Undang Undang Dasar Sementara NKRI yang disahkan oleh Parlemen dan Senat RIS pada tanggal 14 Agustus 1950, dan berlaku sampai tanggal 5 Juli 1959 ketika Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dibacakan oleh Presiden NKRI Soekarno.

Nah, ketika Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dibacakan oleh Presiden NKRI Soekarno, maka itu NKRI yang ber-Undang Undang Dasar Sementara menjadi Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru yang ber-Undang Undang Dasar 1945 dengan berisikan sila-sila pancasila dalam Pembukaannya.

Nah sekarang saudara Pengurus SIRA Presidium, setelah saya jelaskan dan terangkan disini, maka makin kuatlah alasan bagi saudara Pengurus SIRA Presidium untuk melaksanakan referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menentukan sikap dan penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI yang telah menjelma menjadi Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru , apakah ingin YA bebas dari NKRI yang telah menjelma menjadi Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru atau TIDAK bebas dari NKRI yang telah menjelma menjadi Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru.

Selanjutnya saya akan menjumpai saudara Shahen Fasya di Banda Aceh/Kutaraja. Dimana saya telah membaca apa yang telah ditulis oleh saudara Shahen Fasya ini: "rakyat Acheh mempunyai misinya yaitu misi Referendum untuk merdeka dan bebas dari Kolonialis Indonesia-Jawa-Yogya."

Seperti yang telah saya terangkan dan jelaskan kepada saudara Pengurus SIRA Presidium diatas, memang Negeri Aceh telah ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh Soekarno melalui RIS, masuk NKRI, dipendam dalam tubuh Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru sampai detik sekarang ini.

Menyinggung masalah TNI/POLRI dan Raider yang ditulis oleh saudara Shahen Fasya: "menentang kehendak Allah dengan menculik, membunuh dan membantai rakyat Acheh yang menuntut haknya yang telah dicaplok dan dirampas secara ilegal oleh Kolonialis Indonesia-Jawa-Yogya ? kenapa Indonesia-Jawa-Yogya dan TNI/POLRI memaksakan nasionalisme sempit ala pancasila kepada rakyat Acheh ? kenapa TNI/POLRI senang menumpahkan darah rakyat Acheh dengan mengobarkan perang tak bermoral di Acheh ? kenapa demi menyebarkan ideologi sesat pancasila itu TNI/POLRI menghalalkan segala cara ?"

Jelas saudara Shahen Fasya, TNI/POLRI dan sekarang ditamnbah dengan Raider semuanya adalah alat dari pihak Pemerintah NKRI atau Pemerintah Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru yang sekarang dipimpin oleh Presiden Megawati, putrinya Soekarno yang mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh sejak 14 Agustus 1950.

Jadi, memang TNI/POLRI dan Raider ini tugasnya adalah mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang diselubung dengan kain hitam bertuliskan cat putih yang terbaca menjaga kedaulatan RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru dan mempertahankan kerangka NKRI yang telah menjelma menjadi Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru.

Nah, itu alasan TNI/POLRI dan Raider menjaga kedaulatan RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru dan mempertahankan kerangka NKRI yang telah menjelma menjadi Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru di Negeri Aceh adalah suatu alasan yang dibuat-buat tanpa dasar hukum yang jelas dan diterima oleh kedua belah pihak, baik dari pihak RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru maupun dari pihak rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru.

Dalam usaha mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh ini TNI/POLRI dan Raider dibuatkan satu jalan yang diberi nama dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 diterapkan di Negeri Aceh.

Kemudian yang paling parah lagi adalah dengan dibuatnya dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003 agar supaya apa yang terjadi di Negeri Aceh tidak bisa diketahui dan dijangkau oleh pihak luar, termasuk dunia Internasional.

Adapun menyinggung pancasila, jelas itu diperlukan oleh pihak Pemerintah NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru untuk dipakai sebagai alat pengikat persatuan semu yang rapuh. Tetapi tidak perlu khawatir dengan pancasila ini, karena tali pengikat pancasila ini sangat-sangat rapuh, apalagi itu idenya muncul dari hasil pikiran Soekarno yang telah menjalankan kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan dan agresi dengan menelan Negara-Negara dan Daerah-Daerah Negara Bagian RIS, serta mencaplok Negeri-Negeri diluar wilayah kekuasaan de-facto RIS seperti Negeri Aceh.

Seterusnya saya akan jumpai saudara Hidajat Sjarif di Edmonton, Alberta, Canada.

