Stavanger, 25 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BUMI ACHEH BUKAN SEPERTI DAGANGAN SAHAM DI WALL STREET NEW YORK
Omar Putéh
Stavanger - NORWEGIA.

 

JELAS BUMI ACHEH BUKAN SEPERTI DAGANGAN SAHAM DI WALL STREET NEW YORK

Belum lagi sempat Komandan Satuan Tugas Penerangan Propinsi NAD, Pangeran Dorna Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono Alias Kecoa dari Jerman alias Gajah Iskandar alias Laksa Marda alias Teuku Mirza alias Cut Mizarda alias Apha Maop aneuk Kaphé Penjajah Indonesia Jawa alias Sagir Alva alias Rahmatullah alias Sadoso Muko, memberikan respon terhadap pandangan Hidajat Sjarif, mengenai contoh Referendum ala Quebecnya, sekonyong-konyong Hidajat memutar balik badannya lantas menyerang GAM.

Mulanya kamipun merasakan sedikit lega dari pandangan yang datang dari saudara Hidajat Sjarif apalagi bertepatan sekali dengan momentumnja, yaitu ketika saudara kita, Ahmad Sudirman sedang menukarkan pembahasan beliau kepada topik lain: Masalah Refrendum di Acheh dan masalah Penjajahan Indonesia Jawa!

Walaupun demikian, saudara Ahmad Sudirman pun kelihatannya tenang melihat keatas tingkah-karenah Hidayat itu dan langsung juga memberikan respon pertamanya dengan gencar: Monday, February 23, 2004 Jam 10.46.18.am., dengan subject: "Ditya & Endang dapat suntikan Soekarno bukan dari Mega tetapi dari Hidajat WN Canada asal Sunda".

Hidajat,

Masalah Quebeq, Canada itu dengan masalah Acheh, Sumatra, sangat jauh sekali perbedaanya, macam langit dengan dasar bumi, namun bagi anda yang tidak mengetahui Acheh Sumatra itu, atau bagaimana sebenarnya Acheh Sumatra itu, tetapi coba memberi pandangan dengan "sample-duplicate referendumnya", yang pernah dilaksanakan dua kali di Quebec, untuk dijadikan sebagai salah satu model.

Makanya "model" referendum di Quebec, Canada itu, hanya paling sesuai dipakai oleh masyarakat Betawi, Jakarta dan boleh diberikan kepada Bang Ali Sadikin saja besok, tetapi bukan untuk bangsa Acheh Sumatra!

Hidajat, anda musti study kembali, bagaimana sebenarnya akar sejarah Canada dan bagaimana sebenarnya akar sejarah Acheh Sumatra atau bagaimana akar sejarah Quebec itu pula sebagai bandingannya!

Semua orang tahu bahwa, tanah benua Amerika, mulai dari Canada hingga ke Argentina, dianggap sebagai tanah yang tidak bertuan oleh penjelajah awal? "Kaum" (Pan) Red Indian yang menghuni tanah itupun, dipandang sama seperti "kaum" aborigine di Australia atau "kaum" Maori di New Zealand.

Maka dengan demikian, tentu saja masalah tapak tanah wilayah kediaman masyarakat Canada keseluruhannya dan termasuk juga masyarakat Quebec sendiri itu, adalah sama akar sejarahnya.

Saudara Hidajat, tentu saja musti bisa menceritakannya akar sejarahnya Canada dan akar sejarahnya Quebecnya, apalagi telah 40 tahun berada disana, sekalipun telah menjadi "Canadian" + plus 100% Sunda? dan telah mencapakkan Indonesia, ketika nyebrangi Laut Jawa dulu!

Indonesia indentik dengan Jawa! Sunda bukan Jawa walaupun satu pulau dan sampai kiamat pun Sunda bukan Jawa atau secara filsafatnya Sunda bukan Indonesia?

Kami akan memberikan bukti bawa Indonesia adalah indendik dengan Jawa sebagaimana yang telah dikatakan oleh Dr Mohamamad Hatta, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Menteri Transmigrasi dan Koperasi, Jenderal Martono, sebagaimana yang atelah dikatakan oleh Ecologist London atau sebagaimana yang dimaksudkan oleh D. Gris Gold, wartawan majalah Times dan Live, New York! Atau sebagaimana yang telah dimaksudkan oleh Prof Dr Noercholis Madjid (Cak Noer) atau I Thian, seorang pengembara China di tahun 645 AD?

Kalaulah demikian halnya, maka benarlah Sunda itu bukan Jawa dan juga bukan Indonesia, tetapi Sunda adalah Pajajaran, atau Sunda adalah Pasundan!?