Dimana saudara Hidajat Sjarif ini dengan semangat yang menggebu-gebu telah menyodorkan jalan pemecahan untuk penyelesaian konflik di Aceh dengan apa yang dimaksud "dengan military solution adalah menyangkut kedua belah pihak, GAM dan ABRI.GAM tidak akan mungkin akan bisa mewujudkan impiannya untuk mendirikan negara Aceh merdeka diluar NKRI dengan mengambil jalan kekerasan, terror dan pemberontakan bersenjata. Juga ABRI harus menyadari bahwa penyelesaian masalah Aceh tidak hanya dengan bedil dan Bayonet, tapi dengan pendekatan social dan politik. ABRI berhak untuk menghadapi GAM dengan kekuatan militer selama GAM tetap ngotot untuk mengambil jalan kekerasan dan pemberontakan bersenjata untuk mencapai tujuan politiknya".

Ternyata, solusi saudara Hidajat Sjarif ini menuntut kedua belah pihak, TNI/POLRI dan Raider disatu pihak dan ASNLF atau GAM bersama TNA dipihak lain.

Saudara Hidajat Sjarif menuntut kepada pihak ASNLF atau GAM dan TNA tidak mengambil jalan kekerasan, terror dan pemberontakan bersenjata. Sedangkan kepada pihak TNI/POLRI dan Raider menuntut agar dalam menyelesaikan konflik Aceh jangan menggunakan bedil dan Bayonet, melainkan melalui pendekatan social dan politik. Dan diberi kebenaran menggunakan kekuatan militer selama ASNLF atau GAM dan TNA ngotot menggunakan jalan kekerasan dan pemberontakan bersenjata untuk mencapai tujuan politiknya.

Nah sekarang, kita kaji apa yang disodorkan oleh saudara Hidajat Sjarif dalam usaha menyelesaikan konflik Aceh ini.

Pihak ASNLF atau GAM dan TNA jelas sesuai dengan apa yang telah dibicarakan dan disodorkan dalam Perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI)/INKRI dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003. Dimana dari isi sebagian draft yang disodorkan oleh pihak GAM menunjukkan bahwa pihak GAM siap dan setuju untuk meletakkan senjata. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian isi draft perjanjian yaitu:

3 Having reiterated their commitment to the peace process and desire to strengthen the COHA to that end, the Joint Council has agreed to the following:

a. GAM is committed to dropping the armed struggle as stipulated in the relevant clauses of the COHA with all reciprocal measures from the Government of the Republic of Indonesia and to participate in the political process as stipulated in the COHA; and in the context of the COHA will refrain from advocating independence;

b. GAM commits itself to immediately place its weapons, ammunitions, and ordnance and to complete the process as scheduled in the COHA; and reciprocally, the GOI commits itself to reposition itself to defensive positions as provided by the COHA;

c. GAM commits itself to cease immediately any efforts to bring in additional weapons, ammunitions, and ordnance in the Acheh, and the GOI commits itself to return immediately its forces in Acheh to pre-December, 2002, levels;
(Draft Statement of the Joint Council accepted by GAM, Proposed by the members of the Tokyo Conference on Peace and Reconstruction in Acheh (Japan, US, EU and World Bank )and the Henry Dunant Centre for Humanitarian Dialogue, Tokyo, Japan. 18 May 2003).

Selanjutnya, yang harus ditekankan dan disadarkan adalah dari pihak NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru agar pihak TNI/POLRI dan Raider yang disponsori oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu agar mau dan siap menarik TNI/POLRI dan Raider dari Negeri Aceh.

Dimana ketiga Jenderal ini merupakan motorn dari mesin pendudukan dan penjajahan di Negeri Aceh.

Terbukti ketika diadakan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 ternyata digagalkan.

Sebagai gantinya dipakai dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 yang memang telah dipersiapkan jauh-jauh sebelum dilaksanakan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003.

Jadi , sebenarnya dari pihak ASNLF atau GAM sudah siap dan setuju untuk meletakkan senjata, tetapi itu tidak disenangi oleh tim TNI yang digerakkan oleh pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Hal itu disebabkan seperti yang telah saya kemukakan diatas dan sebelum ini yaitu Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak menghendaki tegaknya kedamaian di negeri Aceh, dengan alasan taktik dan strategi militer saja.

Karena itu saya melihat konflik di Negeri Aceh justru terlalu dominan TNI menguasai bidang Eksekutif dalam hal Negeri Aceh, sehingga penyelesaian secara politik melalui dialog dan perundingan tidak sungguh-sungguh dijalankan dengan jujur, adil dan bijaksana.

Kemudian dengan adanya peranan TNI yang masih begitu kuat dalam tubuh Pemerintah, maka Presiden Megawati tidak berdaya menghadapi pihak TNI ini.

Oleh sebab itu dengan adanya pihak TNI yang masih kuat menguasai lembaga Eksekutif ini mengakibatkan terhambatnya jalan menuju perdamaian, keadilan, keamanan di Negeri Aceh.

Adapun alasan TNI/POLRI dan Raider bertahan dan beroperasi di Negeri Aceh untuk mempertahankan kedaulatan NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru. Itu sebenarnya hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja.

Saya berani berdebat dengan pihak TNI, bahwa yang menjadi alasan bagi TNI untuk memepertahankan Negeri Aceh bukan karena ingin membela kedaulatan NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru, tetapi lebih banyak karena masalah taktik dan strategi milter saja. Dengan makin lamanya kemelut di Negri Aceh berlangsung makin kuat kedudukan TNI.

Kasarnya, makin ribut di Aceh dan terus berkepanjangan, maka makin baik bisnis TNI. Artinya TNI terutama para Jenderalnya tidak akan kehilangan kerja dan penghasilan.

Hal ini didasarkan kepada fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai Negeri Aceh bahwa memang benar Negeri Aceh itu telah ditelan dan dicaplok melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 oleh Presiden RIS Soekarno dan diteruskan oleh NKRI setelah RIS dilebur menjadi NKRI yang dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden Megawati atas tekanan dan dorongan TNI.

Karena itu sebenarnya tidak ada alasan bagi TNI untuk terus berteriak siap mempertahankan Aceh dari bingkai NKRI.

Toh, Negeri Aceh hanya hasil caplokan Soekarno pada 14 Agustus 1950 dengan dasar hukum sepihak PP RIS No.21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh.

Selanjutnya saya akan jumpai Teuku Mirza di Universitas Indonesia di Jakarta, Indonesia.

Teuku Mirza ini dari tulisannya yang sampai kepada saya menunjukkan dan menggambarkan sikap Teuku Mirza yang mendukung dan mensokong saudara Hidajat Sjarif dengan solusi militernya.

Dimana Teuku Mirza menulis: "GAM itu kepala batu dan tak sadar diri bahwa, mereka tak punya kekuatan baik dari segi diplomasi maupun militer tapi nafsu gede. Pada saat yang sama menyalahkan Pemerintahkarena pelanggaran HAM. Padahal konsekuensi dari suatu konflik adalah pelanggaran HAM dan yang paling dirugikan adalah rakyat banyak, mereka ni bodoh tapi sok pintar"

Seperti biasanya Teuku Mirza ini yang saya perhatikan selalu memandang dengan sebelah mata kepada rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru dengan menganggap tidak memiliki kemampuan dan kekuatan dalam diplomasi dan dalam militer.

Dalam hal ini saya akan beritahukan kepada Teuku Mirza bahwa kemampuan dari rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari Negara Pancasila atau NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru telah meningkat dan telah membawa hasil. Dan tentu saja saya sendiri siap dan terus memberikan peningkatan baik pengetahuan dan kemampuan untuk menumbangkan pihak NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru.

Jadi Teuku Mirza jangan khawatir, saya akan membantu, menyokong dan meningkatkan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru dalam hal taktik dan strategi diplomasi dan penumbangan strategi NKRI, seperti taktik dan strategi Teuku Mirza cs.

Terakhir saya temui saudara Dobing di Jakarta, Indonesia.

Dimana dengan saudara Dobing ini saya baru pertama kali jumpa. Sebelum terlambat saya ucapkan selamat datang di mimbar bebas tentang referendum dan penjajahan Negeri Aceh ini

Nah setelah saya baca apa yang ditulis oleh saudara Dobing ini: "Pesen saya buat mas Ahmad udahlah kalau memang cinta Aceh pulang aja ke Indonesia dan jadi warga negara Indonesia.Terus bikin aja partai politik. Cari dukungan rakyat Aceh untuk membangun Aceh bukan buat memerdekakan Aceh. Lha mau memerdekakan gimana dan dari mana wong memang Aceh ngga pernah dijajah kok"

Untuk jawabannya, sebenarnya telah saya berulang kali diberikan di mimbar ini. Tetapi tidak apalah, karena saya mengetahui saudara Dobing ini baru pertama kali terjun di gelanggang perang modern di mimbar bebas ini.

Nah begini saudara Dobing, saya akan ke Indonesia apabila

Pertama, Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003 telah DICABUT.

Kedua, seluruh rakyat Aceh telah diberikan kebebasan untuk menentukan dan memberikan suaranya YA atau TIDAK untuk menentukan nasib mereka sendiri bebas di Negeri Aceh.