Sejarah seperti itu penting juga agaknya untuk tambahan bacaan anda, suka atau tidak!

Perlu Hidajat ketahui, Acheh Sumatra telah tegak-berdiri, sebagai sebuah Kerajaan (Negara) berdaulat sejak tahun1496, dibawah sultannya yang pertama: Sultan Ali Mughajat Shah Al Qahar (1496-1528) atau 4 (tahun) setelah Christopher Colombus, penjelajah pertama Spanyola itu menemui benua Amerika atau 100 (seratus) tahun sebelum Belanda mula menjajah Pulau Jawa di tahun 1596. Atau ketika negeri Belanda sendiri masih lagi sebagai sebuah Propinsi dibawah Kerajaan (Negara) Spanyola.

Kita membicarakan mengenai sejarah mula tegak dan berdaulatnya: Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra, adalah serentetan dengan periode penulisan sejarah penjelajahan Spanyola: Christopher Columbus mendarat di Tengah Amerika, serta dua penjelajahan Portugis: Magellhans mendarat di Utara Philipina dan Vasco da Gama mendarat di Selatan Afrika.

Mengenai Wilayah Status Quo Anté Bellum Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra, yang meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, sebahagian Kalimantan Barat dan Jawa Barat kiranya dapat dilihat, sebagaimana sebuah peta yang dikeluarkan oleh pihak Authority Perancis sebelum mula pecah prang antara Acheh Sumatra dengan Belanda ditahun 1873.

Sudah adakah Canada atau Quebec ketika itu? Tentunya setelah saudara Hidayat 40 tahun meninggalkan "Pajajaran" atau "Pasundan" yang tercinta itu, maka dengan pantas akan menjawabnya: Belum!

Disini kami coba menarik garis vertikal sejarah Acheh Sumatra, dari priode 1496 hingga priode 1873 sebelum Belanda menyerang Acheh Sumatra, maka nampak bangsa Acheh yang merdeka dengan kerajaannya yang berdaulat, hidup aman dan damai, selama 377 (tiga ratus tujuh puluh tujuh) tahun di buminya. Atau sejak 280 tahun sebelum Amerika Serikat memproklamirkan kemerdekaannya pada 4 July, 1776 atau 480 tahun sebelum Dr Tengku Hasan di Tiro, memproklamasikan Acheh Sumatra pada 4 Desember, 1976!

Dari tahun priode 1873 hingga priode 1942, Acheh Sumatra diduduki Belanda dan seterusnya dari priode 1942 hingga priode 1945 diduduki Jepang. Dan dari priode 1945 hingga priode 27 Desember, 1949 Acheh kembali ke priode merdeka!

Ini, jika kita sedang melihat pada satu sisi demensi sejarah ketatanegaran Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra dari tahun 1496 hingga 27 Desember, 1949!

Maka setelah 27 Desember, 1949 seluruh wilayah Hindia Belanda diserahkan oleh Belanda kepada anak-anak Jawa, turunan ex- tentara upahan KNIL Belanda (sipa'i) dan ditukar namanya dengan "Indonesia" (mengapakah dengan nama ini? akan kita bicarakan kemudian). Maka sejak itulah peta sejarah ketatanegaraan Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra telah berobah.

Dan cerita mengenai embel-embelan sekitar 1945 di Acheh Sumatra, semua itu sebagai "drama" yang telah dijelaskan dengan hujjah berasas dan bagus sekali oleh saudara Ahmad Sudirman.
Kalau perlu kami akan ikut bongkar habis semuanya, termasuk senario pernyataan empat Oe (ulama) 15 Oktober, 1945!

Sebagaimana saudara Ahmad Sudirman telah membongkar habis sehabis-habisnya, bagaimana "kejahatan intelektuil" Soekarno Cs. mencaplok Acheh dengan "hanya" mengeluarkan Undang-Undang No 21/14/08/1950 dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 5/1950, seolah-olah Hak Mutlak Bangsa Acheh atas buminya telah hilang terbang seperti mudah hilang terbangnya hak Royality dan Goodwill pemegang saham di dagangan saham Wall Street New York!

Nah, peristiwa penyerahan Wilayah Negara Acheh Yang Merdeka Dan Berdaulat oleh Belanda kepada Indonesia Jawa pada 27 Desember, 1949 tampa "Referendum" dipandang dari sisi demensi sejarah ketatanegaraan Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra itulah kemudian menjadi akar-punca masalah konflik antara Acheh Sumatra dengan Penjajah Indonesia Jawa!

Lagipun yang punya hak memerima adalah bangsa Acheh sendiri! Dan bukan Soekarno, anak RI- Jawa Jokya, yang hanya pandai berteriak menjual obat sakit urat itu!

Ex injuria jus non oritur! Right cannot origanate from wrong!

Bumi bangsa Acheh Sumatra itu bukan Belanda yang punya, bagaimana dia bisa serahkan tampa kehendak bangsa Acheh Sumatra (Referendum) kepada anak-anak Jawa ex-tentara upahan KNIL Belanda (sipa'i)nya yang pernah menyembelih 100.000 Endatu (nenek moyang) bangsa Acheh Sumatra?

Saudara Hidajat Sjarif, angka penyembelihan 100.000 jiwa bangsa Acheh dari record Belanda itu bukan sedikit jumlahnya yang telah mebasahi bumi Acheh dengan darahnya?

Acheh Sumatra bukan Indonesia Jawa!

Dari uraian dibawah ini dari dua sisi: Dari sisi demensi sejarah ketatanegaraan Acheh dari tahun 1496 hingga 27 Desember, 1949 dan dari sisi lain demensi sejarah ketatanegaraan RI-Jawa Jokya, dari 1 Maret, 1945 BPUKI hingga Dekrit Presiden 5 July, 1959 sebagaimana yang telah dipaparkan oleh saudara Ahmad Sudirman.

Wilayah pendudukan Jepang juga pernah diserahkan oleh Laksamana Tarauchi pada 12 Agustus, 1945 termasuk Semenanjung Malaya, Sabah dan Serawak (baca statement Wisma Putra - Kementerian Luar Negeri Malaysia, sehubungan dengan penyerahan wilayah pendudukan Jepang oleh Trauchi).

Apakah wilayah pendudukan Jepang (wilayah Hindia Belanda plus Semenanjung Malaya, Sabah Serawak ) itu juga kepunyaan Jepang ? Dan atau bisakah dengan seenaknya Trauchi (yang bukan miliknya ) menyerahkannya kepada Soekarno, Mohd Hatta dan Radjiman Wiriodiningrat? Tanggal 14 Agustus, 1945 setibanya Trio ini, di Jakarta barulah mereka mengetahui bahwa Hiroshima dan Nagasaki telah dibomatomkan oleh Amerika.

Tanggal 15 Agustus, 1945 Soekarno, dan anak-anak Jawa lainnya mencampakkan "dokument Terauchi" itu yang menghendaki RI-Jawa Jokya diproklamirkan pada 19 Agustus, 1945 dan mereka tidak mau merdeka dulu!

Tanggal 16 Agustus, 1945 Trio Sumatra: Chairul Saleh, Pak Buyung Nasution dan Adam Malik menyandarkan pistol mereka kekepala Soekarno dan memaksakan agar Soekarno segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia itu pada besoknya: 17 Agustus, 1945 (dengan tangan dan tubuh bergemetaran ) Soekarno kemudian menyiapkan teks Proklamasi Indonesia itu dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan penuh corat-coret, dan hasilnyapun terpaksa menjadi teks proklamasi tersingkat dan yang paling bercorat-coret didunia) dua hari lebih awal dari tangal yang ditentukan oleh Jepang cq Terauchi.

Selamatlah wilayah Acheh Sumatra sekejap itu, sebelum KMB muncul!

Tetapi jika kita melihat ke dan dari sisi demensi sejarah 30 tahun Indonesia Merdeka atau sejarah ketatanegaraan RI-Jawa Jokya seperti yang telah dikupas habis dan mendetail oleh saudara Ahmad Sudirman yang pernah menggerindingkan bulu roma seorang Kolonel (Laut ) Ditya Soedarsono dan Endang Suwarya, maka garis sejarah vertikal itu akan menjadi:

1496 hingga 1873, bangsa Acheh Sumatra hidup aman dan merdeka dengan negaranya Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra penuh berdaulat.
Dan 1873 hingga 1942 diduduki Belanda dan seterusnya 1942 hingga 1945 oleh Jepang.
Dari 1945 hingga 14 Agustus, 1950, bangsa Acheh Sumatra masih hidup bebas merdeka!

Kemudian Acheh Sumatra "dicaplok" oleh Soekarno yang datang dari RI-Jawa Jokya pada 15 Agustus, 1950 melalui mulut Sumatra Utara dengan proxy UU No 21/14/08/1950 dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 5/1950 yang dipandang dari sisi ini, dari sudut demensi sejarah ketatanegaraan RI-Jawa Jokya-RIS-NKRI, ini juga secara tekhnial merupakan punca-akar sejarah konflik Acheh Sumatra dengan Penjajah Indonesia Jawa!