Kemudian, soal membikin partai politik di Indonesia, saya tidak tertarik membuat partai politik.
Sedangkan penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI atau Negeri RI atau Negeri RI-Jawa-Yogya berwajah baru telah dijelaskan dibagian atas.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 23 Feb 2004 22:14:32 -0800 (PST)
From: SIRA Presidium sira_jaringan2000@yahoo.com
Subject: Re: GAM "KEPALA BATU" PENGHALANG UTAMA PERDAMAIAN
To: teuku mirza <teuku_mirza2000@yahoo.com>, Hidajat Sjarif <siliwangi27@hotmail.com>, ahmad@dataphone.se, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com

MIRZA DAN HIDARAT YANG KEPALA BATU YANG TIDAK TAU SEJARAH, BELAJAR DULU SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DUNIA, JANGAN ASAL NGOMONG.

SIAPA BILANG INDON DULU SUDAH SIAP UNTUK MERDEKA, DAN UDAH ADA TIM DIPLOMASI YANG KUAT, PADAH DULU INDON SEMUA UDAH DI KUASAI OLEH BELANDA, INDON SUDAH HILANG DI BUMI NUSANTARA, TAPI HANYA ACHEH YANG MASIH MERDEKA YANG TAK PERNAH DITAKLUKKAN OLEH BELANDA.

KARENA ACHEH LAH INDON ITU BISA MERDEKA, KALAU TIDAK ADA ACHEH PASTI SAMPAI DENGAN SEKARANG INDON ITU TELAH DITELAN BUMI.

YANG KEDUA, LOE MIRZA DAN HIDAJAT, HANYA NGAKU ORANG INDON, TAPI UNDANG-UNDANG DARAS INDON NGAK PERNAH DIBACA, BACA DULU, BARU NGOMONG, LIHAT TU DI PENDAHULUAN UNDANG-UNDANG INDON, "KEMERDEKAAN ADALAH HAK SEGALA BANGSA' OLEH KARENA ITU BANGSA ACHEH ADALAH PUNYA HAK UNTUK MERDEKA.

"PENJAJAHAN DI ATAS HARUS DI HAPUSKAN" TAPI SEKARANG INDON SEDANG MELAKUKAN PENJAJAHAN ATAS BANGSA ACHEH, BANGSA ACHEH WAJIB BERJUANG MELAWAN SETIAP PENJAJAHAN YANG DILAKUKAN OLEH INDONESIA KEPADA BANGSA ACHEH.

UDAH NGERTI BELUM TU MIRZA DAN HIDAJAT, KAMU BERDUA ANAK SIAPA SIH?

SIRA Presidium

sira_jaringan2000@yahoo.com
Selangor, Malaysia
----------

Date: Tue, 24 Feb 2004 05:51:42 +0000 (GMT)
From: Shahen Fasya rimueng_acheh@yahoo.com
Subject: misi rakyat Acheh : Referendum untuk merdeka dan bebas dari kolonialis indonesia-jawa-yogya
To: ahmad@dataphone.se

assalamualaikum wr. Wb

To the Point,

"Sesungguhnya setiap manusia yang diciptakan oleh Allah di dunia ini mempunyai misinya masing-masing, tapi kenapa kamu menentang kehendak Allah dengan membunuhnya, padahal misinya belum selesai".

Begitu juga halnya dengan rakyat Acheh, rakyat Acheh mempunyai misinya yaitu misi Referendum untuk merdeka dan bebas dari Kolonialis Indonesia-Jawa-Yogya. tapi kenapa TNI/POLRI menentang kehendak Allah dengan menculik, membunuh dan membantai rakyat Acheh yang menuntut haknya yang telah dicaplok dan dirampas secara ilegal oleh Kolonialis Indonesia-Jawa-Yogya ? kenapa Indonesia-Jawa-Yogya dan TNI/POLRI memaksakan nasionalisme sempit ala pancasila kepada rakyat Acheh ? kenapa TNI/POLRI senang menumpahkan darah rakyat Acheh dengan mengobarkan perang tak bermoral di Acheh ? kenapa demi menyebarkan ideologi sesat pancasila itu TNI/POLRI menghalalkan segala cara ?

Wassalam

Shahen Fasya

rimueng_acheh@yahoo.com
Banda Aceh/Kutaraja
----------

From: "Hidajat Sjarif" siliwangi27@hotmail.com
To: ahmad@dataphone.se, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com
Subject: GAM "KEPALA BATU" PENGHALANG UTAMA PERDAMAIAN
Date: Tue, 24 Feb 2004 03:34:30 +0000

Kegagalan dan ketidak mampuan pimpinan GAM untuk menyadari dan melihat pada fakta bahwa '"niat serta tujuan untuk mendirikan negara Aceh Merdeka dan keluar dari NKRI" ADALAH MIMPI DAN HAYAL YANG TIDAK AKAN MUNGKIN UNTUK BISA MENJADI KENYATAAN!.