Saudara Ahmad Sudirman telah membuka semua lipatan sejarah ketatanegaraan RI-Jawa Jokya, (termasuk lipatan kerah baju ketatanegaraannya RI-Jawa Jokya!) sejak dari digagasinya kerja Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan pada1 Maret, 1945 hingga 15 Agustus, 1950 dan merembet hingga ke 5 Dekrit 5 July, 1959 plus penjelasan yang beliau berikan mengenai Referendum, (penentuan nasib diri sendiri) dan apa itu Penjajahan Indonesia Jawa.

Respon kami terhadap pandangan saudara Hidajat Sjarif mengenai semangat model Referendum
Quebec, Canada itu, dapatlah dijelaskan bahwa, sebenarnya Dr Tengku Hasan di Tiro LLD pada 29 January,1992 dalam sesi pembicaraan masalah Ekonomi dan Sosial PBB di Geneva telah pernah memohon agar di Acheh segera dilaksanakan Referendum yang akan diawasi langsung oleh PBB sendiri, ketika sedang berlangsungnya (ditahun ketiga ) pembunuhan massal bangsa Acheh Sumatra siang dan malam yang sangat mengerikan dan tidak berprikemanusian itu!

Killing Fields oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, ini terus berlangsung dengan kadar yang sama hingga 1998, selama sepuluh tahun yang menelan korban melebihi 50.000 jiwa!

Kemudian diikuti tuntutan Referendum opsi merdeka yang dilaksanakan dua tahun berturut-turut. Ditahun pertama, 8 November, 1999 tuntutan Referendum dengan pertemuan raksasa yang dihadiri oleh 2.000.000 juta lebih massa atau melebihi 50% dari nisbah penduduk Acheh Sumatra yang dianjurkan oleh Sira (Sentral Informasi Referendum Acheh) RAKAN, dibawah pimpinan Mohammad Nazar Sag. Kemudian dengan ancaman keras, melarang untuk dilaksanakan bagi kali ketiganya, pada 8 November, 2001.

Saudara Mohammad Nazar Sag, kini sedang dikerangkengkan oleh Pemerintah Penjajah Indonesia Jawa.

Perlu saudara Hidajat Sjarif ketahui, ketika pelaksanaan pertemuan raksasa itu dilaksanakan, ABRI-TNI/POLRI,Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa telah menembak mati melebihi 700 jiwa bangsa Acheh, yang sedang bersesak-sesakan dalam iringan kenderaan yang menuju kemedan pertemuan raksasa. Begitu juga yang pergi dengan iringan bot-bot laut sebahagian juga sempat ditenggelamkan. Termasuk yang sedang berkumpul untuk menunggu kedatangan kenderaan yang kakan mebawa mereka kemedan pertemuan raksasa itu.

Adakah seperti ini pernah terjadi, selama dua kali dilaksanakan referendum di Quebec, saudara Hidajat Sjarif?

Sebelumnya dari 3-11 November, 2000 SIRA(Sentral Informasi Referendum) RAKAN, telah melakukan Acheh Polling for future Status of Acheh dari PollingStationnya seluruh Acheh dengan mendapatkan bacaan:

1. 92.020% memilih Merdeka (Independence).
2. 0.133% memilih ikut Negara Kolonialis Republik Indonesia.
3. 7.847% memilih abstain (berdiri diatas pagar?).

Disini dapat kita lihat bagaimana kehendak kuat bangsa Acheh Sumatra untuk merdeka, untuk self determination rights, untuk menentukan nasib bangsanya sendiri, sebagaimana yang selalu juga diulang ulang oleh saudara Ahmad Sudirman akan hasrat sebenarnya bangsa Acheh, ketika memberi jawaban kepada Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono Kecoa dari Jerman alias Gajah Iskandar alias Laksamarda alias Teuku Mirza alias Cut Mizarda alias Apha Maop, aneuk Kaphé Penjajah Indonesia Jawa alias Sagir Alva alias Rahmatullah ICMI-Jedah alias Sadoso Muko, yang tidak henti-hentinya membuat provokasi kotor dan jahat atas bangsa Acheh dan perjuangannya.
Apakah perjuangan bangsa Acheh Sumatra untuk merebut kembali tanah airnya hanya sebagai mimpi?

Satu intervensi yang tidak sepatutnya saudara Hidajat Sjarif ucapkan, jika melihat "pandangan proposal" awal anda, sebagai anak "Pajajaran", sebagai anak "Pasundan" yang telah meninggalkan tanah Siliwangi 40 tahun yang lalu, kemudian menawarkan referendum model Quebec anda itu.

Kepada siapakah sebenarnya, anda mau menjual referendum model Quebec itu, sehingga anda sekonyong-konyong mengintervensi kami, bangsa Acheh atau ASNLF/GAM?

Wassalam

Omar Putéh

om_puteh@hotmail.com
Norway
----------