Pimpinan GAM harus bisa "FLEXIBLE" dan melihat contoh dari Rakyat Pelistina dan PLO. Pimpinan GAM harus bisa melihat bahwa "MAYORITAS DARI RAKYAT INDONESIA AKAN DENGAN HARGA APAPUN TETAP AKAN MEMPERTAHANKAN INTEGRITAS DAN KEUTUHAN NKRI".KEUTUHAN DAN INTEGRITAS DARI NKRI ADALAH KARTU MATI YANG TIDAK BISA DITAWAR DENGAN HARGA APAPUN.SELAMA PIMPINAN GAM TIDAK MAMPU UNTUK MENYADARI DAN MENERIMA KENYATAAN INI,SELAMA ITU PULA CONFLICT berdarah akan terus berjalan!.

Memaksakan kehendak dengan mengambil jalan kekerasan, terror dan pemberontakan bersenjata tidak akan mengfhasilkan apapun,ini hanya membuahkan kesengsaraan,penderitaan dan korban rakyat kecil yang tidak berdosa. Penggunaan jalan kekerasan , terror dan pemberontakan bersenjata adalah cara yang tersesat dan keliru, dan untuk itu konsekuensinya GAM akan harus berhadapan dengamn ABRI yang tidak akan mungkin akan bisa dikalahkan oleh GAM.

YANG SAYA MAKSUD DENGAN MILITARY SOLUTION ADALAH MENYANGKUT KEDUA BELAH PIHAK, GAM DAN ABRI.Gam tidak akan mungkin akan bisa mewujudkan impiannya untuk mendirikan negara Aceh merdeka diluar NKRI dengan mengambil jalan kekerasan,terror dan pemberontakan bersenjata. Juga ABRI harus menyadari bahwa penyelesaian masalah Aceh tidak hanya dengan bedil dan Bayonet, tapi dengan pendekatan social dan politik. ABRI BERHAK UNTUK MENGHADAPI GAM DENGAN KEKUATAN MILITER SELAMA GAM TETAP NGOTOT UNTUK MENGAMBIL JAlAN KEKERASAN DAN PEMBERONTAKAN BERSENJATA UNTUK MENCAPAI TUJUAN POLITICNYA!

Jadi conflict yang telah berlangsung puluhan tahun dan telah memakan korban ribuan rakyat kecil yang tidak berdosa ini akan terus berjalan selama pimpinan GAM tetap bersikan "KEPALA BATU" tidak mampu untuk melihat pada fakta dan kenyataan.GBU.

Hidajat Sjarif

siliwangi27@hotmail.com
Edmonton, Alberta, Canada.
----------

Date: Mon, 23 Feb 2004 21:13:02 -0800 (PST)
From: teuku mirza teuku_mirza2000@yahoo.com
Subject: Re: GAM "KEPALA BATU" PENGHALANG UTAMA PERDAMAIAN
To: Hidajat Sjarif <siliwangi27@hotmail.com>, ahmad@dataphone.se, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com

GAM itu kepala batu dan tak sadar diri bahwa, mereka tak punya kekuatan baik dari segi diplomasi maupun militer tapi nafsu gede....

Pada saat yang sama menyalahkan Pemerintahkarena pelanggaran HAM...padahal konsekuensi dari suatu konflik adalah pelanggaran HAM dan yang paling dirugikan adalah rakyat banyak....mereka ni bodoh tapi sok pintar...

Teuku Mirza

teuku_mirza2000@yahoo.com
teuku_mirza@hotmail.com
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------

From: "dobing" dobing@telkom.net
To: padhang-mbulan@yahoogroups.com
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: Re: [padhang-mbulan] SUTARTO TAKUT BACA KEJAHATAN SOEKARNO DENGAN RI ATAU RI-JAWA-YOGYA-NYA
Date: Tue, 24 Feb 2004 09:42:37 +0700

Diskusi ini klu dilanjutkan juga ngga bakalan pernah sampai ujungnya. Wong satu kemana satunya lagi kemana. cuma pesen saya buat mas ahmad udahlah klu mmg cinta Aceh pulang aja ke Indonesia dan jadi warga negara Indonesia .Terus bikin aja partai politik. Cari dukungan rakyat aceh utk membangun Aceh bukan buat memerdekakan Aceh. Lha mau memerdekakan gimana dan
dari mana wong mmg Aceh ngga pernah dijajah kok

Dobing

dobing@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------